Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar kita pahami, meski sudah berulang kali mencoba mencari jawabannya. Sampai sekarang, aku pun tidak tahu apakah ada kesalahan yang pernah kami lakukan pada mereka. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kata-kata tajam yang kuingat pernah terucap. Semuanya terasa biasa saja, sampai suatu hari hidup berubah, tepat setelah ibuku meninggal. Sejak saat itu, pelan-pelan kami seperti bergeser ke pinggir lingkaran keluarga. Awalnya tidak terlalu terasa. Mungkin karena kami juga sedang sibuk berduka, belajar menerima kehilangan, dan menata ulang hidup tanpa sosok yang dulu menjadi pengikat banyak hal. Tapi lama-lama, ada pola yang mulai terlihat. Kami tidak lagi diajak dalam kegiatan keluarga. Bukan cuma sekali dua kali. Berkali-kali. Setiap ada acara, entah kumpul sederhana, hajatan, atau sekadar makan bersama, kami sering baru tahu setelah semuanya lewat. Kadang dari cerita orang lain, kadang tanpa sengaja melihat foto yang bereda...
Pernah memperhatikan bagaimana orang mengambil keputusan? Ada yang terlihat begitu mantap. Tidak banyak bertanya, tidak terlalu lama menimbang. Begitu merasa itu yang terbaik, langsung melangkah. Sementara yang lain tampak seperti berdiri di persimpangan terlalu lama, maju takut salah, mundur takut menyesal. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa memilih hanya bertemu satu tipe manusia. Dalam satu ruang kerja, lingkar pertemanan, bahkan keluarga, selalu ada dua kutub itu, mereka yang tegas dalam menentukan arah hidupnya, dan mereka yang masih bernegosiasi dengan pikirannya sendiri. Dan sering kali, tanpa sadar, perbedaan itu mengajarkan sesuatu. Ada rasa kagum ketika melihat seseorang yang berani mengambil keputusan besar. Pindah kerja tanpa ragu. Menolak kesempatan yang tidak sesuai nilai hidupnya. Atau memilih jalan yang tidak populer, tapi terasa benar baginya. Bukan berarti mereka tidak takut. Justru kemungkinan besar mereka juga dihantui pertanyaan yang sama sepe...