Skip to main content

Posts

Menjadi Tokoh dalam Fantasi Orang Lain

Pernahkah kamu merasa menjadi tokoh dalam fantasi seseorang yang bahkan tidak benar-benar kamu kenal? Bukan seseorang yang dekat, bukan pula orang yang setiap hari mengobrol denganmu. Hanya seseorang yang sesekali berpapasan di lorong, bertemu sekilas di ruang yang sama, lalu kembali menjalani hidup masing-masing seolah tak pernah terjadi apa-apa. Pertanyaan itu beberapa kali muncul di kepalaku, dan entah kenapa, setiap kali muncul, selalu meninggalkan kebingungan yang sama. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyadarinya. Awalnya kupikir semua itu hanya kebetulan. Tatapan mata yang terlalu lama. Gerakan tubuh yang terasa dibuat-buat ketika aku lewat. Sikap yang berubah hanya ketika aku berada dalam radius pandangnya. Aku mencoba menepis semuanya. Barangkali aku hanya terlalu peka. Barangkali aku memang sedang mencari-cari makna pada sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Namun semakin lama, semakin sulit bagiku menganggap semuanya sebagai kebetulan. Beberapa kali aku melihat gestur yan...
Recent posts

Dua Orang yang Sama-Sama Berjalan Mengelilingi Lingkaran yang Sama

Hari ini aku memilih menghindarinya lagi. Entah sudah yang keberapa kali aku melakukan itu. Anehnya, semakin hari justru semakin sering aku mengambil jalan memutar, mencari kesibukan lain, atau berpura-pura tidak melihat ketika sebenarnya ada banyak kesempatan untuk berada lebih dekat dengannya. Padahal kesempatan itu ada. Bahkan terlalu banyak. Kami berada di ruangan yang sama. Pernah beberapa kali hanya terpisah beberapa langkah. Ada momen-momen yang seharusnya cukup mudah jika aku hanya ingin sekadar menyapa atau memulai percakapan sederhana. Tidak perlu sesuatu yang besar. Tidak perlu pengakuan yang dramatis. Hanya sebuah sapaan singkat yang mungkin akan terdengar biasa bagi orang lain. Namun, justru hal sesederhana itu terasa paling sulit kulakukan. Aku memilih menghindar. Bukan karena aku sudah tidak menyukainya. Justru karena perasaan itu masih ada. Masih terlalu hidup. Dan aku mulai takut pada diriku sendiri. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana jika semua yang selama ini kubac...

Diriku Sendiri yang Perlahan Mulai Kehilangan Kemampuan untuk Berpura-pura Tidak Jatuh Cinta

Sampai hari ini aku masih suka tertawa sendiri kalau mengingat kejadian kemarin. Seperti yang pernah kuceritakan berkali-kali sebelumnya, dia seolah selalu menemukan cara agar tetap berada dalam radar penglihatanku. Kadang terang-terangan, kadang begitu halus hingga aku sendiri bingung apakah memang sedang terjadi sesuatu atau hanya pikiranku yang terlalu rajin menyusun cerita. Yang paling sering terjadi justru menjelang jam pulang. Aku pernah bercerita bagaimana beberapa kali aku sengaja menunda pulang hanya karena dia dan teman-temannya sedang duduk di kursi dekat pintu keluar. Mereka mengobrol santai, memainkan ponsel, sesekali tertawa. Sementara aku justru sibuk mencari pekerjaan tambahan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hanya agar tidak perlu melewati mereka. Rasanya canggung sekali. Bukan karena takut bertemu. Justru karena terlalu ingin bertemu. Aku tidak tahu harus memasang wajah seperti apa jika harus berjalan melewatinya dari jarak yang begitu dekat. Maka aku memilih me...

Ternyata Selama Ini yang Paling Kusukai Bukanlah Jawabannya. Melainkan Pertanyaannya.

