Mari kita bercerita tentang kemarin sore. Sore yang sebenarnya biasa saja. Tidak ada percakapan penting. Tidak ada pengakuan. Tidak ada peristiwa besar yang layak dicatat dalam sejarah hidup seseorang. Namun entah kenapa, seperti banyak sore sebelumnya, aku pulang dengan kepala yang penuh oleh dirinya. Awalnya aku melihatnya dari kejauhan. Jam kerja hampir selesai. Orang-orang mulai merapikan barang, membereskan meja, dan bersiap meninggalkan kantor. Aku juga melakukan hal yang sama. Tidak ada niat khusus. Tidak ada rencana untuk memperhatikannya lebih lama dari biasanya. Setidaknya begitu yang ingin kuyakini. Di sela-sela kesibukan menjelang pulang itu, aku melihatnya masih beraktivitas di area yang sama. Sesekali aku merasa ia melirik ke arahku. Sesekali aku merasa ia sengaja menempatkan dirinya dalam jangkauan pandangku. Atau mungkin aku yang terlalu peka. Atau mungkin aku yang terlalu berharap. Aku sendiri tidak pernah benar-benar yakin. Yang jelas, pola itu terasa familiar. Terlal...
Oke. Kali ini aku ingin menceritakan satu hal lain tentang pertemuan kemarin sore. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, bahkan mungkin tidak penting bagi orang lain. Namun entah kenapa, sejak kemarin hal itu terus berputar di dalam kepalaku dan menolak pergi. Awalnya tidak ada rencana apa-apa. Aku hanya berada di area yang sama dengannya. Kebetulan ada tugas yang harus kuselesaikan di salah satu kubikel yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Saat itu dia sedang berbincang dengan seseorang. Dari raut wajah mereka, percakapan itu terlihat cukup serius. Setidaknya begitulah yang kutangkap dari kejauhan. Aku tidak sedang berusaha menguping. Setidaknya itulah yang terus kujelaskan pada diriku sendiri. Aku memang berada cukup dekat untuk mendengar suara mereka, tetapi bukan karena sengaja mencari tahu isi percakapan. Aku hanya sedang berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Lalu untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya lebih lama dari biasanya. Dan di situlah mas...