Skip to main content

Posts

Selasa yang Seharusnya Membahagiakan

Harusnya Selasa ini aku bahagia. Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada banyak momen yang seharusnya bisa kusimpan baik-baik untuk membuatku tersenyum sampai malam nanti. Ada banyak kesempatan kecil yang dulu pasti akan membuatku senyum-senyum sendiri sambil mengulang adegannya berkali-kali di kepala. Tapi anehnya, hari ini semuanya terasa setengah hidup. Ada rasa senang, iya. Tapi bercampur dengan sesuatu yang berat dan mengganggu pikiranku sejak pagi. Dan di tengah kekacauan itu, dia tetap datang dengan tingkah absurdnya. Seperti biasa, tidak ada sapaan langsung. Tidak ada percakapan yang benar-benar dimulai. Tapi aku tahu dia sedang berusaha mendekat lebih lama. Aku bisa melihat caranya mencari alasan kecil untuk berada di sekitarku. Cara dia berbicara pada temannya, tapi posisi tubuhnya terlalu dekat denganku untuk disebut kebetulan. Cara dia tetap bertahan di area itu lebih lama dari yang diperlukan. Dan jujur saja, kalau saja keadaan pikiranku lebih ringan, mungkin aku akan...
Recent posts

Harapan yang Tidak Terjadi

Harusnya kemarin aku menuliskan semua ini. Harusnya aku meluapkan semuanya saat perasaannya masih hangat dan belum berubah menjadi sesak kecil yang menggantung di dada. Tapi entah kenapa, kemarin aku tidak punya cukup tenaga untuk bercerita panjang lebar. Mood-ku terasa datar. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi aku sendiri malas mencarinya lebih jauh. Mungkin karena kecewa yang terlalu kecil untuk disebut luka, tapi terlalu terasa untuk diabaikan. Aku bahkan bingung harus mulai dari mana. Mungkin dari hari Sabtu kemarin. Hari itu sebenarnya aku sudah menyiapkan sedikit harapan, meski aku tahu Sabtu bukan hari yang pasti untuk bisa bertemu dengannya. Kami memang jarang berada di tempat yang sama di hari itu. Tapi tetap saja, ada bagian dalam diriku yang berharap keberuntungan kecil datang diam-diam. Setidaknya melihatnya sebentar. Setidaknya memastikan dia benar-benar ada di sana. Karena belakangan ini, sesederhana melihatnya saja sudah cukup untuk membuat hariku terasa lebih ri...

Keterasingan

Semakin lama berada di dunia kerja, aku semakin sadar bahwa yang melelahkan bukan selalu pekerjaannya. Kadang justru yang paling menguras tenaga adalah hal-hal yang tidak tertulis di jobdesk , politik kantor, permainan pengaruh, kelompok-kelompok kecil yang diam-diam menentukan siapa yang dianggap penting dan siapa yang perlahan disingkirkan. Dan jujur saja, dunia seperti itu terasa mengerikan bagiku. Terutama ketika kamu tidak punya “orang dalam”. Tidak punya lingkaran yang siap membelamu. Tidak pandai mengambil perhatian atasan. Tidak lihai berbasa-basi hanya demi menjaga posisi aman. Rasanya seperti hidup di habitat yang semua penghuninya berlomba mencari panggung, sementara aku justru sibuk mencari sudut yang tenang agar bisa bernapas. Kadang aku melihat orang-orang begitu mudah masuk ke percakapan, tertawa bersama, saling mendukung di depan, lalu berubah menjadi kompetitor diam-diam di belakang. Ada yang pintar memainkan citra, ada yang tahu kapan harus mendekat kepada orang te...

Awalnya Hanya Kebetulan

Awalnya aku ragu harus memulai semua ini. Bahkan sampai sekarang pun, kalau dipikir ulang, rasanya aku masih tidak benar-benar mengerti di titik mana semuanya mulai berubah menjadi serumit ini. Karena sejujurnya, pada awalnya tidak ada niat apa-apa. Tidak ada rencana untuk menyukai seseorang. Tidak ada keinginan untuk terlibat dalam permainan perasaan yang menggantung seperti sekarang. Aku hanya sedang melihat sekeliling. Sesederhana itu. Kadang ketika suasana terlalu sunyi atau pikiranku terlalu penuh, aku memang suka memperhatikan sekitar. Melihat orang lalu-lalang. Memerhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Bukan karena penasaran pada seseorang, bukan pula sedang mencari perhatian. Hanya kebiasaan kecil untuk mengalihkan isi kepala dari kebisingannya sendiri. Lalu di tengah kebiasaan itu, aku melihatnya. Atau lebih tepatnya, aku merasa sedang dilihat. Ada sorot mata yang tertangkap sesaat ketika aku tanpa sengaja mengangkat pandangan. Dan anehnya, setiap kali ak...

