Skip to main content

Posts

Menunggu Sampai Bosan atau Sampai Jujur

Lagi-lagi sore itu terjadi. Dan lagi-lagi aku pulang dengan kepala yang penuh pertanyaan. Seharusnya aku sudah terbiasa. Seharusnya setelah sekian bulan mengamati tingkah lakunya, aku tidak lagi terkejut dengan hal-hal yang ia lakukan. Namun nyatanya, setiap kali aku mulai merasa sudah memahami polanya, dia selalu menemukan cara baru untuk membuatku kembali bingung. Sore tadi suasana cukup lengang. Teman-temannya tidak banyak terlihat berada di sekitarnya. Aktivitas kantor berjalan seperti biasa, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan di sela-sela kesibukan itu aku beberapa kali menangkap keberadaannya dalam jarak pandangku. Awalnya biasa saja. Aku bahkan sedang tidak terlalu memperhatikannya. Pikiranku masih dipenuhi berbagai hal lain yang lebih penting. Pekerjaan yang belum selesai. Tekanan yang belum hilang. Dan berbagai urusan yang akhir-akhir ini membuat kepalaku terasa berat. Namun kemudian aku melihat lagi gestur-gestur yang selama ini membuatku terus bertanya-tanya....
Recent posts

Sex Grooming: Bahasa yang Tidak Pernah Diucapkan

Selama ini aku selalu bercerita tentang hal-hal yang mudah dijelaskan. Tentang tatapan mata yang saling bertemu tanpa sengaja. Tentang pandangan yang terlalu cepat dialihkan ketika ketahuan. Tentang rasa kikuk yang muncul saat jarak kami terlalu dekat. Tentang canggung yang entah berasal dari mana. Semua itu masih bisa kuceritakan dengan cukup mudah. Masih bisa kutuliskan tanpa harus berpikir terlalu lama. Namun ada satu bagian yang selama ini selalu kulewati. Bukan karena aku lupa. Justru karena aku terlalu sadar akan keberadaannya. Dan mungkin juga karena aku malu. Sebab jika harus jujur, keyakinanku bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara kami bukan hanya lahir dari tatapan-tatapan itu. Bukan hanya dari kehadiran yang terasa disengaja. Bukan pula dari berbagai kebetulan yang terlalu sering terjadi. Ada hal lain yang lebih sulit dijelaskan. Bahasa tubuh. Gestur.   Sex Grooming. Tapi aku gak yakin istilah ini. Namun menyerupai istilah ini. Gerakan-gerakan kecil yang sering muncul...

Bagaimana Jika Aku yang Membuatnya Menjauh?

Belakangan ini aku mulai takut pada pikiranku sendiri. Bukan karena pikiranku memunculkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi, melainkan karena semakin lama aku semakin sulit membedakan mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya dibangun oleh kecemasanku. Awalnya aku tidak pernah memikirkan hal ini. Dulu semuanya terasa sederhana. Aku hanya menjalani hari seperti biasa. Datang, bekerja, pulang. Sesekali melihat ke sekeliling ruangan karena bosan menatap pekerjaan yang sama sepanjang hari. Sesekali memperhatikan siapa yang datang dan siapa yang pergi. Lalu entah sejak kapan, setiap kali pandanganku berkeliling tanpa tujuan, aku sering menemukan mata yang sama. Tatapan yang sama. Orang yang sama. Awalnya hanya sekali. Kemudian dua kali. Lalu berkali-kali. Sampai akhirnya aku mulai menyadari pola yang tidak bisa lagi kuabaikan. Atau setidaknya, aku mengira ada pola di sana. Dan mungkin di situlah semuanya bermula. Aku mulai memperhatikannya karena merasa diperhatikan. Aku mulai ...

