Skip to main content

Posts

Butterfly Effect

Sebenarnya, tidak ada cerita baru yang ingin kutulis hari ini. Kalau dipikir-pikir, kisah kami hanya berputar di tempat yang sama. Adegannya berganti, harinya berubah, tetapi alurnya nyaris tidak pernah benar-benar bergerak. Kami bertemu, saling melihat sekilas, menjaga jarak, lalu pulang dengan pikiran masing-masing. Besoknya terulang lagi. Minggu depannya juga begitu. Seolah-olah semesta sengaja menulis cerita yang sama dengan sudut pandang yang sedikit berbeda setiap harinya. Barangkali karena itulah aku mulai kehabisan kata-kata. Atau mungkin, yang sebenarnya berubah adalah perasaanku sendiri. Aku masih menyukainya. Kalimat itu tidak berubah. Namun cara hatiku menyambut kehadirannya perlahan mulai berbeda. Seperti kemarin, misalnya. Aku tetap merasa senang ketika akhirnya bisa melihatnya. Ada rasa lega yang diam-diam muncul begitu mengetahui ia benar-benar datang. Tetapi setelah itu... ya sudah. Tidak ada ledakan apa pun. Tidak ada degup jantung yang tiba-tiba berlari lebih cepat. ...
Recent posts

Menunda Pulang

Sebenarnya, sore itu aku sudah berhenti berharap. Sejak siang aku tidak melihatnya sama sekali. Jam demi jam berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadirannya. Lama-kelamaan aku mulai menerima kenyataan bahwa mungkin hari itu akan berakhir seperti hari-hari lain ketika kami tidak sempat berpapasan. Tidak apa-apa, kataku pada diri sendiri. Toh dunia tidak akan berhenti hanya karena hari ini aku tidak melihat wajahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Berkas-berkas yang berserakan di meja mulai kurapikan satu per satu. Botol minum kumasukkan ke dalam tas. Laptop sudah kututup. Meja kerja kembali bersih seperti semula. Semua tanda menunjukkan bahwa hari ini benar-benar selesai. Setidaknya, begitulah yang kukira. Saat aku hampir melangkah meninggalkan ruangan, tanpa sengaja pandanganku mengarah ke pintu. Dan di sanalah dia. Entah sejak kapan datangnya. Aku hanya melihat sosoknya melintas di samping pintu, lalu berjalan pelan menuju loker. Sesederhana itu. Namun entah mengapa, pemandangan yan...

Sisa-sisa Pikiranku yang Terlalu Sering Memikirkannya

Semalam aku kembali bertemu dengannya. Aneh rasanya mengatakan itu, sebab pertemuan ini bukan terjadi di lorong kantor, bukan pula di dekat loker, atau di antara kesibukan yang biasanya menjadi saksi bisu tatapan-tatapan singkat kami. Pertemuan itu terjadi di tempat yang bahkan tidak bisa kupilih untuk kudatangi. Tempat yang datang begitu saja ketika mataku terpejam. Semuanya terasa begitu nyata. Aku masih mengingat setiap detiknya dengan jelas. Awalnya dia berjalan ke arahku. Langkahnya pelan, tenang, seolah sudah tahu bahwa aku tidak akan ke mana-mana. Sementara aku justru berdiri mematung. Entah kenapa, seluruh keberanian yang sering kususun di dalam kepala mendadak lenyap. Otakku membeku. Tidak ada satu pun kalimat yang berhasil kususun. Mulutku kelu. Bahkan sekadar mengangkat tangan pun terasa sulit. Semakin lama, jarak kami semakin dekat. Aku sempat berpikir untuk mundur satu langkah. Namun tidak sempat. Dia sudah berada tepat di hadapanku. Begitu dekat hingga aku dapat melihat s...

