Ramadhan tahun ini datang dengan rasa yang agak berbeda. Bukan karena suasananya berubah, bukan juga karena rutinitasnya terlalu jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Masjid tetap ramai menjelang tarawih, suara anak-anak tetap terdengar berlarian di halaman, dan pedagang takjil masih memenuhi sudut-sudut jalan seperti biasanya. Tapi entah kenapa, di tengah semua yang terasa sama itu, ada satu perasaan yang diam-diam ikut hadir, kesadaran bahwa waktu terus berjalan, dan aku sendiri sudah semakin dekat dengan usia kepala lima. Kadang kesadaran itu datang tiba-tiba, tanpa direncanakan. Misalnya ketika melihat teman lama yang kini rambutnya mulai dipenuhi uban. Atau ketika bercermin pagi hari dan menemukan bahwa garis di wajah tidak lagi sehalus dulu. Hal-hal kecil seperti itu sebenarnya biasa saja. Semua orang mengalaminya. Tapi entah mengapa, di bulan Ramadhan, bulan yang sering membuat orang lebih banyak merenung, perubahan kecil itu terasa lebih jelas. Aku sering duduk sebentar setelah ...
Beberapa hari terakhir Ramadhan terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Pagi datang, siang lewat, lalu tiba-tiba sudah sore. Di sela-sela itu, layar laptop hampir tidak pernah benar-benar mati. File terbuka, email masuk, pesan kerja berdatangan. Kadang aku baru sadar waktu sudah hampir maghrib ketika kepala mulai terasa berat dan mata terlalu lama menatap layar. Ada satu hal yang sering terlintas di kepalaku, mungkin memang begini caraku bekerja. Sejak dulu aku sering menjadi tipe orang yang baru benar-benar bergerak ketika deadline sudah dekat. Bukan karena sengaja menunda, tapi entah kenapa energi justru muncul ketika waktu mulai menipis. Saat orang lain sudah menyelesaikan tugas lebih awal, aku masih berkutat dengan kerangka, catatan kecil, dan pikiran yang belum sepenuhnya rapi. Lalu ketika tenggat semakin dekat, barulah semuanya terasa seperti tersusun sendiri. Fokus datang tiba-tiba, ide mengalir, dan pekerjaan selesai dalam waktu yang relatif singkat. Di hari-hari biasa, p...