Terlalu Banyak Pertanda, Terlalu Sedikit Kepastian

Aku mulai kehabisan cerita. Atau mungkin bukan kehabisan cerita, melainkan kehabisan cara untuk menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Karena jika dipikir-pikir, beberapa bulan terakhir aku hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja. Tentang dia. Tentang tatapan-tatapan yang sulit dijelaskan. Tentang kehadiran yang selalu berhasil mengacaukan pikiranku. Tentang perasaan yang setiap hari berubah bentuk tetapi tidak pernah benar-benar pergi. Kadang aku sampai merasa bosan pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengeluh tentang hal yang sama begitu lama? Tapi setiap kali aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya, selalu ada sesuatu yang membuatku kembali ke titik awal. Dan mungkin yang paling melelahkan bukanlah perasaannya. Melainkan keraguannya. Aku takut selama ini semua hanya terjadi di kepalaku. Takut bahwa apa yang kuanggap sebagai pertanda ternyata hanyalah kebetulan yang terlalu sering kutafsirkan. Takut bahwa aku sedang melakukan kesalahan yang sama sepert...

Beberapa Teka-Teki Telah Terpecahkan

Lagi-lagi, aku harus menyalahkan rasa penasaran yang terlalu mudah diberi makan. Awalnya tidak ada rencana apa-apa. Aku hanya membuka layar, mengetik beberapa kata, lalu membiarkan jari-jariku berjalan sendiri mengikuti arah yang bahkan tidak kupikirkan sebelumnya. Seperti yang sudah-sudah, aku meyakinkan diri bahwa ini hanya rasa ingin tahu biasa. Hanya ingin memastikan satu atau dua hal yang selama ini masih menggantung di kepalaku. Tapi aku tahu itu bohong. Kalau memang hanya rasa ingin tahu biasa, aku pasti sudah berhenti sejak lama. Nyatanya, setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru. Setiap informasi yang kutemukan selalu membuka pintu menuju informasi berikutnya. Dan tanpa sadar, aku kembali menjadi detektif amatir yang bekerja tanpa bayaran dan tanpa surat tugas. Kali ini pencarianku berakhir pada sesuatu yang tidak kusangka. Sebuah dokumen lama. Berkas resmi. Bukan unggahan media sosial. Bukan foto. Bukan status yang bisa ditafsirkan ke mana-mana. Melainkan dokumen yang...

Tanda-Tanda Jika Seseorang Tertarik Padamu Tanpa Mengatakannya

Ada hal-hal di dunia ini yang bisa disimpan rapat-rapat. Rahasia keluarga, cita-cita yang belum tercapai, atau rencana yang sengaja tidak diceritakan kepada siapa pun. Namun ada satu hal yang sering kali lebih sulit disembunyikan daripada yang kita kira: perasaan suka terhadap seseorang. Banyak orang mengira bahwa selama mulut tetap diam, tidak ada seorang pun yang akan tahu isi hati mereka. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Perasaan memiliki kebiasaan aneh. Ia mencari jalan keluar lewat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Kadang bukan lewat kata-kata, melainkan lewat cara seseorang hadir, memperhatikan, atau tiba-tiba mengingat hal-hal yang bahkan sudah kita lupakan sendiri. Aku sering memperhatikan fenomena itu dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang terlihat biasa saja di depan banyak orang, tetapi berubah ketika berhadapan dengan seseorang yang diam-diam ia sukai. Perubahannya sering kali tidak besar. Bahkan sangat halus. Namun justru karena halus itulah...

Kesalahan Paling Konyol Saat Menjadi Detektif

Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tidak berbakat menjadi detektif. Atau setidaknya, tidak berbakat menjadi detektif yang menyelidiki orang yang disukainya sendiri. Sebab setelah sekian lama mengamati, menebak-nebak, menyusun teori, membangun skenario, dan membuat berbagai kesimpulan yang belum tentu benar, aku baru menyadari satu fakta yang sangat sederhana. Dan fakta itu membuatku tertawa sendirian. Bukan tertawa karena lucu. Lebih tepatnya tertawa karena malu. Karena ternyata aku melakukan kesalahan yang sangat konyol. Aku masih ingat ketika beberapa waktu lalu aku memberanikan diri mengirim pesan kepadanya. Sebuah pesan sederhana yang bahkan membutuhkan keberanian berhari-hari untuk dikirimkan. Di antara berbagai hal yang bisa kutanyakan, aku justru bertanya tentang namanya. Saat itu aku benar-benar yakin bahwa nama yang ia gunakan di media sosial bukan nama asli. Aku menganggapnya hanya nama samaran. Nama internet. Nama yang sengaja dipakai untuk bersenang-senang seperti bany...