Senin akhirnya datang juga, seperti biasa, tanpa peduli apa yang sedang berkecamuk di dalam dada seseorang. Matahari tetap naik, jalanan tetap ramai, dan ruangan itu tetap sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Hanya aku yang berbeda. Kali ini aku datang dengan keputusan kecil yang terasa besar, aku tidak akan lagi mencari-cari dia. Biasanya, tanpa sadar, mataku selalu tahu harus ke mana. Begitu memasuki ruangan, ada semacam radar halus yang otomatis bekerja, mendeteksi di mana dia berdiri, dengan siapa dia duduk, bagaimana ekspresinya pagi itu. Tapi hari ini aku mematikan radar itu. Setidaknya, aku mencoba. Aku sengaja menyibukkan diri. Mengatur barang, membuka laptop, membaca sesuatu yang sebenarnya tak benar-benar kubaca. Aku menundukkan wajah sedikit lebih lama dari biasanya, menatap layar seolah-olah ada hal yang sangat penting. Padahal yang sebenarnya penting justru sedang kuhindari. Beberapa kali, tanpa bisa dihindari, aku tetap melihatnya sekilas. Bukan karena sengaja menca...
Lucunya, kebiasaan itu masih tertinggal seperti refleks yang tidak sempat ikut pamit. Setiap kali membuka media sosial, jemariku seperti tahu jalan sendiri, mengetik namanya, membuka profilnya, lalu berhenti di halaman yang sama, terkunci, sunyi, tak memberi apa-apa. Tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada yang bisa dipahami. Hanya foto profil kecil dan ruang kosong yang terasa terlalu luas untuk sesuatu yang sebenarnya begitu sederhana. Aku tahu tak ada gunanya. Aku juga tahu aku tidak benar-benar berharap menemukan sesuatu. Tidak ada harapan yang menunggu di sana. Tapi tetap saja aku mampir. Seperti seseorang yang lewat di depan rumah lama, padahal sudah tahu penghuninya pindah entah ke mana. Bukan ingin mengetuk pintu. Hanya ingin memastikan rumah itu masih berdiri. Dan setiap kali selesai, rasanya datar saja. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada rasa sakit yang dramatis. Hanya semacam keheningan kecil yang cepat berlalu, seperti menutup aplikasi yang tidak sengaja terbuka. Mungkin ...