Posts

Masih Berdiri di Persimpangan yang Sama, di Antara Keberanian dan Ketakutan

Image
Kadang aku sendiri mulai lelah dengan kisah yang seperti tidak pernah menemukan ujungnya. Rasanya setiap hari hanya berputar pada lingkaran yang sama. Ada harapan, lalu muncul keraguan. Ada keyakinan, lalu datang ketakutan. Aku melangkah sedikit, kemudian mundur lebih jauh. Begitu terus, berulang-ulang, hingga aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, sebenarnya aku sedang memperjuangkan sesuatu atau hanya sedang bertahan di dalam kebingungan yang kuciptakan sendiri. Di satu sisi, aku cukup sadar bahwa jika semua ini berakhir tidak sesuai harapan, orang yang paling banyak menanggung akibatnya adalah aku. Aku memahami risiko itu. Aku tahu ada banyak hal yang bisa berubah, bahkan mungkin hilang, jika suatu hari nanti aku benar-benar mengutarakan isi hatiku. Kesadaran itu tidak pernah pergi. Ia selalu duduk di sudut pikiranku, mengingatkan agar aku tidak gegabah. Namun anehnya, di sisi lain masih ada bagian kecil dalam diriku yang terus berbisik pelan. Bagaimana kalau justru ini adalah ci...

Ada Saatnya Mengalah, Ada Saatnya Berdiri

Image
  Aku termasuk orang yang sebisa mungkin menghindari konflik. Bagiku, tidak semua persoalan harus dibalas dengan kemarahan. Ada banyak keadaan yang justru lebih cepat selesai ketika salah satu pihak memilih mundur selangkah. Itulah yang kulakukan beberapa waktu terakhir. Aku menerima ancaman akan dilaporkan ke kepolisian. Bukan sekali. Sudah beberapa kali. Awalnya aku memilih diam. Aku tidak membalas dengan nada yang sama. Aku berpikir, kalau memang aku melakukan kesalahan, biarlah proses yang berjalan. Aku juga tidak ingin persoalan ini semakin besar. Terlalu melelahkan menghabiskan energi untuk bertengkar di ruang publik. Jadi aku memilih mengalah. Bukan karena takut. Bukan juga karena merasa kalah. Aku hanya ingin semuanya berhenti. Namun ternyata dugaanku keliru. Diamku tidak membuat keadaan mereda. Justru setelah itu, serangan demi serangan terus datang. Kalimat-kalimat bernada ancaman masih berulang. Tuduhan masih terus dilontarkan. Rasanya seperti tidak ada ruang unt...

Layakkah Aku untuk Dicintai?

Image
Semalam aku tidak benar-benar bisa tidur. Bukan karena ada pekerjaan yang belum selesai atau suara bising yang mengganggu dari luar. Yang membuatku tetap terjaga justru sesuatu yang jauh lebih sunyi, pikiranku sendiri. Ia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berhasil kujawab, lalu mengulanginya lagi, seolah-olah ada satu jawaban yang sengaja kusembunyikan dari diriku sendiri. Pertanyaannya sederhana, tetapi terasa begitu berat. Mengapa, jika memang benar dugaanku selama ini tidak keliru, seseorang bisa menyukaiku? Semakin kupikirkan, semakin aneh rasanya. Karena orang yang paling sulit menyukai diriku adalah... diriku sendiri. Aku sudah terlalu lama hidup bersama keyakinan-keyakinan yang tidak ramah. Aku terbiasa merasa tidak cukup baik, tidak cukup menarik, tidak cukup berharga untuk diperjuangkan. Ada hari-hari ketika aku melihat diriku sendiri seperti seseorang yang hanya dipenuhi kekurangan. Kesalahan-kesalahan masa lalu, penolakan yang pernah kualami, dan segal...

Bertemu di Jalan

Image
 Di tengah keputusasaan karena beberapa hari tak berhasil bertemu dengannya, aku mulai merasa kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar kumiliki. Anehnya, aku masih mampu menjalani pekerjaanku seperti biasa. Aku masih bisa tertawa ketika perlu, masih bisa menyelesaikan tugas satu per satu, masih bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dari luar, mungkin tak ada yang berubah. Namun aku tahu, ada satu kebiasaan kecil yang diam-diam terus kulakukan. Mencarinya. Mataku tanpa sadar selalu menyapu sudut-sudut ruangan yang biasanya menjadi tempat ia muncul. Lorong yang sering kulewati terasa lebih lengang. Area loker yang biasanya hanya kulewati sekilas kini justru menjadi tempat yang sering kutatap lebih lama, berharap ada sosok yang tiba-tiba datang dari balik pintu. Bahkan menjelang jam pulang, aku berkali-kali mengulur waktu. Masih ada pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan besok, masih ada alasan untuk tetap berada di kantor sedikit lebih lama. Siapa tahu ...

