Setelah semua yang terjadi tahun lalu, aku mulai memperhatikan orang-orang dengan cara yang berbeda. Bukan karena ingin curiga, tapi karena rasanya naluri itu muncul sendiri, seperti refleks yang lahir dari pengalaman. Katanya, orang introvert sering punya radar yang sensitif terhadap suasana dan niat orang lain. Dulu aku tidak pernah benar-benar percaya pada kalimat itu. Sekarang, aku tidak tahu harus menaruhnya di mana, antara percaya atau hanya mencoba mencari makna dari luka yang belum selesai. Ada satu sosok yang terus muncul di kepalaku ketika memikirkan semua kejadian itu. Seseorang yang, di permukaan, tampak seperti pahlawan. Dia sering berdiri di sisi orang yang dianggap lemah, suaranya lantang ketika membela yang tertindas, kata-katanya rapi, penuh empati, dan terdengar benar. Banyak orang menyukainya. Sulit untuk tidak menyukai seseorang yang selalu terlihat berada di pihak kebaikan. Aku juga dulu begitu. Awalnya, kehadirannya terasa menenangkan. Seperti ada seseorang yan...
Tahun lalu rasanya seperti hidup dalam dua dunia yang berjalan bersamaan, tapi tidak pernah benar-benar bertemu. Di dunia yang terlihat orang lain, aku masih tertawa, masih mengunggah cerita, masih menulis hal-hal kecil yang tampak seperti kebahagiaan. Story tentang pencapaian, foto-foto sederhana, kalimat ringan yang terdengar optimis. Semuanya tampak normal. Bahkan mungkin terlalu normal. Sementara di dunia yang tidak terlihat siapa pun, semuanya runtuh pelan-pelan. Aku masih ingat betapa anehnya perasaan itu, menekan tombol “unggah” dengan jari yang gemetar, lalu beberapa detik kemudian melihat unggahan itu muncul dengan rapi, bersih, seolah hidupku memang sedang baik-baik saja. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah aku tidak sedang tenggelam. Rasanya seperti berdiri di depan cermin dan berpura-pura tidak melihat retakan besar yang membelah bayangan sendiri. Awalnya, aku tidak berpikir unggahan-unggahan itu akan berarti apa-apa bagi orang lain. Itu hanya caraku bertahan. Caraku mengin...