Dua minggu terakhir ini rasanya seperti menjalankan misi rahasia yang akhirnya berhasil. Misi sederhana, sebenarnya...... “meracuni” istriku agar mau ikut gym. Kata meracuni memang terdengar dramatis, tapi rasanya itu kata yang paling pas. Soalnya, dari dulu dia termasuk tim yang santai soal olahraga. Jalan kaki secukupnya, aktivitas rumah tangga sudah dianggap cukup, dan kalau diajak olahraga serius biasanya jawabannya selalu sama.... nanti, besok, kapan-kapan. Sementara aku, tiap lihat orang yang cuma duduk, rebahan, atau sekadar glibak-glibuk tanpa gerakan berarti, rasanya gemas sendiri. Bukan sok sehat, cuma pengin orang yang paling dekat denganku juga merasakan badan yang lebih kuat dan segar. Rencana itu sebenarnya sudah kususun diam-diam. Aku tidak banyak bicara, tidak mengajak diskusi panjang, tidak memberi ruang untuk menolak. Aku tahu, kalau kebanyakan negosiasi, kemungkinan gagal akan semakin besar. Jadi aku memilih jalan sunyi...... menyiapkan semuanya tanpa bilang a...
Semalam, mimpi itu datang tanpa aba-aba. Bukan mimpi yang gaduh, bukan pula mimpi yang terasa seperti potongan film yang berantakan. Ia hadir pelan, seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan, lalu masuk tanpa banyak suara. Anehnya, mimpi itu tentang ibu. Tentang almarhumah ibu, sosok yang sebenarnya jarang sekali hadir di pikiranku akhir-akhir ini. Bukan karena aku melupakan, mungkin lebih karena hidup berjalan terus, dan kenangan belajar bersembunyi di sudut-sudut yang tidak selalu terlihat. Berbeda dengan kakakku, dia sering bermimpi tentangnya. Dalam mimpi itu, aku berada di pasar lama. Pasar yang rasanya sudah menempel dalam ingatan sejak kecil, ramai, penuh suara tawar-menawar, dan aroma campur aduk antara bumbu dapur, plastik baru, dan kain-kain yang baru dibuka dari kardus. Pasar itu adalah tempat ibu dulu punya toko. Tempat yang sekarang dilanjutkan oleh kakakku. Lokasinya sama persis, bahkan dalam mimpi itu terasa begitu nyata, seolah aku benar-benar berjalan di...