Skip to main content

Posts

Tubuhku Bereaksi Lebih Cepat daripada Pikiranku

Aku tidak tahu sejak kapan semuanya mulai terasa aneh. Seolah hidup berjalan seperti biasa, langit biru, hari-hari lewat tanpa drama, dan aku masih menjadi diriku yang sama. Tapi entah bagaimana, di tengah rutinitas yang tidak berubah, muncul satu orang yang pelan-pelan mengacaukan cara kerjaku memahami dunia. Lucunya, aku bahkan tidak yakin apakah ini kebahagiaan atau justru awal dari penderitaan yang halus. Rasanya seperti berdiri di tempat yang sama, melihat langit yang sama, tapi tiba-tiba semuanya terasa berbeda hanya karena satu kehadiran. Orang lain mungkin menyebut ini hal indah. Aku sendiri masih bingung memberi nama. Pertama kali menyadarinya, tubuhku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Jantung berdetak lebih keras, napas terasa tidak teratur, dan aku mendadak kehilangan kemampuan paling sederhana, bersikap biasa saja. Menyapa pun terasa seperti misi yang terlalu besar. Apalagi mendekat. Apalagi membayangkan kemungkinan yang lebih jauh. Aku berdiri di tempatku, mencob...
Recent posts

Sebagai Contoh

Lebaran kemarin seharusnya sederhana saja, berjalan pelan dari rumah ke rumah, mengetuk pintu, tersenyum, berjabat tangan, lalu pulang dengan perasaan hangat yang katanya selalu menjadi ciri hari raya. Setidaknya begitu gambaran yang sering diceritakan orang.  Aku berangkat dengan harapan yang tidak terlalu besar, cukup menjalani kewajiban sosial, menyapa tetangga, lalu kembali pulang tanpa terlalu banyak percakapan panjang. Awalnya semua berjalan seperti biasa. Obrolan ringan tentang cuaca, makanan, kabar keluarga. Pertanyaan-pertanyaan yang terasa aman karena jawabannya sudah tersedia sejak dulu, kerja bagaimana, sehat ya, semoga lancar rezekinya. Kalimat-kalimat yang bergerak pelan, tidak terlalu dalam, tidak terlalu menuntut. Sampai di satu rumah, percakapan itu berubah arah tanpa peringatan. Namaku disebut. Awalnya hanya sepintas, seperti contoh kecil dalam kalimat yang panjang. Lalu di rumah berikutnya, namaku muncul lagi, kali ini lebih jelas. Di rumah setelahnya, namaku...

Berharap Suatu Hari Akan Menemukannya, Tanpa Sengaja

Beberapa hari ini aku punya kebiasaan baru yang terasa memalukan untuk diakui, datang ke tempat yang sama dengan harapan yang sama, lalu pulang membawa kekosongan yang sama. Tidak ada janji, tidak ada rencana, bahkan tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan kenapa aku harus datang. Tapi tetap saja aku datang. Seolah ada bagian kecil dalam diriku yang bersikeras percaya bahwa kebetulan bisa diatur oleh keinginan. Tempat itu sebenarnya biasa saja. Tidak istimewa. Orang-orang datang dan pergi tanpa menyadari bahwa bagi seseorang di sudut ruangan, tempat itu adalah kemungkinan. Setiap kali melangkah masuk, mataku selalu bergerak lebih cepat dari langkah kaki. Menyapu ruangan diam-diam, berpura-pura tidak mencari apa pun padahal sebenarnya hanya mencari satu orang. Dan setiap kali tidak menemukannya, ada jeda kecil yang terasa seperti napas tertahan terlalu lama. Awalnya aku menenangkan diri dengan kalimat sederhana.....  mungkin hari ini dia tidak datang. Lalu besok aku ke...

