Skip to main content

Posts

Patah Hati Yang Tidak Pernah Benar-Benar Diakui Sebagai Patah Hati

Lucunya, kebiasaan itu masih tertinggal seperti refleks yang tidak sempat ikut pamit. Setiap kali membuka media sosial, jemariku seperti tahu jalan sendiri, mengetik namanya, membuka profilnya, lalu berhenti di halaman yang sama, terkunci, sunyi, tak memberi apa-apa. Tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada yang bisa dipahami. Hanya foto profil kecil dan ruang kosong yang terasa terlalu luas untuk sesuatu yang sebenarnya begitu sederhana. Aku tahu tak ada gunanya. Aku juga tahu aku tidak benar-benar berharap menemukan sesuatu. Tidak ada harapan yang menunggu di sana. Tapi tetap saja aku mampir. Seperti seseorang yang lewat di depan rumah lama, padahal sudah tahu penghuninya pindah entah ke mana. Bukan ingin mengetuk pintu. Hanya ingin memastikan rumah itu masih berdiri. Dan setiap kali selesai, rasanya datar saja. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada rasa sakit yang dramatis. Hanya semacam keheningan kecil yang cepat berlalu, seperti menutup aplikasi yang tidak sengaja terbuka. Mungkin ...
Recent posts

Pesan Itu Akhirnya Dibaca. Hari Minggu. Tengah Malam

Pesan itu akhirnya dibaca. Hari Minggu. Tengah malam. Seperti biasa, aku tidak benar-benar tidur nyenyak. Ada kebiasaan aneh yang muncul sejak semuanya jadi serba tidak jelas: sesekali terbangun, membuka layar ponsel, mengecek tanpa harapan besar tapi juga tanpa keberanian untuk benar-benar tak peduli. Dan di antara sisa kantuk yang menggantung, aku melihat tanda itu, “dibaca”. Jumat aku mengirimnya. Minggu tengah malam baru dibuka. Entah kenapa, justru bukan rasa marah yang muncul. Bukan juga lega. Lebih ke arah… kosong yang pelan-pelan mengembang. Seperti balon yang tak diisi udara, tapi tetap membesar karena tekanan dari dalam. Dan yang lebih membuat pikiranku berlari ke mana-mana adalah satu hal, sekarang profilku sudah privat. Bukan memblokirnya. Aku tidak sekejam itu. Hanya mengembalikan semuanya ke mode semula, tertutup. Seolah aku sedang menata ulang ruang pribadiku. Tapi kalau jujur, ada sedikit gerakan defensif di sana. Seperti ingin bilang, “Kalau kamu bisa diam, aku ju...

Berhenti Mengikuti

Aku melakukannya tanpa banyak upacara. Tanpa drama. Tanpa pengumuman dalam hati. Hanya satu gerakan kecil, membuka profilnya, melihat tombol yang selama ini bertuliskan “mengikuti”, lalu menekannya hingga kembali menjadi netral. Selesai. Sesederhana itu. Aku menghapus statusku sebagai pengikutnya. Bukan karena marah. Bukan juga karena ingin membuatnya sadar atau memancing reaksi. Kalau pun ada yang tersisa, itu lebih mirip lelah daripada kecewa. Lelah menunggu balasan yang tak kunjung datang setelah pesan terakhirku. Lelah menebak-nebak arti diamnya. Lelah menjadi orang yang selalu lebih dulu bergerak, sementara yang lain tetap berdiri di tempat. Pesanku sudah dibaca. Tanda kecil itu masih tertera jelas. Tapi setelah itu, sunyi. Tak ada satu huruf pun yang kembali. Dan dua hari terasa cukup untuk membuatku sadar bahwa mungkin aku sedang berbicara pada ruang kosong. Padahal, jauh di dalam hati, aku masih yakin ini bukan sepenuhnya sepihak. Ada tatapan-tatapan yang dulu terasa terlal...

