Aku Ketahuan
Goblok. Itu kata pertama yang muncul di kepalaku setelah semuanya terjadi. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk keadaan. Bukan pula untuk dirinya. Untuk diriku sendiri. Aku benar-benar mengumpat karena sama sekali tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Selama ini aku selalu sibuk menyusun berbagai skenario di kepalaku, bagaimana jika kami berpapasan, bagaimana jika tatapan kami bertemu, bagaimana jika suatu hari kami akhirnya berbicara. Anehnya, dari sekian banyak kemungkinan yang kubayangkan, tidak pernah sekalipun terlintas bahwa ia akan melihatku pulang membonceng seorang perempuan. Dan sore ini, itu benar-benar terjadi. Ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Aku tidak sempat menghindar. Tidak sempat berpura-pura tidak melihat. Bahkan tidak sempat menyusun ekspresi yang tepat. Semuanya berlangsung terlalu cepat, sementara pikiranku justru membeku. Sepanjang perjalanan pulang aku terus bertanya-tanya. Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah ia hanya melihat sekilas lalu melupak...