Ada rindu yang tidak boleh disuarakan. Bukan karena tidak tulus. Bukan karena tidak cukup besar. Justru mungkin karena terlalu besar hingga aku takut jika ia keluar dari dadaku, semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa kukendalikan. Maka aku memilih diam. Membiarkannya tinggal di dalam kepala, berputar-putar di antara ingatan dan harapan yang tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk berlabuh. Aku masih mengingat kapan semua ini mulai terasa berbeda. Awalnya hanya pertemuan-pertemuan biasa. Tatapan yang kebetulan bertemu. Kehadiran yang berulang kali muncul di tempat yang sama. Tidak ada yang istimewa. Setidaknya itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri saat itu. Namun semakin lama, semakin banyak hal yang tidak lagi terasa sebagai kebetulan. Atau mungkin aku saja yang mulai mencari makna di tempat-tempat yang seharusnya dibiarkan kosong. Aku tidak tahu. Sampai hari ini pun aku tidak pernah benar-benar tahu. Yang kutahu hanya satu: perlahan-lahan ak...
Semalam rapat di masjid berlangsung lebih ramai dari biasanya. Awalnya suasana berjalan sebagaimana rapat-rapat rutin pada umumnya. Pembahasan berpusat pada rencana melanjutkan pembangunan masjid yang sudah cukup lama terhenti. Ada pembicaraan tentang kebutuhan dana, tahapan pembangunan, hingga harapan agar bangunan yang selama ini mangkrak bisa kembali dikerjakan. Aku sendiri datang tanpa ekspektasi apa pun. Kupikir rapat hanya akan membahas persoalan fisik masjid, lalu selesai sebagaimana biasanya. Beberapa orang menyampaikan pendapat, yang lain mendengarkan. Suasananya cukup tenang. Tidak ada perdebatan berarti. Namun menjelang acara ditutup, tiba-tiba muncul satu usulan yang membuat arah pembicaraan berubah. Ada seseorang yang mengangkat tangan dan mengusulkan reformasi kepengurusan takmir masjid. Awalnya usulan itu disampaikan dengan nada yang hati-hati. Bahkan terkesan malu-malu. Ruangan sempat hening beberapa saat. Tidak banyak yang langsung menanggapi. Seolah semua orang se...