Skip to main content

Posts

Jatuh Cinta, Katanya, Selalu Terasa Manis di Awal

Perjalanan itu sebenarnya sederhana, hanya menyeberangi kota yang sama sekali bukan milikku. Kota dengan langit yang terasa berbeda, udara yang punya bau asing, dan jalanan yang seolah tidak pernah mengenalku sebelumnya. Tapi entah kenapa, semua yang asing itu terasa tidak terlalu jauh selama kamu berjalan di sampingku. Kita tiba di hari yang berbeda dari rutinitas yang biasa kita jalani. Dua hari yang terasa seperti dua dunia yang terpisah dari kehidupan lama. Waktu seperti dipotong rapi, disisihkan khusus untuk kita berdua. Tidak ada kewajiban, tidak ada tuntutan, hanya langkah kaki yang bergerak tanpa tujuan yang terlalu jelas. Dan mungkin di situlah semuanya mulai berubah. Jatuh cinta, katanya, selalu terasa manis di awal. Aku dulu mengira itu hanya kalimat klise yang terlalu sering diulang. Tapi ketika berjalan bersamamu di kota yang tidak kita kenal, aku mulai mengerti maksudnya. Ada rasa ringan yang sulit dijelaskan, seperti tidak ingin waktu bergerak terlalu cepat. Seperti i...
Recent posts

Kamu Berubah. Atau Mungkin Aku yang Berubah

Aku mencoba mengingat kapan terakhir kita benar-benar bicara, bukan sekadar bertukar kata yang lewat begitu saja seperti orang asing yang kebetulan saling mengenal. Anehnya, ingatan itu terasa kabur. Seperti adegan yang pernah ada, tapi perlahan pudar karena terlalu lama tidak diputar ulang. Aku hanya ingat perasaan setelahnya, hening yang aneh, ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih luas dari biasanya. Kapan terakhir kita saling menatap tanpa rasa canggung? Kapan terakhir kata “cinta” terasa seperti sesuatu yang masih punya tempat untuk pulang? Pertanyaan-pertanyaan itu datang pelan, seperti tamu lama yang mengetuk pintu di malam hari. Tidak memaksa, tapi juga tidak mau pergi. Aku mulai menyadari perubahan itu tidak datang sekaligus. Tidak ada satu hari khusus yang bisa ditandai sebagai awal semuanya retak. Perubahan itu datang perlahan, hampir sopan, seperti jarak yang tumbuh diam-diam di antara dua kursi yang dulunya berdempetan. Kita masih duduk di tempat yang sama, tapi entah ...

Entah Bagaimana, Entah Kapan, Kita Akan Baik-Baik Saja Lagi

Semua ini mungkin bermula dari cara kita berbicara yang tidak pernah benar-benar sinkron. Kalimat-kalimat yang keluar terdengar sederhana, tapi selalu menyisakan makna yang berbeda ketika sampai di telinga masing-masing. Kadang aku merasa kamu menyalakan sesuatu dalam diriku, api kecil yang awalnya hangat, lalu perlahan berubah menjadi emosi yang sulit dijinakkan. Anehnya, dalam setiap percakapan yang memanas itu, kamu selalu berhasil membuatku merasa seolah semuanya berawal dariku. Seperti aku yang salah memahami. Aku yang terlalu jauh menafsirkan. Aku yang terlalu banyak berharap. Dan sejak saat itu, senyumku berubah. Bukan hilang, tapi ragu. Seolah ada jeda kecil sebelum bibirku memutuskan untuk melengkung. Seolah ada suara kecil di kepala yang selalu bertanya, apakah ini masih benar? apakah ini masih nyata? Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana tepatnya kita mulai tersesat. Yang kuingat hanya banyaknya percobaan yang tidak berhasil. Banyaknya usaha untuk kembali menemukan ba...

