Ada satu rasa yang sering datang diam-diam ketika aku merasa sedang tidak baik-baik saja secara spiritual, malu. Bukan malu karena dilihat orang lain, tapi malu pada diri sendiri. Malu karena beberapa waktu lalu rasanya begitu semangat, begitu yakin, begitu rajin, lalu sekarang terasa biasa saja. Bahkan cenderung menurun. Iman memang katanya naik turun. Aku sudah sering mendengar itu. Tapi ketika benar-benar mengalaminya, tetap saja ada perasaan tidak nyaman. Saat sedang di atas, rasanya ringan sekali melakukan ibadah. Bangun malam tidak terlalu berat. Membaca Al-Qur’an terasa mengalir. Hati mudah tersentuh. Lalu entah kapan turunnya dimulai, semua jadi terasa lebih sulit. Bukan ditinggalkan, tapi kehilangan rasa. Dan di situlah malu itu muncul. Aku mulai membandingkan diriku yang sekarang dengan diriku yang kemarin. “Dulu bisa, kok sekarang tidak?” “Dulu semangat, kok sekarang malas?” Pertanyaan-pertanyaan itu seperti bisikan yang tidak berhenti. Seolah-olah aku sedang gagal menjad...
Ada perasaan aneh yang kadang muncul setiap kali aku berdiri di masjid, perasaan seperti sedang dilihat, diukur, dibandingkan, padahal mungkin tidak ada siapa-siapa yang benar-benar memperhatikan. Saf sudah mulai rapi, iqamah belum dikumandangkan, beberapa orang berdiri lebih dulu untuk salat sunnah qobliyah. Aku melihat mereka dengan tenang, gerakan mereka mantap, seolah sudah terbiasa. Sementara aku? Masih duduk. Menunggu. Berpura-pura sibuk dengan tasbih atau menunduk terlalu lama. Bukan karena tidak tahu keutamaannya. Bukan juga karena tidak mau. Justru karena tahu, aku merasa semakin tertinggal. Ada dorongan dalam hati untuk ikut berdiri, mengambil dua rakaat sebelum fardhu, atau menambah ba’diyah setelahnya. Tapi setiap kali ingin melangkah, ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Seperti ada sorot mata yang mengawasi, meski logikaku tahu itu hanya pikiranku saja. Aku sering bertanya, kenapa bisa begitu? Kenapa ibadah yang seharusnya menjadi ruang pribadi antara aku dan Tu...