Skip to main content

Posts

Intuisi

Setelah semua yang terjadi tahun lalu, aku mulai memperhatikan orang-orang dengan cara yang berbeda. Bukan karena ingin curiga, tapi karena rasanya naluri itu muncul sendiri, seperti refleks yang lahir dari pengalaman. Katanya, orang introvert sering punya radar yang sensitif terhadap suasana dan niat orang lain. Dulu aku tidak pernah benar-benar percaya pada kalimat itu. Sekarang, aku tidak tahu harus menaruhnya di mana, antara percaya atau hanya mencoba mencari makna dari luka yang belum selesai. Ada satu sosok yang terus muncul di kepalaku ketika memikirkan semua kejadian itu. Seseorang yang, di permukaan, tampak seperti pahlawan. Dia sering berdiri di sisi orang yang dianggap lemah, suaranya lantang ketika membela yang tertindas, kata-katanya rapi, penuh empati, dan terdengar benar. Banyak orang menyukainya. Sulit untuk tidak menyukai seseorang yang selalu terlihat berada di pihak kebaikan. Aku juga dulu begitu. Awalnya, kehadirannya terasa menenangkan. Seperti ada seseorang yan...
Recent posts

Kisah Lama

Tahun lalu rasanya seperti hidup dalam dua dunia yang berjalan bersamaan, tapi tidak pernah benar-benar bertemu. Di dunia yang terlihat orang lain, aku masih tertawa, masih mengunggah cerita, masih menulis hal-hal kecil yang tampak seperti kebahagiaan. Story tentang pencapaian, foto-foto sederhana, kalimat ringan yang terdengar optimis. Semuanya tampak normal. Bahkan mungkin terlalu normal. Sementara di dunia yang tidak terlihat siapa pun, semuanya runtuh pelan-pelan. Aku masih ingat betapa anehnya perasaan itu, menekan tombol “unggah” dengan jari yang gemetar, lalu beberapa detik kemudian melihat unggahan itu muncul dengan rapi, bersih, seolah hidupku memang sedang baik-baik saja. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah aku tidak sedang tenggelam. Rasanya seperti berdiri di depan cermin dan berpura-pura tidak melihat retakan besar yang membelah bayangan sendiri. Awalnya, aku tidak berpikir unggahan-unggahan itu akan berarti apa-apa bagi orang lain. Itu hanya caraku bertahan. Caraku mengin...

Seberapa Introvertnya Aku?

Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya seberapa introvertnya aku ini.  Pertanyaan itu muncul bukan karena ada yang menilai, tapi karena aku sendiri mulai menyadari pola yang berulang, sebuah kebiasaan yang begitu konsisten sampai terasa seperti ritual diam-diam yang tidak pernah kusengaja, namun terus kulakukan. Sudah empat bulan aku menjadi anggota gym. Empat bulan dengan rutinitas yang nyaris tidak pernah berubah. Setiap hari, kecuali Minggu karena tempat itu tutup, aku datang di jam yang sama, sekitar pukul tiga sore. Waktu yang menurutku cukup aman. Tidak terlalu pagi, tidak terlalu malam. Cukup ramai, tapi tidak terlalu penuh. Cukup hidup, tapi masih memberi ruang bagi seseorang sepertiku untuk bersembunyi di antara mesin-mesin latihan. Ramadhan kemarin pilih latihan di jam abis terawih biar aman. Aku datang, melakukan latihan selama satu jam lebih sedikit, lalu pulang. Begitu terus, seperti jarum jam yang tidak pernah lupa pada arah putarnya. Yang aneh, dalam rentang waktu ...

Hati yang Bertolak Belakang

Kadang aku merasa lucu pada diriku sendiri. Lucu dalam arti yang agak getir ...... seperti menertawakan adegan film yang sebenarnya menyedihkan. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia mencoba memulai percakapan dengan caranya yang sederhana dan tidak dibuat-buat, aku justru berubah menjadi versi diriku yang paling kaku. Jawabanku pendek, datar, seperti pintu yang hanya kubuka beberapa sentimeter lalu segera kututup lagi. Seolah-olah tidak ada apa-apa di dalam hatiku. Seolah-olah tidak ada detak yang mendadak berisik di dada. Seolah semuanya biasa saja. Padahal tidak pernah benar-benar biasa. Aku tahu dia sudah berkali-kali mencoba. Ada jeda-jeda kecil yang ia ciptakan agar percakapan bisa tumbuh. Ada pertanyaan ringan yang sengaja ia lempar, mungkin berharap aku akan menangkapnya dan mengembangkannya menjadi obrolan yang lebih panjang. Tapi aku selalu menjawab seperlunya. Singkat. Aman. Tanpa ruang lanjutan. Tanpa celah bagi pertanyaan berikutnya. Seperti orang yang buru-buru menu...

