Semalam aku kembali bertemu dengannya. Aneh rasanya mengatakan itu, sebab pertemuan ini bukan terjadi di lorong kantor, bukan pula di dekat loker, atau di antara kesibukan yang biasanya menjadi saksi bisu tatapan-tatapan singkat kami. Pertemuan itu terjadi di tempat yang bahkan tidak bisa kupilih untuk kudatangi. Tempat yang datang begitu saja ketika mataku terpejam. Semuanya terasa begitu nyata. Aku masih mengingat setiap detiknya dengan jelas. Awalnya dia berjalan ke arahku. Langkahnya pelan, tenang, seolah sudah tahu bahwa aku tidak akan ke mana-mana. Sementara aku justru berdiri mematung. Entah kenapa, seluruh keberanian yang sering kususun di dalam kepala mendadak lenyap. Otakku membeku. Tidak ada satu pun kalimat yang berhasil kususun. Mulutku kelu. Bahkan sekadar mengangkat tangan pun terasa sulit. Semakin lama, jarak kami semakin dekat. Aku sempat berpikir untuk mundur satu langkah. Namun tidak sempat. Dia sudah berada tepat di hadapanku. Begitu dekat hingga aku dapat melihat s...
Aku benar-benar mengira hari ini dia tidak akan datang. Jam sudah lewat dari biasanya. Aktivitas kantor hampir berjalan seperti biasa tanpa kehadirannya. Sedikit demi sedikit aku mulai menerima kemungkinan bahwa hari ini akan menjadi satu lagi hari yang harus kulewati tanpa melihat wajahnya. Lalu, tanpa peringatan apa pun, pintu masuk terbuka. Kebetulan saat itu pandanganku memang sedang mengarah ke televisi yang posisinya tepat menghadap pintu. Aku sama sekali tidak sedang menunggunya, setidaknya itulah yang ingin kupercayai. Aku hanya sedang melihat layar yang kebetulan berada di arah yang sama. Namun begitu sosok itu muncul, seluruh pembelaan yang kubangun runtuh begitu saja. "Itu dia." Kalimat itu langsung melintas di kepalaku. Dan anehnya, dalam hitungan detik, emosiku seperti berebut mengambil alih. Ada rasa senang. Ada rasa lega. Ada sedikit kegirangan yang berusaha kutahan mati-matian. Tetapi bersamaan dengan itu muncul juga kebingungan yang sama besarnya. Sekarang ...