Skip to main content

Saat Pesan WhatsApp Saja Bisa Memicu Anxiety


 Ada hal-hal yang terlihat sepele bagi orang lain, tapi bisa terasa seperti alarm bahaya bagi seseorang yang pernah terluka. Sebuah nada notifikasi. Nama tertentu muncul di layar. Atau pesan singkat yang isinya hanya beberapa kata.

“Mohon menghadap pimpinan.”

Kalimat yang biasa saja. bahkan mungkin bagian dari rutinitas kerja. Tapi bagi sebagian orang, itu cukup untuk membuat dada sesak tanpa alasan yang bisa dijelaskan dengan cepat.

Dan di situlah trauma bekerja. Diam-diam, tapi nyata.

Banyak orang mengira waktu otomatis menyembuhkan segalanya. Seolah semakin lama sebuah kejadian berlalu, semakin kecil pula dampaknya. Kenyataannya tidak selalu begitu.

Trauma sering tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertidur.

Sampai suatu hari, sesuatu yang kecil membangunkannya.

Tubuh bereaksi lebih dulu sebelum logika sempat menenangkan. Tangan mulai dingin. Napas terasa pendek. Pikiran mendadak berlari ke kemungkinan terburuk, dimarahi, disalahkan, dipermalukan, atau dihadapkan pada situasi yang dulu pernah menyakitkan.

Padahal belum tentu apa-apa terjadi.

Tapi tubuh tidak pandai membedakan mana masa lalu dan mana hari ini.

Pagi berjalan normal. Tidak ada firasat buruk, tidak ada tanda-tanda hari akan terasa berat.

Lalu sebuah pesan WhatsApp masuk.

Isinya sederhana: diminta menghadap pimpinan.

Sekejap saja, rasa tenang seperti ditarik pergi. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Pikiran mulai berisik, menyusun skenario yang bahkan belum tentu nyata.

“Ada apa?”
“Salah apa?”
“Kenapa dipanggil?”

Kecemasan itu datang bukan karena lemah. Bukan juga karena terlalu sensitif.

Kadang itu hanya tanda bahwa tubuh pernah belajar bertahan dari sesuatu yang tidak mudah.

Dan tubuh, dengan caranya sendiri, tidak ingin kejadian itu terulang.

Dari luar, mungkin terlihat berlebihan.

“Ah, cuma dipanggil atasan.”
“Biasa aja kali.”
“Jangan overthinking.”

Kalimat-kalimat itu terdengar logis, tapi trauma tidak bekerja dengan logika.

Ia bekerja dengan ingatan emosional.

Yang diingat bukan cuma peristiwanya, tapi juga rasa takutnya, rasa kecilnya, rasa tidak berdayanya.

Jadi ketika sensasi itu muncul lagi, tubuh otomatis bersiap melindungi diri. Bahkan jika ancamannya belum tentu ada.

Dulu mungkin ada keinginan kuat untuk menghapus semuanya. Berpura-pura tidak pernah terjadi. Menjadi “kuat” dengan cara menolak mengingat.

Tapi makin ke sini, ada satu hal yang mulai dipahami,  sembuh bukan berarti lupa.

Sembuh seringkali berarti mengenali, lalu berkata pelan pada diri sendiri,
“Tidak apa-apa kalau masih takut. Tapi sekarang aku sudah berbeda.”

Menarik napas lebih dalam.
Memberi jeda pada pikiran.
Tidak langsung mempercayai skenario buruk yang dibuat kepala.

Pelan-pelan saja.

Karena keberanian bukan tentang tidak merasa takut, tapi tetap melangkah meski lutut sedikit gemetar.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...