Skip to main content

Posts

Kidlin’s Law

Aku baru saja menemukan satu kalimat yang rasanya menempel cukup lama di kepala......   jika kamu menuliskan masalahmu dengan jelas dan spesifik, kamu telah menyelesaikan setengah dari masalahmu. Sederhana, tapi terasa seperti menyentil sesuatu yang diam-diam sudah kulakukan belakangan ini. Tiba-tiba aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri..... jadi semua tulisan curhat yang selama ini keluar dari kepalaku… itu apa? Apakah ini bentuk keberanian menghadapi masalah, atau hanya cara halus untuk membenarkan perasaanku sendiri? Pertanyaan itu muncul pelan, seperti bisikan yang tidak ingin mengganggu tapi juga tidak mau pergi. Karena jujur saja, beberapa waktu terakhir aku memang menulis banyak hal yang sebelumnya hanya berputar di kepala. Tentang lebaran yang tidak pernah kusukai, tentang hubungan yang terasa jauh, tentang perasaan yang sulit dijelaskan, tentang kejadian-kejadian yang membuatku merasa kecil dan tidak berdaya. Semuanya seperti keluar satu per satu, seo...
Recent posts

Murphy’s Law

Murphy’s Law sering terdengar seperti kutukan kecil yang diam-diam mengintai pikiran....  semakin kamu takut sesuatu akan terjadi, semakin besar kemungkinan hal itu akan terjadi. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa sangat relevan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah apa yang kemarin terjadi padaku, rasanya seperti ketakutan yang dulu hanya berbisik pelan, tiba-tiba menjelma nyata di depan mata. Aku jadi ingat, sebelum semua kekacauan itu benar-benar terjadi, sebenarnya sudah ada rasa cemas yang sering muncul tanpa diundang. Pikiran-pikiran kecil yang berputar sendiri di kepala. Bagaimana kalau mereka mulai menjauh? Bagaimana kalau ceritaku dipelintir? Bagaimana kalau suatu hari aku dibuat terlihat buruk di mata orang lain? Awalnya hanya bayangan, tapi lama-lama bayangan itu terasa seperti bayangan panjang yang mengikuti ke mana pun aku pergi. Dan ketika akhirnya benar-benar terjadi... ketika pembunuhan karakter itu terasa nyata, aku sempat terpak...

Pembunuhan Karakter

Oke, mumpung ingatan itu masih hangat dan belum sempat menguap lagi, aku ingin menuliskannya sekarang.  Ini bukan cerita yang ringan, dan mungkin bukan juga cerita yang mudah ditata rapi, tapi rasanya terlalu sayang kalau kembali hilang seperti beberapa ide yang sebelumnya datang lalu pergi tanpa sempat ditangkap.  Semua ini berawal dari kejadian kemarin....... tentang sesuatu yang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sekadar konflik biasa....... pembunuhan karakter. Aku tidak tahu kapan tepatnya semuanya dimulai. Yang jelas, kesadaranku muncul ketika situasinya sudah terasa terlalu nyata untuk diabaikan. Bukan lagi sekadar perasaan tidak nyaman, bukan lagi kecurigaan samar, tapi sesuatu yang perlahan membentuk pola. Kata-kata yang terdengar sama, sikap yang berubah serempak, jarak yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan. Dari situ, aku mulai menyadari bahwa ini bukan kebetulan yang berdiri sendiri. Yang paling membuatku goyah adalah kenyataan bahwa ini tidak dilakukan ole...

Aku Tidak Suka Lebaran

Sudah berkali-kali aku bilang, bahkan mungkin terlalu sering sampai terdengar seperti pengulangan yang melelahkan.... aku tidak suka lebaran. Bukan sekadar tidak antusias, tapi benar-benar tidak suka. Perasaan itu bukan datang tiba-tiba, bukan juga karena satu kejadian tertentu yang bisa dengan mudah ditunjuk sebagai penyebabnya. Ia tumbuh pelan-pelan, menumpuk dari tahun ke tahun, sampai akhirnya jadi sesuatu yang sulit diurai. Beberapa tahun terakhir, aku bahkan sudah berhenti pulang ke rumah bapakku saat hari raya. Awalnya mungkin terasa janggal, melihat orang lain sibuk bersiap mudik, membicarakan rencana berkumpul, sementara aku justru memilih diam di tempat. Tapi lama-lama, keputusan itu terasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa bersalah yang dulu sempat muncul di awal-awal. Justru yang ada, semacam perasaan datar… atau mungkin lebih tepatnya, tidak merasa perlu. Aneh memang, kalau dipikir-pikir. Aku sendiri bahkan tidak sepenuhnya ingat, kapan tepatnya semuanya mulai berubah. Apa...

