Skip to main content

Posts

Ada Rindu yang Tidak Boleh Disuarakan

  Ada rindu yang tidak boleh disuarakan. Bukan karena tidak tulus. Bukan karena tidak cukup besar. Justru mungkin karena terlalu besar hingga aku takut jika ia keluar dari dadaku, semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kukendalikan. Maka aku memilih diam. Membiarkannya tinggal di dalam kepala, berputar-putar di antara ingatan dan harapan yang tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk berlabuh. Aku masih mengingat kapan semua ini mulai terasa berbeda. Awalnya hanya pertemuan-pertemuan biasa. Tatapan yang kebetulan bertemu. Kehadiran yang berulang kali muncul di tempat yang sama. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri saat itu. Namun semakin lama, semakin banyak hal yang tidak lagi terasa sebagai kebetulan. Atau mungkin aku saja yang mulai mencari makna di tempat-tempat yang seharusnya dibiarkan kosong. Aku tidak tahu. Sampai hari ini pun aku tidak pernah benar-benar tahu. Yang kutahu hanya satu: perlahan-lahan ak...
Recent posts

Kudeta Kecil-Kecilan dalam Masjid

Semalam rapat di masjid berlangsung lebih ramai dari biasanya. Awalnya suasana berjalan sebagaimana rapat-rapat rutin pada umumnya. Pembahasan berpusat pada rencana melanjutkan pembangunan masjid yang sudah cukup lama terhenti. Ada pembicaraan tentang kebutuhan dana, tahapan pembangunan, hingga harapan agar bangunan yang selama ini mangkrak bisa kembali dikerjakan. Aku sendiri datang tanpa ekspektasi apa pun. Kupikir rapat hanya akan membahas persoalan fisik masjid, lalu selesai sebagaimana biasanya. Beberapa orang menyampaikan pendapat, yang lain mendengarkan. Suasananya cukup tenang. Tidak ada perdebatan berarti. Namun menjelang acara ditutup, tiba-tiba muncul satu usulan yang membuat arah pembicaraan berubah. Ada seseorang yang mengangkat tangan dan mengusulkan reformasi kepengurusan takmir masjid. Awalnya usulan itu disampaikan dengan nada yang hati-hati. Bahkan terkesan malu-malu. Ruangan sempat hening beberapa saat. Tidak banyak yang langsung menanggapi. Seolah semua orang se...

Belajar Berdamai dengan Rindu

Gimana ya menjelaskannya. Sepertinya sekarang aku mulai bisa mengelola rinduku dengan lebih baik. Tidak sepenuhnya hilang, tentu saja. Perasaan itu masih ada. Masih muncul pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika aku tanpa sengaja mengingatnya atau ketika ada sesuatu yang mengingatkanku pada dirinya. Hanya saja, rasa itu tidak lagi sekuat beberapa waktu lalu saat aku baru mulai mencoba menjaga jarak. Aku masih ingat bagaimana beratnya hari-hari pertama. Saat aku sengaja menghindari kesempatan bertemu. Saat aku berusaha tidak mencari keberadaannya. Saat aku menahan diri untuk tidak membuka media sosial, tidak mengingat-ingat pertemuan yang pernah terjadi, dan tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini memenuhi kepalaku. Waktu itu rasanya seperti sedang menghentikan sebuah kebiasaan yang sudah terlanjur menjadi bagian dari rutinitas. Ada ruang kosong yang tiba-tiba muncul. Ada rasa gelisah yang sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang hilang dari hari-hariku. Namun terny...