Aku Ingin Punya Alasan untuk Memanggilmu

Ada jeda panjang sebelum akhirnya aku memberanikan diri membuka kembali jendela percakapan itu. Jeda yang terasa jauh lebih panjang dari hitungan hari yang sebenarnya. Pesan sebelumnya sudah dibaca, tanda kecil yang biasanya cukup untuk memberi harapan, namun tak pernah diikuti balasan. Hanya tanda sunyi yang menggantung seperti titik-titik yang tak kunjung berubah menjadi kalimat. Awalnya aku mencoba pura-pura tidak peduli. Meyakinkan diri bahwa aku pun sering melakukan hal yang sama pada orang lain: membaca pesan, lalu menunda membalasnya tanpa alasan yang jelas. Tapi entah kenapa, ketika berada di posisi yang berlawanan, logika itu tiba-tiba terasa rapuh. Ada rasa tidak enak yang mengendap. Rasa yang aneh, seperti berdiri terlalu lama di depan pintu rumah orang lain tanpa tahu apakah harus mengetuk lagi atau pulang saja. Namun pada akhirnya aku mengetuk lagi. Aku memaksa diriku menekan tombol kirim sekali lagi, sambil mencoba mematikan rasa bersalah karena harus memulai percakapa...

Sebuah Pengakuan

Dulu, sebelum semuanya terasa serba canggung seperti sekarang, justru dia yang lebih sering bergerak lebih dulu. Dia yang terlihat lebih atraktif, lebih berani, lebih lihai mencari celah kecil untuk mengusikku, atau setidaknya begitulah yang selalu terasa di kepalaku. Ada momen-momen kecil yang dulu tampak sepele: pandangan yang terlalu lama, keberadaan yang terasa sengaja diposisikan di dekatku, langkah-langkah yang seolah kebetulan tapi terlalu sering untuk disebut kebetulan. Aku waktu itu hanya berdiri di sisi sebaliknya, diam, kikuk, pura-pura tidak sadar, padahal sebenarnya sangat sadar. Sekarang semuanya terasa seperti berbalik arah, pelan-pelan, tanpa aba-aba. Tanpa kesepakatan. Tanpa percakapan. Tiba-tiba aku yang berada di sisi itu. Aku yang diam-diam mencari celah, mencari sudut pandang yang cukup aman untuk sekadar memastikan dia masih ada di sekitar. Aku yang mulai mencuri waktu beberapa detik lebih lama dari seharusnya hanya untuk melihatnya bergerak, berbicara, tertawa d...

Rasa Kehilangan Bisa Datang Bahkan Sebelum Sesuatu Benar-Benar Dimulai

  Ini hanya perasaanku. Mungkin salah. Aku bahkan berharap ini salah. Tapi semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin keras ia berbisik di kepalaku. Seolah ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang bergeser sedikit saja, cukup kecil untuk tak terlihat orang lain, tapi cukup besar untuk membuatku gelisah sepanjang hari. Aku mulai curiga… jangan-jangan dia menghindariku. Dan pikiran itu, sekecil apa pun, terasa seperti benih yang langsung tumbuh liar tanpa izin. Semuanya kembali ke pesan singkat itu. Pesan yang sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana, sapaan kecil yang kuketik dengan ragu, kukirim dengan jantung berdebar, lalu kusesali beberapa detik setelahnya. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu bukan apa-apa. Hanya kata pendek, hanya basa-basi. Tapi di kepalaku, pesan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar, seolah aku telah menabrak batas yang tidak terlihat. Bagaimana jika dia merasa tidak nyaman? Bagaimana jika dia terganggu? Bagaimana jika aku telah merusak kesei...

Ruang Kosong yang Tak Punya Nama

Pernahkah kamu merasakan hampa yang datang tanpa undangan? Bukan sedih yang jelas sebabnya, bukan pula bahagia yang lupa pulang. Hanya semacam ruang kosong yang tiba-tiba muncul di dalam dada, seperti ada sesuatu yang dipindahkan diam-diam saat aku lengah. Aku tahu ada yang hilang, tapi anehnya aku tak tahu apa. Rasanya seperti mencoba mengingat mimpi yang samar, kamu yakin pernah mengalaminya, tapi setiap kali berusaha mengingat, yang tersisa hanya potongan kabut. Sejak pagi itu, pikiranku sibuk bertanya hal-hal yang bahkan terdengar konyol. Pertanyaan yang kutujukan ke diriku sendiri, lalu kujawab sendiri, lalu kupatahkan lagi jawabannya. Siklus yang berputar tanpa ujung. Aku mencoba menyibukkan diri, mengisi waktu dengan rutinitas kecil yang biasanya cukup ampuh membuat hari terasa padat. Tapi kali ini tidak. Semua terasa lebih ringan, terlalu ringan malah, seolah hari kehilangan bobotnya. Dan di tengah hari yang terasa tipis itu, aku sadar dadaku seperti amblas. Bukan sakit, buka...

