Akulah yang Paling Banyak Kehilangan
Kemarin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa begitu mantap dengan keputusan yang sudah berbulan-bulan hanya berani kusimpan di dalam kepala. Rasanya seperti ada sesuatu yang akhirnya mencapai batasnya. Terlalu lama dipendam, terlalu lama dipikirkan, terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengetahui ke mana arahnya. Aku ingin mengatakan semuanya. Sesederhana itu. Aku ingin berhenti berbicara melalui tatapan yang belum tentu dimengerti. Berhenti menyusun ribuan kemungkinan dari hal-hal kecil yang bahkan bisa saja tidak berarti apa-apa. Berhenti hidup di antara dugaan yang setiap hari berubah bentuk mengikuti suasana hati. Aku hanya ingin jujur. Berbulan-bulan memendam rasa ternyata melelahkan. Setiap pertemuan menjadi bahan renungan. Setiap kebetulan terasa seperti teka-teki. Setiap hari aku pulang membawa pertanyaan yang sama, lalu bangun esok paginya dengan pertanyaan yang masih sama pula. Sampai akhirnya kemarin aku berpikir, mungkin sudah...