karena mungkin itu satu-satunya alasan aku masih bisa melanjutkan hari

 


Kadang aku merasa hidup ini terlalu pandai memberi ujian. Seakan tahu di mana titik paling rapuhku, lalu ditekan habis-habisan sampai aku nyaris kehilangan arah. Aku tidak pernah berharap orang lain mengerti betul apa yang aku jalani. Aku sadar, tidak ada satu pun manusia yang benar-benar bisa masuk ke dalam kepalaku, merasakan penuh isi dadaku, lalu mengerti seratus persen kenapa aku masih bisa berdiri sampai sekarang. Aku tidak menuntut dimengerti, tapi setidaknya jangan diremehkan. Jangan dianggap enteng perjuanganku, karena ada banyak luka yang tak pernah sempat aku ceritakan, ada banyak tangis yang sengaja kutahan agar tidak menetes di hadapan siapa pun.

Aku sering mendengar orang bilang, “santai saja, kamu terlalu sensitif.” Padahal, yang mereka lihat hanya permukaannya. Mereka tidak tahu seberapa berat aku berusaha terlihat baik-baik saja. Tidak tahu seberapa keras aku berjuang menelan kecewa, menekan marah, menahan tangis, lalu tersenyum seolah tidak ada apa-apa. Seakan aku batu. Seakan aku besi. Padahal, aku manusia. Ada titik di mana aku ingin runtuh, ada titik di mana aku ingin menyerah, tapi aku tahu tidak ada pilihan selain bertahan. Bertahan dengan caraku sendiri.

Aku tidak selalu benar, bahkan sering salah. Tapi dari salah itu aku belajar. Dari jatuh itu aku bangkit. Dari luka itu aku bertumbuh. Lalu mengapa masih ada yang menyepelekan proses yang aku lalui? Bukankah setiap orang berhak dihargai, meski dengan segala kekurangannya? Aku bukan sosok sempurna yang kuat setiap waktu. Ada malam-malam di mana aku menunduk terlalu lama hanya supaya air mata tidak terlihat. Ada siang-siang di mana aku berjalan sambil membawa hati yang remuk tapi tetap harus menyapa orang dengan senyum.

Lucunya, aku mulai terbiasa hidup dalam dua dunia. Dunia di luar yang penuh tawa palsu dan basa-basi, serta dunia di dalam yang sesak dan penuh bisu. Mungkin orang mengira aku terlalu pendiam, padahal aku sedang berusaha keras menjaga diriku sendiri agar tidak hancur. Ada hal-hal yang tidak bisa kuceritakan kepada siapa pun, bukan karena aku tidak percaya, tapi karena aku tahu tidak semua orang siap mendengar. Tidak semua orang peduli. Kadang aku merasa, lebih mudah diam daripada menjelaskan panjang lebar lalu dianggap lebay.

Tapi satu hal yang selalu kusadari: hatiku masih bertahan. Meski caranya sederhana, meski jalannya tertatih, meski aku sendiri sering meragukan kekuatanku, nyatanya aku masih ada di sini. Masih bisa menulis. Masih bisa bernapas. Masih bisa bangun setiap pagi dan mencoba lagi. Dan itu sudah cukup. Bertahan dengan segala keterbatasanku adalah bentuk perlawanan terbaik yang bisa kulakukan.

Jadi, kalau pun tidak ada yang benar-benar mengerti, aku tidak masalah. Aku hanya butuh dihargai. Tidak diremehkan. Karena aku tahu, meski aku penuh dengan salah dan kekurangan, aku tetap manusia yang punya hati. Dan hatiku sudah berjuang terlalu keras untuk sampai sejauh ini. Jangan remehkan cara hatiku bertahan—karena mungkin itu satu-satunya alasan aku masih bisa melanjutkan hari.






sumber foto

Comments

Popular Posts