Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya seberapa introvertnya aku ini.
Pertanyaan itu muncul bukan karena ada yang menilai, tapi karena aku sendiri mulai menyadari pola yang berulang, sebuah kebiasaan yang begitu konsisten sampai terasa seperti ritual diam-diam yang tidak pernah kusengaja, namun terus kulakukan.
Sudah empat bulan aku menjadi anggota gym. Empat bulan dengan rutinitas yang nyaris tidak pernah berubah. Setiap hari, kecuali Minggu karena tempat itu tutup, aku datang di jam yang sama, sekitar pukul tiga sore. Waktu yang menurutku cukup aman. Tidak terlalu pagi, tidak terlalu malam. Cukup ramai, tapi tidak terlalu penuh. Cukup hidup, tapi masih memberi ruang bagi seseorang sepertiku untuk bersembunyi di antara mesin-mesin latihan.
Ramadhan kemarin pilih latihan di jam abis terawih biar aman.
Aku datang, melakukan latihan selama satu jam lebih sedikit, lalu pulang. Begitu terus, seperti jarum jam yang tidak pernah lupa pada arah putarnya.
Yang aneh, dalam rentang waktu sepanjang itu, aku tidak pernah benar-benar berbicara dengan siapa pun di sana. Tidak pernah. Bahkan sekadar obrolan ringan yang biasanya terjadi di tempat umum, sapaan basa-basi, komentar soal cuaca, atau pertanyaan sederhana seperti, “Masih dipakai alatnya?”, semuanya seperti tidak pernah ditujukan kepadaku, atau mungkin aku yang selalu berhasil menghindarinya.
Aku punya kebiasaan kecil yang baru kusadari belakangan ini, aku jarang menatap wajah orang. Jika ada orang lewat, mataku otomatis turun sedikit, cukup untuk melihat langkah kaki mereka, bukan mata mereka. Seolah-olah ada aturan tak tertulis di dalam kepalaku bahwa tatapan mata adalah undangan. Dan undangan berarti percakapan. Dan percakapan berarti wilayah yang tidak sepenuhnya kupahami cara menavigasinya.
Jadi aku memilih melihat lantai, sepatu, atau angka-angka di panel mesin treadmill. Hal-hal yang tidak mungkin mengajakku berbicara.
Beberapa kali, sebenarnya aku sadar ada orang yang mencoba mendekat. Bukan mendekat secara dramatis, hanya berdiri lebih lama di dekat alat yang kupakai, atau melontarkan pertanyaan ringan yang sebenarnya sangat wajar. Pertanyaan yang bagi kebanyakan orang mungkin hanya pembuka obrolan biasa. Namun bagiku, pertanyaan-pertanyaan itu terasa seperti pintu yang tiba-tiba terbuka di ruangan yang selama ini kukunci rapat.
Aku menjawab. Selalu menjawab. Tapi jawabanku pendek. Terlalu pendek, mungkin. Seperti kalimat yang sengaja dipotong sebelum sempat tumbuh. Ada jeda kecil setelah jawabanku, jeda yang mungkin diharapkan akan diisi dengan kalimat lanjutan, pertanyaan balik, atau setidaknya senyum yang lebih lama. Tapi jeda itu selalu kubiarkan kosong. Dan dalam kekosongan itu, percakapan biasanya selesai dengan sendirinya.
Kadang aku merasa bersalah setelahnya. Bukan karena aku tidak sopan, tapi karena aku tahu aku sengaja tidak memberi ruang. Aku seperti orang yang membuka pintu hanya cukup untuk mengatakan “iya” lalu segera menutupnya lagi sebelum orang di luar sempat bertanya lebih jauh.
Aneh rasanya, karena aku tidak benar-benar ingin sendirian. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara tidak sendirian tanpa merasa kewalahan. Ada bagian dari diriku yang nyaman dengan keheningan, dengan rutinitas yang tidak berubah, dengan kehadiran orang lain yang cukup menjadi latar belakang tanpa harus menjadi bagian dari cerita. Namun ada juga bagian kecil yang bertanya-tanya seperti apa rasanya jika suatu hari aku berhenti melihat lantai, dan mulai melihat wajah.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!