Kadang yang paling sulit bukan mencari malam yang istimewa, tapi meyakinkan diri bahwa kita pantas menyambutnya. Di tengah banyaknya anjuran untuk mengejar Lailatul Qadar, aku justru sering terdiam, bertanya pelan.... apakah aku benar-benar sedang mencari, atau hanya ikut-ikutan berharap tanpa arah yang jelas?
Ramadhan sudah sampai di ujungnya. Malam-malam terakhir yang katanya penuh kemungkinan itu datang satu per satu. Orang-orang mulai lebih rajin ke masjid, memperpanjang doa, menambah rakaat, mengurangi tidur. Suasananya berubah, lebih sunyi, tapi juga lebih hidup. Ada semacam harap yang menggantung di udara. Tapi di dalam diriku, yang terasa justru sedikit berbeda.
Aku tidak sepenuhnya yakin dengan diriku sendiri.
Bukan tentang benar atau salah, tapi tentang cukup atau tidak. Cukupkah ibadahku selama ini untuk berharap bertemu Lailatul Qadar? Cukupkah usahaku yang sering naik turun ini untuk berharap malam yang katanya lebih baik dari seribu bulan itu hadir dalam hidupku?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diminta.
Dan anehnya, semakin aku mencoba mendekat, semakin aku merasa ada jarak.
Aku tetap datang ke masjid, tetap duduk lebih lama setelah salat, tetap berusaha membaca lebih banyak dari biasanya. Tapi di sela-sela itu, ada suara kecil yang terus berbisik, mengingatkan semua hal yang belum kulakukan. Semua niat yang tertunda. Semua momen ketika aku memilih yang lebih mudah daripada yang lebih baik.
Rasanya seperti datang ke sebuah perayaan besar, tapi merasa bukan bagian dari tamu yang diundang.
Aku jadi ragu, apakah aku benar-benar mencari Lailatul Qadar, atau hanya takut tertinggal dari orang lain yang tampak begitu yakin dalam langkahnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!