Skip to main content

Posts

Memaafkan Diri Sendiri Sebelum Memaafkan Orang Lain

Orang sering bilang memaafkan itu melegakan. Dan anehnya, untuk urusan memaafkan orang lain, aku termasuk yang cukup ringan tangan. Ketika disakiti, dikecewakan, atau diperlakukan tidak adil, aku lebih memilih berkata dalam hati, “sudahlah.” Bukan karena aku tidak merasa sakit, tapi karena membenci terasa jauh lebih melelahkan. Menyimpan dendam seperti memanggul batu di punggung sendiri, berat, dan tidak ada untungnya. Aku tidak suka punya musuh. Tidak nyaman membayangkan ada orang yang kuingat dengan rasa pahit. Rasanya sesak. Maka jalan tercepat yang kupilih adalah memaafkan. Lepas. Selesai. Setidaknya di permukaan. Tapi belakangan aku sadar, ada satu orang yang paling sulit kumaafkan, diriku sendiri. Lucunya, memaafkan diri sendiri terasa jauh lebih rumit. Untuk kesalahan orang lain, aku bisa mencari alasan: mungkin dia sedang lelah, mungkin dia tidak tahu, mungkin dia tidak sengaja. Tapi untuk diriku? Aku cenderung lebih keras. Lebih kritis. Lebih panjang daftar tuntutannya. Ke...
Recent posts

Ibadah yang Terasa Mekanis: Kenapa Hati Tidak Ikut Hadir?

Ada masa ketika tubuhku rajin bergerak, tapi hatiku seperti tertinggal di belakang. Aku berdiri ketika takbir dikumandangkan, rukuk dan sujud dengan hitungan yang pas, bibir melafalkan doa-doa yang sudah akrab sejak kecil, namun entah kenapa, rasanya seperti sedang menjalankan daftar tugas. Selesai satu, lanjut berikutnya. Rapi. Tertib. Tapi hampa. Awalnya aku mengira itu hanya lelah biasa. Mungkin karena pekerjaan menumpuk, mungkin karena pikiran terlalu penuh. Tapi ketika momen itu berulang beberapa kali, terutama di Ramadan yang seharusnya lebih syahdu, aku mulai bertanya dalam hati: apakah ini hanya perasaanku saja, atau orang lain juga pernah mengalaminya? Aku pernah duduk setelah salat, mencoba mengingat apa yang baru saja kubaca. Surat apa tadi? Doa apa yang kulantunkan? Kosong. Seperti lewat begitu saja tanpa sempat menyentuh dada. Gerakan ada, suara ada, tapi rasa tidak ikut hadir. Dan di situlah kegelisahan kecil itu muncul. Aku merasa bersalah. Seolah-olah aku sedang berp...

Antara Lapar Fisik dan Lapar Hati

Ada jenis lapar yang bisa diselesaikan dengan segelas air dan sepiring nasi hangat, dan ada jenis lapar lain yang tidak tahu harus diberi apa agar ia diam. Setiap Ramadan, aku selalu merasa sedang berdamai dengan dua-duanya, lapar fisik yang jelas terasa di perut, dan lapar hati yang kadang muncul tanpa suara. Menjelang sore, tubuh mulai memberi sinyal. Kepala sedikit berat, tenggorokan kering, langkah terasa lebih lambat. Itu wajar. Semua orang yang berpuasa merasakannya. Tinggal menunggu adzan, lalu selesai. Tapi belakangan ini, ada rasa lain yang tidak ikut hilang saat azan maghrib berkumandang. Ada ruang kosong yang tetap terasa meski perut sudah kenyang. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apakah karena itu aku jadi mencari-cari? Mencari percakapan yang lebih hangat. Mencari tatapan yang lebih lama. Mencari perhatian kecil yang bisa membuat hari terasa lebih berarti. Seolah-olah ada sesuatu di dalam dada yang ingin diisi, tapi aku sendiri belum benar-benar tahu namanya. Kadan...

