Skip to main content

Posts

Pundak yang Tak Pernah Kumiliki

Kadang aku sendiri bingung dari mana datangnya pikiran-pikiran seperti ini. Tiba-tiba saja muncul, tanpa aba-aba, di tengah kesibukan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengannya sama sekali. Dan yang paling aneh, pikiran itu selalu terasa begitu nyata meski aku tahu semuanya hanya ada di kepalaku sendiri. Aku pernah membayangkan menangis di pundaknya. Entah sudah berapa kali bayangan itu muncul begitu saja. Kadang saat perjalanan pulang. Kadang ketika sedang sendirian menatap langit-langit kamar. Kadang bahkan di tengah keramaian, ketika aku sedang mencoba terlihat biasa saja di depan semua orang. Aku membayangkan diriku bersandar di pundaknya sambil menangis pelan. Tidak perlu banyak bicara. Tidak perlu dijelaskan apa pun. Hanya diam, lalu membiarkan semua rasa sesak yang selama ini tertahan keluar begitu saja. Dan anehnya, dalam bayangan itu selalu ada rasa tenang. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, kami bahkan tidak dekat. Kami jarang berbicara. Tidak pernah punya percakapa...
Recent posts

Perasaan Seperti Ingin Meminta Tolong

Akhir-akhir ini aku berusaha terlihat biasa saja di depan orang lain. Tetap bercanda seperlunya, tetap menjawab ketika diajak bicara, tetap menjalani hari seperti tidak ada apa-apa. Aku tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sedang memendam masalah sendirian. Tidak ingin orang bertanya terlalu jauh. Tidak ingin wajahku dibaca seperti buku yang terbuka. Tapi tubuh rupanya lebih jujur daripada mulut. Beberapa minggu terakhir, aku sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Bukan mimpi yang jelas bentuknya, bukan pula mimpi yang bisa diceritakan runtut setelah bangun tidur. Kadang hanya potongan-potongan kejadian yang terasa menyesakkan. Wajah-wajah samar. Suasana gelap. Perasaan dikejar sesuatu yang tidak terlihat. Dan anehnya, saat membuka mata, rasa takut dari mimpi itu masih tertinggal nyata di dada. Ada malam ketika aku bangun dengan napas berat, lalu duduk lama di tepi kasur sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam kepalaku. Ruangan sunyi...

Ketakutan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Belakangan ini aku sering duduk sendirian terlalu lama, memikirkan banyak hal yang sebenarnya tidak ingin kupikirkan. Pikiran itu datang pelan-pelan, biasanya saat malam mulai sepi dan tidak ada lagi suara yang bisa mengalihkan isi kepala. Dari sana, semuanya seperti terbuka satu per satu, kejadian-kejadian beberapa tahun terakhir, masalah yang datang bergantian, rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai, dan ketakutan-ketakutan kecil yang diam-diam tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Kadang aku mencoba mengingat, sejak kapan semuanya mulai terasa seberat ini. Tapi semakin kupikirkan, rasanya semua terjadi perlahan. Tidak ada satu kejadian besar yang langsung menghancurkan segalanya. Lebih seperti tumpukan kecil yang terus bertambah tanpa sempat dibersihkan. Masalah pekerjaan. Tekanan hidup. Pikiran yang tidak pernah tenang. Perasaan gagal menghadapi banyak hal. Ditambah lagi dengan kebiasaan memendam semuanya sendiri. Lama-lama, kepalaku terasa seperti ruangan sempit ya...

Klarifikasi yang Tidak Pernah Selesai

Akhir-akhir ini aku sering merasa hidupku seperti tidak pernah benar-benar keluar dari kata “klarifikasi.” Baru saja kupikir semuanya mulai tenang, luka lama mulai mengering, tiba-tiba muncul lagi satu hal baru yang memaksaku kembali duduk berhadapan dengan orang lain untuk menjelaskan diriku sendiri. Dan jujur, aku lelah. Trauma dari tahun kemarin sebenarnya belum benar-benar hilang. Sampai sekarang, ingatan tentang masa itu masih sering muncul tiba-tiba. Tentang bagaimana rasanya harus menjelaskan sesuatu dengan kepala penuh panik. Tentang bagaimana tubuh terasa gemetar bahkan sebelum percakapan dimulai. Tentang bagaimana setelah semuanya selesai pun, rasa malu dan takutnya masih tertinggal lama di dalam kepala. Aku pikir itu sudah cukup. Tapi sekarang, aku harus melakukannya lagi. Entah kasus apa lagi yang kali ini dianggap sebagai masalah. Entah kesalahan apa lagi yang tanpa sadar kubuat. Rasanya seperti sejak tahun lalu aku tidak pernah berhenti membuat persoalan. Selalu ada ...

