Wednesday, August 24, 2016

Menonaktifkan Akun Facebook


Semalam saya menonaktifkan akun facebook saya (lagi). Iya, memang saya sengaja menutupnya. Entah sampai kapan, yang jelas saya sedang tidak dalam kondisi emosi yang stabil saat ini. Dan ini adalah langkah yang bisa saya ambil agar emosi saya kembali stabil. Bukan masalah keluarga, kalo ada yang nebak ini karena itu. Hanya masalah sepele sebenarnya, saya tak suka diusut dengan kepindahan saya di tempat baru. 

Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya memutuskan pindah kerja sekali lagi. Dan keputusan ini kemungkinan akan memancing banyak pertanyaan di benak banak orang yang belum tahu masalahnya apa. Nah, untuk menghindari banyaknya pertanyaan, saya memilih untuk menonaktifkan akun facebook saya. Mungkin sementara, mungkin juga akan sedikit cukup lama. Gak tahu juga sih sampe kapan, tapi saat ini harus ditutup dulu.

Dulu pernah sih menutup akun facebook gara-gara patah hati. Ampe setahun kayaknya, setelah cukup hati menerima, baru dah dibuka lagi akunnya. Nah, kali ini beda masalah tapi masih dengan pilihan yang sama. 

Thursday, August 11, 2016

Stalking Mantan


Kemarin tidak sengaja melihat profil mantan di Facebook. Namanya tidak sengaja, berarti memang tidak ada niatan untuk mencari dan melihat-lihat akunnya. Kebetulan, kemarin melihat ada pemberitahuan yang muncul di laman Facebook. Nama-nama orang yang mungkin saya kenal. Saya nyoba klik itu pemberitahuan. Hanya sekedar melihat-lihat saja, mungkin ada yang saya kenal dan bisa saya tambahkan dalam daftar teman.

Nah, pas saya sedang melihat nama-nama yang ada dalam daftar itu, ternyata saya menemukan nama sang mantan dalam daftar tadi. Nama asli, bukan nama samaran seperti yang pernah saya kenal dulu. Dari situ akhirnya saya tahu, facebook lamanya sudah hilang, berganti dengan akun facebook baru. Takut mungkin dianya kalau chat saya kebaca suaminya. hahaha

Tapi bukan itu intinya. ini tentang bagaimana saya yang awalnya tidak ingat dia jadi teringat lagi. Awalnya tidak ingin mencari ttahu, jadi punya niatan dan melakukan stalking di akunnya. Dan benar, setelah itu langsung melihat-lihat postingannya. Hmmm....

Jadi terasa lagi sakitnya. Sakit akibat ditinggal tanpa ada pemberitahuan. Sakit karena jadi orang terakhir yang tahu bahwa dia sudah lamaran. Byuh, sakitnya terasa banget. Bersama sejak 2008-2013, berakhir tanpa ada kata pisah. Dan sedihnya, nikahnya dengan teman sendiri, teman sekantor. Lebih menyedihkan lagi, mau resign, tidak diizinkan. Tidak resign, tiap hari harus bertemu dan berpura-pura seolah tidak saling mengenal. Bekerja jadi seperti di neraka saja. Tsah!

Meski saki-sakit juga karena melihat akunnya, tapi masih bisa senyum-senyum juga melihat fotonya. senyumnya masih sama seperti yang dulu, tidak berubah. Yang berubah hanya yang dalam gendongan saja. Sekarang jadi 2. Dulu saat terakhir ketemu, dia masih satu yang dibawa kemana--mana. Sekarang nambah satu lagi.

Tapi tetep, kalau melihat fotonya, pasti mengabaikan laki-laki di sampingnya. Berusaha untuk tidak melihatnya, apapaun alasannya. Tak ada alasan, yang saya inginkan hanya melihat orang yang pernah mengisi hidup saya, bukan orang yang pernah menghancurkannya.

