Skip to main content

Posts

Kesalahan Paling Konyol Saat Menjadi Detektif

Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tidak berbakat menjadi detektif. Atau setidaknya, tidak berbakat menjadi detektif yang menyelidiki orang yang disukainya sendiri. Sebab setelah sekian lama mengamati, menebak-nebak, menyusun teori, membangun skenario, dan membuat berbagai kesimpulan yang belum tentu benar, aku baru menyadari satu fakta yang sangat sederhana. Dan fakta itu membuatku tertawa sendirian. Bukan tertawa karena lucu. Lebih tepatnya tertawa karena malu. Karena ternyata aku melakukan kesalahan yang sangat konyol. Aku masih ingat ketika beberapa waktu lalu aku memberanikan diri mengirim pesan kepadanya. Sebuah pesan sederhana yang bahkan membutuhkan keberanian berhari-hari untuk dikirimkan. Di antara berbagai hal yang bisa kutanyakan, aku justru bertanya tentang namanya. Saat itu aku benar-benar yakin bahwa nama yang ia gunakan di media sosial bukan nama asli. Aku menganggapnya hanya nama samaran. Nama internet. Nama yang sengaja dipakai untuk bersenang-senang seperti bany...
Recent posts

Lorong yang Tidak Memberi Jalan Putar Balik

Kemarin, tanpa sengaja, kami terjebak dalam sebuah keadaan yang membuatku ingin tertawa sekaligus mengumpat pada diri sendiri. Sebuah lorong sempit menuju loker kantor. Tidak terlalu panjang, tidak terlalu ramai, dan yang paling menyebalkan, tidak menyediakan ruang untuk mundur. Tidak ada sudut untuk bersembunyi. Tidak ada jalan memutar. Tidak ada alasan untuk tiba-tiba menghilang. Aku datang dari arah dalam ruangan. Tujuanku sederhana, mengambil botol minum yang kutinggalkan di loker. Sedangkan dia datang dari arah sebaliknya, dari pintu depan. Mungkin tujuannya sama. Mungkin juga tidak. Aku tidak pernah benar-benar tahu urusan apa yang membawanya ke sana. Yang jelas, kami bergerak menuju titik yang sama. Awalnya aku belum menyadarinya. Sampai kemudian, beberapa langkah sebelum bertemu, aku melihat sosok itu. Dia. Dan seperti biasa, otakku langsung berubah menjadi pusat kendali darurat. Dalam hitungan detik, pikiranku berputar mencari berbagai kemungkinan. Haruskah aku berhenti? Harus...

Aku Masih Bisa Berpura-Pura Bahwa Akhir Ceritanya Belum Ditentukan

  Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin aku masih terlalu sering mencari alasan. Alasan kenapa sampai hari ini aku tidak pernah benar-benar berani menyapanya. Alasan kenapa setiap kesempatan yang terbuka selalu berakhir dengan keraguan. Alasan kenapa aku lebih memilih diam, meskipun dalam hati sudah menyiapkan begitu banyak kalimat yang ingin diucapkan. Dan setiap kali aku mencoba mengurai semuanya, aku selalu kembali pada satu titik yang sama. Dua pesan itu. Dua pesan sederhana yang pernah kukirimkan melalui media sosialnya. Tidak ada kalimat besar. Tidak ada pengakuan cinta yang dramatis. Tidak ada tuntutan agar ia membalas secepat mungkin. Hanya beberapa kata biasa yang sebenarnya bisa dijawab dalam hitungan detik. Namun sampai hari ini, pesan itu tetap menggantung di sana. Dibaca. Dilihat. Lalu dibiarkan diam. Aneh sebenarnya. Aku tidak bisa bilang bahwa aku marah. Kalau marah, mungkin semuanya akan lebih mudah. Aku tinggal kesal, lalu melupakan. Menutup cerita dan ber...

