Rabu datang dengan cara yang aneh, terlalu sunyi, terlalu kosong, seperti ada sesuatu yang sengaja dihilangkan dari rutinitas yang mulai terbiasa kujalani. Aku tidak menemukannya hari itu. Sama sekali. Bahkan bayangannya pun tidak. Beberapa kali tanpa sadar mataku menyisir ruangan, lorong, sudut-sudut yang biasanya pernah menyimpan jejak keberadaannya. Tempat-tempat yang dulu terasa biasa saja kini seperti memiliki kemungkinan. Tapi hari itu, semuanya kosong. Tidak ada sosok yang tiba-tiba lewat di belakangku. Tidak ada gerakan kecil yang mencuri perhatian. Tidak ada permainan absurd yang diam-diam kutunggu meski selalu kusingkal keberadaannya. Aku mencoba bersikap biasa. Seolah ketidakhadirannya bukan sesuatu yang perlu dipikirkan. Tapi semakin siang berjalan, semakin aku sadar bahwa pikiranku terus mencarinya. Diam-diam. Tanpa izin. Entah di mana dia berada. Kalimat itu terus berputar di kepalaku seperti lagu yang tak selesai. Aku tidak tahu apakah dia memang tidak datang, atau ...
Selasa datang tanpa kejutan, tanpa denting kecil yang biasanya membuat dadaku berisik sejak pagi. Hari itu berjalan seperti hari-hari yang seharusnya berjalan, tenang, datar, nyaris tidak meninggalkan jejak. Aku datang, duduk, bekerja, berpindah ruangan, berbicara seperlunya. Semua berlangsung normal, setidaknya di permukaan. Tidak ada getaran berlebihan, tidak ada jantung yang tiba-tiba berlari tanpa aba-aba. Rasanya seperti menonton ulang film yang dulu sempat membuatku deg-degan, tapi kini hanya terasa seperti gambar bergerak tanpa suara. Beberapa kali dia mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kesadaranku diam-diam siaga. Aneh, karena setiap kali jarak itu mulai menipis, justru aku yang mengambil satu langkah mundur. Bukan karena tidak ingin berada di dekatnya. aku tahu itu bukan alasannya, melainkan karena aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa jika jarak itu benar-benar hilang. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang selama ini hanya kulihat dari jau...