Ada jenis lapar yang bisa diselesaikan dengan segelas air dan sepiring nasi hangat, dan ada jenis lapar lain yang tidak tahu harus diberi apa agar ia diam. Setiap Ramadan, aku selalu merasa sedang berdamai dengan dua-duanya, lapar fisik yang jelas terasa di perut, dan lapar hati yang kadang muncul tanpa suara. Menjelang sore, tubuh mulai memberi sinyal. Kepala sedikit berat, tenggorokan kering, langkah terasa lebih lambat. Itu wajar. Semua orang yang berpuasa merasakannya. Tinggal menunggu adzan, lalu selesai. Tapi belakangan ini, ada rasa lain yang tidak ikut hilang saat azan maghrib berkumandang. Ada ruang kosong yang tetap terasa meski perut sudah kenyang. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah karena itu aku jadi mencari-cari? Mencari percakapan yang lebih hangat. Mencari tatapan yang lebih lama. Mencari perhatian kecil yang bisa membuat hari terasa lebih berarti. Seolah-olah ada sesuatu di dalam dada yang ingin diisi, tapi aku sendiri belum benar-benar tahu namanya. Kadan...
Sudah Ramadan hari ke berapa ini? Aku sampai harus menghitungnya di kepala, lalu menyerah dan membuka kalender. Rasanya baru kemarin tarawih pertama, suara imam masih terdengar sedikit bergetar karena saf belum serapat biasanya. Tiba-tiba saja hari-hari melompat. Waktu seperti berlari lebih cepat dari niat yang sempat kususun rapi di awal bulan. Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Lampu-lampu masjid menyala lebih terang, grup keluarga ramai dengan jadwal buka bersama, dan timeline media sosial penuh dengan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Tapi entah kenapa, di sela semua keramaian itu, ada satu rasa yang datang pelan-pelan, sepi yang tak diundang. Bukan sepi karena sendirian. Rumah tetap berisi suara. Pekerjaan tetap berjalan. Undangan buka bersama bahkan lebih dari cukup. Namun ada ruang kecil di dalam diri yang terasa lengang. Seperti ada kursi kosong yang tidak terlihat, tapi jelas keberadaannya. Aku tidak tahu persis apa yang hilang. Mungkin kebersamaan yang dulu p...