Skip to main content

Posts

Sudut Pandang

  Aku semakin percaya bahwa setiap orang hidup di dalam “dunianya” masing-masing, dunia yang dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, luka, keberuntungan, juga hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terlihat oleh orang lain. Dari situlah perspektif lahir. Maka tidak heran jika satu persoalan bisa terlihat sederhana bagi seseorang, tapi terasa rumit bagi yang lain. Bukan karena ada yang lebih benar, melainkan karena kami berdiri di titik pandang yang berbeda. Hari ini sebenarnya aku sengaja menyempatkan diri ikut kumpul-kumpul. Bukan acara besar, hanya pertemuan santai yang dipenuhi obrolan ringan, tawa sesekali, dan suara gelas yang saling bersentuhan. Aku datang bukan semata ingin bersosialisasi, tapi lebih karena rasa ingin tahu. Ada dorongan kecil dalam diriku untuk memahami bagaimana mereka berpikir, seperti apa pola yang mereka pakai saat melihat masalah, mengambil keputusan, atau menilai sesuatu. Awalnya semuanya terasa biasa saja. Kami berbincang tentang banyak hal,  p...
Recent posts

Kenapa Hal yang Terlalu Direncakan Kadang Gagal?

Aku pernah berpikir bahwa semakin rapi sebuah rencana disusun, semakin besar pula kemungkinan ia berjalan mulus. Bukankah hidup sering diajarkan begitu? Buat target, hitung matang, siapkan semuanya dari jauh-jauh hari, lalu tinggal melangkah. Tapi semakin ke sini, aku justru sering melihat hal yang sebaliknya. Ada rencana yang sudah disiapkan dengan penuh kehati-hatian, tapi tetap saja berantakan di tengah jalan. Sementara keputusan yang lahir tiba-tiba, tanpa banyak drama, malah sampai ke tujuan dengan selamat. Pengalaman soal umroh sepertinya jadi contoh paling nyata dalam hidupku. Aku berangkat umroh tanpa persiapan yang panjang. Keputusan untuk memberangkatkan kakakku dulu rasanya hampir spontan. Tidak terlalu banyak pertimbangan yang rumit. Ada rezekinya, ada jalannya, lalu berangkat. Semuanya mengalir begitu saja, seperti air menemukan sungainya sendiri. Tidak banyak hambatan, tidak ada cerita berliku yang membuat dahi berkerut. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi ketika i...

Pengen Umroh Lagi dan Lagi....

Dulu aku sempat bertanya-tanya dalam hati setiap kali mendengar seseorang berkata, “Pengen umroh lagi.” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup menggelitik. Bukankah mereka sudah pernah ke sana? Sudah pernah melihat Ka’bah dari dekat, sudah pernah thawaf, sudah pernah berdiri dalam haru di antara jutaan doa. Lalu kenapa masih ingin kembali? Awalnya kupikir mungkin itu sekadar keinginan biasa, seperti orang yang rindu kembali ke tempat liburan favorit. Tapi lama-lama aku sadar, rasanya tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika sehari-hari. Beberapa waktu lalu aku duduk bersama seorang kenalan yang sudah dua kali umroh. Obrolannya santai saja, ditemani teh hangat dan sore yang pelan. Tanpa banyak pengantar, ia berkata, “Kalau sudah pernah ke sana, rasanya hati itu seperti tertinggal sedikit.” Kalimat itu membuatku diam sejenak. Tertinggal sedikit. Bukan hilang, tapi seperti ada bagian dari diri yang enggan pulang. Ia lalu bercerita tentang momen pertam...

