Sepertinya aku memang harus berterima kasih padanya. Kalimat itu baru benar-benar terasa hari ini, ketika aku kembali tidak menemukannya di mana pun. Dan anehnya, justru dari ketidakhadirannya itulah aku akhirnya sadar sesuatu yang selama ini berusaha keras kutolak. Bahwa mungkin… selama ini dia adalah alasan kenapa aku masih bertahan. Bukan pekerjaan ini. Bukan rutinitasnya. Bukan juga karena aku terlalu mencintai tempat ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah berkali-kali aku ingin pergi. Berkali-kali aku membuka kemungkinan untuk mencari tempat baru, suasana baru, hidup baru yang mungkin lebih tenang daripada hari-hariku sekarang. Ada terlalu banyak lelah yang menumpuk di sini. Terlalu banyak tekanan yang kadang membuat dadaku sesak bahkan sebelum hari dimulai. Aku sering membayangkan menyerah saja. Pergi diam-diam tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, selalu ada sesuatu yang menahanku untuk benar-benar melangkah keluar. Dan sek...
Ada hari-hari ketika hidup terasa berjalan di luar prediksi. Semuanya datang tanpa aba-aba, tanpa sempat memberi waktu untuk bersiap. Masalah muncul mendadak, ucapan orang lain terasa menusuk lebih dalam dari biasanya, dan hal-hal kecil yang seharusnya bisa diabaikan justru menetap lama di kepala. Di hari-hari seperti itu, rasanya dunia berubah menjadi tempat yang melelahkan untuk ditinggali. Aku pernah berada di fase ketika satu hari buruk bisa merusak seluruh isi pikiranku. Tatapan sinis orang lain terasa seperti penghakiman. Kalimat-kalimat kecil terdengar lebih tajam dari yang seharusnya. Bahkan kadang, aku terlalu lama memikirkan sesuatu yang mungkin sebenarnya sudah dilupakan oleh orang lain sejak awal. Dan semakin lama dipikirkan, hati semakin penuh. Sampai suatu malam, saat pikiranku terasa terlalu bising dan aku tidak tahu lagi harus menenangkan diri dengan cara apa, tanganku tanpa sadar membuka galeri ponsel. Awalnya hanya ingin mengalihkan perhatian sebentar. Tapi ternyat...