Harusnya Selasa ini aku bahagia. Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada banyak momen yang seharusnya bisa kusimpan baik-baik untuk membuatku tersenyum sampai malam nanti. Ada banyak kesempatan kecil yang dulu pasti akan membuatku senyum-senyum sendiri sambil mengulang adegannya berkali-kali di kepala. Tapi anehnya, hari ini semuanya terasa setengah hidup. Ada rasa senang, iya. Tapi bercampur dengan sesuatu yang berat dan mengganggu pikiranku sejak pagi. Dan di tengah kekacauan itu, dia tetap datang dengan tingkah absurdnya. Seperti biasa, tidak ada sapaan langsung. Tidak ada percakapan yang benar-benar dimulai. Tapi aku tahu dia sedang berusaha mendekat lebih lama. Aku bisa melihat caranya mencari alasan kecil untuk berada di sekitarku. Cara dia berbicara pada temannya, tapi posisi tubuhnya terlalu dekat denganku untuk disebut kebetulan. Cara dia tetap bertahan di area itu lebih lama dari yang diperlukan. Dan jujur saja, kalau saja keadaan pikiranku lebih ringan, mungkin aku akan...
Harusnya kemarin aku menuliskan semua ini. Harusnya aku meluapkan semuanya saat perasaannya masih hangat dan belum berubah menjadi sesak kecil yang menggantung di dada. Tapi entah kenapa, kemarin aku tidak punya cukup tenaga untuk bercerita panjang lebar. Mood-ku terasa datar. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi aku sendiri malas mencarinya lebih jauh. Mungkin karena kecewa yang terlalu kecil untuk disebut luka, tapi terlalu terasa untuk diabaikan. Aku bahkan bingung harus mulai dari mana. Mungkin dari hari Sabtu kemarin. Hari itu sebenarnya aku sudah menyiapkan sedikit harapan, meski aku tahu Sabtu bukan hari yang pasti untuk bisa bertemu dengannya. Kami memang jarang berada di tempat yang sama di hari itu. Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap keberuntungan kecil datang diam-diam. Setidaknya melihatnya sebentar. Setidaknya memastikan dia benar-benar ada di sana. Karena belakangan ini, sesederhana melihatnya saja sudah cukup untuk membuat hariku terasa lebih ri...