Lagi-lagi, aku harus menyalahkan rasa penasaran yang terlalu mudah diberi makan. Awalnya tidak ada rencana apa-apa. Aku hanya membuka layar, mengetik beberapa kata, lalu membiarkan jari-jariku berjalan sendiri mengikuti arah yang bahkan tidak kupikirkan sebelumnya. Seperti yang sudah-sudah, aku meyakinkan diri bahwa ini hanya rasa ingin tahu biasa. Hanya ingin memastikan satu atau dua hal yang selama ini masih menggantung di kepalaku. Tapi aku tahu itu bohong. Kalau memang hanya rasa ingin tahu biasa, aku pasti sudah berhenti sejak lama. Nyatanya, setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru. Setiap informasi yang kutemukan selalu membuka pintu menuju informasi berikutnya. Dan tanpa sadar, aku kembali menjadi detektif amatir yang bekerja tanpa bayaran dan tanpa surat tugas. Kali ini pencarianku berakhir pada sesuatu yang tidak kusangka. Sebuah dokumen lama. Berkas resmi. Bukan unggahan media sosial. Bukan foto. Bukan status yang bisa ditafsirkan ke mana-mana. Melainkan dokumen yang...
Ada hal-hal di dunia ini yang bisa disimpan rapat-rapat. Rahasia keluarga, cita-cita yang belum tercapai, atau rencana yang sengaja tidak diceritakan kepada siapa pun. Namun ada satu hal yang sering kali lebih sulit disembunyikan daripada yang kita kira: perasaan suka terhadap seseorang. Banyak orang mengira bahwa selama mulut tetap diam, tidak ada seorang pun yang akan tahu isi hati mereka. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Perasaan memiliki kebiasaan aneh. Ia mencari jalan keluar lewat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Kadang bukan lewat kata-kata, melainkan lewat cara seseorang hadir, memperhatikan, atau tiba-tiba mengingat hal-hal yang bahkan sudah kita lupakan sendiri. Aku sering memperhatikan fenomena itu dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang terlihat biasa saja di depan banyak orang, tetapi berubah ketika berhadapan dengan seseorang yang diam-diam ia sukai. Perubahannya sering kali tidak besar. Bahkan sangat halus. Namun justru karena halus itulah...