Sebenarnya, kalau aku diminta jujur sepenuhnya, aku pun tidak selalu yakin dengan perasaanku sendiri. Ada masa-masa ketika hati terasa begitu penuh, begitu yakin bahwa ini cinta, atau setidaknya sesuatu yang mendekati itu. Namun pengalaman mengajarkanku bahwa tidak semua getaran di dada layak disebut cinta. Kadang ia hanya kekaguman yang tumbuh subur karena jarak. Kadang hanya rasa nyaman yang datang di waktu yang tepat. Kadang, lebih menyedihkan lagi, hanya ilusi yang kubangun sendiri. Ini bukan pertama kalinya aku berada di titik seperti ini. Sudah beberapa kali sebelumnya aku merasa disukai. Tatapan yang terasa berbeda, perhatian yang tampak lebih dari biasa, sikap yang membuatku berpikir, “Mungkin kali ini benar.” Di saat yang sama, aku pun merasa menyukai dan mencintai. Rasanya hangat, mengalir, meyakinkan. Namun berkali-kali pula aku harus menerima kenyataan bahwa semua itu hanya perasaanku saja. Tidak ada pengakuan. Tidak ada langkah nyata. Tidak ada keberanian yang be...
Sampai sekarang aku bahkan tidak tahu namanya. Aneh, ya. Di zaman ketika orang bisa menemukan identitas hanya lewat satu potong foto, aku justru gagal mengetahui nama seseorang yang hampir setiap hari kulihat. Pernah beberapa kali aku mencoba bertanya pelan-pelan pada orang lain, seolah sekadar ingin tahu biasa saja. Tapi selalu saja mentok. Entah memang mereka tidak tahu, atau semesta sengaja menyimpannya dariku. Akhirnya aku menyerah pada satu peran yang paling aman, pengagum dari kejauhan. Aku hanya berani melihatnya diam-diam. Menyimpan jarak yang cukup agar tidak terlihat mencolok, tapi cukup dekat untuk memastikan ia nyata. Ada semacam ketenangan dalam mengagumi tanpa dikenali, meski di sisi lain ada juga getir kecil karena tak pernah benar-benar berani melangkah. Aku masih ingat betul hari pertama semuanya bermula. Hari itu adalah hari pertamaku di tempat itu. Aku berada di dalam ruangan, sedang sibuk melakukan sesuatu, mungkin membereskan, mungkin sekadar menyesuaikan diri ...