Skip to main content

Cara Setiap Orang Menghadapi Masalah Itu Berbeda


Ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, banyak orang secara alami akan mencari sandaran. Entah itu teman dekat, lingkar pertemanan, atau sekadar tempat curhat yang aman. Ada yang menuliskannya di media sosial, ada yang menghubungi satu per satu orang kepercayaannya. Mereka bergerombol di dalam lingkarannya sendiri, saling menguatkan, saling membenarkan, saling memastikan bahwa mereka tidak sendirian.

Pola itu sering terlihat jelas. Saat seseorang kena masalah, dukungan datang dari orang-orang yang satu sirkel. Ada yang menemani ngobrol panjang, ada yang sekadar mendengar, ada juga yang hanya hadir lewat pesan singkat. Temanku yang baru-baru ini kena masalah juga begitu. Dia punya orang-orang yang jadi tempat pulang, tempat bercerita, tempat mengeluh tanpa takut dihakimi. Dan itu sah-sah saja. Bahkan mungkin sehat.

Tapi tidak semua orang bekerja dengan cara yang sama.

Ada orang-orang, dan aku salah satunya, yang justru memilih diam ketika sedang jatuh. Bukan karena tidak butuh dukungan, tapi karena tidak tahu harus mulai dari mana. Atau mungkin karena sudah terlalu lelah menjelaskan. Dalam kondisi seperti itu, berbicara terasa lebih berat daripada memendam. Bahkan kepada orang terdekat sekalipun.

Saat masalah kemarin datang, tidak ada gerombolan. Tidak ada cerita panjang ke teman. Bahkan dengan istri sendiri, aku memilih menutup diri cukup lama. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ingin memastikan satu hal dulu, apakah aku sendiri sudah cukup kuat untuk mengatakannya. Rasanya aneh, tapi itulah caraku bertahan. Menyusun ulang kepala sendiri sebelum membuka mulut ke orang lain.

Hari-hari itu terasa sunyi. Tidak ada notifikasi yang menanyakan kabar, tidak ada pundak untuk bersandar. Tapi justru di situ aku dipaksa berhadapan langsung dengan diriku sendiri. Dengan pikiran yang berisik, rasa bersalah, ketakutan, dan segala kemungkinan terburuk yang mondar-mandir di kepala. Tidak ada distraksi selain menulis.

Blog ini akhirnya jadi satu-satunya tempat aman. Tempat menumpahkan uneg-uneg tanpa harus menjelaskan konteks terlalu panjang. Tidak perlu tampak kuat, tidak perlu terlihat baik-baik saja. Cukup jujur. Menulis pelan-pelan, kalimat demi kalimat, sampai emosi yang kusut itu mulai menemukan bentuknya sendiri. Dari situ, perlahan, penerimaan datang. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena aku berhenti melawannya.

Setiap orang punya cara sendiri dalam menyelesaikan masalah. Ada yang butuh ramai, ada yang butuh sunyi. Ada yang kuat karena dukungan banyak orang, ada juga yang bertahan karena berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Tidak ada cara yang paling benar, selama tidak menyakiti orang lain dan tidak menghancurkan diri sendiri.

Menutup diri bukan berarti menolak bantuan. Ini hanya caraku memproses luka. Dan mungkin, dengan menulis ini, aku ingin bilang ke siapa pun yang merasa sendirian, kalau caramu bertahan adalah dengan diam dan menulis, itu juga valid. Kamu tidak aneh. Kamu hanya sedang berjuang dengan caramu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...