Pagi ini aku terbangun dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku. Apakah kemarin dia sedang menggodaku? Aku bahkan sempat tertawa saat pertanyaan itu muncul. Bukan karena lucu, melainkan karena rasanya terlalu terlambat untuk baru memikirkannya sekarang. Semua kejadian itu sudah berlalu. Hari sudah berganti. Tapi seperti biasa, otakku bekerja dengan cara yang aneh. Ketika peristiwa sedang berlangsung, aku sering kali tidak memahami apa-apa. Baru setelah semuanya selesai, ketika suasana sudah tenang dan aku sendirian dengan pikiranku sendiri, potongan-potongan kejadian itu datang kembali dan meminta untuk ditafsirkan. Kemarin, saat berada di dekatnya, semuanya terasa biasa saja. Tidak ada degup jantung yang berlebihan. Tidak ada kepanikan yang membuatku kehilangan arah. Bahkan aku sempat kecewa karena merasa hari itu tidak memberikan apa-apa untuk dikenang. Aku pulang dengan perasaan datar, seolah pertemuan kami hanyalah salah satu hari biasa yang akan segera terl...
Aku sempat berpikir hari kemarin berlalu begitu saja. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada momen yang membuat dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Tidak ada peristiwa yang bisa kubawa pulang lalu kuputar berulang-ulang sebelum tidur seperti yang sering kulakukan selama ini. Semuanya terasa biasa. Terlalu biasa, malah. Kami berada di ruang yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Ada beberapa kesempatan untuk saling menyadari keberadaan satu sama lain, tetapi tidak ada yang terasa cukup kuat untuk disebut istimewa. Aku bahkan pulang dengan perasaan datar. Perasaan yang jarang sekali muncul sejak aku mulai memperhatikannya. Di perjalanan pulang, aku sempat berpikir mungkin ini pertanda baik. Mungkin akhirnya aku mulai bisa mengendalikan diriku sendiri. Mungkin jantungku sudah tidak terlalu mudah bereaksi setiap kali dia berada di dekatku. Mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Atau mungkin, pikirku saat itu, aku memang sedang kehilangan ketertarikan yang selama ini...