Dunia Nggak Selalu Berpihak, dan Itu Nggak Apa-apa

 


Kadang kita lupa, dunia ini diciptakan bukan hanya untuk kita sendiri. Ada miliaran orang lain yang juga sedang berusaha cari ruang, cari bahagia, dan cari jalan pulang. Tapi entah kenapa, ketika hidup nggak sesuai harapan, rasanya kayak dunia ini seolah-olah kompak melawan kita. Padahal, mungkin memang bukan kita yang jadi tokoh utama di bab itu.

Aku pernah berada di titik di mana aku merasa dunia terlalu pelit. Seakan semua kesempatan selalu jatuh ke tangan orang lain. Aku berusaha keras, tapi hasilnya mentok. Sementara ada orang lain yang kelihatannya santai, tapi rezekinya ngalir kayak air. Waktu itu, aku sempat bertanya-tanya: apa aku dilahirkan cuma buat jadi penonton? Apa memang semua pintu harus tertutup di hadapanku?

Tapi seiring waktu, aku pelan-pelan belajar: dunia ini nggak pernah janji akan selalu berpihak. Dunia bukan panggung khusus buat aku sendiri. Dan kalau aku terus maksa semuanya harus berjalan sesuai mauku, aku akan kelelahan sendiri. Rasanya kayak berenang melawan arus besar, semakin dilawan, semakin capek, dan ujung-ujungnya tenggelam.

Mungkin itu kenapa kata “sabar” jadi penting banget. Walaupun kadang kata itu kedengarannya klise, tapi sebenarnya sabar itu bukan soal menahan amarah aja. Sabar itu seni menunggu, seni menerima, seni tetap tegak meskipun arah angin nggak sesuai dengan keinginan. Sabar itu bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi tahu kapan harus berhenti ngotot dan kapan harus ikhlas.

Aku sadar, nggak semua yang kuinginkan akan jadi milikku. Nggak semua orang akan berpihak padaku. Nggak semua cerita akan mengangkat namaku. Dan itu nggak apa-apa. Karena di balik semua “nggak” itu, selalu ada ruang lain yang mungkin justru lebih cocok untukku. Dunia memang bukan tentang siapa yang selalu dapat, tapi tentang siapa yang bisa bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Belajar terbiasa dengan hal-hal yang nggak berpihak, ternyata membuat hati lebih ringan. Kalau aku ditolak, aku coba lihat sebagai kesempatan buat diarahkan ke pintu lain. Kalau aku gagal, aku coba anggap itu tanda untuk istirahat sebentar dan memperbaiki cara. Memang, kadang nyesek, kadang bikin nangis. Tapi bukankah hidup memang penuh dengan rasa itu?

Lama-lama aku paham, dunia ini bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling kuat menahan diri. Siapa yang bisa sabar menunggu giliran, sambil tetap melangkah tanpa kehilangan arah. Dan aku ingin jadi orang yang seperti itu: yang nggak marah ketika dunia nggak berpihak, tapi bisa tetap berjalan dengan kepala tegak.

Jadi kalau hari ini aku belum menang, belum berhasil, atau belum dipihak, aku ingin percaya satu hal: mungkin memang belum giliranku. Dunia nggak melawanku, dia cuma lagi mengajariku cara berdiri lebih sabar, lebih kuat, dan lebih rendah hati.



sumber foto

Comments

Popular Posts