Beberapa kali pikiran itu datang, dan anehnya tidak pernah benar-benar sekali lalu selesai. Ia muncul lagi, lalu pergi, lalu kembali di waktu yang tidak terduga. Tentang umur. Tentang waktu yang terus berkurang. Tentang kenyataan bahwa aku tidak lagi berada di titik awal perjalanan. Kadang datang saat sendiri, kadang muncul di sela aktivitas yang sebenarnya biasa saja. Tidak mengganggu secara keras, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak dan berpikir.
Aku tidak sepenuhnya tenggelam dalam pikiran itu. Justru di sisi lain, ada bagian dari diriku yang menolak. Menolak untuk merasa tua. Menolak untuk diperlambat oleh angka. Seolah-olah ada suara dalam diri yang berkata, “belum, belum sekarang.” Dan suara itu cukup kuat. Ia membuatku tetap bergerak, tetap merasa bahwa banyak hal masih bisa dikejar.
Mungkin itu juga yang membuatku tetap pergi ke gym, bahkan setelah tarawih.
Kadang orang lain memilih istirahat setelah ibadah malam, tapi aku justru mengganti baju dan berangkat. Bukan sekadar soal fisik, bukan hanya ingin menjaga bentuk tubuh. Lebih dari itu, ada semacam perlawanan kecil terhadap waktu. Seolah-olah dengan mengangkat beban, dengan menjaga otot tetap bekerja, aku sedang berkata pada diri sendiri bahwa aku masih mampu. Bahwa tubuh ini belum selesai.
Tapi di saat yang sama, aku juga sadar satu hal yang tidak bisa ditawar: usia tidak bisa dibohongi.
Pemulihan tidak secepat dulu. Tenaga tidak selalu stabil. Kadang setelah latihan, tubuh butuh waktu lebih lama untuk kembali seperti semula. Hal-hal kecil itu menjadi pengingat yang jujur, bahwa sekuat apa pun aku mencoba menolak, waktu tetap berjalan dengan caranya sendiri.
Di situlah tarik-menarik itu terasa.
Di satu sisi, ada keinginan untuk terus muda, atau setidaknya merasa muda. Di sisi lain, ada kesadaran yang pelan-pelan mengetuk bahwa hidup sudah berada di fase yang berbeda. Bukan lebih buruk, mungkin, tapi jelas tidak sama.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!