Tanda yang Masih Disisakan Tuhan


 Pernah nggak, kamu bangun di pagi hari dengan perasaan hampa? Kayak semua hal yang kamu jalani kemarin terasa sia-sia, dan hari ini cuma pengulangan dari kebosanan yang sama. Aku sering. Tapi di sela rasa itu, ada satu hal yang bikin aku berhenti sejenak: aku masih dibangunkan. Nafas ini masih ada, mataku masih bisa terbuka, dan itu berarti, mungkin, hanya mungkin, Tuhan belum selesai dengan rencana-Nya untukku.

Kadang aku mikir, kalau memang hidupku sudah tidak penting, kenapa aku masih bisa merasakan pagi? Kenapa aku masih bisa mendengar suara burung, atau sekadar merasakan cahaya matahari yang menyusup lewat celah jendela? Mungkin itu tanda kecil yang sering kita abaikan: kita masih diizinkan untuk lanjut, meski jalannya terasa berat.

Keyakinan itu nggak selalu datang dengan mantap. Jujur, lebih sering datang dengan suara lirih yang nyaris kalah oleh bisingnya pikiranku sendiri. Ada bagian dari diriku yang percaya bahwa masih ada sesuatu yang disiapkan, tapi ada juga bagian lain yang sinis, bertanya: “benarkah? Atau ini cuma penghiburan biar aku nggak menyerah?” Dan di situlah tarik ulurnya.

Tapi justru di pertarungan batin itu aku merasa hidup ini jadi lebih nyata. Karena aku belajar bahwa iman nggak selalu berupa keyakinan yang tegak berdiri. Kadang ia berupa langkah goyah yang tetap maju, meski dalam hati masih penuh keraguan. Dan setiap pagi, ketika aku bangun, aku ulang lagi: “Oke, mungkin hari ini Tuhan masih menulis sesuatu untukku.”

Lucunya, aku nggak tahu rencana apa yang dimaksud. Aku nggak bisa membaca masa depan, apalagi mengatur alurnya. Tapi aku mulai percaya bahwa setiap hari yang ditambahkan berarti ada sesuatu yang masih bisa kulakukan. Bisa jadi sekecil menolong orang lain, atau bahkan hanya sekadar menjaga diriku sendiri agar tetap bertahan. Dan itu pun mungkin sudah cukup penting di mata Tuhan.

Hidup memang sering terasa absurd. Banyak hal nggak sesuai ekspektasi, banyak luka yang nggak masuk akal. Tapi ketika aku berhenti sebentar dan sadar bahwa aku masih diberi pagi, aku pelan-pelan bisa bilang ke diri sendiri: “Mungkin kamu masih dibutuhkan di sini. Mungkin cerita kamu belum selesai.”

Jadi kalau besok aku masih dibangunkan lagi, aku akan mencoba menerimanya sebagai tanda. Tanda bahwa aku masih punya peran, sekecil apa pun itu. Tanda bahwa Tuhan belum selesai menuliskan bagian hidupku. Dan meski keyakinan itu sayup-sayup, meski sering goyah, aku akan tetap menggenggamnya. Karena aku ingin percaya: kalau pagi ini masih ada, maka harapan juga masih hidup.





Sumber foto

Comments

Popular Posts