Kadang aku berpikir, apa pun ini, rasanya sudah terlalu aneh untuk disebut biasa. Bahkan mungkin tak masuk akal. Ada pola yang terus berulang, dan setiap kali terjadi, aku selalu berakhir menertawakan keadaan kami sendiri. Karena lucu sekali rasanya melihat dua orang yang jelas-jelas saling menyadari keberadaan masing-masing, tapi tetap bersikeras berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Saat berjauhan, kami seperti saling mencari. Tanpa sadar mata akan menyisir ruangan, mencari sosok yang sebenarnya berusaha dihindari. Ada kegelisahan kecil ketika tidak melihat satu sama lain terlalu lama. Tapi anehnya, begitu jarak itu mendekat, kami justru berubah menjadi dua orang paling kikuk di dunia. Sama-sama menjaga ego. Sama-sama menjaga gengsi. Sama-sama takut terlihat terlalu ingin. Dan hari ini kembali membuktikan betapa absurdnya hubungan tak bernama ini. Aku tidak tahu siapa yang datang lebih dulu pagi tadi. Sepertinya dia. Karena ketika aku sampai, kendaraannya sudah terparkir di sana. A...
Aku menyebut hari itu “Kamis Manis”. Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar besar terjadi, bukan juga karena akhirnya ada percakapan panjang yang memecah semua kebisuan kami. Tidak ada itu. Semuanya tetap berjalan seperti biasa, orang-orang datang dan pergi, pekerjaan berjalan, suara-suara kecil memenuhi ruangan. Tapi di tengah semua hal biasa itu, ada satu hal yang membuat hari itu terasa berbeda, senyumnya. Aku melihatnya beberapa kali tersenyum hari itu. Dan entah kenapa, senyumnya terasa lebih manis dari biasanya. Sampai beberapa kali aku harus mengumpat pelan dalam hati karena sadar betapa mudahnya aku goyah hanya karena hal sesederhana itu. Rasanya menyebalkan ketika mengetahui bahwa seseorang bisa mengacaukan fokusmu hanya dengan satu lengkung kecil di wajahnya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, aku tahu persis sejak kapan semuanya dimulai. Aku masih ingat pertama kali aku benar-benar menyadari keberadaannya. Bukan karena dia melakukan sesuatu yang besar. Justru sebaliknya,...