Ada momen ketika badan capeknya bukan yang dramatis, tapi menetap. Pegal di pundak, punggung terasa berat, dan kepala seperti minta ditaruh sebentar. Di titik itu, pilihan paling masuk akal sering kali bukan obat atau keluhan panjang, cukup satu hal sederhana, pijat. Dan entah kenapa, yang terlintas justru satu nama lama. Tukang pijat langganan keluarga. Orang tua. Tenang. Familiar.
Tidak banyak yang tahu tentang hidupnya. Bahkan alamat rumahnya pun tidak pernah benar-benar diketahui. Yang ada hanya ingatan lama: dulu, ibu sering memanggil orang ini saat capek-capek menumpuk di rumah. Tidak pakai aplikasi. Tidak pakai rating. Cukup telepon, lalu menunggu. Sederhana, tapi terasa aman.
Saat akhirnya dipanggil lagi, ada perasaan aneh yang muncul. Bukan cuma berharap badan enakan, tapi juga rasa pulang. Seperti membuka laci ingatan yang jarang disentuh. Cara bicaranya yang pelan, geraknya yang tidak tergesa, dan kebiasaannya bertanya seperlunya, semua terasa tidak asing. Padahal waktu sudah berjalan jauh.
Konflik batinnya datang pelan. Di satu sisi, hidup sekarang serba cepat. Semuanya instan. Tinggal klik, datang. Di sisi lain, pengalaman ini mengingatkan bahwa tidak semua hal harus efisien untuk terasa tepat. Ada relasi yang dibangun dari kepercayaan lama, dari kehadiran berulang, bukan dari profil digital.
Pijatnya sendiri tidak neko-neko. Tidak banyak janji. Tidak berlebihan. Tapi justru di situ letak nyamannya. Seolah tubuh diajak bicara dengan bahasa yang ia pahami. Pelan, sabar, dan tahu kapan berhenti. Tidak ada paksaan untuk “sembuh cepat”. Hanya ajakan untuk istirahat.
Refleksi pun muncul tanpa diminta. Bahwa kelelahan bukan selalu soal fisik. Kadang, yang capek adalah pikiran yang terlalu lama berjaga. Dan sentuhan yang tepat, yang jujur, tanpa pamrih, bisa menjadi pengingat bahwa kita aman untuk sejenak melepas kendali.
Ada sesuatu yang menenangkan dari kehadiran orang-orang tua seperti ini. Bukan karena mereka tahu segalanya, tapi karena mereka tidak merasa perlu membuktikan apa-apa. Pengalaman membuat mereka paham batas. Tahu kapan berbicara, kapan diam. Dan di dunia yang ramai saran, diam sering kali adalah bentuk perhatian paling tulus.
Di akhir sesi, badan terasa lebih ringan. Tapi yang paling terasa justru hati. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Seperti baru saja diingatkan bahwa merawat diri tidak selalu harus mahal atau rumit. Kadang, cukup kembali ke hal-hal yang dulu pernah bekerja, yang sederhana, yang manusiawi.
Mungkin, memanggil tukang pijat langganan bukan cuma soal pegal. Ini tentang menjaga sambungan dengan masa lalu yang baik. Tentang mengakui bahwa di tengah hidup yang terus berubah, ada rasa aman yang layak dipelihara. Dan ketika badan akhirnya bisa istirahat, pikiran pun ikut belajar, tidak apa-apa melambat.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!