Skip to main content

Posts

Alasan yang Tak Pernah Berani Kuakui

Sepertinya aku memang harus berterima kasih padanya. Kalimat itu baru benar-benar terasa hari ini, ketika aku kembali tidak menemukannya di mana pun. Dan anehnya, justru dari ketidakhadirannya itulah aku akhirnya sadar sesuatu yang selama ini berusaha keras kutolak. Bahwa mungkin… selama ini dia adalah alasan kenapa aku masih bertahan. Bukan pekerjaan ini. Bukan rutinitasnya. Bukan juga karena aku terlalu mencintai tempat ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah berkali-kali aku ingin pergi. Berkali-kali aku membuka kemungkinan untuk mencari tempat baru, suasana baru, hidup baru yang mungkin lebih tenang daripada hari-hariku sekarang. Ada terlalu banyak lelah yang menumpuk di sini. Terlalu banyak tekanan yang kadang membuat dadaku sesak bahkan sebelum hari dimulai. Aku sering membayangkan menyerah saja. Pergi diam-diam tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, selalu ada sesuatu yang menahanku untuk benar-benar melangkah keluar. Dan sek...
Recent posts

Membuka Galeri untuk Mengingat Bahwa Kita Pernah Bahagia

Ada hari-hari ketika hidup terasa berjalan di luar prediksi. Semuanya datang tanpa aba-aba, tanpa sempat memberi waktu untuk bersiap. Masalah muncul mendadak, ucapan orang lain terasa menusuk lebih dalam dari biasanya, dan hal-hal kecil yang seharusnya bisa diabaikan justru menetap lama di kepala. Di hari-hari seperti itu, rasanya dunia berubah menjadi tempat yang melelahkan untuk ditinggali. Aku pernah berada di fase ketika satu hari buruk bisa merusak seluruh isi pikiranku. Tatapan sinis orang lain terasa seperti penghakiman. Kalimat-kalimat kecil terdengar lebih tajam dari yang seharusnya. Bahkan kadang, aku terlalu lama memikirkan sesuatu yang mungkin sebenarnya sudah dilupakan oleh orang lain sejak awal. Dan semakin lama dipikirkan, hati semakin penuh. Sampai suatu malam, saat pikiranku terasa terlalu bising dan aku tidak tahu lagi harus menenangkan diri dengan cara apa, tanganku tanpa sadar membuka galeri ponsel. Awalnya hanya ingin mengalihkan perhatian sebentar. Tapi ternyat...

Tatapan-Tatapan Singkat yang Tak Pernah Selesai Diterjemahkan

Lucu sekali rasanya ketika aku sadar bahwa aku ternyata terlambat membuat skenario. Baru saja beberapa waktu lalu aku sibuk menertawakan diriku sendiri karena mulai membayangkan menghadirkan “orang ketiga” dalam kisah absurd ini, berharap ada sedikit kekacauan yang bisa memancing kejelasan dari hubungan kami yang menggantung, ternyata tanpa kusadari dia lebih dulu melakukannya. Dan ketika menyadari itu, aku malah ingin tertawa lagi. Karena ternyata kami sama-sama aneh. Belakangan aku mulai memperhatikan bagaimana dia beberapa kali terlihat lebih dekat dengan orang lain. Bukan sesuatu yang terlalu mencolok memang. Bahkan kalau orang lain melihatnya, mungkin semuanya tampak biasa saja. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan ada sedikit “usaha” di sana. Seolah dia ingin sesuatu terlihat olehku. Mungkin dia berpikir aku akan terpengaruh. Mungkin dia berharap aku akan berubah sikap. Menjadi lebih berani. Atau mungkin malah cemburu. Tapi anehnya, aku tidak merasakan apa-apa terhadap ora...

