Skip to main content

Posts

Yang Berperang Hanya Aku

Ternyata aku tidak bisa sejahat itu. Semalam, sebelum tidur, aku masih sempat menyusun berbagai kemungkinan di dalam kepala. Berbagai skenario balasan yang terdengar hebat saat dibayangkan sendirian. Aku membayangkan diriku akan lebih dingin. Lebih cuek. Lebih sulit ditebak. Aku ingin membuatnya merasakan sedikit saja dari kebingungan yang selama ini kurasakan. Sedikit saja dari rasa cemburu yang kemarin sempat membakar dadaku ketika melihatnya terlalu akrab dengan orang lain. Tapi seperti biasanya, keberanianku selalu jauh lebih besar di dalam imajinasi daripada di dunia nyata. Begitu hari ini datang dan aku kembali melihatnya, semua rencana itu runtuh tanpa perlawanan. Aku tidak menjadi lebih dingin. Aku tidak menjadi lebih tegas. Aku bahkan tetap kikuk seperti sebelumnya. Lucu sekali. Setelah sekian lama menyusun naskah demi naskah dalam kepala, pada akhirnya aku masih menjadi diriku yang sama. Orang yang terlalu banyak berpikir dan terlalu sedikit bertindak. Hari ini aku me...
Recent posts

Konspirasi yang Berakhir dengan Tawa

Ada satu fakta yang sampai sekarang masih membuatku ingin tertawa setiap kali mengingatnya. Bahkan mungkin ini adalah salah satu penemuan paling membagongkan dalam seluruh penyelidikanku yang tidak pernah diminta siapa pun. Jadi begini. Beberapa hari terakhir aku cukup yakin bahwa ada seseorang yang sengaja digunakan untuk membuatku cemburu. Setidaknya itulah teori yang perlahan tumbuh di kepalaku. Teori yang awalnya hanya dugaan kecil, lalu berkembang menjadi berbagai kemungkinan yang saling bertumpuk. Setiap kali aku melihat mereka berbicara, setiap kali aku melihat kedekatan yang terlihat terlalu santai, setiap kali aku menangkap adegan-adegan kecil yang menurutku mencurigakan, otakku langsung bekerja. Mungkin memang beginilah nasib orang yang terlalu banyak waktu untuk berpikir. Satu kebetulan bisa berubah menjadi sebuah narasi. Dua kebetulan bisa menjadi teori. Tiga kebetulan sudah cukup untuk membuatku membentuk tim investigasi seorang diri. Dan karena aku memang tidak bi...

Mungkin Aku Sedang Cemburu

Jangan-jangan memang ini yang namanya cemburu. Aku baru menyadarinya malam ini, setelah semua kejadian hari ini selesai dan pikiranku mulai memutar ulang setiap adegan yang sempat kulewati. Karena saat semuanya berlangsung, aku terus meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Aku berkali-kali berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak peduli. Aku tidak berhak peduli. Aku juga tidak ingin peduli. Tapi tubuh kadang lebih jujur daripada pikiran. Dan ada sesuatu yang terasa tidak nyaman sejak siang tadi. Awalnya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Aku melihatnya berbicara dengan seseorang. Salah satu orang yang cukup populer di kantor. Mereka tampak akrab. Bercakap-cakap dengan santai. Tertawa. Bertahan dalam percakapan yang cukup lama hingga tanpa sadar aku beberapa kali memastikan apakah mereka sudah selesai atau belum. Lucunya, saat itu aku tidak merasa sedang memperhatikan mereka. Aku bahkan masih bisa bekerja seperti biasa. Masih bisa melakukan aktivitasku sendiri. Masih bi...

Kalau dia memang ingin, kenapa harus aku lagi yang berjalan lebih dulu?