Menunggu Lagi… atau Mulai Menerima Bahwa Mungkin Tidak Ada Percakapan yang Benar-Benar Ingin Dimulai Darinya

Aku mulai punya kebiasaan baru yang terasa konyol sekaligus sulit dihentikan, melongok kotak pesan media sosial berkali-kali tanpa alasan jelas. Seolah ada sesuatu di sana yang menungguku, padahal setiap kali kubuka, hasilnya selalu sama. Kosong. Sunyi. Hanya layar yang tak berubah, seakan menatap balik tanpa ekspresi. Kadang memang ada satu atau dua pesan masuk, tapi isinya selalu sama, iklan perjalanan, promo diskon, ajakan liburan yang terdengar terlalu ceria untuk hatiku yang sedang menunggu satu nama saja. Ironis sekali rasanya. Dunia seperti ramai memanggilku pergi ke mana-mana, sementara aku hanya menunggu satu orang yang bahkan tidak memanggilku ke mana pun. Pesan yang kukirimkan kepadanya masih ada di sana. Diam. Tak bergerak. Di bawahnya tertulis kalimat kecil yang rasanya jauh lebih berat daripada seharusnya,  telah dilihat pada hari Senin . Sejak hari itu, waktu berjalan seperti biasa untuk semua orang, kecuali untuk percakapan ini. Percakapan itu berhenti di satu t...

Namun Jauh di Dalam Hati, Aku Tahu, Besok Aku Akan Membuka Chat Itu Lagi

Jujur saja, aku berharap dia membalas pesanku. Harapan yang sebenarnya sederhana, kecil, dan mungkin terdengar sepele bagi orang lain. Hanya sebuah balasan. Satu notifikasi. Satu tanda bahwa pesan itu sampai bukan hanya ke ponselnya, tapi juga ke perhatiannya. Tapi sampai sekarang, layar itu tetap sunyi. Awalnya aku mencoba bersikap biasa saja. Aku menaruh ponsel, melanjutkan aktivitas, mencoba meyakinkan diri bahwa hidup tidak akan berubah hanya karena satu pesan belum dibalas. Tapi entah sejak kapan, tanganku mulai punya kebiasaan baru,  membuka aplikasi media sosial tanpa alasan yang jelas. Seperti refleks. Seperti gerakan otomatis yang terjadi bahkan sebelum aku sempat berpikir. Semenit sekali. Lima menit sekali. Lalu setengah jam. Dan tanpa terasa, dua hari sudah lewat. Pesan terakhirku masih menggantung di sana, seperti kalimat yang terhenti di tengah udara dan tidak pernah menemukan tempat untuk mendarat. Lucunya, aku tidak benar-benar bisa marah. Tidak bisa juga bilang...

Tidak Cukup Yakin untuk Melangkah Maju, Tapi Juga Tidak Cukup Yakin untuk Berhenti

Pertanyaan itu kembali muncul, seperti lagu lama yang tiba-tiba terputar sendiri tanpa diminta,  apakah aku benar-benar menyukainya?  Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi entah kenapa selalu terasa terlalu berat untuk dijawab dengan jujur.  Aku menanyakannya berulang kali, di sela-sela kesibukan, di tengah perjalanan pulang, bahkan di saat-saat seharusnya pikiranku kosong. Seolah-olah ada bagian dari diriku yang memaksa mencari kepastian, sementara bagian lain sengaja menghindari jawabannya. Hari ini, aku sempat berada begitu dekat di belakangnya. Dekat dalam arti yang nyata, bukan sekadar dekat dalam bayangan atau kemungkinan. Jarak kami cukup untuk membuatku bisa memperhatikan hal-hal kecil, cara ia berjalan, ritme langkahnya, bentuk bahunya yang terlihat dari balik pakaian yang sederhana.  Aku menatapnya cukup lama, meski tetap menjaga jarak aman dari keberanian yang belum kumiliki. Aku tidak berani melihat wajahnya, apalagi matanya. Rasanya seperti ada bata...