Menunggu Momentum dan Kehilangan Kesempatan
Kemarin aku gagal bilang cinta. Bukan karena tidak punya kesempatan sama sekali. Mungkin aku sendiri yang terlalu banyak memikirkan bagaimana seharusnya sebuah pengakuan dilakukan. Aku menunggu momentum. Menunggu suasana yang tepat. Menunggu percakapan yang tepat. Menunggu ada celah yang terasa pas. Menunggu semuanya terasa natural, seolah-olah ada satu momen yang memang sengaja disiapkan untuk mengatakan apa yang selama ini kusimpan. Ternyata momentum seperti itu tidak datang. Atau mungkin sebenarnya ada, hanya aku yang tidak berani menciptakannya sendiri. Pada akhirnya waktu berjalan begitu saja. Percakapan selesai. Kesempatan lewat. Aku pulang dengan kalimat yang masih tersimpan di kepala. Kenapa tadi tidak bilang saja? Memang susah kalau punya kebiasaan seperti aku. Terlalu percaya bahwa segala sesuatu harus terjadi pada momentum yang tepat. Padahal mungkin dalam beberapa hal, momentum memang tidak perlu ditunggu. Kita sendiri yang harus menciptakannya. Kalau terus menunggu suasana...