Skip to main content

Posts

Rasa Kasihanlah yang Datang Lebih Dulu Daripada Rasa Rinduku

Kadang-kadang, justru rasa kasihanlah yang datang lebih dulu daripada rasa rinduku sendiri.Aku melihatnya beberapa kali berusaha berada di dekatku. Bukan sekali atau dua kali. Ada banyak kesempatan hari ini ketika dia seperti sengaja memilih jalur yang membuat kami berada dalam ruang yang sama. Entah itu hanya kebetulan, entah memang ada niat yang kusisipkan sendiri ke dalam setiap gerakannya. Aku sudah terlalu sering salah menafsirkan keadaan hingga kini aku tak lagi berani mengatakan mana yang nyata dan mana yang hanya dibangun oleh pikiranku sendiri. Yang jelas, hari ini dia terlihat begitu kentara. Beberapa kali aku menangkap keberadaannya berada tidak jauh dariku. Kadang berjalan melewati meja kerjaku, kadang berdiri di area yang masih berada dalam jangkauan pandanganku. Sesekali aku juga mencarinya tanpa sadar. Kepalaku mendongak, mataku berkeliling ruangan, lalu menemukannya sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Aku melihatnya. Dia juga mungkin melihatku. Lalu semuanya berhe...
Recent posts

Efek Vitamin Zing Plus, dan Vitamin D3 + K

Sejak rutin ngegym, tanpa sadar banyak kebiasaanku yang ikut berubah. Awalnya kupikir perubahan itu hanya akan terlihat dari bentuk tubuh atau angka di timbangan. Ternyata yang berubah jauh lebih banyak dari sekadar otot yang mulai terbentuk atau stamina yang semakin kuat. Aku mulai lebih memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuhku. Kalau dulu urusan vitamin hampir tidak pernah kupikirkan, sekarang justru menjadi bagian dari rutinitas harian. Bukan karena ingin terlihat seperti atlet atau mengikuti tren suplemen yang sedang ramai di media sosial. Alasannya sederhana saja: kalau sudah berusaha menjaga tubuh lewat olahraga, rasanya sayang kalau kebutuhan nutrisi pendukungnya diabaikan. Setelah mencari-cari dan membandingkan beberapa pilihan, akhirnya aku memutuskan mengonsumsi dua jenis vitamin. Yang pertama Zing Plus , dan yang kedua Vitamin D3 + K2 , keduanya dari IPI. Sebenarnya ada banyak merek lain di pasaran. Bahkan ada yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal dengan berb...

Apakah Semua Orang yang Sedang Jatuh Cinta Diam-Diam Juga Mengalami Ini?

Ada bagian dari diriku yang sampai sekarang masih gagal kupahami. Di satu sisi, aku terus berkata pada diriku sendiri bahwa aku harus menghindarinya. Aku sengaja mengurangi kesempatan bertemu. Aku memilih jalan yang berbeda, menunda waktu datang atau pulang, bahkan sesekali mencari alasan agar tidak berada dalam ruangan yang sama dengannya. Bukan karena aku membencinya. Justru sebaliknya. Aku takut jika terlalu sering bertemu, aku akan semakin sulit mengendalikan perasaanku. Aku ingin menjaga jarak agar hatiku tidak semakin dalam tenggelam pada seseorang yang bahkan belum tentu memiliki rasa yang sama. Namun lucunya, setiap kali ada kemungkinan kami akan bertemu, seluruh tekad itu seperti kehilangan kekuatannya. Tanpa sadar aku berdiri lebih lama di depan cermin. Baju yang biasanya kupakai begitu saja, tiba-tiba terasa kurang pantas. Aku mulai membuka lemari lebih lama, memilih warna yang menurutku paling serasi. Bukan warna yang mencolok, melainkan warna yang diam-diam membuatku me...