Yang Berperang Hanya Aku

Ternyata aku tidak bisa sejahat itu. Semalam, sebelum tidur, aku masih sempat menyusun berbagai kemungkinan di dalam kepala. Berbagai skenario balasan yang terdengar hebat saat dibayangkan sendirian. Aku membayangkan diriku akan lebih dingin. Lebih cuek. Lebih sulit ditebak. Aku ingin membuatnya merasakan sedikit saja dari kebingungan yang selama ini kurasakan. Sedikit saja dari rasa cemburu yang kemarin sempat membakar dadaku ketika melihatnya terlalu akrab dengan orang lain. Tapi seperti biasanya, keberanianku selalu jauh lebih besar di dalam imajinasi daripada di dunia nyata. Begitu hari ini datang dan aku kembali melihatnya, semua rencana itu runtuh tanpa perlawanan. Aku tidak menjadi lebih dingin. Aku tidak menjadi lebih tegas. Aku bahkan tetap kikuk seperti sebelumnya. Lucu sekali. Setelah sekian lama menyusun naskah demi naskah dalam kepala, pada akhirnya aku masih menjadi diriku yang sama. Orang yang terlalu banyak berpikir dan terlalu sedikit bertindak. Hari ini aku me...

Konspirasi yang Berakhir dengan Tawa

Ada satu fakta yang sampai sekarang masih membuatku ingin tertawa setiap kali mengingatnya. Bahkan mungkin ini adalah salah satu penemuan paling membagongkan dalam seluruh penyelidikanku yang tidak pernah diminta siapa pun. Jadi begini. Beberapa hari terakhir aku cukup yakin bahwa ada seseorang yang sengaja digunakan untuk membuatku cemburu. Setidaknya itulah teori yang perlahan tumbuh di kepalaku. Teori yang awalnya hanya dugaan kecil, lalu berkembang menjadi berbagai kemungkinan yang saling bertumpuk. Setiap kali aku melihat mereka berbicara, setiap kali aku melihat kedekatan yang terlihat terlalu santai, setiap kali aku menangkap adegan-adegan kecil yang menurutku mencurigakan, otakku langsung bekerja. Mungkin memang beginilah nasib orang yang terlalu banyak waktu untuk berpikir. Satu kebetulan bisa berubah menjadi sebuah narasi. Dua kebetulan bisa menjadi teori. Tiga kebetulan sudah cukup untuk membuatku membentuk tim investigasi seorang diri. Dan karena aku memang tidak bi...

Mungkin Aku Sedang Cemburu

Jangan-jangan memang ini yang namanya cemburu. Aku baru menyadarinya malam ini, setelah semua kejadian hari ini selesai dan pikiranku mulai memutar ulang setiap adegan yang sempat kulewati. Karena saat semuanya berlangsung, aku terus meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Aku berkali-kali berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak peduli. Aku tidak berhak peduli. Aku juga tidak ingin peduli. Tapi tubuh kadang lebih jujur daripada pikiran. Dan ada sesuatu yang terasa tidak nyaman sejak siang tadi. Awalnya aku tidak mengerti dari mana asalnya. Aku melihatnya berbicara dengan seseorang. Salah satu orang yang cukup populer di kantor. Mereka tampak akrab. Bercakap-cakap dengan santai. Tertawa. Bertahan dalam percakapan yang cukup lama hingga tanpa sadar aku beberapa kali memastikan apakah mereka sudah selesai atau belum. Lucunya, saat itu aku tidak merasa sedang memperhatikan mereka. Aku bahkan masih bisa bekerja seperti biasa. Masih bisa melakukan aktivitasku sendiri. Masih bi...

Kalau dia memang ingin, kenapa harus aku lagi yang berjalan lebih dulu?

Hari ini sebenarnya semesta terlihat cukup murah hati. Kalau aku mau jujur, ada banyak kesempatan yang datang begitu saja. Kesempatan yang beberapa minggu lalu mungkin akan kuanggap sebagai hadiah besar. Kesempatan yang selama ini selalu kubayangkan ketika menyusun berbagai skenario dalam kepalaku sebelum tidur. Dia sendirian. Tidak dikelilingi teman-temannya seperti biasanya. Tidak sedang sibuk bercanda dengan kelompoknya. Tidak sedang terburu-buru pergi ke tempat lain. Bahkan beberapa kali, menurut penafsiranku yang mungkin benar atau mungkin juga hanya hasil halusinasi seorang yang sedang jatuh hati, dia terlihat berusaha menarik perhatianku. Berada di jalur yang mudah kulihat. Muncul di tempat-tempat yang sulit kuabaikan. Sesekali seperti memberi ruang agar aku bisa mendekat jika memang ingin mendekat. Dan sebenarnya aku memang ingin. Sungguh. Aku bahkan sudah memiliki begitu banyak skenario untuk situasi seperti itu. Aku tahu harus membuka percakapan dengan apa. Aku tah...