Skip to main content

Posts

Hidup di Antara Orang yang Tegas dan Orang peragu

  Pernah memperhatikan bagaimana orang mengambil keputusan? Ada yang terlihat begitu mantap. Tidak banyak bertanya, tidak terlalu lama menimbang. Begitu merasa itu yang terbaik, langsung melangkah. Sementara yang lain tampak seperti berdiri di persimpangan terlalu lama, maju takut salah, mundur takut menyesal. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa memilih hanya bertemu satu tipe manusia. Dalam satu ruang kerja, lingkar pertemanan, bahkan keluarga, selalu ada dua kutub itu,  mereka yang tegas dalam menentukan arah hidupnya, dan mereka yang masih bernegosiasi dengan pikirannya sendiri. Dan sering kali, tanpa sadar, perbedaan itu mengajarkan sesuatu. Ada rasa kagum ketika melihat seseorang yang berani mengambil keputusan besar. Pindah kerja tanpa ragu. Menolak kesempatan yang tidak sesuai nilai hidupnya. Atau memilih jalan yang tidak populer, tapi terasa benar baginya. Bukan berarti mereka tidak takut. Justru kemungkinan besar mereka juga dihantui pertanyaan yang sama sepe...
Recent posts

Wang Yibo dan Gempa yang Menggoyang Pelan

 Semalam aku tidur lebih cepat dari biasanya. Badan rasanya sudah minta kompromi sejak habis ngegym setelah magrib. Otot-otot pegal tapi enak, jenis capek yang bikin kasur terasa lima kali lebih empuk. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku benar-benar tenggelam dalam tidur. Bahkan rasanya kepala baru saja menyentuh bantal, tahu-tahu sudah masuk ke dunia mimpi. Di mimpi itu, aku sedang menonton drama China bertema kolosal kerajaan. Jenis drama yang penuh adegan perang, jubah panjang berkibar, musik megah, dan tentu saja, jurus-jurus yang tidak masuk akal tapi entah kenapa tetap seru ditonton. Para pendekar melayang-layang di atas pohon, berlari di udara, lalu bertarung dengan pedang berkilau. Dramatis sekali. Aku sampai terbawa suasana, seperti penonton setia yang tidak ingin ketinggalan satu adegan pun. Dan di tengah semua kekacauan yang indah itu, muncul satu wajah yang langsung terasa familiar,  Wang Yibo. Nah loh. Yang bikin lucu, aku sebenarnya tidak sedang mengik...

Sahabat Pinjam Uang

Ada momen dalam pertemanan yang terasa lebih rumit daripada konflik atau salah paham, yaitu ketika sahabat meminjam uang. Situasinya hampir selalu sama. Pesan masuk dengan nada hati-hati. Ceritanya biasanya tidak ringan. Ada kebutuhan mendesak, ada keadaan yang tidak bisa ditunda. Lalu tanpa sadar, hati langsung bergerak lebih dulu daripada logika. Kasihan. Refleks itu manusiawi. Apalagi kalau yang meminta adalah orang yang sudah lama hadir dalam hidup kita. Orang yang tahu cerita jatuh bangun kita, dan sebaliknya. Tapi di saat yang sama, muncul suara kecil lain di kepala, “Bagaimana dengan kebutuhanku sendiri?” Dan sejak detik itu, dilema dimulai. Tidak banyak yang membicarakan betapa canggungnya berada di posisi ini. Menolak terasa kejam, menerima terasa berisiko. Uang yang kita punya sering bukan uang berlebih. Ada rencana, ada tabungan darurat, ada rasa ingin berjaga-jaga untuk hal tak terduga. Memberikannya, meski hanya sebagian, kadang berarti menggeser rasa aman kita send...

Saat Pesan WhatsApp Saja Bisa Memicu Anxiety

 Ada hal-hal yang terlihat sepele bagi orang lain, tapi bisa terasa seperti alarm bahaya bagi seseorang yang pernah terluka. Sebuah nada notifikasi. Nama tertentu muncul di layar. Atau pesan singkat yang isinya hanya beberapa kata. “Mohon menghadap pimpinan.” Kalimat yang biasa saja. bahkan mungkin bagian dari rutinitas kerja. Tapi bagi sebagian orang, itu cukup untuk membuat dada sesak tanpa alasan yang bisa dijelaskan dengan cepat. Dan di situlah trauma bekerja. Diam-diam, tapi nyata. Banyak orang mengira waktu otomatis menyembuhkan segalanya. Seolah semakin lama sebuah kejadian berlalu, semakin kecil pula dampaknya. Kenyataannya tidak selalu begitu. Trauma sering tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertidur. Sampai suatu hari, sesuatu yang kecil membangunkannya. Tubuh bereaksi lebih dulu sebelum logika sempat menenangkan. Tangan mulai dingin. Napas terasa pendek. Pikiran mendadak berlari ke kemungkinan terburuk, dimarahi, disalahkan, dipermalukan, atau dihadapkan pada situasi ...

