Ada fase dalam hidup ketika kecemasan datang bukan dari hal besar, tapi dari sesuatu yang kelihatannya sepele. Bukan soal pekerjaan, bukan soal relasi, tapi soal bayangan di cermin. Rambut yang dulu hitam, kini pelan-pelan berubah warna. Uban muncul satu dua, lalu tanpa permisi bertambah banyak. Dan anehnya, perubahan kecil ini bisa memicu anxiety yang cukup nyata.
Buat sebagian orang, rambut ubanan adalah tanda kebijaksanaan. Tapi kenyataannya, tidak semua siap menerimanya begitu saja. Apalagi ketika ubannya muncul tidak merata. Di satu sisi kepala lebih banyak, di sisi lain masih hitam. Rasanya seperti tubuh bergerak lebih cepat dari kesiapan batin. Di luar terlihat baik-baik saja, tapi di dalam ada suara kecil yang bertanya, kok cepat banget ya?
Di titik itu, keinginan untuk tampil apa adanya bertabrakan dengan rasa tidak percaya diri. Ada niat untuk membiarkan semuanya alami. Tidak dicat, tidak ditutup-tutupi. Tapi niat itu goyah setiap kali bercermin. Bukan karena takut dibilang tua, tapi karena belum sepenuhnya berdamai dengan perubahan itu sendiri. Uban bukan cuma soal warna rambut, tapi pengingat bahwa waktu benar-benar berjalan.
Kecemasan kecil ini lalu bercampur dengan pikiran lain. Tentang usia, tentang tubuh yang pelan-pelan berubah, tentang peran yang semakin besar. Anxiety kadang memang datang tanpa alasan yang terlihat masuk akal. Ia menempel pada hal-hal sederhana, lalu tumbuh pelan-pelan. Dan di sini, rambut ubanan jadi simbolnya.
Sampai akhirnya ada satu momen sederhana di rumah. Istri melihat kegelisahan itu, meski mungkin tidak diucapkan dengan jelas. Tanpa banyak diskusi panjang, dia menawarkan solusi yang terdengar ringan tapi bermakna, mewarnai rambut. Bukan hitam pekat, bukan warna aneh. Coklat tua. Warna aman, kata dia. Tidak berusaha menipu usia, hanya merapikan yang terasa berantakan.
Prosesnya sederhana. Duduk, menunggu, lalu melihat hasilnya di cermin. Uban masih ada, tapi lebih menyatu. Tidak mencolok, tidak membuat kaget diri sendiri. Dan anehnya, rasa cemas itu sedikit mereda. Bukan karena warnanya, tapi karena ada penerimaan kecil, tidak apa-apa menyesuaikan diri, selama tidak kehilangan kejujuran pada diri sendiri.
Di situ aku sadar, menerima usia bukan berarti menolak bantuan kecil untuk merasa lebih nyaman. Membiarkan rambut diwarnai bukan tanda menyangkal kenyataan, tapi bentuk kompromi dengan diri sendiri. Bahwa kita boleh ingin tampil alami, tapi juga boleh ingin merasa percaya diri.
Pada akhirnya, anxiety tidak selalu butuh jawaban besar. Kadang cukup dirapikan sedikit, ditenangkan pelan-pelan. Seperti rambut ubanan itu, tidak harus dihapus, cukup diseimbangkan. Dan mungkin, dari hal sesederhana itu, kita belajar berdamai dengan waktu yang terus berjalan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!