Skip to main content

Posts

Apakah kemarin dia sedang menggodaku?

  Pagi ini aku terbangun dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah kemarin dia sedang menggodaku? Aku bahkan sempat tertawa saat pertanyaan itu muncul. Bukan karena lucu, melainkan karena rasanya terlalu terlambat untuk baru memikirkannya sekarang. Semua kejadian itu sudah berlalu. Hari sudah berganti. Tapi seperti biasa, otakku bekerja dengan cara yang aneh. Ketika peristiwa sedang berlangsung, aku sering kali tidak memahami apa-apa. Baru setelah semuanya selesai, ketika suasana sudah tenang dan aku sendirian dengan pikiranku sendiri, potongan-potongan kejadian itu datang kembali dan meminta untuk ditafsirkan. Kemarin, saat berada di dekatnya, semuanya terasa biasa saja. Tidak ada degup jantung yang berlebihan. Tidak ada kepanikan yang membuatku kehilangan arah. Bahkan aku sempat kecewa karena merasa hari itu tidak memberikan apa-apa untuk dikenang. Aku pulang dengan perasaan datar, seolah pertemuan kami hanyalah salah satu hari biasa yang akan segera terl...
Recent posts

Ternyata Ada yang Terlewat

Aku sempat berpikir hari kemarin berlalu begitu saja. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada momen yang membuat dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Tidak ada peristiwa yang bisa kubawa pulang lalu kuputar berulang-ulang sebelum tidur seperti yang sering kulakukan selama ini. Semuanya terasa biasa. Terlalu biasa, malah. Kami berada di ruang yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Ada beberapa kesempatan untuk saling menyadari keberadaan satu sama lain, tetapi tidak ada yang terasa cukup kuat untuk disebut istimewa. Aku bahkan pulang dengan perasaan datar. Perasaan yang jarang sekali muncul sejak aku mulai memperhatikannya. Di perjalanan pulang, aku sempat berpikir mungkin ini pertanda baik. Mungkin akhirnya aku mulai bisa mengendalikan diriku sendiri. Mungkin jantungku sudah tidak terlalu mudah bereaksi setiap kali dia berada di dekatku. Mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Atau mungkin, pikirku saat itu, aku memang sedang kehilangan ketertarikan yang selama ini...

She Felt First, He Fell Harder

Hari Sabtu selalu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang istimewa terjadi, melainkan karena aku sadar bahwa setelah hari ini akan datang hari Minggu. Sebuah hari yang, bagi kebanyakan orang, mungkin terasa santai dan menyenangkan. Tapi entah sejak kapan, hari Minggu justru menjadi semacam jeda yang terlalu panjang bagiku. Karena itu, sejak pagi tadi aku sudah memikirkan satu hal yang sama. Apakah hari ini kita akan bertemu? Pertanyaan sederhana, tetapi ternyata mampu mengisi begitu banyak ruang dalam pikiranku. Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika benar-benar bertemu. Tidak ada jaminan akan ada percakapan. Tidak ada kepastian akan ada momen besar yang layak dikenang. Bisa jadi kami hanya berada di ruangan yang sama, menjalani aktivitas masing-masing, lalu pulang tanpa sepatah kata pun. Seperti biasanya. Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap. Berharap bisa melihatnya meski hanya sebentar. Berharap bisa m...

Alasan yang Tak Pernah Berani Kuakui

Sepertinya aku memang harus berterima kasih padanya. Kalimat itu baru benar-benar terasa hari ini, ketika aku kembali tidak menemukannya di mana pun. Dan anehnya, justru dari ketidakhadirannya itulah aku akhirnya sadar sesuatu yang selama ini berusaha keras kutolak. Bahwa mungkin… selama ini dia adalah alasan kenapa aku masih bertahan. Bukan pekerjaan ini. Bukan rutinitasnya. Bukan juga karena aku terlalu mencintai tempat ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah berkali-kali aku ingin pergi. Berkali-kali aku membuka kemungkinan untuk mencari tempat baru, suasana baru, hidup baru yang mungkin lebih tenang daripada hari-hariku sekarang. Ada terlalu banyak lelah yang menumpuk di sini. Terlalu banyak tekanan yang kadang membuat dadaku sesak bahkan sebelum hari dimulai. Aku sering membayangkan menyerah saja. Pergi diam-diam tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, selalu ada sesuatu yang menahanku untuk benar-benar melangkah keluar. Dan sek...

