Skip to main content

Posts

Pengen Umroh Lagi dan Lagi....

Dulu aku sempat bertanya-tanya dalam hati setiap kali mendengar seseorang berkata, “Pengen umroh lagi.” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup menggelitik. Bukankah mereka sudah pernah ke sana? Sudah pernah melihat Ka’bah dari dekat, sudah pernah thawaf, sudah pernah berdiri dalam haru di antara jutaan doa. Lalu kenapa masih ingin kembali? Awalnya kupikir mungkin itu sekadar keinginan biasa, seperti orang yang rindu kembali ke tempat liburan favorit. Tapi lama-lama aku sadar, rasanya tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika sehari-hari. Beberapa waktu lalu aku duduk bersama seorang kenalan yang sudah dua kali umroh. Obrolannya santai saja, ditemani teh hangat dan sore yang pelan. Tanpa banyak pengantar, ia berkata, “Kalau sudah pernah ke sana, rasanya hati itu seperti tertinggal sedikit.” Kalimat itu membuatku diam sejenak. Tertinggal sedikit. Bukan hilang, tapi seperti ada bagian dari diri yang enggan pulang. Ia lalu bercerita tentang momen pertam...
Recent posts

Ambisi dan Mati

 Akhir-akhir ini aku sering merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan yang aneh, bukan persimpangan besar yang dramatis, tapi lebih seperti jalan kecil yang tiba-tiba membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Usia, rupanya, punya caranya sendiri untuk mengetuk kesadaran. Tidak keras, tidak juga menakutkan, hanya pelan… tapi cukup untuk membuat hati bertanya, “Sudah sejauh apa aku berjalan?” Lucunya, meski angka umur terus bertambah, ada bagian dalam diriku yang seperti menolak untuk benar-benar tua. Aku masih ngeyel ingin melakukan banyak hal sendiri. Masih merasa kuat, masih ingin bergerak, masih percaya bahwa selama kaki bisa melangkah, kenapa harus bergantung? Bahkan untuk urusan kecil sekalipun, aku sering berkata pada diri sendiri, “Ah, ini mah masih bisa.” Padahal tubuh kadang sudah memberi kode halus, mudah lelah, butuh waktu lebih lama untuk pulih, atau sekadar ingin duduk lebih lama setelah aktivitas. Tapi, ya begitu… ada gengsi kecil yang mungkin tidak terl...

Keluarga yang Tersisih

 Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar kita pahami, meski sudah berulang kali mencoba mencari jawabannya. Sampai sekarang, aku pun tidak tahu apakah ada kesalahan yang pernah kami lakukan pada mereka. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kata-kata tajam yang kuingat pernah terucap. Semuanya terasa biasa saja, sampai suatu hari hidup berubah, tepat setelah ibuku meninggal. Sejak saat itu, pelan-pelan kami seperti bergeser ke pinggir lingkaran keluarga. Awalnya tidak terlalu terasa. Mungkin karena kami juga sedang sibuk berduka, belajar menerima kehilangan, dan menata ulang hidup tanpa sosok yang dulu menjadi pengikat banyak hal. Tapi lama-lama, ada pola yang mulai terlihat. Kami tidak lagi diajak dalam kegiatan keluarga. Bukan cuma sekali dua kali. Berkali-kali. Setiap ada acara, entah kumpul sederhana, hajatan, atau sekadar makan bersama, kami sering baru tahu setelah semuanya lewat. Kadang dari cerita orang lain, kadang tanpa sengaja melihat foto yang bereda...

Hidup di Antara Orang yang Tegas dan Orang peragu

  Pernah memperhatikan bagaimana orang mengambil keputusan? Ada yang terlihat begitu mantap. Tidak banyak bertanya, tidak terlalu lama menimbang. Begitu merasa itu yang terbaik, langsung melangkah. Sementara yang lain tampak seperti berdiri di persimpangan terlalu lama, maju takut salah, mundur takut menyesal. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa memilih hanya bertemu satu tipe manusia. Dalam satu ruang kerja, lingkar pertemanan, bahkan keluarga, selalu ada dua kutub itu,  mereka yang tegas dalam menentukan arah hidupnya, dan mereka yang masih bernegosiasi dengan pikirannya sendiri. Dan sering kali, tanpa sadar, perbedaan itu mengajarkan sesuatu. Ada rasa kagum ketika melihat seseorang yang berani mengambil keputusan besar. Pindah kerja tanpa ragu. Menolak kesempatan yang tidak sesuai nilai hidupnya. Atau memilih jalan yang tidak populer, tapi terasa benar baginya. Bukan berarti mereka tidak takut. Justru kemungkinan besar mereka juga dihantui pertanyaan yang sama sepe...

