Beberapa waktu ini aku ikut beberapa program sedekah. Ada sedekah untuk berbuka anak yatim, ada program dari kantor yang menggalang dana Ramadan, lalu di desa juga ada kotak sumbangan yang diedarkan dari rumah ke rumah. Namaku tercatat di beberapa daftar. Tanganku ikut bergerak. Uang berpindah. Secara kasat mata, aku termasuk yang “ikut berpartisipasi”. Tapi jujur saja, di balik semua itu, ada suara kecil yang tidak selalu mulia. Setiap kali ada ajakan sedekah baru, pikiranku otomatis mulai menghitung. Sudah berapa yang keluar minggu ini? Bulan ini? Jangan-jangan kebanyakan? Nanti cukup tidak untuk kebutuhan lain? Bahkan kadang aku menunda beberapa menit hanya untuk memastikan nominalnya “aman”. Tidak terlalu kecil agar tidak malu, tapi juga tidak terlalu besar agar tidak terasa berat. Lucu ya. Sedekah yang seharusnya ringan justru jadi penuh kalkulasi. Saat ikut sedekah berbuka untuk anak yatim, hatiku hangat membayangkan mereka makan dengan tenang saat maghrib. Tapi di saat yang ...
Ada satu rasa yang sering datang diam-diam ketika aku merasa sedang tidak baik-baik saja secara spiritual, malu. Bukan malu karena dilihat orang lain, tapi malu pada diri sendiri. Malu karena beberapa waktu lalu rasanya begitu semangat, begitu yakin, begitu rajin, lalu sekarang terasa biasa saja. Bahkan cenderung menurun. Iman memang katanya naik turun. Aku sudah sering mendengar itu. Tapi ketika benar-benar mengalaminya, tetap saja ada perasaan tidak nyaman. Saat sedang di atas, rasanya ringan sekali melakukan ibadah. Bangun malam tidak terlalu berat. Membaca Al-Qur’an terasa mengalir. Hati mudah tersentuh. Lalu entah kapan turunnya dimulai, semua jadi terasa lebih sulit. Bukan ditinggalkan, tapi kehilangan rasa. Dan di situlah malu itu muncul. Aku mulai membandingkan diriku yang sekarang dengan diriku yang kemarin. “Dulu bisa, kok sekarang tidak?” “Dulu semangat, kok sekarang malas?” Pertanyaan-pertanyaan itu seperti bisikan yang tidak berhenti. Seolah-olah aku sedang gagal menjad...