Skip to main content

Posts

Memelihara Rasa Dalam Diam

Belakangan ini aku sering merasa sedih sendiri ketika membaca ulang semua cerita yang kutulis. Bukan karena ceritanya buruk. Justru karena aku mulai menyadari satu hal yang selama ini luput kusadari. Kisah ini tidak bergerak ke mana-mana. Ia seperti terjebak dalam lingkaran yang sama. Hari demi hari berganti, minggu demi minggu berlalu, tetapi alurnya nyaris tidak berubah. Kami bertemu, saling melihat dari kejauhan, menghindari ketika jarak terlalu dekat, lalu pulang membawa pikiran masing-masing. Esoknya, semuanya kembali terulang dengan pola yang hampir sama. Tidak ada kemajuan. Tidak ada keberanian. Tidak ada satu langkah pun yang benar-benar mengubah arah cerita. Aku menyukainya. Itu sudah selesai kuperdebatkan dengan diriku sendiri. Aku tidak lagi ingin menyangkalnya. Yang belum selesai justru keberanianku. Aku masih terlalu takut untuk mengubah semua dugaan menjadi sebuah pertanyaan yang nyata. Kadang aku juga merasa—atau mungkin hanya berharap—bahwa ada rasa yang serupa di pihak...
Recent posts

Menunggu Hadirnya Hari Senin

Lucu ya. Ketika banyak orang mengeluhkan hari Senin, aku justru diam-diam menunggunya datang. Mereka membenci alarm yang berbunyi terlalu pagi, kemacetan jalan yang kembali penuh, tumpukan pekerjaan yang mulai menggunung, dan rutinitas yang kembali mengikat setelah libur sehari. Hari Senin bagi banyak orang adalah awal dari kelelahan. Sedangkan bagiku, hari Senin adalah kemungkinan. Kemungkinan untuk kembali melihatnya. Mungkin terdengar berlebihan. Bahkan aku sendiri kadang menertawakan cara pikirku yang seperti ini. Hanya karena satu orang, kalender seolah memiliki makna yang berbeda. Hari-hari yang biasanya terasa biasa saja mendadak memiliki urutan yang kutunggu. Sabtu, Minggu, lalu Senin. Seakan-akan dua hari libur itu hanyalah jeda yang harus kulewati sebelum akhirnya semesta kembali mempertemukan kami. Padahal aku tahu, ketika hari Senin benar-benar datang, belum tentu ada sesuatu yang istimewa. Kemungkinan besar kami hanya akan saling berpapasan. Mungkin hanya bertemu beberapa ...

Belasan Kemungkinan tentang Mengapa Kami Tidak Pernah Berbicara

Kadang-kadang, kalau sedang sendirian dan pikiranku mulai mengembara ke mana-mana, aku justru lebih sibuk menyalahkan diriku sendiri daripada mempertanyakan dirinya. Aku mencoba mengingat kembali semua kejadian yang pernah kami lewati. Semua tatapan yang kebetulan bertemu. Semua kesempatan yang kubiarkan lewat begitu saja. Semua momen ketika sebenarnya salah satu dari kami mungkin hanya perlu mengucapkan satu kalimat sederhana. "Halo." Sesederhana itu. Namun sampai hari ini, kalimat sesederhana itu tetap tidak pernah lahir. Lalu aku mulai menyusun daftar panjang di dalam kepala. Daftar yang semakin lama semakin bertambah, seolah-olah otakku sedang menjadi penyidik bagi kasus yang tak pernah memiliki saksi. Mungkin penyebabnya adalah aku sendiri. Mungkin karena aku sudah tidak lagi mengikuti akun media sosialnya. Mungkin itu membuatnya mengira aku sudah tidak ingin mengenalnya lagi. Atau mungkin semuanya bermula ketika akunku diblokir. Entah apa alasannya. Bisa jadi memang ada...

Alasan Apa yang Membuatku Jatuh Cinta Padanya?

