Skip to main content

Posts

Diriku Sendiri yang Perlahan Mulai Kehilangan Kemampuan untuk Berpura-pura Tidak Jatuh Cinta

Sampai hari ini aku masih suka tertawa sendiri kalau mengingat kejadian kemarin. Seperti yang pernah kuceritakan berkali-kali sebelumnya, dia seolah selalu menemukan cara agar tetap berada dalam radar penglihatanku. Kadang terang-terangan, kadang begitu halus hingga aku sendiri bingung apakah memang sedang terjadi sesuatu atau hanya pikiranku yang terlalu rajin menyusun cerita. Yang paling sering terjadi justru menjelang jam pulang. Aku pernah bercerita bagaimana beberapa kali aku sengaja menunda pulang hanya karena dia dan teman-temannya sedang duduk di kursi dekat pintu keluar. Mereka mengobrol santai, memainkan ponsel, sesekali tertawa. Sementara aku justru sibuk mencari pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hanya agar tidak perlu melewati mereka. Rasanya canggung sekali. Bukan karena takut bertemu. Justru karena terlalu ingin bertemu. Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa jika harus berjalan melewatinya dari jarak yang begitu dekat. Maka aku memilih me...
Recent posts

Ternyata Selama Ini yang Paling Kusukai Bukanlah Jawabannya. Melainkan Pertanyaannya.

Anehnya, justru aku yang memilih menghindar ketika kami bertemu. Bukan dia. Aku. Dan itu kulakukan dengan sadar, dengan segala tenaga yang kumiliki. Aku menjaga jarak sejauh yang masih mungkin dilakukan tanpa terlihat mencurigakan. Aku mengalihkan pandangan. Aku menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Aku mencari alasan untuk tidak terlalu sering berada dalam radius yang sama dengannya. Bukan karena aku ingin menjauhinya. Justru karena aku terlalu menyukainya. Ada hal-hal yang semakin dekat justru semakin sulit dikendalikan. Seperti api kecil yang awalnya hanya menghangatkan, tetapi jika dibiarkan terus menyala bisa membakar seluruh isi rumah. Aku takut perasaan ini menjadi seperti itu. Sudah berkali-kali aku mencoba menyangkalnya. Sudah berkali-kali aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kekaguman sesaat, hanya rasa penasaran, hanya kebiasaan karena terlalu sering melihat wajah yang sama setiap hari. Tetapi rasanya aku sudah terlalu lelah untuk berbohong kepada diri sendiri. Aku me...

Berjuang Mengatasi Rindu yang Bahkan Tidak Berani Kuungkapkan kepada Pemiliknya

Akhirnya kami bertemu juga. Setelah sehari sebelumnya aku menghabiskan banyak waktu menunggu seseorang yang tidak pernah datang, hari ini semesta seolah memberiku sedikit belas kasihan. Tidak banyak. Hanya secuil. Hanya cukup untuk membuat rindu yang kemarin mengering kembali menemukan setetes air. Saat itu aku masih berada di samping kendaraanku. Tidak sedang melakukan sesuatu yang penting sebenarnya. Hanya membenarkan posisi sepatu yang terasa kurang nyaman dan menyangkutkan tas ke pundak dengan gerakan yang sengaja kulambat-lambatkan. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering melakukan itu. Menunda beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah ada sesuatu yang sedang kutunggu. Dan memang ada. Di saat itulah aku melihat sebuah kendaraan berbelok memasuki area parkir. Aku langsung mengenalinya. Bukan karena aku hafal nomor kendaraannya secara utuh. Justru lucunya, aku bahkan tidak tahu angka-angka setelahnya. Tetapi aku hafal kode awalnya. Hafal bentuk motornya. Hafal cara ken...

hate that i made you love me - Ariana Grande (Arti Lagu)

