Seperti Rindu yang Harus Dibayar Tuntas
Ada perasaan yang sulit sekali kuberi nama. Bukan sedih. Rasanya juga bukan rindu, setidaknya belum. Hanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasku selama dua hari terakhir, tetapi aku sendiri tidak mampu menjelaskan apa sebenarnya yang hilang itu. Mungkin bukan kehadirannya. Mungkin hanya kebiasaan melihatnya. Selama ini aku terbiasa menangkap sosoknya sesekali berseliweran di hadapanku. Kadang hanya lewat beberapa detik, kadang sekadar melintas di ujung lorong, kadang muncul begitu saja di sudut ruangan hingga tanpa sadar mataku mengikuti pergerakannya. Hal-hal kecil seperti itulah yang, rupanya, diam-diam menjadi bagian dari ritme hari-hariku. Lalu dua hari ini semuanya berubah. Aku tidak menemukannya. Tidak ada sosok yang tiba-tiba melintas. Tidak ada pertemuan singkat yang biasanya hanya berlangsung beberapa detik. Tidak ada momen ketika aku harus pura-pura sibuk agar tidak terlalu jelas sedang memperhatikannya. Kosong. Dan justru kekosongan itulah yang membuatku bing...