Skip to main content

Posts

Alasan Apa yang Membuatku Jatuh Cinta Padanya?

 Sore kemarin rasanya sedikit berbeda dibanding beberapa hari sebelumnya. Mungkin karena selama beberapa hari terakhir kami hanya sempat berpapasan sekilas. Pertemuan kami terlalu singkat untuk meninggalkan banyak kenangan. Aku hanya melihatnya datang atau pergi, lalu masing-masing kembali tenggelam dalam pekerjaan. Tidak ada ruang untuk memperhatikan lebih lama, tidak ada kesempatan bagi pikiranku untuk mengarang berbagai kemungkinan seperti biasanya. Namun kemarin, entah mengapa, suasananya terasa berubah. Ia sedang berbincang dengan beberapa temannya. Percakapannya tampak santai, sesekali diselingi tawa kecil. Dari kejauhan aku melihatnya seperti orang yang benar-benar menikmati obrolan itu. Akan tetapi, di sela-sela percakapan tersebut, ada beberapa gerakan kecil yang kembali menarik perhatianku. Sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Gerakan itu begitu halus sehingga bisa saja dianggap sebagai kebiasaan biasa. Namun, dari sudut pandangku, semuanya terasa seperti dilakukan deng...
Recent posts

Orang-Orang yang Datang Membawa Bensin Saat Api Sudah Menyala

Semakin lama bekerja, semakin sering aku memperhatikan satu pola yang berulang setiap kali ada seseorang tersandung masalah. Entah itu kesalahan kecil, persoalan pekerjaan, atau kasus yang kemudian menjadi pembicaraan banyak orang, selalu saja ada orang-orang yang tiba-tiba muncul seolah memiliki peran penting di dalamnya. Padahal sebelumnya mereka nyaris tidak terdengar. Namun ketika sebuah kasus mulai ramai dibicarakan, mereka datang. Ada yang bercerita seolah-olah dirinya adalah saksi utama. Ada yang mengaku paling tahu duduk perkaranya. Ada yang berbicara dengan penuh keyakinan meski sebagian ceritanya hanya berasal dari potongan-potongan kabar yang belum tentu utuh. Bahkan ada yang tanpa sadar menambahkan bumbu di sana-sini sehingga persoalan yang awalnya kecil berubah menjadi cerita yang jauh lebih dramatis. Aku benar-benar tidak habis pikir melihatnya. Entah kenapa, setiap kali ada orang yang sedang jatuh, selalu ada penonton yang ingin berdiri paling depan. Seolah-olah musi...

Pola Cinta dan Rindu

Di antara sekian banyak pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalaku, sepertinya aku mulai menemukan satu pola yang terus berulang. Pola itu sederhana, tetapi baru kusadari setelah berbulan-bulan menjalani kisah yang tidak pernah benar-benar bergerak ke mana-mana. Aneh sekali. Setiap kali kami bertemu, justru tidak banyak yang kurasakan. Tidak ada ledakan emosi yang dramatis. Tidak selalu ada jantung yang berlari lebih cepat. Bahkan belakangan ini, aku sering merasa biasa saja ketika berada dalam ruangan yang sama dengannya. Aku masih menyukainya, tentu saja. Aku masih beberapa kali mencarinya dengan pandangan. Aku masih diam-diam merasa senang ketika tahu ia datang. Namun ketika jarak kami begitu dekat, semua perasaan itu seperti mengendap begitu saja. Hening. Datar. Seolah ada sesuatu di dalam diriku yang sengaja mematikan seluruh gejolak agar aku tetap mampu berdiri dengan tenang di hadapannya. Barangkali tubuhku sedang melindungi diriku sendiri. Barangkali rasa gugup yang dulu terl...

Menjadi Auditor dan Satu Momen yang Terus Tertinggal di Kepalaku

Sialnya, hari itu aku hanya bisa melihatnya sebentar. Padahal, kalau boleh jujur, sejak pagi aku sudah berharap setidaknya ada sedikit waktu luang untuk sekadar memastikan ia datang. Bukan untuk mengobrol, bukan pula untuk menciptakan momen-momen yang selama ini sering kubesar-besarkan di dalam kepala. Hanya ingin melihatnya, lalu kembali bekerja seperti biasa. Sayangnya, hari itu bukan milikku. Selama beberapa hari terakhir aku sedang menjadi auditor dalam kegiatan audit mutu internal. Tugasku bukan pekerjaan yang bisa dikerjakan sambil lalu. Aku harus memeriksa dokumen, mencocokkan bukti, menilai capaian kinerja, hingga mengaudit pekerjaan para pimpinan dan unit-unit strategis selama satu tahun penuh. Konsentrasi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Satu angka yang terlewat atau satu dokumen yang salah dibaca bisa mengubah keseluruhan hasil audit. Karena itulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiranku benar-benar dipenuhi oleh pekerjaan. Bahkan aku hampir tidak memil...

