Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tidak berbakat menjadi detektif. Atau setidaknya, tidak berbakat menjadi detektif yang menyelidiki orang yang disukainya sendiri. Sebab setelah sekian lama mengamati, menebak-nebak, menyusun teori, membangun skenario, dan membuat berbagai kesimpulan yang belum tentu benar, aku baru menyadari satu fakta yang sangat sederhana. Dan fakta itu membuatku tertawa sendirian. Bukan tertawa karena lucu. Lebih tepatnya tertawa karena malu. Karena ternyata aku melakukan kesalahan yang sangat konyol. Aku masih ingat ketika beberapa waktu lalu aku memberanikan diri mengirim pesan kepadanya. Sebuah pesan sederhana yang bahkan membutuhkan keberanian berhari-hari untuk dikirimkan. Di antara berbagai hal yang bisa kutanyakan, aku justru bertanya tentang namanya. Saat itu aku benar-benar yakin bahwa nama yang ia gunakan di media sosial bukan nama asli. Aku menganggapnya hanya nama samaran. Nama internet. Nama yang sengaja dipakai untuk bersenang-senang seperti bany...
Kemarin, tanpa sengaja, kami terjebak dalam sebuah keadaan yang membuatku ingin tertawa sekaligus mengumpat pada diri sendiri. Sebuah lorong sempit menuju loker kantor. Tidak terlalu panjang, tidak terlalu ramai, dan yang paling menyebalkan, tidak menyediakan ruang untuk mundur. Tidak ada sudut untuk bersembunyi. Tidak ada jalan memutar. Tidak ada alasan untuk tiba-tiba menghilang. Aku datang dari arah dalam ruangan. Tujuanku sederhana, mengambil botol minum yang kutinggalkan di loker. Sedangkan dia datang dari arah sebaliknya, dari pintu depan. Mungkin tujuannya sama. Mungkin juga tidak. Aku tidak pernah benar-benar tahu urusan apa yang membawanya ke sana. Yang jelas, kami bergerak menuju titik yang sama. Awalnya aku belum menyadarinya. Sampai kemudian, beberapa langkah sebelum bertemu, aku melihat sosok itu. Dia. Dan seperti biasa, otakku langsung berubah menjadi pusat kendali darurat. Dalam hitungan detik, pikiranku berputar mencari berbagai kemungkinan. Haruskah aku berhenti? Harus...