Semakin lama aku berdiri di titik ini, semakin terasa bahwa yang melelahkan bukan jaraknya, tapi ketidakjelasannya. Waktu berjalan seperti biasa, hari berganti, rutinitas tetap sama, namun di sela-selanya ada ruang kecil yang terus diisi oleh pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Ruang itu awalnya kecil, hampir tak terasa. Tapi karena dibiarkan terlalu lama, ia tumbuh menjadi sunyi yang berat. Semua bermula dari hal-hal yang tampak sederhana. Tatapan yang datang tanpa janji, kehadiran yang terasa tanpa kata, sinyal-sinyal kecil yang cukup untuk membuat hati bergerak, tapi tidak cukup untuk membuat langkah benar-benar maju. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada sapaan yang bisa dijadikan pegangan. Hanya mata yang seolah berbicara, lalu kembali diam sebelum sempat diterjemahkan. Awalnya, aku menganggapnya manis. Ada rasa berdebar yang diam-diam tumbuh dari ketidakpastian itu. Menebak-nebak terasa seperti permainan kecil yang menyenangkan. Ada harapan yang pelan-pelan menyusup...
Perjalanan itu sebenarnya sederhana, hanya menyeberangi kota yang sama sekali bukan milikku. Kota dengan langit yang terasa berbeda, udara yang punya bau asing, dan jalanan yang seolah tidak pernah mengenalku sebelumnya. Tapi entah kenapa, semua yang asing itu terasa tidak terlalu jauh selama kamu berjalan di sampingku. Kita tiba di hari yang berbeda dari rutinitas yang biasa kita jalani. Dua hari yang terasa seperti dua dunia yang terpisah dari kehidupan lama. Waktu seperti dipotong rapi, disisihkan khusus untuk kita berdua. Tidak ada kewajiban, tidak ada tuntutan, hanya langkah kaki yang bergerak tanpa tujuan yang terlalu jelas. Dan mungkin di situlah semuanya mulai berubah. Jatuh cinta, katanya, selalu terasa manis di awal. Aku dulu mengira itu hanya kalimat klise yang terlalu sering diulang. Tapi ketika berjalan bersamamu di kota yang tidak kita kenal, aku mulai mengerti maksudnya. Ada rasa ringan yang sulit dijelaskan, seperti tidak ingin waktu bergerak terlalu cepat. Seperti i...