Lucu sekali rasanya ketika aku sadar bahwa aku ternyata terlambat membuat skenario. Baru saja beberapa waktu lalu aku sibuk menertawakan diriku sendiri karena mulai membayangkan menghadirkan “orang ketiga” dalam kisah absurd ini, berharap ada sedikit kekacauan yang bisa memancing kejelasan dari hubungan kami yang menggantung, ternyata tanpa kusadari dia lebih dulu melakukannya. Dan ketika menyadari itu, aku malah ingin tertawa lagi. Karena ternyata kami sama-sama aneh. Belakangan aku mulai memperhatikan bagaimana dia beberapa kali terlihat lebih dekat dengan orang lain. Bukan sesuatu yang terlalu mencolok memang. Bahkan kalau orang lain melihatnya, mungkin semuanya tampak biasa saja. Tapi entah kenapa aku bisa merasakan ada sedikit “usaha” di sana. Seolah dia ingin sesuatu terlihat olehku. Mungkin dia berpikir aku akan terpengaruh. Mungkin dia berharap aku akan berubah sikap. Menjadi lebih berani. Atau mungkin malah cemburu. Tapi anehnya, aku tidak merasakan apa-apa terhadap ora...
Sebelum mulai bercerita, sepertinya aku harus tertawa dulu. Benar-benar tertawa. Bukan karena ada sesuatu yang lucu sekali sampai membuat perut sakit, tapi lebih karena aku mulai sadar betapa anehnya jalan pikiranku akhir-akhir ini. Kadang aku merasa hidupku berubah seperti naskah drama murahan yang ditulis oleh seseorang yang terlalu kesepian, lalu mulai menciptakan konflik sendiri agar ceritanya tetap berjalan. Dan sepertinya sekarang aku menemukan ide baru untuk kisah ini. Aku akan memunculkan orang ketiga. Lucu, kan? Bahkan hubungan kami saja belum jelas apa bentuknya, belum ada pengakuan apa-apa, belum pernah ada percakapan yang benar-benar jujur, tapi aku sudah sibuk memikirkan tokoh ketiga seperti pasangan yang sedang menguji kesetiaan satu sama lain. Kadang aku sendiri bingung harus menertawakan siapa. Diriku? Atau perasaan absurd ini? Jadi begini. Belakangan ada anak magang baru. Tidak terlalu dekat sebenarnya, hanya beberapa kali datang mendekatiku untuk bertanya i...