Tubuhku Bereaksi Lebih Cepat daripada Pikiranku

Aku tidak tahu sejak kapan semuanya mulai terasa aneh. Seolah hidup berjalan seperti biasa, langit biru, hari-hari lewat tanpa drama, dan aku masih menjadi diriku yang sama. Tapi entah bagaimana, di tengah rutinitas yang tidak berubah, muncul satu orang yang pelan-pelan mengacaukan cara kerjaku memahami dunia. Lucunya, aku bahkan tidak yakin apakah ini kebahagiaan atau justru awal dari penderitaan yang halus. Rasanya seperti berdiri di tempat yang sama, melihat langit yang sama, tapi tiba-tiba semuanya terasa berbeda hanya karena satu kehadiran. Orang lain mungkin menyebut ini hal indah. Aku sendiri masih bingung memberi nama. Pertama kali menyadarinya, tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Jantung berdetak lebih keras, napas terasa tidak teratur, dan aku mendadak kehilangan kemampuan paling sederhana, bersikap biasa saja. Menyapa pun terasa seperti misi yang terlalu besar. Apalagi mendekat. Apalagi membayangkan kemungkinan yang lebih jauh. Aku berdiri di tempatku, mencob...

Sebagai Contoh

Lebaran kemarin seharusnya sederhana saja, berjalan pelan dari rumah ke rumah, mengetuk pintu, tersenyum, berjabat tangan, lalu pulang dengan perasaan hangat yang katanya selalu menjadi ciri hari raya. Setidaknya begitu gambaran yang sering diceritakan orang.  Aku berangkat dengan harapan yang tidak terlalu besar, cukup menjalani kewajiban sosial, menyapa tetangga, lalu kembali pulang tanpa terlalu banyak percakapan panjang. Awalnya semua berjalan seperti biasa. Obrolan ringan tentang cuaca, makanan, kabar keluarga. Pertanyaan-pertanyaan yang terasa aman karena jawabannya sudah tersedia sejak dulu, kerja bagaimana, sehat ya, semoga lancar rezekinya. Kalimat-kalimat yang bergerak pelan, tidak terlalu dalam, tidak terlalu menuntut. Sampai di satu rumah, percakapan itu berubah arah tanpa peringatan. Namaku disebut. Awalnya hanya sepintas, seperti contoh kecil dalam kalimat yang panjang. Lalu di rumah berikutnya, namaku muncul lagi, kali ini lebih jelas. Di rumah setelahnya, namaku...

Berharap Suatu Hari Akan Menemukannya, Tanpa Sengaja

Beberapa hari ini aku punya kebiasaan baru yang terasa memalukan untuk diakui, datang ke tempat yang sama dengan harapan yang sama, lalu pulang membawa kekosongan yang sama. Tidak ada janji, tidak ada rencana, bahkan tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan kenapa aku harus datang. Tapi tetap saja aku datang. Seolah ada bagian kecil dalam diriku yang bersikeras percaya bahwa kebetulan bisa diatur oleh keinginan. Tempat itu sebenarnya biasa saja. Tidak istimewa. Orang-orang datang dan pergi tanpa menyadari bahwa bagi seseorang di sudut ruangan, tempat itu adalah kemungkinan. Setiap kali melangkah masuk, mataku selalu bergerak lebih cepat dari langkah kaki. Menyapu ruangan diam-diam, berpura-pura tidak mencari apa pun padahal sebenarnya hanya mencari satu orang. Dan setiap kali tidak menemukannya, ada jeda kecil yang terasa seperti napas tertahan terlalu lama. Awalnya aku menenangkan diri dengan kalimat sederhana.....  mungkin hari ini dia tidak datang. Lalu besok aku ke...

Intuisi

Setelah semua yang terjadi tahun lalu, aku mulai memperhatikan orang-orang dengan cara yang berbeda. Bukan karena ingin curiga, tapi karena rasanya naluri itu muncul sendiri, seperti refleks yang lahir dari pengalaman. Katanya, orang introvert sering punya radar yang sensitif terhadap suasana dan niat orang lain. Dulu aku tidak pernah benar-benar percaya pada kalimat itu. Sekarang, aku tidak tahu harus menaruhnya di mana, antara percaya atau hanya mencoba mencari makna dari luka yang belum selesai. Ada satu sosok yang terus muncul di kepalaku ketika memikirkan semua kejadian itu. Seseorang yang, di permukaan, tampak seperti pahlawan. Dia sering berdiri di sisi orang yang dianggap lemah, suaranya lantang ketika membela yang tertindas, kata-katanya rapi, penuh empati, dan terdengar benar. Banyak orang menyukainya. Sulit untuk tidak menyukai seseorang yang selalu terlihat berada di pihak kebaikan. Aku juga dulu begitu. Awalnya, kehadirannya terasa menenangkan. Seperti ada seseorang yan...