Skip to main content

Posts

Di Antara Angka, Imajinasi, dan Salah Paham

Kadang aku duduk cukup lama hanya untuk menatap halaman statistik blogku sendiri. Angka-angka itu bergerak naik turun seperti detak yang punya ritme sendiri. Ada hari ketika pengunjungnya tembus ribuan dalam satu hari, angka yang membuatku terdiam, antara kaget dan sedikit tidak percaya. Tapi ada juga hari-hari yang jauh lebih sepi, hanya ratusan saja, seperti rumah yang tetap berdiri tapi tanpa banyak tamu yang singgah. Aneh rasanya memikirkan itu semua. Aku sering bertanya dalam hati, sebenarnya mereka datang dari mana? Siapa yang mengetikkan kata kunci tertentu hingga akhirnya terdampar di tulisanku? Apakah mereka membaca sampai selesai, atau hanya singgah beberapa detik lalu pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu butuh jawaban, tapi tetap saja muncul, terutama ketika melihat grafik yang naik tajam tanpa aba-aba. Yang lebih membuatku heran, justru tulisan-tulisan lama, bahkan yang kutulis sebelum tahun 2000-an, yang sering paling banyak dibaca. Tulisan yang lahir di masa ke...
Recent posts

Semua Bermula dari Satu Kata yang Kelihatannya Tidak Berbahaya

Semua bermula dari satu kata yang kelihatannya tidak berbahaya,  hi .  Hanya dua huruf, satu suku kata, satu sentuhan jari di layar yang terlalu ringan untuk menanggung beban sebesar itu. Tapi entah kenapa, sebelum menekan tombol kirim, dadaku terasa seperti sedang menyimpan badai yang menunggu pecah. Aku menatap layar terlalu lama, seolah-olah kata itu bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih cerdas, lebih dewasa, lebih pantas untuk seseorang yang ingin terlihat tenang dan tidak sedang jatuh cinta diam-diam. Aku tahu itu terdengar konyol. Dan mungkin memang konyol. Karena pada akhirnya aku tetap menekan tombol kirimnya. Lalu seketika, penyesalan datang seperti tamu yang tidak diundang, duduk santai di sebelahku, dan menertawakan keberanianku yang terlalu tipis. Rasanya seperti kembali menjadi anak SMA yang baru belajar menyukai seseorang, yang mengira setiap pesan adalah pertaruhan harga diri. Padahal aku tahu persis, di usia sekarang, aku seharusnya sudah melewati fase-fase...

Hari Minggu yang Terlalu Panjang

Entah sejak kapan hari Minggu berubah menjadi hari yang paling tidak kusukai. Dulu rasanya biasa saja, hari untuk beristirahat, menunda alarm, dan membiarkan waktu berjalan tanpa target. Tapi sekarang, Minggu terasa seperti ruang kosong yang terlalu luas. Sunyi yang tidak punya jeda. Seolah waktu berjalan lebih lambat hanya untuk mengingatkanku bahwa ada satu rutinitas kecil yang hilang. Rutinitas itu sederhana.... melihatnya. Lucunya, kalau dipikir-pikir, kami bahkan tidak benar-benar berbicara. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada tawa bersama, tidak ada cerita yang dibagi seperti orang-orang pada umumnya. Namun entah kenapa, hanya dengan mengetahui bahwa ia ada di tempat yang sama, berada dalam jarak pandang yang bisa kugapai dengan mata, rasanya sudah cukup membuat hari terasa penuh. Senin sampai Sabtu terasa lebih ringan karena kemungkinan itu selalu ada. Ada kemungkinan bertemu. Ada kemungkinan berpapasan. Ada kemungkinan saling menyadari keberadaan satu sama lain tanpa har...

