Banyak orang mengira trauma itu seperti luka fisik. Setelah waktu berlalu, setelah “diselesaikan”, setelah merasa lebih baik, ya sudah, selesai. Hidup lanjut. Kepala dingin. Dada lega. Tapi kenyataannya, trauma sering bekerja dengan cara yang jauh lebih diam-diam dan licik.
Kadang, hidup terasa baik-baik saja. Hari berjalan normal. Pikiran relatif tenang. Bahkan sempat muncul keyakinan kecil: mungkin ini sudah lewat. Mungkin semua sudah rapi. Sampai suatu hari, satu kata terdengar. Satu kalimat. Satu nada suara. Dan tubuh langsung kembali ke setelan lama, tanpa izin, tanpa aba-aba.
Dada mengencang. Tangan gemetar. Nafas pendek. Logika tertinggal jauh di belakang.
Di situlah konflik batin muncul. Ada rasa kesal pada diri sendiri. “Kok masih begini?” “Bukannya ini sudah selesai?” Padahal secara rasional, situasinya aman. Tidak ada ancaman nyata. Tapi tubuh tidak peduli pada penjelasan logis. Ia hanya mengenali pola. Dan begitu polanya mirip, alarm langsung berbunyi.
Trauma memang tidak tinggal di ingatan saja. Ia menetap di tubuh. Di refleks. Di respon otomatis yang terbentuk ketika dulu tidak ada pilihan selain bertahan. Jadi wajar, meski secara sadar merasa sudah kuat, tubuh masih bereaksi seolah bahaya itu nyata.
Yang sering bikin tambah berat adalah ekspektasi sosial. Ada tuntutan tak tertulis untuk “move on”. Untuk tidak sensitif. Untuk tidak bereaksi berlebihan. Akhirnya, banyak orang memilih diam. Menyembunyikan gemetar. Menenangkan diri sendirian. Dan merasa gagal karena belum sepenuhnya pulih.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!