Pernah ada di fase ini? Kepala penuh, catatan rencana makin panjang, ide datang silih berganti, tapi satu pun tak benar-benar jalan. Hari terasa sibuk, tapi anehnya tidak ada yang benar-benar selesai. Capek, tapi sulit menunjuk capeknya karena apa.
Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak rencana. Terlalu banyak keinginan. Dan alih-alih membuat hidup lebih maju, semuanya justru terasa tidak fokus.
Awalnya terlihat produktif. Mikir ini, mikir itu. Membayangkan berbagai kemungkinan, peluang, dan skenario masa depan. Ada dorongan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, mengejar hal-hal yang bahkan belum tentu jadi tanggung jawab sendiri. Rasanya seperti sedang “bertumbuh”, padahal perlahan-lahan justru menjauh dari apa yang seharusnya dikerjakan hari ini.
Di titik tertentu, fokus mulai bocor ke mana-mana. Energi habis untuk hal-hal di luar tugas utama. Terlalu sibuk memikirkan rencana besar, sampai lupa merawat pekerjaan kecil yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Yang terjadi bukan kemajuan, tapi kebingungan yang rapi, terlihat sibuk, tapi kosong hasil.
Ada momen ketika disadari: mungkin masalahnya bukan kurang kemampuan, melainkan terlalu banyak keinginan yang ditumpuk bersamaan. Semua ingin dikerjakan sekarang. Semua ingin dikejar sekaligus. Padahal waktu dan tenaga tetap segitu-gitu saja.
Ironisnya, fase ini sering muncul saat seseorang sebenarnya sedang serius dengan hidupnya. Ingin lebih baik. Ingin lebih aman. Ingin lebih berarti. Tapi karena tidak ada batas yang jelas antara “tugas utama” dan “keinginan tambahan”, semuanya bercampur jadi satu beban mental.
Yang lebih melelahkan, rasa bersalah ikut muncul. Merasa tidak maksimal di pekerjaan utama. Merasa gagal fokus. Merasa seperti mengecewakan diri sendiri. Padahal, bisa jadi yang terjadi hanyalah kelelahan karena terlalu banyak arah.
Pelan-pelan muncul kesadaran yang tidak nyaman: mungkin tidak semua hal harus dipikirkan sekarang. Mungkin tidak semua peluang harus dikejar. Mungkin ada fase dalam hidup di mana tugas terbesar bukan mencari hal baru, tapi menyelesaikan yang sudah ada.
Fokus, ternyata, bukan soal kurang ide. Justru sering kali fokus hilang karena terlalu banyak ide yang tidak disaring. Terlalu banyak “maunya”, sampai lupa bertanya: mana yang benar-benar tanggung jawab saat ini?
Menyadari posisi ini memang tidak langsung memberi solusi. Tapi setidaknya memberi jeda. Jeda untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya ulang pada diri sendiri: apa yang sebenarnya perlu dikerjakan hari ini, bukan apa yang terlihat keren untuk direncanakan.
Kalau kamu sedang berada di fase terlalu banyak pikiran dan rencana seperti ini, mungkin itu bukan tanda kemunduran. Bisa jadi itu tanda bahwa hidup sedang minta dirapikan ulang. Bukan ditambah, tapi dipilih. Bukan dikejar semua, tapi diselesaikan satu per satu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!