Mari kita bercerita lagi tentang sore kemarin. Bukan sore yang sebelumnya sudah kuceritakan panjang lebar. Ini sore yang berbeda, meski jika dipikir-pikir, latarnya hampir sama. Tempatnya sama. Kursi-kursi dekat pintu masuk itu lagi. Langit yang mulai kehilangan warna juga sama. Orang-orang yang bersiap pulang pun sama. Hanya ada satu hal yang berbeda. Kali ini teman-temannya masih ada. Masih duduk di sana. Masih mengobrol santai. Bahkan sampai aku pulang pun mereka belum benar-benar bubar. Mereka seperti membentuk lingkaran kecil yang membuat suasana sore terasa hidup, sementara aku tetap menjadi diriku sendiri, seseorang yang berdiri sedikit di luar lingkaran, mengamati dunia dari kejauhan. Tapi sebenarnya cerita ini bukan tentang mereka. Cerita ini tentang dia. Tentang seseorang yang, entah sengaja atau tidak, selalu berhasil membuatku memikirkan hal-hal yang seharusnya sederhana menjadi rumit. Aku memperhatikannya dari jauh. Tidak terus-menerus. Tidak sampai mengabaikan pekerjaanku...
Mari kita bercerita tentang kemarin sore. Sore yang sebenarnya biasa saja. Tidak ada percakapan penting. Tidak ada pengakuan. Tidak ada peristiwa besar yang layak dicatat dalam sejarah hidup seseorang. Namun entah kenapa, seperti banyak sore sebelumnya, aku pulang dengan kepala yang penuh oleh dirinya. Awalnya aku melihatnya dari kejauhan. Jam kerja hampir selesai. Orang-orang mulai merapikan barang, membereskan meja, dan bersiap meninggalkan kantor. Aku juga melakukan hal yang sama. Tidak ada niat khusus. Tidak ada rencana untuk memperhatikannya lebih lama dari biasanya. Setidaknya begitu yang ingin kuyakini. Di sela-sela kesibukan menjelang pulang itu, aku melihatnya masih beraktivitas di area yang sama. Sesekali aku merasa ia melirik ke arahku. Sesekali aku merasa ia sengaja menempatkan dirinya dalam jangkauan pandangku. Atau mungkin aku yang terlalu peka. Atau mungkin aku yang terlalu berharap. Aku sendiri tidak pernah benar-benar yakin. Yang jelas, pola itu terasa familiar. Terlal...