Skip to main content

Posts

Mungkin Aku Sedang Cemburu

Jangan-jangan memang ini yang namanya cemburu. Aku baru menyadarinya malam ini, setelah semua kejadian hari ini selesai dan pikiranku mulai memutar ulang setiap adegan yang sempat kulewati. Karena saat semuanya berlangsung, aku terus meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Aku berkali-kali berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak peduli. Aku tidak berhak peduli. Aku juga tidak ingin peduli. Tapi tubuh kadang lebih jujur daripada pikiran. Dan ada sesuatu yang terasa tidak nyaman sejak siang tadi. Awalnya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Aku melihatnya berbicara dengan seseorang. Salah satu orang yang cukup populer di kantor. Mereka tampak akrab. Bercakap-cakap dengan santai. Tertawa. Bertahan dalam percakapan yang cukup lama hingga tanpa sadar aku beberapa kali memastikan apakah mereka sudah selesai atau belum. Lucunya, saat itu aku tidak merasa sedang memperhatikan mereka. Aku bahkan masih bisa bekerja seperti biasa. Masih bisa melakukan aktivitasku sendiri. Masih bi...
Recent posts

Kalau dia memang ingin, kenapa harus aku lagi yang berjalan lebih dulu?

Hari ini sebenarnya semesta terlihat cukup murah hati. Kalau aku mau jujur, ada banyak kesempatan yang datang begitu saja. Kesempatan yang beberapa minggu lalu mungkin akan kuanggap sebagai hadiah besar. Kesempatan yang selama ini selalu kubayangkan ketika menyusun berbagai skenario dalam kepalaku sebelum tidur. Dia sendirian. Tidak dikelilingi teman-temannya seperti biasanya. Tidak sedang sibuk bercanda dengan kelompoknya. Tidak sedang terburu-buru pergi ke tempat lain. Bahkan beberapa kali, menurut penafsiranku yang mungkin benar atau mungkin juga hanya hasil halusinasi seorang yang sedang jatuh hati, dia terlihat berusaha menarik perhatianku. Berada di jalur yang mudah kulihat. Muncul di tempat-tempat yang sulit kuabaikan. Sesekali seperti memberi ruang agar aku bisa mendekat jika memang ingin mendekat. Dan sebenarnya aku memang ingin. Sungguh. Aku bahkan sudah memiliki begitu banyak skenario untuk situasi seperti itu. Aku tahu harus membuka percakapan dengan apa. Aku tah...

Menjadi Sangat Berani dalam Imajinasi

Kalau biasanya dia yang datang terlambat, kali ini justru aku yang terlambat. Bukan karena sengaja ingin membalas perlakuannya. Bukan juga karena ingin terlihat tidak peduli. Justru alasannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih manusiawi, aku kelelahan. Semalaman aku tidak benar-benar tidur. Setiap kali berhasil terlelap, mimpi buruk datang seperti tamu yang tidak diundang. Membuatku terbangun berkali-kali dengan dada sesak dan pikiran yang masih dipenuhi sisa-sisa kecemasan yang bahkan tidak bisa kujelaskan asalnya dari mana. Akhirnya, sebelum berangkat, aku memutuskan untuk tidur sebentar. Hanya sebentar, kataku pada diri sendiri. Ternyata cukup lama untuk membuat jadwalku berantakan. Di perjalanan, aku sudah bisa menebak konsekuensinya. Akan ada banyak hal yang terlewat. Banyak momen yang biasanya tanpa sadar kutunggu. Banyak kesempatan untuk sekadar melihatnya datang, melihat bagaimana ia memulai harinya, atau menangkap tingkah-tingkah kecil yang sering kali menjadi bahan piki...