Intuisi

Setelah semua yang terjadi tahun lalu, aku mulai memperhatikan orang-orang dengan cara yang berbeda. Bukan karena ingin curiga, tapi karena rasanya naluri itu muncul sendiri, seperti refleks yang lahir dari pengalaman. Katanya, orang introvert sering punya radar yang sensitif terhadap suasana dan niat orang lain. Dulu aku tidak pernah benar-benar percaya pada kalimat itu. Sekarang, aku tidak tahu harus menaruhnya di mana, antara percaya atau hanya mencoba mencari makna dari luka yang belum selesai. Ada satu sosok yang terus muncul di kepalaku ketika memikirkan semua kejadian itu. Seseorang yang, di permukaan, tampak seperti pahlawan. Dia sering berdiri di sisi orang yang dianggap lemah, suaranya lantang ketika membela yang tertindas, kata-katanya rapi, penuh empati, dan terdengar benar. Banyak orang menyukainya. Sulit untuk tidak menyukai seseorang yang selalu terlihat berada di pihak kebaikan. Aku juga dulu begitu. Awalnya, kehadirannya terasa menenangkan. Seperti ada seseorang yan...

Kisah Lama

Tahun lalu rasanya seperti hidup dalam dua dunia yang berjalan bersamaan, tapi tidak pernah benar-benar bertemu. Di dunia yang terlihat orang lain, aku masih tertawa, masih mengunggah cerita, masih menulis hal-hal kecil yang tampak seperti kebahagiaan. Story tentang pencapaian, foto-foto sederhana, kalimat ringan yang terdengar optimis. Semuanya tampak normal. Bahkan mungkin terlalu normal. Sementara di dunia yang tidak terlihat siapa pun, semuanya runtuh pelan-pelan. Aku masih ingat betapa anehnya perasaan itu, menekan tombol “unggah” dengan jari yang gemetar, lalu beberapa detik kemudian melihat unggahan itu muncul dengan rapi, bersih, seolah hidupku memang sedang baik-baik saja. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah aku tidak sedang tenggelam. Rasanya seperti berdiri di depan cermin dan berpura-pura tidak melihat retakan besar yang membelah bayangan sendiri. Awalnya, aku tidak berpikir unggahan-unggahan itu akan berarti apa-apa bagi orang lain. Itu hanya caraku bertahan. Caraku mengin...

Seberapa Introvertnya Aku?

Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya seberapa introvertnya aku ini.  Pertanyaan itu muncul bukan karena ada yang menilai, tapi karena aku sendiri mulai menyadari pola yang berulang, sebuah kebiasaan yang begitu konsisten sampai terasa seperti ritual diam-diam yang tidak pernah kusengaja, namun terus kulakukan. Sudah empat bulan aku menjadi anggota gym. Empat bulan dengan rutinitas yang nyaris tidak pernah berubah. Setiap hari, kecuali Minggu karena tempat itu tutup, aku datang di jam yang sama, sekitar pukul tiga sore. Waktu yang menurutku cukup aman. Tidak terlalu pagi, tidak terlalu malam. Cukup ramai, tapi tidak terlalu penuh. Cukup hidup, tapi masih memberi ruang bagi seseorang sepertiku untuk bersembunyi di antara mesin-mesin latihan. Ramadhan kemarin pilih latihan di jam abis terawih biar aman. Aku datang, melakukan latihan selama satu jam lebih sedikit, lalu pulang. Begitu terus, seperti jarum jam yang tidak pernah lupa pada arah putarnya. Yang aneh, dalam rentang waktu ...

Hati yang Bertolak Belakang

Kadang aku merasa lucu pada diriku sendiri. Lucu dalam arti yang agak getir ...... seperti menertawakan adegan film yang sebenarnya menyedihkan. Setiap kali dia mendekat, setiap kali dia mencoba memulai percakapan dengan caranya yang sederhana dan tidak dibuat-buat, aku justru berubah menjadi versi diriku yang paling kaku. Jawabanku pendek, datar, seperti pintu yang hanya kubuka beberapa sentimeter lalu segera kututup lagi. Seolah-olah tidak ada apa-apa di dalam hatiku. Seolah-olah tidak ada detak yang mendadak berisik di dada. Seolah semuanya biasa saja. Padahal tidak pernah benar-benar biasa. Aku tahu dia sudah berkali-kali mencoba. Ada jeda-jeda kecil yang ia ciptakan agar percakapan bisa tumbuh. Ada pertanyaan ringan yang sengaja ia lempar, mungkin berharap aku akan menangkapnya dan mengembangkannya menjadi obrolan yang lebih panjang. Tapi aku selalu menjawab seperlunya. Singkat. Aman. Tanpa ruang lanjutan. Tanpa celah bagi pertanyaan berikutnya. Seperti orang yang buru-buru menu...