Skip to main content

Posts

Antara Target Khatam dan Realita Rasa Malas

Setiap awal Ramadan, aku selalu datang dengan daftar niat yang rapi. Tahun ini harus lebih baik. Tahun ini minimal satu kali khatam. Bahkan kalau bisa lebih. Semangat itu biasanya membuncah di malam pertama, mushaf terasa lebih ringan di tangan, huruf-huruf seperti menyambut dengan ramah, dan hati penuh keyakinan bahwa semuanya akan berjalan lancar. Tapi entah kenapa, memasuki hari-hari berikutnya, ritmenya mulai berubah. Kesibukan menyelip pelan-pelan. Rasa lelah datang tanpa permisi. Kadang setelah tarawih tubuh hanya ingin rebah. Kadang selepas sahur mata terasa terlalu berat untuk sekadar membuka satu halaman lagi. Dan tahu-tahu, hari sudah bertambah, sementara bacaanku belum banyak bergerak. Menyedihkan sekali rasanya ketika aku sadar, bahkan Al-Baqarah pun belum selesai. Setiap kali membuka mushaf dan melihat penanda terakhir berhenti di ayat yang itu-itu saja, ada rasa malu yang sulit dijelaskan. Target di kepala terasa begitu tinggi, tapi langkah di kaki begitu lambat. Aku m...
Recent posts

Tarawih yang Tidak Selalu Khusyuk

Tarawih malam itu tidak sepenuhnya tenang. Sejak rakaat pertama, suara anak-anak sudah lebih dulu memenuhi sudut-sudut masjid. Ada yang berlari kecil di sela-sela saf, ada yang tertawa terlalu lepas, ada juga yang sibuk berbisik sambil menahan cekikikan. Di barisan belakang, seorang anak batuk berkali-kali, batuk yang jujur, yang tidak bisa ditahan, yang justru terdengar lebih nyata daripada lantunan ayat yang mengalun dari pengeras suara. Aku berdiri di tengah saf, mencoba fokus. Takbir, rukuk, sujud. Tapi konsentrasiku pecah-pecah seperti kaca tipis. Setiap kali imam membaca dengan nada panjang dan khidmat, selalu saja ada suara kecil yang menyelip. Sandal yang diseret. Botol minum yang jatuh. Tangis yang tiba-tiba pecah lalu segera diredam ibunya. Di sela rakaat keempat, suara imam berubah. Bukan saat membaca ayat, melainkan setelah salam pendek yang menjadi jeda. Dengan nada yang terdengar menahan kesal, beliau menegur anak-anak yang ramai. Kalimatnya tegas. Tajam. Meminta orang ...

Memaafkan Diri Sendiri Sebelum Memaafkan Orang Lain

Orang sering bilang memaafkan itu melegakan. Dan anehnya, untuk urusan memaafkan orang lain, aku termasuk yang cukup ringan tangan. Ketika disakiti, dikecewakan, atau diperlakukan tidak adil, aku lebih memilih berkata dalam hati, “sudahlah.” Bukan karena aku tidak merasa sakit, tapi karena membenci terasa jauh lebih melelahkan. Menyimpan dendam seperti memanggul batu di punggung sendiri, berat, dan tidak ada untungnya. Aku tidak suka punya musuh. Tidak nyaman membayangkan ada orang yang kuingat dengan rasa pahit. Rasanya sesak. Maka jalan tercepat yang kupilih adalah memaafkan. Lepas. Selesai. Setidaknya di permukaan. Tapi belakangan aku sadar, ada satu orang yang paling sulit kumaafkan, diriku sendiri. Lucunya, memaafkan diri sendiri terasa jauh lebih rumit. Untuk kesalahan orang lain, aku bisa mencari alasan: mungkin dia sedang lelah, mungkin dia tidak tahu, mungkin dia tidak sengaja. Tapi untuk diriku? Aku cenderung lebih keras. Lebih kritis. Lebih panjang daftar tuntutannya. Ke...

Ibadah yang Terasa Mekanis: Kenapa Hati Tidak Ikut Hadir?

