Aku mulai kehabisan cerita. Atau mungkin bukan kehabisan cerita, melainkan kehabisan cara untuk menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Karena jika dipikir-pikir, beberapa bulan terakhir aku hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja. Tentang dia. Tentang tatapan-tatapan yang sulit dijelaskan. Tentang kehadiran yang selalu berhasil mengacaukan pikiranku. Tentang perasaan yang setiap hari berubah bentuk tetapi tidak pernah benar-benar pergi. Kadang aku sampai merasa bosan pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengeluh tentang hal yang sama begitu lama? Tapi setiap kali aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya, selalu ada sesuatu yang membuatku kembali ke titik awal. Dan mungkin yang paling melelahkan bukanlah perasaannya. Melainkan keraguannya. Aku takut selama ini semua hanya terjadi di kepalaku. Takut bahwa apa yang kuanggap sebagai pertanda ternyata hanyalah kebetulan yang terlalu sering kutafsirkan. Takut bahwa aku sedang melakukan kesalahan yang sama sepert...
Lagi-lagi, aku harus menyalahkan rasa penasaran yang terlalu mudah diberi makan. Awalnya tidak ada rencana apa-apa. Aku hanya membuka layar, mengetik beberapa kata, lalu membiarkan jari-jariku berjalan sendiri mengikuti arah yang bahkan tidak kupikirkan sebelumnya. Seperti yang sudah-sudah, aku meyakinkan diri bahwa ini hanya rasa ingin tahu biasa. Hanya ingin memastikan satu atau dua hal yang selama ini masih menggantung di kepalaku. Tapi aku tahu itu bohong. Kalau memang hanya rasa ingin tahu biasa, aku pasti sudah berhenti sejak lama. Nyatanya, setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru. Setiap informasi yang kutemukan selalu membuka pintu menuju informasi berikutnya. Dan tanpa sadar, aku kembali menjadi detektif amatir yang bekerja tanpa bayaran dan tanpa surat tugas. Kali ini pencarianku berakhir pada sesuatu yang tidak kusangka. Sebuah dokumen lama. Berkas resmi. Bukan unggahan media sosial. Bukan foto. Bukan status yang bisa ditafsirkan ke mana-mana. Melainkan dokumen yang...