Ambisi dan Mati

 Akhir-akhir ini aku sering merasa sedang berdiri di sebuah persimpangan yang aneh, bukan persimpangan besar yang dramatis, tapi lebih seperti jalan kecil yang tiba-tiba membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Usia, rupanya, punya caranya sendiri untuk mengetuk kesadaran. Tidak keras, tidak juga menakutkan, hanya pelan… tapi cukup untuk membuat hati bertanya, “Sudah sejauh apa aku berjalan?” Lucunya, meski angka umur terus bertambah, ada bagian dalam diriku yang seperti menolak untuk benar-benar tua. Aku masih ngeyel ingin melakukan banyak hal sendiri. Masih merasa kuat, masih ingin bergerak, masih percaya bahwa selama kaki bisa melangkah, kenapa harus bergantung? Bahkan untuk urusan kecil sekalipun, aku sering berkata pada diri sendiri, “Ah, ini mah masih bisa.” Padahal tubuh kadang sudah memberi kode halus, mudah lelah, butuh waktu lebih lama untuk pulih, atau sekadar ingin duduk lebih lama setelah aktivitas. Tapi, ya begitu… ada gengsi kecil yang mungkin tidak terl...

Keluarga yang Tersisih

 Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar kita pahami, meski sudah berulang kali mencoba mencari jawabannya. Sampai sekarang, aku pun tidak tahu apakah ada kesalahan yang pernah kami lakukan pada mereka. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kata-kata tajam yang kuingat pernah terucap. Semuanya terasa biasa saja, sampai suatu hari hidup berubah, tepat setelah ibuku meninggal. Sejak saat itu, pelan-pelan kami seperti bergeser ke pinggir lingkaran keluarga. Awalnya tidak terlalu terasa. Mungkin karena kami juga sedang sibuk berduka, belajar menerima kehilangan, dan menata ulang hidup tanpa sosok yang dulu menjadi pengikat banyak hal. Tapi lama-lama, ada pola yang mulai terlihat. Kami tidak lagi diajak dalam kegiatan keluarga. Bukan cuma sekali dua kali. Berkali-kali. Setiap ada acara, entah kumpul sederhana, hajatan, atau sekadar makan bersama, kami sering baru tahu setelah semuanya lewat. Kadang dari cerita orang lain, kadang tanpa sengaja melihat foto yang bereda...

Hidup di Antara Orang yang Tegas dan Orang peragu

  Pernah memperhatikan bagaimana orang mengambil keputusan? Ada yang terlihat begitu mantap. Tidak banyak bertanya, tidak terlalu lama menimbang. Begitu merasa itu yang terbaik, langsung melangkah. Sementara yang lain tampak seperti berdiri di persimpangan terlalu lama, maju takut salah, mundur takut menyesal. Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa memilih hanya bertemu satu tipe manusia. Dalam satu ruang kerja, lingkar pertemanan, bahkan keluarga, selalu ada dua kutub itu,  mereka yang tegas dalam menentukan arah hidupnya, dan mereka yang masih bernegosiasi dengan pikirannya sendiri. Dan sering kali, tanpa sadar, perbedaan itu mengajarkan sesuatu. Ada rasa kagum ketika melihat seseorang yang berani mengambil keputusan besar. Pindah kerja tanpa ragu. Menolak kesempatan yang tidak sesuai nilai hidupnya. Atau memilih jalan yang tidak populer, tapi terasa benar baginya. Bukan berarti mereka tidak takut. Justru kemungkinan besar mereka juga dihantui pertanyaan yang sama sepe...

Wang Yibo dan Gempa yang Menggoyang Pelan

 Semalam aku tidur lebih cepat dari biasanya. Badan rasanya sudah minta kompromi sejak habis ngegym setelah magrib. Otot-otot pegal tapi enak, jenis capek yang bikin kasur terasa lima kali lebih empuk. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku benar-benar tenggelam dalam tidur. Bahkan rasanya kepala baru saja menyentuh bantal, tahu-tahu sudah masuk ke dunia mimpi. Di mimpi itu, aku sedang menonton drama China bertema kolosal kerajaan. Jenis drama yang penuh adegan perang, jubah panjang berkibar, musik megah, dan tentu saja, jurus-jurus yang tidak masuk akal tapi entah kenapa tetap seru ditonton. Para pendekar melayang-layang di atas pohon, berlari di udara, lalu bertarung dengan pedang berkilau. Dramatis sekali. Aku sampai terbawa suasana, seperti penonton setia yang tidak ingin ketinggalan satu adegan pun. Dan di tengah semua kekacauan yang indah itu, muncul satu wajah yang langsung terasa familiar,  Wang Yibo. Nah loh. Yang bikin lucu, aku sebenarnya tidak sedang mengik...