Skip to main content

Posts

hate that i made you love me - Ariana Grande (Arti Lagu)

Lagu Hate That I Made You Love Me menarik karena sekilas terdengar seperti lagu tentang seseorang yang merasa bersalah karena membuat orang lain jatuh cinta. Namun kalau didengarkan lebih dalam, sebenarnya lagu ini jauh lebih tajam dari sekadar kisah romantis. Ini bukan lagu tentang cinta yang gagal. Ini lagu tentang seseorang yang lelah dijadikan pusat fantasi, harapan, dan proyeksi orang lain. Bayangkan ada seseorang yang begitu dikagumi. Orang-orang melihatnya dari jauh, mengaguminya, bahkan mungkin jatuh cinta kepadanya. Namun masalahnya, mereka tidak benar-benar mencintai dirinya yang asli. Mereka mencintai versi dirinya yang mereka ciptakan sendiri di dalam kepala. Itulah yang terasa dari lirik "Sorry if I made me your type" Kalimat ini terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sebenarnya bernada sarkastik. Kurang lebih maknanya "Maaf kalau aku ternyata sesuai dengan tipe idealmu. Tapi itu bukan salahku." Ariana seperti sedang berkata bahwa ia tidak pernah mem...
Recent posts

Penantian Semu

Padahal sejak pagi aku sudah membayangkan bagaimana hari ini akan berjalan. Seperti biasanya, aku membayangkan akan ada pertemuan-pertemuan kecil yang tampak tidak penting bagi orang lain, tetapi cukup berarti bagiku. Aku membayangkan akan melihatnya memasuki ruangan. Lalu seperti yang sering terjadi dalam cerita yang diam-diam kususun sendiri, ia akan mulai mencari cara agar tetap berada dalam jangkauan pandanganku. Mungkin ia akan mondar-mandir melewati tempatku. Mungkin beberapa kali berpura-pura memiliki urusan di sudut ruangan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mungkin juga kami akan kembali memainkan permainan lama yang tidak pernah kami sepakati: saling mencuri pandang lalu buru-buru berpaling seolah tidak terjadi apa-apa. Aku bahkan sudah membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih canggung. Berpapasan di koridor yang sempit. Bertemu di dekat loker. Atau berdiri dalam jarak yang terlalu dekat sehingga tidak ada pilihan selain saling menyadari keberadaan masing-masing. B...

Aku Menyimpan Tawanya di Ponselku

Aku menemukan sebuah video secara tidak sengaja. Bukan dari akunnya. Bukan juga dari sesuatu yang memang ia kirimkan kepadaku. Video itu muncul di salah satu reel milik temannya, lalu entah kenapa jari-jariku berhenti di sana lebih lama dari biasanya. Awalnya aku hanya melihat sekilas. Lalu kuputar lagi. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya aku melakukan sesuatu yang mungkin sedikit memalukan jika diceritakan pada orang lain: aku merekam ulang video itu, lalu memotong bagian yang hanya menampilkan dirinya. Bukan seluruh video. Hanya beberapa detik ketika ia tertawa dan menjawab sesuatu dengan nada yang lembut, sedikit manja, seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya. Beberapa detik saja. Tapi anehnya, beberapa detik itu berhasil membuatku tersenyum berkali-kali. Selama ini aku lebih sering melihatnya dari kejauhan. Di ruangan yang sama, di lorong, di dekat pintu masuk, atau sekadar lewat dari sudut pandangku. Selalu ada jarak di antara kami. Bahkan ketika berdiri cukup dekat, rasanya tet...

Ada Rindu yang Tidak Boleh Disuarakan

  Ada rindu yang tidak boleh disuarakan. Bukan karena tidak tulus. Bukan karena tidak cukup besar. Justru mungkin karena terlalu besar hingga aku takut jika ia keluar dari dadaku, semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kukendalikan. Maka aku memilih diam. Membiarkannya tinggal di dalam kepala, berputar-putar di antara ingatan dan harapan yang tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk berlabuh. Aku masih mengingat kapan semua ini mulai terasa berbeda. Awalnya hanya pertemuan-pertemuan biasa. Tatapan yang kebetulan bertemu. Kehadiran yang berulang kali muncul di tempat yang sama. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri saat itu. Namun semakin lama, semakin banyak hal yang tidak lagi terasa sebagai kebetulan. Atau mungkin aku saja yang mulai mencari makna di tempat-tempat yang seharusnya dibiarkan kosong. Aku tidak tahu. Sampai hari ini pun aku tidak pernah benar-benar tahu. Yang kutahu hanya satu: perlahan-lahan ak...

