Dulu, setiap kali mendengar kabar tentang orang-orang yang saling berseteru karena warisan, aku selalu mengernyit dalam hati. Kenapa bisa begitu? Bukankah yang ditinggalkan lebih penting untuk dikenang daripada diperebutkan? Rasanya sulit membayangkan bagaimana harta bisa mengalahkan hubungan darah, bagaimana tanah dan angka-angka bisa membuat suara meninggi dan pintu ditutup lebih keras dari biasanya. Saat itu aku hanya menjadi penonton, menggeleng pelan, merasa jauh dari kemungkinan mengalami hal serupa. Sampai akhirnya peristiwa itu benar-benar hadir di depan mata. Bukan di keluargaku sendiri, melainkan di keluarga dari pihak istriku. Mertua lelakiku meninggal beberapa tahun lalu. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang masih hangat, suasana rumah yang muram, dan wajah-wajah yang belum sempat benar-benar menerima. Rasanya waktu berjalan lambat di hari-hari pertama itu. Kami masih sibuk dengan doa dan tamu yang datang silih berganti. Belum genap tujuh hari. Di tengah duka y...
Liburan kali ini berjalan tanpa kemungkinan untuk bertemu dengannya. Tidak ada agenda yang mempertemukan, tidak ada alasan yang bisa dipaksakan agar langkah kami bersinggungan. Kami memang hanya bertemu di satu tempat yang sama, tempat yang menjadi titik temu tanpa pernah benar-benar menjadi ruang percakapan. Jadi ketika hari-hari libur datang dan rutinitas itu berhenti, otomatis pertemuan pun ikut menghilang. Awalnya terasa biasa saja. Aku menjalani hariku dengan kegiatanku sendiri. Bangun lebih siang, membereskan hal-hal yang selama ini tertunda, membaca, keluar sebentar, kembali lagi. Hari-hari terasa penuh, bahkan tanpa dirinya. Ia pun, tentu saja, memiliki dunianya sendiri. Mungkin ia juga sibuk, mungkin ia menikmati jeda ini tanpa memikirkan apa pun tentangku. Apakah ada rasa kangen? Jika ditanya jujur, sebenarnya tidak. Setidaknya tidak dalam bentuk yang dramatis. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Tidak ada percakapan yang harus dirindukan, tidak ada pesan yang haru...