Skip to main content

Posts

Aku Tidak Mencari, tapi Situasi Justru Menempatkan Kami dalam Lingkaran yang Sama

Sepertinya aku gagal. Kalimat itu datang pelan, hampir tanpa suara, tapi terasa jelas di dalam kepala sejak kemarin. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti mencarinya, setidaknya berhenti dengan sengaja. Aku ingin berjalan seperti biasa, bekerja seperti biasa, menaruh perasaan ini di tempat yang aman, jauh dari kebiasaan menoleh tanpa alasan. Aku ingin terlihat baik-baik saja, dan lebih dari itu, aku ingin benar-benar baik-baik saja. Tapi kenyataannya, aku tetap mencarinya setiap kali ada kesempatan. Bukan dengan cara dramatis. Tidak menunggu di sudut-sudut tertentu atau mengubah rute demi berpapasan. Tidak. Ini lebih halus, lebih memalukan, semacam kebiasaan refleks yang datang tanpa izin. Mata yang diam-diam memindai ruangan. Telinga yang tiba-tiba peka pada suara yang terasa familiar. Pikiran yang selalu punya ruang untuk satu pertanyaan sederhana, kenapa dia tidak datang? Dan pertanyaan itu berkembang biak dengan cepat. Kenapa dia menghindar? Apakah benar dia menghin...
Recent posts

Kalau Saja Aku Sedikit Lebih Cepat, Apakah Ceritanya Akan Berbeda?

Yang paling melelahkan dari menjauh itu bukan langkahnya, tapi berpura-pura bahwa langkah itu tidak berarti apa-apa. Aku benar-benar mencoba mengambil jarak. Entah terasa atau tidak dalam perspektifnya, aku tak tahu. Aku hanya berusaha tidak lagi mencari keberadaannya di dalam ruangan. Tidak lagi otomatis menyapu pandangan untuk memastikan ia ada di sana. Tidak lagi sengaja memilih tempat duduk yang memungkinkan garis pandangku jatuh ke arahnya. Meski, tentu saja, tak semuanya bisa kuhindari. Ada momen-momen kecil yang tak bisa dikontrol, berpapasan di lorong, berdiri dalam antrean yang sama, atau sekadar menyadari suaranya di antara keramaian. Di saat-saat seperti itu, aku harus bekerja dua kali lebih keras untuk terlihat biasa saja. Wajah datar. Gestur wajar. Tertawa pada hal-hal yang memang lucu, bukan karena ia ada di sekitar. Aku merasa seperti sedang memainkan peran sebagai diriku sendiri. Sehari-hari aku tetap beraktivitas seperti biasa. Mengobrol dengan orang lain. Menyele...

Tak Ingin Lagi Berlarut-Larut Dalam Euforia yang Hanya Hidup di Kepalaku Sendiri

Senin akhirnya datang juga, seperti biasa, tanpa peduli apa yang sedang berkecamuk di dalam dada seseorang. Matahari tetap naik, jalanan tetap ramai, dan ruangan itu tetap sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Hanya aku yang berbeda. Kali ini aku datang dengan keputusan kecil yang terasa besar, aku tidak akan lagi mencari-cari dia. Biasanya, tanpa sadar, mataku selalu tahu harus ke mana. Begitu memasuki ruangan, ada semacam radar halus yang otomatis bekerja, mendeteksi di mana dia berdiri, dengan siapa dia duduk, bagaimana ekspresinya pagi itu. Tapi hari ini aku mematikan radar itu. Setidaknya, aku mencoba. Aku sengaja menyibukkan diri. Mengatur barang, membuka laptop, membaca sesuatu yang sebenarnya tak benar-benar kubaca. Aku menundukkan wajah sedikit lebih lama dari biasanya, menatap layar seolah-olah ada hal yang sangat penting. Padahal yang sebenarnya penting justru sedang kuhindari. Beberapa kali, tanpa bisa dihindari, aku tetap melihatnya sekilas. Bukan karena sengaja menca...

