Mungkin memang aku yang terlalu agresif. Atau mungkin tidak juga. Sampai sekarang aku masih belum bisa memutuskan apakah tindakanku itu berani, nekat, atau justru terlalu polos untuk disebut agresif. Yang jelas, semuanya bermula dari rasa penasaran yang tidak lagi bisa kutahan. Suatu malam, dengan niat yang setengah sadar dan setengah lagi digerakkan oleh rindu yang tak tahu diri, aku mulai mengetik namanya di kolom pencarian. Satu akun muncul. Lalu akun lain. Lalu yang lain lagi. Seperti membuka pintu kecil yang ternyata terhubung ke lorong panjang. Aku menemukannya. Semua. Jejak-jejak digital yang selama ini tersembunyi di balik sikap diamnya. Aku tidak tahu kenapa jantungku berdebar seperti sedang melakukan sesuatu yang terlarang. Padahal hanya melihat-lihat. Hanya membaca. Hanya menggulir layar. Lalu aku mulai menemukan kalimat-kalimat itu. Status lama. Riwayat tulisan bertahun lalu. Beberapa potongan kalimat yang nadanya terasa… akrab. Terlalu akrab. Cara dia merangkai kata, m...
Dua hari terakhir terasa berbeda, meski tidak ada peristiwa besar yang benar-benar terjadi. Tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada kejadian dramatis yang bisa dijadikan penanda. Hanya perubahan kecil, nyaris tak terlihat..... tapi cukup jelas untuk membuat hatiku menyadarinya lebih dulu daripada pikiranku. Dulu, setiap kali aku berada di dekatnya, ada energi yang terasa berbeda. Ia seperti selalu punya cara untuk tampak lebih hidup, lebih ringan, lebih terbuka. Gesturnya sedikit lebih cepat, langkahnya sedikit lebih ringan, sorot matanya seperti tidak sengaja mencari-cari sesuatu di sekitarku. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya, tapi aku selalu merasakannya. Seperti ada getaran halus yang hanya bisa dipahami tanpa perlu diterjemahkan. Tapi dua hari ini, semuanya berubah menjadi lebih sunyi. Ia masih ada, masih lewat di tempat yang sama, masih berada dalam jarak yang bisa kuhitung dengan langkah. Namun ada sesuatu yang hilang....... seperti jarak tak kasatmata yang t...