Ada banyak kesempatan hari itu. Mungkin terlalu banyak, sampai-sampai aku sendiri tidak punya alasan yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa keadaan tidak mendukung. Sebab kenyataannya justru sebaliknya. Kami berada dalam jarak yang dekat. Sangat dekat, bahkan. Beberapa kali aku menyadari keberadaannya hanya beberapa langkah dariku. Tidak perlu mencari ke sudut ruangan. Tidak perlu melongok ke pintu masuk. Tidak perlu menebak-nebak apakah hari itu ia datang atau tidak. Ia ada di sana, berada dalam lingkaran aktivitas yang sama denganku. Dan seperti hari-hari yang lain, atau mungkin hanya karena aku sudah terlalu terbiasa memperhatikannya, aku merasa ia beberapa kali berusaha masuk ke dalam radar penglihatanku. Bukan dengan cara yang mencolok. Justru dengan cara-cara yang sulit dibuktikan. Muncul di tempat yang sama. Melintas pada waktu yang aneh. Berdiri sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Atau mungkin semua itu hanyalah kebetulan yang terus-menerus kuberi makna. Aku tidak...
Sebenarnya, hari itu berjalan hampir persis seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya. Entah karena aku sudah terlalu lama mengamatinya, atau karena pola-pola itu memang terus berulang, aku merasa seolah sedang membaca ulang sebuah naskah yang pernah kubaca berkali-kali. Tidak persis sama, tentu saja. Selalu ada detail baru yang muncul. Namun garis besarnya terasa begitu akrab hingga aku bisa menebak beberapa adegan sebelum benar-benar terjadi. Bahkan sejak aku baru datang. Saat itu aku menuju loker untuk menyimpan beberapa barang yang tidak kubutuhkan di meja kerja. Pikiranku masih sibuk dengan urusan lain. Setidaknya, aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku sedang memikirkan hal lain. Lalu tiba-tiba aku sadar ia ada di belakangku. Bukan karena aku melihatnya langsung. Aku hanya merasakan keberadaannya. Kadang ada orang-orang tertentu yang tidak perlu dilihat untuk disadari kehadirannya. Entah karena langkahnya, entah karena kebiasaan, atau mungkin karena diam-diam kita memang sud...