Antara Percaya dan Curiga
Ada masanya aku merasa lidahku seolah terkunci rapat. Bukan karena tidak punya cerita, tapi karena aku belajar dari pengalaman: semakin banyak yang tahu, semakin besar pula risiko disalahartikan atau disebarkan ke mana-mana. Aku pernah merasa aman saat bicara, merasa lega ketika ada yang mendengar, lalu beberapa waktu kemudian cerita itu berbalik arah dan jadi bahan obrolan di belakangku. Rasanya perih. Seperti ditikam diam-diam. Sejak saat itu, aku mulai menimbang setiap kata yang keluar dari mulutku. Aku belajar bahwa tidak semua telinga pantas menjadi tempat singgah rahasia.
Lucunya, orang-orang yang suka menyebar cerita itu pandai sekali menyamar. Mereka datang dengan wajah penuh simpati, dengan kata-kata lembut, seolah-olah siap menjadi pendengar setia. Mereka mengangguk, pura-pura memahami, memberi janji tidak akan ada satu pun yang bocor. Tapi entah kenapa, waktu selalu membongkar siapa sebenarnya mereka. Rahasiaku akhirnya berkeliling, berputar ke telinga-telinga lain, kadang sampai ke orang yang tak pernah kuinginkan tahu. Saat itu aku hanya bisa diam, menelan pahit sendiri, lalu tersenyum getir sambil berkata, “Ah, aku seharusnya tahu sejak awal.”
Kemarin, seseorang datang lagi. Katanya dia ingin mendengar. Katanya dia bukan seperti yang dulu. Katanya, kali ini aman. Tapi aku ragu. Ada bagian dari diriku yang ingin percaya, ingin sekali merasa lega dengan menumpahkan semua yang sesak di dada. Namun ada pula bagian lain yang curiga, yang teringat luka-luka lama. Aku bimbang: apakah kali ini aku harus memberi kesempatan, atau justru menutup rapat pintu agar tidak mengulang kesalahan?
Rasanya seperti berdiri di perempatan jalan. Satu jalur menawarkan kelegaan, tapi dengan risiko dihianati. Jalur lain menawarkan keselamatan, tapi dengan konsekuensi memendam segalanya sendiri. Aku tidak tahu mana yang lebih melelahkan: berbagi lalu disebarkan, atau menyimpan lalu meledak dalam diam. Yang jelas, aku semakin sadar kalau manusia itu rumit. Mereka bisa berubah-ubah wajah, bisa baik di depan tapi menikam di belakang. Dan aku tidak tahu siapa yang benar-benar tulus, siapa yang hanya sekadar mampir.
Mungkin inilah alasan kenapa semakin dewasa, lingkar pertemanan kita semakin kecil. Bukan karena kita tidak ingin punya teman, tapi karena kita terlalu lelah untuk mengulang luka yang sama. Kita mulai belajar menghitung siapa yang bisa dipercaya, siapa yang hanya sekadar numpang tahu. Kita mulai mengerti, menjaga hati sendiri kadang lebih penting daripada mencari pengakuan atau pengertian orang lain.
Aku masih bertanya-tanya dalam hati: kalau ada yang datang lagi dengan janji serupa, apakah aku akan percaya? Ataukah aku akan tersenyum sopan, mendengarkan mereka bicara, lalu memilih untuk tetap diam? Mungkin jawabannya tidak sederhana. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan lagi menaruh seluruh hatiku di tangan orang lain. Sebab aku sudah tahu, tidak semua telinga benar-benar berniat mendengar. Ada yang hanya ingin tahu, lalu menyebar. Dan aku tak ingin lagi jadi korban kedua kalinya.
sumber foto
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!