Baiklah, akhirnya aku harus mengambil alih perasaanku sendiri. Rasanya seperti berdiri di depan cermin lalu berkata pelan, “cukup.” Bukan dengan marah, bukan dengan dramatis, tapi dengan kesadaran yang pelan-pelan mengendap. Selama ini aku terlalu membiarkan rasa berjalan tanpa tali kekang, membiarkannya mencari-cari celah, menafsirkan perhatian kecil menjadi sesuatu yang lebih besar, lalu berharap tanpa benar-benar berpijak. Aku sadar, aku tidak boleh lagi membiarkan perasaan memainkan kendali atas seluruh perhatian yang kuterima. Tidak setiap tatapan adalah isyarat. Tidak setiap sapaan adalah pintu. Tidak setiap kebetulan adalah takdir yang sengaja dirancang semesta. Kadang itu hanya momen biasa yang oleh hatiku diubah menjadi luar biasa. Dan di situlah aku sering goyah. Aku tahu betul betapa mudahnya hatiku tergelincir. Sedikit perhatian saja bisa membuatku merasa istimewa. Sedikit kedekatan bisa membuatku membangun cerita panjang di dalam kepala. Padahal realitasnya belum tentu s...
Sepertinya puasa kali ini kami tidak akan bertemu lagi. Jadwal kami berubah, seperti dua jarum jam yang dulu sempat berpapasan di satu titik, lalu kembali berjalan di porosnya masing-masing. Tempat biasa itu mungkin tetap ramai, tetap menyimpan cahaya sore yang sama, tetapi tanpa pertemuan yang tak disengaja, semuanya terasa berbeda. Tidak ada lagi kemungkinan tatapan singkat setelah salam, tidak ada lagi jeda beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Awalnya aku mengira ini tidak akan terlalu berpengaruh. Toh, hubungan kami tak pernah benar-benar ada. Tidak ada janji, tidak ada sapaan yang rutin, apalagi cerita panjang yang mengikat. Hanya kebiasaan melihat dan dilihat, sebuah ritme kecil yang diam-diam menjadi bagian dari hariku. Namun ketika kusadari bahwa bulan ini mungkin tak ada kesempatan untuk sekadar berpapasan, ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih nyata. Anehnya, aku juga tidak yakin pada hatiku sendiri. Aku tidak tahu apakah nanti, ketika Ramadan u...