Skip to main content

Posts

Timeline Penuh Berita Jeffrey Epstein? Ini Ringkasan Kasusnya dan Kenapa Banyak Orang Bingung

Belakangan ini, timeline terasa lebih padat dari biasanya. Buka Facebook, ada. Geser Twitter/X, muncul lagi. Nama yang sama berulang-ulang,  Jeffrey Epstein. Banyak yang membaca sepintas, lalu mengernyit. Ini kasus lama atau baru? Kok seperti belum selesai? Wajar kalau akhirnya muncul satu perasaan yang sama: semakin dibaca, semakin sulit dipahami. Siapa Sebenarnya Jeffrey Epstein? Jeffrey Epstein adalah seorang financier asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai miliarder dengan lingkaran pertemanan berisi orang-orang sangat berpengaruh, mulai dari politisi, selebritas, sampai bangsawan. Namun di balik citra sukses itu, ia dituduh menjalankan jaringan perdagangan seksual terhadap perempuan dan anak di bawah umur. Kasusnya mulai mencuat pada 2005 setelah laporan bahwa seorang remaja mengalami pelecehan. Jumlah korban kemudian terus bertambah hingga puluhan orang. Tahun 2008, ia membuat kesepakatan hukum yang membuatnya hanya menjalani sekitar 13 bulan penjara, bahkan dengan izin be...
Recent posts

Tentang Orang yang Merasa Paling Berjasa

 Ada satu pemandangan yang sering muncul setiap kali proses mencari pemimpin baru dimulai. Bukan cuma di politik besar, tapi juga di organisasi, komunitas, bahkan lingkungan kerja kecil. Tiba-tiba banyak orang berdiri di depan publik, menceritakan apa saja yang pernah ia lakukan. Daftar jasanya panjang. Nada bicaranya mantap. Seolah-olah tanpa dirinya, semua akan berantakan. Padahal, kalau ditarik sedikit ke belakang, yang diceritakan itu sebenarnya hal-hal yang cukup biasa. Pekerjaan yang memang sudah jadi tanggung jawabnya. Peran yang juga dilakukan banyak orang lain, hanya saja tidak dipamerkan. Situasi seperti ini terasa akrab, ya? Di ruang-ruang pencarian calon pemimpin, ada kecenderungan aneh, yang paling keras bicara sering dianggap paling layak. Yang paling sering menyebut “saya” dianggap paling berpengalaman. Prestasi dijadikan panggung, bukan cermin. Masalahnya bukan pada prestasi itu sendiri. Kerja baik memang layak diapresiasi. Tapi ada garis tipis antara berbagi pe...

Arti Lagu “Work” No Na: Tentang Kerja Keras, Percaya Diri, dan Tubuh yang Merdeka

Ada lagu yang bukan cuma enak diputar keras-keras, tapi juga bikin kepala ikut manggut. “Work” dari girlband Indonesia No Na termasuk yang seperti itu. Beat-nya nempel, visual videonya berani, dan liriknya terasa lantang. Banyak yang mencari arti lagu Work No Na bukan karena penasaran satu-dua baris, tapi karena ingin tahu,  sebenarnya lagu ini mau ngomong apa? Kalau didengar tanpa prasangka, “Work” bukan sekadar anthem pamer. Ia bicara soal proses, tentang tubuh, disiplin, dan keberanian mengambil ruang. Tentang perempuan yang sadar betul apa yang ia bangun, dan tidak merasa perlu minta izin untuk bangga. Dari awal, nuansanya jelas,  energi tinggi, ritme cepat, dan bahasa yang tegas. “Work” mengulang satu pesan utama, hasil tidak jatuh dari langit. Ada latihan, ada keringat, ada konsistensi. Visual video klipnya memperkuat itu,  gerak yang presisi, styling yang kuat, dan koreografi yang menuntut stamina. Keren, tapi jelas bukan kebetulan. Bagian yang menarik adalah b...

Semua Orang Pernah Berdosa, tapi Kenapa Kita Lebih Sibuk Menghakimi Dosa Orang Lain?

