Selasa datang tanpa kejutan, tanpa denting kecil yang biasanya membuat dadaku berisik sejak pagi. Hari itu berjalan seperti hari-hari yang seharusnya berjalan, tenang, datar, nyaris tidak meninggalkan jejak. Aku datang, duduk, bekerja, berpindah ruangan, berbicara seperlunya. Semua berlangsung normal, setidaknya di permukaan. Tidak ada getaran berlebihan, tidak ada jantung yang tiba-tiba berlari tanpa aba-aba. Rasanya seperti menonton ulang film yang dulu sempat membuatku deg-degan, tapi kini hanya terasa seperti gambar bergerak tanpa suara. Beberapa kali dia mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kesadaranku diam-diam siaga. Aneh, karena setiap kali jarak itu mulai menipis, justru aku yang mengambil satu langkah mundur. Bukan karena tidak ingin berada di dekatnya. aku tahu itu bukan alasannya, melainkan karena aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa jika jarak itu benar-benar hilang. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang selama ini hanya kulihat dari jau...
Aku pernah berkata pada diriku sendiri bahwa aku punya terlalu banyak dialog. Kalimat-kalimat panjang, rapi, bahkan kadang terasa puitis, berputar di kepala seperti naskah drama yang siap dipentaskan kapan saja. Aku tahu persis bagaimana membuka percakapan, bagaimana menyisipkan candaan kecil, bagaimana menjaga ritme obrolan agar terasa hangat. Dalam bayanganku, semuanya berjalan mulus. Aku tidak pernah kehabisan kata. Tapi setiap kali berhadapan dengannya, semua dialog itu seperti hilang begitu saja. Kosong. Sunyi. Hanya ada jeda panjang yang tidak bisa kuisi. Aku membisu. Mulutku kelu seperti lupa bagaimana cara menyusun kata menjadi suara. Padahal beberapa menit sebelumnya, di dalam kepalaku, aku bahkan sudah menyiapkan beberapa versi percakapan. Yang santai. Yang lucu. Yang pura-pura tidak peduli. Tapi begitu dia benar-benar ada di depan mata, semua versi itu runtuh bersamaan. Tidak tersisa satu pun yang bisa kugunakan. Dan setiap kali itu terjadi, aku pulang dengan rasa yang...