Posts

Apa yang Ada dalam Pikirannya?

Image
  Entah kenapa, sampai hari ini pikiranku masih terus kembali pada kejadian kemarin sore. Padahal peristiwanya hanya berlangsung beberapa detik. Sangat singkat. Namun justru hal-hal yang singkat sering kali meninggalkan gema paling panjang di dalam kepala. Aku masih terus mengingat momen ketika ia melihatku membonceng seorang perempuan. Sejak semalam aku mencoba menyusun berbagai kemungkinan. Bukan tentang diriku, melainkan tentang apa yang mungkin dipikirkannya saat itu. Lalu setiap kali pikiranku mulai melangkah terlalu jauh, aku mengingatkan diri sendiri bahwa semua itu hanyalah dugaan. Aku tidak benar-benar tahu apa yang ia rasakan. Bisa jadi kejadian itu sama sekali tidak berarti baginya. Bisa jadi ia hanya melihat sekilas, lalu melanjutkan harinya seperti biasa. Namun hati memang gemar menyusun cerita. Apalagi jika sebelumnya semuanya terasa begitu berbeda. Sebelum kami pulang, kami sempat berada sangat dekat. Sedekat itu hingga untuk pertama kalinya aku tidak perlu lagi menc...

Tak Akan Lagi Sama

Image
 Sepertinya, setelah sore itu, semuanya tidak akan sama lagi. Setidaknya begitulah dugaanku sejak semalam. Entah benar atau tidak, pikiranku terus memutar kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum tentu terjadi. Satu kejadian singkat di jalan tiba-tiba terasa mampu mengubah seluruh arah cerita yang selama berbulan-bulan hanya bergerak di tempat. Aku terus bertanya-tanya. Bagaimana jika ia memang melihatku dengan jelas? Bagaimana jika ia sempat mengenali siapa yang kubonceng? Dan bagaimana jika, dalam hitungan beberapa detik itu, ia menyimpulkan sesuatu tentangku yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataannya? Aku tidak tahu. Tetapi justru karena tidak tahu, pikiranku terus bekerja tanpa henti. Aku mencoba menempatkan diriku pada posisi yang kubayangkan sedang dialaminya. Jika aku setiap hari memikirkan seseorang, diam-diam berharap bisa lebih dekat dengannya, lalu suatu sore melihat orang itu pergi bersama perempuan lain, apa yang akan kurasakan? Mungkin kecewa. Mungkin biasa sa...

Aku Ketahuan

Image
Goblok. Itu kata pertama yang muncul di kepalaku setelah semuanya terjadi. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk keadaan. Bukan pula untuk dirinya. Untuk diriku sendiri. Aku benar-benar mengumpat karena sama sekali tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Selama ini aku selalu sibuk menyusun berbagai skenario di kepalaku, bagaimana jika kami berpapasan, bagaimana jika tatapan kami bertemu, bagaimana jika suatu hari kami akhirnya berbicara. Anehnya, dari sekian banyak kemungkinan yang kubayangkan, tidak pernah sekalipun terlintas bahwa ia akan melihatku pulang membonceng seorang perempuan. Dan sore ini, itu benar-benar terjadi. Ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Aku tidak sempat menghindar. Tidak sempat berpura-pura tidak melihat. Bahkan tidak sempat menyusun ekspresi yang tepat. Semuanya berlangsung terlalu cepat, sementara pikiranku justru membeku. Sepanjang perjalanan pulang aku terus bertanya-tanya. Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah ia hanya melihat sekilas lalu melupak...

Dia Makin Berani

Image
  Hai. Bagaimana kabarku hari ini? Pertanyaan itu masih kujawab dengan jawaban yang sama seperti hari-hari sebelumnya: aku masih berada di antara ingin bertahan dan ingin pergi. Belum benar-benar yakin meninggalkannya, tetapi juga tidak lagi sekeras dulu ingin mengejarnya. Mungkin ini bukan lagi soal memilih, melainkan soal membiarkan waktu perlahan mengikis apa yang memang tidak bisa dipertahankan. Sore ini kami bertemu lagi. Anehnya, setiap kali kami bertemu, aku merasa semakin mengenali caranya bersikap. Bukan karena kami sering berbicara, justru sebaliknya, kami nyaris tidak pernah benar-benar berbicara. Mungkin karena terlalu lama saling berada dalam ruang yang sama, aku mulai hafal kebiasaan-kebiasaannya, termasuk kebiasaan yang menurutku paling lucu, berpura-pura tidak menyadari kehadiranku. Hari ini ia tampak sedikit lebih berani berada di sekitarku. Beberapa kali jarak kami begitu dekat. Namun di saat-saat tertentu, aku juga melihat keraguan yang sama seperti yang sering k...