Setiap Kali Ia Berlalu, Aku Selalu Merasa Telah Memenangkan Sesuatu. Tapi di Saat yang Sama, Aku Juga Merasa Kalah

Ada momen-momen kecil yang terasa begitu besar hanya karena terjadi berulang. Ia berjalan melintas di depanku, sekilas, singkat, seperti adegan yang tidak pernah benar-benar dimulai tapi selalu berhasil meninggalkan jejak. Setiap kali itu terjadi, ada dorongan aneh yang muncul tanpa diminta. Sebuah keinginan yang tiba-tiba saja berdiri di ambang kesadaran.... ingin memeluknya. Bukan pelukan yang panjang atau dramatis, hanya keinginan sederhana untuk berhenti sejenak dan menghapus jarak yang selama ini terasa terlalu jauh. Dan setiap kali keinginan itu datang, aku langsung membencinya. Bukan karena keinginan itu salah, tapi karena aku tahu aku tidak akan pernah menuruti dorongan itu. Aku menahannya sekuat mungkin, seperti seseorang yang menggenggam sesuatu yang terlalu panas tapi tidak berani melepaskannya. Ada batas yang tak terlihat, ada aturan tak tertulis yang terus mengingatkanku untuk tetap di tempatku. Maka aku memilih diam. Selalu diam. Lucunya, semakin aku menahan diri, sema...

Tentang Jarak yang Akhirnya Kupilih

Ada satu hal yang belakangan ini sering mengganggu pikiranku. Kadang, orang yang paling lantang menyayangkan tindakan bunuh diri, yang paling sering menulis kalimat penuh empati di forum dan media sosial, justru pernah, atau bahkan masih, menjadi bagian dari perundungan itu sendiri. Mereka bicara seolah-olah menjadi pembawa kasih, seakan berdiri di sisi yang paling peduli, padahal di sisi lain, mereka juga pernah melukai. Aku mengenali tipe orang seperti itu. Bukan sekadar dari cerita orang lain, tapi dari pengalaman yang cukup dekat untuk terasa nyata. Di ruang publik, mereka terdengar bijak. Kata-katanya rapi, penuh empati, mudah disukai. Namun di ruang yang lebih kecil, di percakapan yang lebih pribadi, sikapnya bisa berubah jauh berbeda. Kalimat-kalimat yang dulu terasa hangat, tiba-tiba bisa menjadi dingin, tajam, dan merendahkan. Kontras itu melelahkan. Awalnya aku mencoba memaklumi. Mungkin mereka tidak sadar. Mungkin itu hanya salah paham. Mungkin aku terlalu sensitif. Banya...

Ketika Kita Terlambat Mengetahui

Semua orang, bahkan yang pemahamannya tentang agama sangat sederhana, hampir pasti tahu satu hal bunuh diri itu dosa. Kalimat itu sering diulang, sering diingatkan, seolah cukup kuat untuk menjadi pagar. Tapi kenyataannya, cerita tentang orang yang memilih jalan pintas itu tidak pernah sesederhana kalimat tersebut. Masalahnya bukan pada tahu atau tidak tahu. Masalahnya jauh lebih sunyi dari itu. Sering kali, keputusan itu lahir bukan karena seseorang ingin menantang larangan, melainkan karena ia merasa tidak lagi punya pilihan. Seperti berdiri di lorong panjang yang gelap, mencoba mencari pintu keluar, tapi tidak menemukan apa pun selain dinding yang sama di setiap sisi. Dari luar, mungkin masih terlihat ada banyak jalan. Namun dari dalam kepala mereka, jalan itu seakan menghilang satu per satu. Ada fase ketika pikiran mulai berbisik pelan,  buat apa hidup? Pertanyaan itu tidak datang seperti teriakan. Ia datang seperti bisikan yang diulang terus-menerus. Pelan, konsisten, dan s...

Mawar Hitam di Jembatan Kembar dan Rasa yang Seperti Berdiri di Persimpangan Tanpa Papan Petunjuk

Beberapa hari ini linimasa media sosialku dipenuhi satu video yang sama. Tentang bunga hitam di Jembatan Kembar, Malang. Awalnya aku menontonnya tanpa benar-benar mengerti. Hanya melihat potongan gambar yang terasa muram, orang-orang berkumpul, dan suasana yang entah kenapa terasa berat meski hanya lewat layar. Aku sempat menggulir begitu saja, mengira itu sekadar tren internet yang akan hilang dalam beberapa hari. Sampai akhirnya aku membaca komentar. Barulah perlahan semuanya terasa jelas. Makna di balik bunga hitam itu, kisah-kisah yang tersirat, dan alasan kenapa banyak orang membicarakannya dengan nada serius. Ada rasa dingin yang pelan-pelan merayap saat aku mulai memahami konteksnya. Video yang awalnya terasa jauh tiba-tiba menjadi dekat. Terlalu dekat. Dan tanpa sadar, pikiranku mulai berjalan ke arah yang tidak kusangka. Aku pernah berada di masa seperti itu. Bukan masa yang ingin sering kuingat, bukan juga bagian hidup yang mudah diceritakan. Masa ketika pikiran terasa p...

