Skip to main content

Posts

Seperti Naskah yang Sudah Pernah Kubaca

Sebenarnya, hari itu berjalan hampir persis seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya. Entah karena aku sudah terlalu lama mengamatinya, atau karena pola-pola itu memang terus berulang, aku merasa seolah sedang membaca ulang sebuah naskah yang pernah kubaca berkali-kali. Tidak persis sama, tentu saja. Selalu ada detail baru yang muncul. Namun garis besarnya terasa begitu akrab hingga aku bisa menebak beberapa adegan sebelum benar-benar terjadi. Bahkan sejak aku baru datang. Saat itu aku menuju loker untuk menyimpan beberapa barang yang tidak kubutuhkan di meja kerja. Pikiranku masih sibuk dengan urusan lain. Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku sedang memikirkan hal lain. Lalu tiba-tiba aku sadar ia ada di belakangku. Bukan karena aku melihatnya langsung. Aku hanya merasakan keberadaannya. Kadang ada orang-orang tertentu yang tidak perlu dilihat untuk disadari kehadirannya. Entah karena langkahnya, entah karena kebiasaan, atau mungkin karena diam-diam kita memang sud...
Recent posts

Belajar Menghilang, Meski Belum Benar-Benar Bisa

Aku menyerah. Kalimat itu mungkin terdengar dramatis. Padahal kenyataannya tidak ada kejadian besar yang terjadi. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pengakuan. Tidak ada pula perpisahan yang layak dikenang. Hanya aku yang beberapa hari lalu begitu yakin bisa menjauh, lalu hari ini mendapati diriku sendiri melanggar keputusan yang kubuat dengan susah payah. Awalnya aku benar-benar percaya bahwa aku bisa melakukannya. Aku berpikir, mungkin jika aku mengurangi pertemuan, jika aku sengaja memilih aktivitas lain, jika aku menghilang dari radius pandangnya selama beberapa hari, maka sesuatu akan terjadi. Entah itu rindu yang tumbuh di diriku, atau mungkin, jika aku sedang terlalu optimis, rindu yang juga tumbuh di dirinya. Aku ingin menciptakan jarak. Aku ingin menguji sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak yakin keberadaannya. Aku ingin melihat apakah kehilangan akan membuat sesuatu menjadi lebih jelas. Ternyata yang menjadi jelas justru hal lain. Aku yang kalah lebih dulu. Hari pert...

Eksperimen Kecil Bernama Rindu

Sebenarnya, beberapa hari terakhir aku sedang melakukan sesuatu yang mungkin terdengar konyol. Bukan menghindarinya karena marah. Bukan juga karena kecewa. Apalagi membencinya. Tidak. Sama sekali bukan itu. Justru karena aku terlalu sering memikirkannya, aku memilih menciptakan jarak untuk sementara waktu. Aku sengaja mengisi hari-hariku dengan aktivitas di luar ruangan. Mengambil tugas yang membuatku harus berpindah tempat. Mencari kesibukan baru. Menyetujui kegiatan yang biasanya mungkin akan kutolak karena malas keluar kantor. Kalau dipikir-pikir, hampir semua keputusan itu memiliki tujuan yang sama. Mengurangi kemungkinan bertemu dengannya. Lucu, bukan? Selama berbulan-bulan aku selalu menunggu kesempatan untuk melihatnya. Sekarang, ketika kesempatan itu masih ada, aku malah sengaja menjauh. Kadang aku juga bingung dengan diriku sendiri. Mungkin karena aku sedang melakukan sebuah eksperimen kecil. Eksperimen yang bahkan tidak pernah dia ketahui. Aku ingin tahu seberapa besar rasa r...

Sebuah Bantuan Kecil yang Terlambat Kupahami

Ada satu hal lucu tentang perasaan suka kepada seseorang. Kadang bukan kejadian besar yang terus diingat. Bukan tatapan mata. Bukan senyum. Bukan pula momen-momen dramatis yang sering kita bayangkan sebelum tidur. Justru yang bertahan paling lama adalah hal-hal kecil yang saat itu terasa biasa saja. Lalu entah kenapa, beberapa hari atau bahkan beberapa minggu kemudian, kenangan itu muncul kembali dari tempat persembunyiannya dan membuat kita bertanya-tanya. Seperti pagi ini. Karena beberapa hari terakhir aku jarang bertemu dengannya. Jadwalku sedang padat di luar kantor. Kesempatan untuk melihatnya juga semakin sedikit. Akibatnya, otakku mulai melakukan hal yang sudah sangat sering kulakukan. Mengais-ngais kenangan lama. Membuka kembali potongan-potongan kejadian yang dulu kulewatkan begitu saja. Mencari sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak ada. Atau mungkin justru sesuatu yang selama ini luput dari perhatianku. Pagi ini aku tiba-tiba teringat pada satu kejadian yang bahkan hampir kul...

