Kamu Nggak Akan Paham, Kecuali Kamu Pernah di Sana

 


Ada satu kalimat yang selalu mampir di kepalaku setiap kali aku merasa nggak dimengerti: manusia itu nggak akan pernah benar-benar paham, sampai dia sendiri berada di situasi yang sama. Kalimat itu sederhana, tapi berat. Karena pada kenyataannya, banyak orang pintar berkomentar, tapi jarang yang benar-benar mengerti.

Aku sering lihat orang gampang banget nge-judge. Misalnya, ada yang bilang, “Kalau aku jadi dia, aku bakal kuat, aku nggak bakal nangis kayak gitu.” Padahal dia nggak pernah nyicipin rasa sakit yang sama. Gampang sekali ngomong ketika posisi kita aman, ketika badai belum mampir di halaman kita. Rasanya kayak orang duduk di tribun stadion, sok-sokan kasih instruksi ke pemain bola di lapangan. “Eh, oper dong! Gampang banget tuh harusnya!” Gampang? Ya iyalah gampang, wong dia cuma nonton.

Kenyataannya, hidup itu nggak sesederhana teori. Waktu orang bilang, “Sabar aja, semua ada waktunya,” itu kedengarannya manis, tapi kadang bikin hati makin panas. Apalagi kalau yang ngomong belum pernah benar-benar jungkir balik di titik itu. Katanya sabar, tapi dia nggak tahu betapa susahnya tidur ketika kepala penuh kecemasan. Katanya jangan overthinking, tapi dia nggak pernah duduk di kursi yang sama dengan beban pikiran itu.

Aku jadi mikir, kenapa ya manusia jarang bisa menahan diri buat nggak asal ngomong? Mungkin karena kita terbiasa merasa lebih tahu. Kita sering lupa, yang ada di depan mata cuma sepotong cerita, bukan keseluruhan filmnya. Kita lihat seseorang menangis, lalu buru-buru simpulkan dia lemah. Kita dengar seseorang marah, langsung bilang dia nggak bisa mengendalikan diri. Padahal kalau kita berada di titik yang sama, mungkin kita juga bakal meledak dengan cara yang lebih parah.

Ada bagian dari hidup yang memang cuma bisa dipahami lewat pengalaman. Kayak kehilangan orang yang paling kita cintai, ditinggalkan tanpa pamit, atau gagal padahal udah kasih segalanya. Itu semua nggak bisa dijelaskan tuntas dengan kata-kata. Kalau kamu belum pernah mengalaminya, kamu cuma bisa menebak-nebak rasanya. Dan menebak itu jauh sekali dari kenyataan.

Makanya, aku belajar buat menahan diri. Belajar untuk nggak buru-buru komentar kalau aku nggak tahu rasanya. Kalau aku lihat orang lain jatuh, aku coba ingat-ingat, dulu waktu aku jatuh, rasanya kayak apa. Sakitnya kayak gimana, sepinya kayak apa. Karena di situlah empati mulai tumbuh: bukan dari teori, tapi dari luka yang pernah kita rasakan sendiri.

Akhirnya aku sadar, kita nggak bisa memaksa semua orang untuk mengerti. Kita juga nggak bisa minta semua orang berhenti berkomentar. Yang bisa kita lakukan cuma menjaga hati kita sendiri: menahan diri dari rasa ingin menghakimi, dan berharap suatu hari nanti, orang lain juga belajar hal yang sama. Karena pada akhirnya, hidup akan berputar. Cepat atau lambat, setiap orang akan punya gilirannya di kursi yang sama.




sumber foto

Comments

Popular Posts