 Sore kemarin rasanya sedikit berbeda dibanding beberapa hari sebelumnya. Mungkin karena selama beberapa hari terakhir kami hanya sempat berpapasan sekilas. Pertemuan kami terlalu singkat untuk meninggalkan banyak kenangan. Aku hanya melihatnya datang atau pergi, lalu masing-masing kembali tenggelam dalam pekerjaan. Tidak ada ruang untuk memperhatikan lebih lama, tidak ada kesempatan bagi pikiranku untuk mengarang berbagai kemungkinan seperti biasanya. Namun kemarin, entah mengapa, suasananya terasa berubah. Ia sedang berbincang dengan beberapa temannya. Percakapannya tampak santai, sesekali diselingi tawa kecil. Dari kejauhan aku melihatnya seperti orang yang benar-benar menikmati obrolan itu. Akan tetapi, di sela-sela percakapan tersebut, ada beberapa gerakan kecil yang kembali menarik perhatianku. Sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Gerakan itu begitu halus sehingga bisa saja dianggap sebagai kebiasaan biasa. Namun, dari sudut pandangku, semuanya terasa seperti dilakukan deng...

Orang-Orang yang Datang Membawa Bensin Saat Api Sudah Menyala

Semakin lama bekerja, semakin sering aku memperhatikan satu pola yang berulang setiap kali ada seseorang tersandung masalah. Entah itu kesalahan kecil, persoalan pekerjaan, atau kasus yang kemudian menjadi pembicaraan banyak orang, selalu saja ada orang-orang yang tiba-tiba muncul seolah memiliki peran penting di dalamnya. Padahal sebelumnya mereka nyaris tidak terdengar. Namun ketika sebuah kasus mulai ramai dibicarakan, mereka datang. Ada yang bercerita seolah-olah dirinya adalah saksi utama. Ada yang mengaku paling tahu duduk perkaranya. Ada yang berbicara dengan penuh keyakinan meski sebagian ceritanya hanya berasal dari potongan-potongan kabar yang belum tentu utuh. Bahkan ada yang tanpa sadar menambahkan bumbu di sana-sini sehingga persoalan yang awalnya kecil berubah menjadi cerita yang jauh lebih dramatis. Aku benar-benar tidak habis pikir melihatnya. Entah kenapa, setiap kali ada orang yang sedang jatuh, selalu ada penonton yang ingin berdiri paling depan. Seolah-olah musi...

Pola Cinta dan Rindu

Di antara sekian banyak pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalaku, sepertinya aku mulai menemukan satu pola yang terus berulang. Pola itu sederhana, tetapi baru kusadari setelah berbulan-bulan menjalani kisah yang tidak pernah benar-benar bergerak ke mana-mana. Aneh sekali. Setiap kali kami bertemu, justru tidak banyak yang kurasakan. Tidak ada ledakan emosi yang dramatis. Tidak selalu ada jantung yang berlari lebih cepat. Bahkan belakangan ini, aku sering merasa biasa saja ketika berada dalam ruangan yang sama dengannya. Aku masih menyukainya, tentu saja. Aku masih beberapa kali mencarinya dengan pandangan. Aku masih diam-diam merasa senang ketika tahu ia datang. Namun ketika jarak kami begitu dekat, semua perasaan itu seperti mengendap begitu saja. Hening. Datar. Seolah ada sesuatu di dalam diriku yang sengaja mematikan seluruh gejolak agar aku tetap mampu berdiri dengan tenang di hadapannya. Barangkali tubuhku sedang melindungi diriku sendiri. Barangkali rasa gugup yang dulu terl...

Menjadi Auditor dan Satu Momen yang Terus Tertinggal di Kepalaku

Sialnya, hari itu aku hanya bisa melihatnya sebentar. Padahal, kalau boleh jujur, sejak pagi aku sudah berharap setidaknya ada sedikit waktu luang untuk sekadar memastikan ia datang. Bukan untuk mengobrol, bukan pula untuk menciptakan momen-momen yang selama ini sering kubesar-besarkan di dalam kepala. Hanya ingin melihatnya, lalu kembali bekerja seperti biasa. Sayangnya, hari itu bukan milikku. Selama beberapa hari terakhir aku sedang menjadi auditor dalam kegiatan audit mutu internal. Tugasku bukan pekerjaan yang bisa dikerjakan sambil lalu. Aku harus memeriksa dokumen, mencocokkan bukti, menilai capaian kinerja, hingga mengaudit pekerjaan para pimpinan dan unit-unit strategis selama satu tahun penuh. Konsentrasi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Satu angka yang terlewat atau satu dokumen yang salah dibaca bisa mengubah keseluruhan hasil audit. Karena itulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiranku benar-benar dipenuhi oleh pekerjaan. Bahkan aku hampir tidak memil...