Menunggu yang Tidak Pernah Dijanjikan

Kemarin aku kembali melakukan kebiasaan yang sebenarnya sudah sering kucela sendiri. Menunggu. Bukan menunggu sesuatu yang pasti, bukan pula menunggu seseorang yang pernah berjanji akan datang. Hanya menunggu kemungkinan kecil yang diam-diam sudah menjadi bagian dari rutinitasku beberapa waktu terakhir. Beberapa kali aku melongok ke arah pintu masuk. Awalnya masih pura-pura santai. Sekilas saja, seperti orang yang kebetulan sedang memperhatikan sekitar. Tapi semakin waktu berjalan, semakin jelas bahwa aku memang sedang menunggu. Setiap kali pintu terbuka, refleks mataku langsung terangkat. Ada harapan kecil yang muncul terlalu cepat, lalu menghilang lagi ketika yang datang bukan dia. Aku mengulang itu berkali-kali. Dan anehnya, aku sadar betapa konyolnya diriku saat itu, tapi tetap melakukannya juga. Seperti seseorang yang tahu ia sedang mengulangi kesalahan lama, namun tidak benar-benar ingin berhenti. Hari-hari sebelumnya, kebiasaan itu sering berakhir dengan manis kecil. Aku me...

Justru Karena Tak Masuk Akal Itulah Aku Belum Bisa Berhenti Memikirkannya

Kadang aku berpikir, apa pun ini, rasanya sudah terlalu aneh untuk disebut biasa. Bahkan mungkin tak masuk akal. Ada pola yang terus berulang, dan setiap kali terjadi, aku selalu berakhir menertawakan keadaan kami sendiri. Karena lucu sekali rasanya melihat dua orang yang jelas-jelas saling menyadari keberadaan masing-masing, tapi tetap bersikeras berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Saat berjauhan, kami seperti saling mencari. Tanpa sadar mata akan menyisir ruangan, mencari sosok yang sebenarnya berusaha dihindari. Ada kegelisahan kecil ketika tidak melihat satu sama lain terlalu lama. Tapi anehnya, begitu jarak itu mendekat, kami justru berubah menjadi dua orang paling kikuk di dunia. Sama-sama menjaga ego. Sama-sama menjaga gengsi. Sama-sama takut terlihat terlalu ingin. Dan hari ini kembali membuktikan betapa absurdnya hubungan tak bernama ini. Aku tidak tahu siapa yang datang lebih dulu pagi tadi. Sepertinya dia. Karena ketika aku sampai, kendaraannya sudah terparkir di sana. A...

Kamis yang Terlalu Manis

Aku menyebut hari itu “Kamis Manis”. Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar besar terjadi, bukan juga karena akhirnya ada percakapan panjang yang memecah semua kebisuan kami. Tidak ada itu. Semuanya tetap berjalan seperti biasa, orang-orang datang dan pergi, pekerjaan berjalan, suara-suara kecil memenuhi ruangan. Tapi di tengah semua hal biasa itu, ada satu hal yang membuat hari itu terasa berbeda, senyumnya. Aku melihatnya beberapa kali tersenyum hari itu. Dan entah kenapa, senyumnya terasa lebih manis dari biasanya. Sampai beberapa kali aku harus mengumpat pelan dalam hati karena sadar betapa mudahnya aku goyah hanya karena hal sesederhana itu. Rasanya menyebalkan ketika mengetahui bahwa seseorang bisa mengacaukan fokusmu hanya dengan satu lengkung kecil di wajahnya. Dan yang lebih menyebalkan lagi, aku tahu persis sejak kapan semuanya dimulai. Aku masih ingat pertama kali aku benar-benar menyadari keberadaannya. Bukan karena dia melakukan sesuatu yang besar. Justru sebaliknya,...