Skip to main content

Posts

Menjadi Sangat Berani dalam Imajinasi

Kalau biasanya dia yang datang terlambat, kali ini justru aku yang terlambat. Bukan karena sengaja ingin membalas perlakuannya. Bukan juga karena ingin terlihat tidak peduli. Justru alasannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih manusiawi, aku kelelahan. Semalaman aku tidak benar-benar tidur. Setiap kali berhasil terlelap, mimpi buruk datang seperti tamu yang tidak diundang. Membuatku terbangun berkali-kali dengan dada sesak dan pikiran yang masih dipenuhi sisa-sisa kecemasan yang bahkan tidak bisa kujelaskan asalnya dari mana. Akhirnya, sebelum berangkat, aku memutuskan untuk tidur sebentar. Hanya sebentar, kataku pada diri sendiri. Ternyata cukup lama untuk membuat jadwalku berantakan. Di perjalanan, aku sudah bisa menebak konsekuensinya. Akan ada banyak hal yang terlewat. Banyak momen yang biasanya tanpa sadar kutunggu. Banyak kesempatan untuk sekadar melihatnya datang, melihat bagaimana ia memulai harinya, atau menangkap tingkah-tingkah kecil yang sering kali menjadi bahan piki...
Recent posts

Aku Hanya Sedang Berusaha Bertahan dari Kelelahan yang Terlalu Panjang

Kemarin sebenarnya aku sudah hampir menyerah. Sejak pagi, suasana hatiku memang tidak sedang baik-baik saja. Ada terlalu banyak hal yang memenuhi kepala. Terlalu banyak pikiran yang datang bersamaan hingga sulit dibedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya ketakutan yang kubesarkan sendiri. Stres yang beberapa waktu terakhir menumpuk perlahan mulai menunjukkan bentuknya. Bukan ledakan besar yang dramatis, melainkan kelelahan panjang yang membuat segala sesuatu terasa lebih berat dari biasanya. Dalam keadaan seperti itu, entah kenapa aku berharap bisa melihatnya. Harapan yang sebenarnya terdengar konyol jika dipikirkan dengan logika yang sehat. Karena apa yang bisa berubah hanya dengan melihat seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar berbicara denganku? Apa yang bisa diperbaiki dari segala kekacauan dalam pikiranku hanya dengan kehadirannya? Tapi begitulah kenyataannya. Aku tetap berharap. Mungkin karena selama ini aku menjadikan kehadirannya sebagai semacam j...

Hari Ini Ternyata Tanggal Merah. Hari Lahirnya Pancasila

 Hari ini ternyata tanggal merah. Hari Lahir Pancasila. Tema tahun 2026 adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Lucunya, aku baru benar-benar merasakan kalau hari ini libur justru setelah semuanya selesai. Pagi tadi aku sudah berangkat sejak jam enam. Seperti biasa, perjalanan menuju kantor memakan waktu hampir satu jam. Jalanan masih belum terlalu ramai, langit masih menyisakan warna pagi yang pucat, dan udara terasa lebih dingin dibanding hari-hari biasa. Selama di perjalanan aku hanya fokus menyetir, tidak terlalu memikirkan apa pun selain memastikan datang tepat waktu. Dan memang, aku sampai tepat waktu. Bahkan sebenarnya kurang lima menit sebelum acara dimulai. Saat tiba, area kampus masih belum terlalu ramai. Beberapa orang baru berdatangan satu per satu. Ada yang berjalan cepat sambil merapikan pakaian dinas, ada yang masih sempat bercanda kecil dengan teman-temannya. Aku seperti biasa hanya berjalan pelan dan memilih berdiri di tempat yang menuru...

Apakah kemarin dia sedang menggodaku?

