Lagi-lagi sore itu terjadi. Dan lagi-lagi aku pulang dengan kepala yang penuh pertanyaan. Seharusnya aku sudah terbiasa. Seharusnya setelah sekian bulan mengamati tingkah lakunya, aku tidak lagi terkejut dengan hal-hal yang ia lakukan. Namun nyatanya, setiap kali aku mulai merasa sudah memahami polanya, dia selalu menemukan cara baru untuk membuatku kembali bingung. Sore tadi suasana cukup lengang. Teman-temannya tidak banyak terlihat berada di sekitarnya. Aktivitas kantor berjalan seperti biasa, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, dan di sela-sela kesibukan itu aku beberapa kali menangkap keberadaannya dalam jarak pandangku. Awalnya biasa saja. Aku bahkan sedang tidak terlalu memperhatikannya. Pikiranku masih dipenuhi berbagai hal lain yang lebih penting. Pekerjaan yang belum selesai. Tekanan yang belum hilang. Dan berbagai urusan yang akhir-akhir ini membuat kepalaku terasa berat. Namun kemudian aku melihat lagi gestur-gestur yang selama ini membuatku terus bertanya-tanya....
Selama ini aku selalu bercerita tentang hal-hal yang mudah dijelaskan. Tentang tatapan mata yang saling bertemu tanpa sengaja. Tentang pandangan yang terlalu cepat dialihkan ketika ketahuan. Tentang rasa kikuk yang muncul saat jarak kami terlalu dekat. Tentang canggung yang entah berasal dari mana. Semua itu masih bisa kuceritakan dengan cukup mudah. Masih bisa kutuliskan tanpa harus berpikir terlalu lama. Namun ada satu bagian yang selama ini selalu kulewati. Bukan karena aku lupa. Justru karena aku terlalu sadar akan keberadaannya. Dan mungkin juga karena aku malu. Sebab jika harus jujur, keyakinanku bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara kami bukan hanya lahir dari tatapan-tatapan itu. Bukan hanya dari kehadiran yang terasa disengaja. Bukan pula dari berbagai kebetulan yang terlalu sering terjadi. Ada hal lain yang lebih sulit dijelaskan. Bahasa tubuh. Gestur. Sex Grooming. Tapi aku gak yakin istilah ini. Namun menyerupai istilah ini. Gerakan-gerakan kecil yang sering muncul...