Sabtu yang Kembali Gagal
Sabtu kemarin, sebenarnya aku sudah berniat memberanikan diri. Bukan niat yang muncul tiba-tiba. Keinginan untuk mengutarakan perasaanku kepadanya sudah ada sejak jauh-jauh hari. Berkali-kali aku membayangkan bagaimana caranya mengatakan semuanya. Berkali-kali pula aku membuat skenario di kepala, kapan waktunya, bagaimana membuka percakapan, kalimat pertama apa yang harus keluar dari mulutku, dan seperti apa kira-kira wajahnya setelah mendengar semuanya. Masalahnya selalu sama. Setiap kesempatan benar-benar datang, aku justru membatalkannya. Selalu ada alasan baru. Kadang suasana hatiku berubah. Tiba-tiba aku tidak ingin mengatakan apa-apa. Kadang situasinya tidak sesuai dengan keadaan yang sudah kurancang di kepala. Padahal sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya saja, karena kenyataannya sedikit berbeda dari skenario yang sudah kubangun, keberanianku mendadak menghilang. Aku memang seperti itu. Terlalu banyak membuat rencana di kepala, lalu terlalu kecewa ketika kenyataan tidak mengik...