Kudeta Kecil-Kecilan dalam Masjid

Semalam rapat di masjid berlangsung lebih ramai dari biasanya. Awalnya suasana berjalan sebagaimana rapat-rapat rutin pada umumnya. Pembahasan berpusat pada rencana melanjutkan pembangunan masjid yang sudah cukup lama terhenti. Ada pembicaraan tentang kebutuhan dana, tahapan pembangunan, hingga harapan agar bangunan yang selama ini mangkrak bisa kembali dikerjakan. Aku sendiri datang tanpa ekspektasi apa pun. Kupikir rapat hanya akan membahas persoalan fisik masjid, lalu selesai sebagaimana biasanya. Beberapa orang menyampaikan pendapat, yang lain mendengarkan. Suasananya cukup tenang. Tidak ada perdebatan berarti. Namun menjelang acara ditutup, tiba-tiba muncul satu usulan yang membuat arah pembicaraan berubah. Ada seseorang yang mengangkat tangan dan mengusulkan reformasi kepengurusan takmir masjid. Awalnya usulan itu disampaikan dengan nada yang hati-hati. Bahkan terkesan malu-malu. Ruangan sempat hening beberapa saat. Tidak banyak yang langsung menanggapi. Seolah semua orang se...

Belajar Berdamai dengan Rindu

Gimana ya menjelaskannya. Sepertinya sekarang aku mulai bisa mengelola rinduku dengan lebih baik. Tidak sepenuhnya hilang, tentu saja. Perasaan itu masih ada. Masih muncul pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika aku tanpa sengaja mengingatnya atau ketika ada sesuatu yang mengingatkanku pada dirinya. Hanya saja, rasa itu tidak lagi sekuat beberapa waktu lalu saat aku baru mulai mencoba menjaga jarak. Aku masih ingat bagaimana beratnya hari-hari pertama. Saat aku sengaja menghindari kesempatan bertemu. Saat aku berusaha tidak mencari keberadaannya. Saat aku menahan diri untuk tidak membuka media sosial, tidak mengingat-ingat pertemuan yang pernah terjadi, dan tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini memenuhi kepalaku. Waktu itu rasanya seperti sedang menghentikan sebuah kebiasaan yang sudah terlanjur menjadi bagian dari rutinitas. Ada ruang kosong yang tiba-tiba muncul. Ada rasa gelisah yang sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang hilang dari hari-hariku. Namun terny...

Hal-Hal yang Sulit Kuceritakan

Sebenarnya ada banyak sekali cerita yang ingin kutuliskan. Terlalu banyak, malah. Potongan-potongan kejadian itu masih tersimpan rapi di kepalaku. Aku masih ingat bagaimana suasananya, bagaimana ekspresi wajahnya, bagaimana gerak-geriknya, bahkan bagaimana perasaanku saat itu. Semuanya masih ada. Tidak hilang. Tidak kabur. Seolah otakku merekamnya dengan kualitas yang terlalu baik untuk ukuran sebuah pertemuan yang bahkan tidak pernah menghasilkan percakapan berarti. Masalahnya bukan pada ingatan. Masalahnya justru ketika aku mencoba mengubah ingatan itu menjadi kata-kata. Aku sering berhenti di tengah kalimat. Menghapus lagi. Menulis ulang. Lalu menghapusnya sekali lagi. Bukan karena aku lupa apa yang terjadi, melainkan karena aku bingung memilih cara menceritakannya. Ada beberapa hal yang jika kutulis terlalu jujur akan terdengar berlebihan. Jika kutulis terlalu rinci akan terdengar vulgar. Jika kutulis terlalu hati-hati justru kehilangan maknanya. Akhirnya aku memilih jalan yang pal...