Jangan-jangan memang ini yang namanya cemburu. Aku baru menyadarinya malam ini, setelah semua kejadian hari ini selesai dan pikiranku mulai memutar ulang setiap adegan yang sempat kulewati. Karena saat semuanya berlangsung, aku terus meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Aku berkali-kali berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak peduli. Aku tidak berhak peduli. Aku juga tidak ingin peduli. Tapi tubuh kadang lebih jujur daripada pikiran. Dan ada sesuatu yang terasa tidak nyaman sejak siang tadi. Awalnya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Aku melihatnya berbicara dengan seseorang. Salah satu orang yang cukup populer di kantor. Mereka tampak akrab. Bercakap-cakap dengan santai. Tertawa. Bertahan dalam percakapan yang cukup lama hingga tanpa sadar aku beberapa kali memastikan apakah mereka sudah selesai atau belum. Lucunya, saat itu aku tidak merasa sedang memperhatikan mereka. Aku bahkan masih bisa bekerja seperti biasa. Masih bisa melakukan aktivitasku sendiri. Masih bi...
Hari ini sebenarnya semesta terlihat cukup murah hati. Kalau aku mau jujur, ada banyak kesempatan yang datang begitu saja. Kesempatan yang beberapa minggu lalu mungkin akan kuanggap sebagai hadiah besar. Kesempatan yang selama ini selalu kubayangkan ketika menyusun berbagai skenario dalam kepalaku sebelum tidur. Dia sendirian. Tidak dikelilingi teman-temannya seperti biasanya. Tidak sedang sibuk bercanda dengan kelompoknya. Tidak sedang terburu-buru pergi ke tempat lain. Bahkan beberapa kali, menurut penafsiranku yang mungkin benar atau mungkin juga hanya hasil halusinasi seorang yang sedang jatuh hati, dia terlihat berusaha menarik perhatianku. Berada di jalur yang mudah kulihat. Muncul di tempat-tempat yang sulit kuabaikan. Sesekali seperti memberi ruang agar aku bisa mendekat jika memang ingin mendekat. Dan sebenarnya aku memang ingin. Sungguh. Aku bahkan sudah memiliki begitu banyak skenario untuk situasi seperti itu. Aku tahu harus membuka percakapan dengan apa. Aku tah...