Hari ini sebenarnya semesta terlihat cukup murah hati. Kalau aku mau jujur, ada banyak kesempatan yang datang begitu saja. Kesempatan yang beberapa minggu lalu mungkin akan kuanggap sebagai hadiah besar. Kesempatan yang selama ini selalu kubayangkan ketika menyusun berbagai skenario dalam kepalaku sebelum tidur. Dia sendirian. Tidak dikelilingi teman-temannya seperti biasanya. Tidak sedang sibuk bercanda dengan kelompoknya. Tidak sedang terburu-buru pergi ke tempat lain. Bahkan beberapa kali, menurut penafsiranku yang mungkin benar atau mungkin juga hanya hasil halusinasi seorang yang sedang jatuh hati, dia terlihat berusaha menarik perhatianku. Berada di jalur yang mudah kulihat. Muncul di tempat-tempat yang sulit kuabaikan. Sesekali seperti memberi ruang agar aku bisa mendekat jika memang ingin mendekat. Dan sebenarnya aku memang ingin. Sungguh. Aku bahkan sudah memiliki begitu banyak skenario untuk situasi seperti itu. Aku tahu harus membuka percakapan dengan apa. Aku tah...

Menjadi Sangat Berani dalam Imajinasi

Kalau biasanya dia yang datang terlambat, kali ini justru aku yang terlambat. Bukan karena sengaja ingin membalas perlakuannya. Bukan juga karena ingin terlihat tidak peduli. Justru alasannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih manusiawi, aku kelelahan. Semalaman aku tidak benar-benar tidur. Setiap kali berhasil terlelap, mimpi buruk datang seperti tamu yang tidak diundang. Membuatku terbangun berkali-kali dengan dada sesak dan pikiran yang masih dipenuhi sisa-sisa kecemasan yang bahkan tidak bisa kujelaskan asalnya dari mana. Akhirnya, sebelum berangkat, aku memutuskan untuk tidur sebentar. Hanya sebentar, kataku pada diri sendiri. Ternyata cukup lama untuk membuat jadwalku berantakan. Di perjalanan, aku sudah bisa menebak konsekuensinya. Akan ada banyak hal yang terlewat. Banyak momen yang biasanya tanpa sadar kutunggu. Banyak kesempatan untuk sekadar melihatnya datang, melihat bagaimana ia memulai harinya, atau menangkap tingkah-tingkah kecil yang sering kali menjadi bahan piki...

Aku Hanya Sedang Berusaha Bertahan dari Kelelahan yang Terlalu Panjang

Kemarin sebenarnya aku sudah hampir menyerah. Sejak pagi, suasana hatiku memang tidak sedang baik-baik saja. Ada terlalu banyak hal yang memenuhi kepala. Terlalu banyak pikiran yang datang bersamaan hingga sulit dibedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya ketakutan yang kubesarkan sendiri. Stres yang beberapa waktu terakhir menumpuk perlahan mulai menunjukkan bentuknya. Bukan ledakan besar yang dramatis, melainkan kelelahan panjang yang membuat segala sesuatu terasa lebih berat dari biasanya. Dalam keadaan seperti itu, entah kenapa aku berharap bisa melihatnya. Harapan yang sebenarnya terdengar konyol jika dipikirkan dengan logika yang sehat. Karena apa yang bisa berubah hanya dengan melihat seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar berbicara denganku? Apa yang bisa diperbaiki dari segala kekacauan dalam pikiranku hanya dengan kehadirannya? Tapi begitulah kenyataannya. Aku tetap berharap. Mungkin karena selama ini aku menjadikan kehadirannya sebagai semacam j...

Hari Ini Ternyata Tanggal Merah. Hari Lahirnya Pancasila

 Hari ini ternyata tanggal merah. Hari Lahir Pancasila. Tema tahun 2026 adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.” Lucunya, aku baru benar-benar merasakan kalau hari ini libur justru setelah semuanya selesai. Pagi tadi aku sudah berangkat sejak jam enam. Seperti biasa, perjalanan menuju kantor memakan waktu hampir satu jam. Jalanan masih belum terlalu ramai, langit masih menyisakan warna pagi yang pucat, dan udara terasa lebih dingin dibanding hari-hari biasa. Selama di perjalanan aku hanya fokus menyetir, tidak terlalu memikirkan apa pun selain memastikan datang tepat waktu. Dan memang, aku sampai tepat waktu. Bahkan sebenarnya kurang lima menit sebelum acara dimulai. Saat tiba, area kampus masih belum terlalu ramai. Beberapa orang baru berdatangan satu per satu. Ada yang berjalan cepat sambil merapikan pakaian dinas, ada yang masih sempat bercanda kecil dengan teman-temannya. Aku seperti biasa hanya berjalan pelan dan memilih berdiri di tempat yang menuru...