Orang sering bilang memaafkan itu melegakan. Dan anehnya, untuk urusan memaafkan orang lain, aku termasuk yang cukup ringan tangan. Ketika disakiti, dikecewakan, atau diperlakukan tidak adil, aku lebih memilih berkata dalam hati, “sudahlah.” Bukan karena aku tidak merasa sakit, tapi karena membenci terasa jauh lebih melelahkan. Menyimpan dendam seperti memanggul batu di punggung sendiri, berat, dan tidak ada untungnya. Aku tidak suka punya musuh. Tidak nyaman membayangkan ada orang yang kuingat dengan rasa pahit. Rasanya sesak. Maka jalan tercepat yang kupilih adalah memaafkan. Lepas. Selesai. Setidaknya di permukaan. Tapi belakangan aku sadar, ada satu orang yang paling sulit kumaafkan, diriku sendiri. Lucunya, memaafkan diri sendiri terasa jauh lebih rumit. Untuk kesalahan orang lain, aku bisa mencari alasan: mungkin dia sedang lelah, mungkin dia tidak tahu, mungkin dia tidak sengaja. Tapi untuk diriku? Aku cenderung lebih keras. Lebih kritis. Lebih panjang daftar tuntutannya. Ke...
Ada masa ketika tubuhku rajin bergerak, tapi hatiku seperti tertinggal di belakang. Aku berdiri ketika takbir dikumandangkan, rukuk dan sujud dengan hitungan yang pas, bibir melafalkan doa-doa yang sudah akrab sejak kecil, namun entah kenapa, rasanya seperti sedang menjalankan daftar tugas. Selesai satu, lanjut berikutnya. Rapi. Tertib. Tapi hampa. Awalnya aku mengira itu hanya lelah biasa. Mungkin karena pekerjaan menumpuk, mungkin karena pikiran terlalu penuh. Tapi ketika momen itu berulang beberapa kali, terutama di Ramadan yang seharusnya lebih syahdu, aku mulai bertanya dalam hati: apakah ini hanya perasaanku saja, atau orang lain juga pernah mengalaminya? Aku pernah duduk setelah salat, mencoba mengingat apa yang baru saja kubaca. Surat apa tadi? Doa apa yang kulantunkan? Kosong. Seperti lewat begitu saja tanpa sempat menyentuh dada. Gerakan ada, suara ada, tapi rasa tidak ikut hadir. Dan di situlah kegelisahan kecil itu muncul. Aku merasa bersalah. Seolah-olah aku sedang berp...