Oke, mumpung ingatan itu masih hangat dan belum sempat menguap lagi, aku ingin menuliskannya sekarang. Ini bukan cerita yang ringan, dan mungkin bukan juga cerita yang mudah ditata rapi, tapi rasanya terlalu sayang kalau kembali hilang seperti beberapa ide yang sebelumnya datang lalu pergi tanpa sempat ditangkap. Semua ini berawal dari kejadian kemarin....... tentang sesuatu yang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sekadar konflik biasa....... pembunuhan karakter. Aku tidak tahu kapan tepatnya semuanya dimulai. Yang jelas, kesadaranku muncul ketika situasinya sudah terasa terlalu nyata untuk diabaikan. Bukan lagi sekadar perasaan tidak nyaman, bukan lagi kecurigaan samar, tapi sesuatu yang perlahan membentuk pola. Kata-kata yang terdengar sama, sikap yang berubah serempak, jarak yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan. Dari situ, aku mulai menyadari bahwa ini bukan kebetulan yang berdiri sendiri. Yang paling membuatku goyah adalah kenyataan bahwa ini tidak dilakukan ole...
Sudah berkali-kali aku bilang, bahkan mungkin terlalu sering sampai terdengar seperti pengulangan yang melelahkan.... aku tidak suka lebaran. Bukan sekadar tidak antusias, tapi benar-benar tidak suka. Perasaan itu bukan datang tiba-tiba, bukan juga karena satu kejadian tertentu yang bisa dengan mudah ditunjuk sebagai penyebabnya. Ia tumbuh pelan-pelan, menumpuk dari tahun ke tahun, sampai akhirnya jadi sesuatu yang sulit diurai. Beberapa tahun terakhir, aku bahkan sudah berhenti pulang ke rumah bapakku saat hari raya. Awalnya mungkin terasa janggal, melihat orang lain sibuk bersiap mudik, membicarakan rencana berkumpul, sementara aku justru memilih diam di tempat. Tapi lama-lama, keputusan itu terasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa bersalah yang dulu sempat muncul di awal-awal. Justru yang ada, semacam perasaan datar… atau mungkin lebih tepatnya, tidak merasa perlu. Aneh memang, kalau dipikir-pikir. Aku sendiri bahkan tidak sepenuhnya ingat, kapan tepatnya semuanya mulai berubah. Apa...