Hari Sabtu selalu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang istimewa terjadi, melainkan karena aku sadar bahwa setelah hari ini akan datang hari Minggu. Sebuah hari yang, bagi kebanyakan orang, mungkin terasa santai dan menyenangkan. Tapi entah sejak kapan, hari Minggu justru menjadi semacam jeda yang terlalu panjang bagiku. Karena itu, sejak pagi tadi aku sudah memikirkan satu hal yang sama. Apakah hari ini kita akan bertemu? Pertanyaan sederhana, tetapi ternyata mampu mengisi begitu banyak ruang dalam pikiranku. Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika benar-benar bertemu. Tidak ada jaminan akan ada percakapan. Tidak ada kepastian akan ada momen besar yang layak dikenang. Bisa jadi kami hanya berada di ruangan yang sama, menjalani aktivitas masing-masing, lalu pulang tanpa sepatah kata pun. Seperti biasanya. Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap. Berharap bisa melihatnya meski hanya sebentar. Berharap bisa m...
Sepertinya aku memang harus berterima kasih padanya. Kalimat itu baru benar-benar terasa hari ini, ketika aku kembali tidak menemukannya di mana pun. Dan anehnya, justru dari ketidakhadirannya itulah aku akhirnya sadar sesuatu yang selama ini berusaha keras kutolak. Bahwa mungkin… selama ini dia adalah alasan kenapa aku masih bertahan. Bukan pekerjaan ini. Bukan rutinitasnya. Bukan juga karena aku terlalu mencintai tempat ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah berkali-kali aku ingin pergi. Berkali-kali aku membuka kemungkinan untuk mencari tempat baru, suasana baru, hidup baru yang mungkin lebih tenang daripada hari-hariku sekarang. Ada terlalu banyak lelah yang menumpuk di sini. Terlalu banyak tekanan yang kadang membuat dadaku sesak bahkan sebelum hari dimulai. Aku sering membayangkan menyerah saja. Pergi diam-diam tanpa perlu menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Tapi setiap kali pikiran itu muncul, selalu ada sesuatu yang menahanku untuk benar-benar melangkah keluar. Dan sek...