Lagu Hate That I Made You Love Me menarik karena sekilas terdengar seperti lagu tentang seseorang yang merasa bersalah karena membuat orang lain jatuh cinta. Namun kalau didengarkan lebih dalam, sebenarnya lagu ini jauh lebih tajam dari sekadar kisah romantis. Ini bukan lagu tentang cinta yang gagal. Ini lagu tentang seseorang yang lelah dijadikan pusat fantasi, harapan, dan proyeksi orang lain. Bayangkan ada seseorang yang begitu dikagumi. Orang-orang melihatnya dari jauh, mengaguminya, bahkan mungkin jatuh cinta kepadanya. Namun masalahnya, mereka tidak benar-benar mencintai dirinya yang asli. Mereka mencintai versi dirinya yang mereka ciptakan sendiri di dalam kepala. Itulah yang terasa dari lirik "Sorry if I made me your type" Kalimat ini terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sebenarnya bernada sarkastik. Kurang lebih maknanya "Maaf kalau aku ternyata sesuai dengan tipe idealmu. Tapi itu bukan salahku." Ariana seperti sedang berkata bahwa ia tidak pernah mem...

Penantian Semu

Padahal sejak pagi aku sudah membayangkan bagaimana hari ini akan berjalan. Seperti biasanya, aku membayangkan akan ada pertemuan-pertemuan kecil yang tampak tidak penting bagi orang lain, tetapi cukup berarti bagiku. Aku membayangkan akan melihatnya memasuki ruangan. Lalu seperti yang sering terjadi dalam cerita yang diam-diam kususun sendiri, ia akan mulai mencari cara agar tetap berada dalam jangkauan pandanganku. Mungkin ia akan mondar-mandir melewati tempatku. Mungkin beberapa kali berpura-pura memiliki urusan di sudut ruangan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mungkin juga kami akan kembali memainkan permainan lama yang tidak pernah kami sepakati: saling mencuri pandang lalu buru-buru berpaling seolah tidak terjadi apa-apa. Aku bahkan sudah membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih canggung. Berpapasan di koridor yang sempit. Bertemu di dekat loker. Atau berdiri dalam jarak yang terlalu dekat sehingga tidak ada pilihan selain saling menyadari keberadaan masing-masing. B...

Aku Menyimpan Tawanya di Ponselku

Aku menemukan sebuah video secara tidak sengaja. Bukan dari akunnya. Bukan juga dari sesuatu yang memang ia kirimkan kepadaku. Video itu muncul di salah satu reel milik temannya, lalu entah kenapa jari-jariku berhenti di sana lebih lama dari biasanya. Awalnya aku hanya melihat sekilas. Lalu kuputar lagi. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya aku melakukan sesuatu yang mungkin sedikit memalukan jika diceritakan pada orang lain: aku merekam ulang video itu, lalu memotong bagian yang hanya menampilkan dirinya. Bukan seluruh video. Hanya beberapa detik ketika ia tertawa dan menjawab sesuatu dengan nada yang lembut, sedikit manja, seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya. Beberapa detik saja. Tapi anehnya, beberapa detik itu berhasil membuatku tersenyum berkali-kali. Selama ini aku lebih sering melihatnya dari kejauhan. Di ruangan yang sama, di lorong, di dekat pintu masuk, atau sekadar lewat dari sudut pandangku. Selalu ada jarak di antara kami. Bahkan ketika berdiri cukup dekat, rasanya tet...

Ada Rindu yang Tidak Boleh Disuarakan

  Ada rindu yang tidak boleh disuarakan. Bukan karena tidak tulus. Bukan karena tidak cukup besar. Justru mungkin karena terlalu besar hingga aku takut jika ia keluar dari dadaku, semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kukendalikan. Maka aku memilih diam. Membiarkannya tinggal di dalam kepala, berputar-putar di antara ingatan dan harapan yang tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk berlabuh. Aku masih mengingat kapan semua ini mulai terasa berbeda. Awalnya hanya pertemuan-pertemuan biasa. Tatapan yang kebetulan bertemu. Kehadiran yang berulang kali muncul di tempat yang sama. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri saat itu. Namun semakin lama, semakin banyak hal yang tidak lagi terasa sebagai kebetulan. Atau mungkin aku saja yang mulai mencari makna di tempat-tempat yang seharusnya dibiarkan kosong. Aku tidak tahu. Sampai hari ini pun aku tidak pernah benar-benar tahu. Yang kutahu hanya satu: perlahan-lahan ak...