Tambah Satu Alasan Lagi Kenapa Aku Menyukainya
Ada satu momen kecil yang beberapa hari ini terus berputar di kepalaku. Masalahnya, aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa. Aku bahkan kesulitan mencari istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Yang kutahu, orang-orang biasanya menyebut ekspresi seperti itu sebagai sok imut . Entah benar atau tidak, aku juga tidak yakin. Yang masih kuingat hanya sepotong gambar yang terekam sangat singkat. Wajahnya sedikit manyun. Bibirnya maju beberapa senti ke depan, seperti anak kecil yang sedang merajuk atau berpura-pura kesal. Bukan ekspresi yang berlebihan. Sangat tipis, sangat sebentar, nyaris hilang sebelum sempat benar-benar kupahami. Mungkin kalau aku berkedip sedikit lebih lama, momen itu sudah terlewat begitu saja. Masalahnya, aku memang tidak pernah benar-benar berani memperhatikannya secara langsung. Setiap kali kami berada dalam jarak yang cukup dekat, keberanianku justru menghilang. Aku hanya berani mencuri pandang sepersekian detik, lalu buru-buru mengalihkan mata seolah tidak ...