street-smart
Ada satu hal yang mungkin belum pernah kuceritakan dengan utuh. Sebelum semua kisah ini menjadi seruwet sekarang—sebelum setiap pertemuan terasa penuh tanda tanya, sebelum aku sibuk memikirkan arti tatapan, jarak, dan diam yang berkepanjangan—aku bukan orang yang mudah menganggap setiap perhatian sebagai pertanda. Justru sebaliknya. Aku termasuk orang yang cukup lama menahan diri sebelum berani menyimpulkan apa pun. Banyak orang mungkin mengira aku terlalu berlebihan dalam menafsirkan keadaan. Aku bisa memahami anggapan itu. Kalau hanya membaca kisah-kisah yang kutulis sekarang, memang mudah sekali menyimpulkan bahwa aku sedang merangkai cerita dari potongan-potongan kejadian yang belum tentu saling berhubungan. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Aku terbiasa mengamati. Mungkin istilah yang paling mendekati adalah street-smart . Bukan berarti aku selalu benar membaca orang, tetapi pengalaman membuatku terbiasa memperhatikan pola-pola kecil dalam perilaku manusia. Bukan be...