  Pagi ini aku terbangun dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah kemarin dia sedang menggodaku? Aku bahkan sempat tertawa saat pertanyaan itu muncul. Bukan karena lucu, melainkan karena rasanya terlalu terlambat untuk baru memikirkannya sekarang. Semua kejadian itu sudah berlalu. Hari sudah berganti. Tapi seperti biasa, otakku bekerja dengan cara yang aneh. Ketika peristiwa sedang berlangsung, aku sering kali tidak memahami apa-apa. Baru setelah semuanya selesai, ketika suasana sudah tenang dan aku sendirian dengan pikiranku sendiri, potongan-potongan kejadian itu datang kembali dan meminta untuk ditafsirkan. Kemarin, saat berada di dekatnya, semuanya terasa biasa saja. Tidak ada degup jantung yang berlebihan. Tidak ada kepanikan yang membuatku kehilangan arah. Bahkan aku sempat kecewa karena merasa hari itu tidak memberikan apa-apa untuk dikenang. Aku pulang dengan perasaan datar, seolah pertemuan kami hanyalah salah satu hari biasa yang akan segera terl...

Ternyata Ada yang Terlewat

Aku sempat berpikir hari kemarin berlalu begitu saja. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada momen yang membuat dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Tidak ada peristiwa yang bisa kubawa pulang lalu kuputar berulang-ulang sebelum tidur seperti yang sering kulakukan selama ini. Semuanya terasa biasa. Terlalu biasa, malah. Kami berada di ruang yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Ada beberapa kesempatan untuk saling menyadari keberadaan satu sama lain, tetapi tidak ada yang terasa cukup kuat untuk disebut istimewa. Aku bahkan pulang dengan perasaan datar. Perasaan yang jarang sekali muncul sejak aku mulai memperhatikannya. Di perjalanan pulang, aku sempat berpikir mungkin ini pertanda baik. Mungkin akhirnya aku mulai bisa mengendalikan diriku sendiri. Mungkin jantungku sudah tidak terlalu mudah bereaksi setiap kali dia berada di dekatku. Mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Atau mungkin, pikirku saat itu, aku memang sedang kehilangan ketertarikan yang selama ini...

She Felt First, He Fell Harder

Hari Sabtu selalu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang istimewa terjadi, melainkan karena aku sadar bahwa setelah hari ini akan datang hari Minggu. Sebuah hari yang, bagi kebanyakan orang, mungkin terasa santai dan menyenangkan. Tapi entah sejak kapan, hari Minggu justru menjadi semacam jeda yang terlalu panjang bagiku. Karena itu, sejak pagi tadi aku sudah memikirkan satu hal yang sama. Apakah hari ini kita akan bertemu? Pertanyaan sederhana, tetapi ternyata mampu mengisi begitu banyak ruang dalam pikiranku. Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika benar-benar bertemu. Tidak ada jaminan akan ada percakapan. Tidak ada kepastian akan ada momen besar yang layak dikenang. Bisa jadi kami hanya berada di ruangan yang sama, menjalani aktivitas masing-masing, lalu pulang tanpa sepatah kata pun. Seperti biasanya. Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap. Berharap bisa melihatnya meski hanya sebentar. Berharap bisa m...

Alasan yang Tak Pernah Berani Kuakui

Sepertinya aku memang harus berterima kasih padanya. Kalimat itu baru benar-benar terasa hari ini, ketika aku kembali tidak menemukannya di mana pun. Dan anehnya, justru dari ketidakhadirannya itulah aku akhirnya sadar sesuatu yang selama ini berusaha keras kutolak. Bahwa mungkin… selama ini dia adalah alasan kenapa aku masih bertahan. Bukan pekerjaan ini. Bukan rutinitasnya. Bukan juga karena aku terlalu mencintai tempat ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah berkali-kali aku ingin pergi. Berkali-kali aku membuka kemungkinan untuk mencari tempat baru, suasana baru, hidup baru yang mungkin lebih tenang daripada hari-hariku sekarang. Ada terlalu banyak lelah yang menumpuk di sini. Terlalu banyak tekanan yang kadang membuat dadaku sesak bahkan sebelum hari dimulai. Aku sering membayangkan menyerah saja. Pergi diam-diam tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, selalu ada sesuatu yang menahanku untuk benar-benar melangkah keluar. Dan sek...