Menyesal Sekaligus Bersyukur
Aku masih berada di antara dua perasaan yang aneh, menyesal sekaligus bersyukur. Menyesal karena kemarin aku kembali mengurungkan niat untuk mengatakan apa yang sebenarnya sudah berhari-hari ingin kusampaikan. Bersyukur karena, pada saat terakhir, aku masih mampu menahan diriku sendiri agar tidak mengikuti keinginan sesaat. Padahal beberapa hari sebelumnya aku begitu yakin dengan satu pikiran sederhana, lebih baik mengatakan daripada suatu hari menyesal karena tidak pernah mengungkapkan apa yang ada di hati. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana caranya mencari kesempatan ketika dia sedang tidak bersama teman-temannya, memanggilnya sebentar, lalu mengatakan semuanya dengan singkat. Tidak perlu panjang. Tidak perlu dramatis. Cukup agar dia tahu bahwa selama ini ada sesuatu yang kusimpan. Kesempatan itu sebenarnya ada. Bahkan mungkin lebih banyak daripada yang kusadari. Ada saat-saat ketika dia tidak dikelilingi teman-temannya. Ada ruang untuk mendekat, ada waktu untuk mem...