Skip to main content

Posts

Ramadhan dan Rasa Sepi yang Tiba-Tiba Datang

Sudah Ramadan hari ke berapa ini? Aku sampai harus menghitungnya di kepala, lalu menyerah dan membuka kalender. Rasanya baru kemarin tarawih pertama, suara imam masih terdengar sedikit bergetar karena saf belum serapat biasanya. Tiba-tiba saja hari-hari melompat. Waktu seperti berlari lebih cepat dari niat yang sempat kususun rapi di awal bulan. Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Lampu-lampu masjid menyala lebih terang, grup keluarga ramai dengan jadwal buka bersama, dan timeline media sosial penuh dengan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Tapi entah kenapa, di sela semua keramaian itu, ada satu rasa yang datang pelan-pelan, sepi yang tak diundang. Bukan sepi karena sendirian. Rumah tetap berisi suara. Pekerjaan tetap berjalan. Undangan buka bersama bahkan lebih dari cukup. Namun ada ruang kecil di dalam diri yang terasa lengang. Seperti ada kursi kosong yang tidak terlihat, tapi jelas keberadaannya. Aku tidak tahu persis apa yang hilang. Mungkin kebersamaan yang dulu p...
Recent posts

Cinta Sepihak

Aku menyebutnya cinta sepihak. Bukan karena ingin terdengar tragis, juga bukan untuk mengasihani diri sendiri. Hanya saja, memang begitulah bentuknya, rasa yang tumbuh sendirian, berbunga di dalam dada tanpa pernah benar-benar berpindah ke tangan yang lain. Ia hadir tanpa undangan, menetap tanpa izin, lalu mengisi hari-hariku dengan cara yang kadang tak bisa dijelaskan logika. Awalnya biasa saja. Hanya tatapan yang sedikit lebih lama dari seharusnya. Hanya sapaan yang terasa lebih hangat dari yang lain. Tapi entah sejak kapan, aku mulai menunggu. Menunggu momen yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan. Menunggu kebetulan yang mungkin hanya kebetulan baginya, tapi menjadi peristiwa kecil yang kurayakan diam-diam. Aku tahu ini tidak seimbang. Aku yang merasa lebih dulu, aku yang menafsir lebih jauh. Ia mungkin hanya menjalani harinya seperti biasa, tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang menjadikannya pusat dari banyak adegan dalam kepala. Dan di situlah letak sepihaknya, aku berjalan ...

Cukup untuk Kebetulan-Kebetulan yang Sering Kuromantisasi

Baiklah, akhirnya aku harus mengambil alih perasaanku sendiri. Rasanya seperti berdiri di depan cermin lalu berkata pelan, “cukup.” Bukan dengan marah, bukan dengan dramatis, tapi dengan kesadaran yang pelan-pelan mengendap. Selama ini aku terlalu membiarkan rasa berjalan tanpa tali kekang, membiarkannya mencari-cari celah, menafsirkan perhatian kecil menjadi sesuatu yang lebih besar, lalu berharap tanpa benar-benar berpijak. Aku sadar, aku tidak boleh lagi membiarkan perasaan memainkan kendali atas seluruh perhatian yang kuterima. Tidak setiap tatapan adalah isyarat. Tidak setiap sapaan adalah pintu. Tidak setiap kebetulan adalah takdir yang sengaja dirancang semesta. Kadang itu hanya momen biasa yang oleh hatiku diubah menjadi luar biasa. Dan di situlah aku sering goyah. Aku tahu betul betapa mudahnya hatiku tergelincir. Sedikit perhatian saja bisa membuatku merasa istimewa. Sedikit kedekatan bisa membuatku membangun cerita panjang di dalam kepala. Padahal realitasnya belum tentu s...

