Skip to main content

Posts

Menunggu Siapa yang Akhirnya Lebih Dulu Kehabisan Alasan untuk Berpura-pura Tidak Punya Perasaan

Mari kita bercerita lagi tentang sore kemarin. Bukan sore yang sebelumnya sudah kuceritakan panjang lebar. Ini sore yang berbeda, meski jika dipikir-pikir, latarnya hampir sama. Tempatnya sama. Kursi-kursi dekat pintu masuk itu lagi. Langit yang mulai kehilangan warna juga sama. Orang-orang yang bersiap pulang pun sama. Hanya ada satu hal yang berbeda. Kali ini teman-temannya masih ada. Masih duduk di sana. Masih mengobrol santai. Bahkan sampai aku pulang pun mereka belum benar-benar bubar. Mereka seperti membentuk lingkaran kecil yang membuat suasana sore terasa hidup, sementara aku tetap menjadi diriku sendiri, seseorang yang berdiri sedikit di luar lingkaran, mengamati dunia dari kejauhan. Tapi sebenarnya cerita ini bukan tentang mereka. Cerita ini tentang dia. Tentang seseorang yang, entah sengaja atau tidak, selalu berhasil membuatku memikirkan hal-hal yang seharusnya sederhana menjadi rumit. Aku memperhatikannya dari jauh. Tidak terus-menerus. Tidak sampai mengabaikan pekerjaanku...
Recent posts

Menunda Pulang

Mari kita bercerita tentang kemarin sore. Sore yang sebenarnya biasa saja. Tidak ada percakapan penting. Tidak ada pengakuan. Tidak ada peristiwa besar yang layak dicatat dalam sejarah hidup seseorang. Namun entah kenapa, seperti banyak sore sebelumnya, aku pulang dengan kepala yang penuh oleh dirinya. Awalnya aku melihatnya dari kejauhan. Jam kerja hampir selesai. Orang-orang mulai merapikan barang, membereskan meja, dan bersiap meninggalkan kantor. Aku juga melakukan hal yang sama. Tidak ada niat khusus. Tidak ada rencana untuk memperhatikannya lebih lama dari biasanya. Setidaknya begitu yang ingin kuyakini. Di sela-sela kesibukan menjelang pulang itu, aku melihatnya masih beraktivitas di area yang sama. Sesekali aku merasa ia melirik ke arahku. Sesekali aku merasa ia sengaja menempatkan dirinya dalam jangkauan pandangku. Atau mungkin aku yang terlalu peka. Atau mungkin aku yang terlalu berharap. Aku sendiri tidak pernah benar-benar yakin. Yang jelas, pola itu terasa familiar. Terlal...

Suara yang Selama Ini Tidak Pernah Kudengar

Oke. Kali ini aku ingin menceritakan satu hal lain tentang pertemuan kemarin sore. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, bahkan mungkin tidak penting bagi orang lain. Namun entah kenapa, sejak kemarin hal itu terus berputar di dalam kepalaku dan menolak pergi. Awalnya tidak ada rencana apa-apa. Aku hanya berada di area yang sama dengannya. Kebetulan ada tugas yang harus kuselesaikan di salah satu kubikel yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Saat itu dia sedang berbincang dengan seseorang. Dari raut wajah mereka, percakapan itu terlihat cukup serius. Setidaknya begitulah yang kutangkap dari kejauhan. Aku tidak sedang berusaha menguping. Setidaknya itulah yang terus kujelaskan pada diriku sendiri. Aku memang berada cukup dekat untuk mendengar suara mereka, tetapi bukan karena sengaja mencari tahu isi percakapan. Aku hanya sedang berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Lalu untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya lebih lama dari biasanya. Dan di situlah mas...