Kenapa Memaksakan Diri Hanya untuk Sekedar Bisa Mudik?

Perjalanan mudik tahun ini sempat menyisakan satu pertanyaan yang berulang-ulang muncul di kepalaku, sederhana tapi entah kenapa sulit benar untuk kupahami.......  kenapa banyak orang memilih membawa kendaraan sendiri saat mudik?  Pertanyaan itu datang begitu saja, mungkin karena sepanjang perjalanan aku melihat begitu banyak pemandangan yang terasa… melelahkan, bahkan dari kejauhan. Di jalan, aku melihat motor-motor melintas dengan muatan yang rasanya melebihi batas wajar. Satu motor, yang seharusnya cukup untuk dua orang, diisi berempat.... ayah di depan, anak kecil diapit di tengah, ibu di belakang sambil memeluk barang-barang yang diikat seadanya. Tas menggantung di sisi kanan-kiri, kadang ada kardus, kadang karung, semuanya dibawa seolah-olah tidak ada pilihan lain. Aku tidak tahu apa yang mereka rasakan di perjalanan sepanjang itu...... lelah, pegal, atau mungkin justru biasa saja karena sudah terbiasa. Tapi dari sudut pandangku, itu terlihat berat. Belum lagi yang mem...

Tidak Mudik Kalau Tidak Naik Kereta

  Sejak menikah, ada satu kebiasaan baru yang perlahan terbentuk dalam hidupku: mudik. Sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar punya arti bagiku, kini hadir sebagai rutinitas yang hampir tak terhindarkan. Bukan karena tiba-tiba aku menyukai lebaran, bukan juga karena aku mendadak menikmati perjalanan pulang kampung seperti kebanyakan orang. Lebih karena ada satu hal yang berubah.... aku tidak lagi sendiri. Istriku berasal dari daerah yang berbeda, kabupaten yang berbeda, dan dari situlah kata “pulang” mulai punya arah yang baru, meski rasanya masih belum sepenuhnya akrab di hati. Setiap menjelang lebaran, rencana mudik selalu muncul sebagai sesuatu yang harus dipikirkan. Tiket, jadwal, waktu berangkat, semuanya disusun rapi, seolah-olah ini bagian dari tradisi yang tidak bisa dilewatkan. Aku mengikutinya, tentu saja. Lebih tepatnya, aku mengikuti istriku. Bukan dalam arti terpaksa dengan keluhan yang keras, tapi lebih seperti menerima kenyataan bahwa ini adalah bagian dari kehi...

Kenapa Banyak Orang Suka Lebaran Sedangkan Aku Tidak?

Aku sering bertanya-tanya, kenapa begitu banyak orang menunggu lebaran dengan penuh suka cita, sementara aku justru sejak dulu tidak pernah benar-benar bisa menikmatinya. Bahkan sejak kecil, ketika orang-orang bilang hari itu adalah hari paling membahagiakan, aku sudah merasa ada yang tidak sejalan di dalam diriku. Waktu itu aku belum bisa menjelaskan apa yang salah, hanya tahu bahwa suasana yang bagi orang lain hangat, bagiku terasa asing. Aku ingat bagaimana setiap tahun, menjelang hari itu, rumah mulai sibuk. Orang-orang bersiap, membicarakan rencana berkunjung, daftar rumah yang harus didatangi, dan siapa saja yang mungkin akan datang. Semuanya terdengar normal, bahkan menyenangkan, kalau dilihat dari luar. Tapi dari dalam, aku justru merasa pelan-pelan tertekan. Seolah-olah ada kewajiban tak tertulis yang harus dijalani, tanpa pernah benar-benar ditanya apakah aku nyaman melakukannya atau tidak. Pagi hari lebaran selalu dimulai dengan cara yang sama.... pakaian rapi, suasana yan...