Sampai hari ini aku masih suka tertawa sendiri kalau mengingat kejadian kemarin. Seperti yang pernah kuceritakan berkali-kali sebelumnya, dia seolah selalu menemukan cara agar tetap berada dalam radar penglihatanku. Kadang terang-terangan, kadang begitu halus hingga aku sendiri bingung apakah memang sedang terjadi sesuatu atau hanya pikiranku yang terlalu rajin menyusun cerita. Yang paling sering terjadi justru menjelang jam pulang. Aku pernah bercerita bagaimana beberapa kali aku sengaja menunda pulang hanya karena dia dan teman-temannya sedang duduk di kursi dekat pintu keluar. Mereka mengobrol santai, memainkan ponsel, sesekali tertawa. Sementara aku justru sibuk mencari pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hanya agar tidak perlu melewati mereka. Rasanya canggung sekali. Bukan karena takut bertemu. Justru karena terlalu ingin bertemu. Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa jika harus berjalan melewatinya dari jarak yang begitu dekat. Maka aku memilih me...
Anehnya, justru aku yang memilih menghindar ketika kami bertemu. Bukan dia. Aku. Dan itu kulakukan dengan sadar, dengan segala tenaga yang kumiliki. Aku menjaga jarak sejauh yang masih mungkin dilakukan tanpa terlihat mencurigakan. Aku mengalihkan pandangan. Aku menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Aku mencari alasan untuk tidak terlalu sering berada dalam radius yang sama dengannya. Bukan karena aku ingin menjauhinya. Justru karena aku terlalu menyukainya. Ada hal-hal yang semakin dekat justru semakin sulit dikendalikan. Seperti api kecil yang awalnya hanya menghangatkan, tetapi jika dibiarkan terus menyala bisa membakar seluruh isi rumah. Aku takut perasaan ini menjadi seperti itu. Sudah berkali-kali aku mencoba menyangkalnya. Sudah berkali-kali aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kekaguman sesaat, hanya rasa penasaran, hanya kebiasaan karena terlalu sering melihat wajah yang sama setiap hari. Tetapi rasanya aku sudah terlalu lelah untuk berbohong kepada diri sendiri. Aku me...