Skip to main content

Penjaringan Pejabat Baru Lagi Ramai


Belakangan ini, suasana terasa akrab tapi juga melelahkan. Setiap kali ada wacana penjaringan pejabat baru, ritmenya hampir selalu sama. Mulai dari pengumuman resmi, spekulasi nama, sampai bisik-bisik yang beredar. Ramai, riuh, dan seolah penting.

Katanya, jabatan baru memang dibutuhkan. Struktur harus diperkuat. Organisasi harus menyesuaikan zaman. Argumen-argumen itu terdengar masuk akal, bahkan logis di atas kertas. Dan karena itulah, proses penjaringan pejabat selalu dibungkus dengan bahasa yang rapi dan niat yang tampak serius.

Tapi di luar ruang rapat dan siaran pers, respons banyak orang justru berbeda. Bukan marah, bukan juga antusias. Lebih ke arah… datar. Ada yang mengikuti sebatas tahu, ada yang mendengar sambil lalu, dan ada pula yang langsung menggulir layar tanpa membaca tuntas.

Bisik-bisik tetap jalan. Si A katanya dekat siapa. Si B disebut-sebut unggulan. Si C konon sudah “dipaketkan”. Cerita semacam ini selalu punya pasar. Bukan karena orang ingin ikut campur, tapi karena pola yang itu-itu saja sudah terlalu familiar. Terlalu sering diulang, terlalu jarang benar-benar mengejutkan.

Menariknya, ada perasaan tidak terlalu peduli yang tumbuh pelan-pelan. Bukan karena apatis total, tapi karena jarak yang makin terasa. Jabatan baru mungkin lahir, tapi dampaknya ke hidup sehari-hari sering kali tak langsung terasa. Yang berubah nama dan posisi, bukan kualitas layanan atau rasa keadilan.

Di titik ini, wajar kalau muncul sikap menjaga jarak. Mengamati tanpa banyak komentar. Mendengar tanpa ikut berdebat. Bukan karena tidak cinta pada urusan publik, tapi karena energi sudah terlalu sering habis untuk hal-hal yang hasilnya tak kunjung jelas.

Ada juga kelelahan emosional yang jarang diakui. Setiap pergantian atau penambahan jabatan selalu dibungkus harapan besar. Reformasi. Penyegaran. Perbaikan sistem. Tapi di lapangan, yang berubah sering kali hanya papan nama dan susunan foto. Sementara persoalan lama tetap tinggal, rapi menunggu giliran dibahas lagi.

Sikap “tidak terlalu peduli” ini sering disalahpahami sebagai tidak mau tahu. Padahal bisa jadi itu bentuk pertahanan diri. Cara paling sederhana untuk tetap waras di tengah hiruk-pikuk politik birokrasi yang terasa jauh dari kebutuhan sehari-hari.

Bukan berarti penjaringan pejabat baru tidak penting. Ia tetap perlu, tetap harus diawasi, tetap layak dikritisi. Tapi tidak semua orang punya kewajiban emosional untuk terlibat penuh di setiap keramaian. Ada yang memilih fokus pada hal-hal yang dampaknya lebih langsung: pekerjaan, keluarga, kesehatan mental.

Mungkin suatu hari, kepedulian itu akan kembali jika yang dihadirkan bukan sekadar jabatan baru, tapi perubahan yang benar-benar terasa. Sampai saat itu datang, bersikap tenang dan menjaga jarak bukanlah dosa. Kadang, itu hanya tanda bahwa kita sudah terlalu sering berharap, dan sedang belajar menaruh ekspektasi di tempat yang lebih masuk akal.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...