Aku semakin percaya bahwa setiap orang hidup di dalam “dunianya” masing-masing, dunia yang dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, luka, keberuntungan, juga hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terlihat oleh orang lain. Dari situlah perspektif lahir. Maka tidak heran jika satu persoalan bisa terlihat sederhana bagi seseorang, tapi terasa rumit bagi yang lain. Bukan karena ada yang lebih benar, melainkan karena kami berdiri di titik pandang yang berbeda. Hari ini sebenarnya aku sengaja menyempatkan diri ikut kumpul-kumpul. Bukan acara besar, hanya pertemuan santai yang dipenuhi obrolan ringan, tawa sesekali, dan suara gelas yang saling bersentuhan. Aku datang bukan semata ingin bersosialisasi, tapi lebih karena rasa ingin tahu. Ada dorongan kecil dalam diriku untuk memahami bagaimana mereka berpikir, seperti apa pola yang mereka pakai saat melihat masalah, mengambil keputusan, atau menilai sesuatu. Awalnya semuanya terasa biasa saja. Kami berbincang tentang banyak hal, p...
Aku pernah berpikir bahwa semakin rapi sebuah rencana disusun, semakin besar pula kemungkinan ia berjalan mulus. Bukankah hidup sering diajarkan begitu? Buat target, hitung matang, siapkan semuanya dari jauh-jauh hari, lalu tinggal melangkah. Tapi semakin ke sini, aku justru sering melihat hal yang sebaliknya. Ada rencana yang sudah disiapkan dengan penuh kehati-hatian, tapi tetap saja berantakan di tengah jalan. Sementara keputusan yang lahir tiba-tiba, tanpa banyak drama, malah sampai ke tujuan dengan selamat. Pengalaman soal umroh sepertinya jadi contoh paling nyata dalam hidupku. Aku berangkat umroh tanpa persiapan yang panjang. Keputusan untuk memberangkatkan kakakku dulu rasanya hampir spontan. Tidak terlalu banyak pertimbangan yang rumit. Ada rezekinya, ada jalannya, lalu berangkat. Semuanya mengalir begitu saja, seperti air menemukan sungainya sendiri. Tidak banyak hambatan, tidak ada cerita berliku yang membuat dahi berkerut. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi ketika i...