Btw, sudah ada orang lain yang menggantikannya. Jadi biarpun dia pernah mengisi kehidupanku, tapi jalan hidup kita tlah berbeda. Dia dengan hidupnya, saya dengan kehidupanku yang baru. Dia mungkin pernah menjadi bagian kehidupan dan anaganku, tapi hidupku lebih berwarna dengan istriku.


Tuesday, August 9, 2016

Beratnya Mengucap Perpisahan


Perpisahan, adalah momen yang paling berat untuk dijalani. Saya mengalaminya saat ini. Meski saya sudah resign, sampai sekarang masih belum bisa mengatakan kata perpisahan untuk teman-teman kerja saya yang dulu. Hanya kepada pegawai dan staff saja saya bisa mengatakan perpisahan, ttapi untuk yang yang lainnya, saya belum sangguup mengucapkan.

Entahlah, seperti ada kata yang menggantung dan tak dapat diucapkan. Canggung atau apalah itu namanya, saya tetap susah untuk menguatakan kalimat perpisahan. Bahkan pada saat ngomong kepada pimpinan, sayaa harus berkali-kali menguatkan diri, berusaha sedemikian rupa untuk bilang, "saya tidak bisa melanjutkan."

Untuk mengucapkan kata selamat tinggal saja, sayya harus mencari cara lain bisa sampai kesana. Bercerita, bergurau, bicara panjang lebar, hingga pada akhirnya saya harus ngomong "Pamit". setelah ngomong pamit pun masih susah, bingung harus ngomong apalagi setelahnya. salaman, minta maaf. Bahkan mereka minta foto bersama pun saya masih susah untuk menghadapi itu.

Mungkin inilah perpisahan paling menyakitkan yang pernah saya alami dalam sejarah pencarian pekerjaan saya. Berkali-kali resign, tapi sakitnya tidak sesakit ini. Mungkin karena akrabnya mereka dengan saya. Menerima segala kekurangan yang ada pada saya.

Saya belum bisa mengucapakan perpisahan, entah sampai kapan.


Monday, August 8, 2016

Nikah Diam-diam


Adat yang berlaku dan kebiasaan yang terjadi di sekitarku memang mengharuskan, bahwa setiap pernikahan harus mengundang banyak orang dan pesta. Saya yakin, tidak hanya di tempatku saja yang memiliki keebiasaan seperti itu. Semua yang berlaku di Indonesia juga hal semacam itu. Dan saya salah satu yang tidak menyukai acara seperti itu.

Saya tidak suka keramaian. Saya tidak nyaman dan saya akan lebih tertekan jika harus duduk dan melihat ratusan mata memandang kearah saya. Itu semua menakutkanku. Makanya sedari dulu, ketika muncul keiiginan untuk menikah, sejak dulu saya selalu berkeingnan untukk tidak menggelar pesta. Saya menghindari acara penuh keramaian itu.

Ketika saya melamarnya, pada saat itu pula saya sudah mengajukan keinginan, bahwa saya tidak menginginkan sebuah pesta. Cukup ada penghulu, itu sudah cukup bagiiku. Bahkan saya meminta Ijab-kabul di KUA sajja, agar tidak ramai. Tapi ditolak. Mereka hanya setuju kalau meniadakan pesta, tapi ijab-kabulnya harus di rumah. Hanya ada saudara dan tetangga dekat saja. selain itu, tidak.

Beruntungnya saya, karena keluarga sana juga tidak menyukai acara besar-besaran, jadi ketika saya dan keluarga datang untuk acara ijab-kabulnya, keluargaku hanya membolehkan 20 orang saja, tidak lebih. Dari awal sudah mewanti-wanti, tidak ada pesta, jadi jangan bawa pengiring banyak-banyak.Cocok dengan keinginanku. Syukurlah!

