Pernahkah kamu merasa menjadi tokoh dalam fantasi seseorang yang bahkan tidak benar-benar kamu kenal? Bukan seseorang yang dekat, bukan pula orang yang setiap hari mengobrol denganmu. Hanya seseorang yang sesekali berpapasan di lorong, bertemu sekilas di ruang yang sama, lalu kembali menjalani hidup masing-masing seolah tak pernah terjadi apa-apa. Pertanyaan itu beberapa kali muncul di kepalaku, dan entah kenapa, setiap kali muncul, selalu meninggalkan kebingungan yang sama. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyadarinya. Awalnya kupikir semua itu hanya kebetulan. Tatapan mata yang terlalu lama. Gerakan tubuh yang terasa dibuat-buat ketika aku lewat. Sikap yang berubah hanya ketika aku berada dalam radius pandangnya. Aku mencoba menepis semuanya. Barangkali aku hanya terlalu peka. Barangkali aku memang sedang mencari-cari makna pada sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Namun semakin lama, semakin sulit bagiku menganggap semuanya sebagai kebetulan. Beberapa kali aku melihat gestur yan...
Hari ini aku memilih menghindarinya lagi. Entah sudah yang keberapa kali aku melakukan itu. Anehnya, semakin hari justru semakin sering aku mengambil jalan memutar, mencari kesibukan lain, atau berpura-pura tidak melihat ketika sebenarnya ada banyak kesempatan untuk berada lebih dekat dengannya. Padahal kesempatan itu ada. Bahkan terlalu banyak. Kami berada di ruangan yang sama. Pernah beberapa kali hanya terpisah beberapa langkah. Ada momen-momen yang seharusnya cukup mudah jika aku hanya ingin sekadar menyapa atau memulai percakapan sederhana. Tidak perlu sesuatu yang besar. Tidak perlu pengakuan yang dramatis. Hanya sebuah sapaan singkat yang mungkin akan terdengar biasa bagi orang lain. Namun, justru hal sesederhana itu terasa paling sulit kulakukan. Aku memilih menghindar. Bukan karena aku sudah tidak menyukainya. Justru karena perasaan itu masih ada. Masih terlalu hidup. Dan aku mulai takut pada diriku sendiri. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana jika semua yang selama ini kubac...