Wang Yibo dan Gempa yang Menggoyang Pelan

 Semalam aku tidur lebih cepat dari biasanya. Badan rasanya sudah minta kompromi sejak habis ngegym setelah magrib. Otot-otot pegal tapi enak, jenis capek yang bikin kasur terasa lima kali lebih empuk. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku benar-benar tenggelam dalam tidur. Bahkan rasanya kepala baru saja menyentuh bantal, tahu-tahu sudah masuk ke dunia mimpi. Di mimpi itu, aku sedang menonton drama China bertema kolosal kerajaan. Jenis drama yang penuh adegan perang, jubah panjang berkibar, musik megah, dan tentu saja, jurus-jurus yang tidak masuk akal tapi entah kenapa tetap seru ditonton. Para pendekar melayang-layang di atas pohon, berlari di udara, lalu bertarung dengan pedang berkilau. Dramatis sekali. Aku sampai terbawa suasana, seperti penonton setia yang tidak ingin ketinggalan satu adegan pun. Dan di tengah semua kekacauan yang indah itu, muncul satu wajah yang langsung terasa familiar,  Wang Yibo. Nah loh. Yang bikin lucu, aku sebenarnya tidak sedang mengik...

Sahabat Pinjam Uang

Ada momen dalam pertemanan yang terasa lebih rumit daripada konflik atau salah paham, yaitu ketika sahabat meminjam uang. Situasinya hampir selalu sama. Pesan masuk dengan nada hati-hati. Ceritanya biasanya tidak ringan. Ada kebutuhan mendesak, ada keadaan yang tidak bisa ditunda. Lalu tanpa sadar, hati langsung bergerak lebih dulu daripada logika. Kasihan. Refleks itu manusiawi. Apalagi kalau yang meminta adalah orang yang sudah lama hadir dalam hidup kita. Orang yang tahu cerita jatuh bangun kita, dan sebaliknya. Tapi di saat yang sama, muncul suara kecil lain di kepala, “Bagaimana dengan kebutuhanku sendiri?” Dan sejak detik itu, dilema dimulai. Tidak banyak yang membicarakan betapa canggungnya berada di posisi ini. Menolak terasa kejam, menerima terasa berisiko. Uang yang kita punya sering bukan uang berlebih. Ada rencana, ada tabungan darurat, ada rasa ingin berjaga-jaga untuk hal tak terduga. Memberikannya, meski hanya sebagian, kadang berarti menggeser rasa aman kita send...

Saat Pesan WhatsApp Saja Bisa Memicu Anxiety

 Ada hal-hal yang terlihat sepele bagi orang lain, tapi bisa terasa seperti alarm bahaya bagi seseorang yang pernah terluka. Sebuah nada notifikasi. Nama tertentu muncul di layar. Atau pesan singkat yang isinya hanya beberapa kata. “Mohon menghadap pimpinan.” Kalimat yang biasa saja. bahkan mungkin bagian dari rutinitas kerja. Tapi bagi sebagian orang, itu cukup untuk membuat dada sesak tanpa alasan yang bisa dijelaskan dengan cepat. Dan di situlah trauma bekerja. Diam-diam, tapi nyata. Banyak orang mengira waktu otomatis menyembuhkan segalanya. Seolah semakin lama sebuah kejadian berlalu, semakin kecil pula dampaknya. Kenyataannya tidak selalu begitu. Trauma sering tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertidur. Sampai suatu hari, sesuatu yang kecil membangunkannya. Tubuh bereaksi lebih dulu sebelum logika sempat menenangkan. Tangan mulai dingin. Napas terasa pendek. Pikiran mendadak berlari ke kemungkinan terburuk, dimarahi, disalahkan, dipermalukan, atau dihadapkan pada situasi ...