Skip to main content

Makna Lagu “Die With A Smile” Lady Gaga & Bruno Mars: Tenang, Tulus, dan Tentang Mencintai Tanpa Sisa


Ada lagu yang tidak perlu didengarkan keras-keras untuk terasa dalam. Cukup diputar pelan, mungkin sambil menatap jendela atau layar kosong, dan entah kenapa dada terasa lebih tenang. Die With A Smile dari Lady Gaga dan Bruno Mars punya efek seperti itu. Bukan karena liriknya dramatis berlebihan, tapi justru karena kesederhanaannya yang jujur.

Di pendengaran pertama, lagu ini terdengar hangat. Nada soul-nya lembut, vokalnya tidak saling menyaingi, malah seperti saling menopang. Banyak yang langsung merasa adem, meski belum benar-benar mencerna artinya. Dan biasanya, lagu-lagu seperti ini memang bekerja dari rasa dulu, baru makna menyusul pelan-pelan.

Kalau ditelusuri lebih jauh, makna lagu Die With A Smile bukan tentang kematian secara harfiah. Ini bukan lagu sedih. Ini lagu tentang pilihan hidup. Tentang bagaimana seseorang ingin menjalani relasi, cinta, dan keberadaan, dengan utuh, tanpa menyisakan penyesalan. Senyum di sini bukan simbol bahagia yang riuh, tapi damai yang matang.

Konflik batinnya muncul saat lagu ini bertemu dengan realitas hidup. Banyak orang hidup sambil menunda: menunda bilang sayang, menunda jujur, menunda hadir sepenuhnya. Kita sering berpikir masih ada nanti, masih ada waktu. Lagu ini seperti membenturkan asumsi itu dengan satu pertanyaan sunyi: kalau semuanya berhenti sekarang, apakah kita sudah hidup dengan sungguh-sungguh?

Bukan pertanyaan yang menghakimi, tapi mengajak bercermin.

Yang membuat lagu ini terasa “kena” adalah kedewasaan emosinya. Tidak ada janji muluk. Tidak ada drama posesif. Yang ada justru penerimaan: mencintai dengan penuh, menjalani hari dengan niat baik, dan berdamai dengan ketidaksempurnaan. Itulah kenapa lagu ini terasa menenangkan. Ia tidak menyuruh, tidak menggurui. Ia hanya menemani.

Refleksinya pelan-pelan muncul. Bahwa hidup yang baik bukan tentang seberapa lama, tapi seberapa hadir. Bahwa hubungan yang sehat bukan soal intensitas berlebihan, tapi ketulusan yang konsisten. Dan bahwa senyum di akhir, apa pun maknanya, hanya mungkin ada jika sepanjang jalan kita tidak berbohong pada diri sendiri.

Banyak pendengar merasa lagu ini relevan di fase hidup tertentu. Saat lelah dengan hubungan yang ribut. Saat capek dengan ekspektasi. Saat ingin sesuatu yang sederhana tapi bermakna. Die With A Smile seperti pelukan tenang yang berkata, tidak apa-apa melambat, yang penting jujur.

Di penutupnya, lagu ini meninggalkan rasa yang tidak meledak-ledak, tapi menetap. Seperti kopi hangat yang tidak langsung mengusir kantuk, tapi membuat pagi terasa layak dijalani. Mungkin itu kekuatannya. Lagu ini tidak mengajak kita menjadi siapa-siapa. Ia hanya mengingatkan, kalau suatu hari semua selesai, semoga kita bisa berkata, setidaknya, kita sudah mencintai dengan benar, dan hidup dengan senyum yang pantas.



“Die With A Smile” - Lady Gaga dan Bruno Mars:


[Verse 1: Bruno Mars]

I, I just woke up from a dream

Where you and I had to say goodbye

And I don't know what it all means

But since I survived, I realized


[Pre-Chorus: Bruno Mars]

Wherever you go, that's where I'll follow

Nobody's promised tomorrow

So I'ma love you every night like it's the last night

Like it's the last night


 [Chorus: Bruno Mars]

If the world was ending

I'd wanna be next to you

If the party was over

And our time on Earth was through

I'd wanna hold you just for a while

And die with a smile

If the world was ending

I'd wanna be next to you


 [Verse 2: Lady Gaga, Bruno Mars]

Ooh, lost, lost in the words that we scream

I don't even wanna do this anymore

'Cause you already know what you mean to me

And our love's the only war worth fighting for


[Pre-Chorus: Lady Gaga, Bruno Mars]

Wherever you go, that's where I'll follow

Nobody's promised tomorrow

So I'ma love you every night like it's the last night

Like it's the last night


 [Chorus: Lady Gaga, Bruno Mars]

If the world was ending

I'd wanna be next to you

If the party was over

And our time on Earth was through

I'd wanna hold you just for a while

And die with a smile

If the world was ending

I'd wanna be next to you


 [Bridge: Bruno Mars, Lady Gaga]

Right next to you

Next to you

Right next to you

Oh-oh


 [Chorus: Lady Gaga, Bruno Mars]

If the world was ending

I'd wanna be next to you

If the party was over

And our time on Earth was through

I'd wanna hold you just for a while

And die with a smile

If the world was ending

I'd wanna be next to you

If the world was ending

I'd wanna be next to you


 




Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...