Ada satu hal yang diam-diam kita sepakati bersama, meski jarang diucapkan, tidak ada manusia yang benar-benar bersih. Dari yang muda sampai yang tua, dari yang kelihatan alim sampai yang terang-terangan bandel, semua pernah, dan mungkin masih melakukan kesalahan. Dosa, dalam bentuk apa pun namanya.
Tapi anehnya, kesadaran itu sering berhenti di teori.
Dalam praktik sehari-hari, justru lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain. Mengomentari, menilai, bahkan membenci dosa yang tidak kita lakukan. Seolah-olah dengan menghakimi orang lain, dosa pribadi bisa mengecil, atau setidaknya tidak terlihat.
Fenomena ini terasa akrab. Di obrolan santai, di media sosial, di ruang-ruang yang katanya religius. Kesalahan orang lain dibedah ramai-ramai, sementara kesalahan sendiri disimpan rapat-rapat. Bukan karena tidak tahu salah, tapi karena menghadapi diri sendiri jauh lebih tidak nyaman.
Menghakimi memang memberi rasa aman sesaat. Ada ilusi posisi lebih tinggi, aku tidak seburuk itu. Padahal, sering kali yang berbeda hanya jenis dosanya, bukan berat-ringannya. Ada yang dosanya terlihat, ada yang rapi tersembunyi. Ada yang keras di luar, ada yang licin di dalam.
Yang menarik, usia tidak selalu membuat seseorang lebih rendah hati. Bertambah tua tidak otomatis membuat manusia lebih jujur pada dirinya sendiri. Kadang justru makin lihai mencari pembenaran. Makin pandai membungkus dosa pribadi dengan alasan keadaan, niat baik, atau dalih “semua orang juga begitu”.
Sementara itu, dosa orang lain jarang diberi konteks. Tidak dilihat latar belakangnya, tekanannya, atau proses panjang yang mungkin mendorong seseorang jatuh ke titik itu. Yang dilihat hanya hasil akhirnya, lalu vonis dijatuhkan.
Padahal, kalau mau jujur, banyak dari kita hanya selangkah berbeda dari orang yang dihakimi. Situasi yang berbeda, tekanan yang sedikit lebih berat, atau dukungan yang tidak ada, bisa saja menempatkan siapa pun di posisi yang sama.
Refleksi ini tidak sedang membenarkan dosa. Salah tetap salah. Tapi ada perbedaan besar antara menilai dan menghakimi. Menilai memberi ruang untuk belajar. Menghakimi menutup pintu empati.
Ironisnya, fokus berlebihan pada dosa orang lain sering membuat kita lalai merawat diri sendiri. Energi habis untuk marah, benci, dan merasa paling benar. Sementara pekerjaan paling berat, berdamai dengan kekurangan diri, ditunda terus.
Ada ketenangan yang berbeda ketika seseorang mulai berani mengakui, aku juga pendosa. Bukan dengan bangga, tapi dengan rendah hati. Dari situ, pandangan berubah. Bukan lagi “aku lebih baik”, tapi “kita sama-sama berjuang”.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!