Lucu ya. Ketika banyak orang mengeluhkan hari Senin, aku justru diam-diam menunggunya datang. Mereka membenci alarm yang berbunyi terlalu pagi, kemacetan jalan yang kembali penuh, tumpukan pekerjaan yang mulai menggunung, dan rutinitas yang kembali mengikat setelah libur sehari. Hari Senin bagi banyak orang adalah awal dari kelelahan. Sedangkan bagiku, hari Senin adalah kemungkinan. Kemungkinan untuk kembali melihatnya. Mungkin terdengar berlebihan. Bahkan aku sendiri kadang menertawakan cara pikirku yang seperti ini. Hanya karena satu orang, kalender seolah memiliki makna yang berbeda. Hari-hari yang biasanya terasa biasa saja mendadak memiliki urutan yang kutunggu. Sabtu, Minggu, lalu Senin. Seakan-akan dua hari libur itu hanyalah jeda yang harus kulewati sebelum akhirnya semesta kembali mempertemukan kami. Padahal aku tahu, ketika hari Senin benar-benar datang, belum tentu ada sesuatu yang istimewa. Kemungkinan besar kami hanya akan saling berpapasan. Mungkin hanya bertemu beberapa ...
Kadang-kadang, kalau sedang sendirian dan pikiranku mulai mengembara ke mana-mana, aku justru lebih sibuk menyalahkan diriku sendiri daripada mempertanyakan dirinya. Aku mencoba mengingat kembali semua kejadian yang pernah kami lewati. Semua tatapan yang kebetulan bertemu. Semua kesempatan yang kubiarkan lewat begitu saja. Semua momen ketika sebenarnya salah satu dari kami mungkin hanya perlu mengucapkan satu kalimat sederhana. "Halo." Sesederhana itu. Namun sampai hari ini, kalimat sesederhana itu tetap tidak pernah lahir. Lalu aku mulai menyusun daftar panjang di dalam kepala. Daftar yang semakin lama semakin bertambah, seolah-olah otakku sedang menjadi penyidik bagi kasus yang tak pernah memiliki saksi. Mungkin penyebabnya adalah aku sendiri. Mungkin karena aku sudah tidak lagi mengikuti akun media sosialnya. Mungkin itu membuatnya mengira aku sudah tidak ingin mengenalnya lagi. Atau mungkin semuanya bermula ketika akunku diblokir. Entah apa alasannya. Bisa jadi memang ada...