Kadang aku duduk cukup lama hanya untuk menatap halaman statistik blogku sendiri. Angka-angka itu bergerak naik turun seperti detak yang punya ritme sendiri. Ada hari ketika pengunjungnya tembus ribuan dalam satu hari, angka yang membuatku terdiam, antara kaget dan sedikit tidak percaya. Tapi ada juga hari-hari yang jauh lebih sepi, hanya ratusan saja, seperti rumah yang tetap berdiri tapi tanpa banyak tamu yang singgah. Aneh rasanya memikirkan itu semua. Aku sering bertanya dalam hati, sebenarnya mereka datang dari mana? Siapa yang mengetikkan kata kunci tertentu hingga akhirnya terdampar di tulisanku? Apakah mereka membaca sampai selesai, atau hanya singgah beberapa detik lalu pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu butuh jawaban, tapi tetap saja muncul, terutama ketika melihat grafik yang naik tajam tanpa aba-aba. Yang lebih membuatku heran, justru tulisan-tulisan lama, bahkan yang kutulis sebelum tahun 2000-an, yang sering paling banyak dibaca. Tulisan yang lahir di masa ke...
Semua bermula dari satu kata yang kelihatannya tidak berbahaya, hi . Hanya dua huruf, satu suku kata, satu sentuhan jari di layar yang terlalu ringan untuk menanggung beban sebesar itu. Tapi entah kenapa, sebelum menekan tombol kirim, dadaku terasa seperti sedang menyimpan badai yang menunggu pecah. Aku menatap layar terlalu lama, seolah-olah kata itu bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih cerdas, lebih dewasa, lebih pantas untuk seseorang yang ingin terlihat tenang dan tidak sedang jatuh cinta diam-diam. Aku tahu itu terdengar konyol. Dan mungkin memang konyol. Karena pada akhirnya aku tetap menekan tombol kirimnya. Lalu seketika, penyesalan datang seperti tamu yang tidak diundang, duduk santai di sebelahku, dan menertawakan keberanianku yang terlalu tipis. Rasanya seperti kembali menjadi anak SMA yang baru belajar menyukai seseorang, yang mengira setiap pesan adalah pertaruhan harga diri. Padahal aku tahu persis, di usia sekarang, aku seharusnya sudah melewati fase-fase...