 Ada satu hal yang diam-diam kita sepakati bersama, meski jarang diucapkan, tidak ada manusia yang benar-benar bersih. Dari yang muda sampai yang tua, dari yang kelihatan alim sampai yang terang-terangan bandel, semua pernah, dan mungkin masih melakukan kesalahan. Dosa, dalam bentuk apa pun namanya. Tapi anehnya, kesadaran itu sering berhenti di teori. Dalam praktik sehari-hari, justru lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain. Mengomentari, menilai, bahkan membenci dosa yang tidak kita lakukan. Seolah-olah dengan menghakimi orang lain, dosa pribadi bisa mengecil, atau setidaknya tidak terlihat. Fenomena ini terasa akrab. Di obrolan santai, di media sosial, di ruang-ruang yang katanya religius. Kesalahan orang lain dibedah ramai-ramai, sementara kesalahan sendiri disimpan rapat-rapat. Bukan karena tidak tahu salah, tapi karena menghadapi diri sendiri jauh lebih tidak nyaman. Menghakimi memang memberi rasa aman sesaat. Ada ilusi posisi lebih tinggi,  aku tidak seburuk itu ....

Kenapa Kakek Nenek Lebih Lembut ke Cucu? Antara Penyesalan, Waktu, dan Cara Menebus Masa Lalu

  Ada pola yang sering disadari banyak orang tapi jarang dibicarakan terang-terangan. Kakek nenek yang sekarang terlihat sangat sabar dengan cucunya, dulu dikenal keras saat membesarkan anak-anaknya. Cerita seperti ini muncul di banyak keluarga. Bahkan kadang diucapkan sambil bercanda, “Dulu ayah galak sekali, sekarang sama cucu jadi malaikat.” Yang tumbuh dengan cerita itu sering menyimpan tanda tanya. Kok bisa berubah sejauh itu? Bagi anak-anaknya dulu, masa kecil mungkin terasa penuh aturan, suara tinggi, dan disiplin ketat. Lalu bertahun-tahun kemudian, orang yang sama terlihat memanjakan cucu tanpa banyak syarat. Kesalahan kecil ditertawakan. Tangisan cepat ditenangkan. Tidak ada lagi nada keras yang dulu begitu akrab. Perubahan ini bukan sekadar soal usia. Ada sesuatu yang bergeser di dalam diri manusia ketika waktu berjalan panjang. Menjadi orang tua di usia muda sering diwarnai tekanan: ekonomi belum stabil, emosi belum matang, tanggung jawab datang bertubi-tubi. Banyak...

Orang Introvert Bisa Berbaur, Tapi Baterainya Cepat Habis

 Banyak orang masih mengira introvert itu identik dengan tidak bisa bersosialisasi. Seolah-olah setiap pertemuan adalah siksaan, setiap percakapan adalah beban, dan satu-satunya zona aman adalah kamar sendiri. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Orang introvert bisa berbaur. Bahkan sering kali terlihat biasa saja di keramaian. Bisa ngobrol, bisa bercanda, bisa ikut rapat panjang, bahkan bisa tampil percaya diri kalau situasi menuntut. Dari luar, tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda sedang berjuang. Masalahnya bukan pada kemampuan berbaur. Masalahnya ada di energi. Setelah semua itu selesai, rasanya seperti baterai yang tiba-tiba drop ke nol persen. Tubuh masih duduk di tempat yang sama, tapi kepala sudah lelah duluan. Percakapan yang tadinya terasa ringan mendadak terasa berat saat diingat ulang. Dan yang paling menguras bukan topik besar, tapi hal kecil yang disebut basa-basi. Basa-basi itu unik. Tidak penting, tapi wajib. Tidak dalam, tapi panjang. Pertanyaan ya...

Pencucian Otak Berkedok Belas Kasihan

  Ada kalimat-kalimat yang terdengar lembut, bahkan terasa menenangkan. Diucapkan dengan nada peduli, dibungkus empati, dan sering diselipkan di tengah obrolan yang katanya demi kebaikan bersama. “Sudahlah, jangan terlalu tinggi standarnya.” “Kasihan, kan mereka juga manusia.” “Yang penting jalan dulu.” Sekilas, tidak ada yang salah. Masalahnya, kalimat seperti itu jarang datang sekali dua kali. Ia diulang. Terus diulang. Di ruang rapat, di percakapan santai, di keputusan-keputusan kecil yang lama-lama membentuk arah besar. Pelan-pelan, tanpa terasa, sesuatu berubah. Belas kasihan mulai menggantikan penilaian. Toleransi mulai menggeser standar. Dan yang awalnya disebut pengecualian, lama-lama jadi kebiasaan. Di titik tertentu, muncul rasa janggal. Kenapa hal yang dulu dianggap tidak layak, sekarang diterima begitu saja? Kenapa kualitas yang dulu diperjuangkan, kini dianggap terlalu idealis? Jawabannya sering sama, jangan keras-keras, jangan tinggi-tinggi, nanti menyakiti. Inil...