Posts

Tambah Satu Alasan Lagi Kenapa Aku Menyukainya

Image
Ada satu momen kecil yang beberapa hari ini terus berputar di kepalaku. Masalahnya, aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa. Aku bahkan kesulitan mencari istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Yang kutahu, orang-orang biasanya menyebut ekspresi seperti itu sebagai sok imut . Entah benar atau tidak, aku juga tidak yakin. Yang masih kuingat hanya sepotong gambar yang terekam sangat singkat. Wajahnya sedikit manyun. Bibirnya maju beberapa senti ke depan, seperti anak kecil yang sedang merajuk atau berpura-pura kesal. Bukan ekspresi yang berlebihan. Sangat tipis, sangat sebentar, nyaris hilang sebelum sempat benar-benar kupahami. Mungkin kalau aku berkedip sedikit lebih lama, momen itu sudah terlewat begitu saja. Masalahnya, aku memang tidak pernah benar-benar berani memperhatikannya secara langsung. Setiap kali kami berada dalam jarak yang cukup dekat, keberanianku justru menghilang. Aku hanya berani mencuri pandang sepersekian detik, lalu buru-buru mengalihkan mata seolah tidak ...

Apakah Dia Tahu Kalau Aku Jatuh Cinta Karena Dia Mengucir Rambutnya?

Image
Belakangan ini ada satu pikiran yang terus berputar di kepalaku. Aku sendiri tidak yakin dari mana asalnya. Mungkin hanya dugaan yang terlalu jauh. Mungkin juga sekadar permainan imajinasi yang lahir karena terlalu lama hidup di antara harapan dan ketidakpastian. Tapi bagaimana jika... ia membaca semua cerita yang kutulis? Aku tahu, pertanyaan itu terdengar berlebihan. Bahkan sebelum orang lain menyanggahnya, aku sudah lebih dulu menyangkal diriku sendiri. Rasanya terlalu kebetulan jika seseorang yang tidak pernah benar-benar berbicara denganku ternyata diam-diam mengikuti serpihan kisah yang selama berbulan-bulan kutumpahkan dalam tulisan. Namun, pikiran itu tetap saja datang. Ia muncul tanpa diundang, lalu menetap cukup lama hingga membuatku mulai menghubungkan hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak saling berkaitan. Buktinya sederhana. Beberapa hari terakhir aku kembali melihatnya menguncir rambut. Padahal sebelumnya sudah cukup lama aku tidak melihat penampilan itu. Lalu, setelah be...

Hati yang Memilih Jatuh Cinta Kepada Hal-hal yang Tidak Bisa Dijelaskan oleh Logika

Image
Lucunya, jika ada yang bertanya kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta, jawabannya bukan karena percakapan yang panjang, bukan pula karena perhatian yang istimewa. Bahkan bukan karena kami pernah memiliki hubungan yang dekat. Jawabannya justru terdengar sangat sepele, nyaris konyol. Aku jatuh cinta ketika melihatnya mengucir rambut. Sampai sekarang pun aku tidak benar-benar mengerti apa yang membuat tatanan rambut sederhana itu mampu mengubah begitu banyak hal di dalam diriku. Padahal, itu hanya kuncir rambut. Sesederhana orang yang sedang merapikan diri sebelum mulai beraktivitas. Tidak ada yang istimewa jika dilihat oleh orang lain. Namun entah mengapa, saat pertama kali melihatnya seperti itu, ada sesuatu yang bergeser dalam hatiku. Sesuatu yang bahkan tidak sempat meminta izin sebelum menetap begitu saja. Aku sering mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Mungkin karena wajahnya terlihat lebih terbuka. Mungkin karena kesan yang ditimbulkannya tampak berbeda. Atau mungkin memang t...

