Akhir-akhir ini ada satu perasaan yang sulit sekali diabaikan.... aku merasa seperti zombie. Bukan dalam arti dramatis seperti di film-film, tentu saja, tapi lebih seperti berjalan menjalani hari tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Rutinitas tetap berjalan, jam terus bergerak, pekerjaan masih dikerjakan, percakapan masih dijawab. Dari luar, mungkin semuanya terlihat normal. Tapi di dalam, rasanya seperti ada bagian yang dimatikan pelan-pelan.
Aku mulai menyadarinya dari hal-hal kecil. Hal-hal yang dulu terasa menyenangkan, atau setidaknya menarik, sekarang terasa datar. Tidak ada dorongan kuat untuk memulai sesuatu, tidak ada rasa penasaran yang biasanya muncul tanpa diminta. Hari-hari terasa seperti daftar tugas yang harus dicentang satu per satu, bukan ruang hidup yang ingin dijelajahi. Aku tetap bergerak, tapi tanpa arah yang benar-benar kupilih.
Dan entah kenapa, pikiranku selalu kembali pada kejadian pembunuhan karakter itu. Sejak peristiwa itu, ada sesuatu yang berubah dalam cara aku memandang diri sendiri. Sebelumnya, aku mungkin masih punya keyakinan kecil tentang siapa diriku dan apa yang bisa kulakukan. Tidak selalu percaya diri, tentu saja, tapi setidaknya ada fondasi yang terasa cukup kokoh untuk berdiri. Sekarang fondasi itu terasa retak.
Yang paling terasa adalah keraguan yang datang tanpa henti. Dulu, keraguan mungkin datang sesekali, wajar, manusiawi. Sekarang ia seperti teman tetap yang selalu ikut ke mana pun aku pergi. Setiap ingin memulai sesuatu, ada suara kecil yang langsung bertanya.... “Apa kamu yakin? Apa kamu memang mampu? Apa orang lain juga melihatmu seperti itu?” Suara itu tidak keras, tapi konstan. Dan justru karena konstan, ia melelahkan.
Pelan-pelan, keraguan itu merembet ke banyak hal. Tidak hanya soal orang lain, tapi juga soal potensi diri sendiri. Aku mulai mempertanyakan kemampuan yang dulu terasa biasa saja. Hal-hal yang dulu bisa kulakukan tanpa banyak berpikir, sekarang terasa berat untuk dimulai. Seolah-olah kepercayaan diri yang dulu ada, kini harus dicari kembali dari nol, atau bahkan dari minus.
Ada hari-hari ketika aku mencoba memaksa diri untuk kembali seperti dulu. Mencari motivasi, membaca sesuatu yang inspiratif, mencoba mengingat apa yang dulu membuatku bersemangat. Tapi sering kali, usaha itu terasa seperti menyalakan lampu di ruangan yang kabelnya belum tersambung. Niatnya ada, tapi energinya tidak mengalir.
Di momen-momen seperti itu, kata “zombie” terasa paling mendekati. Bukan karena hidupku berhenti, tapi karena rasanya seperti berjalan tanpa rasa. Tanpa keinginan yang jelas, tanpa ketertarikan yang kuat. Hanya menjalani hari demi hari karena memang hari itu datang, bukan karena aku benar-benar ingin menyambutnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!