Sejak pulang dari mudik lebaran di rumah mertua kemarin, aku merasa tubuhku seperti berada di wilayah abu-abu yang sulit dijelaskan. Bukan sakit yang jelas sampai harus benar-benar rebahan seharian, tapi juga jauh dari kata sehat. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak cukup kuat untuk disebut sakit secara meyakinkan. Tubuh tetap bergerak, aktivitas tetap berjalan, tapi semuanya terasa lebih berat dari biasanya.
Awalnya aku mengira ini hanya kelelahan biasa. Perjalanan mudik, perubahan rutinitas, jadwal tidur yang berantakan, suasana rumah yang ramai, interaksi yang tidak berhenti....s emuanya seperti menumpuk tanpa sempat diberi jeda. Saat masih di sana, tubuh mungkin terlalu sibuk untuk protes. Baru setelah pulang, ketika ritme mulai melambat, keluhan itu muncul satu per satu, pelan tapi konsisten.
Badanku terasa pegal di tempat-tempat yang tidak spesifik. Kadang kepala terasa berat, kadang tenggorokan seperti tidak nyaman, kadang badan terasa hangat meski tidak benar-benar demam. Ada hari ketika energiku terasa cukup untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi di saat yang sama ada rasa lelah yang tidak sepenuhnya hilang. Seperti baterai yang masih punya sisa daya, tapi tidak pernah terisi penuh.
Yang membuatnya aneh, kondisi ini tidak cukup parah untuk disebut sakit, tapi cukup mengganggu untuk membuatku sadar bahwa tubuhku sedang tidak baik-baik saja. Aku masih bisa beraktivitas, masih bisa bekerja, masih bisa menjalani hari seperti biasa. Tapi setiap gerakan terasa sedikit lebih lambat, setiap tugas terasa sedikit lebih berat, dan setiap malam terasa seperti tubuhku meminta istirahat lebih lama dari biasanya.
Mungkin ini kombinasi dari banyak hal: perjalanan, kelelahan fisik, kelelahan emosional, perubahan suasana, bahkan pikiran yang belum benar-benar tenang. Tubuh seolah-olah menjadi tempat semua itu berkumpul, lalu mengirim sinyal halus bahwa ia butuh waktu untuk pulih.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!