Nah, karena pernikahan ini kesannya diam-diam saja, tanpa ada pemberitahuan dan undangan kepada para kenalan. Banyak yang merasa kecewa dan sedikit membenci saya. Beberapa kali sayya bertemu dengan orang yang saya kenal baik, berubah mimik wajahnya dan ada yang langsung meninggalkan saya begitu saya memberritahu kalau saya sudah menikah. Saya tahu dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, memang acara pernikahan ini tak ada pesta, jadi menurutku tak harus memberitahukan kepada siapa-siapa.

Dan lagi, kalau di rumahnya, pas acara akad nikahnya sudah tak ada pesta. Pas di rumahku juga tak ada pesta. Ketika keluarga mereka datang setelah seminggu, keluargaku hanya menyambut dengan 20 orang yang kemarin ikut akad nikahnya.  Ibukku sudah setuju dengan pernikahanku, tak ada pesta, tak ada keramaian. 

Jadi kalau sampe sekarang masih banyak yang mempertanyakan pernikahanku, ya, saya sudah menikah. Menikah diam-diam.

Friday, August 5, 2016

Perayaan Ulang Tahun Tanpa Kue Ulang Tahun



Juli kemarin dia ulang tahun. Gak ada perayaan, hanya ucapan selamat aja. Bukan napa-napa, cuma akunya saja yang masih kikuk harus ngapain. Mau beli hadiah, gak sempat keluar karena ujan mulu. Mau keluar bareng, sama ibuk dipesenin tidak boleh diajak jalan-jalan karena perutnya semakin membesar. Jadi jalan satu-satunya hanya bisa ngucapin selamat aja. 

Btw, sempet kepikiran mau bikin kejutan juga sih sebenarnya, tapi takut dibilang norak. Lagian memang dari dulu memang tidak pernah ngrayain gituan, jadi rada aneh aja memikirkan untuk memberi kejutan. Padahal kalo baca-baca lho ya, cewek itu paling suka dikasih kejutan. Lah, akunya? malah aneh sendiri pas memikirkan mau kasih kejutan. Yaelah..... #TepukJidad

Tapi masih ada kesempatan lain kayaknya. Desember nanti adalah perayaan pertama kita. Pengennya ngasih sesuatu apa gitu,  tapi kalo dipikir-pikir, kayaknya bakal gagal lagi. Soalnya pada bulan Desember nanti baru selesai lahiran, jadinya malah gak bisa kemana-mana. #duh

Yaweslah, tak menjadi mengapa. Memang perayaan gak musti harus pake kue ulang tahun, kan?


Monday, August 1, 2016

Pindah Kerja (Lagi)


Hari ini saya menempati tempat kerja baru. Ini bukanlah pertama kali bagi saya untuk masuk di hari pertama kerja, beberapa tahun sebelumnya saya sudah mengalaminya. Dan setiap tempat memiliki cerita yang berbeda-beda. Kalo dihitung-hitung, banyak juga ya ternyata saya pindah kerja. Gimana tidak, sampe 9 kali saya pindah kerja. Da ada kemungkinan akan bertambah lagi nantinya.

Pertama, Surabaya adalah tempat pertama saya bekerja. Sewaktu masih kuliah dulu saya sambi bekerja. Untungnya pekerjaannya tidak terlalu berat dan merepotkan, jadinya tidak mengganggu tugas perkuliahan.

Kedua, bekerja di Sidoarjo. Setelah dinyatakan lulus sidang Skripsi, sambil nunggu-nunggu wisuda, saya melamar pekerjaan baru. Nyari peluang, biar tidak lama-lama menganggur niatnya. Tapi setelah dinyatakan lulus dan bekerja, ternyata hanya bertahan 2 minggu saja dan mengajukan resign setelahnya. Ternyata kerja dan gajinya tidak seperti janji dan bayangan. 

Ketiga, pulang kampung dan bekerja di Nganjuk. Cukup lama saya bertahan di Nganjuk ini. Udah nyari-nyari kesempatan untuk resign, tapi belum diizinkan juga. Sampe pusing cari caranya. Setelah bertahun-tahun bekerja, dan bisa nyambi-nyambi juga. akhirnya bisa pindah juga.

