Skip to main content

Posts

Menunggu Lagi… atau Mulai Menerima Bahwa Mungkin Tidak Ada Percakapan yang Benar-Benar Ingin Dimulai Darinya

Aku mulai punya kebiasaan baru yang terasa konyol sekaligus sulit dihentikan, melongok kotak pesan media sosial berkali-kali tanpa alasan jelas. Seolah ada sesuatu di sana yang menungguku, padahal setiap kali kubuka, hasilnya selalu sama. Kosong. Sunyi. Hanya layar yang tak berubah, seakan menatap balik tanpa ekspresi. Kadang memang ada satu atau dua pesan masuk, tapi isinya selalu sama, iklan perjalanan, promo diskon, ajakan liburan yang terdengar terlalu ceria untuk hatiku yang sedang menunggu satu nama saja. Ironis sekali rasanya. Dunia seperti ramai memanggilku pergi ke mana-mana, sementara aku hanya menunggu satu orang yang bahkan tidak memanggilku ke mana pun. Pesan yang kukirimkan kepadanya masih ada di sana. Diam. Tak bergerak. Di bawahnya tertulis kalimat kecil yang rasanya jauh lebih berat daripada seharusnya,  telah dilihat pada hari Senin . Sejak hari itu, waktu berjalan seperti biasa untuk semua orang, kecuali untuk percakapan ini. Percakapan itu berhenti di satu t...
Recent posts

Namun Jauh di Dalam Hati, Aku Tahu, Besok Aku Akan Membuka Chat Itu Lagi

Jujur saja, aku berharap dia membalas pesanku. Harapan yang sebenarnya sederhana, kecil, dan mungkin terdengar sepele bagi orang lain. Hanya sebuah balasan. Satu notifikasi. Satu tanda bahwa pesan itu sampai bukan hanya ke ponselnya, tapi juga ke perhatiannya. Tapi sampai sekarang, layar itu tetap sunyi. Awalnya aku mencoba bersikap biasa saja. Aku menaruh ponsel, melanjutkan aktivitas, mencoba meyakinkan diri bahwa hidup tidak akan berubah hanya karena satu pesan belum dibalas. Tapi entah sejak kapan, tanganku mulai punya kebiasaan baru,  membuka aplikasi media sosial tanpa alasan yang jelas. Seperti refleks. Seperti gerakan otomatis yang terjadi bahkan sebelum aku sempat berpikir. Semenit sekali. Lima menit sekali. Lalu setengah jam. Dan tanpa terasa, dua hari sudah lewat. Pesan terakhirku masih menggantung di sana, seperti kalimat yang terhenti di tengah udara dan tidak pernah menemukan tempat untuk mendarat. Lucunya, aku tidak benar-benar bisa marah. Tidak bisa juga bilang...

Tidak Cukup Yakin untuk Melangkah Maju, Tapi Juga Tidak Cukup Yakin untuk Berhenti

Pertanyaan itu kembali muncul, seperti lagu lama yang tiba-tiba terputar sendiri tanpa diminta,  apakah aku benar-benar menyukainya?  Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi entah kenapa selalu terasa terlalu berat untuk dijawab dengan jujur.  Aku menanyakannya berulang kali, di sela-sela kesibukan, di tengah perjalanan pulang, bahkan di saat-saat seharusnya pikiranku kosong. Seolah-olah ada bagian dari diriku yang memaksa mencari kepastian, sementara bagian lain sengaja menghindari jawabannya. Hari ini, aku sempat berada begitu dekat di belakangnya. Dekat dalam arti yang nyata, bukan sekadar dekat dalam bayangan atau kemungkinan. Jarak kami cukup untuk membuatku bisa memperhatikan hal-hal kecil, cara ia berjalan, ritme langkahnya, bentuk bahunya yang terlihat dari balik pakaian yang sederhana.  Aku menatapnya cukup lama, meski tetap menjaga jarak aman dari keberanian yang belum kumiliki. Aku tidak berani melihat wajahnya, apalagi matanya. Rasanya seperti ada bata...

