Sebenarnya, tidak ada cerita baru yang ingin kutulis hari ini. Kalau dipikir-pikir, kisah kami hanya berputar di tempat yang sama. Adegannya berganti, harinya berubah, tetapi alurnya nyaris tidak pernah benar-benar bergerak. Kami bertemu, saling melihat sekilas, menjaga jarak, lalu pulang dengan pikiran masing-masing. Besoknya terulang lagi. Minggu depannya juga begitu. Seolah-olah semesta sengaja menulis cerita yang sama dengan sudut pandang yang sedikit berbeda setiap harinya. Barangkali karena itulah aku mulai kehabisan kata-kata. Atau mungkin, yang sebenarnya berubah adalah perasaanku sendiri. Aku masih menyukainya. Kalimat itu tidak berubah. Namun cara hatiku menyambut kehadirannya perlahan mulai berbeda. Seperti kemarin, misalnya. Aku tetap merasa senang ketika akhirnya bisa melihatnya. Ada rasa lega yang diam-diam muncul begitu mengetahui ia benar-benar datang. Tetapi setelah itu... ya sudah. Tidak ada ledakan apa pun. Tidak ada degup jantung yang tiba-tiba berlari lebih cepat. ...
Sebenarnya, sore itu aku sudah berhenti berharap. Sejak siang aku tidak melihatnya sama sekali. Jam demi jam berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadirannya. Lama-kelamaan aku mulai menerima kenyataan bahwa mungkin hari itu akan berakhir seperti hari-hari lain ketika kami tidak sempat berpapasan. Tidak apa-apa, kataku pada diri sendiri. Toh dunia tidak akan berhenti hanya karena hari ini aku tidak melihat wajahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Berkas-berkas yang berserakan di meja mulai kurapikan satu per satu. Botol minum kumasukkan ke dalam tas. Laptop sudah kututup. Meja kerja kembali bersih seperti semula. Semua tanda menunjukkan bahwa hari ini benar-benar selesai. Setidaknya, begitulah yang kukira. Saat aku hampir melangkah meninggalkan ruangan, tanpa sengaja pandanganku mengarah ke pintu. Dan di sanalah dia. Entah sejak kapan datangnya. Aku hanya melihat sosoknya melintas di samping pintu, lalu berjalan pelan menuju loker. Sesederhana itu. Namun entah mengapa, pemandangan yan...