Mencari Kabar dari Orang-Orang yang Tidak Kukenal

Pada akhirnya, aku harus mengakui satu hal yang selama ini berusaha kututupi dengan berbagai alasan. Aku memang menyukainya. Sesederhana itu. Sesulit itu juga. Karena ketika seseorang mulai menempati ruang tertentu dalam hidupmu, bahkan tanpa status dan tanpa kepastian, keberadaannya perlahan berubah menjadi sesuatu yang ingin kamu ketahui setiap hari. Tidak harus bertemu. Tidak harus berbicara. Kadang cukup tahu bahwa dia baik-baik saja. Cukup tahu bahwa hari ini dia ada di suatu tempat, menjalani harinya seperti biasa. Aneh memang. Bagaimana mungkin seseorang yang nyaris tidak memiliki hubungan apa-apa denganku bisa membuatku memikirkan hal-hal sekecil itu? Tapi begitulah adanya. Dan minggu ini tampaknya akan menjadi minggu yang cukup berat. Bukan karena pekerjaan. Bukan karena aktivitas yang menumpuk. Justru karena aktivitas itulah. Aku akan lebih banyak berada di luar. Jadwal sedang padat. Ada banyak urusan yang harus diselesaikan. Banyak tempat yang harus didatangi. Banyak orang y...

Di Dekat Terlihat Dingin, di Jauh Terlihat Mencari

Pernah tidak, kamu menyukai seseorang, lalu semakin lama mengenalnya justru semakin bingung harus menempatkan perasaanmu di mana? Bukan karena dia terlalu jelas. Justru karena dia terlalu sulit dipahami. Aku sedang berada di titik itu sekarang. Ada hari-hari ketika aku merasa dirinya begitu dingin. Bahkan lebih dari sekadar dingin. Kadang aku merasa seolah-olah aku adalah seseorang yang tidak ingin ia temui. Gesturnya kaku. Ekspresinya datar. Tatapannya cepat berpindah ketika kebetulan bertemu denganku. Kalau sedang berada dalam jarak dekat, dia seperti berusaha menciptakan ruang yang tak terlihat di antara kami. Dan anehnya, justru di saat-saat seperti itu pikiranku mulai berisik. Apa aku mengganggunya? Apa aku pernah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman? Apa dia sebenarnya tidak menyukaiku? Atau yang lebih parah, apa selama ini aku hanya salah mengartikan semuanya? Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diundang. Duduk diam di kepalaku. Menunggu malam tiba agar bisa tumbuh ...

Ketika Seseorang Masih Melihat Harapan dalam Dirimu

Beberapa hari lalu di kantor, aku sempat berbincang dengan seorang teman. Kalau dibilang dekat, sebenarnya tidak juga. Kami bukan tipe teman yang saling bercerita tentang kehidupan pribadi atau sering menghabiskan waktu bersama. Namun kalau dibilang tidak akrab sama sekali, rasanya juga tidak tepat. Kami masih sesekali mengobrol ketika bertemu, bertukar kabar seperlunya, dan sesekali membahas pekerjaan atau hal-hal yang sedang ramai di lingkungan kampus. Hari itu obrolan kami mengalir santai seperti biasanya. Tidak ada topik khusus yang direncanakan. Hanya percakapan ringan di sela aktivitas kantor. Sampai kemudian, entah bagaimana, pembicaraan mengarah pada jenjang karier dan pengembangan akademik. Tiba-tiba ia menyarankan sesuatu yang tidak kuduga. "Kenapa nggak coba post-doctoral ?" Aku sempat diam beberapa saat. Bukan karena tidak tahu apa itu post-doctoral. Justru sebaliknya. Dulu, beberapa tahun lalu, aku pernah memiliki keinginan ke arah sana. Aku pernah membayang...