Dulu aku sempat bertanya-tanya dalam hati setiap kali mendengar seseorang berkata, “Pengen umroh lagi.” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup menggelitik. Bukankah mereka sudah pernah ke sana? Sudah pernah melihat Ka’bah dari dekat, sudah pernah thawaf, sudah pernah berdiri dalam haru di antara jutaan doa. Lalu kenapa masih ingin kembali? Awalnya kupikir mungkin itu sekadar keinginan biasa, seperti orang yang rindu kembali ke tempat liburan favorit. Tapi lama-lama aku sadar, rasanya tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika sehari-hari. Beberapa waktu lalu aku duduk bersama seorang kenalan yang sudah dua kali umroh. Obrolannya santai saja, ditemani teh hangat dan sore yang pelan. Tanpa banyak pengantar, ia berkata, “Kalau sudah pernah ke sana, rasanya hati itu seperti tertinggal sedikit.” Kalimat itu membuatku diam sejenak. Tertinggal sedikit. Bukan hilang, tapi seperti ada bagian dari diri yang enggan pulang. Ia lalu bercerita tentang momen pertam...
Akhir-akhir ini aku sering merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan yang aneh, bukan persimpangan besar yang dramatis, tapi lebih seperti jalan kecil yang tiba-tiba membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Usia, rupanya, punya caranya sendiri untuk mengetuk kesadaran. Tidak keras, tidak juga menakutkan, hanya pelan… tapi cukup untuk membuat hati bertanya, “Sudah sejauh apa aku berjalan?” Lucunya, meski angka umur terus bertambah, ada bagian dalam diriku yang seperti menolak untuk benar-benar tua. Aku masih ngeyel ingin melakukan banyak hal sendiri. Masih merasa kuat, masih ingin bergerak, masih percaya bahwa selama kaki bisa melangkah, kenapa harus bergantung? Bahkan untuk urusan kecil sekalipun, aku sering berkata pada diri sendiri, “Ah, ini mah masih bisa.” Padahal tubuh kadang sudah memberi kode halus, mudah lelah, butuh waktu lebih lama untuk pulih, atau sekadar ingin duduk lebih lama setelah aktivitas. Tapi, ya begitu… ada gengsi kecil yang mungkin tidak terl...