Skip to main content

Merasa Tetap Muda di Usia 40-an: Ketika Badan Menua, Tapi Perasaan Masih Anak-Anak


Pernah nggak sih merasa tubuh terus berjalan maju, tapi perasaan tertinggal di satu titik yang sama? Usia di KTP bertambah, angka di kepala depan berubah jadi empat, tapi di dalam kepala rasanya masih seperti dulu. Masih gampang tertawa, masih merasa canggung disebut “orang tua”, dan kadang bingung sendiri, kok bisa ya aku sudah di umur segini?

Fenomena merasa tetap muda di usia 40-an ini ternyata cukup sering dialami banyak orang, meski jarang diomongin. Di luar sana, orang-orang seumuran tampak sudah mapan, tenang, dan mantap dengan hidupnya. Sementara di sini, ada perasaan seperti anak-anak yang kebetulan punya tanggung jawab besar. Punya keluarga, kerjaan, dan kewajiban, tapi batinnya belum sepenuhnya “dewasa” seperti definisi umum.

Aku sendiri sering mengalaminya. Ada hari-hari ketika bercermin dan terkejut melihat wajah yang pelan-pelan berubah, sementara isi kepala masih sama. Masih merasa kikuk saat harus jadi panutan, masih ragu mengambil keputusan besar, dan kadang masih ingin lari dari konflik seperti anak kecil. Rasanya aneh, karena logika bilang aku sudah seharusnya matang, tapi perasaan bilang sebaliknya.

Konflik batinnya muncul di situ. Di satu sisi, ada tuntutan sosial yang diam-diam menekan: usia kepala empat harusnya begini, harusnya begitu. Harus lebih tenang, lebih bijak, lebih tahan banting. Di sisi lain, ada diri yang masih ingin belajar, masih sering salah, masih bertanya-tanya tentang hidup. Kadang muncul rasa bersalah sendiri, apa aku kurang berkembang? apa aku tertinggal?

Tapi semakin ke sini, aku mulai bertanya balik. Apa benar merasa muda itu masalah? Atau jangan-jangan kita terlalu sempit mendefinisikan kedewasaan? Mungkin dewasa bukan soal merasa “selesai”, tapi justru berani mengakui bahwa kita belum sepenuhnya tahu. Bahwa di usia 40-an pun, merasa seperti anak-anak bukan berarti gagal tumbuh, tapi masih hidup, masih punya rasa ingin tahu, masih bisa heran, masih bisa jujur pada diri sendiri.

Aku juga mulai sadar, mungkin yang menua itu tubuh dan peran, bukan jiwa. Kita menua karena waktu, tapi perasaan tidak selalu ikut tunduk pada angka. Dan itu tidak apa-apa. Selama kita tetap bertanggung jawab, tetap belajar, dan tetap berusaha jadi versi diri yang lebih baik, merasa muda bukan kelemahan, tapi ruang bernapas.

Di akhirnya, aku sampai pada satu kesimpulan sederhana,  mungkin aku bukan satu-satunya. Mungkin banyak orang di usia kepala empat yang diam-diam merasa sama, hanya saja tidak banyak yang berani mengaku. Dan kalau kamu juga merasakannya, tenang saja. Kamu tidak aneh. Bisa jadi, kamu hanya manusia yang masih berjalan, belum ingin berhenti merasa hidup.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...