Keempat, kerja di Kediri. Dulu seneng banget waktu diterima di Kediri. Tapi ujung-ujungnya gak enak banget, karena dikeluarkan secara tidak hormat tanpa ada penjelasan. Tahu-tahu sudah tidak ada namaku saja. Ya sudahlah, saya berlapang dada. Toh pada saat itu memang bermaksud untuk resign, cuma menunggu waktu saja.

Keempat, Jombang adalah pilihan selanjutnya. Saya mengirim lamaran pekerjaan, padahal belum tahu juga alamat pastinya dimana. Hanya berdasarkan alamat di Google aja saya ngirimnya. Setelah dinyatakan diterima, bingung nyari lokasi kantornya. Ada dua tempat sebenarnya saya mengirimkan lamarannya, tapi yang 1 tidak saya sanggupi karena banyaknya persyaratan ketika harus bekerja disana.

Kelima, masih di Jombang lagi. Kali ini tempatnya lebih jauh lagi. Di situ juga tidak bertahan lama karena sedikit susah jalan menuju ke tempat kerja. Ketika ada tawaran untuk memperpanjang atau menyudahi, saya memilih untuk menyudahi.

Keenam, Pare. Bekerjanya juga tidak terlalu lama. Karena di tengah perjalanan saya dinyatakan lulus test di Madura. Jadi disini tidak banyak pengalaman yang saya dapatkan.

Ketujuh, Madura. Mungkin hnaya tempat inilah tempat satu-satunya saya mengalami sebuah kepuasan saat dinyatakan diterima. Kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan. Karena saya benar-benar menunggu-nunggu saat pengumuman itu. 

Kedelapan, Tulungagung. Berita diterimanya saya di Tulungagung saya menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Karena sedari awal memang udah nyakin bisa lolos. Mungkin karena terlalu seringnya menghadapi test kerja  yang hampir sama, jadinya ya gitu-gitu aja ekspresinya ketika melihat diterima.

Kesembilan, Kediri lagi. Mungkin ini adalah akhir dari pencarianku. Setelah ini kayaknya tidak ada keinginan untuk mencari-cari lagi. Sudah mantab dan menerima takdir saja saya. Tidak ada keiginan nyari di tempat lain lagi. Tapi kalo masih ada lagi, ya bolehlah. Tapi masih mengutamakan yang ini dulu.

Saturday, July 30, 2016

Banyak Cerita, Diam Saja


Kenyataan terkadang memang tak pernah sejalan dengan keinginan. Pengen hatti pengen nulis, tapi apa daya, cuma bisa mimpi aja. rasa-rasane kok males banget ya bikin tulisan saat ini. Bukan tidak ada ide atau cerita yang ingin dibagi, tapi rasa malesnya itu lho.....

Tidak menyalahkan rasa malesnya juga sih sebenarnya, mungkin waktu dan kesempatan juga berpengaruh. Dulu lebih suka menyendiri, jadi lebih gampang untuk menungkan ide-idenya. Kalo sekarang, susah untuk bisa sendiri. Baru pegang laptop aja udah dipanggilin mulu. Hahaha #Curhat ceritanya nih...


Tuesday, June 21, 2016

Dancing On My Own


Seseorang mengatakan padaku, kau punya teman baru. Bukan orang lain sebenarnya, kau sendiri yang cerita itu padaku. Tanpa bertanya, kau mengisahkan kisahmu. Entahlah, apa yang aku rasakan pada saat itu. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. Bahagia tidak, kecewa mungkin iya. Tapi aku tak bisa menunjukkannya padanya. Aku hanya tak bisa merusak kebahagiannya. Dalam hati aku hanya bisa bertnya, 'Apakah dia mencintaimu lebih baik daripada yang aku bisa?'

