Aku melakukannya tanpa banyak upacara. Tanpa drama. Tanpa pengumuman dalam hati. Hanya satu gerakan kecil, membuka profilnya, melihat tombol yang selama ini bertuliskan “mengikuti”, lalu menekannya hingga kembali menjadi netral. Selesai. Sesederhana itu. Aku menghapus statusku sebagai pengikutnya. Bukan karena marah. Bukan juga karena ingin membuatnya sadar atau memancing reaksi. Kalau pun ada yang tersisa, itu lebih mirip lelah daripada kecewa. Lelah menunggu balasan yang tak kunjung datang setelah pesan terakhirku. Lelah menebak-nebak arti diamnya. Lelah menjadi orang yang selalu lebih dulu bergerak, sementara yang lain tetap berdiri di tempat. Pesanku sudah dibaca. Tanda kecil itu masih tertera jelas. Tapi setelah itu, sunyi. Tak ada satu huruf pun yang kembali. Dan dua hari terasa cukup untuk membuatku sadar bahwa mungkin aku sedang berbicara pada ruang kosong. Padahal, jauh di dalam hati, aku masih yakin ini bukan sepenuhnya sepihak. Ada tatapan-tatapan yang dulu terasa terlal...
Ada jeda panjang sebelum akhirnya aku memberanikan diri membuka kembali jendela percakapan itu. Jeda yang terasa jauh lebih panjang dari hitungan hari yang sebenarnya. Pesan sebelumnya sudah dibaca, tanda kecil yang biasanya cukup untuk memberi harapan, namun tak pernah diikuti balasan. Hanya tanda sunyi yang menggantung seperti titik-titik yang tak kunjung berubah menjadi kalimat. Awalnya aku mencoba pura-pura tidak peduli. Meyakinkan diri bahwa aku pun sering melakukan hal yang sama pada orang lain: membaca pesan, lalu menunda membalasnya tanpa alasan yang jelas. Tapi entah kenapa, ketika berada di posisi yang berlawanan, logika itu tiba-tiba terasa rapuh. Ada rasa tidak enak yang mengendap. Rasa yang aneh, seperti berdiri terlalu lama di depan pintu rumah orang lain tanpa tahu apakah harus mengetuk lagi atau pulang saja. Namun pada akhirnya aku mengetuk lagi. Aku memaksa diriku menekan tombol kirim sekali lagi, sambil mencoba mematikan rasa bersalah karena harus memulai percakapa...