Patah Hati Yang Tidak Pernah Benar-Benar Diakui Sebagai Patah Hati

Lucunya, kebiasaan itu masih tertinggal seperti refleks yang tidak sempat ikut pamit. Setiap kali membuka media sosial, jemariku seperti tahu jalan sendiri, mengetik namanya, membuka profilnya, lalu berhenti di halaman yang sama, terkunci, sunyi, tak memberi apa-apa. Tidak ada yang bisa dilihat. Tidak ada yang bisa dipahami. Hanya foto profil kecil dan ruang kosong yang terasa terlalu luas untuk sesuatu yang sebenarnya begitu sederhana. Aku tahu tak ada gunanya. Aku juga tahu aku tidak benar-benar berharap menemukan sesuatu. Tidak ada harapan yang menunggu di sana. Tapi tetap saja aku mampir. Seperti seseorang yang lewat di depan rumah lama, padahal sudah tahu penghuninya pindah entah ke mana. Bukan ingin mengetuk pintu. Hanya ingin memastikan rumah itu masih berdiri. Dan setiap kali selesai, rasanya datar saja. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada rasa sakit yang dramatis. Hanya semacam keheningan kecil yang cepat berlalu, seperti menutup aplikasi yang tidak sengaja terbuka. Mungkin ...

Pesan Itu Akhirnya Dibaca. Hari Minggu. Tengah Malam

Pesan itu akhirnya dibaca. Hari Minggu. Tengah malam. Seperti biasa, aku tidak benar-benar tidur nyenyak. Ada kebiasaan aneh yang muncul sejak semuanya jadi serba tidak jelas: sesekali terbangun, membuka layar ponsel, mengecek tanpa harapan besar tapi juga tanpa keberanian untuk benar-benar tak peduli. Dan di antara sisa kantuk yang menggantung, aku melihat tanda itu, “dibaca”. Jumat aku mengirimnya. Minggu tengah malam baru dibuka. Entah kenapa, justru bukan rasa marah yang muncul. Bukan juga lega. Lebih ke arah… kosong yang pelan-pelan mengembang. Seperti balon yang tak diisi udara, tapi tetap membesar karena tekanan dari dalam. Dan yang lebih membuat pikiranku berlari ke mana-mana adalah satu hal, sekarang profilku sudah privat. Bukan memblokirnya. Aku tidak sekejam itu. Hanya mengembalikan semuanya ke mode semula, tertutup. Seolah aku sedang menata ulang ruang pribadiku. Tapi kalau jujur, ada sedikit gerakan defensif di sana. Seperti ingin bilang, “Kalau kamu bisa diam, aku ju...

Berhenti Mengikuti

Aku melakukannya tanpa banyak upacara. Tanpa drama. Tanpa pengumuman dalam hati. Hanya satu gerakan kecil, membuka profilnya, melihat tombol yang selama ini bertuliskan “mengikuti”, lalu menekannya hingga kembali menjadi netral. Selesai. Sesederhana itu. Aku menghapus statusku sebagai pengikutnya. Bukan karena marah. Bukan juga karena ingin membuatnya sadar atau memancing reaksi. Kalau pun ada yang tersisa, itu lebih mirip lelah daripada kecewa. Lelah menunggu balasan yang tak kunjung datang setelah pesan terakhirku. Lelah menebak-nebak arti diamnya. Lelah menjadi orang yang selalu lebih dulu bergerak, sementara yang lain tetap berdiri di tempat. Pesanku sudah dibaca. Tanda kecil itu masih tertera jelas. Tapi setelah itu, sunyi. Tak ada satu huruf pun yang kembali. Dan dua hari terasa cukup untuk membuatku sadar bahwa mungkin aku sedang berbicara pada ruang kosong. Padahal, jauh di dalam hati, aku masih yakin ini bukan sepenuhnya sepihak. Ada tatapan-tatapan yang dulu terasa terlal...

Aku Ingin Punya Alasan untuk Memanggilmu

Ada jeda panjang sebelum akhirnya aku memberanikan diri membuka kembali jendela percakapan itu. Jeda yang terasa jauh lebih panjang dari hitungan hari yang sebenarnya. Pesan sebelumnya sudah dibaca, tanda kecil yang biasanya cukup untuk memberi harapan, namun tak pernah diikuti balasan. Hanya tanda sunyi yang menggantung seperti titik-titik yang tak kunjung berubah menjadi kalimat. Awalnya aku mencoba pura-pura tidak peduli. Meyakinkan diri bahwa aku pun sering melakukan hal yang sama pada orang lain: membaca pesan, lalu menunda membalasnya tanpa alasan yang jelas. Tapi entah kenapa, ketika berada di posisi yang berlawanan, logika itu tiba-tiba terasa rapuh. Ada rasa tidak enak yang mengendap. Rasa yang aneh, seperti berdiri terlalu lama di depan pintu rumah orang lain tanpa tahu apakah harus mengetuk lagi atau pulang saja. Namun pada akhirnya aku mengetuk lagi. Aku memaksa diriku menekan tombol kirim sekali lagi, sambil mencoba mematikan rasa bersalah karena harus memulai percakapa...