Ada masa ketika kebahagiaan tidak benar-benar hilang, tapi seperti menjauh.... tidak bisa disentuh, tidak bisa dirasakan utuh. Ia ada di sekitar, orang lain merayakannya, tapi ketika sampai padaku, rasanya hambar. Dan anehnya, itu justru terjadi di bulan yang katanya penuh berkah, penuh kehangatan, penuh kebahagiaan: Ramadhan.
Beberapa hari ini, aku menjalani semuanya seperti biasa. Bangun sahur, berpuasa, salat, tarawih, bahkan sesekali ikut kegiatan kecil yang seharusnya menyenangkan. Tapi di dalam, rasanya datar saja. Tidak ada lonjakan rasa, tidak ada haru yang biasanya datang tiba-tiba. Bahkan hal-hal yang dulu sederhana tapi membahagiakan..... seperti duduk lama setelah salat, atau membaca beberapa ayat dengan tenang.... sekarang terasa seperti rutinitas yang dijalani tanpa rasa.
Aku mulai bertanya-tanya, ada apa denganku?
Apa ini yang disebut anhedonia, ketika hal-hal yang seharusnya menyenangkan tidak lagi terasa menyenangkan? Aku tidak merasa sedih yang dalam, tapi juga tidak merasa bahagia. Seperti berdiri di tengah-tengah, tanpa arah yang jelas. Dan jujur saja, itu lebih membingungkan daripada sekadar merasa sedih.
Karena kalau sedih, setidaknya aku tahu apa yang harus dirasakan.
Tapi ini? Kosong.
Ramadhan yang seharusnya jadi momen refleksi dan perbaikan diri malah terasa seperti hari-hari biasa yang dibungkus dengan label “spesial”. Aku melihat orang-orang berbagi cerita tentang betapa hangatnya buka bersama, betapa tenangnya malam-malam mereka, betapa dekatnya mereka dengan Tuhan. Sementara aku hanya bisa mengangguk dalam diam, seolah-olah ikut merasakan, padahal di dalam, tidak banyak yang berubah.
Kadang aku merasa bersalah.
Seolah-olah aku tidak cukup bersyukur.
Tidak cukup berusaha.
Tidak cukup “hidup” untuk merasakan semua itu.
Tapi di sisi lain, aku juga tahu bahwa perasaan bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Aku tidak bisa tiba-tiba merasa bahagia hanya karena seharusnya begitu.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!