Aku melihatnya di salah satu sudut ruangan, tanpa rencana, tanpa niat. Momen itu datang begitu saja, seperti kebiasaan lama yang belum benar-benar hilang. Ia berdiri di sana, mengenakan baju yang belum pernah kulihat sebelumnya, warna coklat bata, atau mungkin ada nama lain yang lebih tepat untuk warna itu. Aku tidak begitu paham soal warna, tapi yang jelas, warna itu berbeda dari biasanya. Dan entah kenapa, perbedaan kecil itu cukup untuk membuat sudut hatiku tersenyum pelan. Sepanjang pengamatanku, yang seharusnya sudah kuhentikan, ia hampir selalu memilih warna-warna gelap. Hitam, abu-abu, biru tua. Warna-warna aman yang seperti tidak ingin menarik perhatian. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berubah. Warna itu hangat. Hidup. Dan anehnya, cocok sekali padanya. Aku bahkan sempat berpikir, seharusnya ia lebih sering memakai warna seperti itu. Pikiran yang datang begitu spontan, begitu alami, seolah aku masih berhak memperhatikannya. Dan di situlah aku tersadar. Kenapa aku memper...
Sepertinya aku gagal. Kalimat itu datang pelan, hampir tanpa suara, tapi terasa jelas di dalam kepala sejak kemarin. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti mencarinya, setidaknya berhenti dengan sengaja. Aku ingin berjalan seperti biasa, bekerja seperti biasa, menaruh perasaan ini di tempat yang aman, jauh dari kebiasaan menoleh tanpa alasan. Aku ingin terlihat baik-baik saja, dan lebih dari itu, aku ingin benar-benar baik-baik saja. Tapi kenyataannya, aku tetap mencarinya setiap kali ada kesempatan. Bukan dengan cara dramatis. Tidak menunggu di sudut-sudut tertentu atau mengubah rute demi berpapasan. Tidak. Ini lebih halus, lebih memalukan, semacam kebiasaan refleks yang datang tanpa izin. Mata yang diam-diam memindai ruangan. Telinga yang tiba-tiba peka pada suara yang terasa familiar. Pikiran yang selalu punya ruang untuk satu pertanyaan sederhana, kenapa dia tidak datang? Dan pertanyaan itu berkembang biak dengan cepat. Kenapa dia menghindar? Apakah benar dia menghin...