Lucunya, kebiasaan itu masih tertinggal seperti refleks yang tidak sempat ikut pamit. Setiap kali membuka media sosial, jemariku seperti tahu jalan sendiri, mengetik namanya, membuka profilnya, lalu berhenti di halaman yang sama, terkunci, sunyi, tak memberi apa-apa. Tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada yang bisa dipahami. Hanya foto profil kecil dan ruang kosong yang terasa terlalu luas untuk sesuatu yang sebenarnya begitu sederhana. Aku tahu tak ada gunanya. Aku juga tahu aku tidak benar-benar berharap menemukan sesuatu. Tidak ada harapan yang menunggu di sana. Tapi tetap saja aku mampir. Seperti seseorang yang lewat di depan rumah lama, padahal sudah tahu penghuninya pindah entah ke mana. Bukan ingin mengetuk pintu. Hanya ingin memastikan rumah itu masih berdiri. Dan setiap kali selesai, rasanya datar saja. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada rasa sakit yang dramatis. Hanya semacam keheningan kecil yang cepat berlalu, seperti menutup aplikasi yang tidak sengaja terbuka. Mungkin ...
Pesan itu akhirnya dibaca. Hari Minggu. Tengah malam. Seperti biasa, aku tidak benar-benar tidur nyenyak. Ada kebiasaan aneh yang muncul sejak semuanya jadi serba tidak jelas: sesekali terbangun, membuka layar ponsel, mengecek tanpa harapan besar tapi juga tanpa keberanian untuk benar-benar tak peduli. Dan di antara sisa kantuk yang menggantung, aku melihat tanda itu, “dibaca”. Jumat aku mengirimnya. Minggu tengah malam baru dibuka. Entah kenapa, justru bukan rasa marah yang muncul. Bukan juga lega. Lebih ke arah… kosong yang pelan-pelan mengembang. Seperti balon yang tak diisi udara, tapi tetap membesar karena tekanan dari dalam. Dan yang lebih membuat pikiranku berlari ke mana-mana adalah satu hal, sekarang profilku sudah privat. Bukan memblokirnya. Aku tidak sekejam itu. Hanya mengembalikan semuanya ke mode semula, tertutup. Seolah aku sedang menata ulang ruang pribadiku. Tapi kalau jujur, ada sedikit gerakan defensif di sana. Seperti ingin bilang, “Kalau kamu bisa diam, aku ju...