Sepertinya aku gagal. Kalimat itu datang pelan, hampir tanpa suara, tapi terasa jelas di dalam kepala sejak kemarin. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti mencarinya, setidaknya berhenti dengan sengaja. Aku ingin berjalan seperti biasa, bekerja seperti biasa, menaruh perasaan ini di tempat yang aman, jauh dari kebiasaan menoleh tanpa alasan. Aku ingin terlihat baik-baik saja, dan lebih dari itu, aku ingin benar-benar baik-baik saja. Tapi kenyataannya, aku tetap mencarinya setiap kali ada kesempatan. Bukan dengan cara dramatis. Tidak menunggu di sudut-sudut tertentu atau mengubah rute demi berpapasan. Tidak. Ini lebih halus, lebih memalukan, semacam kebiasaan refleks yang datang tanpa izin. Mata yang diam-diam memindai ruangan. Telinga yang tiba-tiba peka pada suara yang terasa familiar. Pikiran yang selalu punya ruang untuk satu pertanyaan sederhana, kenapa dia tidak datang? Dan pertanyaan itu berkembang biak dengan cepat. Kenapa dia menghindar? Apakah benar dia menghin...
Yang paling melelahkan dari menjauh itu bukan langkahnya, tapi berpura-pura bahwa langkah itu tidak berarti apa-apa. Aku benar-benar mencoba mengambil jarak. Entah terasa atau tidak dalam perspektifnya, aku tak tahu. Aku hanya berusaha tidak lagi mencari keberadaannya di dalam ruangan. Tidak lagi otomatis menyapu pandangan untuk memastikan ia ada di sana. Tidak lagi sengaja memilih tempat duduk yang memungkinkan garis pandangku jatuh ke arahnya. Meski, tentu saja, tak semuanya bisa kuhindari. Ada momen-momen kecil yang tak bisa dikontrol, berpapasan di lorong, berdiri dalam antrean yang sama, atau sekadar menyadari suaranya di antara keramaian. Di saat-saat seperti itu, aku harus bekerja dua kali lebih keras untuk terlihat biasa saja. Wajah datar. Gestur wajar. Tertawa pada hal-hal yang memang lucu, bukan karena ia ada di sekitar. Aku merasa seperti sedang memainkan peran sebagai diriku sendiri. Sehari-hari aku tetap beraktivitas seperti biasa. Mengobrol dengan orang lain. Menyele...