Skip to main content

Posts

Sesuatu yang Sulit Dijelaskan Selain Sebagai Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Sampai sekarang aku bahkan tidak tahu namanya. Aneh, ya. Di zaman ketika orang bisa menemukan identitas hanya lewat satu potong foto, aku justru gagal mengetahui nama seseorang yang hampir setiap hari kulihat. Pernah beberapa kali aku mencoba bertanya pelan-pelan pada orang lain, seolah sekadar ingin tahu biasa saja. Tapi selalu saja mentok. Entah memang mereka tidak tahu, atau semesta sengaja menyimpannya dariku. Akhirnya aku menyerah pada satu peran yang paling aman, pengagum dari kejauhan. Aku hanya berani melihatnya diam-diam. Menyimpan jarak yang cukup agar tidak terlihat mencolok, tapi cukup dekat untuk memastikan ia nyata. Ada semacam ketenangan dalam mengagumi tanpa dikenali, meski di sisi lain ada juga getir kecil karena tak pernah benar-benar berani melangkah. Aku masih ingat betul hari pertama semuanya bermula. Hari itu adalah hari pertamaku di tempat itu. Aku berada di dalam ruangan, sedang sibuk melakukan sesuatu, mungkin membereskan, mungkin sekadar menyesuaikan diri ...
Recent posts

Barangkali Tidak Semua Rasa Diciptakan untuk Menjadi Cerita Bersama

  Ada kebiasaan kecil yang diam-diam kulakukan setiap kali ia berada dalam jarak pandang, memandangnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Bukan menatap tanpa sopan, bukan pula dengan keberanian yang terang-terangan. Hanya cukup lama untuk menyimpan garis wajahnya, cara ia bergerak, dan ekspresi yang kadang sulit dijelaskan itu ke dalam ingatan. Seolah-olah otakku adalah ruang arsip, dan aku sedang memastikan bahwa bayangannya tersimpan rapi di sana, agar bisa kupanggil kembali kapan saja, bahkan ketika ia tak ada. Namun begitu ia menoleh dan mata kami hampir bertemu, refleksku selalu sama, pura-pura melihat ke arah lain. Kadang ke jendela, kadang ke ponsel, kadang bahkan pada sesuatu yang sebenarnya tidak menarik sama sekali. Apa saja, asal bukan dirinya. Ada perasaan aneh yang membuatku belum siap tertangkap basah, semacam keinginan untuk tetap tersembunyi, menjaga perasaan ini tetap menjadi rahasia yang hanya kupahami sendiri. Padahal jauh di dalam hati, aku sering merasa...

Bisa Jadi, Bukan Cintanya yang Bertepuk Sebelah Tangan

 Pernahkah kamu merasakan cinta sendirian? Jenis perasaan yang tumbuh diam-diam, tanpa suara, tapi memenuhi hampir seluruh ruang di dada. Orang sering menyebutnya cinta bertepuk sebelah tangan, meski sebenarnya, saat menjalaninya, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah tepukan itu memang hanya satu, atau hanya belum terdengar balasannya. Semua biasanya berawal biasa saja. Tidak ada kembang api, tidak ada momen dramatis seperti di film. Hanya pertemuan sederhana, percakapan ringan, atau mungkin tatapan yang kebetulan bertahan satu detik lebih lama dari seharusnya. Tapi entah kenapa, sejak itu ada sesuatu yang berubah. Hari-hari yang tadinya terasa datar mendadak punya warna tambahan. Pelan-pelan, tanpa sadar, duniamu mulai terisi olehnya. Kamu melihat sesuatu yang lucu, ingin menceritakannya padanya. Mendengar lagu yang menyentuh,  langsung teringat dirinya. Bahkan hal-hal kecil seperti cuaca mendung atau aroma kopi di pagi hari tiba-tiba terasa punya kaitan. Aneh ya, bag...