Timeline Penuh Berita Jeffrey Epstein? Ini Ringkasan Kasusnya dan Kenapa Banyak Orang Bingung

Belakangan ini, timeline terasa lebih padat dari biasanya. Buka Facebook, ada. Geser Twitter/X, muncul lagi. Nama yang sama berulang-ulang,  Jeffrey Epstein. Banyak yang membaca sepintas, lalu mengernyit. Ini kasus lama atau baru? Kok seperti belum selesai? Wajar kalau akhirnya muncul satu perasaan yang sama: semakin dibaca, semakin sulit dipahami. Siapa Sebenarnya Jeffrey Epstein? Jeffrey Epstein adalah seorang financier asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai miliarder dengan lingkaran pertemanan berisi orang-orang sangat berpengaruh, mulai dari politisi, selebritas, sampai bangsawan. Namun di balik citra sukses itu, ia dituduh menjalankan jaringan perdagangan seksual terhadap perempuan dan anak di bawah umur. Kasusnya mulai mencuat pada 2005 setelah laporan bahwa seorang remaja mengalami pelecehan. Jumlah korban kemudian terus bertambah hingga puluhan orang. Tahun 2008, ia membuat kesepakatan hukum yang membuatnya hanya menjalani sekitar 13 bulan penjara, bahkan dengan izin be...

Tentang Orang yang Merasa Paling Berjasa

 Ada satu pemandangan yang sering muncul setiap kali proses mencari pemimpin baru dimulai. Bukan cuma di politik besar, tapi juga di organisasi, komunitas, bahkan lingkungan kerja kecil. Tiba-tiba banyak orang berdiri di depan publik, menceritakan apa saja yang pernah ia lakukan. Daftar jasanya panjang. Nada bicaranya mantap. Seolah-olah tanpa dirinya, semua akan berantakan. Padahal, kalau ditarik sedikit ke belakang, yang diceritakan itu sebenarnya hal-hal yang cukup biasa. Pekerjaan yang memang sudah jadi tanggung jawabnya. Peran yang juga dilakukan banyak orang lain, hanya saja tidak dipamerkan. Situasi seperti ini terasa akrab, ya? Di ruang-ruang pencarian calon pemimpin, ada kecenderungan aneh, yang paling keras bicara sering dianggap paling layak. Yang paling sering menyebut “saya” dianggap paling berpengalaman. Prestasi dijadikan panggung, bukan cermin. Masalahnya bukan pada prestasi itu sendiri. Kerja baik memang layak diapresiasi. Tapi ada garis tipis antara berbagi pe...

Arti Lagu “Work” No Na: Tentang Kerja Keras, Percaya Diri, dan Tubuh yang Merdeka

Ada lagu yang bukan cuma enak diputar keras-keras, tapi juga bikin kepala ikut manggut. “Work” dari girlband Indonesia No Na termasuk yang seperti itu. Beat-nya nempel, visual videonya berani, dan liriknya terasa lantang. Banyak yang mencari arti lagu Work No Na bukan karena penasaran satu-dua baris, tapi karena ingin tahu,  sebenarnya lagu ini mau ngomong apa? Kalau didengar tanpa prasangka, “Work” bukan sekadar anthem pamer. Ia bicara soal proses, tentang tubuh, disiplin, dan keberanian mengambil ruang. Tentang perempuan yang sadar betul apa yang ia bangun, dan tidak merasa perlu minta izin untuk bangga. Dari awal, nuansanya jelas,  energi tinggi, ritme cepat, dan bahasa yang tegas. “Work” mengulang satu pesan utama, hasil tidak jatuh dari langit. Ada latihan, ada keringat, ada konsistensi. Visual video klipnya memperkuat itu,  gerak yang presisi, styling yang kuat, dan koreografi yang menuntut stamina. Keren, tapi jelas bukan kebetulan. Bagian yang menarik adalah b...