Seperti Rindu yang Harus Dibayar Tuntas

Image
 Ada perasaan yang sulit sekali kuberi nama. Bukan sedih. Rasanya juga bukan rindu, setidaknya belum. Hanya seperti ada sesuatu yang hilang dari rutinitasku selama dua hari terakhir, tetapi aku sendiri tidak mampu menjelaskan apa sebenarnya yang hilang itu. Mungkin bukan kehadirannya. Mungkin hanya kebiasaan melihatnya. Selama ini aku terbiasa menangkap sosoknya sesekali berseliweran di hadapanku. Kadang hanya lewat beberapa detik, kadang sekadar melintas di ujung lorong, kadang muncul begitu saja di sudut ruangan hingga tanpa sadar mataku mengikuti pergerakannya. Hal-hal kecil seperti itulah yang, rupanya, diam-diam menjadi bagian dari ritme hari-hariku. Lalu dua hari ini semuanya berubah. Aku tidak menemukannya. Tidak ada sosok yang tiba-tiba melintas. Tidak ada pertemuan singkat yang biasanya hanya berlangsung beberapa detik. Tidak ada momen ketika aku harus pura-pura sibuk agar tidak terlalu jelas sedang memperhatikannya. Kosong. Dan justru kekosongan itulah yang membuatku bing...

Tambah Satu Alasan Lagi Kenapa Aku Menyukainya

Image
Ada satu momen kecil yang beberapa hari ini terus berputar di kepalaku. Masalahnya, aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa. Aku bahkan kesulitan mencari istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Yang kutahu, orang-orang biasanya menyebut ekspresi seperti itu sebagai sok imut . Entah benar atau tidak, aku juga tidak yakin. Yang masih kuingat hanya sepotong gambar yang terekam sangat singkat. Wajahnya sedikit manyun. Bibirnya maju beberapa senti ke depan, seperti anak kecil yang sedang merajuk atau berpura-pura kesal. Bukan ekspresi yang berlebihan. Sangat tipis, sangat sebentar, nyaris hilang sebelum sempat benar-benar kupahami. Mungkin kalau aku berkedip sedikit lebih lama, momen itu sudah terlewat begitu saja. Masalahnya, aku memang tidak pernah benar-benar berani memperhatikannya secara langsung. Setiap kali kami berada dalam jarak yang cukup dekat, keberanianku justru menghilang. Aku hanya berani mencuri pandang sepersekian detik, lalu buru-buru mengalihkan mata seolah tidak ...

Apakah Dia Tahu Kalau Aku Jatuh Cinta Karena Dia Mengucir Rambutnya?

Image
Belakangan ini ada satu pikiran yang terus berputar di kepalaku. Aku sendiri tidak yakin dari mana asalnya. Mungkin hanya dugaan yang terlalu jauh. Mungkin juga sekadar permainan imajinasi yang lahir karena terlalu lama hidup di antara harapan dan ketidakpastian. Tapi bagaimana jika... ia membaca semua cerita yang kutulis? Aku tahu, pertanyaan itu terdengar berlebihan. Bahkan sebelum orang lain menyanggahnya, aku sudah lebih dulu menyangkal diriku sendiri. Rasanya terlalu kebetulan jika seseorang yang tidak pernah benar-benar berbicara denganku ternyata diam-diam mengikuti serpihan kisah yang selama berbulan-bulan kutumpahkan dalam tulisan. Namun, pikiran itu tetap saja datang. Ia muncul tanpa diundang, lalu menetap cukup lama hingga membuatku mulai menghubungkan hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak saling berkaitan. Buktinya sederhana. Beberapa hari terakhir aku kembali melihatnya menguncir rambut. Padahal sebelumnya sudah cukup lama aku tidak melihat penampilan itu. Lalu, setelah be...