Berpura-pura Tidak Terjadi Apa-apa

  Aku benar-benar mengira hari ini dia tidak akan datang. Jam sudah lewat dari biasanya. Aktivitas kantor hampir berjalan seperti biasa tanpa kehadirannya. Sedikit demi sedikit aku mulai menerima kemungkinan bahwa hari ini akan menjadi satu lagi hari yang harus kulewati tanpa melihat wajahnya. Lalu, tanpa peringatan apa pun, pintu masuk terbuka. Kebetulan saat itu pandanganku memang sedang mengarah ke televisi yang posisinya tepat menghadap pintu. Aku sama sekali tidak sedang menunggunya, setidaknya itulah yang ingin kupercayai. Aku hanya sedang melihat layar yang kebetulan berada di arah yang sama. Namun begitu sosok itu muncul, seluruh pembelaan yang kubangun runtuh begitu saja. "Itu dia." Kalimat itu langsung melintas di kepalaku. Dan anehnya, dalam hitungan detik, emosiku seperti berebut mengambil alih. Ada rasa senang. Ada rasa lega. Ada sedikit kegirangan yang berusaha kutahan mati-matian. Tetapi bersamaan dengan itu muncul juga kebingungan yang sama besarnya. Sekarang ...

Bagaimana kalau kali ini aku saja yang memulai?

Kadang-kadang, di sela-sela kesibukan yang berusaha memenuhi kepalaku, muncul satu pikiran yang terus berulang. Pikiran yang selalu datang diam-diam, lalu menghilang sebelum sempat kutemukan keberaniannya. Bagaimana kalau kali ini aku saja yang memulai? Sudah terlalu lama kami berjalan di tempat yang sama. Terlalu lama saling memandang dari kejauhan, saling menghindar ketika jarak menjadi terlalu dekat, lalu kembali saling mencari ketika salah satu menghilang dari pandangan. Semua terasa seperti lingkaran yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya. Dan aku mulai lelah hidup di dalam lingkaran itu. Sesekali aku membayangkan, bagaimana jika aku mengakhiri semua permainan diam ini. Bukan dengan menjauh, melainkan dengan memperjelasnya. Mengatakan apa yang selama ini kusimpan. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Kalaupun memang tidak ada apa-apa, setidaknya aku tidak perlu lagi sibuk menerjemahkan tatapan, langkah kaki, atau kebetulan-kebetulan yang mungkin memang ha...

Dalam Sudut Pandangku

Hari ini aku datang lebih siang dari biasanya. Barangkali karena semalam aku tidak terlalu bersemangat untuk memulai hari. Atau mungkin memang ada bagian kecil dalam diriku yang sedang ingin menguji sesuatu. Entahlah. Yang jelas, ketika akhirnya aku tiba di kantor, hal pertama yang tanpa sadar kulakukan tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, mencari keberadaannya. Namun dia belum datang. Aku menunggu beberapa saat. Tidak lama, hanya cukup untuk membuat mataku beberapa kali mengarah ke pintu masuk. Barangkali sebentar lagi dia muncul. Barangkali kami hanya terpaut beberapa menit. Lalu aku mulai memperhatikan keadaan di sekitarku. Beberapa orang sudah hadir. Aktivitas kantor berjalan seperti biasa. Namun ada satu hal yang membuatku tiba-tiba merasa yakin. Teman-teman yang biasanya datang bersamanya juga belum terlihat. Aku mengenali pola itu. Sudah beberapa kali terjadi sebelumnya. Jika salah satu dari mereka tidak datang, sering kali dia juga tidak muncul. Entah karena memang bertugas...

Mood-ku Hari Ini Begitu Bergantung pada Keberadaannya

Pertemuan sore ini meninggalkan sesuatu yang tidak nyaman di dalam diriku. Bukan karena terjadi pertengkaran. Tidak ada kata-kata yang menyakitkan. Bahkan tidak ada percakapan sama sekali. Justru karena tidak ada apa-apa itulah, semuanya terasa jauh lebih berat. Kami datang hampir bersamaan. Aku baru saja turun dari kendaraan dan masih sibuk meraih tasku yang terselip di jok ketika kulihat dia datang dari arah luar. Tanpa ragu ia melangkah lebih dulu memasuki gedung. Aku sengaja memperlambat gerakanku. Merapikan tas yang sebenarnya sudah rapi, memastikan pintu kendaraan terkunci, lalu berjalan menyusul beberapa saat kemudian. Aku sudah tahu kemungkinan kami akan berpapasan. Dan ternyata memang terjadi. Ia berjalan melewatiku. Aku juga melewatinya. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Tidak ada anggukan kecil yang biasanya dilakukan orang-orang ketika saling mengenal. Hanya dua orang yang saling mengetahui keberadaan masing-masing, tetapi memilih membiarkan jarak tetap utuh. Aneh sekali....