Aku Membenci Diriku yang Terus Mencari Makna di Setiap Detail Kecil

Hari ini dimulai seperti hari-hari lain yang belakangan terasa penuh tanda tanya. Aku datang seperti biasa, dengan kebiasaan yang sudah terlalu hafal, turun dari kendaraan, merapikan barang, mencoba terlihat sibuk meski sebenarnya pikiranku selalu setengah menunggu sesuatu. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak pernah benar-benar berani menamainya. Lalu aku melihatnya. Ada sesuatu yang berbeda, tapi sulit dijelaskan. Selama beberapa minggu terakhir, wajahnya seperti membawa cuaca mendung yang enggan pergi. Bukan sedih yang jelas terlihat, bukan juga murung yang dramatis, lebih seperti langit yang kehabisan warna. Tapi hari ini, entah kenapa, dia terlihat lebih cair. Lebih ringan. Lebih hidup. Senyumnya muncul tanpa terlihat dipaksa, langkahnya tidak seberat biasanya, dan ekspresinya… entahlah, seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang selama ini tidak ingin dia ceritakan. Aku berdiri cukup jauh, tapi cukup dekat untuk menyadari perubahan itu. Dan seperti biasa, pikirank...

Di Antara Angka, Imajinasi, dan Salah Paham

Kadang aku duduk cukup lama hanya untuk menatap halaman statistik blogku sendiri. Angka-angka itu bergerak naik turun seperti detak yang punya ritme sendiri. Ada hari ketika pengunjungnya tembus ribuan dalam satu hari, angka yang membuatku terdiam, antara kaget dan sedikit tidak percaya. Tapi ada juga hari-hari yang jauh lebih sepi, hanya ratusan saja, seperti rumah yang tetap berdiri tapi tanpa banyak tamu yang singgah. Aneh rasanya memikirkan itu semua. Aku sering bertanya dalam hati, sebenarnya mereka datang dari mana? Siapa yang mengetikkan kata kunci tertentu hingga akhirnya terdampar di tulisanku? Apakah mereka membaca sampai selesai, atau hanya singgah beberapa detik lalu pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu butuh jawaban, tapi tetap saja muncul, terutama ketika melihat grafik yang naik tajam tanpa aba-aba. Yang lebih membuatku heran, justru tulisan-tulisan lama, bahkan yang kutulis sebelum tahun 2000-an, yang sering paling banyak dibaca. Tulisan yang lahir di masa ke...

Semua Bermula dari Satu Kata yang Kelihatannya Tidak Berbahaya

Semua bermula dari satu kata yang kelihatannya tidak berbahaya,  hi .  Hanya dua huruf, satu suku kata, satu sentuhan jari di layar yang terlalu ringan untuk menanggung beban sebesar itu. Tapi entah kenapa, sebelum menekan tombol kirim, dadaku terasa seperti sedang menyimpan badai yang menunggu pecah. Aku menatap layar terlalu lama, seolah-olah kata itu bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih cerdas, lebih dewasa, lebih pantas untuk seseorang yang ingin terlihat tenang dan tidak sedang jatuh cinta diam-diam. Aku tahu itu terdengar konyol. Dan mungkin memang konyol. Karena pada akhirnya aku tetap menekan tombol kirimnya. Lalu seketika, penyesalan datang seperti tamu yang tidak diundang, duduk santai di sebelahku, dan menertawakan keberanianku yang terlalu tipis. Rasanya seperti kembali menjadi anak SMA yang baru belajar menyukai seseorang, yang mengira setiap pesan adalah pertaruhan harga diri. Padahal aku tahu persis, di usia sekarang, aku seharusnya sudah melewati fase-fase...

Hari Minggu yang Terlalu Panjang

Entah sejak kapan hari Minggu berubah menjadi hari yang paling tidak kusukai. Dulu rasanya biasa saja, hari untuk beristirahat, menunda alarm, dan membiarkan waktu berjalan tanpa target. Tapi sekarang, Minggu terasa seperti ruang kosong yang terlalu luas. Sunyi yang tidak punya jeda. Seolah waktu berjalan lebih lambat hanya untuk mengingatkanku bahwa ada satu rutinitas kecil yang hilang. Rutinitas itu sederhana.... melihatnya. Lucunya, kalau dipikir-pikir, kami bahkan tidak benar-benar berbicara. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada tawa bersama, tidak ada cerita yang dibagi seperti orang-orang pada umumnya. Namun entah kenapa, hanya dengan mengetahui bahwa ia ada di tempat yang sama, berada dalam jarak pandang yang bisa kugapai dengan mata, rasanya sudah cukup membuat hari terasa penuh. Senin sampai Sabtu terasa lebih ringan karena kemungkinan itu selalu ada. Ada kemungkinan bertemu. Ada kemungkinan berpapasan. Ada kemungkinan saling menyadari keberadaan satu sama lain tanpa har...

