Aku Merindukannya
Biasanya dia selalu punya cara untuk menungguku. Tidak harus lama, bahkan kadang hanya beberapa detik yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Tetapi aku sudah hafal kebiasaannya. Biasanya dia akan berada di ambang pintu, seolah-olah masih ada sesuatu yang harus dikerjakan di sana, padahal aku tahu, atau setidaknya merasa tahu, bahwa dia sedang menunggu kesempatan untuk bertemu denganku sebelum pulang. Kadang aku hanya melihatnya sekilas. Kadang kami bahkan tidak saling menyapa. Tetapi keberadaannya di sana selalu seperti sebuah penanda kecil bahwa hari itu belum benar-benar selesai. Kemarin, kebiasaan itu tidak terjadi. Ketika aku datang, dia sudah pergi. Sesederhana itu sebenarnya. Tetapi entah kenapa, perubahan kecil itu langsung membuat pikiranku bekerja terlalu jauh. Aku mulai mengulang kejadian beberapa hari terakhir, terutama tentang tepukan di bahunya yang kulakukan secara spontan. Jangan-jangan itu membuatnya berpikir lain? Jangan-jangan dia akhirnya sadar b...