Membuka Galeri untuk Mengingat Bahwa Kita Pernah Bahagia

Ada hari-hari ketika hidup terasa berjalan di luar prediksi. Semuanya datang tanpa aba-aba, tanpa sempat memberi waktu untuk bersiap. Masalah muncul mendadak, ucapan orang lain terasa menusuk lebih dalam dari biasanya, dan hal-hal kecil yang seharusnya bisa diabaikan justru menetap lama di kepala. Di hari-hari seperti itu, rasanya dunia berubah menjadi tempat yang melelahkan untuk ditinggali. Aku pernah berada di fase ketika satu hari buruk bisa merusak seluruh isi pikiranku. Tatapan sinis orang lain terasa seperti penghakiman. Kalimat-kalimat kecil terdengar lebih tajam dari yang seharusnya. Bahkan kadang, aku terlalu lama memikirkan sesuatu yang mungkin sebenarnya sudah dilupakan oleh orang lain sejak awal. Dan semakin lama dipikirkan, hati semakin penuh. Sampai suatu malam, saat pikiranku terasa terlalu bising dan aku tidak tahu lagi harus menenangkan diri dengan cara apa, tanganku tanpa sadar membuka galeri ponsel. Awalnya hanya ingin mengalihkan perhatian sebentar. Tapi ternyat...

Tatapan-Tatapan Singkat yang Tak Pernah Selesai Diterjemahkan

Lucu sekali rasanya ketika aku sadar bahwa aku ternyata terlambat membuat skenario. Baru saja beberapa waktu lalu aku sibuk menertawakan diriku sendiri karena mulai membayangkan menghadirkan “orang ketiga” dalam kisah absurd ini, berharap ada sedikit kekacauan yang bisa memancing kejelasan dari hubungan kami yang menggantung, ternyata tanpa kusadari dia lebih dulu melakukannya. Dan ketika menyadari itu, aku malah ingin tertawa lagi. Karena ternyata kami sama-sama aneh. Belakangan aku mulai memperhatikan bagaimana dia beberapa kali terlihat lebih dekat dengan orang lain. Bukan sesuatu yang terlalu mencolok memang. Bahkan kalau orang lain melihatnya, mungkin semuanya tampak biasa saja. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan ada sedikit “usaha” di sana. Seolah dia ingin sesuatu terlihat olehku. Mungkin dia berpikir aku akan terpengaruh. Mungkin dia berharap aku akan berubah sikap. Menjadi lebih berani. Atau mungkin malah cemburu. Tapi anehnya, aku tidak merasakan apa-apa terhadap ora...

Skenario Baru yang Kubuat Sendiri

Sebelum mulai bercerita, sepertinya aku harus tertawa dulu. Benar-benar tertawa. Bukan karena ada sesuatu yang lucu sekali sampai membuat perut sakit, tapi lebih karena aku mulai sadar betapa anehnya jalan pikiranku akhir-akhir ini. Kadang aku merasa hidupku berubah seperti naskah drama murahan yang ditulis oleh seseorang yang terlalu kesepian, lalu mulai menciptakan konflik sendiri agar ceritanya tetap berjalan. Dan sepertinya sekarang aku menemukan ide baru untuk kisah ini. Aku akan memunculkan orang ketiga. Lucu, kan? Bahkan hubungan kami saja belum jelas apa bentuknya, belum ada pengakuan apa-apa, belum pernah ada percakapan yang benar-benar jujur, tapi aku sudah sibuk memikirkan tokoh ketiga seperti pasangan yang sedang menguji kesetiaan satu sama lain. Kadang aku sendiri bingung harus menertawakan siapa. Diriku? Atau perasaan absurd ini? Jadi begini. Belakangan ada anak magang baru. Tidak terlalu dekat sebenarnya, hanya beberapa kali datang mendekatiku untuk bertanya i...