Skip to main content

Posts

Ramadhan dan Ketakutan Akan Waktu yang Terus Berkurang

Ramadhan tahun ini datang dengan rasa yang agak berbeda. Bukan karena suasananya berubah, bukan juga karena rutinitasnya terlalu jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Masjid tetap ramai menjelang tarawih, suara anak-anak tetap terdengar berlarian di halaman, dan pedagang takjil masih memenuhi sudut-sudut jalan seperti biasanya. Tapi entah kenapa, di tengah semua yang terasa sama itu, ada satu perasaan yang diam-diam ikut hadir, kesadaran bahwa waktu terus berjalan, dan aku sendiri sudah semakin dekat dengan usia kepala lima. Kadang kesadaran itu datang tiba-tiba, tanpa direncanakan. Misalnya ketika melihat teman lama yang kini rambutnya mulai dipenuhi uban. Atau ketika bercermin pagi hari dan menemukan bahwa garis di wajah tidak lagi sehalus dulu. Hal-hal kecil seperti itu sebenarnya biasa saja. Semua orang mengalaminya. Tapi entah mengapa, di bulan Ramadhan, bulan yang sering membuat orang lebih banyak merenung, perubahan kecil itu terasa lebih jelas. Aku sering duduk sebentar setelah ...
Recent posts

Ramadhan di Tengah Tekanan Pekerjaan

Beberapa hari terakhir Ramadhan terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Pagi datang, siang lewat, lalu tiba-tiba sudah sore. Di sela-sela itu, layar laptop hampir tidak pernah benar-benar mati. File terbuka, email masuk, pesan kerja berdatangan. Kadang aku baru sadar waktu sudah hampir maghrib ketika kepala mulai terasa berat dan mata terlalu lama menatap layar. Ada satu hal yang sering terlintas di kepalaku, mungkin memang begini caraku bekerja. Sejak dulu aku sering menjadi tipe orang yang baru benar-benar bergerak ketika deadline sudah dekat. Bukan karena sengaja menunda, tapi entah kenapa energi justru muncul ketika waktu mulai menipis. Saat orang lain sudah menyelesaikan tugas lebih awal, aku masih berkutat dengan kerangka, catatan kecil, dan pikiran yang belum sepenuhnya rapi. Lalu ketika tenggat semakin dekat, barulah semuanya terasa seperti tersusun sendiri. Fokus datang tiba-tiba, ide mengalir, dan pekerjaan selesai dalam waktu yang relatif singkat. Di hari-hari biasa, p...

Sedekah yang Masih Penuh Perhitungan

Beberapa waktu ini aku ikut beberapa program sedekah. Ada sedekah untuk berbuka anak yatim, ada program dari kantor yang menggalang dana Ramadan, lalu di desa juga ada kotak sumbangan yang diedarkan dari rumah ke rumah. Namaku tercatat di beberapa daftar. Tanganku ikut bergerak. Uang berpindah. Secara kasat mata, aku termasuk yang “ikut berpartisipasi”. Tapi jujur saja, di balik semua itu, ada suara kecil yang tidak selalu mulia. Setiap kali ada ajakan sedekah baru, pikiranku otomatis mulai menghitung. Sudah berapa yang keluar minggu ini? Bulan ini? Jangan-jangan kebanyakan? Nanti cukup tidak untuk kebutuhan lain? Bahkan kadang aku menunda beberapa menit hanya untuk memastikan nominalnya “aman”. Tidak terlalu kecil agar tidak malu, tapi juga tidak terlalu besar agar tidak terasa berat. Lucu ya. Sedekah yang seharusnya ringan justru jadi penuh kalkulasi. Saat ikut sedekah berbuka untuk anak yatim, hatiku hangat membayangkan mereka makan dengan tenang saat maghrib. Tapi di saat yang ...

Mengurai Rasa Malu karena Iman yang Naik-Turun

Ada satu rasa yang sering datang diam-diam ketika aku merasa sedang tidak baik-baik saja secara spiritual, malu. Bukan malu karena dilihat orang lain, tapi malu pada diri sendiri. Malu karena beberapa waktu lalu rasanya begitu semangat, begitu yakin, begitu rajin, lalu sekarang terasa biasa saja. Bahkan cenderung menurun. Iman memang katanya naik turun. Aku sudah sering mendengar itu. Tapi ketika benar-benar mengalaminya, tetap saja ada perasaan tidak nyaman. Saat sedang di atas, rasanya ringan sekali melakukan ibadah. Bangun malam tidak terlalu berat. Membaca Al-Qur’an terasa mengalir. Hati mudah tersentuh. Lalu entah kapan turunnya dimulai, semua jadi terasa lebih sulit. Bukan ditinggalkan, tapi kehilangan rasa. Dan di situlah malu itu muncul. Aku mulai membandingkan diriku yang sekarang dengan diriku yang kemarin. “Dulu bisa, kok sekarang tidak?” “Dulu semangat, kok sekarang malas?” Pertanyaan-pertanyaan itu seperti bisikan yang tidak berhenti. Seolah-olah aku sedang gagal menjad...

