Ramadhan hampir selesai. Hari-harinya tinggal hitungan jari, tapi justru di titik ini aku sering duduk diam dan bertanya pada diri sendiri... sebenarnya apa saja yang sudah kulakukan? Pertanyaan itu tidak datang dengan tenang, tapi dengan nada yang agak menekan. Seolah-olah ada daftar tak terlihat yang harusnya sudah terisi penuh, tapi ketika kubuka, banyak ruang yang masih kosong.
Aku merasa Ramadhan kali ini lewat begitu saja.
Tidak ada momen yang benar-benar terasa “wah”. Tidak ada lonjakan ibadah yang membuatku bangga. Tidak ada pencapaian yang bisa kuceritakan dengan yakin. Bahkan hal-hal sederhana yang dulu terasa hangat, membaca Al-Qur’an dengan tenang, berdoa lebih lama setelah salat, atau sekadar menikmati suasana tarawih, terasa biasa saja. Datar. Seperti hari-hari lain yang hanya kebetulan berada di bulan Ramadhan.
Dan di situlah rasa bersalah itu muncul.
Kenapa setiap tahun rasanya seperti ini? Kenapa selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan? Di awal bulan, aku selalu datang dengan niat yang besar. Ingin lebih baik. Ingin lebih dekat. Ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Tapi di akhir bulan, yang tersisa justru pertanyaan yang sama..... kenapa tidak terasa istimewa?
Kadang aku membandingkan diriku dengan orang lain. Ada yang khatam berkali-kali, ada yang rutin qiyamul lail, ada yang terlihat begitu menikmati setiap ibadahnya. Sementara aku? Masih berjuang melawan rasa malas, masih tertatih menjaga konsistensi, masih sering kehilangan fokus di tengah ibadah.
Aku jadi merasa tertinggal.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!