Skip to main content

Orang-Orang yang Sefrekuensi Akan Berkumpul: Pelajaran Tentang Lingkaran, Iri, dan Cara Kita Melihat Dunia


Ada satu kalimat yang dulu sering aku dengar, tapi lama tidak benar-benar aku percayai, Tuhan akan mengumpulkan orang-orang yang sefrekuensi. Waktu itu rasanya terlalu klise, terlalu sederhana untuk menjelaskan kerumitan hidup dan relasi manusia. Masa iya, dunia yang ruwet ini bisa diringkas hanya dengan soal frekuensi?

Sampai suatu hari, aku lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar cerita orang lain, memperhatikan pola-pola kecil, dan tanpa sadar mulai melihat benang merahnya. Cerita-cerita itu berbeda, orangnya juga beda-beda, tapi reaksinya mirip. Terutama saat membicarakan kesuksesan orang lain. Ada yang tulus ikut senang. Ada yang diam. Dan ada juga yang gelisah, lalu mulai mencari-cari celah.

Di titik itu, kesimpulan lama yang dulu aku ragukan pelan-pelan terasa masuk akal. Orang-orang dengan penyakit hati, entah iri, dengki, atau luka yang belum selesai, ternyata memang sulit melihat keberhasilan orang lain dengan tenang. Alih-alih bertanya “bagaimana dia bisa sampai di sana?”, yang muncul justru “kesalahannya apa ya?”. Dan yang lebih melelahkan, mereka jarang sendirian. Mereka bergerombol.

Bukan untuk mencari kebenaran, tapi mencari pembenaran. Mengumpulkan potongan-potongan cerita, memelintir sudut pandang, lalu mencari dukungan agar prasangka mereka terasa sah. Seolah-olah dengan menemukan kesalahan orang lain, beban di hati mereka jadi lebih ringan. Padahal, sering kali itu tidak menyembuhkan apa-apa.

Aku sampai pada fase bertanya dalam hati, kurangnya apa, sampai harus repot-repot menguliti hidup orang lain? Bukankah hidup kita sendiri sudah cukup penuh untuk diurus? Tapi mungkin justru karena hidupnya terasa kosong, maka kesibukan itu dicari di luar. Mengomentari, menilai, dan menghakimi jadi semacam hiburan sekaligus pelarian.

Di sinilah aku melihat soal frekuensi itu bekerja. Orang-orang yang senang menggerutu akan menemukan teman menggerutu. Orang-orang yang hobi curiga akan berkumpul dengan sesama pencuriganya. Dan sebaliknya, orang-orang yang hatinya lapang akan cenderung saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Bukan karena janjian, tapi karena nyaman. Frekuensi yang sama memang saling mengenali.

Ternyata hidup bukan cuma soal siapa yang kita temui, tapi juga energi apa yang kita bawa. Kalau isi kepala kita penuh prasangka, jangan heran kalau lingkungan kita dipenuhi orang-orang yang sama curiganya. Dan kalau hati kita tenang, kita cenderung betah di lingkaran yang tidak sibuk mencari-cari kesalahan.

Di akhirnya, aku mulai lebih berhati-hati. Bukan cuma memilih lingkungan, tapi juga menjaga frekuensi diri sendiri. Karena ternyata, Tuhan tidak hanya mengumpulkan orang-orang sefrekuensi di luar sana. Kadang, Dia sedang memperlihatkan cermin: frekuensi seperti apa yang sedang kita pancarkan.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...