Langit hitam, aku tenggelam dalam kepahiitan. Aku tahu kau berada dimana setelah pertemuan kita itu. Aku tahu kau dimana. Dan bodohnya aku, aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, tak bisa berbuat banyak. Kau begitu jauh, tapi juga masih begitu dekat. Aku yang mencintaimu sepenuh hati, tapi dia yang kau pilih. Dan hari ini, aku datang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.


Monday, June 20, 2016

The Hardest Pill to Swallow

 
Beberapa waktu yang lalu sengaja mampir ke tukang potong langganan. Rambut kayaknya udah harus dipendekin, udah susah diatur dan sering bikin ribet karena sedikit panjang. Setelah mengantri beberapa, tiba giliranku.

Seperti biasa, basa-basi si tukang potongnya menanyakan hal-hal yang sering aku dengar. Akunya juga sedikit bosan karena pengulangan-pengulangan setiap pertanyaan. Terkadang kalau saya sedang tidak ingin menjawab, hanya senyum saja maka dia akan ganti topik dan pertanyaan lainnya. Banyak pertanyaan yang aku jawab hanya dengan senyuman saja. Dia pasti sudah tahu jawabannya, karena pertanyaan itu sealu ditanyakan ketika aku datang kesitu.

Satu pertanyaan yang selalu membuatku harus menghela nafas dalam adalah pertanyaan tentang seseorang di masa laluku. Sampai sekarang rasanya kalau harus mendengar namanya, atau nama suaminya, selalu membuatku gagal move on, kata orang.

Meski aku sadar, dia adalah bagian dari masa lalu, tetap saja rasanya masih susah untuk melupakan ataupun mengelak dari kisah itu. Tidak bisa mengelak, tapi juga tak bisa berbuat banyak. Dia adalah bagian masa laluku. Ingiinnya aku bisa memutar kembali, mengulang dan menjutkan, menjadikannya bagian dari masa depanku, tapi aku tak tahu bagaimana caranya.

It's the hardest rule to follow (I'm thinking of you)
I really wish that I could call you (What can I do?)
You can find another me tomorrow,
and that's the hardest pill to swallow, babe.

If I woke up and I called it quits ('cause I'm thinking of you)
If today I gave up all of this (I don't know what to do)
Maybe I could get you back tomorrow
And that's the hardest pill to swallow, baby.


Sunday, April 3, 2016

Positif - Negatif


Keinginan setiap pasangan yang baru menikah adalah sama, yang membedakan hanyalah langsung atau ditundanya untuk mewujudkan sebuah keinginan itu. Kehamilan adalah salah satu kenginan yang setiap keluarga baru inginkan setelah mereka bersama. Demikian saya.

Satu bulan setelah pernikahan, kita mencoba melakukan test. Tapi belum sempat test itu dilakukan, ternyata dia M lagi. Padahal udah beberapa hari telat, dia sudah bersemangat untuk mengabarkan itu pada saya. Tapi karena telat 'datang' lagi, akhirnya sayya yang harus meyakinkan dia untuk lebih bersabar lagi.

Setelah suci, kita mencoba melakukan test lagi. Hasilnya negative. Kali ini saya harus lebih meneenangkan dia, karena sepertinya dianya sudah mulai putus asa dan menyalahkan diri sendiri karena kegagalan beberapa kali. Setiap malam harus memberikan semangat sebelum tidur agar tidak terlalu stress dengan hasil yang belum sesuai keinginan.

Setelah itu kita tidak berani lagi melalukan test kehamilan. Ada ketakutan tersendiri ketika membaca garisnya. Baru setelah menghitung hari 'keterlambatan', barulah kita berani melakukan test sekali lagi. Saya masih ingat banget bagiamana ekspresinya dia ketika memberitahukan garis yang terlihat dalam alat test kehamilan itu. 

Sekarang, memasuki bukan ke-3 kehamilannnya. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Doakan kita ya.... semoga hal baik bersama calon bayi kita ini. :)