Aku sering bertanya-tanya tentang hal yang sebenarnya sederhana, tapi rasanya selalu berputar menjadi labirin panjang di kepalaku, apakah dia juga merindukanku seperti aku merindukannya? Pertanyaan itu muncul pelan-pelan, seperti kabut yang datang tanpa suara, lalu menetap terlalu lama. Tidak ada momen dramatis yang memicunya. Ia hadir begitu saja, di sela percakapan singkat, di antara jeda pesan yang tak segera dibalas, atau di detik-detik hening setelah kami berpisah. Dan sejak itu, pertanyaan itu seperti memilih tinggal, menempati ruang paling sunyi di pikiranku. Aku tidak yakin. Benar-benar tidak yakin. Bahkan ketika mencoba meyakinkan diri sendiri, selalu ada suara kecil yang memotong di tengah kalimat, mengatakan bahwa mungkin semua ini hanya sepihak. Rasanya seperti déjà vu yang terlalu familiar. Perasaan mencintai ini terasa seperti pola lama yang kembali berulang, cerita yang pernah terjadi dengan tokoh berbeda tapi alur yang sama. Aku seperti seseorang yang menonton ulang f...
Semalam aku kembali bermimpi tentang ibuku. Rasanya aneh, belakangan ini ia datang lebih sering dalam mimpi, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau mungkin justru ada sesuatu dalam diriku yang belum selesai melepaskannya. Mimpi itu terasa begitu nyata, seperti potongan waktu yang tiba-tiba diputar ulang tanpa peringatan. Di mimpi itu, semuanya dimulai dengan pertengkaran. Aku tidak tahu dengan siapa. Wajahnya kabur, suaranya samar, tapi emosinya terasa sangat jelas. Kami bertengkar hebat. Kalimat demi kalimat keluar dengan nada tinggi, penuh emosi yang terasa menyesakkan. Ada rasa marah, kecewa, lelah, semuanya bercampur menjadi satu sampai rasanya kepalaku seperti dipenuhi suara yang saling bertabrakan. Di tengah pertengkaran itu, pikiran yang dulu pernah kukenal muncul lagi, lebih baik mati saja. Kalimat itu datang begitu saja, seperti refleks yang sudah pernah ada sebelumnya. Bukan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang asing. Justru terasa seperti bisikan lama yang ...