Ada satu kalimat yang makin ke sini makin terasa relevan, sejarah itu tergantung siapa yang menulis dan siapa yang menceritakan. Dulu kalimat ini terdengar seperti teori besar di buku pelajaran. Jauh, akademis, dan tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari. Tapi ketika mengalaminya sendiri, rasanya jadi sangat dekat, bahkan agak menyesakkan.
Dalam satu fase hidup, ada cerita tentang diriku yang berkembang begitu bombastis. Versinya jelas, aku jadi tokoh utama yang paling bersalah. Kesalahannya dibesar-besarkan, motifnya disederhanakan, dan latar belakangnya dihilangkan. Ceritanya rapi, dramatis, dan mudah dicerna. Sayangnya, cerita itu bukan datang dariku.
Di waktu yang hampir bersamaan, ada temanku yang juga mengalami hal serupa. Sama-sama “jatuh”, sama-sama disorot, tapi kasusnya berbeda. Bedanya, narasi tentang dia dibangun sebagai korban. Orang-orang bicara dengan nada empati, mencari sebab di luar dirinya, dan berusaha memahami. Dua kejadian, dua orang, dua cerita. Padahal sama-sama manusia yang sedang tersandung.
Di situ aku mulai melihat dengan jelas bagaimana sebuah cerita berkembang bukan karena fakta semata, tapi karena interpretasi. Siapa yang lebih dulu bicara. Siapa yang lebih lantang. Siapa yang punya panggung. Dan siapa yang memilih diam. Sejarah kecil dalam lingkaran sosial pun ternyata bekerja seperti itu. Tidak selalu adil, tapi selalu efektif.
Konflik batinnya muncul ketika sadar, membela diri pun sering kali percuma. Ketika cerita sudah terlanjur menyebar, klarifikasi hanya dianggap pembenaran. Diam disalahartikan sebagai pengakuan. Bicara dianggap mencari simpati. Serba salah. Dan di titik itu, reputasi tidak lagi ditentukan oleh siapa diri kita sebenarnya, tapi oleh cerita apa yang paling sering diulang.
Yang melelahkan bukan hanya label “paling bersalah”, tapi melihat betapa lenturnya kebenaran di tangan manusia. Satu potongan cerita bisa diangkat, potongan lain dibuang. Nada bicara bisa diubah, konteks bisa dihilangkan. Dan perlahan, versi itulah yang dipercaya sebagai kenyataan.
Mungkin inilah alasan kenapa sejarah, baik sejarah besar maupun kecil, tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu membawa sudut pandang penulisnya. Dan dalam hidup sehari-hari, kita semua sebenarnya sedang menulis sejarah versi masing-masing tentang orang lain. Kadang tanpa sadar, kadang dengan sengaja.
Aku mulai belajar satu hal, tidak semua cerita harus diluruskan, dan tidak semua penilaian harus dilawan. Ada fase di mana yang bisa dilakukan hanyalah tetap waras, tetap jujur pada diri sendiri, dan membiarkan waktu bekerja. Karena sekeras apa pun cerita orang tentang kita, hidup tetap berjalan. Dan orang-orang yang benar-benar ingin tahu, suatu hari akan melihat sendiri.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak bisa memilih bagaimana orang lain menceritakan kita. Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana kita hidup setelah cerita itu beredar. Dan mungkin, di situlah satu-satunya kendali yang masih kita punya, menjadi versi diri yang tidak perlu membantah sejarah, tapi cukup konsisten menjalani hidup dengan tenang.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!