Ada rasa yang datang diam-diam di penghujung Ramadhan, bukan lagi tentang lapar atau haus, tapi tentang waktu yang terasa semakin sempit. Hari-hari yang dulu terasa panjang, sekarang seperti berlari. Dan di tengah itu semua, aku justru sibuk bertanya.... bagaimana kalau Ramadhan ini pergi sebelum aku benar-benar siap berubah?
Perasaan itu tidak datang sekali. Ia muncul berkali-kali, terutama saat malam mulai sepi dan aku punya cukup ruang untuk berpikir. Aku melihat ke belakang, mencoba mengingat apa saja yang sudah kulakukan selama bulan ini. Tapi bukannya merasa lega, aku justru merasa seperti belum sampai ke mana-mana.
Masih banyak yang tertunda.
Masih banyak yang setengah-setengah.
Masih banyak yang hanya sebatas niat.
Aku jadi sadar, ternyata berubah itu tidak semudah membuat daftar di awal Ramadhan. Tidak cukup hanya dengan semangat di hari pertama, atau janji-janji kecil yang ditulis dalam hati. Ada bagian dari diriku yang masih sama, yang masih menunda, masih mencari alasan, masih memilih yang nyaman daripada yang benar-benar membawa perubahan.
Dan itu membuatku takut.
Takut kalau Ramadhan selesai, tapi aku tetap seperti ini.
Takut kalau semua kesempatan ini lewat begitu saja, tanpa benar-benar meninggalkan jejak dalam diriku.
Kadang aku mencoba menenangkan diri dengan berpikir, “masih ada waktu.” Tapi semakin ke sini, kalimat itu terasa seperti penghiburan yang mulai kehilangan makna. Karena kenyataannya, waktu itu tidak pernah benar-benar menunggu. Ia terus berjalan, entah aku siap atau tidak.
Di satu sisi, aku ingin berubah. Sungguh.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!