Ada momen dalam pertemanan yang terasa lebih rumit daripada konflik atau salah paham, yaitu ketika sahabat meminjam uang. Situasinya hampir selalu sama. Pesan masuk dengan nada hati-hati. Ceritanya biasanya tidak ringan. Ada kebutuhan mendesak, ada keadaan yang tidak bisa ditunda. Lalu tanpa sadar, hati langsung bergerak lebih dulu daripada logika. Kasihan. Refleks itu manusiawi. Apalagi kalau yang meminta adalah orang yang sudah lama hadir dalam hidup kita. Orang yang tahu cerita jatuh bangun kita, dan sebaliknya. Tapi di saat yang sama, muncul suara kecil lain di kepala, “Bagaimana dengan kebutuhanku sendiri?” Dan sejak detik itu, dilema dimulai. Tidak banyak yang membicarakan betapa canggungnya berada di posisi ini. Menolak terasa kejam, menerima terasa berisiko. Uang yang kita punya sering bukan uang berlebih. Ada rencana, ada tabungan darurat, ada rasa ingin berjaga-jaga untuk hal tak terduga. Memberikannya, meski hanya sebagian, kadang berarti menggeser rasa aman kita send...
Ada hal-hal yang terlihat sepele bagi orang lain, tapi bisa terasa seperti alarm bahaya bagi seseorang yang pernah terluka. Sebuah nada notifikasi. Nama tertentu muncul di layar. Atau pesan singkat yang isinya hanya beberapa kata. “Mohon menghadap pimpinan.” Kalimat yang biasa saja. bahkan mungkin bagian dari rutinitas kerja. Tapi bagi sebagian orang, itu cukup untuk membuat dada sesak tanpa alasan yang bisa dijelaskan dengan cepat. Dan di situlah trauma bekerja. Diam-diam, tapi nyata. Banyak orang mengira waktu otomatis menyembuhkan segalanya. Seolah semakin lama sebuah kejadian berlalu, semakin kecil pula dampaknya. Kenyataannya tidak selalu begitu. Trauma sering tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertidur. Sampai suatu hari, sesuatu yang kecil membangunkannya. Tubuh bereaksi lebih dulu sebelum logika sempat menenangkan. Tangan mulai dingin. Napas terasa pendek. Pikiran mendadak berlari ke kemungkinan terburuk, dimarahi, disalahkan, dipermalukan, atau dihadapkan pada situasi ...