Skip to main content

Posts

Justru Karena Tak Masuk Akal Itulah Aku Belum Bisa Berhenti Memikirkannya

Kadang aku berpikir, apa pun ini, rasanya sudah terlalu aneh untuk disebut biasa. Bahkan mungkin tak masuk akal. Ada pola yang terus berulang, dan setiap kali terjadi, aku selalu berakhir menertawakan keadaan kami sendiri. Karena lucu sekali rasanya melihat dua orang yang jelas-jelas saling menyadari keberadaan masing-masing, tapi tetap bersikeras berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Saat berjauhan, kami seperti saling mencari. Tanpa sadar mata akan menyisir ruangan, mencari sosok yang sebenarnya berusaha dihindari. Ada kegelisahan kecil ketika tidak melihat satu sama lain terlalu lama. Tapi anehnya, begitu jarak itu mendekat, kami justru berubah menjadi dua orang paling kikuk di dunia. Sama-sama menjaga ego. Sama-sama menjaga gengsi. Sama-sama takut terlihat terlalu ingin. Dan hari ini kembali membuktikan betapa absurdnya hubungan tak bernama ini. Aku tidak tahu siapa yang datang lebih dulu pagi tadi. Sepertinya dia. Karena ketika aku sampai, kendaraannya sudah terparkir di sana. A...
Recent posts

Kamis yang Terlalu Manis

Aku menyebut hari itu “Kamis Manis”. Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar besar terjadi, bukan juga karena akhirnya ada percakapan panjang yang memecah semua kebisuan kami. Tidak ada itu. Semuanya tetap berjalan seperti biasa, orang-orang datang dan pergi, pekerjaan berjalan, suara-suara kecil memenuhi ruangan. Tapi di tengah semua hal biasa itu, ada satu hal yang membuat hari itu terasa berbeda, senyumnya. Aku melihatnya beberapa kali tersenyum hari itu. Dan entah kenapa, senyumnya terasa lebih manis dari biasanya. Sampai beberapa kali aku harus mengumpat pelan dalam hati karena sadar betapa mudahnya aku goyah hanya karena hal sesederhana itu. Rasanya menyebalkan ketika mengetahui bahwa seseorang bisa mengacaukan fokusmu hanya dengan satu lengkung kecil di wajahnya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, aku tahu persis sejak kapan semuanya dimulai. Aku masih ingat pertama kali aku benar-benar menyadari keberadaannya. Bukan karena dia melakukan sesuatu yang besar. Justru sebaliknya,...

Menghindar, Lalu Mencari

Rabu datang dengan cara yang aneh, terlalu sunyi, terlalu kosong, seperti ada sesuatu yang sengaja dihilangkan dari rutinitas yang mulai terbiasa kujalani. Aku tidak menemukannya hari itu. Sama sekali. Bahkan bayangannya pun tidak. Beberapa kali tanpa sadar mataku menyisir ruangan, lorong, sudut-sudut yang biasanya pernah menyimpan jejak keberadaannya. Tempat-tempat yang dulu terasa biasa saja kini seperti memiliki kemungkinan. Tapi hari itu, semuanya kosong. Tidak ada sosok yang tiba-tiba lewat di belakangku. Tidak ada gerakan kecil yang mencuri perhatian. Tidak ada permainan absurd yang diam-diam kutunggu meski selalu kusingkal keberadaannya. Aku mencoba bersikap biasa. Seolah ketidakhadirannya bukan sesuatu yang perlu dipikirkan. Tapi semakin siang berjalan, semakin aku sadar bahwa pikiranku terus mencarinya. Diam-diam. Tanpa izin. Entah di mana dia berada. Kalimat itu terus berputar di kepalaku seperti lagu yang tak selesai. Aku tidak tahu apakah dia memang tidak datang, atau ...

Tentang Dua Ego yang Terlalu Keras Kepala untuk Mengalah

Selasa datang tanpa kejutan, tanpa denting kecil yang biasanya membuat dadaku berisik sejak pagi. Hari itu berjalan seperti hari-hari yang seharusnya berjalan, tenang, datar, nyaris tidak meninggalkan jejak. Aku datang, duduk, bekerja, berpindah ruangan, berbicara seperlunya. Semua berlangsung normal, setidaknya di permukaan. Tidak ada getaran berlebihan, tidak ada jantung yang tiba-tiba berlari tanpa aba-aba. Rasanya seperti menonton ulang film yang dulu sempat membuatku deg-degan, tapi kini hanya terasa seperti gambar bergerak tanpa suara. Beberapa kali dia mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat kesadaranku diam-diam siaga. Aneh, karena setiap kali jarak itu mulai menipis, justru aku yang mengambil satu langkah mundur. Bukan karena tidak ingin berada di dekatnya. aku tahu itu bukan alasannya, melainkan karena aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa jika jarak itu benar-benar hilang. Rasanya seperti berdiri di depan pintu yang selama ini hanya kulihat dari jau...

