Tuesday, September 27, 2016

Rame-rame Kasus Dimas Kanjeng


Topik yang lagi rame saat dibicarakan di masyarakat dan di sekitar saya adalah masalah Dimas Kanjeng. Yang belum kenal siapa dia, mungkin bisa mencoba googling. Tapi bagi saya sih tidak penting buat mengetahui berita itu. Buang-buang waktu, buang-buang pikiran dan juga buang-buang kuota. Tapi beda lagi kalo itu di kantorku saat ini. Entahlah, berita-berita itu harusnya tidak jadi bahasan penting, karena jelas-jelas kasus penipuan. Tapi, beda orang, beda kepala, beda pula pemikirannya.

saya itu paling tidak pedulian sebenarnya dengan apa yang mereka pikirkan. Tapi kalau itu sudah mengganggu ketenangan saya, mau tidak mau saya juga harus ikut.

 Saya masih tak habis fikir, kenapa kasus seperti ini bisa jadi topik hangat banget di lingkungan saya. Padahal juga kasus seperti itu saja. Tapi setelah saya ikut dan massuj lebih jauh dari obrolan itu, baru saya tahu, ternyata di lingkungan saya bekerja itu ada 3 orang yang diyakini ikut dalam padepokan Dimas kanjeng. Ealah!

Thursday, September 15, 2016

Bakar Sate Bareng Istri


Idul Adha kemarin menjadi pengalaman yang tak biasa bagi saya. Dalam arti, ini pengalaman pertama setelah status KTP saya berubah menjadi tidak sendiri lagi. Kalo yang lainnya sih masih sama. Sholat Idul Adha dan makan daging qurbannya. Yang berbeda adalah cara merayakannya, khususnya dalam pengolahan daging qurbannya.

Jika sebelum-sebelumnya adalah ibuk yang masakin dan yang mengolah daging qurbannya. Nah, kemarin saya dan istri yang mengolahnya. Diolah biasa aja, bikin sate. dibakar bareng. Awalnya sih saya hanya menyerahkan sepenuhnya pada istri.   Apalagi dari dulu memang tidak suka aroma dagingnya, jadi dari dulu hanya terima jadi saja, tidak ikut masak. Lagian, abis sholat saya keluar rumah. jadinya yakin aja, kalo pas pulangnya masakan udah jadi. Ternyata prediksi saya salah. masakan belum ada karena daging qurban baru selesai dibagikan.

Karena jam 2 belum ada masakan, akhirnya diputuskan buat masak bareng. itung-itung biar bisa menghabiskan watu berdua saja. Jadinya ya gitu deh..... masak sate bareng.

Pas masak bareng itulah saya jadi ngerti, apa yang dimau dia dari saya. ngobrol panjang lebar, meski sebenarnya saya terganggu dengan aromanya, tapi dari situ saya tahu banyak yang harus saya kerjakan.

 Sedikit tahu aja, kami menjalani pernikahan ini tidak dimulai dengan proses pacaran. Jadi setelah menikah itu saya baru tahu siapa dirinya. sebelumnya sih hanya sekedar tahu saja, tapi tidak dekat. Ngobrol berdua pun masih bisa dihitung dengan jari. Jadi kita memang benar-benar tidak kenal dan paham betul dengan pasangan. Nah, dari masak sate bareng itu saya jadi tahu, nyambung sedikitlah. heheh

Tuesday, September 13, 2016

Memilih Nama Calon Anak


Semakin dekat dengan prediksi kelahiran calon anak saya, selama beberapa minggu ini beberapa kali mencoba mencari nama untuk calon bayi. Biar kata orang, apalah arti sebuah nama? Tapi saya maunya nama itu mengandung sebuah doa. Iyalah, semua orang tua pasti berfikirnya seperti itu. Akan melakukan hal terbaiknya untuk anak-anaknya. Tak terkecuali, memberinya sebuah nama.

Untuk memilih nama, saya menginginkan sebuah nama yang sedikit berbeda dari biasanya. Jika saat ini hampir semua orang tua memilih nama dengan pendekatan nama islami, saya menginginkan sebuah nama yang multi bahasa. Jadi tidak hanya nama yang sedikit arab, juga nama-nama dari bahasa-bahasa lain. Saya menginginkan sebuah nama yang beda.

