Belakangan ini aku sering merasa sedih sendiri ketika membaca ulang semua cerita yang kutulis. Bukan karena ceritanya buruk. Justru karena aku mulai menyadari satu hal yang selama ini luput kusadari. Kisah ini tidak bergerak ke mana-mana. Ia seperti terjebak dalam lingkaran yang sama. Hari demi hari berganti, minggu demi minggu berlalu, tetapi alurnya nyaris tidak berubah. Kami bertemu, saling melihat dari kejauhan, menghindari ketika jarak terlalu dekat, lalu pulang membawa pikiran masing-masing. Esoknya, semuanya kembali terulang dengan pola yang hampir sama. Tidak ada kemajuan. Tidak ada keberanian. Tidak ada satu langkah pun yang benar-benar mengubah arah cerita. Aku menyukainya. Itu sudah selesai kuperdebatkan dengan diriku sendiri. Aku tidak lagi ingin menyangkalnya. Yang belum selesai justru keberanianku. Aku masih terlalu takut untuk mengubah semua dugaan menjadi sebuah pertanyaan yang nyata. Kadang aku juga merasa—atau mungkin hanya berharap—bahwa ada rasa yang serupa di pihak...
Lucu ya. Ketika banyak orang mengeluhkan hari Senin, aku justru diam-diam menunggunya datang. Mereka membenci alarm yang berbunyi terlalu pagi, kemacetan jalan yang kembali penuh, tumpukan pekerjaan yang mulai menggunung, dan rutinitas yang kembali mengikat setelah libur sehari. Hari Senin bagi banyak orang adalah awal dari kelelahan. Sedangkan bagiku, hari Senin adalah kemungkinan. Kemungkinan untuk kembali melihatnya. Mungkin terdengar berlebihan. Bahkan aku sendiri kadang menertawakan cara pikirku yang seperti ini. Hanya karena satu orang, kalender seolah memiliki makna yang berbeda. Hari-hari yang biasanya terasa biasa saja mendadak memiliki urutan yang kutunggu. Sabtu, Minggu, lalu Senin. Seakan-akan dua hari libur itu hanyalah jeda yang harus kulewati sebelum akhirnya semesta kembali mempertemukan kami. Padahal aku tahu, ketika hari Senin benar-benar datang, belum tentu ada sesuatu yang istimewa. Kemungkinan besar kami hanya akan saling berpapasan. Mungkin hanya bertemu beberapa ...