Menjadi Tokoh dalam Fantasi Orang Lain

Pernahkah kamu merasa menjadi tokoh dalam fantasi seseorang yang bahkan tidak benar-benar kamu kenal? Bukan seseorang yang dekat, bukan pula orang yang setiap hari mengobrol denganmu. Hanya seseorang yang sesekali berpapasan di lorong, bertemu sekilas di ruang yang sama, lalu kembali menjalani hidup masing-masing seolah tak pernah terjadi apa-apa. Pertanyaan itu beberapa kali muncul di kepalaku, dan entah kenapa, setiap kali muncul, selalu meninggalkan kebingungan yang sama. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyadarinya. Awalnya kupikir semua itu hanya kebetulan. Tatapan mata yang terlalu lama. Gerakan tubuh yang terasa dibuat-buat ketika aku lewat. Sikap yang berubah hanya ketika aku berada dalam radius pandangnya. Aku mencoba menepis semuanya. Barangkali aku hanya terlalu peka. Barangkali aku memang sedang mencari-cari makna pada sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Namun semakin lama, semakin sulit bagiku menganggap semuanya sebagai kebetulan. Beberapa kali aku melihat gestur yan...

Dua Orang yang Sama-Sama Berjalan Mengelilingi Lingkaran yang Sama

Hari ini aku memilih menghindarinya lagi. Entah sudah yang keberapa kali aku melakukan itu. Anehnya, semakin hari justru semakin sering aku mengambil jalan memutar, mencari kesibukan lain, atau berpura-pura tidak melihat ketika sebenarnya ada banyak kesempatan untuk berada lebih dekat dengannya. Padahal kesempatan itu ada. Bahkan terlalu banyak. Kami berada di ruangan yang sama. Pernah beberapa kali hanya terpisah beberapa langkah. Ada momen-momen yang seharusnya cukup mudah jika aku hanya ingin sekadar menyapa atau memulai percakapan sederhana. Tidak perlu sesuatu yang besar. Tidak perlu pengakuan yang dramatis. Hanya sebuah sapaan singkat yang mungkin akan terdengar biasa bagi orang lain. Namun, justru hal sesederhana itu terasa paling sulit kulakukan. Aku memilih menghindar. Bukan karena aku sudah tidak menyukainya. Justru karena perasaan itu masih ada. Masih terlalu hidup. Dan aku mulai takut pada diriku sendiri. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana jika semua yang selama ini kubac...

Diriku Sendiri yang Perlahan Mulai Kehilangan Kemampuan untuk Berpura-pura Tidak Jatuh Cinta

Sampai hari ini aku masih suka tertawa sendiri kalau mengingat kejadian kemarin. Seperti yang pernah kuceritakan berkali-kali sebelumnya, dia seolah selalu menemukan cara agar tetap berada dalam radar penglihatanku. Kadang terang-terangan, kadang begitu halus hingga aku sendiri bingung apakah memang sedang terjadi sesuatu atau hanya pikiranku yang terlalu rajin menyusun cerita. Yang paling sering terjadi justru menjelang jam pulang. Aku pernah bercerita bagaimana beberapa kali aku sengaja menunda pulang hanya karena dia dan teman-temannya sedang duduk di kursi dekat pintu keluar. Mereka mengobrol santai, memainkan ponsel, sesekali tertawa. Sementara aku justru sibuk mencari pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hanya agar tidak perlu melewati mereka. Rasanya canggung sekali. Bukan karena takut bertemu. Justru karena terlalu ingin bertemu. Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa jika harus berjalan melewatinya dari jarak yang begitu dekat. Maka aku memilih me...

Ternyata Selama Ini yang Paling Kusukai Bukanlah Jawabannya. Melainkan Pertanyaannya.

Anehnya, justru aku yang memilih menghindar ketika kami bertemu. Bukan dia. Aku. Dan itu kulakukan dengan sadar, dengan segala tenaga yang kumiliki. Aku menjaga jarak sejauh yang masih mungkin dilakukan tanpa terlihat mencurigakan. Aku mengalihkan pandangan. Aku menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Aku mencari alasan untuk tidak terlalu sering berada dalam radius yang sama dengannya. Bukan karena aku ingin menjauhinya. Justru karena aku terlalu menyukainya. Ada hal-hal yang semakin dekat justru semakin sulit dikendalikan. Seperti api kecil yang awalnya hanya menghangatkan, tetapi jika dibiarkan terus menyala bisa membakar seluruh isi rumah. Aku takut perasaan ini menjadi seperti itu. Sudah berkali-kali aku mencoba menyangkalnya. Sudah berkali-kali aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kekaguman sesaat, hanya rasa penasaran, hanya kebiasaan karena terlalu sering melihat wajah yang sama setiap hari. Tetapi rasanya aku sudah terlalu lelah untuk berbohong kepada diri sendiri. Aku me...