Ada masa ketika tubuhku rajin bergerak, tapi hatiku seperti tertinggal di belakang. Aku berdiri ketika takbir dikumandangkan, rukuk dan sujud dengan hitungan yang pas, bibir melafalkan doa-doa yang sudah akrab sejak kecil, namun entah kenapa, rasanya seperti sedang menjalankan daftar tugas. Selesai satu, lanjut berikutnya. Rapi. Tertib. Tapi hampa. Awalnya aku mengira itu hanya lelah biasa. Mungkin karena pekerjaan menumpuk, mungkin karena pikiran terlalu penuh. Tapi ketika momen itu berulang beberapa kali, terutama di Ramadan yang seharusnya lebih syahdu, aku mulai bertanya dalam hati: apakah ini hanya perasaanku saja, atau orang lain juga pernah mengalaminya? Aku pernah duduk setelah salat, mencoba mengingat apa yang baru saja kubaca. Surat apa tadi? Doa apa yang kulantunkan? Kosong. Seperti lewat begitu saja tanpa sempat menyentuh dada. Gerakan ada, suara ada, tapi rasa tidak ikut hadir. Dan di situlah kegelisahan kecil itu muncul. Aku merasa bersalah. Seolah-olah aku sedang berp...

Antara Lapar Fisik dan Lapar Hati

Ada jenis lapar yang bisa diselesaikan dengan segelas air dan sepiring nasi hangat, dan ada jenis lapar lain yang tidak tahu harus diberi apa agar ia diam. Setiap Ramadan, aku selalu merasa sedang berdamai dengan dua-duanya, lapar fisik yang jelas terasa di perut, dan lapar hati yang kadang muncul tanpa suara. Menjelang sore, tubuh mulai memberi sinyal. Kepala sedikit berat, tenggorokan kering, langkah terasa lebih lambat. Itu wajar. Semua orang yang berpuasa merasakannya. Tinggal menunggu adzan, lalu selesai. Tapi belakangan ini, ada rasa lain yang tidak ikut hilang saat azan maghrib berkumandang. Ada ruang kosong yang tetap terasa meski perut sudah kenyang. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah karena itu aku jadi mencari-cari? Mencari percakapan yang lebih hangat. Mencari tatapan yang lebih lama. Mencari perhatian kecil yang bisa membuat hari terasa lebih berarti. Seolah-olah ada sesuatu di dalam dada yang ingin diisi, tapi aku sendiri belum benar-benar tahu namanya. Kadan...

Ramadhan dan Rasa Sepi yang Tiba-Tiba Datang

Sudah Ramadan hari ke berapa ini? Aku sampai harus menghitungnya di kepala, lalu menyerah dan membuka kalender. Rasanya baru kemarin tarawih pertama, suara imam masih terdengar sedikit bergetar karena saf belum serapat biasanya. Tiba-tiba saja hari-hari melompat. Waktu seperti berlari lebih cepat dari niat yang sempat kususun rapi di awal bulan. Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Lampu-lampu masjid menyala lebih terang, grup keluarga ramai dengan jadwal buka bersama, dan timeline media sosial penuh dengan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Tapi entah kenapa, di sela semua keramaian itu, ada satu rasa yang datang pelan-pelan, sepi yang tak diundang. Bukan sepi karena sendirian. Rumah tetap berisi suara. Pekerjaan tetap berjalan. Undangan buka bersama bahkan lebih dari cukup. Namun ada ruang kecil di dalam diri yang terasa lengang. Seperti ada kursi kosong yang tidak terlihat, tapi jelas keberadaannya. Aku tidak tahu persis apa yang hilang. Mungkin kebersamaan yang dulu p...

Cinta Sepihak

Aku menyebutnya cinta sepihak. Bukan karena ingin terdengar tragis, juga bukan untuk mengasihani diri sendiri. Hanya saja, memang begitulah bentuknya, rasa yang tumbuh sendirian, berbunga di dalam dada tanpa pernah benar-benar berpindah ke tangan yang lain. Ia hadir tanpa undangan, menetap tanpa izin, lalu mengisi hari-hariku dengan cara yang kadang tak bisa dijelaskan logika. Awalnya biasa saja. Hanya tatapan yang sedikit lebih lama dari seharusnya. Hanya sapaan yang terasa lebih hangat dari yang lain. Tapi entah sejak kapan, aku mulai menunggu. Menunggu momen yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan. Menunggu kebetulan yang mungkin hanya kebetulan baginya, tapi menjadi peristiwa kecil yang kurayakan diam-diam. Aku tahu ini tidak seimbang. Aku yang merasa lebih dulu, aku yang menafsir lebih jauh. Ia mungkin hanya menjalani harinya seperti biasa, tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang menjadikannya pusat dari banyak adegan dalam kepala. Dan di situlah letak sepihaknya, aku berjalan ...