Ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, banyak orang secara alami akan mencari sandaran. Entah itu teman dekat, lingkar pertemanan, atau sekadar tempat curhat yang aman. Ada yang menuliskannya di media sosial, ada yang menghubungi satu per satu orang kepercayaannya. Mereka bergerombol di dalam lingkarannya sendiri, saling menguatkan, saling membenarkan, saling memastikan bahwa mereka tidak sendirian.
Pola itu sering terlihat jelas. Saat seseorang kena masalah, dukungan datang dari orang-orang yang satu sirkel. Ada yang menemani ngobrol panjang, ada yang sekadar mendengar, ada juga yang hanya hadir lewat pesan singkat. Temanku yang baru-baru ini kena masalah juga begitu. Dia punya orang-orang yang jadi tempat pulang, tempat bercerita, tempat mengeluh tanpa takut dihakimi. Dan itu sah-sah saja. Bahkan mungkin sehat.
Tapi tidak semua orang bekerja dengan cara yang sama.
Ada orang-orang, dan aku salah satunya, yang justru memilih diam ketika sedang jatuh. Bukan karena tidak butuh dukungan, tapi karena tidak tahu harus mulai dari mana. Atau mungkin karena sudah terlalu lelah menjelaskan. Dalam kondisi seperti itu, berbicara terasa lebih berat daripada memendam. Bahkan kepada orang terdekat sekalipun.
Saat masalah kemarin datang, tidak ada gerombolan. Tidak ada cerita panjang ke teman. Bahkan dengan istri sendiri, aku memilih menutup diri cukup lama. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ingin memastikan satu hal dulu, apakah aku sendiri sudah cukup kuat untuk mengatakannya. Rasanya aneh, tapi itulah caraku bertahan. Menyusun ulang kepala sendiri sebelum membuka mulut ke orang lain.
Hari-hari itu terasa sunyi. Tidak ada notifikasi yang menanyakan kabar, tidak ada pundak untuk bersandar. Tapi justru di situ aku dipaksa berhadapan langsung dengan diriku sendiri. Dengan pikiran yang berisik, rasa bersalah, ketakutan, dan segala kemungkinan terburuk yang mondar-mandir di kepala. Tidak ada distraksi selain menulis.
Blog ini akhirnya jadi satu-satunya tempat aman. Tempat menumpahkan uneg-uneg tanpa harus menjelaskan konteks terlalu panjang. Tidak perlu tampak kuat, tidak perlu terlihat baik-baik saja. Cukup jujur. Menulis pelan-pelan, kalimat demi kalimat, sampai emosi yang kusut itu mulai menemukan bentuknya sendiri. Dari situ, perlahan, penerimaan datang. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena aku berhenti melawannya.
Setiap orang punya cara sendiri dalam menyelesaikan masalah. Ada yang butuh ramai, ada yang butuh sunyi. Ada yang kuat karena dukungan banyak orang, ada juga yang bertahan karena berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Tidak ada cara yang paling benar, selama tidak menyakiti orang lain dan tidak menghancurkan diri sendiri.
Menutup diri bukan berarti menolak bantuan. Ini hanya caraku memproses luka. Dan mungkin, dengan menulis ini, aku ingin bilang ke siapa pun yang merasa sendirian, kalau caramu bertahan adalah dengan diam dan menulis, itu juga valid. Kamu tidak aneh. Kamu hanya sedang berjuang dengan caramu sendiri.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!