Membiarkan Harga Diri Berbicara Lebih Keras Daripada Keberanian
Masih ada satu pertanyaan yang sampai hari ini belum pernah benar-benar terjawab. Mungkin pertanyaan itu sederhana. Mengapa aku tetap tidak pernah menyapanya? Padahal kesempatan itu ada. Berkali-kali. Aku sendiri tahu jawabannya, meskipun kadang malu mengakuinya. Egoku masih terlalu besar. Atau mungkin bukan ego. Mungkin lebih tepat disebut harga diri yang pernah merasa ditolak. Aku masih mengingat pesan yang tak pernah mendapat balasan. Bagi orang lain mungkin itu hanya percakapan yang terlewat. Hal kecil yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Tetapi bagiku, diam itu terasa seperti sebuah jawaban. Bukan jawaban yang diucapkan, melainkan jawaban yang kutafsirkan sendiri. Sejak saat itu, aku seperti membuat perjanjian diam-diam dengan diriku sendiri. Kalau pesan sederhana saja tidak memperoleh balasan, mengapa aku harus menjadi orang yang terus membuka percakapan? Mengapa aku harus terus melangkah sementara langkah sebelumnya bahkan tidak pernah disambut? Maka aku memilih diam....