Skip to main content

Semua Orang Pernah Berdosa, tapi Kenapa Kita Lebih Sibuk Menghakimi Dosa Orang Lain?


 Ada satu hal yang diam-diam kita sepakati bersama, meski jarang diucapkan, tidak ada manusia yang benar-benar bersih. Dari yang muda sampai yang tua, dari yang kelihatan alim sampai yang terang-terangan bandel, semua pernah, dan mungkin masih melakukan kesalahan. Dosa, dalam bentuk apa pun namanya.

Tapi anehnya, kesadaran itu sering berhenti di teori.

Dalam praktik sehari-hari, justru lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain. Mengomentari, menilai, bahkan membenci dosa yang tidak kita lakukan. Seolah-olah dengan menghakimi orang lain, dosa pribadi bisa mengecil, atau setidaknya tidak terlihat.

Fenomena ini terasa akrab. Di obrolan santai, di media sosial, di ruang-ruang yang katanya religius. Kesalahan orang lain dibedah ramai-ramai, sementara kesalahan sendiri disimpan rapat-rapat. Bukan karena tidak tahu salah, tapi karena menghadapi diri sendiri jauh lebih tidak nyaman.

Menghakimi memang memberi rasa aman sesaat. Ada ilusi posisi lebih tinggi, aku tidak seburuk itu. Padahal, sering kali yang berbeda hanya jenis dosanya, bukan berat-ringannya. Ada yang dosanya terlihat, ada yang rapi tersembunyi. Ada yang keras di luar, ada yang licin di dalam.

Yang menarik, usia tidak selalu membuat seseorang lebih rendah hati. Bertambah tua tidak otomatis membuat manusia lebih jujur pada dirinya sendiri. Kadang justru makin lihai mencari pembenaran. Makin pandai membungkus dosa pribadi dengan alasan keadaan, niat baik, atau dalih “semua orang juga begitu”.

Sementara itu, dosa orang lain jarang diberi konteks. Tidak dilihat latar belakangnya, tekanannya, atau proses panjang yang mungkin mendorong seseorang jatuh ke titik itu. Yang dilihat hanya hasil akhirnya, lalu vonis dijatuhkan.

Padahal, kalau mau jujur, banyak dari kita hanya selangkah berbeda dari orang yang dihakimi. Situasi yang berbeda, tekanan yang sedikit lebih berat, atau dukungan yang tidak ada, bisa saja menempatkan siapa pun di posisi yang sama.

Refleksi ini tidak sedang membenarkan dosa. Salah tetap salah. Tapi ada perbedaan besar antara menilai dan menghakimi. Menilai memberi ruang untuk belajar. Menghakimi menutup pintu empati.

Ironisnya, fokus berlebihan pada dosa orang lain sering membuat kita lalai merawat diri sendiri. Energi habis untuk marah, benci, dan merasa paling benar. Sementara pekerjaan paling berat, berdamai dengan kekurangan diri, ditunda terus.

Ada ketenangan yang berbeda ketika seseorang mulai berani mengakui, aku juga pendosa. Bukan dengan bangga, tapi dengan rendah hati. Dari situ, pandangan berubah. Bukan lagi “aku lebih baik”, tapi “kita sama-sama berjuang”.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

Kembali Untuk Mengeluh

Lama tidak ada kabar. Blog ini seperti sudah tidak berpenghuni ya.... Baru kemarin saya ingat kalau punya blog ini. Seandainya tidak ingat akan seseorang dan kenangan tentangya, mungkin saya juga akan melukapan blog ini entah sampai kapan. Dan sekarang saya jadi kangen untuk menulis di blog ini lagi. Saya tidak yakin akan menulis apa pada blog ini. Setelah lama vakum, saya juga bingung mau mengisi tulisan tentang apa. Tapi sepertinya kembali ke khittah, bahwa blog ini adalah tempat curhatan dan keluh kesah saya. Mungkin isinya akan lebih banyak kegalauan-kegalauan seperti biasa, yang tidak jelas maunya apa. Entahlah! Ingin menulis keluargaku, saya tidak yakin harus menceritakan masalah keluarga. Saya tidak ahlinya. Saya suka tulisan tentang patah hati, meski tidak ada hubungan dengan saya, tapi ngalir saja kalo nulis tentang patah hati. Kadang suka iri dengan blogger yang bisa cerita panjang lebar tentang apa yang dipikirkan, saya pasti kesulitan. Jadi saya hanya akan nulis se...

Sebulan Menjadi Ayah

Sebuln lebih saya tidak menengok blog ini. Stelah menegok sebentar, ternyata ada perubahan tampilannya. Sempat sedikit binggung juga sebenarnya, tapi tak sampai 15 menit untuk langsung memahami. Ternyata memang ada sedikit perubahan, lebih mudah menurutku. Btw, sebenarnya sudah berhari-hari ingin membuat tulisan lagi. Tapi karena kesibukan dan keramaian aktivitas beberapa hari ini, keinginan untuk menulis jadi terhambat sedikit. Mumpung hari ini ada luang, saya coba-coba lagi buat ngepost dan mengupdate blog. Kasihan, lama punya blog kok malah tak terjamah. Pengen cerita banyak sebenarnya, tapi khusus hari ini mulai dari ini saja dulu. Postingan lainnya mungkin akan sedikit flashback, karena pengalamannya banyak yang sudah terjadi. Khusus hari ini, saya ingin cerita tentang pengalaman menjadi seorang ayah bagi putri saya, Zara. Yup, saat ini status saya memang sudah berubah, dari sendiri menjadi berdua. Dari berdua, menjadi bertiga. Orrang ketiga yang hadir di kehidupan...