Kata-Kata yang Membekukan Dada
Pernah nggak sih, kamu merasa ada kata tertentu yang kalau didengar rasanya langsung bikin dada jadi dingin? Bukan dingin kayak kena AC atau hembusan angin malam, tapi dingin yang aneh, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menusuk masuk, bikin sesak, bikin kaku. Aku sering mengalaminya. Kadang orang ngomong biasa saja, santai, nggak ada niat buruk. Tapi begitu kata itu keluar, tubuhku bereaksi. Dada seperti membeku, tenggorokan menutup, pikiran mendadak kosong. Aku cuma bisa diam, seolah terperangkap di dalam tubuhku sendiri.
Aku sering bertanya-tanya, kenapa bisa begitu? Kenapa cuma karena sebuah kata, reaksiku bisa separah itu? Kalau dipikir logis, harusnya aku bisa santai saja. Kata kan cuma rangkaian huruf, suara yang keluar dari mulut. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang tersimpan jauh di dalam diri ini, yang membuat kata itu punya kuasa lebih dari sekadar bunyi. Dan jujur, aku curiga ini mungkin ada kaitannya dengan trauma.
Trauma itu aneh. Dia bisa diam bertahun-tahun, sembunyi di tempat paling gelap dalam ingatan, lalu tiba-tiba muncul hanya karena satu kata. Kata itu seperti kunci, dan begitu diputar, pintu masa lalu terbuka. Rasa sakit, rasa takut, rasa tak berdaya, semua berhamburan keluar, meski aku sudah berusaha keras menguburnya. Bedanya, aku tidak selalu sadar momen mana yang membuat luka itu ada. Aku hanya tahu tubuhku merespons, lebih cepat daripada logikaku sempat berpikir.
Kadang aku merasa, mungkin aku terlalu lemah. Orang lain bisa dengan mudah menertawakan kata itu, menganggapnya sepele. Tapi aku? Aku bisa gelisah berhari-hari hanya karena mendengarnya. Aku jadi menghindari percakapan, menghindari situasi, bahkan menghindari orang tertentu hanya supaya tidak perlu mendengar kata itu lagi. Padahal, semakin aku menghindar, semakin aku merasa kecil dan kalah.
Aku jadi sadar, ini bukan cuma soal kata. Ini soal perasaan yang masih belum selesai. Luka yang mungkin sudah lama ada, tapi belum pernah benar-benar dipeluk. Tubuhku mengingat, meski pikiranku berusaha melupakan. Dan setiap kali reaksi itu muncul, aku seperti diingatkan lagi: ada bagian dari diriku yang masih retak.
Kadang aku ingin marah pada diriku sendiri. Kenapa sih harus segitunya? Kenapa nggak bisa biasa aja? Tapi kemudian aku juga sadar, perasaan ini bukan salahku sepenuhnya. Aku tidak memilih untuk punya trauma, aku hanya terpaksa hidup dengannya.
sumber foto
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!