Betapa Mudahnya Aku Terhanyut, Betapa Cepatnya Aku Juga Bisa Kehilangan

Sepertinya puasa kali ini kami tidak akan bertemu lagi. Jadwal kami berubah, seperti dua jarum jam yang dulu sempat berpapasan di satu titik, lalu kembali berjalan di porosnya masing-masing. Tempat biasa itu mungkin tetap ramai, tetap menyimpan cahaya sore yang sama, tetapi tanpa pertemuan yang tak disengaja, semuanya terasa berbeda. Tidak ada lagi kemungkinan tatapan singkat setelah salam, tidak ada lagi jeda beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Awalnya aku mengira ini tidak akan terlalu berpengaruh. Toh, hubungan kami tak pernah benar-benar ada. Tidak ada janji, tidak ada sapaan yang rutin, apalagi cerita panjang yang mengikat. Hanya kebiasaan melihat dan dilihat, sebuah ritme kecil yang diam-diam menjadi bagian dari hariku. Namun ketika kusadari bahwa bulan ini mungkin tak ada kesempatan untuk sekadar berpapasan, ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih nyata. Anehnya, aku juga tidak yakin pada hatiku sendiri. Aku tidak tahu apakah nanti, ketika Ramadan u...

Menikmati Getarannya, Menyadari Kesalahannya, tapi Belum Cukup Berani untuk Mengakhirinya

 Aku tahu perasaan ini salah. Bukan salah dalam arti dosa, bukan pula sesuatu yang melanggar aturan yang tertulis. Salah yang kumaksud lebih halus dari itu, salah karena mungkin, tanpa sadar, aku sedang mempermainkan perasaan orang lain. Atau setidaknya, mempermainkan kemungkinan. Awalnya sederhana saja. Sebuah tatapan yang terlalu lama, percakapan singkat yang menyisakan gema, lalu perasaan hangat yang entah dari mana datangnya. Aku tidak merencanakannya. Ia tumbuh pelan, seperti kabut yang turun tanpa suara. Dan ketika kusadari, aku sudah menikmati sensasi itu, degup jantung yang sedikit lebih cepat, senyum yang muncul tanpa sebab jelas, langkah yang terasa lebih ringan ketika tahu mungkin hari itu kami akan bertemu. Ada semacam efek kimia yang sulit dijelaskan. Endorfin, mungkin. Tubuhku seperti tahu kapan harus memproduksinya. Setiap kali melihatnya, atau bahkan hanya membayangkannya, ada rasa rileks yang menyebar perlahan. Dunia yang tadinya terasa berat mendadak lebih luna...

Skenario yang Tak Pernah Dipentaskan

  Ada banyak sekali skenario yang kususun diam-diam di kepalaku. Adegan demi adegan, lengkap dengan dialog yang terasa begitu lancar dan meyakinkan. Dalam bayanganku, aku bisa berdiri tenang di depannya, menatap tanpa gugup, menyapa lebih dulu dengan kalimat ringan tapi berkesan. Kadang kubayangkan percakapan kami mengalir seperti sungai yang tidak tersendat—tentang hal sederhana, tentang hari yang melelahkan, tentang sesuatu yang membuatnya tertawa. Di dalam kepala, semuanya rapi. Aku tahu kapan harus tersenyum, kapan harus bercanda, bahkan kapan harus menatap sedikit lebih lama. Tapi hidup rupanya tidak berjalan seperti naskah yang kusiapkan. Setiap kali benar-benar berhadapan dengannya, semua skenario itu seperti menguap begitu saja. Hilang tanpa jejak. Yang tersisa hanya jantung yang berdetak terlalu keras dan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Kata-kata yang tadi berbaris rapi berubah jadi kosong. Aku berdiri di situ, canggung, seperti aktor yang lupa dialognya sendiri...

Sengketa Warisan

 Dulu, setiap kali mendengar kabar tentang orang-orang yang saling berseteru karena warisan, aku selalu mengernyit dalam hati. Kenapa bisa begitu? Bukankah yang ditinggalkan lebih penting untuk dikenang daripada diperebutkan? Rasanya sulit membayangkan bagaimana harta bisa mengalahkan hubungan darah, bagaimana tanah dan angka-angka bisa membuat suara meninggi dan pintu ditutup lebih keras dari biasanya. Saat itu aku hanya menjadi penonton, menggeleng pelan, merasa jauh dari kemungkinan mengalami hal serupa. Sampai akhirnya peristiwa itu benar-benar hadir di depan mata. Bukan di keluargaku sendiri, melainkan di keluarga dari pihak istriku. Mertua lelakiku meninggal beberapa tahun lalu. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang masih hangat, suasana rumah yang muram, dan wajah-wajah yang belum sempat benar-benar menerima. Rasanya waktu berjalan lambat di hari-hari pertama itu. Kami masih sibuk dengan doa dan tamu yang datang silih berganti. Belum genap tujuh hari. Di tengah duka y...