Nanti Kalau Ditanya Dokter, Aku Harus Bilang Apa?

Ada satu hal yang selalu membuatku ragu setiap kali tubuh mulai memberi sinyal tidak beres..... pergi ke dokter. Bukan karena takut dengan rumah sakit, bukan juga karena takut dengan obat, tapi karena ada satu ketakutan yang terdengar sepele namun terasa nyata...... aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sakitku sendiri. Beberapa hari terakhir tubuhku terasa aneh. Tidak benar-benar sakit, tapi jelas tidak sehat. Ada rasa pegal yang berpindah-pindah, kepala kadang terasa berat, tenggorokan seperti tidak nyaman, energi cepat habis meski aktivitas tidak banyak berubah. Semua gejalanya samar, seperti kabut tipis yang tidak pernah benar-benar hilang. Dan justru karena samar itulah aku bingung. Aku mulai berpikir untuk memeriksakan diri. Pikiran itu muncul pelan, lalu semakin sering muncul setiap kali badan terasa lebih lelah dari biasanya. Tapi setiap kali niat itu muncul, selalu ada satu pertanyaan yang langsung mengikuti....  nanti kalau ditanya dokter, aku harus bilang apa? Bayangan...

Halal bi Halal di Kantor

Hari Senin kemarin ada acara halal bi halal di kantor. Sejak jauh-jauh hari sebenarnya aku sudah tahu acara itu akan datang, tapi seperti kebanyakan hal yang berhubungan dengan keramaian, aku memilih pura-pura lupa sampai akhirnya tidak bisa lagi dihindari. Begitu pengumuman resmi muncul dan tanggalnya semakin dekat, perasaan yang muncul bukan antusias, melainkan semacam tegang yang pelan-pelan naik ke permukaan. Sejujurnya, acara seperti ini selalu terasa canggung bagiku. Bukan karena acaranya buruk atau orang-orangnya tidak menyenangkan, tapi lebih karena situasinya menuntutku berada di tengah keramaian yang tidak sepenuhnya akrab. Banyak wajah yang sebenarnya sering kulihat sekilas di lorong kantor, tapi tidak pernah benar-benar kukenal. Dan entah kenapa, berada di ruangan penuh orang yang “setengah dikenal” justru terasa lebih melelahkan dibanding berada di antara orang asing sepenuhnya. Di pagi hari sebelum acara dimulai, aku sempat berharap ada alasan kuat untuk tidak ikut. Mun...

Sakit

Sejak pulang dari mudik lebaran di rumah mertua kemarin, aku merasa tubuhku seperti berada di wilayah abu-abu yang sulit dijelaskan. Bukan sakit yang jelas sampai harus benar-benar rebahan seharian, tapi juga jauh dari kata sehat. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak cukup kuat untuk disebut sakit secara meyakinkan. Tubuh tetap bergerak, aktivitas tetap berjalan, tapi semuanya terasa lebih berat dari biasanya. Awalnya aku mengira ini hanya kelelahan biasa. Perjalanan mudik, perubahan rutinitas, jadwal tidur yang berantakan, suasana rumah yang ramai, interaksi yang tidak berhenti....s emuanya seperti menumpuk tanpa sempat diberi jeda. Saat masih di sana, tubuh mungkin terlalu sibuk untuk protes. Baru setelah pulang, ketika ritme mulai melambat, keluhan itu muncul satu per satu, pelan tapi konsisten. Badanku terasa pegal di tempat-tempat yang tidak spesifik. Kadang kepala terasa berat, kadang tenggorokan seperti tidak nyaman, kadang badan terasa hangat meski tidak ...