Sampai sekarang aku bahkan tidak tahu namanya. Aneh, ya. Di zaman ketika orang bisa menemukan identitas hanya lewat satu potong foto, aku justru gagal mengetahui nama seseorang yang hampir setiap hari kulihat. Pernah beberapa kali aku mencoba bertanya pelan-pelan pada orang lain, seolah sekadar ingin tahu biasa saja. Tapi selalu saja mentok. Entah memang mereka tidak tahu, atau semesta sengaja menyimpannya dariku. Akhirnya aku menyerah pada satu peran yang paling aman, pengagum dari kejauhan. Aku hanya berani melihatnya diam-diam. Menyimpan jarak yang cukup agar tidak terlihat mencolok, tapi cukup dekat untuk memastikan ia nyata. Ada semacam ketenangan dalam mengagumi tanpa dikenali, meski di sisi lain ada juga getir kecil karena tak pernah benar-benar berani melangkah. Aku masih ingat betul hari pertama semuanya bermula. Hari itu adalah hari pertamaku di tempat itu. Aku berada di dalam ruangan, sedang sibuk melakukan sesuatu, mungkin membereskan, mungkin sekadar menyesuaikan diri ...
Ada kebiasaan kecil yang diam-diam kulakukan setiap kali ia berada dalam jarak pandang, memandangnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Bukan menatap tanpa sopan, bukan pula dengan keberanian yang terang-terangan. Hanya cukup lama untuk menyimpan garis wajahnya, cara ia bergerak, dan ekspresi yang kadang sulit dijelaskan itu ke dalam ingatan. Seolah-olah otakku adalah ruang arsip, dan aku sedang memastikan bahwa bayangannya tersimpan rapi di sana, agar bisa kupanggil kembali kapan saja, bahkan ketika ia tak ada. Namun begitu ia menoleh dan mata kami hampir bertemu, refleksku selalu sama, pura-pura melihat ke arah lain. Kadang ke jendela, kadang ke ponsel, kadang bahkan pada sesuatu yang sebenarnya tidak menarik sama sekali. Apa saja, asal bukan dirinya. Ada perasaan aneh yang membuatku belum siap tertangkap basah, semacam keinginan untuk tetap tersembunyi, menjaga perasaan ini tetap menjadi rahasia yang hanya kupahami sendiri. Padahal jauh di dalam hati, aku sering merasa...