Kadang aku merasa lucu pada diriku sendiri. Lucu dalam arti yang agak getir ...... seperti menertawakan adegan film yang sebenarnya menyedihkan. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia mencoba memulai percakapan dengan caranya yang sederhana dan tidak dibuat-buat, aku justru berubah menjadi versi diriku yang paling kaku. Jawabanku pendek, datar, seperti pintu yang hanya kubuka beberapa sentimeter lalu segera kututup lagi. Seolah-olah tidak ada apa-apa di dalam hatiku. Seolah-olah tidak ada detak yang mendadak berisik di dada. Seolah semuanya biasa saja. Padahal tidak pernah benar-benar biasa. Aku tahu dia sudah berkali-kali mencoba. Ada jeda-jeda kecil yang ia ciptakan agar percakapan bisa tumbuh. Ada pertanyaan ringan yang sengaja ia lempar, mungkin berharap aku akan menangkapnya dan mengembangkannya menjadi obrolan yang lebih panjang. Tapi aku selalu menjawab seperlunya. Singkat. Aman. Tanpa ruang lanjutan. Tanpa celah bagi pertanyaan berikutnya. Seperti orang yang buru-buru menu...
Ada satu hal yang selalu membuatku ragu setiap kali tubuh mulai memberi sinyal tidak beres..... pergi ke dokter. Bukan karena takut dengan rumah sakit, bukan juga karena takut dengan obat, tapi karena ada satu ketakutan yang terdengar sepele namun terasa nyata...... aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sakitku sendiri. Beberapa hari terakhir tubuhku terasa aneh. Tidak benar-benar sakit, tapi jelas tidak sehat. Ada rasa pegal yang berpindah-pindah, kepala kadang terasa berat, tenggorokan seperti tidak nyaman, energi cepat habis meski aktivitas tidak banyak berubah. Semua gejalanya samar, seperti kabut tipis yang tidak pernah benar-benar hilang. Dan justru karena samar itulah aku bingung. Aku mulai berpikir untuk memeriksakan diri. Pikiran itu muncul pelan, lalu semakin sering muncul setiap kali badan terasa lebih lelah dari biasanya. Tapi setiap kali niat itu muncul, selalu ada satu pertanyaan yang langsung mengikuti.... nanti kalau ditanya dokter, aku harus bilang apa? Bayangan...