Kalau biasanya dia yang datang terlambat, kali ini justru aku yang terlambat. Bukan karena sengaja ingin membalas perlakuannya. Bukan juga karena ingin terlihat tidak peduli. Justru alasannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih manusiawi, aku kelelahan. Semalaman aku tidak benar-benar tidur. Setiap kali berhasil terlelap, mimpi buruk datang seperti tamu yang tidak diundang. Membuatku terbangun berkali-kali dengan dada sesak dan pikiran yang masih dipenuhi sisa-sisa kecemasan yang bahkan tidak bisa kujelaskan asalnya dari mana. Akhirnya, sebelum berangkat, aku memutuskan untuk tidur sebentar. Hanya sebentar, kataku pada diri sendiri. Ternyata cukup lama untuk membuat jadwalku berantakan. Di perjalanan, aku sudah bisa menebak konsekuensinya. Akan ada banyak hal yang terlewat. Banyak momen yang biasanya tanpa sadar kutunggu. Banyak kesempatan untuk sekadar melihatnya datang, melihat bagaimana ia memulai harinya, atau menangkap tingkah-tingkah kecil yang sering kali menjadi bahan piki...
Kemarin sebenarnya aku sudah hampir menyerah. Sejak pagi, suasana hatiku memang tidak sedang baik-baik saja. Ada terlalu banyak hal yang memenuhi kepala. Terlalu banyak pikiran yang datang bersamaan hingga sulit dibedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya ketakutan yang kubesarkan sendiri. Stres yang beberapa waktu terakhir menumpuk perlahan mulai menunjukkan bentuknya. Bukan ledakan besar yang dramatis, melainkan kelelahan panjang yang membuat segala sesuatu terasa lebih berat dari biasanya. Dalam keadaan seperti itu, entah kenapa aku berharap bisa melihatnya. Harapan yang sebenarnya terdengar konyol jika dipikirkan dengan logika yang sehat. Karena apa yang bisa berubah hanya dengan melihat seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar berbicara denganku? Apa yang bisa diperbaiki dari segala kekacauan dalam pikiranku hanya dengan kehadirannya? Tapi begitulah kenyataannya. Aku tetap berharap. Mungkin karena selama ini aku menjadikan kehadirannya sebagai semacam j...