Beberapa hari lalu di kantor, aku sempat berbincang dengan seorang teman. Kalau dibilang dekat, sebenarnya tidak juga. Kami bukan tipe teman yang saling bercerita tentang kehidupan pribadi atau sering menghabiskan waktu bersama. Namun kalau dibilang tidak akrab sama sekali, rasanya juga tidak tepat. Kami masih sesekali mengobrol ketika bertemu, bertukar kabar seperlunya, dan sesekali membahas pekerjaan atau hal-hal yang sedang ramai di lingkungan kampus. Hari itu obrolan kami mengalir santai seperti biasanya. Tidak ada topik khusus yang direncanakan. Hanya percakapan ringan di sela aktivitas kantor. Sampai kemudian, entah bagaimana, pembicaraan mengarah pada jenjang karier dan pengembangan akademik. Tiba-tiba ia menyarankan sesuatu yang tidak kuduga. "Kenapa nggak coba post-doctoral ?" Aku sempat diam beberapa saat. Bukan karena tidak tahu apa itu post-doctoral. Justru sebaliknya. Dulu, beberapa tahun lalu, aku pernah memiliki keinginan ke arah sana. Aku pernah membayang...
Belakangan ini ada satu kebiasaan baru yang sering kulakukan tanpa sadar. Setiap kali melewati cermin, aku pasti berhenti beberapa detik lebih lama dari biasanya. Kadang hanya sekilas. Kadang sampai berdiri cukup lama sambil memperhatikan pantulan tubuhku sendiri dari berbagai sudut. Kalau mengingat diriku beberapa bulan yang lalu, mungkin aku akan tertawa melihat kebiasaan ini. Dulu, berdiri di depan cermin bukan sesuatu yang menarik. Tidak ada yang ingin kulihat terlalu lama. Tubuhku hanya terlihat biasa saja, bahkan cenderung membuatku merasa kurang puas. Perut masih tampak buncit. Bahu belum berbentuk. Dada terlihat datar. Dan setiap kali bercermin, aku lebih sering fokus pada kekurangan dibanding apa yang sebenarnya sudah kumiliki. Namun sekarang rasanya berbeda. Bukan karena tubuhku tiba-tiba berubah menjadi sempurna. Jauh dari itu. Masih banyak bagian yang belum sesuai dengan keinginan. Masih banyak target yang belum tercapai. Tetapi ada sesuatu yang mulai terlihat: hasil dar...