Ada satu hal yang belakangan ini sering mengganggu pikiranku. Kadang, orang yang paling lantang menyayangkan tindakan bunuh diri, yang paling sering menulis kalimat penuh empati di forum dan media sosial, justru pernah, atau bahkan masih, menjadi bagian dari perundungan itu sendiri. Mereka bicara seolah-olah menjadi pembawa kasih, seakan berdiri di sisi yang paling peduli, padahal di sisi lain, mereka juga pernah melukai. Aku mengenali tipe orang seperti itu. Bukan sekadar dari cerita orang lain, tapi dari pengalaman yang cukup dekat untuk terasa nyata. Di ruang publik, mereka terdengar bijak. Kata-katanya rapi, penuh empati, mudah disukai. Namun di ruang yang lebih kecil, di percakapan yang lebih pribadi, sikapnya bisa berubah jauh berbeda. Kalimat-kalimat yang dulu terasa hangat, tiba-tiba bisa menjadi dingin, tajam, dan merendahkan. Kontras itu melelahkan. Awalnya aku mencoba memaklumi. Mungkin mereka tidak sadar. Mungkin itu hanya salah paham. Mungkin aku terlalu sensitif. Banya...
Semua orang, bahkan yang pemahamannya tentang agama sangat sederhana, hampir pasti tahu satu hal bunuh diri itu dosa. Kalimat itu sering diulang, sering diingatkan, seolah cukup kuat untuk menjadi pagar. Tapi kenyataannya, cerita tentang orang yang memilih jalan pintas itu tidak pernah sesederhana kalimat tersebut. Masalahnya bukan pada tahu atau tidak tahu. Masalahnya jauh lebih sunyi dari itu. Sering kali, keputusan itu lahir bukan karena seseorang ingin menantang larangan, melainkan karena ia merasa tidak lagi punya pilihan. Seperti berdiri di lorong panjang yang gelap, mencoba mencari pintu keluar, tapi tidak menemukan apa pun selain dinding yang sama di setiap sisi. Dari luar, mungkin masih terlihat ada banyak jalan. Namun dari dalam kepala mereka, jalan itu seakan menghilang satu per satu. Ada fase ketika pikiran mulai berbisik pelan, buat apa hidup? Pertanyaan itu tidak datang seperti teriakan. Ia datang seperti bisikan yang diulang terus-menerus. Pelan, konsisten, dan s...