Hal-Hal yang Sulit Kuceritakan

Sebenarnya ada banyak sekali cerita yang ingin kutuliskan. Terlalu banyak, malah. Potongan-potongan kejadian itu masih tersimpan rapi di kepalaku. Aku masih ingat bagaimana suasananya, bagaimana ekspresi wajahnya, bagaimana gerak-geriknya, bahkan bagaimana perasaanku saat itu. Semuanya masih ada. Tidak hilang. Tidak kabur. Seolah otakku merekamnya dengan kualitas yang terlalu baik untuk ukuran sebuah pertemuan yang bahkan tidak pernah menghasilkan percakapan berarti. Masalahnya bukan pada ingatan. Masalahnya justru ketika aku mencoba mengubah ingatan itu menjadi kata-kata. Aku sering berhenti di tengah kalimat. Menghapus lagi. Menulis ulang. Lalu menghapusnya sekali lagi. Bukan karena aku lupa apa yang terjadi, melainkan karena aku bingung memilih cara menceritakannya. Ada beberapa hal yang jika kutulis terlalu jujur akan terdengar berlebihan. Jika kutulis terlalu rinci akan terdengar vulgar. Jika kutulis terlalu hati-hati justru kehilangan maknanya. Akhirnya aku memilih jalan yang pal...

Menunggu.....

Ada banyak kesempatan hari itu. Mungkin terlalu banyak, sampai-sampai aku sendiri tidak punya alasan yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa keadaan tidak mendukung. Sebab kenyataannya justru sebaliknya. Kami berada dalam jarak yang dekat. Sangat dekat, bahkan. Beberapa kali aku menyadari keberadaannya hanya beberapa langkah dariku. Tidak perlu mencari ke sudut ruangan. Tidak perlu melongok ke pintu masuk. Tidak perlu menebak-nebak apakah hari itu ia datang atau tidak. Ia ada di sana, berada dalam lingkaran aktivitas yang sama denganku. Dan seperti hari-hari yang lain, atau mungkin hanya karena aku sudah terlalu terbiasa memperhatikannya, aku merasa ia beberapa kali berusaha masuk ke dalam radar penglihatanku. Bukan dengan cara yang mencolok. Justru dengan cara-cara yang sulit dibuktikan. Muncul di tempat yang sama. Melintas pada waktu yang aneh. Berdiri sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Atau mungkin semua itu hanyalah kebetulan yang terus-menerus kuberi makna. Aku tidak...

Seperti Naskah yang Sudah Pernah Kubaca

Sebenarnya, hari itu berjalan hampir persis seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya. Entah karena aku sudah terlalu lama mengamatinya, atau karena pola-pola itu memang terus berulang, aku merasa seolah sedang membaca ulang sebuah naskah yang pernah kubaca berkali-kali. Tidak persis sama, tentu saja. Selalu ada detail baru yang muncul. Namun garis besarnya terasa begitu akrab hingga aku bisa menebak beberapa adegan sebelum benar-benar terjadi. Bahkan sejak aku baru datang. Saat itu aku menuju loker untuk menyimpan beberapa barang yang tidak kubutuhkan di meja kerja. Pikiranku masih sibuk dengan urusan lain. Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku sedang memikirkan hal lain. Lalu tiba-tiba aku sadar ia ada di belakangku. Bukan karena aku melihatnya langsung. Aku hanya merasakan keberadaannya. Kadang ada orang-orang tertentu yang tidak perlu dilihat untuk disadari kehadirannya. Entah karena langkahnya, entah karena kebiasaan, atau mungkin karena diam-diam kita memang sud...

Belajar Menghilang, Meski Belum Benar-Benar Bisa

Aku menyerah. Kalimat itu mungkin terdengar dramatis. Padahal kenyataannya tidak ada kejadian besar yang terjadi. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pengakuan. Tidak ada pula perpisahan yang layak dikenang. Hanya aku yang beberapa hari lalu begitu yakin bisa menjauh, lalu hari ini mendapati diriku sendiri melanggar keputusan yang kubuat dengan susah payah. Awalnya aku benar-benar percaya bahwa aku bisa melakukannya. Aku berpikir, mungkin jika aku mengurangi pertemuan, jika aku sengaja memilih aktivitas lain, jika aku menghilang dari radius pandangnya selama beberapa hari, maka sesuatu akan terjadi. Entah itu rindu yang tumbuh di diriku, atau mungkin, jika aku sedang terlalu optimis, rindu yang juga tumbuh di dirinya. Aku ingin menciptakan jarak. Aku ingin menguji sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak yakin keberadaannya. Aku ingin melihat apakah kehilangan akan membuat sesuatu menjadi lebih jelas. Ternyata yang menjadi jelas justru hal lain. Aku yang kalah lebih dulu. Hari pert...