Skip to main content

Posts

Sengketa Warisan

 Dulu, setiap kali mendengar kabar tentang orang-orang yang saling berseteru karena warisan, aku selalu mengernyit dalam hati. Kenapa bisa begitu? Bukankah yang ditinggalkan lebih penting untuk dikenang daripada diperebutkan? Rasanya sulit membayangkan bagaimana harta bisa mengalahkan hubungan darah, bagaimana tanah dan angka-angka bisa membuat suara meninggi dan pintu ditutup lebih keras dari biasanya. Saat itu aku hanya menjadi penonton, menggeleng pelan, merasa jauh dari kemungkinan mengalami hal serupa. Sampai akhirnya peristiwa itu benar-benar hadir di depan mata. Bukan di keluargaku sendiri, melainkan di keluarga dari pihak istriku. Mertua lelakiku meninggal beberapa tahun lalu. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang masih hangat, suasana rumah yang muram, dan wajah-wajah yang belum sempat benar-benar menerima. Rasanya waktu berjalan lambat di hari-hari pertama itu. Kami masih sibuk dengan doa dan tamu yang datang silih berganti. Belum genap tujuh hari. Di tengah duka y...
Recent posts

Obsesi Itu Datang Lagi. Ingin Bertemu, Meski Tak Saling Menyapa

 Liburan kali ini berjalan tanpa kemungkinan untuk bertemu dengannya. Tidak ada agenda yang mempertemukan, tidak ada alasan yang bisa dipaksakan agar langkah kami bersinggungan. Kami memang hanya bertemu di satu tempat yang sama, tempat yang menjadi titik temu tanpa pernah benar-benar menjadi ruang percakapan. Jadi ketika hari-hari libur datang dan rutinitas itu berhenti, otomatis pertemuan pun ikut menghilang. Awalnya terasa biasa saja. Aku menjalani hariku dengan kegiatanku sendiri. Bangun lebih siang, membereskan hal-hal yang selama ini tertunda, membaca, keluar sebentar, kembali lagi. Hari-hari terasa penuh, bahkan tanpa dirinya. Ia pun, tentu saja, memiliki dunianya sendiri. Mungkin ia juga sibuk, mungkin ia menikmati jeda ini tanpa memikirkan apa pun tentangku. Apakah ada rasa kangen? Jika ditanya jujur, sebenarnya tidak. Setidaknya tidak dalam bentuk yang dramatis. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Tidak ada percakapan yang harus dirindukan, tidak ada pesan yang haru...

Cinta yang Benar Tidak Perlu Dikejar dengan Tergesa

  Sebenarnya, kalau aku diminta jujur sepenuhnya, aku pun tidak selalu yakin dengan perasaanku sendiri. Ada masa-masa ketika hati terasa begitu penuh, begitu yakin bahwa ini cinta, atau setidaknya sesuatu yang mendekati itu. Namun pengalaman mengajarkanku bahwa tidak semua getaran di dada layak disebut cinta. Kadang ia hanya kekaguman yang tumbuh subur karena jarak. Kadang hanya rasa nyaman yang datang di waktu yang tepat. Kadang, lebih menyedihkan lagi, hanya ilusi yang kubangun sendiri. Ini bukan pertama kalinya aku berada di titik seperti ini. Sudah beberapa kali sebelumnya aku merasa disukai. Tatapan yang terasa berbeda, perhatian yang tampak lebih dari biasa, sikap yang membuatku berpikir, “Mungkin kali ini benar.” Di saat yang sama, aku pun merasa menyukai dan mencintai. Rasanya hangat, mengalir, meyakinkan. Namun berkali-kali pula aku harus menerima kenyataan bahwa semua itu hanya perasaanku saja. Tidak ada pengakuan. Tidak ada langkah nyata. Tidak ada keberanian yang be...

