Skip to main content

Posts

Pembunuhan Karakter

Oke, mumpung ingatan itu masih hangat dan belum sempat menguap lagi, aku ingin menuliskannya sekarang.  Ini bukan cerita yang ringan, dan mungkin bukan juga cerita yang mudah ditata rapi, tapi rasanya terlalu sayang kalau kembali hilang seperti beberapa ide yang sebelumnya datang lalu pergi tanpa sempat ditangkap.  Semua ini berawal dari kejadian kemarin....... tentang sesuatu yang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sekadar konflik biasa....... pembunuhan karakter. Aku tidak tahu kapan tepatnya semuanya dimulai. Yang jelas, kesadaranku muncul ketika situasinya sudah terasa terlalu nyata untuk diabaikan. Bukan lagi sekadar perasaan tidak nyaman, bukan lagi kecurigaan samar, tapi sesuatu yang perlahan membentuk pola. Kata-kata yang terdengar sama, sikap yang berubah serempak, jarak yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan. Dari situ, aku mulai menyadari bahwa ini bukan kebetulan yang berdiri sendiri. Yang paling membuatku goyah adalah kenyataan bahwa ini tidak dilakukan ole...
Recent posts

Aku Tidak Suka Lebaran

Sudah berkali-kali aku bilang, bahkan mungkin terlalu sering sampai terdengar seperti pengulangan yang melelahkan.... aku tidak suka lebaran. Bukan sekadar tidak antusias, tapi benar-benar tidak suka. Perasaan itu bukan datang tiba-tiba, bukan juga karena satu kejadian tertentu yang bisa dengan mudah ditunjuk sebagai penyebabnya. Ia tumbuh pelan-pelan, menumpuk dari tahun ke tahun, sampai akhirnya jadi sesuatu yang sulit diurai. Beberapa tahun terakhir, aku bahkan sudah berhenti pulang ke rumah bapakku saat hari raya. Awalnya mungkin terasa janggal, melihat orang lain sibuk bersiap mudik, membicarakan rencana berkumpul, sementara aku justru memilih diam di tempat. Tapi lama-lama, keputusan itu terasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa bersalah yang dulu sempat muncul di awal-awal. Justru yang ada, semacam perasaan datar… atau mungkin lebih tepatnya, tidak merasa perlu. Aneh memang, kalau dipikir-pikir. Aku sendiri bahkan tidak sepenuhnya ingat, kapan tepatnya semuanya mulai berubah. Apa...

Kenapa Memaksakan Diri Hanya untuk Sekedar Bisa Mudik?

Perjalanan mudik tahun ini sempat menyisakan satu pertanyaan yang berulang-ulang muncul di kepalaku, sederhana tapi entah kenapa sulit benar untuk kupahami.......  kenapa banyak orang memilih membawa kendaraan sendiri saat mudik?  Pertanyaan itu datang begitu saja, mungkin karena sepanjang perjalanan aku melihat begitu banyak pemandangan yang terasa… melelahkan, bahkan dari kejauhan. Di jalan, aku melihat motor-motor melintas dengan muatan yang rasanya melebihi batas wajar. Satu motor, yang seharusnya cukup untuk dua orang, diisi berempat.... ayah di depan, anak kecil diapit di tengah, ibu di belakang sambil memeluk barang-barang yang diikat seadanya. Tas menggantung di sisi kanan-kiri, kadang ada kardus, kadang karung, semuanya dibawa seolah-olah tidak ada pilihan lain. Aku tidak tahu apa yang mereka rasakan di perjalanan sepanjang itu...... lelah, pegal, atau mungkin justru biasa saja karena sudah terbiasa. Tapi dari sudut pandangku, itu terlihat berat. Belum lagi yang mem...

Tidak Mudik Kalau Tidak Naik Kereta

  Sejak menikah, ada satu kebiasaan baru yang perlahan terbentuk dalam hidupku: mudik. Sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar punya arti bagiku, kini hadir sebagai rutinitas yang hampir tak terhindarkan. Bukan karena tiba-tiba aku menyukai lebaran, bukan juga karena aku mendadak menikmati perjalanan pulang kampung seperti kebanyakan orang. Lebih karena ada satu hal yang berubah.... aku tidak lagi sendiri. Istriku berasal dari daerah yang berbeda, kabupaten yang berbeda, dan dari situlah kata “pulang” mulai punya arah yang baru, meski rasanya masih belum sepenuhnya akrab di hati. Setiap menjelang lebaran, rencana mudik selalu muncul sebagai sesuatu yang harus dipikirkan. Tiket, jadwal, waktu berangkat, semuanya disusun rapi, seolah-olah ini bagian dari tradisi yang tidak bisa dilewatkan. Aku mengikutinya, tentu saja. Lebih tepatnya, aku mengikuti istriku. Bukan dalam arti terpaksa dengan keluhan yang keras, tapi lebih seperti menerima kenyataan bahwa ini adalah bagian dari kehi...

