Sebenarnya ada banyak sekali cerita yang ingin kutuliskan. Terlalu banyak, malah. Potongan-potongan kejadian itu masih tersimpan rapi di kepalaku. Aku masih ingat bagaimana suasananya, bagaimana ekspresi wajahnya, bagaimana gerak-geriknya, bahkan bagaimana perasaanku saat itu. Semuanya masih ada. Tidak hilang. Tidak kabur. Seolah otakku merekamnya dengan kualitas yang terlalu baik untuk ukuran sebuah pertemuan yang bahkan tidak pernah menghasilkan percakapan berarti. Masalahnya bukan pada ingatan. Masalahnya justru ketika aku mencoba mengubah ingatan itu menjadi kata-kata. Aku sering berhenti di tengah kalimat. Menghapus lagi. Menulis ulang. Lalu menghapusnya sekali lagi. Bukan karena aku lupa apa yang terjadi, melainkan karena aku bingung memilih cara menceritakannya. Ada beberapa hal yang jika kutulis terlalu jujur akan terdengar berlebihan. Jika kutulis terlalu rinci akan terdengar vulgar. Jika kutulis terlalu hati-hati justru kehilangan maknanya. Akhirnya aku memilih jalan yang pal...
Ada banyak kesempatan hari itu. Mungkin terlalu banyak, sampai-sampai aku sendiri tidak punya alasan yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa keadaan tidak mendukung. Sebab kenyataannya justru sebaliknya. Kami berada dalam jarak yang dekat. Sangat dekat, bahkan. Beberapa kali aku menyadari keberadaannya hanya beberapa langkah dariku. Tidak perlu mencari ke sudut ruangan. Tidak perlu melongok ke pintu masuk. Tidak perlu menebak-nebak apakah hari itu ia datang atau tidak. Ia ada di sana, berada dalam lingkaran aktivitas yang sama denganku. Dan seperti hari-hari yang lain, atau mungkin hanya karena aku sudah terlalu terbiasa memperhatikannya, aku merasa ia beberapa kali berusaha masuk ke dalam radar penglihatanku. Bukan dengan cara yang mencolok. Justru dengan cara-cara yang sulit dibuktikan. Muncul di tempat yang sama. Melintas pada waktu yang aneh. Berdiri sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Atau mungkin semua itu hanyalah kebetulan yang terus-menerus kuberi makna. Aku tidak...