Sesuatu yang Sulit Dijelaskan Selain Sebagai Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Sampai sekarang aku bahkan tidak tahu namanya. Aneh, ya. Di zaman ketika orang bisa menemukan identitas hanya lewat satu potong foto, aku justru gagal mengetahui nama seseorang yang hampir setiap hari kulihat. Pernah beberapa kali aku mencoba bertanya pelan-pelan pada orang lain, seolah sekadar ingin tahu biasa saja. Tapi selalu saja mentok. Entah memang mereka tidak tahu, atau semesta sengaja menyimpannya dariku. Akhirnya aku menyerah pada satu peran yang paling aman, pengagum dari kejauhan. Aku hanya berani melihatnya diam-diam. Menyimpan jarak yang cukup agar tidak terlihat mencolok, tapi cukup dekat untuk memastikan ia nyata. Ada semacam ketenangan dalam mengagumi tanpa dikenali, meski di sisi lain ada juga getir kecil karena tak pernah benar-benar berani melangkah. Aku masih ingat betul hari pertama semuanya bermula. Hari itu adalah hari pertamaku di tempat itu. Aku berada di dalam ruangan, sedang sibuk melakukan sesuatu, mungkin membereskan, mungkin sekadar menyesuaikan diri ...

Barangkali Tidak Semua Rasa Diciptakan untuk Menjadi Cerita Bersama

  Ada kebiasaan kecil yang diam-diam kulakukan setiap kali ia berada dalam jarak pandang, memandangnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Bukan menatap tanpa sopan, bukan pula dengan keberanian yang terang-terangan. Hanya cukup lama untuk menyimpan garis wajahnya, cara ia bergerak, dan ekspresi yang kadang sulit dijelaskan itu ke dalam ingatan. Seolah-olah otakku adalah ruang arsip, dan aku sedang memastikan bahwa bayangannya tersimpan rapi di sana, agar bisa kupanggil kembali kapan saja, bahkan ketika ia tak ada. Namun begitu ia menoleh dan mata kami hampir bertemu, refleksku selalu sama, pura-pura melihat ke arah lain. Kadang ke jendela, kadang ke ponsel, kadang bahkan pada sesuatu yang sebenarnya tidak menarik sama sekali. Apa saja, asal bukan dirinya. Ada perasaan aneh yang membuatku belum siap tertangkap basah, semacam keinginan untuk tetap tersembunyi, menjaga perasaan ini tetap menjadi rahasia yang hanya kupahami sendiri. Padahal jauh di dalam hati, aku sering merasa...

Bisa Jadi, Bukan Cintanya yang Bertepuk Sebelah Tangan

 Pernahkah kamu merasakan cinta sendirian? Jenis perasaan yang tumbuh diam-diam, tanpa suara, tapi memenuhi hampir seluruh ruang di dada. Orang sering menyebutnya cinta bertepuk sebelah tangan, meski sebenarnya, saat menjalaninya, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah tepukan itu memang hanya satu, atau hanya belum terdengar balasannya. Semua biasanya berawal biasa saja. Tidak ada kembang api, tidak ada momen dramatis seperti di film. Hanya pertemuan sederhana, percakapan ringan, atau mungkin tatapan yang kebetulan bertahan satu detik lebih lama dari seharusnya. Tapi entah kenapa, sejak itu ada sesuatu yang berubah. Hari-hari yang tadinya terasa datar mendadak punya warna tambahan. Pelan-pelan, tanpa sadar, duniamu mulai terisi olehnya. Kamu melihat sesuatu yang lucu, ingin menceritakannya padanya. Mendengar lagu yang menyentuh,  langsung teringat dirinya. Bahkan hal-hal kecil seperti cuaca mendung atau aroma kopi di pagi hari tiba-tiba terasa punya kaitan. Aneh ya, bag...

Sudut Pandang

  Aku semakin percaya bahwa setiap orang hidup di dalam “dunianya” masing-masing, dunia yang dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, luka, keberuntungan, juga hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terlihat oleh orang lain. Dari situlah perspektif lahir. Maka tidak heran jika satu persoalan bisa terlihat sederhana bagi seseorang, tapi terasa rumit bagi yang lain. Bukan karena ada yang lebih benar, melainkan karena kami berdiri di titik pandang yang berbeda. Hari ini sebenarnya aku sengaja menyempatkan diri ikut kumpul-kumpul. Bukan acara besar, hanya pertemuan santai yang dipenuhi obrolan ringan, tawa sesekali, dan suara gelas yang saling bersentuhan. Aku datang bukan semata ingin bersosialisasi, tapi lebih karena rasa ingin tahu. Ada dorongan kecil dalam diriku untuk memahami bagaimana mereka berpikir, seperti apa pola yang mereka pakai saat melihat masalah, mengambil keputusan, atau menilai sesuatu. Awalnya semuanya terasa biasa saja. Kami berbincang tentang banyak hal,  p...