Setiap Kali Ia Berlalu, Aku Selalu Merasa Telah Memenangkan Sesuatu. Tapi di Saat yang Sama, Aku Juga Merasa Kalah

Ada momen-momen kecil yang terasa begitu besar hanya karena terjadi berulang. Ia berjalan melintas di depanku, sekilas, singkat, seperti adegan yang tidak pernah benar-benar dimulai tapi selalu berhasil meninggalkan jejak. Setiap kali itu terjadi, ada dorongan aneh yang muncul tanpa diminta. Sebuah keinginan yang tiba-tiba saja berdiri di ambang kesadaran.... ingin memeluknya. Bukan pelukan yang panjang atau dramatis, hanya keinginan sederhana untuk berhenti sejenak dan menghapus jarak yang selama ini terasa terlalu jauh. Dan setiap kali keinginan itu datang, aku langsung membencinya. Bukan karena keinginan itu salah, tapi karena aku tahu aku tidak akan pernah menuruti dorongan itu. Aku menahannya sekuat mungkin, seperti seseorang yang menggenggam sesuatu yang terlalu panas tapi tidak berani melepaskannya. Ada batas yang tak terlihat, ada aturan tak tertulis yang terus mengingatkanku untuk tetap di tempatku. Maka aku memilih diam. Selalu diam. Lucunya, semakin aku menahan diri, sema...

Tentang Jarak yang Akhirnya Kupilih

Ada satu hal yang belakangan ini sering mengganggu pikiranku. Kadang, orang yang paling lantang menyayangkan tindakan bunuh diri, yang paling sering menulis kalimat penuh empati di forum dan media sosial, justru pernah, atau bahkan masih, menjadi bagian dari perundungan itu sendiri. Mereka bicara seolah-olah menjadi pembawa kasih, seakan berdiri di sisi yang paling peduli, padahal di sisi lain, mereka juga pernah melukai. Aku mengenali tipe orang seperti itu. Bukan sekadar dari cerita orang lain, tapi dari pengalaman yang cukup dekat untuk terasa nyata. Di ruang publik, mereka terdengar bijak. Kata-katanya rapi, penuh empati, mudah disukai. Namun di ruang yang lebih kecil, di percakapan yang lebih pribadi, sikapnya bisa berubah jauh berbeda. Kalimat-kalimat yang dulu terasa hangat, tiba-tiba bisa menjadi dingin, tajam, dan merendahkan. Kontras itu melelahkan. Awalnya aku mencoba memaklumi. Mungkin mereka tidak sadar. Mungkin itu hanya salah paham. Mungkin aku terlalu sensitif. Banya...

Ketika Kita Terlambat Mengetahui

Semua orang, bahkan yang pemahamannya tentang agama sangat sederhana, hampir pasti tahu satu hal bunuh diri itu dosa. Kalimat itu sering diulang, sering diingatkan, seolah cukup kuat untuk menjadi pagar. Tapi kenyataannya, cerita tentang orang yang memilih jalan pintas itu tidak pernah sesederhana kalimat tersebut. Masalahnya bukan pada tahu atau tidak tahu. Masalahnya jauh lebih sunyi dari itu. Sering kali, keputusan itu lahir bukan karena seseorang ingin menantang larangan, melainkan karena ia merasa tidak lagi punya pilihan. Seperti berdiri di lorong panjang yang gelap, mencoba mencari pintu keluar, tapi tidak menemukan apa pun selain dinding yang sama di setiap sisi. Dari luar, mungkin masih terlihat ada banyak jalan. Namun dari dalam kepala mereka, jalan itu seakan menghilang satu per satu. Ada fase ketika pikiran mulai berbisik pelan,  buat apa hidup? Pertanyaan itu tidak datang seperti teriakan. Ia datang seperti bisikan yang diulang terus-menerus. Pelan, konsisten, dan s...