Ada fase hidup ketika kata gagal terasa makin sering mampir ke kepala. Bukan karena ada yang mengatakannya langsung, tapi karena hidup berjalan tidak seperti rencana. Target meleset, pencapaian tertunda, dan perbandingan datang dari mana-mana. Di usia dewasa, perasaan ini terasa lebih sunyi, karena seharusnya sudah “jadi”, tapi kenyataannya belum ke mana-mana.
Banyak orang pernah ada di titik ini, meski jarang mengakuinya dengan jujur.
Awalnya, pikiran itu datang sebentar lalu ditepis. “Ah, cuma lagi capek.” “Ini cuma fase.” Dicoba dilawan dengan afirmasi yang terdengar masuk akal, kesuksesan tiap orang beda waktunya. Hidup bukan lomba. Pelan-pelan saja. Semua kalimat itu benar, rapi, dan sering diulang.
Masalahnya, otak tidak selalu mau diajak kerja sama.
Semakin ditepis, pikiran itu justru terasa makin keras. Seperti ada suara kecil yang terus mengulang: ini bukan soal tertunda, tapi memang gagal. Bukan kurang waktu, tapi kurang kualitas. Dan di titik tertentu, kalimat paling kejam muncul tanpa diminta, aku ini produk gagal.
Yang melelahkan, pikiran ini datang bukan saat ramai, tapi justru di waktu-waktu sunyi. Saat malam terlalu panjang. Saat membuka media sosial tanpa tujuan. Saat melihat orang lain melangkah, sementara diri sendiri terasa diam di tempat yang sama.
Menjadi orang dewasa membuat perasaan gagal terasa lebih berat. Tidak ada lagi alasan “masih belajar”. Tidak ada lagi ruang untuk terlalu sering salah. Ekspektasi datang dari mana-mana, keluarga, lingkungan, bahkan dari diri sendiri. Dan ketika realitas tidak sesuai harapan, yang disalahkan sering kali bukan keadaan, tapi diri sendiri sepenuhnya.
Yang jarang dibicarakan adalah bagaimana pikiran bisa menjadi ruang sidang tanpa pembela. Semua kegagalan dihadirkan sebagai bukti. Semua usaha yang belum berhasil dianggap sia-sia. Tidak ada konteks, tidak ada jeda. Hanya vonis.
Padahal, merasa gagal tidak selalu berarti benar-benar gagal. Ia sering kali muncul dari kelelahan yang menumpuk, harapan yang terlalu lama digantung, dan standar hidup yang diam-diam semakin tinggi. Otak yang lelah cenderung mencari kesimpulan cepat, dan sayangnya, kesimpulan itu sering paling kejam pada diri sendiri.
Menariknya, perasaan ini tidak membuat seseorang berhenti peduli. Justru sebaliknya. Yang merasa gagal biasanya adalah orang yang pernah punya harapan, pernah berusaha, dan masih ingin hidupnya berarti. Kalau benar-benar gagal dan tak peduli, mungkin rasa sakit ini tidak akan ada.
Mungkin fase ini bukan tentang membuktikan diri sukses secepat mungkin. Bisa jadi ini fase bertahan dari pikiran sendiri. Belajar mengenali bahwa suara di kepala bukan selalu fakta. Bahwa perasaan gagal adalah pengalaman manusiawi, bukan identitas permanen.
Kalau hari ini pikiran terus mengatakan hal-hal buruk tentang diri sendiri, itu tidak otomatis menjadikannya benar. Bisa jadi itu tanda bahwa diri sedang lelah, bukan rusak. Bahwa yang dibutuhkan bukan afirmasi keras, tapi jeda kecil untuk bernapas dan mengakui, “aku sedang tidak baik-baik saja.”
Merasa jadi orang gagal memang menyakitkan. Tapi perasaan itu tidak harus jadi akhir cerita. Kadang, ia hanya penanda bahwa seseorang masih bertahan di tengah hidup yang tidak ramah. Dan bertahan, meski terlihat sepele, sering kali adalah bentuk keberhasilan yang paling tidak terlihat, tapi paling nyata.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!