Selasa yang Seharusnya Membahagiakan

Harusnya Selasa ini aku bahagia. Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada banyak momen yang seharusnya bisa kusimpan baik-baik untuk membuatku tersenyum sampai malam nanti. Ada banyak kesempatan kecil yang dulu pasti akan membuatku senyum-senyum sendiri sambil mengulang adegannya berkali-kali di kepala. Tapi anehnya, hari ini semuanya terasa setengah hidup. Ada rasa senang, iya. Tapi bercampur dengan sesuatu yang berat dan mengganggu pikiranku sejak pagi. Dan di tengah kekacauan itu, dia tetap datang dengan tingkah absurdnya. Seperti biasa, tidak ada sapaan langsung. Tidak ada percakapan yang benar-benar dimulai. Tapi aku tahu dia sedang berusaha mendekat lebih lama. Aku bisa melihat caranya mencari alasan kecil untuk berada di sekitarku. Cara dia berbicara pada temannya, tapi posisi tubuhnya terlalu dekat denganku untuk disebut kebetulan. Cara dia tetap bertahan di area itu lebih lama dari yang diperlukan. Dan jujur saja, kalau saja keadaan pikiranku lebih ringan, mungkin aku akan...

Harapan yang Tidak Terjadi

Harusnya kemarin aku menuliskan semua ini. Harusnya aku meluapkan semuanya saat perasaannya masih hangat dan belum berubah menjadi sesak kecil yang menggantung di dada. Tapi entah kenapa, kemarin aku tidak punya cukup tenaga untuk bercerita panjang lebar. Mood-ku terasa datar. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi aku sendiri malas mencarinya lebih jauh. Mungkin karena kecewa yang terlalu kecil untuk disebut luka, tapi terlalu terasa untuk diabaikan. Aku bahkan bingung harus mulai dari mana. Mungkin dari hari Sabtu kemarin. Hari itu sebenarnya aku sudah menyiapkan sedikit harapan, meski aku tahu Sabtu bukan hari yang pasti untuk bisa bertemu dengannya. Kami memang jarang berada di tempat yang sama di hari itu. Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap keberuntungan kecil datang diam-diam. Setidaknya melihatnya sebentar. Setidaknya memastikan dia benar-benar ada di sana. Karena belakangan ini, sesederhana melihatnya saja sudah cukup untuk membuat hariku terasa lebih ri...

Keterasingan

Semakin lama berada di dunia kerja, aku semakin sadar bahwa yang melelahkan bukan selalu pekerjaannya. Kadang justru yang paling menguras tenaga adalah hal-hal yang tidak tertulis di jobdesk , politik kantor, permainan pengaruh, kelompok-kelompok kecil yang diam-diam menentukan siapa yang dianggap penting dan siapa yang perlahan disingkirkan. Dan jujur saja, dunia seperti itu terasa mengerikan bagiku. Terutama ketika kamu tidak punya “orang dalam”. Tidak punya lingkaran yang siap membelamu. Tidak pandai mengambil perhatian atasan. Tidak lihai berbasa-basi hanya demi menjaga posisi aman. Rasanya seperti hidup di habitat yang semua penghuninya berlomba mencari panggung, sementara aku justru sibuk mencari sudut yang tenang agar bisa bernapas. Kadang aku melihat orang-orang begitu mudah masuk ke percakapan, tertawa bersama, saling mendukung di depan, lalu berubah menjadi kompetitor diam-diam di belakang. Ada yang pintar memainkan citra, ada yang tahu kapan harus mendekat kepada orang te...