Beberapa waktu ini aku ikut beberapa program sedekah. Ada sedekah untuk berbuka anak yatim, ada program dari kantor yang menggalang dana Ramadan, lalu di desa juga ada kotak sumbangan yang diedarkan dari rumah ke rumah. Namaku tercatat di beberapa daftar. Tanganku ikut bergerak. Uang berpindah. Secara kasat mata, aku termasuk yang “ikut berpartisipasi”.
Tapi jujur saja, di balik semua itu, ada suara kecil yang tidak selalu mulia.
Setiap kali ada ajakan sedekah baru, pikiranku otomatis mulai menghitung. Sudah berapa yang keluar minggu ini? Bulan ini? Jangan-jangan kebanyakan? Nanti cukup tidak untuk kebutuhan lain? Bahkan kadang aku menunda beberapa menit hanya untuk memastikan nominalnya “aman”. Tidak terlalu kecil agar tidak malu, tapi juga tidak terlalu besar agar tidak terasa berat.
Lucu ya. Sedekah yang seharusnya ringan justru jadi penuh kalkulasi.
Saat ikut sedekah berbuka untuk anak yatim, hatiku hangat membayangkan mereka makan dengan tenang saat maghrib. Tapi di saat yang sama, ada juga rasa waswas yang menyelinap, ini sudah cukup banyak belum? Atau justru terlalu banyak? Ketika kantor mengumumkan program donasi, aku langsung transfer, tapi setelahnya sempat membuka mutasi rekening, menghitung ulang pengeluaran. Di desa pun begitu, ketika panitia datang, aku tersenyum dan memberi, tapi setelah pintu tertutup, aku kembali berpikir, bulan ini lumayan juga ya keluarnya.
Aku tidak bangga mengakuinya. Tapi mungkin memang begitulah kondisiku saat ini.
Aku ingin menjadi orang yang lapang dalam memberi. Yang tidak terlalu sibuk menghitung. Yang percaya bahwa rezeki tidak akan tertukar. Tapi di sisi lain, aku juga manusia yang punya tanggungan, rencana, kekhawatiran. Ada kebutuhan rumah, ada masa depan yang dipikirkan. Dan di antara keinginan untuk ikhlas dan rasa takut kekurangan, aku sering berdiri di tengah-tengah.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri, apakah sedekahku jadi berkurang nilainya karena terlalu banyak perhitungan? Atau justru pergulatan batin ini bagian dari proses belajar ikhlas?
Mungkin selama ini aku membayangkan orang yang bersedekah itu selalu mantap, tanpa ragu, tanpa hitung-hitungan. Padahal bisa jadi banyak juga yang seperti aku, memberi sambil tetap mengalkulasi. Bukan karena tidak mau berbagi, tapi karena masih belajar percaya.
Ada satu momen yang membuatku sedikit tersadar. Saat melihat anak-anak yatim menerima makanan berbuka dengan wajah cerah, atau ketika mendengar laporan program desa yang berjalan lancar karena dana terkumpul cukup, ada rasa lega yang tidak bisa dihitung dengan angka. Rasa itu tidak tercatat di mutasi rekening, tapi jelas terasa di dada.
Mungkin di situlah pelan-pelan aku belajar. Bahwa wajar jika masih ada perhitungan. Wajar jika masih ada takut kebanyakan. Tapi jangan sampai rasa takut itu membuatku berhenti sama sekali. Jangan sampai hitung-hitungan itu lebih besar daripada niat berbagi.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!