Skip to main content

Kenapa Aku Lebih Memilih Diam di Grup Chat: Antara Canggung, Lelah, dan Perasaan yang Sulit Dijelaskan


Di hampir setiap grup chat, selalu ada satu pola yang berulang. Ada yang berbagi kabar duka lalu meminta doa. Ada yang mengabarkan kelulusan, kenaikan jabatan, atau pencapaian kecil yang ingin dirayakan. Ada juga yang sekadar melempar hal-hal remeh, stiker, candaan receh, atau komentar pendek yang entah kenapa tetap ramai ditanggapi. Semuanya terlihat wajar. Normal. Bahkan hangat, kalau dilihat sepintas.

Tapi entah kenapa, ada perasaan aneh ketika melihatnya. Bukan sinis, bukan juga iri. Lebih ke rasa canggung yang sulit dijelaskan. Jari rasanya berat untuk ikut nimbrung. Bukan karena tidak peduli, tapi karena bingung harus merespons dengan nada seperti apa. Mengucapkan doa terasa klise. Mengucapkan selamat kadang terasa formal. Dan menanggapi hal-hal remeh justru terasa melelahkan.

Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi diam di grup chat sering kali bukan soal malas atau cuek. Ada konflik kecil di dalam kepala. Ingin terlihat hadir, tapi juga tidak ingin terasa palsu. Ingin ikut bersuara, tapi takut responsnya hanya formalitas. Akhirnya, memilih membaca saja. Mengamati. Sesekali tersenyum sendiri di balik layar, lalu kembali menutup aplikasi.

Kadang muncul pertanyaan: apa aku yang aneh? Atau ini cuma persepsiku saja? Karena kalau dilihat dari luar, orang-orang tampak baik-baik saja dengan ritme itu. Mereka bisa cepat merespons, saling melempar emoji, saling menguatkan dengan kalimat singkat. Sementara di sini, ada perasaan seperti orang yang datang ke acara ramai tapi memilih duduk di pojok, menikmati suasana tanpa ikut bercakap terlalu banyak.

Ada juga rasa lelah yang tidak diakui. Lelah memberi reaksi pada terlalu banyak hal. Lelah harus selalu “hadir” secara sosial, padahal batin sedang ingin tenang. Di titik tertentu, diam terasa lebih jujur daripada ikut meramaikan percakapan yang tidak benar-benar ingin diikuti. Bukan berarti menyepelekan doa atau ucapan selamat, tapi karena kata-kata itu ingin diucapkan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar ikut arus.

Pelan-pelan, aku mulai menerima bahwa tidak semua orang mengekspresikan empati dengan cara yang sama. Ada yang hangat lewat kata, ada yang peduli lewat kehadiran, dan ada juga yang memilih diam tapi menyimpan niat baik dalam hati. Tidak ikut komentar bukan berarti tidak mendoakan. Tidak mengetik “selamat” bukan berarti tidak ikut bahagia.

Di akhir hari, mungkin ini memang soal kepribadian dan cara bertahan di dunia yang terlalu ramai. Grup chat berjalan, notifikasi terus berdatangan, dan setiap orang punya cara sendiri untuk tetap waras. Kalau bagimu diam terasa lebih tenang, mungkin itu bukan kekurangan, tapi cara menjaga diri.

Dan kalau kamu juga sering merasa seperti ini, lebih banyak membaca daripada bicara, lebih sering diam daripada merespons, mungkin kamu tidak sendirian. Bisa jadi, kita hanya orang-orang yang memilih keheningan kecil di tengah keramaian yang tak pernah benar-benar berhenti.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...