The Art of Seduction

Image
  Aku mungkin akan menunggu sampai akhir Agustus. Entah kenapa, angka itu terasa seperti batas yang cukup masuk akal untuk sebuah kisah yang selama ini bahkan tidak pernah benar-benar memiliki nama. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kuharapkan terjadi sebelum bulan itu berakhir. Mungkin sebuah percakapan. Mungkin sebuah keberanian. Mungkin hanya satu kejadian kecil yang akhirnya membuat semua dugaan selama ini menemukan bentuknya. Atau mungkin tidak akan terjadi apa-apa sama sekali, seperti hari-hari sebelumnya yang berlalu begitu saja dengan tatapan, jarak, dan keberanian yang selalu berhenti beberapa langkah sebelum benar-benar sampai. Jika sampai akhir Agustus tidak ada kejelasan, mungkin aku benar-benar harus pergi. Resign. Kalimat itu terdengar jauh lebih serius ketika benar-benar kutuliskan. Sebab sebenarnya aku tidak sedang meninggalkan pekerjaan hanya karena seseorang. Setidaknya aku ingin percaya begitu. Ada banyak hal yang sudah membuatku lelah dengan pekerjaan ini, dan ...

Kembali ke Titik Nol

Image
 Sore tadi kami bertemu lagi. Suasananya sebenarnya tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Orang-orang masih berada di tempatnya masing-masing, aktivitas kantor tetap berjalan seperti biasa, dan kami kembali menjadi dua orang yang berada dalam ruang yang sama tetapi seolah hidup dalam dunia masing-masing. Tidak ada sesuatu yang benar-benar istimewa. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kejadian besar yang bisa kuceritakan sebagai sesuatu yang mengubah jalan cerita. Namun justru itu yang membuatku bingung. Hari ini aku tidak merasakan apa yang kurasakan kemarin. Kemarin, setelah beberapa hari tidak bertemu, aku melihatnya seperti seseorang yang tiba-tiba memiliki cahaya sendiri. Di antara orang-orang lain, entah mengapa ia terlihat berbeda. Lebih cerah. Lebih hidup. Lebih menarik daripada biasanya. Aku sampai berpikir bahwa mungkin aku kembali jatuh cinta kepadanya untuk kesekian kalinya. Tetapi sore ini semuanya seperti kembali ke titik nol. Kami bahkan berada sangat deka...

Merencanakan untuk Pindah

Image
  Akhir-akhir ini aku mulai memikirkan satu kemungkinan yang sebelumnya selalu kutolak. Mungkin aku memang harus pergi. Bukan karena aku membencinya. Bukan pula karena perasaanku telah hilang. Justru sebaliknya. Aku merasa perasaan ini berkembang terlalu jauh, sementara hubungan kami tidak bergerak ke mana-mana. Yang tumbuh hanya angan-angan. Yang bertambah hanya dugaan. Sedangkan kenyataannya tetap sama, kami masih dua orang yang lebih banyak saling memperhatikan daripada saling berbicara. Dan mungkin, itu yang mulai membuatku takut. Aku merasa terlalu lama hidup di dalam kisah yang tidak memiliki nama. Setiap pertemuan menjadi bahan renungan. Setiap tatapan berubah menjadi pertanyaan. Setiap kebetulan kucoba tafsirkan, lalu kupikirkan lagi ketika malam datang. Perlahan-lahan, pikiranku membangun cerita yang semakin panjang, sementara kenyataannya hampir tidak pernah berubah. Aku khawatir jika terus seperti ini, suatu hari nanti aku akan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana ...