Skip to main content

Posts

Hati yang Bertolak Belakang

Kadang aku merasa lucu pada diriku sendiri. Lucu dalam arti yang agak getir ...... seperti menertawakan adegan film yang sebenarnya menyedihkan. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia mencoba memulai percakapan dengan caranya yang sederhana dan tidak dibuat-buat, aku justru berubah menjadi versi diriku yang paling kaku. Jawabanku pendek, datar, seperti pintu yang hanya kubuka beberapa sentimeter lalu segera kututup lagi. Seolah-olah tidak ada apa-apa di dalam hatiku. Seolah-olah tidak ada detak yang mendadak berisik di dada. Seolah semuanya biasa saja. Padahal tidak pernah benar-benar biasa. Aku tahu dia sudah berkali-kali mencoba. Ada jeda-jeda kecil yang ia ciptakan agar percakapan bisa tumbuh. Ada pertanyaan ringan yang sengaja ia lempar, mungkin berharap aku akan menangkapnya dan mengembangkannya menjadi obrolan yang lebih panjang. Tapi aku selalu menjawab seperlunya. Singkat. Aman. Tanpa ruang lanjutan. Tanpa celah bagi pertanyaan berikutnya. Seperti orang yang buru-buru menu...
Recent posts

Nanti Kalau Ditanya Dokter, Aku Harus Bilang Apa?

Ada satu hal yang selalu membuatku ragu setiap kali tubuh mulai memberi sinyal tidak beres..... pergi ke dokter. Bukan karena takut dengan rumah sakit, bukan juga karena takut dengan obat, tapi karena ada satu ketakutan yang terdengar sepele namun terasa nyata...... aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sakitku sendiri. Beberapa hari terakhir tubuhku terasa aneh. Tidak benar-benar sakit, tapi jelas tidak sehat. Ada rasa pegal yang berpindah-pindah, kepala kadang terasa berat, tenggorokan seperti tidak nyaman, energi cepat habis meski aktivitas tidak banyak berubah. Semua gejalanya samar, seperti kabut tipis yang tidak pernah benar-benar hilang. Dan justru karena samar itulah aku bingung. Aku mulai berpikir untuk memeriksakan diri. Pikiran itu muncul pelan, lalu semakin sering muncul setiap kali badan terasa lebih lelah dari biasanya. Tapi setiap kali niat itu muncul, selalu ada satu pertanyaan yang langsung mengikuti....  nanti kalau ditanya dokter, aku harus bilang apa? Bayangan...

Halal bi Halal di Kantor

Hari Senin kemarin ada acara halal bi halal di kantor. Sejak jauh-jauh hari sebenarnya aku sudah tahu acara itu akan datang, tapi seperti kebanyakan hal yang berhubungan dengan keramaian, aku memilih pura-pura lupa sampai akhirnya tidak bisa lagi dihindari. Begitu pengumuman resmi muncul dan tanggalnya semakin dekat, perasaan yang muncul bukan antusias, melainkan semacam tegang yang pelan-pelan naik ke permukaan. Sejujurnya, acara seperti ini selalu terasa canggung bagiku. Bukan karena acaranya buruk atau orang-orangnya tidak menyenangkan, tapi lebih karena situasinya menuntutku berada di tengah keramaian yang tidak sepenuhnya akrab. Banyak wajah yang sebenarnya sering kulihat sekilas di lorong kantor, tapi tidak pernah benar-benar kukenal. Dan entah kenapa, berada di ruangan penuh orang yang “setengah dikenal” justru terasa lebih melelahkan dibanding berada di antara orang asing sepenuhnya. Di pagi hari sebelum acara dimulai, aku sempat berharap ada alasan kuat untuk tidak ikut. Mun...

Sakit

Sejak pulang dari mudik lebaran di rumah mertua kemarin, aku merasa tubuhku seperti berada di wilayah abu-abu yang sulit dijelaskan. Bukan sakit yang jelas sampai harus benar-benar rebahan seharian, tapi juga jauh dari kata sehat. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak cukup kuat untuk disebut sakit secara meyakinkan. Tubuh tetap bergerak, aktivitas tetap berjalan, tapi semuanya terasa lebih berat dari biasanya. Awalnya aku mengira ini hanya kelelahan biasa. Perjalanan mudik, perubahan rutinitas, jadwal tidur yang berantakan, suasana rumah yang ramai, interaksi yang tidak berhenti....s emuanya seperti menumpuk tanpa sempat diberi jeda. Saat masih di sana, tubuh mungkin terlalu sibuk untuk protes. Baru setelah pulang, ketika ritme mulai melambat, keluhan itu muncul satu per satu, pelan tapi konsisten. Badanku terasa pegal di tempat-tempat yang tidak spesifik. Kadang kepala terasa berat, kadang tenggorokan seperti tidak nyaman, kadang badan terasa hangat meski tidak ...

Seperti Zombie

Akhir-akhir ini ada satu perasaan yang sulit sekali diabaikan.... aku merasa seperti zombie. Bukan dalam arti dramatis seperti di film-film, tentu saja, tapi lebih seperti berjalan menjalani hari tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Rutinitas tetap berjalan, jam terus bergerak, pekerjaan masih dikerjakan, percakapan masih dijawab. Dari luar, mungkin semuanya terlihat normal. Tapi di dalam, rasanya seperti ada bagian yang dimatikan pelan-pelan. Aku mulai menyadarinya dari hal-hal kecil. Hal-hal yang dulu terasa menyenangkan, atau setidaknya menarik, sekarang terasa datar. Tidak ada dorongan kuat untuk memulai sesuatu, tidak ada rasa penasaran yang biasanya muncul tanpa diminta. Hari-hari terasa seperti daftar tugas yang harus dicentang satu per satu, bukan ruang hidup yang ingin dijelajahi. Aku tetap bergerak, tapi tanpa arah yang benar-benar kupilih. Dan entah kenapa, pikiranku selalu kembali pada kejadian pembunuhan karakter itu. Sejak peristiwa itu, ada sesuatu yang berubah dalam c...

Kidlin’s Law

Aku baru saja menemukan satu kalimat yang rasanya menempel cukup lama di kepala......   jika kamu menuliskan masalahmu dengan jelas dan spesifik, kamu telah menyelesaikan setengah dari masalahmu. Sederhana, tapi terasa seperti menyentil sesuatu yang diam-diam sudah kulakukan belakangan ini. Tiba-tiba aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri..... jadi semua tulisan curhat yang selama ini keluar dari kepalaku… itu apa? Apakah ini bentuk keberanian menghadapi masalah, atau hanya cara halus untuk membenarkan perasaanku sendiri? Pertanyaan itu muncul pelan, seperti bisikan yang tidak ingin mengganggu tapi juga tidak mau pergi. Karena jujur saja, beberapa waktu terakhir aku memang menulis banyak hal yang sebelumnya hanya berputar di kepala. Tentang lebaran yang tidak pernah kusukai, tentang hubungan yang terasa jauh, tentang perasaan yang sulit dijelaskan, tentang kejadian-kejadian yang membuatku merasa kecil dan tidak berdaya. Semuanya seperti keluar satu per satu, seo...

Murphy’s Law

Murphy’s Law sering terdengar seperti kutukan kecil yang diam-diam mengintai pikiran....  semakin kamu takut sesuatu akan terjadi, semakin besar kemungkinan hal itu akan terjadi. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa sangat relevan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah apa yang kemarin terjadi padaku, rasanya seperti ketakutan yang dulu hanya berbisik pelan, tiba-tiba menjelma nyata di depan mata. Aku jadi ingat, sebelum semua kekacauan itu benar-benar terjadi, sebenarnya sudah ada rasa cemas yang sering muncul tanpa diundang. Pikiran-pikiran kecil yang berputar sendiri di kepala. Bagaimana kalau mereka mulai menjauh? Bagaimana kalau ceritaku dipelintir? Bagaimana kalau suatu hari aku dibuat terlihat buruk di mata orang lain? Awalnya hanya bayangan, tapi lama-lama bayangan itu terasa seperti bayangan panjang yang mengikuti ke mana pun aku pergi. Dan ketika akhirnya benar-benar terjadi... ketika pembunuhan karakter itu terasa nyata, aku sempat terpak...