Menurut prediksi, calon bayi akan berjenis kelamin perempuan. Karena itu saya mencoba mencarri-cari nama untuk calon anak perempuan saya iitu. Memilih dan memilah dari rangkaian nama dari berbagai bahasa, Menggambungkan, menyatukan dan merangkai menjadi sebuah nama yang memiliki sebuah arti yang berisikan sebuah doa.

Dari proses yang cukup panjang, melewati beberapa minggu. Terpilihlah 5 calon nama yang saya siapkan. 5 nama ini saya pilih ddan saya rangkai karena artinya. Dan tentu juga karena 'beda'nya dengan nama-nama kebanyakan yang beredar pada ssaat ini. Khususnya di llingkungan saya.

Nah, karena saya sudah yakin dengan 5 pilihan nama itu, saya pun menggajukan nama-nama itu ke istri. Mencari dukungan, memilih dari yang terbaik untuk anak kita nanntinya. Setelah berdiskusi lama, akhirnya kita sepakat untuk memilih satu nama. Nama yang terpilih itu nantinya akan kami pilih dan kita berikan keppada anak kami setelah si bayi lahir.

Tapi ternyata tidak sampai disitu saja pemilihan nama itu. Setelah kita yakin dengan pilihan nama itu, kami sekarang diingitkan untuk menyipakan nama lain untuk jaga-jaga, jika anak ini nantinya lahir dengan prediksi yang berbeda. Menurut prediksi sih akan lahir berjenis kelamin pperempuan. Dua kali test USG dengan dua dokter yang berbeda, dokternya bilang perempuan. Tapi karena orang terdekat menyuruh untuk menyiapkan nama dengan jenis kelamin yang berbeda, siap-siap jika itu terjadi, maka saya pun mencari nama untuk jenis kelamin laki-laki.

Hasil pencarian itu menghasilkan 5 pilihan nama juga, seperti 5 pilihan nama nama perempuan. Untuk nama pilihan ini sedikit berbeda,. Jika sebelumnya menggunakan dengan pilihan berbeda-beda bahasa. Untuk pilihan nama laki-laki ini, saya memilih sedikit banyak  lebih ke Arab-araban. Alasanannya karena dari pilihan nama yang disodorkan, untuk nama laki-laki lebih banyak mengandung unsur nama Dewa-dewa dan yang disifatinya. Saya tidak suka nama dan pilihan itu. Karena itu saya memilih pilihan nama lain.

Semalem saya sodorkan pilihan-pilihan nama itu ke istri. Kita sedikit berdebat dengan pilihan-pilihan nama itu. Istri maunya simple, saya maunya harus 5 kata. Setelah sedikit lama kita ngobrol dan memilih mana yang tepat. Akhirnya kita setuju dengan pilihan yang terakhir, tapi dengan sedikit redaksi yang berbeda. Tak lupa mengecek pilihan nama untuk perempuannya. Redaksinya juga dibuat sedikit berbeda.

Dari pembicaraan tersebut, kami jadi kepikiran, bertanya-tanya, apakah orang tua kita dulu juga seperti itu ketika memilihkan nama untuk kita. Berdebat panjang sebelum akhirnya sepakat memberi nama seperti saat ini. Wa Allahu a'lam.

By the way, untuk pilihan namanya akan saya umumkan setelah si bayi lahir. Untuk saat ini kami sedang berhara-harap cemas menunggu proses kelahiran. Dan semoga, proses kelahirannya nanti dapat berjalan normal. Ibunya sehat, anaknya juga sehat. Amin.


Thursday, September 8, 2016

Terjun Bebas


Seperti biasa, di kantor baru kita bertemu dengan orang-orang yang baru juga. Bedanya jika biasanya saya memilih untuk tidak masuk dalam obrolan tak terarah, maka hari ini saya ikut dalam bahasan. Tidak ikut secara penuh sebenarnya, hanya ikut dalam pembicaraan saja, mendengarkan pembicaraannya dan sesekali tersenyum ternyata seperti yang saya rasakan.

Topik pembicaraaan kita hari ini tentang penurunan. Penurunan ppendapatan tentu saja. Beberapa hari ini saya mengalami stress yang membuat saya sedikit stress adalah karena pendapatan yang masuk di ATM berkurang banyak sekali dari ppendapatan sebelumnya. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari setengah pendapatan saya tahun lalu hilang akibat pilihan pindah kerja ini. Boleh dibilang, ppendapatan saya saat iini sedang terjun bebas.

