Tuesday, March 30, 2010

Ayo, Cerita. Aku Mau Dengar



Malam telah larut. Lampu kamar pun sudah lama aku matikan tapi mata ini sepertinya tak mau terpejam. Banyak pikiran berkecamuk yang sepertinya inilah yang membuat mataku tak mengantuk. Hanya suara nafas dan detak jantung kami yang terdengar. Istriku sepertinya sudah terlelap cukup lama. Ingin berbagi dengannya tapi aku tak ingin menambah masalahnya. Terkadang, sebagai pria aku ingin sekali berbagi cerita tentang masalahku. Ingin diperhatikan, ingin didengar kemarahanku. Ingin didengar harapan dan kekhawatiranku. Ingin dia bisa menunjukkan dia mencintaiku dan selalu ada untuk menghiburku. Aku ingin ....

"Honey, sudah tidur?" sapanya ketika aku masih sibuk dengan fikiran-fikiranku.

"Belum." Jawabku masih dalam posisi membelakanginya.

"Boleh aku tanya sesuatu?" tanyanya.

"Ya"

"Apakah kau masih mencintaiku?"

Ku balikkan tubuhku dan mendekatinya. Kulingkarkan tanganku, mendekap tubuhnya.

"Kenapa kau tanya seperti itu?" tanyaku kemudian setelah ku berhasil merengkuh tubuhnya dalam pelukanku.

"Karena akhir-akhir ini sepertinya kau bersikap lain padaku. Sepertinya....., sepertinya kau sedang marah padaku." katanya berhati-hati, tak ingin menyinggung perasaanku.

"Apakah kau mengira aku marah padamu?" Sebuah kecupan lembut aku berikan di leher dekat telinganya. Aku ingin dia tahu, bahwa aku tak marah padanya.

"Iya. Kau lebih banyak diam sekarang. Tidak gampang mengajakmu untuk ngobrol seperti biasanya."

"Benarkah?"

Dia membalikkan tubuhnya kemudian memelukku, "Honey, aku takut kehilanganmu."

Ku kecup keningnya dan berucap lirih padanya, "Mee too...."

"Maaf telah membuatmu berfikiran seperti itu. Tak terbesit sedikitpun dihatiku untuk meninggalkanmu. Kau tahu, cintaku tetap untukmu. Tak akan berpaling aku darimu."

Ku kecup keningnya sekali lagi. "Hanya sedikit masalah dengan teman-temanku saja. Tak ada yang lain."

"Kenapa tak cerita padaku ?"

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya, "Kau tahu, Honey. Aku hanya tak ingin menambah masalahmu." Jawabku.

"Ayo, ceritalah, Aku mau dengar."

Malam kian larut. Di tengah dinginnya malam itu, kebekuan dalam hubungan kita telah mencair. Kini aku tahu, pasangan kita bisa saja mengalami hari yang buruk. Dengan sikap dan ucapan kita bisa mendengarkan ceritanya.

Memposisikan sebagai pasangan yang siap mendengarkan kemarahan, harapan, dan kekhawatirannya, maka kita akan lebih dekat dengan pasangan kita. Kemampuan mendengar adalah hal yang paling diinginkan pasangan. Berikan respons simpatik dan ajukan juga pertanyaan. Sikap ini menunjukkan bahwa kita mencintainya dan selalu ada untuknya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!