Kadang yang paling melelahkan dari hidup bukanlah apa yang kita jalani, tapi apa yang kita pikirkan setelahnya. Pikiran-pikiran kecil yang datang diam-diam, lalu menumpuk tanpa permisi. Mungkin itu juga yang sedang terjadi padaku, iman yang naik turun, lalu disusul rasa malu yang pelan-pelan mengendap. Dan dari situlah semuanya bercabang..... ke banyak pertanyaan, banyak kemungkinan, banyak “seharusnya” yang tidak pernah selesai.
Beberapa hari ini, aku merasa kepalaku lebih ramai dari biasanya. Bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena terlalu banyak yang kupikirkan. Tentang ibadah yang terasa biasa saja. Tentang niat yang kadang kuat di awal, lalu mengendur di tengah jalan. Tentang diri sendiri yang seperti berjalan di tempat. Dan anehnya, bukan lelah yang datang pertama kali, tapi malu.
Malu karena merasa tidak konsisten.
Malu karena merasa seharusnya bisa lebih baik.
Malu karena melihat orang lain tampak lebih “jadi”.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, siapa juga yang benar-benar tahu isi hati orang lain? Yang terlihat khusyuk belum tentu tanpa perjuangan. Yang terlihat rutin belum tentu tanpa jeda. Tapi entah kenapa, perbandingan itu tetap saja datang tanpa diundang. Dan setiap kali itu terjadi, aku seperti sedang menghakimi diri sendiri tanpa jeda.
Itulah mungkin kenapa aku jadi kepikiran banyak hal.
Hal-hal kecil jadi terasa besar. Hal-hal yang sebenarnya biasa saja jadi punya makna berlebihan. Aku mulai mengingat-ingat apa saja yang belum kulakukan, apa saja yang tertunda, apa saja yang tidak sesuai harapan. Seolah-olah satu kekurangan bisa menutupi banyak hal baik yang sebenarnya masih ada.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!