Setelah pertemuan kemarin yang terasa hambar, aku pulang dengan perasaan yang aneh. Bukan kecewa sepenuhnya, bukan juga lega. Hanya seperti ada sesuatu yang kurang, seperti menonton film yang biasanya penuh adegan mendebarkan tapi kali ini berjalan tanpa klimaks. Hari itu berlalu begitu saja. Tidak ada momen berarti yang bisa kusimpan sebagai bahan bakar untuk beberapa hari ke depan. Tidak ada tatapan panjang, tidak ada gerak-gerik absurd yang bisa kupelintir menjadi kenangan manis sebelum tidur. Hari Minggu datang terlalu panjang. Aku menyadari, selama ini aku diam-diam mengandalkan pertemuan-pertemuan kecil itu sebagai suntikan endorfin. Sedikit degup, sedikit permainan mata, sedikit drama tanpa dialog, cukup untuk membuat hariku berwarna. Tapi kemarin, tidak ada yang bisa kupetik. Seperti kebun yang biasanya menyisakan satu-dua bunga liar, tapi kali ini kosong. Aku sempat menyesal. Kenapa aku tidak lebih peka? Kenapa aku tidak lebih berani? Tapi lalu aku berhenti sendiri. Hati ti...
Kadang aku bingung dengan diriku sendiri. Rasanya seperti hidup di antara dua versi perasaan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, aku bisa begitu yakin bahwa apa yang kurasakan ini nyata, hangat, dan punya arti. Tapi di sisi lain, ada hari-hari seperti hari ini, hari ketika semuanya terasa biasa saja, datar, hampir tidak penting. Seolah-olah perasaan yang kemarin terasa begitu besar tiba-tiba mengecil tanpa peringatan. Hari ini kami bertemu lagi. Tidak dekat, tidak dalam jarak yang memungkinkan percakapan kecil, bahkan tidak dalam posisi yang membuatku harus memperhatikannya. Kami berada di ruangan yang sama, tapi seperti dua titik yang berdiri di garis yang berbeda. Aku duduk dengan duniaku sendiri, sebuah layar kecil di tangan yang menyedot perhatianku terlalu dalam. Game sederhana yang sebenarnya tidak menarik, tapi cukup untuk membuatku tidak perlu memikirkan apa pun. Aku bahkan tidak sadar ketika dia masuk ruangan. Itu yang membuatku kaget. Biasanya aku selalu tahu kapa...