Awalnya aku ragu harus memulai semua ini. Bahkan sampai sekarang pun, kalau dipikir ulang, rasanya aku masih tidak benar-benar mengerti di titik mana semuanya mulai berubah menjadi serumit ini. Karena sejujurnya, pada awalnya tidak ada niat apa-apa. Tidak ada rencana untuk menyukai seseorang. Tidak ada keinginan untuk terlibat dalam permainan perasaan yang menggantung seperti sekarang. Aku hanya sedang melihat sekeliling. Sesederhana itu. Kadang ketika suasana terlalu sunyi atau pikiranku terlalu penuh, aku memang suka memperhatikan sekitar. Melihat orang lalu-lalang. Memerhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Bukan karena penasaran pada seseorang, bukan pula sedang mencari perhatian. Hanya kebiasaan kecil untuk mengalihkan isi kepala dari kebisingannya sendiri. Lalu di tengah kebiasaan itu, aku melihatnya. Atau lebih tepatnya, aku merasa sedang dilihat. Ada sorot mata yang tertangkap sesaat ketika aku tanpa sengaja mengangkat pandangan. Dan anehnya, setiap kali ak...
Kemarin aku kembali melakukan kebiasaan yang sebenarnya sudah sering kucela sendiri. Menunggu. Bukan menunggu sesuatu yang pasti, bukan pula menunggu seseorang yang pernah berjanji akan datang. Hanya menunggu kemungkinan kecil yang diam-diam sudah menjadi bagian dari rutinitasku beberapa waktu terakhir. Beberapa kali aku melongok ke arah pintu masuk. Awalnya masih pura-pura santai. Sekilas saja, seperti orang yang kebetulan sedang memperhatikan sekitar. Tapi semakin waktu berjalan, semakin jelas bahwa aku memang sedang menunggu. Setiap kali pintu terbuka, refleks mataku langsung terangkat. Ada harapan kecil yang muncul terlalu cepat, lalu menghilang lagi ketika yang datang bukan dia. Aku mengulang itu berkali-kali. Dan anehnya, aku sadar betapa konyolnya diriku saat itu, tapi tetap melakukannya juga. Seperti seseorang yang tahu ia sedang mengulangi kesalahan lama, namun tidak benar-benar ingin berhenti. Hari-hari sebelumnya, kebiasaan itu sering berakhir dengan manis kecil. Aku me...