Sudut Pandang

  Aku semakin percaya bahwa setiap orang hidup di dalam “dunianya” masing-masing, dunia yang dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, luka, keberuntungan, juga hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terlihat oleh orang lain. Dari situlah perspektif lahir. Maka tidak heran jika satu persoalan bisa terlihat sederhana bagi seseorang, tapi terasa rumit bagi yang lain. Bukan karena ada yang lebih benar, melainkan karena kami berdiri di titik pandang yang berbeda. Hari ini sebenarnya aku sengaja menyempatkan diri ikut kumpul-kumpul. Bukan acara besar, hanya pertemuan santai yang dipenuhi obrolan ringan, tawa sesekali, dan suara gelas yang saling bersentuhan. Aku datang bukan semata ingin bersosialisasi, tapi lebih karena rasa ingin tahu. Ada dorongan kecil dalam diriku untuk memahami bagaimana mereka berpikir, seperti apa pola yang mereka pakai saat melihat masalah, mengambil keputusan, atau menilai sesuatu. Awalnya semuanya terasa biasa saja. Kami berbincang tentang banyak hal,  p...

Kenapa Hal yang Terlalu Direncakan Kadang Gagal?

Aku pernah berpikir bahwa semakin rapi sebuah rencana disusun, semakin besar pula kemungkinan ia berjalan mulus. Bukankah hidup sering diajarkan begitu? Buat target, hitung matang, siapkan semuanya dari jauh-jauh hari, lalu tinggal melangkah. Tapi semakin ke sini, aku justru sering melihat hal yang sebaliknya. Ada rencana yang sudah disiapkan dengan penuh kehati-hatian, tapi tetap saja berantakan di tengah jalan. Sementara keputusan yang lahir tiba-tiba, tanpa banyak drama, malah sampai ke tujuan dengan selamat. Pengalaman soal umroh sepertinya jadi contoh paling nyata dalam hidupku. Aku berangkat umroh tanpa persiapan yang panjang. Keputusan untuk memberangkatkan kakakku dulu rasanya hampir spontan. Tidak terlalu banyak pertimbangan yang rumit. Ada rezekinya, ada jalannya, lalu berangkat. Semuanya mengalir begitu saja, seperti air menemukan sungainya sendiri. Tidak banyak hambatan, tidak ada cerita berliku yang membuat dahi berkerut. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi ketika i...

Pengen Umroh Lagi dan Lagi....

Dulu aku sempat bertanya-tanya dalam hati setiap kali mendengar seseorang berkata, “Pengen umroh lagi.” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup menggelitik. Bukankah mereka sudah pernah ke sana? Sudah pernah melihat Ka’bah dari dekat, sudah pernah thawaf, sudah pernah berdiri dalam haru di antara jutaan doa. Lalu kenapa masih ingin kembali? Awalnya kupikir mungkin itu sekadar keinginan biasa, seperti orang yang rindu kembali ke tempat liburan favorit. Tapi lama-lama aku sadar, rasanya tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika sehari-hari. Beberapa waktu lalu aku duduk bersama seorang kenalan yang sudah dua kali umroh. Obrolannya santai saja, ditemani teh hangat dan sore yang pelan. Tanpa banyak pengantar, ia berkata, “Kalau sudah pernah ke sana, rasanya hati itu seperti tertinggal sedikit.” Kalimat itu membuatku diam sejenak. Tertinggal sedikit. Bukan hilang, tapi seperti ada bagian dari diri yang enggan pulang. Ia lalu bercerita tentang momen pertam...

Ambisi dan Mati

 Akhir-akhir ini aku sering merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan yang aneh, bukan persimpangan besar yang dramatis, tapi lebih seperti jalan kecil yang tiba-tiba membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Usia, rupanya, punya caranya sendiri untuk mengetuk kesadaran. Tidak keras, tidak juga menakutkan, hanya pelan… tapi cukup untuk membuat hati bertanya, “Sudah sejauh apa aku berjalan?” Lucunya, meski angka umur terus bertambah, ada bagian dalam diriku yang seperti menolak untuk benar-benar tua. Aku masih ngeyel ingin melakukan banyak hal sendiri. Masih merasa kuat, masih ingin bergerak, masih percaya bahwa selama kaki bisa melangkah, kenapa harus bergantung? Bahkan untuk urusan kecil sekalipun, aku sering berkata pada diri sendiri, “Ah, ini mah masih bisa.” Padahal tubuh kadang sudah memberi kode halus, mudah lelah, butuh waktu lebih lama untuk pulih, atau sekadar ingin duduk lebih lama setelah aktivitas. Tapi, ya begitu… ada gengsi kecil yang mungkin tidak terl...