Anehnya, justru aku yang memilih menghindar ketika kami bertemu. Bukan dia. Aku. Dan itu kulakukan dengan sadar, dengan segala tenaga yang kumiliki. Aku menjaga jarak sejauh yang masih mungkin dilakukan tanpa terlihat mencurigakan. Aku mengalihkan pandangan. Aku menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Aku mencari alasan untuk tidak terlalu sering berada dalam radius yang sama dengannya. Bukan karena aku ingin menjauhinya. Justru karena aku terlalu menyukainya. Ada hal-hal yang semakin dekat justru semakin sulit dikendalikan. Seperti api kecil yang awalnya hanya menghangatkan, tetapi jika dibiarkan terus menyala bisa membakar seluruh isi rumah. Aku takut perasaan ini menjadi seperti itu. Sudah berkali-kali aku mencoba menyangkalnya. Sudah berkali-kali aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kekaguman sesaat, hanya rasa penasaran, hanya kebiasaan karena terlalu sering melihat wajah yang sama setiap hari. Tetapi rasanya aku sudah terlalu lelah untuk berbohong kepada diri sendiri. Aku me...

Berjuang Mengatasi Rindu yang Bahkan Tidak Berani Kuungkapkan kepada Pemiliknya

Akhirnya kami bertemu juga. Setelah sehari sebelumnya aku menghabiskan banyak waktu menunggu seseorang yang tidak pernah datang, hari ini semesta seolah memberiku sedikit belas kasihan. Tidak banyak. Hanya secuil. Hanya cukup untuk membuat rindu yang kemarin mengering kembali menemukan setetes air. Saat itu aku masih berada di samping kendaraanku. Tidak sedang melakukan sesuatu yang penting sebenarnya. Hanya membenarkan posisi sepatu yang terasa kurang nyaman dan menyangkutkan tas ke pundak dengan gerakan yang sengaja kulambat-lambatkan. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering melakukan itu. Menunda beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Seolah ada sesuatu yang sedang kutunggu. Dan memang ada. Di saat itulah aku melihat sebuah kendaraan berbelok memasuki area parkir. Aku langsung mengenalinya. Bukan karena aku hafal nomor kendaraannya secara utuh. Justru lucunya, aku bahkan tidak tahu angka-angka setelahnya. Tetapi aku hafal kode awalnya. Hafal bentuk motornya. Hafal cara ken...

hate that i made you love me - Ariana Grande (Arti Lagu)

Lagu Hate That I Made You Love Me menarik karena sekilas terdengar seperti lagu tentang seseorang yang merasa bersalah karena membuat orang lain jatuh cinta. Namun kalau didengarkan lebih dalam, sebenarnya lagu ini jauh lebih tajam dari sekadar kisah romantis. Ini bukan lagu tentang cinta yang gagal. Ini lagu tentang seseorang yang lelah dijadikan pusat fantasi, harapan, dan proyeksi orang lain. Bayangkan ada seseorang yang begitu dikagumi. Orang-orang melihatnya dari jauh, mengaguminya, bahkan mungkin jatuh cinta kepadanya. Namun masalahnya, mereka tidak benar-benar mencintai dirinya yang asli. Mereka mencintai versi dirinya yang mereka ciptakan sendiri di dalam kepala. Itulah yang terasa dari lirik "Sorry if I made me your type" Kalimat ini terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sebenarnya bernada sarkastik. Kurang lebih maknanya "Maaf kalau aku ternyata sesuai dengan tipe idealmu. Tapi itu bukan salahku." Ariana seperti sedang berkata bahwa ia tidak pernah mem...

Penantian Semu

Padahal sejak pagi aku sudah membayangkan bagaimana hari ini akan berjalan. Seperti biasanya, aku membayangkan akan ada pertemuan-pertemuan kecil yang tampak tidak penting bagi orang lain, tetapi cukup berarti bagiku. Aku membayangkan akan melihatnya memasuki ruangan. Lalu seperti yang sering terjadi dalam cerita yang diam-diam kususun sendiri, ia akan mulai mencari cara agar tetap berada dalam jangkauan pandanganku. Mungkin ia akan mondar-mandir melewati tempatku. Mungkin beberapa kali berpura-pura memiliki urusan di sudut ruangan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mungkin juga kami akan kembali memainkan permainan lama yang tidak pernah kami sepakati: saling mencuri pandang lalu buru-buru berpaling seolah tidak terjadi apa-apa. Aku bahkan sudah membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih canggung. Berpapasan di koridor yang sempit. Bertemu di dekat loker. Atau berdiri dalam jarak yang terlalu dekat sehingga tidak ada pilihan selain saling menyadari keberadaan masing-masing. B...