Saya bingung harus nyari cara apa lagi agar pemasukan meningkat. Apalagi beberapa minggu lagi istri akan melahirkan, jika ppemasuukan seperti ini terus, bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan istri dan anak saya yang akan lahir. Dengan istri saya sudah mulai obrolan untuk mengantisipasi ppenurunan ini. Sudah memikirkan hal apa saja yang harus dipikirkan, apa yang harus dilakukan.

Tapi ternyata, tidak hanya saya saja yang mengalami hal seperti ini. Banyak teman baru saya yang juga mengalami masa-masa sulit seperti ini. Tapi saya tidak yakin akan sebanyak penurunan yang saya alami. Tapi setidaknya saya sedikit bisa bernafas lega, karena melihat ada teman yang juga mengalaminya. Yah, beginilah manusia. Selalu mencari kawan untuk merasakan kesulitan. Selalu membanding--bandingkan.

Harapannnya sih masa kelam ini akan segera berakhir dalam wwaktu dekat. Karena kalau tudak segera berakhir, kayaknya rambut saya akan semakin banyak ubannya. hahha

Wednesday, September 7, 2016

Banyak Omong


Pagi-pagi udah dengerin temen ngomong banyak itu bikin eneg. Saya tak suka banyak ngomong, mungkin itu juga alasan utama kenapa saya tak terlalu suka dengan banyak obrolan dan nongkrong bareng teman-teman. Entahlah, saya lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik. Tapi ketika obrolan tak jelas dan lebih bersifat obrolan yang menurut saya tak penting dibahas, pada saat itu saya merasa eneg.

Saya suka ngumpul, kalau itu menyenangkan. Tapi kalau sudah tidak menyenangkan lagi, apalagi kalau kumpul-kumpul itu hnaya bersifat basa-basi, mending pergi saja. Nyari tempat lain yang sesui dengan minat.

Untuk beberapa hari ini saya lebih suka di perpustakaan. Lebih tenang, lebih nyaman. Tapi sayangnya orang-orang yang banyak ngomong itu juga mulai menginvasi area perustakaan. Jadinya area yang harusnya tenang, jadi ramai oleh obrolan-obrolan yang menurutku tak penting..

Monday, September 5, 2016

Asyik Sendiri


Tak pernah terpikir olehku, kalau saya ini salah satu orang yang punya kebiasaan selalu asyik dengan dunianya sendiri. kalau teman saya tidak bilang begitu, saya pun tak sadar. Barusan, saat sedang di perpustakaan, teman-teman sedang ngobrol asyik. banyak bahasan, dan sering gonta-ganti topik. Sesekali saya mendengarkan dan nimbrung, tapi lebih sering asyik sendiri. mendengarkan musik, browsing artikel-artikel yang saya butuhkan, dan sesekali buka youtube untuk melihat video terbaru.

Entahlah, sepertinya saya memang seperti itu, tak terlalu perduli dengan sekitar. Terlalu Individualism mungkin, tapi gak tahu juga sih....

Friday, September 2, 2016

Akibat Bad Mood


Postingan kemarin adalah akibat badmood saya karena tidak adanya kejelasan dan ketidak adanya pekerjaan ppasti.  Setelah beberapa hari aktivitas dimulai, pikiran-pikiran itu hilang dengan sendirinya. Tapi sekarang pikirannya sudah ganti yang lain.

Yah, beginilah manusia. Selalu saja ada yang dikeluhkan. Kemarin itu, sekarang ganti lagi, dan esok apa lagi. Saya yakin tidak hhanya saya saja yang mengalamainya, orang llain ppun sama. Tapi ttak masalah, semua memang perjalanan.

Tuesday, August 30, 2016

Menyesali Sebuah keputusan Resign


Beberapa hari ini mood kerja benar-benar tidak bagus. Rasa-rasanya bekerja bukan lagi sebuah yang menyenangkan lagi. Bukan karena banyaknya pekerjaan, tapi karena ketidak adanya tantangan sama sekali. Rasa-rasanya kok saya ini direkrut hanya untuk genap-genapan persyaratan sebuah intitusi, tanpa tahu apa harus berbuat apa karena tidak dilibatkan dalam segala hal.

Menyesal? Iya, pastinya. Dan ini mungkin yang mempengaruhi moodku beberapa hari ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Pilihan ini adalah hasil keputusan berdua. Percuma jika saya harus menyesal setelahnya.

