Skip to main content

Terlalu Banyak Pikiran dan Rencana


Pernah ada di fase ini? Kepala penuh, catatan rencana makin panjang, ide datang silih berganti, tapi satu pun tak benar-benar jalan. Hari terasa sibuk, tapi anehnya tidak ada yang benar-benar selesai. Capek, tapi sulit menunjuk capeknya karena apa.

Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak rencana. Terlalu banyak keinginan. Dan alih-alih membuat hidup lebih maju, semuanya justru terasa tidak fokus.

Awalnya terlihat produktif. Mikir ini, mikir itu. Membayangkan berbagai kemungkinan, peluang, dan skenario masa depan. Ada dorongan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, mengejar hal-hal yang bahkan belum tentu jadi tanggung jawab sendiri. Rasanya seperti sedang “bertumbuh”, padahal perlahan-lahan justru menjauh dari apa yang seharusnya dikerjakan hari ini.

Di titik tertentu, fokus mulai bocor ke mana-mana. Energi habis untuk hal-hal di luar tugas utama. Terlalu sibuk memikirkan rencana besar, sampai lupa merawat pekerjaan kecil yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Yang terjadi bukan kemajuan, tapi kebingungan yang rapi, terlihat sibuk, tapi kosong hasil.

Ada momen ketika disadari: mungkin masalahnya bukan kurang kemampuan, melainkan terlalu banyak keinginan yang ditumpuk bersamaan. Semua ingin dikerjakan sekarang. Semua ingin dikejar sekaligus. Padahal waktu dan tenaga tetap segitu-gitu saja.

Ironisnya, fase ini sering muncul saat seseorang sebenarnya sedang serius dengan hidupnya. Ingin lebih baik. Ingin lebih aman. Ingin lebih berarti. Tapi karena tidak ada batas yang jelas antara “tugas utama” dan “keinginan tambahan”, semuanya bercampur jadi satu beban mental.

Yang lebih melelahkan, rasa bersalah ikut muncul. Merasa tidak maksimal di pekerjaan utama. Merasa gagal fokus. Merasa seperti mengecewakan diri sendiri. Padahal, bisa jadi yang terjadi hanyalah kelelahan karena terlalu banyak arah.

Pelan-pelan muncul kesadaran yang tidak nyaman: mungkin tidak semua hal harus dipikirkan sekarang. Mungkin tidak semua peluang harus dikejar. Mungkin ada fase dalam hidup di mana tugas terbesar bukan mencari hal baru, tapi menyelesaikan yang sudah ada.

Fokus, ternyata, bukan soal kurang ide. Justru sering kali fokus hilang karena terlalu banyak ide yang tidak disaring. Terlalu banyak “maunya”, sampai lupa bertanya: mana yang benar-benar tanggung jawab saat ini?

Menyadari posisi ini memang tidak langsung memberi solusi. Tapi setidaknya memberi jeda. Jeda untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya ulang pada diri sendiri: apa yang sebenarnya perlu dikerjakan hari ini, bukan apa yang terlihat keren untuk direncanakan.

Kalau kamu sedang berada di fase terlalu banyak pikiran dan rencana seperti ini, mungkin itu bukan tanda kemunduran. Bisa jadi itu tanda bahwa hidup sedang minta dirapikan ulang. Bukan ditambah, tapi dipilih. Bukan dikejar semua, tapi diselesaikan satu per satu.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...