Skip to main content

Badan Ngasih Alarm untuk Istirahat

 


Kadang tubuh itu jujurnya keterlaluan. Tidak pakai metafora, tidak pakai basa-basi. Langsung ngomel lewat cara yang paling sederhana dan paling merepotkan. Salah satunya lewat perut. Bukan sakit yang dramatis, bukan yang bikin terkapar. Lebih ke… ya sudah, tubuh cuma minta berhenti sebentar.

Rasanya memang sakit. Tapi bukan sakit yang bikin panik. Lebih tepatnya, tidak enak. Lemah. Kosong. Kepala agak ringan, badan rasanya nggak sinkron. Dan kalau ditarik ke belakang, penyebabnya juga sebenarnya nggak rumit. Terlalu banyak konsumsi sesuatu yang kelihatannya sepele, buah. Rambutan. Banyak banget. Tiga kilo, habis sendiri.

Di titik itu, konflik batin muncul dengan cara yang agak konyol. Antara menertawakan diri sendiri dan sedikit nyesel. Kok bisa sih? Kok nggak mikir panjang? Padahal tahu perut bukan tempat uji coba keserakahan musiman. Tapi ya begitulah, kadang yang terasa segar dan manis bikin lupa batas.

Yang menarik, tubuh tidak langsung “menghukum”. Ia memberi jeda. Satu malam. Lalu alarm berbunyi. Mencret. Bukan sekali dua kali. Cukup untuk bikin sadar: ini bukan soal sakit parah, ini soal kelelahan sistem. Soal tubuh yang kebanyakan kerja karena keputusan kecil yang tampaknya tidak berbahaya.

Di situ mulai terasa satu hal: tubuh sebenarnya tidak minta disembuhkan. Ia minta diistirahatkan. Tidak perlu obat aneh-aneh. Tidak perlu drama. Cukup berhenti sebentar, minum air, makan yang ringan, dan… ya, tidur. Mengalah sedikit sama kebutuhan dasar.

Mencret karena kebanyakan rambutan memang terdengar remeh. Tapi di balik itu, ada pelajaran yang lebih luas. Tentang batas. Tentang tahu kapan harus berhenti, meski sesuatu terasa enak. Tentang mendengarkan tubuh sebelum ia memaksa didengar.

Dan lucunya, kejadian seperti ini sering bikin kita lebih jujur pada diri sendiri. Bahwa tidak semua ketidaknyamanan perlu makna besar. Kadang hidup hanya berkata, “Istirahat dulu.” Tidak semua harus ditahan. Tidak semua harus diteruskan.

Mungkin, itu cara tubuh merawat kita, dengan cara yang agak menyebalkan, tapi sangat jelas.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...