Butterfly Effect

Sebenarnya, tidak ada cerita baru yang ingin kutulis hari ini. Kalau dipikir-pikir, kisah kami hanya berputar di tempat yang sama. Adegannya berganti, harinya berubah, tetapi alurnya nyaris tidak pernah benar-benar bergerak. Kami bertemu, saling melihat sekilas, menjaga jarak, lalu pulang dengan pikiran masing-masing. Besoknya terulang lagi. Minggu depannya juga begitu. Seolah-olah semesta sengaja menulis cerita yang sama dengan sudut pandang yang sedikit berbeda setiap harinya. Barangkali karena itulah aku mulai kehabisan kata-kata. Atau mungkin, yang sebenarnya berubah adalah perasaanku sendiri. Aku masih menyukainya. Kalimat itu tidak berubah. Namun cara hatiku menyambut kehadirannya perlahan mulai berbeda. Seperti kemarin, misalnya. Aku tetap merasa senang ketika akhirnya bisa melihatnya. Ada rasa lega yang diam-diam muncul begitu mengetahui ia benar-benar datang. Tetapi setelah itu... ya sudah. Tidak ada ledakan apa pun. Tidak ada degup jantung yang tiba-tiba berlari lebih cepat. ...

Menunda Pulang

Sebenarnya, sore itu aku sudah berhenti berharap. Sejak siang aku tidak melihatnya sama sekali. Jam demi jam berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadirannya. Lama-kelamaan aku mulai menerima kenyataan bahwa mungkin hari itu akan berakhir seperti hari-hari lain ketika kami tidak sempat berpapasan. Tidak apa-apa, kataku pada diri sendiri. Toh dunia tidak akan berhenti hanya karena hari ini aku tidak melihat wajahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Berkas-berkas yang berserakan di meja mulai kurapikan satu per satu. Botol minum kumasukkan ke dalam tas. Laptop sudah kututup. Meja kerja kembali bersih seperti semula. Semua tanda menunjukkan bahwa hari ini benar-benar selesai. Setidaknya, begitulah yang kukira. Saat aku hampir melangkah meninggalkan ruangan, tanpa sengaja pandanganku mengarah ke pintu. Dan di sanalah dia. Entah sejak kapan datangnya. Aku hanya melihat sosoknya melintas di samping pintu, lalu berjalan pelan menuju loker. Sesederhana itu. Namun entah mengapa, pemandangan yan...

Sisa-sisa Pikiranku yang Terlalu Sering Memikirkannya

Semalam aku kembali bertemu dengannya. Aneh rasanya mengatakan itu, sebab pertemuan ini bukan terjadi di lorong kantor, bukan pula di dekat loker, atau di antara kesibukan yang biasanya menjadi saksi bisu tatapan-tatapan singkat kami. Pertemuan itu terjadi di tempat yang bahkan tidak bisa kupilih untuk kudatangi. Tempat yang datang begitu saja ketika mataku terpejam. Semuanya terasa begitu nyata. Aku masih mengingat setiap detiknya dengan jelas. Awalnya dia berjalan ke arahku. Langkahnya pelan, tenang, seolah sudah tahu bahwa aku tidak akan ke mana-mana. Sementara aku justru berdiri mematung. Entah kenapa, seluruh keberanian yang sering kususun di dalam kepala mendadak lenyap. Otakku membeku. Tidak ada satu pun kalimat yang berhasil kususun. Mulutku kelu. Bahkan sekadar mengangkat tangan pun terasa sulit. Semakin lama, jarak kami semakin dekat. Aku sempat berpikir untuk mundur satu langkah. Namun tidak sempat. Dia sudah berada tepat di hadapanku. Begitu dekat hingga aku dapat melihat s...