Kenapa Banyak Orang Suka Lebaran Sedangkan Aku Tidak?

Aku sering bertanya-tanya, kenapa begitu banyak orang menunggu lebaran dengan penuh suka cita, sementara aku justru sejak dulu tidak pernah benar-benar bisa menikmatinya. Bahkan sejak kecil, ketika orang-orang bilang hari itu adalah hari paling membahagiakan, aku sudah merasa ada yang tidak sejalan di dalam diriku. Waktu itu aku belum bisa menjelaskan apa yang salah, hanya tahu bahwa suasana yang bagi orang lain hangat, bagiku terasa asing. Aku ingat bagaimana setiap tahun, menjelang hari itu, rumah mulai sibuk. Orang-orang bersiap, membicarakan rencana berkunjung, daftar rumah yang harus didatangi, dan siapa saja yang mungkin akan datang. Semuanya terdengar normal, bahkan menyenangkan, kalau dilihat dari luar. Tapi dari dalam, aku justru merasa pelan-pelan tertekan. Seolah-olah ada kewajiban tak tertulis yang harus dijalani, tanpa pernah benar-benar ditanya apakah aku nyaman melakukannya atau tidak. Pagi hari lebaran selalu dimulai dengan cara yang sama.... pakaian rapi, suasana yan...

Berharap Hujan Saat Malam Takbiran

  Pernah ada satu malam takbiran yang membuatku diam-diam berharap sesuatu yang sederhana, hujan deras turun tanpa jeda. Bukan hujan yang malu-malu, tapi yang benar-benar lebat, cukup untuk membuat orang-orang memilih berteduh daripada turun ke jalan.  Keinginan itu terdengar aneh, bahkan sedikit egois, tapi saat itu rasanya masuk akal. Aku hanya ingin malam berjalan lebih sunyi, lebih pelan, tidak dipenuhi riuh yang terasa asing di telinga. Sejak sore, tanda-tandanya sudah terlihat. Jalanan mulai ramai, kendaraan lalu-lalang dengan arah yang tidak jelas, dan suara dari kejauhan mulai terdengar, bukan lantunan takbir yang lirih dan menggetarkan hati, tapi dentuman musik yang keras, ritme cepat yang lebih mirip pesta daripada perenungan. Sound system besar dipasang di atas mobil atau gerobak, dipacu semaksimal mungkin, seolah-olah siapa yang paling keras, dialah yang paling merayakan. Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikan semuanya dari jarak yang aman. Lampu-lampu kendar...

Seperti Jatuh Cinta Lagi pada Orang Baru, misalnya?

Pernah ada masa ketika hidup terasa begitu datar, seperti garis lurus yang berjalan tanpa kejutan, tanpa warna, tanpa alasan untuk benar-benar berhenti dan merasa. Hari-hari berjalan rapi, terlalu rapi bahkan, sampai-sampai aku mulai curiga, apa memang begini rasanya hidup yang “baik-baik saja”?  Tidak ada drama, tidak ada luka besar, tapi juga tidak ada getaran yang membuat dada berdebar lebih cepat dari biasanya. Di titik itu, aku mulai bertanya pada diri sendiri....  apakah mungkin aku hanya perlu sedikit keberanian untuk membuat semuanya terasa hidup lagi? Entah sejak kapan pikiran itu berubah menjadi keinginan yang lebih nyata. Mungkin dari hal sederhana, mengingat bagaimana dulu jatuh cinta bisa membuat dunia terasa berbeda. Warna-warna tampak lebih terang, suara-suara terdengar lebih hidup, dan hal-hal kecil tiba-tiba punya arti. Lalu muncul pertanyaan yang agak nekat.....   bagaimana kalau aku mencoba merasakannya lagi? Bukan dengan menunggu, tapi dengan sen...