Ada perasaan aneh yang kadang muncul setiap kali aku berdiri di masjid, perasaan seperti sedang dilihat, diukur, dibandingkan, padahal mungkin tidak ada siapa-siapa yang benar-benar memperhatikan. Saf sudah mulai rapi, iqamah belum dikumandangkan, beberapa orang berdiri lebih dulu untuk salat sunnah qobliyah. Aku melihat mereka dengan tenang, gerakan mereka mantap, seolah sudah terbiasa. Sementara aku? Masih duduk. Menunggu. Berpura-pura sibuk dengan tasbih atau menunduk terlalu lama. Bukan karena tidak tahu keutamaannya. Bukan juga karena tidak mau. Justru karena tahu, aku merasa semakin tertinggal. Ada dorongan dalam hati untuk ikut berdiri, mengambil dua rakaat sebelum fardhu, atau menambah ba’diyah setelahnya. Tapi setiap kali ingin melangkah, ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Seperti ada sorot mata yang mengawasi, meski logikaku tahu itu hanya pikiranku saja. Aku sering bertanya, kenapa bisa begitu? Kenapa ibadah yang seharusnya menjadi ruang pribadi antara aku dan Tu...
Setiap awal Ramadan, aku selalu datang dengan daftar niat yang rapi. Tahun ini harus lebih baik. Tahun ini minimal satu kali khatam. Bahkan kalau bisa lebih. Semangat itu biasanya membuncah di malam pertama, mushaf terasa lebih ringan di tangan, huruf-huruf seperti menyambut dengan ramah, dan hati penuh keyakinan bahwa semuanya akan berjalan lancar. Tapi entah kenapa, memasuki hari-hari berikutnya, ritmenya mulai berubah. Kesibukan menyelip pelan-pelan. Rasa lelah datang tanpa permisi. Kadang setelah tarawih tubuh hanya ingin rebah. Kadang selepas sahur mata terasa terlalu berat untuk sekadar membuka satu halaman lagi. Dan tahu-tahu, hari sudah bertambah, sementara bacaanku belum banyak bergerak. Menyedihkan sekali rasanya ketika aku sadar, bahkan Al-Baqarah pun belum selesai. Setiap kali membuka mushaf dan melihat penanda terakhir berhenti di ayat yang itu-itu saja, ada rasa malu yang sulit dijelaskan. Target di kepala terasa begitu tinggi, tapi langkah di kaki begitu lambat. Aku m...