Merasa Tertinggal Secara Spiritual

Ada perasaan aneh yang kadang muncul setiap kali aku berdiri di masjid, perasaan seperti sedang dilihat, diukur, dibandingkan, padahal mungkin tidak ada siapa-siapa yang benar-benar memperhatikan. Saf sudah mulai rapi, iqamah belum dikumandangkan, beberapa orang berdiri lebih dulu untuk salat sunnah qobliyah. Aku melihat mereka dengan tenang, gerakan mereka mantap, seolah sudah terbiasa. Sementara aku? Masih duduk. Menunggu. Berpura-pura sibuk dengan tasbih atau menunduk terlalu lama. Bukan karena tidak tahu keutamaannya. Bukan juga karena tidak mau. Justru karena tahu, aku merasa semakin tertinggal. Ada dorongan dalam hati untuk ikut berdiri, mengambil dua rakaat sebelum fardhu, atau menambah ba’diyah setelahnya. Tapi setiap kali ingin melangkah, ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Seperti ada sorot mata yang mengawasi, meski logikaku tahu itu hanya pikiranku saja. Aku sering bertanya, kenapa bisa begitu? Kenapa ibadah yang seharusnya menjadi ruang pribadi antara aku dan Tu...

Antara Target Khatam dan Realita Rasa Malas

Setiap awal Ramadan, aku selalu datang dengan daftar niat yang rapi. Tahun ini harus lebih baik. Tahun ini minimal satu kali khatam. Bahkan kalau bisa lebih. Semangat itu biasanya membuncah di malam pertama, mushaf terasa lebih ringan di tangan, huruf-huruf seperti menyambut dengan ramah, dan hati penuh keyakinan bahwa semuanya akan berjalan lancar. Tapi entah kenapa, memasuki hari-hari berikutnya, ritmenya mulai berubah. Kesibukan menyelip pelan-pelan. Rasa lelah datang tanpa permisi. Kadang setelah tarawih tubuh hanya ingin rebah. Kadang selepas sahur mata terasa terlalu berat untuk sekadar membuka satu halaman lagi. Dan tahu-tahu, hari sudah bertambah, sementara bacaanku belum banyak bergerak. Menyedihkan sekali rasanya ketika aku sadar, bahkan Al-Baqarah pun belum selesai. Setiap kali membuka mushaf dan melihat penanda terakhir berhenti di ayat yang itu-itu saja, ada rasa malu yang sulit dijelaskan. Target di kepala terasa begitu tinggi, tapi langkah di kaki begitu lambat. Aku m...

Tarawih yang Tidak Selalu Khusyuk

Tarawih malam itu tidak sepenuhnya tenang. Sejak rakaat pertama, suara anak-anak sudah lebih dulu memenuhi sudut-sudut masjid. Ada yang berlari kecil di sela-sela saf, ada yang tertawa terlalu lepas, ada juga yang sibuk berbisik sambil menahan cekikikan. Di barisan belakang, seorang anak batuk berkali-kali, batuk yang jujur, yang tidak bisa ditahan, yang justru terdengar lebih nyata daripada lantunan ayat yang mengalun dari pengeras suara. Aku berdiri di tengah saf, mencoba fokus. Takbir, rukuk, sujud. Tapi konsentrasiku pecah-pecah seperti kaca tipis. Setiap kali imam membaca dengan nada panjang dan khidmat, selalu saja ada suara kecil yang menyelip. Sandal yang diseret. Botol minum yang jatuh. Tangis yang tiba-tiba pecah lalu segera diredam ibunya. Di sela rakaat keempat, suara imam berubah. Bukan saat membaca ayat, melainkan setelah salam pendek yang menjadi jeda. Dengan nada yang terdengar menahan kesal, beliau menegur anak-anak yang ramai. Kalimatnya tegas. Tajam. Meminta orang ...