Kesempatan yang Kutinggalkan di Gerbang

Adegan itu masih terulang jelas di kepalaku, seperti potongan film yang diputar tanpa henti. Ia berdiri di pintu gerbang, bukan kebetulan yang samar, bukan kehadiran yang setengah tersembunyi. Ia benar-benar ada di sana, menungguku. Setidaknya begitulah rasanya. Tidak ada keraguan pada jarak pandangku, tidak ada alasan untuk berpura-pura tidak melihat. Aku melihatnya. Ia juga melihatku. Dan justru di detik itulah semuanya di dalam diriku mendadak berhenti. Selama berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu, aku selalu membayangkan momen seperti ini. Aku membayangkan percakapan yang akan kami mulai, kalimat pembuka yang sederhana, mungkin hanya sapaan ringan yang bisa berkembang menjadi obrolan panjang. Aku membayangkan bagaimana akhirnya kami akan punya waktu berdua, berdiri di ruang yang sama tanpa keramaian yang mengganggu. Semua skenario itu sudah kususun rapi, seperti naskah yang menunggu dipentaskan. Tapi kenyataan selalu punya cara sendiri untuk mengacaukan segalanya. Saat ...

Subuh yang Datang Bersama Kebiasaan Baru

Sudah empat bulan sejak rutinitas gym pelan-pelan masuk ke hidupku. Awalnya hanya soal ingin badan lebih sehat, ingin bergerak lebih banyak, ingin merasakan pegal yang rasanya “pantas.” Tapi aku tidak menyangka perubahan yang datang ternyata merembet ke hal lain, ke sesuatu yang jauh lebih sunyi, lebih pribadi, dan lebih bermakna dari sekadar keringat dan hitungan repetisi. Sekarang, pagiku hampir selalu dimulai dengan langkah menuju masjid untuk salat Subuh berjamaah. Kalau mengingat ke belakang, rasanya ini kebiasaan yang dulu terasa jauh. Bangun pagi bukan masalah bagiku, masalahnya adalah bangun tepat waktu untuk Subuh. Dulu, malam sering terasa terlalu panjang. Pikiran berisik, tubuh tidak benar-benar lelah, dan tidur datang seperti tamu yang malas mampir. Kadang aku baru benar-benar terlelap saat malam sudah hampir habis. Akibatnya, Subuh sering lewat begitu saja, tanpa sempat kusadari. Lalu gym mengubah ritme itu secara perlahan. Hari-hari mulai diisi aktivitas fisik yang n...

Ingin Dimengerti, Tapi Juga Ingin Tetap Menghormati.

Pikiran itu muncul begitu saja, barusan sekali, seperti ide nekat yang lahir dari terlalu banyak kegagalan. Setelah sekian lama semua rencana untuk menyapa selalu kandas, kata-kata yang sudah kususun rapi mendadak buyar begitu ia berdiri di hadapanku, senyum yang ingin kulempar malah berubah jadi wajah datar, aku mulai merasa mungkin ada yang salah dengan caraku berkomunikasi. Atau mungkin memang aku yang terlalu takut pada suaraku sendiri. Lalu entah dari mana, terlintas pikiran yang agak berbahaya: bagaimana kalau bukan kata-kata yang kugunakan? Bagaimana kalau sentuhan kecil saja? Isyarat yang tidak perlu suara. Mungkin dengan begitu ia akan paham maksudku. Mungkin dengan rabaan ringan, sekadar menyentuh lengan saat berpapasan, atau menepuk bahunya pelan, pesan yang tak pernah berhasil keluar dari mulutku bisa sampai juga. Tapi bahkan sebelum pikiran itu selesai, aku sudah merasa tidak nyaman. Karena dunia tidak sesederhana itu. Karena sentuhan bukan bahasa yang bisa digunakan se...