Kemarin aku kembali melakukan kebiasaan yang sebenarnya sudah sering kucela sendiri. Menunggu. Bukan menunggu sesuatu yang pasti, bukan pula menunggu seseorang yang pernah berjanji akan datang. Hanya menunggu kemungkinan kecil yang diam-diam sudah menjadi bagian dari rutinitasku beberapa waktu terakhir.
Beberapa kali aku melongok ke arah pintu masuk.
Awalnya masih pura-pura santai. Sekilas saja, seperti orang yang kebetulan sedang memperhatikan sekitar. Tapi semakin waktu berjalan, semakin jelas bahwa aku memang sedang menunggu. Setiap kali pintu terbuka, refleks mataku langsung terangkat. Ada harapan kecil yang muncul terlalu cepat, lalu menghilang lagi ketika yang datang bukan dia.
Aku mengulang itu berkali-kali.
Dan anehnya, aku sadar betapa konyolnya diriku saat itu, tapi tetap melakukannya juga. Seperti seseorang yang tahu ia sedang mengulangi kesalahan lama, namun tidak benar-benar ingin berhenti.
Hari-hari sebelumnya, kebiasaan itu sering berakhir dengan manis kecil. Aku melihatnya datang. Kadang terlambat. Kadang tiba-tiba sudah ada di sana tanpa kusadari. Dan hal sederhana seperti itu saja sudah cukup membuat suasana hatiku berubah.
Tapi kemarin tidak.
Semakin sering aku melongok, semakin terasa kosong pintu itu. Waktu berjalan pelan, lalu diam-diam berubah menjadi rasa lelah yang sulit dijelaskan. Aku mulai berhenti menghitung berapa kali aku melihat ke sana. Karena semakin sering kulakukan, semakin terasa bahwa yang sedang kutunggu mungkin memang tidak akan datang.
Sampai akhirnya aku menyerah.
Bukan menyerah besar yang dramatis seperti di film-film. Tidak ada keputusan tegas. Tidak ada sumpah untuk berhenti. Hanya satu titik lelah ketika aku mulai duduk diam dan berkata dalam hati, sudahlah.
Dan justru di situlah pikiranku mulai berubah arah.
Aku tiba-tiba merasa sangat yakin bahwa semua ini mungkin memang hanya perasaanku sendiri. Bahwa yang terlalu bersemangat menunggu pertemuan hanyalah aku. Yang menjadikan kehadirannya sebagai bagian penting dari hari hanyalah aku. Sementara baginya, mungkin semuanya biasa saja. Mungkin aku hanya salah satu dari banyak orang yang kebetulan ada di sekitarnya.
Pikiran itu terasa pahit, tapi anehnya juga terasa masuk akal.
Karena kalau memang dia merasakan hal yang sama, kenapa hanya aku yang terlihat menunggu seperti ini? Kenapa hanya aku yang gelisah ketika tidak melihatnya? Kenapa aku yang terus mengaitkan hari-hariku dengan kemungkinan bertemu dengannya?
Kadang aku ingin mundur.
Benar-benar berhenti dari semua permainan diam-diam ini. Berhenti mencari makna dari tatapan singkat. Berhenti menunggu seseorang yang bahkan tidak pernah meminta untuk ditunggu. Rasanya melelahkan hidup di antara harapan dan penyangkalan seperti ini.
Tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa membohongi satu hal.
Bahwa semua ini, seaneh dan se-melelahkan apa pun, tetap memberiku sesuatu yang tidak bisa kutemukan di tempat lain.
Endorfin kecil itu.
Perasaan berdebar yang datang tiba-tiba. Antisipasi saat menunggu. Senyum kecil ketika melihat tingkah absurdnya. Semua itu seperti suntikan hidup yang diam-diam membuat hari-hariku terasa lebih bergerak. Aku mungkin banyak mengeluh tentang kebingungan ini, tapi aku juga tahu bahwa tanpa semua itu, hariku kembali datar seperti dulu.
Dan mungkin itulah yang membuatku bertahan sejauh ini.
Bukan karena aku yakin akan berakhir bersamanya. Bahkan mungkin aku sendiri tidak benar-benar percaya pada kemungkinan itu. Tapi karena perasaan ini, meski samar, meski menggantung, berhasil membuatku merasa hidup lagi.
Ironis, ya.
Aku ingin berhenti karena lelah. Tapi justru kelelahan itu pula yang membuatku sadar bahwa aku masih bisa merasakan sesuatu.
Jadi aku tetap berada di sini.
Menunggu yang tidak pernah dijanjikan.
Mencari yang mungkin tak pernah benar-benar mencariku kembali.
Dan meski sering menyangkalnya, diam-diam aku tahu: besok, kemungkinan besar, mataku masih akan kembali melirik ke arah pintu itu lagi.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!