Dan sekarang saya harus memulai dari awal lagi. Merintis karier dari nol lagi. Hmmmm

Wednesday, August 24, 2016

Menonaktifkan Akun Facebook


Semalam saya menonaktifkan akun facebook saya (lagi). Iya, memang saya sengaja menutupnya. Entah sampai kapan, yang jelas saya sedang tidak dalam kondisi emosi yang stabil saat ini. Dan ini adalah langkah yang bisa saya ambil agar emosi saya kembali stabil. Bukan masalah keluarga, kalo ada yang nebak ini karena itu. Hanya masalah sepele sebenarnya, saya tak suka diusut dengan kepindahan saya di tempat baru. 

Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya memutuskan pindah kerja sekali lagi. Dan keputusan ini kemungkinan akan memancing banyak pertanyaan di benak banak orang yang belum tahu masalahnya apa. Nah, untuk menghindari banyaknya pertanyaan, saya memilih untuk menonaktifkan akun facebook saya. Mungkin sementara, mungkin juga akan sedikit cukup lama. Gak tahu juga sih sampe kapan, tapi saat ini harus ditutup dulu.

Dulu pernah sih menutup akun facebook gara-gara patah hati. Ampe setahun kayaknya, setelah cukup hati menerima, baru dah dibuka lagi akunnya. Nah, kali ini beda masalah tapi masih dengan pilihan yang sama. 

Thursday, August 11, 2016

Stalking Mantan


Kemarin tidak sengaja melihat profil mantan di Facebook. Namanya tidak sengaja, berarti memang tidak ada niatan untuk mencari dan melihat-lihat akunnya. Kebetulan, kemarin melihat ada pemberitahuan yang muncul di laman Facebook. Nama-nama orang yang mungkin saya kenal. Saya nyoba klik itu pemberitahuan. Hanya sekedar melihat-lihat saja, mungkin ada yang saya kenal dan bisa saya tambahkan dalam daftar teman.

Nah, pas saya sedang melihat nama-nama yang ada dalam daftar itu, ternyata saya menemukan nama sang mantan dalam daftar tadi. Nama asli, bukan nama samaran seperti yang pernah saya kenal dulu. Dari situ akhirnya saya tahu, facebook lamanya sudah hilang, berganti dengan akun facebook baru. Takut mungkin dianya kalau chat saya kebaca suaminya. hahaha

Tapi bukan itu intinya. ini tentang bagaimana saya yang awalnya tidak ingat dia jadi teringat lagi. Awalnya tidak ingin mencari ttahu, jadi punya niatan dan melakukan stalking di akunnya. Dan benar, setelah itu langsung melihat-lihat postingannya. Hmmm....

Jadi terasa lagi sakitnya. Sakit akibat ditinggal tanpa ada pemberitahuan. Sakit karena jadi orang terakhir yang tahu bahwa dia sudah lamaran. Byuh, sakitnya terasa banget. Bersama sejak 2008-2013, berakhir tanpa ada kata pisah. Dan sedihnya, nikahnya dengan teman sendiri, teman sekantor. Lebih menyedihkan lagi, mau resign, tidak diizinkan. Tidak resign, tiap hari harus bertemu dan berpura-pura seolah tidak saling mengenal. Bekerja jadi seperti di neraka saja. Tsah!

Meski saki-sakit juga karena melihat akunnya, tapi masih bisa senyum-senyum juga melihat fotonya. senyumnya masih sama seperti yang dulu, tidak berubah. Yang berubah hanya yang dalam gendongan saja. Sekarang jadi 2. Dulu saat terakhir ketemu, dia masih satu yang dibawa kemana--mana. Sekarang nambah satu lagi.

Tapi tetep, kalau melihat fotonya, pasti mengabaikan laki-laki di sampingnya. Berusaha untuk tidak melihatnya, apapaun alasannya. Tak ada alasan, yang saya inginkan hanya melihat orang yang pernah mengisi hidup saya, bukan orang yang pernah menghancurkannya.

Btw, sudah ada orang lain yang menggantikannya. Jadi biarpun dia pernah mengisi kehidupanku, tapi jalan hidup kita tlah berbeda. Dia dengan hidupnya, saya dengan kehidupanku yang baru. Dia mungkin pernah menjadi bagian kehidupan dan anaganku, tapi hidupku lebih berwarna dengan istriku.