Tanda-Tanda Seseorang Sedang Jatuh Cinta

Image
Pernah tidak, kamu membaca tulisan tentang tanda-tanda seseorang sedang jatuh cinta? Aku pernah. Bukan sekali, melainkan berkali-kali. Entah dari buku psikologi populer, artikel, atau sekadar obrolan orang-orang yang mengaku sudah lebih dulu mengenal rumitnya perasaan. Lucunya, setiap kali membaca daftar tanda-tanda itu, aku seperti sedang membuka kembali album-album lama dalam hidupku. Wajah-wajah yang pernah singgah muncul satu per satu. Ada yang dulu diam-diam menyukaiku, lalu akhirnya mengaku. Ada yang baru kupahami perasaannya setelah semuanya benar-benar selesai. Dan hampir semuanya memiliki pola yang mirip. Mereka mulai sering mencari alasan untuk berada di dekatku. Mereka memperpanjang percakapan yang sebenarnya sudah selesai. Tatapan mata mereka menjadi sedikit lebih lama daripada sewajarnya, lalu buru-buru dialihkan ketika aku menyadarinya. Kadang mereka menawarkan bantuan yang sebenarnya tidak pernah kuminta. Kadang mereka terlihat lebih rapi ketika kebetulan kami bertemu. B...

Akulah yang Paling Banyak Kehilangan

Image
Kemarin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa begitu mantap dengan keputusan yang sudah berbulan-bulan hanya berani kusimpan di dalam kepala. Rasanya seperti ada sesuatu yang akhirnya mencapai batasnya. Terlalu lama dipendam, terlalu lama dipikirkan, terlalu lama dibiarkan tumbuh tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengetahui ke mana arahnya. Aku ingin mengatakan semuanya. Sesederhana itu. Aku ingin berhenti berbicara melalui tatapan yang belum tentu dimengerti. Berhenti menyusun ribuan kemungkinan dari hal-hal kecil yang bahkan bisa saja tidak berarti apa-apa. Berhenti hidup di antara dugaan yang setiap hari berubah bentuk mengikuti suasana hati. Aku hanya ingin jujur. Berbulan-bulan memendam rasa ternyata melelahkan. Setiap pertemuan menjadi bahan renungan. Setiap kebetulan terasa seperti teka-teki. Setiap hari aku pulang membawa pertanyaan yang sama, lalu bangun esok paginya dengan pertanyaan yang masih sama pula. Sampai akhirnya kemarin aku berpikir, mungkin sudah...

Menunggu Sebuah Moment dan Kesempatan

Image
Kadang, di tengah semua kebingungan ini, justru rasa kasihan yang lebih dulu datang. Entah kenapa aku sering membayangkan, jika memang selama ini ada upaya-upaya kecil untuk menarik perhatianku, betapa melelahkannya berada di posisi itu. Betapa melelahkannya terus berusaha terlihat, sementara orang yang ingin dilihat justru memilih berpura-pura sibuk dengan dunianya sendiri. Barangkali aku sedang terlalu banyak berasumsi. Barangkali semua itu memang hanya cara pikirku yang gemar menyusun cerita dari potongan-potongan peristiwa. Namun, kalau pun dugaanku benar, aku kadang merasa tidak enak juga. Sebab aku tahu rasanya menunggu. Aku sudah cukup lama menunggu dua pesan yang tak pernah mendapat balasan. Menunggu sebuah sapaan yang tak pernah benar-benar datang. Menunggu keberanian yang selalu terasa hanya tinggal selangkah lagi, tetapi tidak pernah sampai. Menunggu ternyata melelahkan. Dan kalau memang ia juga sedang menunggu sesuatu dariku, mungkinkah suatu hari nanti ia akan merasakan le...

Mungkin Sama-sama Menunggu untuk Memulai

Image
 Semakin kupikirkan, sebenarnya ada begitu banyak kesempatan yang mungkin bisa mengubah arah cerita ini. Bukan kesempatan yang luar biasa. Bukan pula peristiwa dramatis seperti yang sering ada di film-film. Hanya kesempatan sederhana. Berpapasan di lorong. Berdiri berdekatan di depan loker. Sama-sama menunggu sesuatu. Atau sekadar berada dalam ruangan yang sama tanpa terlalu banyak orang di sekeliling. Rasanya, pada momen-momen seperti itu, satu kalimat saja sudah cukup. "Halo." "Apa kabar?" Atau bahkan pertanyaan receh yang sebenarnya tidak penting. Barangkali itu sudah mampu memecahkan kebekuan yang selama ini kami pelihara. Namun, dari apa yang kulihat, semua kesempatan itu selalu berakhir dengan cara yang sama. Ia tampak mendekat, berada dalam jarak yang cukup untuk kusadari kehadirannya, lalu berhenti sampai di sana. Tidak ada sapaan. Tidak ada percakapan. Hanya keberadaan yang menggantung, seolah memang sengaja dibiarkan menjadi teka-teki. Mungkin aku salah me...