Aku mulai punya kebiasaan baru yang terasa konyol sekaligus sulit dihentikan, melongok kotak pesan media sosial berkali-kali tanpa alasan jelas. Seolah ada sesuatu di sana yang menungguku, padahal setiap kali kubuka, hasilnya selalu sama. Kosong. Sunyi. Hanya layar yang tak berubah, seakan menatap balik tanpa ekspresi. Kadang memang ada satu atau dua pesan masuk, tapi isinya selalu sama, iklan perjalanan, promo diskon, ajakan liburan yang terdengar terlalu ceria untuk hatiku yang sedang menunggu satu nama saja. Ironis sekali rasanya. Dunia seperti ramai memanggilku pergi ke mana-mana, sementara aku hanya menunggu satu orang yang bahkan tidak memanggilku ke mana pun. Pesan yang kukirimkan kepadanya masih ada di sana. Diam. Tak bergerak. Di bawahnya tertulis kalimat kecil yang rasanya jauh lebih berat daripada seharusnya, telah dilihat pada hari Senin . Sejak hari itu, waktu berjalan seperti biasa untuk semua orang, kecuali untuk percakapan ini. Percakapan itu berhenti di satu t...
Jujur saja, aku berharap dia membalas pesanku. Harapan yang sebenarnya sederhana, kecil, dan mungkin terdengar sepele bagi orang lain. Hanya sebuah balasan. Satu notifikasi. Satu tanda bahwa pesan itu sampai bukan hanya ke ponselnya, tapi juga ke perhatiannya. Tapi sampai sekarang, layar itu tetap sunyi. Awalnya aku mencoba bersikap biasa saja. Aku menaruh ponsel, melanjutkan aktivitas, mencoba meyakinkan diri bahwa hidup tidak akan berubah hanya karena satu pesan belum dibalas. Tapi entah sejak kapan, tanganku mulai punya kebiasaan baru, membuka aplikasi media sosial tanpa alasan yang jelas. Seperti refleks. Seperti gerakan otomatis yang terjadi bahkan sebelum aku sempat berpikir. Semenit sekali. Lima menit sekali. Lalu setengah jam. Dan tanpa terasa, dua hari sudah lewat. Pesan terakhirku masih menggantung di sana, seperti kalimat yang terhenti di tengah udara dan tidak pernah menemukan tempat untuk mendarat. Lucunya, aku tidak benar-benar bisa marah. Tidak bisa juga bilang...