Bagaimana Mungkin Seseorang Tertarik pada Sesuatu yang Bahkan Aku Sendiri Tidak Bisa Sukai?

Aku pernah berkata pada diriku sendiri bahwa aku punya terlalu banyak dialog. Kalimat-kalimat panjang, rapi, bahkan kadang terasa puitis, berputar di kepala seperti naskah drama yang siap dipentaskan kapan saja. Aku tahu persis bagaimana membuka percakapan, bagaimana menyisipkan candaan kecil, bagaimana menjaga ritme obrolan agar terasa hangat. Dalam bayanganku, semuanya berjalan mulus. Aku tidak pernah kehabisan kata. Tapi setiap kali berhadapan dengannya, semua dialog itu seperti hilang begitu saja. Kosong. Sunyi. Hanya ada jeda panjang yang tidak bisa kuisi. Aku membisu. Mulutku kelu seperti lupa bagaimana cara menyusun kata menjadi suara. Padahal beberapa menit sebelumnya, di dalam kepalaku, aku bahkan sudah menyiapkan beberapa versi percakapan. Yang santai. Yang lucu. Yang pura-pura tidak peduli. Tapi begitu dia benar-benar ada di depan mata, semua versi itu runtuh bersamaan. Tidak tersisa satu pun yang bisa kugunakan. Dan setiap kali itu terjadi, aku pulang dengan rasa yang...

Dan Begitulah Senin Ini Berakhir. Tanpa Cerita Panjang

Hari Senin ini dimulai dengan kebiasaan yang bahkan tak lagi ingin kuakui sebagai kebiasaan. Berkali-kali aku melongok ke arah pintu masuk. Tidak terang-terangan, tentu saja. Hanya sekilas, seolah sedang mencari sesuatu yang lain. Seolah-olah mataku kebetulan saja terseret ke sana. Padahal aku tahu persis apa yang kutunggu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu hitungannya hilang. Menjadi refleks. Seperti napas yang tidak lagi dihitung. Setiap kali pintu terbuka, jantungku sedikit naik, lalu kembali turun ketika yang muncul bukan dia. Ada orang lain, lalu orang lain lagi. Wajah-wajah yang familiar tapi tidak sedang kucari. Aku mencoba menertawakan diriku sendiri dalam hati. Betapa konyolnya berharap pada sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan. Jam berjalan pelan hari itu. Terlalu pelan. Sampai waktu istirahat datang, dan kursinya masih kosong. Di situlah pikiranku mulai bekerja terlalu jauh. Apakah dia sakit? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah dia sengaja tidak datang? Ap...

Masih Menunggu Adegan Berikutnya

Setelah pertemuan kemarin yang terasa hambar, aku pulang dengan perasaan yang aneh. Bukan kecewa sepenuhnya, bukan juga lega. Hanya seperti ada sesuatu yang kurang, seperti menonton film yang biasanya penuh adegan mendebarkan tapi kali ini berjalan tanpa klimaks. Hari itu berlalu begitu saja. Tidak ada momen berarti yang bisa kusimpan sebagai bahan bakar untuk beberapa hari ke depan. Tidak ada tatapan panjang, tidak ada gerak-gerik absurd yang bisa kupelintir menjadi kenangan manis sebelum tidur. Hari Minggu datang terlalu panjang. Aku menyadari, selama ini aku diam-diam mengandalkan pertemuan-pertemuan kecil itu sebagai suntikan endorfin. Sedikit degup, sedikit permainan mata, sedikit drama tanpa dialog, cukup untuk membuat hariku berwarna. Tapi kemarin, tidak ada yang bisa kupetik. Seperti kebun yang biasanya menyisakan satu-dua bunga liar, tapi kali ini kosong. Aku sempat menyesal. Kenapa aku tidak lebih peka? Kenapa aku tidak lebih berani? Tapi lalu aku berhenti sendiri. Hati ti...