Ada banyak sekali skenario yang kususun diam-diam di kepalaku. Adegan demi adegan, lengkap dengan dialog yang terasa begitu lancar dan meyakinkan. Dalam bayanganku, aku bisa berdiri tenang di depannya, menatap tanpa gugup, menyapa lebih dulu dengan kalimat ringan tapi berkesan. Kadang kubayangkan percakapan kami mengalir seperti sungai yang tidak tersendat—tentang hal sederhana, tentang hari yang melelahkan, tentang sesuatu yang membuatnya tertawa. Di dalam kepala, semuanya rapi. Aku tahu kapan harus tersenyum, kapan harus bercanda, bahkan kapan harus menatap sedikit lebih lama.
Tapi hidup rupanya tidak berjalan seperti naskah yang kusiapkan.
Setiap kali benar-benar berhadapan dengannya, semua skenario itu seperti menguap begitu saja. Hilang tanpa jejak. Yang tersisa hanya jantung yang berdetak terlalu keras dan tenggorokan yang mendadak terasa kering. Kata-kata yang tadi berbaris rapi berubah jadi kosong. Aku berdiri di situ, canggung, seperti aktor yang lupa dialognya sendiri.
Padahal beberapa kali justru dia yang mencoba membuka jalan.
Sapaan ringan. Basa-basi sederhana. Pertanyaan kecil yang sebenarnya bisa menjadi pintu masuk ke percakapan yang lebih panjang. “Lagi sibuk apa?” atau “Tadi rapatnya lama ya?” Kalimat-kalimat biasa, yang seharusnya mudah kujawab dengan santai. Tapi entah kenapa, setiap kali momen itu datang, aku malah menjawab sekenanya. Singkat. Seperlunya. Seolah aku ingin segera mengakhiri.
“Iya.”
“Lumayan.”
“Biasa aja.”
Jawaban-jawaban yang tidak memberi ruang untuk dilanjutkan.
Aku tahu, aku sadar betul, dari cara dia akhirnya mengangguk kecil dan menghentikan usahanya. Ada jeda yang terasa janggal setelah itu. Seperti pintu yang sudah dibuka sedikit, tapi kututup lagi pelan-pelan dari dalam. Lama-lama dia pun menyerah. Sapaan itu tak lagi sesering dulu. Kami kembali pada pola yang sama: saling melihat dari jauh, saling tahu keberadaan, tapi tak benar-benar sampai.
Dan anehnya, justru di situlah obsesi kecil itu tumbuh. Keinginan agar ada kemajuan. Agar hubungan ini tidak terus stagnan di titik yang sama—sekadar saling pandang, sekadar basa-basi yang menggantung.
Aku sering bertanya pada diri sendiri, sebenarnya aku ini takut apa?
Takut salah bicara? Takut terlihat terlalu berharap? Atau takut jika percakapan itu benar-benar mengalir, lalu aku tak lagi bisa pura-pura biasa saja?
Karena mungkin yang paling menakutkan bukanlah kebisuan itu sendiri, melainkan kemungkinan bahwa jika hubungan ini bergerak maju, ia akan menuntut keberanian yang lebih besar. Keberanian untuk jujur pada perasaan. Keberanian untuk menerima jika ternyata responsnya tidak seperti yang kuharapkan.
Tapi jika terus seperti ini, bukankah aku juga sedang memilih diam sebagai jawaban?
Mungkin kemajuan itu tidak perlu dimulai dengan kalimat besar atau pengakuan dramatis. Mungkin cukup dengan satu perubahan kecil: memberi jawaban yang sedikit lebih panjang. Menambahkan satu pertanyaan balik. Membiarkan percakapan hidup satu menit lebih lama dari biasanya. Tidak lari dari jeda, tidak buru-buru mengakhirinya.
Karena hubungan apa pun, bahkan yang paling samar sekalipun, tetap butuh ruang untuk bernapas.
Dan selama aku terus bersembunyi di balik kebisuan, selama itu pula semua skenario di kepalaku akan tetap menjadi adegan yang tak pernah dipentaskan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!