Pernah tidak, kamu menyukai seseorang, lalu semakin lama mengenalnya justru semakin bingung harus menempatkan perasaanmu di mana? Bukan karena dia terlalu jelas. Justru karena dia terlalu sulit dipahami. Aku sedang berada di titik itu sekarang. Ada hari-hari ketika aku merasa dirinya begitu dingin. Bahkan lebih dari sekadar dingin. Kadang aku merasa seolah-olah aku adalah seseorang yang tidak ingin ia temui. Gesturnya kaku. Ekspresinya datar. Tatapannya cepat berpindah ketika kebetulan bertemu denganku. Kalau sedang berada dalam jarak dekat, dia seperti berusaha menciptakan ruang yang tak terlihat di antara kami. Dan anehnya, justru di saat-saat seperti itu pikiranku mulai berisik. Apa aku mengganggunya? Apa aku pernah melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman? Apa dia sebenarnya tidak menyukaiku? Atau yang lebih parah, apa selama ini aku hanya salah mengartikan semuanya? Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diundang. Duduk diam di kepalaku. Menunggu malam tiba agar bisa tumbuh ...
Beberapa hari lalu di kantor, aku sempat berbincang dengan seorang teman. Kalau dibilang dekat, sebenarnya tidak juga. Kami bukan tipe teman yang saling bercerita tentang kehidupan pribadi atau sering menghabiskan waktu bersama. Namun kalau dibilang tidak akrab sama sekali, rasanya juga tidak tepat. Kami masih sesekali mengobrol ketika bertemu, bertukar kabar seperlunya, dan sesekali membahas pekerjaan atau hal-hal yang sedang ramai di lingkungan kampus. Hari itu obrolan kami mengalir santai seperti biasanya. Tidak ada topik khusus yang direncanakan. Hanya percakapan ringan di sela aktivitas kantor. Sampai kemudian, entah bagaimana, pembicaraan mengarah pada jenjang karier dan pengembangan akademik. Tiba-tiba ia menyarankan sesuatu yang tidak kuduga. "Kenapa nggak coba post-doctoral ?" Aku sempat diam beberapa saat. Bukan karena tidak tahu apa itu post-doctoral. Justru sebaliknya. Dulu, beberapa tahun lalu, aku pernah memiliki keinginan ke arah sana. Aku pernah membayang...