Aku tahu perasaan ini salah. Bukan salah dalam arti dosa, bukan pula sesuatu yang melanggar aturan yang tertulis. Salah yang kumaksud lebih halus dari itu, salah karena mungkin, tanpa sadar, aku sedang mempermainkan perasaan orang lain. Atau setidaknya, mempermainkan kemungkinan. Awalnya sederhana saja. Sebuah tatapan yang terlalu lama, percakapan singkat yang menyisakan gema, lalu perasaan hangat yang entah dari mana datangnya. Aku tidak merencanakannya. Ia tumbuh pelan, seperti kabut yang turun tanpa suara. Dan ketika kusadari, aku sudah menikmati sensasi itu, degup jantung yang sedikit lebih cepat, senyum yang muncul tanpa sebab jelas, langkah yang terasa lebih ringan ketika tahu mungkin hari itu kami akan bertemu. Ada semacam efek kimia yang sulit dijelaskan. Endorfin, mungkin. Tubuhku seperti tahu kapan harus memproduksinya. Setiap kali melihatnya, atau bahkan hanya membayangkannya, ada rasa rileks yang menyebar perlahan. Dunia yang tadinya terasa berat mendadak lebih luna...
Ada banyak sekali skenario yang kususun diam-diam di kepalaku. Adegan demi adegan, lengkap dengan dialog yang terasa begitu lancar dan meyakinkan. Dalam bayanganku, aku bisa berdiri tenang di depannya, menatap tanpa gugup, menyapa lebih dulu dengan kalimat ringan tapi berkesan. Kadang kubayangkan percakapan kami mengalir seperti sungai yang tidak tersendat—tentang hal sederhana, tentang hari yang melelahkan, tentang sesuatu yang membuatnya tertawa. Di dalam kepala, semuanya rapi. Aku tahu kapan harus tersenyum, kapan harus bercanda, bahkan kapan harus menatap sedikit lebih lama. Tapi hidup rupanya tidak berjalan seperti naskah yang kusiapkan. Setiap kali benar-benar berhadapan dengannya, semua skenario itu seperti menguap begitu saja. Hilang tanpa jejak. Yang tersisa hanya jantung yang berdetak terlalu keras dan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Kata-kata yang tadi berbaris rapi berubah jadi kosong. Aku berdiri di situ, canggung, seperti aktor yang lupa dialognya sendiri...