Bingkisan untuk Dia dari Bali
Aku melihatnya dari kejauhan, atau lebih tepatnya aku melihat sesuatu yang lebih dulu muncul sebelum tubuhnya benar-benar terlihat. Sebuah tangan dengan botol minuman mungil yang muncul di depan pintu. Hanya tangan dan botol itu, belum wajahnya, belum seluruh tubuhnya. Tapi entah kenapa aku langsung tahu siapa yang akan muncul setelahnya. Refleksku bekerja lebih cepat daripada pikiranku. Aku segera pura-pura sibuk melakukan sesuatu, seolah-olah ada pekerjaan yang tiba-tiba menjadi sangat penting untuk dikerjakan saat itu. Seolah aku sama sekali tidak sedang menunggu siapa pun. Padahal kenyataannya, sejak tadi aku memang menunggunya. Aku hanya terlalu malu untuk terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu kedatangan orang tertentu. Kemudian dia masuk sepenuhnya. Aku melihatnya mengambil tempat seperti biasa. Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar istimewa. Hanya sebuah kedatangan sederhana yang sebenarnya sudah kutunggu sejak tadi. Tetapi en...