Skip to main content

Posts

Apakah Dia Juga Merindukanku Seperti Aku Merindukannya?

Aku sering bertanya-tanya tentang hal yang sebenarnya sederhana, tapi rasanya selalu berputar menjadi labirin panjang di kepalaku, apakah dia juga merindukanku seperti aku merindukannya? Pertanyaan itu muncul pelan-pelan, seperti kabut yang datang tanpa suara, lalu menetap terlalu lama. Tidak ada momen dramatis yang memicunya. Ia hadir begitu saja, di sela percakapan singkat, di antara jeda pesan yang tak segera dibalas, atau di detik-detik hening setelah kami berpisah. Dan sejak itu, pertanyaan itu seperti memilih tinggal, menempati ruang paling sunyi di pikiranku. Aku tidak yakin. Benar-benar tidak yakin. Bahkan ketika mencoba meyakinkan diri sendiri, selalu ada suara kecil yang memotong di tengah kalimat, mengatakan bahwa mungkin semua ini hanya sepihak. Rasanya seperti déjà vu yang terlalu familiar. Perasaan mencintai ini terasa seperti pola lama yang kembali berulang, cerita yang pernah terjadi dengan tokoh berbeda tapi alur yang sama. Aku seperti seseorang yang menonton ulang f...
Recent posts

Menangis di Pangkuan

Semalam aku kembali bermimpi tentang ibuku. Rasanya aneh, belakangan ini ia datang lebih sering dalam mimpi, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau mungkin justru ada sesuatu dalam diriku yang belum selesai melepaskannya. Mimpi itu terasa begitu nyata, seperti potongan waktu yang tiba-tiba diputar ulang tanpa peringatan. Di mimpi itu, semuanya dimulai dengan pertengkaran. Aku tidak tahu dengan siapa. Wajahnya kabur, suaranya samar, tapi emosinya terasa sangat jelas. Kami bertengkar hebat. Kalimat demi kalimat keluar dengan nada tinggi, penuh emosi yang terasa menyesakkan. Ada rasa marah, kecewa, lelah, semuanya bercampur menjadi satu sampai rasanya kepalaku seperti dipenuhi suara yang saling bertabrakan. Di tengah pertengkaran itu, pikiran yang dulu pernah kukenal muncul lagi,  lebih baik mati saja. Kalimat itu datang begitu saja, seperti refleks yang sudah pernah ada sebelumnya. Bukan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang asing. Justru terasa seperti bisikan lama yang ...

Hari Senin Akhirnya Datang......

Senin akhirnya datang, seperti janji yang selalu kutunggu tapi juga selalu kutakuti. Ada perasaan aneh yang menggantung sejak pagi, semacam tekad yang setengah matang, hari ini aku tidak akan membiarkan perasaanku berlarian terlalu jauh. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru, menarik sedikit jarak tanpa benar-benar pergi. Lucunya, justru hari itu kita punya begitu banyak waktu untuk berada di ruang yang sama. Terlalu banyak, bahkan. Seolah semesta ingin menguji seberapa kuat aku bisa berpura-pura biasa saja. Dulu, refleks pertamaku selalu mencari keberadaannya. Sekarang aku mencoba mengubah kebiasaan itu. Bukan berarti aku tidak peduli, hanya berusaha menahan diri agar pandanganku tidak lagi otomatis tertuju padanya. Aku tidak lagi mencari wajahnya. Setidaknya tidak secara terang-terangan. Tentu saja, sekilas tetap ada. Bagaimanapun juga, kami terlalu dekat untuk benar-benar saling tak terlihat. Aku masih tahu dia berada di mana. Aku masih tahu harus mengambil posisi di mana agar tida...

Menunggu Hari Senin

Ada satu hal yang diam-diam selalu kusukai dari hari Senin. Hal yang mungkin terdengar konyol bagi orang lain, tapi terasa begitu nyata bagiku. Senin berarti jeda telah selesai. Setelah dua hari panjang bernama Sabtu dan Minggu, akhirnya ada kemungkinan bertemu lagi. Lucu ya. Padahal pertemuan itu sendiri sering tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada momen dramatis, bahkan kadang tidak ada sapaan sama sekali. Hanya keberadaan yang kebetulan berada dalam ruang yang sama. Tapi anehnya, itu sudah cukup untuk membuat Senin terasa seperti sesuatu yang layak ditunggu. Selama akhir pekan, rindu itu seperti ditahan paksa di dalam kepala. Bukan rindu yang besar dan meledak-ledak, tapi yang kecil, halus, dan terus berdenyut pelan seperti detak jam yang tidak pernah berhenti. Aku mencoba mengalihkan perhatian, mengisi waktu dengan hal-hal lain, berpura-pura sibuk agar hari terasa lebih pendek. Tapi tetap saja, di sela-sela keheningan, pikiranku selalu kembali ke titik...

