Perjalanan itu sebenarnya sederhana, hanya menyeberangi kota yang sama sekali bukan milikku. Kota dengan langit yang terasa berbeda, udara yang punya bau asing, dan jalanan yang seolah tidak pernah mengenalku sebelumnya. Tapi entah kenapa, semua yang asing itu terasa tidak terlalu jauh selama kamu berjalan di sampingku. Kita tiba di hari yang berbeda dari rutinitas yang biasa kita jalani. Dua hari yang terasa seperti dua dunia yang terpisah dari kehidupan lama. Waktu seperti dipotong rapi, disisihkan khusus untuk kita berdua. Tidak ada kewajiban, tidak ada tuntutan, hanya langkah kaki yang bergerak tanpa tujuan yang terlalu jelas. Dan mungkin di situlah semuanya mulai berubah. Jatuh cinta, katanya, selalu terasa manis di awal. Aku dulu mengira itu hanya kalimat klise yang terlalu sering diulang. Tapi ketika berjalan bersamamu di kota yang tidak kita kenal, aku mulai mengerti maksudnya. Ada rasa ringan yang sulit dijelaskan, seperti tidak ingin waktu bergerak terlalu cepat. Seperti i...
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kita benar-benar bicara, bukan sekadar bertukar kata yang lewat begitu saja seperti orang asing yang kebetulan saling mengenal. Anehnya, ingatan itu terasa kabur. Seperti adegan yang pernah ada, tapi perlahan pudar karena terlalu lama tidak diputar ulang. Aku hanya ingat perasaan setelahnya, hening yang aneh, ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih luas dari biasanya. Kapan terakhir kita saling menatap tanpa rasa canggung? Kapan terakhir kata “cinta” terasa seperti sesuatu yang masih punya tempat untuk pulang? Pertanyaan-pertanyaan itu datang pelan, seperti tamu lama yang mengetuk pintu di malam hari. Tidak memaksa, tapi juga tidak mau pergi. Aku mulai menyadari perubahan itu tidak datang sekaligus. Tidak ada satu hari khusus yang bisa ditandai sebagai awal semuanya retak. Perubahan itu datang perlahan, hampir sopan, seperti jarak yang tumbuh diam-diam di antara dua kursi yang dulunya berdempetan. Kita masih duduk di tempat yang sama, tapi entah ...