Sepertinya puasa kali ini kami tidak akan bertemu lagi. Jadwal kami berubah, seperti dua jarum jam yang dulu sempat berpapasan di satu titik, lalu kembali berjalan di porosnya masing-masing. Tempat biasa itu mungkin tetap ramai, tetap menyimpan cahaya sore yang sama, tetapi tanpa pertemuan yang tak disengaja, semuanya terasa berbeda. Tidak ada lagi kemungkinan tatapan singkat setelah salam, tidak ada lagi jeda beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Awalnya aku mengira ini tidak akan terlalu berpengaruh. Toh, hubungan kami tak pernah benar-benar ada. Tidak ada janji, tidak ada sapaan yang rutin, apalagi cerita panjang yang mengikat. Hanya kebiasaan melihat dan dilihat, sebuah ritme kecil yang diam-diam menjadi bagian dari hariku. Namun ketika kusadari bahwa bulan ini mungkin tak ada kesempatan untuk sekadar berpapasan, ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih nyata. Anehnya, aku juga tidak yakin pada hatiku sendiri. Aku tidak tahu apakah nanti, ketika Ramadan u...
Aku tahu perasaan ini salah. Bukan salah dalam arti dosa, bukan pula sesuatu yang melanggar aturan yang tertulis. Salah yang kumaksud lebih halus dari itu, salah karena mungkin, tanpa sadar, aku sedang mempermainkan perasaan orang lain. Atau setidaknya, mempermainkan kemungkinan. Awalnya sederhana saja. Sebuah tatapan yang terlalu lama, percakapan singkat yang menyisakan gema, lalu perasaan hangat yang entah dari mana datangnya. Aku tidak merencanakannya. Ia tumbuh pelan, seperti kabut yang turun tanpa suara. Dan ketika kusadari, aku sudah menikmati sensasi itu, degup jantung yang sedikit lebih cepat, senyum yang muncul tanpa sebab jelas, langkah yang terasa lebih ringan ketika tahu mungkin hari itu kami akan bertemu. Ada semacam efek kimia yang sulit dijelaskan. Endorfin, mungkin. Tubuhku seperti tahu kapan harus memproduksinya. Setiap kali melihatnya, atau bahkan hanya membayangkannya, ada rasa rileks yang menyebar perlahan. Dunia yang tadinya terasa berat mendadak lebih luna...