Menunggu Sampai Bosan atau Sampai Jujur

Lagi-lagi sore ini terjadi. Dan lagi-lagi aku pulang dengan kepala yang penuh pertanyaan. Seharusnya aku sudah terbiasa. Seharusnya setelah sekian bulan mengamati tingkah lakunya, aku tidak lagi terkejut dengan hal-hal yang ia lakukan. Namun nyatanya, setiap kali aku mulai merasa sudah memahami polanya, dia selalu menemukan cara baru untuk membuatku kembali bingung. Sore tadi suasana cukup lengang. Teman-temannya tidak banyak terlihat berada di sekitarnya. Aktivitas kantor berjalan seperti biasa, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan di sela-sela kesibukan itu aku beberapa kali menangkap keberadaannya dalam jarak pandangku. Awalnya biasa saja. Aku bahkan sedang tidak terlalu memperhatikannya. Pikiranku masih dipenuhi berbagai hal lain yang lebih penting. Pekerjaan yang belum selesai. Tekanan yang belum hilang. Dan berbagai urusan yang akhir-akhir ini membuat kepalaku terasa berat. Namun kemudian aku melihat lagi gestur-gestur yang selama ini membuatku terus bertanya-tanya....

Sex Grooming: Bahasa yang Tidak Pernah Diucapkan

Selama ini aku selalu bercerita tentang hal-hal yang mudah dijelaskan. Tentang tatapan mata yang saling bertemu tanpa sengaja. Tentang pandangan yang terlalu cepat dialihkan ketika ketahuan. Tentang rasa kikuk yang muncul saat jarak kami terlalu dekat. Tentang canggung yang entah berasal dari mana. Semua itu masih bisa kuceritakan dengan cukup mudah. Masih bisa kutuliskan tanpa harus berpikir terlalu lama. Namun ada satu bagian yang selama ini selalu kulewati. Bukan karena aku lupa. Justru karena aku terlalu sadar akan keberadaannya. Dan mungkin juga karena aku malu. Sebab jika harus jujur, keyakinanku bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara kami bukan hanya lahir dari tatapan-tatapan itu. Bukan hanya dari kehadiran yang terasa disengaja. Bukan pula dari berbagai kebetulan yang terlalu sering terjadi. Ada hal lain yang lebih sulit dijelaskan. Bahasa tubuh. Gestur.   Sex Grooming. Tapi aku gak yakin istilah ini. Namun menyerupai istilah ini. Gerakan-gerakan kecil yang sering muncul...

Bagaimana Jika Aku yang Membuatnya Menjauh?

Belakangan ini aku mulai takut pada pikiranku sendiri. Bukan karena pikiranku memunculkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi, melainkan karena semakin lama aku semakin sulit membedakan mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya dibangun oleh kecemasanku. Awalnya aku tidak pernah memikirkan hal ini. Dulu semuanya terasa sederhana. Aku hanya menjalani hari seperti biasa. Datang, bekerja, pulang. Sesekali melihat ke sekeliling ruangan karena bosan menatap pekerjaan yang sama sepanjang hari. Sesekali memperhatikan siapa yang datang dan siapa yang pergi. Lalu entah sejak kapan, setiap kali pandanganku berkeliling tanpa tujuan, aku sering menemukan mata yang sama. Tatapan yang sama. Orang yang sama. Awalnya hanya sekali. Kemudian dua kali. Lalu berkali-kali. Sampai akhirnya aku mulai menyadari pola yang tidak bisa lagi kuabaikan. Atau setidaknya, aku mengira ada pola di sana. Dan mungkin di situlah semuanya bermula. Aku mulai memperhatikannya karena merasa diperhatikan. Aku mulai ...

Terlalu Banyak Pertanda, Terlalu Sedikit Kepastian

Aku mulai kehabisan cerita. Atau mungkin bukan kehabisan cerita, melainkan kehabisan cara untuk menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Karena jika dipikir-pikir, beberapa bulan terakhir aku hanya berputar di lingkaran yang itu-itu saja. Tentang dia. Tentang tatapan-tatapan yang sulit dijelaskan. Tentang kehadiran yang selalu berhasil mengacaukan pikiranku. Tentang perasaan yang setiap hari berubah bentuk tetapi tidak pernah benar-benar pergi. Kadang aku sampai merasa bosan pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengeluh tentang hal yang sama begitu lama? Tapi setiap kali aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya, selalu ada sesuatu yang membuatku kembali ke titik awal. Dan mungkin yang paling melelahkan bukanlah perasaannya. Melainkan keraguannya. Aku takut selama ini semua hanya terjadi di kepalaku. Takut bahwa apa yang kuanggap sebagai pertanda ternyata hanyalah kebetulan yang terlalu sering kutafsirkan. Takut bahwa aku sedang melakukan kesalahan yang sama sepert...