Terlalu Sering untuk Disebut Kebetulan

Aku harus mengakuinya, meski agak malu, aku ini tipe yang gampang berubah jadi detektif amatir kalau sudah penasaran pada seseorang. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa aku tidak akan mencari tahu lagi tentang dia, tapi kenyataannya selalu berakhir sama, diam-diam membuka akun yang terhubung dengannya, menelusuri jejak kecil yang sebenarnya tidak pernah diminta untuk ditemukan. Sabtu kemarin jadi bukti terbaru. Dari story orang lain, aku melihat potongan kehidupannya yang tidak pernah kulihat secara langsung. Dia tertawa lepas. Benar-benar lepas. Tidak ada canggung, tidak ada jeda, tidak ada gerakan hati-hati seperti yang sering kulihat ketika dia berada di dekatku. Tawa itu terasa ringan, mengalir begitu saja seperti air yang tidak pernah mengenal batu penghalang. Dan entah kenapa, justru di situlah dadaku terasa jatuh pelan. Bukan karena cemburu. Setidaknya aku ingin percaya bukan itu. Lebih seperti perasaan aneh yang sulit diberi nama, sejenis kesimpulan sepihak yang tiba-tiba mun...

Mungkin Bukan Pertemuannya yang Kusukai, Melainkan Kemungkinan-Kemungkinan yang Tidak Pernah Terjadi di Dalamnya

Kemarin pertemuan itu hanya berlangsung singkat, hampir seperti adegan selingan yang muncul sebentar lalu hilang sebelum sempat dipahami. Ia datang terlambat, bukan terlambat seperti biasanya, bukan selisih beberapa menit yang masih bisa dianggap kebiasaan kecil yang lucu. Kali ini benar-benar terlambat. Sangat terlambat, sampai kehadirannya terasa seperti sesuatu yang datang setelah hampir semua orang berhenti menunggu. Dan anehnya, aku menyadari itu dengan mudah. Terlalu mudah, malah. Karena tanpa sadar aku sudah menghafal ritme kedatangannya: jam berapa biasanya muncul, langkahnya yang seperti apa ketika memasuki ruangan, bagaimana ia biasanya menaruh barang, bahkan jeda kecil sebelum ia benar-benar bergabung dengan aktivitas yang lain. Semua detail kecil itu entah kapan tersimpan di kepalaku, seperti catatan rahasia yang tidak pernah sengaja kutulis. Ketika ia akhirnya muncul kemarin, ada sesuatu yang terasa berbeda. Gerakannya tampak lebih hati-hati, lebih pelan, seolah ia sedan...

Berani di Kepala, dan Tetap Gemetar di Dunia Nyata

Ini yang biasanya kulakukan ketika di rumah sendirian. Saat kamar sunyi, lampu redup, dan tak ada siapa-siapa yang menertawakan imajinasiku. Aku membuat banyak skenario. Adegan-adegan kecil yang kurancang dengan begitu rapi, seperti sutradara yang terlalu ambisius untuk sebuah cerita yang bahkan belum dimulai. Di kepalaku, aku tahu harus berkata apa. Kalimat pembuka yang ringan, sapaan yang santai, bahkan lelucon kecil untuk mencairkan suasana. Aku membayangkan ia tersenyum, lalu membalas dengan nada yang tak kalah hangat. Percakapan mengalir, tidak canggung, tidak terbata-bata. Kami berdiri berhadapan tanpa jarak yang terlalu kaku. Bahkan dalam beberapa versi, aku bisa menatap matanya cukup lama tanpa merasa ingin melarikan diri. Semuanya terasa mungkin ketika hanya aku dan dinding kamar yang menjadi saksi. Tapi kenyataan selalu berbeda. Ketika benar-benar bertemu dengannya, semua naskah itu mendadak hilang. Seperti file yang terhapus sebelum sempat disimpan. Otakku kosong. Jantun...