Skenario Baru yang Kubuat Sendiri

Sebelum mulai bercerita, sepertinya aku harus tertawa dulu. Benar-benar tertawa. Bukan karena ada sesuatu yang lucu sekali sampai membuat perut sakit, tapi lebih karena aku mulai sadar betapa anehnya jalan pikiranku akhir-akhir ini. Kadang aku merasa hidupku berubah seperti naskah drama murahan yang ditulis oleh seseorang yang terlalu kesepian, lalu mulai menciptakan konflik sendiri agar ceritanya tetap berjalan. Dan sepertinya sekarang aku menemukan ide baru untuk kisah ini. Aku akan memunculkan orang ketiga. Lucu, kan? Bahkan hubungan kami saja belum jelas apa bentuknya, belum ada pengakuan apa-apa, belum pernah ada percakapan yang benar-benar jujur, tapi aku sudah sibuk memikirkan tokoh ketiga seperti pasangan yang sedang menguji kesetiaan satu sama lain. Kadang aku sendiri bingung harus menertawakan siapa. Diriku? Atau perasaan absurd ini? Jadi begini. Belakangan ada anak magang baru. Tidak terlalu dekat sebenarnya, hanya beberapa kali datang mendekatiku untuk bertanya i...

Pundak yang Tak Pernah Kumiliki

Kadang aku sendiri bingung dari mana datangnya pikiran-pikiran seperti ini. Tiba-tiba saja muncul, tanpa aba-aba, di tengah kesibukan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengannya sama sekali. Dan yang paling aneh, pikiran itu selalu terasa begitu nyata meski aku tahu semuanya hanya ada di kepalaku sendiri. Aku pernah membayangkan menangis di pundaknya. Entah sudah berapa kali bayangan itu muncul begitu saja. Kadang saat perjalanan pulang. Kadang ketika sedang sendirian menatap langit-langit kamar. Kadang bahkan di tengah keramaian, ketika aku sedang mencoba terlihat biasa saja di depan semua orang. Aku membayangkan diriku bersandar di pundaknya sambil menangis pelan. Tidak perlu banyak bicara. Tidak perlu dijelaskan apa pun. Hanya diam, lalu membiarkan semua rasa sesak yang selama ini tertahan keluar begitu saja. Dan anehnya, dalam bayangan itu selalu ada rasa tenang. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kami bahkan tidak dekat. Kami jarang berbicara. Tidak pernah punya percakapa...

Perasaan Seperti Ingin Meminta Tolong

Akhir-akhir ini aku berusaha terlihat biasa saja di depan orang lain. Tetap bercanda seperlunya, tetap menjawab ketika diajak bicara, tetap menjalani hari seperti tidak ada apa-apa. Aku tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sedang memendam masalah sendirian. Tidak ingin orang bertanya terlalu jauh. Tidak ingin wajahku dibaca seperti buku yang terbuka. Tapi tubuh rupanya lebih jujur daripada mulut. Beberapa minggu terakhir, aku sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Bukan mimpi yang jelas bentuknya, bukan pula mimpi yang bisa diceritakan runtut setelah bangun tidur. Kadang hanya potongan-potongan kejadian yang terasa menyesakkan. Wajah-wajah samar. Suasana gelap. Perasaan dikejar sesuatu yang tidak terlihat. Dan anehnya, saat membuka mata, rasa takut dari mimpi itu masih tertinggal nyata di dada. Ada malam ketika aku bangun dengan napas berat, lalu duduk lama di tepi kasur sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam kepalaku. Ruangan sunyi...

Ketakutan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Belakangan ini aku sering duduk sendirian terlalu lama, memikirkan banyak hal yang sebenarnya tidak ingin kupikirkan. Pikiran itu datang pelan-pelan, biasanya saat malam mulai sepi dan tidak ada lagi suara yang bisa mengalihkan isi kepala. Dari sana, semuanya seperti terbuka satu per satu, kejadian-kejadian beberapa tahun terakhir, masalah yang datang bergantian, rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai, dan ketakutan-ketakutan kecil yang diam-diam tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Kadang aku mencoba mengingat, sejak kapan semuanya mulai terasa seberat ini. Tapi semakin kupikirkan, rasanya semua terjadi perlahan. Tidak ada satu kejadian besar yang langsung menghancurkan segalanya. Lebih seperti tumpukan kecil yang terus bertambah tanpa sempat dibersihkan. Masalah pekerjaan. Tekanan hidup. Pikiran yang tidak pernah tenang. Perasaan gagal menghadapi banyak hal. Ditambah lagi dengan kebiasaan memendam semuanya sendiri. Lama-lama, kepalaku terasa seperti ruangan sempit ya...