Aku tidak tahu sejak kapan semuanya mulai terasa aneh. Seolah hidup berjalan seperti biasa, langit biru, hari-hari lewat tanpa drama, dan aku masih menjadi diriku yang sama. Tapi entah bagaimana, di tengah rutinitas yang tidak berubah, muncul satu orang yang pelan-pelan mengacaukan cara kerjaku memahami dunia. Lucunya, aku bahkan tidak yakin apakah ini kebahagiaan atau justru awal dari penderitaan yang halus. Rasanya seperti berdiri di tempat yang sama, melihat langit yang sama, tapi tiba-tiba semuanya terasa berbeda hanya karena satu kehadiran. Orang lain mungkin menyebut ini hal indah. Aku sendiri masih bingung memberi nama. Pertama kali menyadarinya, tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Jantung berdetak lebih keras, napas terasa tidak teratur, dan aku mendadak kehilangan kemampuan paling sederhana, bersikap biasa saja. Menyapa pun terasa seperti misi yang terlalu besar. Apalagi mendekat. Apalagi membayangkan kemungkinan yang lebih jauh. Aku berdiri di tempatku, mencob...
Lebaran kemarin seharusnya sederhana saja, berjalan pelan dari rumah ke rumah, mengetuk pintu, tersenyum, berjabat tangan, lalu pulang dengan perasaan hangat yang katanya selalu menjadi ciri hari raya. Setidaknya begitu gambaran yang sering diceritakan orang. Aku berangkat dengan harapan yang tidak terlalu besar, cukup menjalani kewajiban sosial, menyapa tetangga, lalu kembali pulang tanpa terlalu banyak percakapan panjang. Awalnya semua berjalan seperti biasa. Obrolan ringan tentang cuaca, makanan, kabar keluarga. Pertanyaan-pertanyaan yang terasa aman karena jawabannya sudah tersedia sejak dulu, kerja bagaimana, sehat ya, semoga lancar rezekinya. Kalimat-kalimat yang bergerak pelan, tidak terlalu dalam, tidak terlalu menuntut. Sampai di satu rumah, percakapan itu berubah arah tanpa peringatan. Namaku disebut. Awalnya hanya sepintas, seperti contoh kecil dalam kalimat yang panjang. Lalu di rumah berikutnya, namaku muncul lagi, kali ini lebih jelas. Di rumah setelahnya, namaku...