Skip to main content

Pikiran untuk Mengakhiri Hidup Pernah Muncul, tapi Kenapa Bertahan Justru Jadi Pilihan Paling Masuk Akal


 Ada pikiran-pikiran yang datang diam-diam, biasanya saat lelah sudah menumpuk dan jalan keluar terasa buntu. Pikiran tentang mengakhiri hidup, sebagai pilihan terakhir, kadang muncul bukan karena ingin mati, tapi karena ingin berhenti dari rasa sakit. Ingin jeda. Ingin sunyi.

Pikiran itu tidak selalu dramatis. Ia bisa hadir tenang, hampir logis. Seperti opsi darurat yang muncul di kepala saat semua pintu terasa tertutup. Dan di momen itu, rasanya wajar jika seseorang bertanya,  “kalau berhenti saja, apa semuanya akan selesai?”

Tapi setelah dipikir lebih jauh, ada satu kenyataan yang sering terlewat. Hidup mungkin berhenti bagi satu orang, tapi masalah tidak ikut berhenti. Yang tertinggal justru harus memungut pecahannya. Rasa kehilangan, rasa bersalah, pertanyaan tanpa jawaban, semua itu berpindah tangan. Bebannya bergeser, bukan hilang.

Kesadaran itu pelan-pelan mengubah arah pikiran. Bukan jadi tiba-tiba kuat, tapi jadi lebih jujur. Bahwa pilihan itu, sejauh apa pun tampak sebagai jalan keluar, ternyata hanya memindahkan luka ke orang lain. Dan luka yang dipindahkan sering kali lebih sulit disembuhkan.

Di titik ini, muncul pilihan yang tidak heroik, tapi realistis, menghadapi. Bukan berarti berani setiap hari. Bukan berarti langsung tahu harus bagaimana. Menghadapi bisa sesederhana bertahan hari ini, meski besok masih kabur. Menghadapi bisa berarti mengakui bahwa hidup sedang berat, tanpa memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.

Ada fase ketika menghadapi terasa melelahkan. Bangun pagi pun butuh usaha. Tapi ada juga momen kecil yang membuktikan satu hal,  tidak ada perasaan yang benar-benar statis. Yang hari ini terasa tak tertahankan, besok bisa bergeser sedikit. Tidak hilang, tapi berubah bentuk. Dan perubahan kecil itu sering cukup untuk bernapas lebih panjang.

Kalimat “semua pasti berlalu” memang terdengar klise. Tapi klise sering lahir karena berulang kali terbukti. Bukan berarti masalah menguap begitu saja, melainkan intensitasnya menurun, sudut pandangnya bergeser, atau kita menemukan cara bertahan yang lebih manusiawi. Waktu tidak menyelesaikan segalanya, tapi ia memberi jarak, dan jarak kadang menyelamatkan.

Menghadapi juga tidak harus sendirian. Ada hari-hari ketika berbagi cerita terasa mustahil. Ada hari lain ketika satu percakapan singkat bisa menahan seseorang tetap di sini. Mencari bantuan bukan tanda kalah; sering kali itu tanda paling jujur bahwa hidup sedang butuh ditopang.

Jika pikiran-pikiran gelap itu pernah mampir, itu tidak menjadikan seseorang lemah atau rusak. Itu tanda bahwa ia manusia, yang sedang berada di titik paling rapuh. Dan di titik rapuh itu, memilih bertahan, meski tanpa rencana besar, adalah keputusan yang layak dihargai.

Tidak ada janji bahwa semuanya akan mudah. Tapi ada harapan yang lebih masuk akal,  rasa sakit ini tidak selamanya berada di puncak. Menghadapinya hari demi hari mungkin bukan pilihan paling indah, tapi sering kali itulah pilihan yang membuat cerita tetap berjalan. Dan selama cerita masih berjalan, selalu ada kemungkinan untuk halaman berikutnya terasa sedikit lebih ringan.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...