Ramadhan dan Rasa Sepi yang Tiba-Tiba Datang

Sudah Ramadan hari ke berapa ini? Aku sampai harus menghitungnya di kepala, lalu menyerah dan membuka kalender. Rasanya baru kemarin tarawih pertama, suara imam masih terdengar sedikit bergetar karena saf belum serapat biasanya. Tiba-tiba saja hari-hari melompat. Waktu seperti berlari lebih cepat dari niat yang sempat kususun rapi di awal bulan. Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Lampu-lampu masjid menyala lebih terang, grup keluarga ramai dengan jadwal buka bersama, dan timeline media sosial penuh dengan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Tapi entah kenapa, di sela semua keramaian itu, ada satu rasa yang datang pelan-pelan, sepi yang tak diundang. Bukan sepi karena sendirian. Rumah tetap berisi suara. Pekerjaan tetap berjalan. Undangan buka bersama bahkan lebih dari cukup. Namun ada ruang kecil di dalam diri yang terasa lengang. Seperti ada kursi kosong yang tidak terlihat, tapi jelas keberadaannya. Aku tidak tahu persis apa yang hilang. Mungkin kebersamaan yang dulu p...

Cinta Sepihak

Aku menyebutnya cinta sepihak. Bukan karena ingin terdengar tragis, juga bukan untuk mengasihani diri sendiri. Hanya saja, memang begitulah bentuknya, rasa yang tumbuh sendirian, berbunga di dalam dada tanpa pernah benar-benar berpindah ke tangan yang lain. Ia hadir tanpa undangan, menetap tanpa izin, lalu mengisi hari-hariku dengan cara yang kadang tak bisa dijelaskan logika. Awalnya biasa saja. Hanya tatapan yang sedikit lebih lama dari seharusnya. Hanya sapaan yang terasa lebih hangat dari yang lain. Tapi entah sejak kapan, aku mulai menunggu. Menunggu momen yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan. Menunggu kebetulan yang mungkin hanya kebetulan baginya, tapi menjadi peristiwa kecil yang kurayakan diam-diam. Aku tahu ini tidak seimbang. Aku yang merasa lebih dulu, aku yang menafsir lebih jauh. Ia mungkin hanya menjalani harinya seperti biasa, tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang menjadikannya pusat dari banyak adegan dalam kepala. Dan di situlah letak sepihaknya, aku berjalan ...

Cukup untuk Kebetulan-Kebetulan yang Sering Kuromantisasi

Baiklah, akhirnya aku harus mengambil alih perasaanku sendiri. Rasanya seperti berdiri di depan cermin lalu berkata pelan, “cukup.” Bukan dengan marah, bukan dengan dramatis, tapi dengan kesadaran yang pelan-pelan mengendap. Selama ini aku terlalu membiarkan rasa berjalan tanpa tali kekang, membiarkannya mencari-cari celah, menafsirkan perhatian kecil menjadi sesuatu yang lebih besar, lalu berharap tanpa benar-benar berpijak. Aku sadar, aku tidak boleh lagi membiarkan perasaan memainkan kendali atas seluruh perhatian yang kuterima. Tidak setiap tatapan adalah isyarat. Tidak setiap sapaan adalah pintu. Tidak setiap kebetulan adalah takdir yang sengaja dirancang semesta. Kadang itu hanya momen biasa yang oleh hatiku diubah menjadi luar biasa. Dan di situlah aku sering goyah. Aku tahu betul betapa mudahnya hatiku tergelincir. Sedikit perhatian saja bisa membuatku merasa istimewa. Sedikit kedekatan bisa membuatku membangun cerita panjang di dalam kepala. Padahal realitasnya belum tentu s...

Betapa Mudahnya Aku Terhanyut, Betapa Cepatnya Aku Juga Bisa Kehilangan

Sepertinya puasa kali ini kami tidak akan bertemu lagi. Jadwal kami berubah, seperti dua jarum jam yang dulu sempat berpapasan di satu titik, lalu kembali berjalan di porosnya masing-masing. Tempat biasa itu mungkin tetap ramai, tetap menyimpan cahaya sore yang sama, tetapi tanpa pertemuan yang tak disengaja, semuanya terasa berbeda. Tidak ada lagi kemungkinan tatapan singkat setelah salam, tidak ada lagi jeda beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Awalnya aku mengira ini tidak akan terlalu berpengaruh. Toh, hubungan kami tak pernah benar-benar ada. Tidak ada janji, tidak ada sapaan yang rutin, apalagi cerita panjang yang mengikat. Hanya kebiasaan melihat dan dilihat, sebuah ritme kecil yang diam-diam menjadi bagian dari hariku. Namun ketika kusadari bahwa bulan ini mungkin tak ada kesempatan untuk sekadar berpapasan, ada ruang kosong yang tiba-tiba terasa lebih nyata. Anehnya, aku juga tidak yakin pada hatiku sendiri. Aku tidak tahu apakah nanti, ketika Ramadan u...