Aku Hanya Sedang Berusaha Bertahan dari Kelelahan yang Terlalu Panjang

Kemarin sebenarnya aku sudah hampir menyerah. Sejak pagi, suasana hatiku memang tidak sedang baik-baik saja. Ada terlalu banyak hal yang memenuhi kepala. Terlalu banyak pikiran yang datang bersamaan hingga sulit dibedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya ketakutan yang kubesarkan sendiri. Stres yang beberapa waktu terakhir menumpuk perlahan mulai menunjukkan bentuknya. Bukan ledakan besar yang dramatis, melainkan kelelahan panjang yang membuat segala sesuatu terasa lebih berat dari biasanya. Dalam keadaan seperti itu, entah kenapa aku berharap bisa melihatnya. Harapan yang sebenarnya terdengar konyol jika dipikirkan dengan logika yang sehat. Karena apa yang bisa berubah hanya dengan melihat seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar berbicara denganku? Apa yang bisa diperbaiki dari segala kekacauan dalam pikiranku hanya dengan kehadirannya? Tapi begitulah kenyataannya. Aku tetap berharap. Mungkin karena selama ini aku menjadikan kehadirannya sebagai semacam j...

Hari Ini Ternyata Tanggal Merah. Hari Lahirnya Pancasila

 Hari ini ternyata tanggal merah. Hari Lahir Pancasila. Tema tahun 2026 adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Lucunya, aku baru benar-benar merasakan kalau hari ini libur justru setelah semuanya selesai. Pagi tadi aku sudah berangkat sejak jam enam. Seperti biasa, perjalanan menuju kantor memakan waktu hampir satu jam. Jalanan masih belum terlalu ramai, langit masih menyisakan warna pagi yang pucat, dan udara terasa lebih dingin dibanding hari-hari biasa. Selama di perjalanan aku hanya fokus menyetir, tidak terlalu memikirkan apa pun selain memastikan datang tepat waktu. Dan memang, aku sampai tepat waktu. Bahkan sebenarnya kurang lima menit sebelum acara dimulai. Saat tiba, area kampus masih belum terlalu ramai. Beberapa orang baru berdatangan satu per satu. Ada yang berjalan cepat sambil merapikan pakaian dinas, ada yang masih sempat bercanda kecil dengan teman-temannya. Aku seperti biasa hanya berjalan pelan dan memilih berdiri di tempat yang menuru...

Apakah kemarin dia sedang menggodaku?

  Pagi ini aku terbangun dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah kemarin dia sedang menggodaku? Aku bahkan sempat tertawa saat pertanyaan itu muncul. Bukan karena lucu, melainkan karena rasanya terlalu terlambat untuk baru memikirkannya sekarang. Semua kejadian itu sudah berlalu. Hari sudah berganti. Tapi seperti biasa, otakku bekerja dengan cara yang aneh. Ketika peristiwa sedang berlangsung, aku sering kali tidak memahami apa-apa. Baru setelah semuanya selesai, ketika suasana sudah tenang dan aku sendirian dengan pikiranku sendiri, potongan-potongan kejadian itu datang kembali dan meminta untuk ditafsirkan. Kemarin, saat berada di dekatnya, semuanya terasa biasa saja. Tidak ada degup jantung yang berlebihan. Tidak ada kepanikan yang membuatku kehilangan arah. Bahkan aku sempat kecewa karena merasa hari itu tidak memberikan apa-apa untuk dikenang. Aku pulang dengan perasaan datar, seolah pertemuan kami hanyalah salah satu hari biasa yang akan segera terl...

Ternyata Ada yang Terlewat

Aku sempat berpikir hari kemarin berlalu begitu saja. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada momen yang membuat dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Tidak ada peristiwa yang bisa kubawa pulang lalu kuputar berulang-ulang sebelum tidur seperti yang sering kulakukan selama ini. Semuanya terasa biasa. Terlalu biasa, malah. Kami berada di ruang yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Ada beberapa kesempatan untuk saling menyadari keberadaan satu sama lain, tetapi tidak ada yang terasa cukup kuat untuk disebut istimewa. Aku bahkan pulang dengan perasaan datar. Perasaan yang jarang sekali muncul sejak aku mulai memperhatikannya. Di perjalanan pulang, aku sempat berpikir mungkin ini pertanda baik. Mungkin akhirnya aku mulai bisa mengendalikan diriku sendiri. Mungkin jantungku sudah tidak terlalu mudah bereaksi setiap kali dia berada di dekatku. Mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Atau mungkin, pikirku saat itu, aku memang sedang kehilangan ketertarikan yang selama ini...