Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya seberapa introvertnya aku ini. Pertanyaan itu muncul bukan karena ada yang menilai, tapi karena aku sendiri mulai menyadari pola yang berulang, sebuah kebiasaan yang begitu konsisten sampai terasa seperti ritual diam-diam yang tidak pernah kusengaja, namun terus kulakukan. Sudah empat bulan aku menjadi anggota gym. Empat bulan dengan rutinitas yang nyaris tidak pernah berubah. Setiap hari, kecuali Minggu karena tempat itu tutup, aku datang di jam yang sama, sekitar pukul tiga sore. Waktu yang menurutku cukup aman. Tidak terlalu pagi, tidak terlalu malam. Cukup ramai, tapi tidak terlalu penuh. Cukup hidup, tapi masih memberi ruang bagi seseorang sepertiku untuk bersembunyi di antara mesin-mesin latihan. Ramadhan kemarin pilih latihan di jam abis terawih biar aman. Aku datang, melakukan latihan selama satu jam lebih sedikit, lalu pulang. Begitu terus, seperti jarum jam yang tidak pernah lupa pada arah putarnya. Yang aneh, dalam rentang waktu ...
Kadang aku merasa lucu pada diriku sendiri. Lucu dalam arti yang agak getir ...... seperti menertawakan adegan film yang sebenarnya menyedihkan. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia mencoba memulai percakapan dengan caranya yang sederhana dan tidak dibuat-buat, aku justru berubah menjadi versi diriku yang paling kaku. Jawabanku pendek, datar, seperti pintu yang hanya kubuka beberapa sentimeter lalu segera kututup lagi. Seolah-olah tidak ada apa-apa di dalam hatiku. Seolah-olah tidak ada detak yang mendadak berisik di dada. Seolah semuanya biasa saja. Padahal tidak pernah benar-benar biasa. Aku tahu dia sudah berkali-kali mencoba. Ada jeda-jeda kecil yang ia ciptakan agar percakapan bisa tumbuh. Ada pertanyaan ringan yang sengaja ia lempar, mungkin berharap aku akan menangkapnya dan mengembangkannya menjadi obrolan yang lebih panjang. Tapi aku selalu menjawab seperlunya. Singkat. Aman. Tanpa ruang lanjutan. Tanpa celah bagi pertanyaan berikutnya. Seperti orang yang buru-buru menu...