Pernah dengar istilah stres pasca tidak menjabat? Biasanya muncul pelan-pelan, dibicarakan setengah bercanda, setengah serius. Ada yang yakin itu nyata, ada juga yang menganggapnya berlebihan. Jujur saja, tidak semua orang langsung percaya bahwa kehilangan jabatan bisa berdampak sedalam itu.
Apalagi kalau dilihat dari luar. Toh, jabatan memang ada masanya. Datang lewat proses, pergi juga lewat mekanisme. Secara teori, semua sudah paham, jabatan bukan milik pribadi. Jadi kenapa harus stres berlebihan?
Tapi situasinya jadi menarik ketika masuk masa transisi. Saat penjaringan pejabat baru masih berlangsung. Saat nama-nama belum diumumkan. Saat posisi masih abu-abu. Di fase ini, suasana sering berubah. Lebih senyap, lebih tegang, lebih penuh kode.
Di permukaan, semua terlihat normal. Rapat tetap jalan. Senyum tetap dipasang. Obrolan masih sopan. Tapi ada energi yang berbeda. Orang-orang mulai lebih hati-hati bicara. Lebih sensitif terhadap perubahan kecil. Lebih mudah tersinggung, atau justru terlalu defensif.
Di titik ini, sulit memastikan: apakah ini stres pasca tidak menjabat, atau hanya kecemasan menunggu hasil? Karena selama belum diumumkan, semuanya masih menggantung. Status belum jelas, peran belum pasti. Dan ketidakpastian, seperti yang kita tahu, sering lebih melelahkan daripada kabar buruk sekalipun.
Menariknya, fase yang benar-benar membuka semuanya justru sering datang setelah pengumuman. Saat struktur baru resmi. Saat posisi lama benar-benar ditinggalkan. Di situlah perubahan perilaku mulai terlihat lebih jelas, siapa yang bisa menerima dengan tenang, siapa yang mulai menarik diri, dan siapa yang terlihat seperti kehilangan arah.
Bukan soal kekuasaan semata. Jabatan sering kali memberi ritme hidup, jadwal, pengaruh, rasa dibutuhkan. Ketika itu hilang, wajar jika ada kekosongan. Dan kekosongan ini tidak selalu muncul dalam bentuk dramatis. Kadang hadir sebagai gelisah kecil, komentar sinis, atau kebutuhan untuk terus ikut campur meski sudah bukan porsinya.
Itulah mengapa, mungkin terlalu cepat jika langsung menyimpulkan ada atau tidaknya stres pasca tidak menjabat. Selama masih masa transisi, semua orang sedang menyesuaikan diri. Masih menunggu. Masih berharap. Masih menghitung kemungkinan.
Namun setelah semuanya final, pola akan lebih jujur. Ada yang bisa langsung kembali ke ritme baru. Ada yang pelan-pelan menepi. Dan ada pula yang terlihat kesulitan melepaskan identitas lamanya.
Bagi orang di luar lingkar jabatan, mengamati ini sering menimbulkan refleksi sendiri. Tentang betapa jabatan bisa melekat ke diri seseorang. Tentang pentingnya punya pegangan lain selain posisi struktural. Dan tentang betapa rapuhnya rasa aman jika seluruh identitas dibangun dari kursi yang sewaktu-waktu bisa ditarik.
Mungkin stres pasca tidak menjabat itu ada, mungkin juga tidak selalu. Tapi satu hal terasa jelas, masa transisi adalah cermin. Ia memperlihatkan bagaimana seseorang memaknai peran, kekuasaan, dan dirinya sendiri.
Dan dari sana, kita belajar diam-diam, bahwa suatu hari, ketika giliran kita kehilangan sesuatu yang pernah memberi identitas, semoga yang tersisa bukan hanya jabatan yang pergi, tapi juga kedewasaan untuk tetap utuh sebagai manusia.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!