Setiap awal Ramadan, aku selalu datang dengan daftar niat yang rapi. Tahun ini harus lebih baik. Tahun ini minimal satu kali khatam. Bahkan kalau bisa lebih. Semangat itu biasanya membuncah di malam pertama, mushaf terasa lebih ringan di tangan, huruf-huruf seperti menyambut dengan ramah, dan hati penuh keyakinan bahwa semuanya akan berjalan lancar. Tapi entah kenapa, memasuki hari-hari berikutnya, ritmenya mulai berubah. Kesibukan menyelip pelan-pelan. Rasa lelah datang tanpa permisi. Kadang setelah tarawih tubuh hanya ingin rebah. Kadang selepas sahur mata terasa terlalu berat untuk sekadar membuka satu halaman lagi. Dan tahu-tahu, hari sudah bertambah, sementara bacaanku belum banyak bergerak. Menyedihkan sekali rasanya ketika aku sadar, bahkan Al-Baqarah pun belum selesai. Setiap kali membuka mushaf dan melihat penanda terakhir berhenti di ayat yang itu-itu saja, ada rasa malu yang sulit dijelaskan. Target di kepala terasa begitu tinggi, tapi langkah di kaki begitu lambat. Aku m...
Tarawih malam itu tidak sepenuhnya tenang. Sejak rakaat pertama, suara anak-anak sudah lebih dulu memenuhi sudut-sudut masjid. Ada yang berlari kecil di sela-sela saf, ada yang tertawa terlalu lepas, ada juga yang sibuk berbisik sambil menahan cekikikan. Di barisan belakang, seorang anak batuk berkali-kali, batuk yang jujur, yang tidak bisa ditahan, yang justru terdengar lebih nyata daripada lantunan ayat yang mengalun dari pengeras suara. Aku berdiri di tengah saf, mencoba fokus. Takbir, rukuk, sujud. Tapi konsentrasiku pecah-pecah seperti kaca tipis. Setiap kali imam membaca dengan nada panjang dan khidmat, selalu saja ada suara kecil yang menyelip. Sandal yang diseret. Botol minum yang jatuh. Tangis yang tiba-tiba pecah lalu segera diredam ibunya. Di sela rakaat keempat, suara imam berubah. Bukan saat membaca ayat, melainkan setelah salam pendek yang menjadi jeda. Dengan nada yang terdengar menahan kesal, beliau menegur anak-anak yang ramai. Kalimatnya tegas. Tajam. Meminta orang ...