Hari Ini Meragukan, Besok Meyakinkan
Aku takut sebenarnya aku salah mengartikan semuanya. Dari sekian banyak kekhawatiran yang berputar-putar di kepalaku, mungkin yang paling besar justru kemungkinan bahwa perasaan ini hanya tumbuh di tempatku. Bahwa selama ini aku sibuk membaca gerak-geriknya, menyusun potongan-potongan kecil menjadi sebuah cerita, sementara baginya semua itu mungkin tidak pernah sedalam yang kubayangkan. Pikiran itu kadang datang diam-diam, terutama ketika aku sedang sendirian dan mulai mempertanyakan kembali semua yang selama ini kuanggap sebagai tanda. Jangan-jangan aku hanya terlalu ingin percaya bahwa ada sesuatu di antara kami, sampai hal-hal biasa pun terlihat seperti sesuatu yang istimewa.
Sebab kalau dipikir-pikir lagi, dari perspektifku sekarang, dia mungkin hanya sedang mencari perhatian. Itu saja. Aku tidak benar-benar tahu apakah perhatian itu lahir dari rasa suka atau sekadar kebiasaan, keisengan, rasa penasaran, atau bahkan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan denganku. Dan di situlah masalahnya. Aku tidak punya satu pun kepastian yang bisa benar-benar kupegang. Semua masih berupa dugaan. Tatapan yang mungkin berarti sesuatu, gerakan yang mungkin disengaja, keberadaannya di tempat-tempat tertentu yang mungkin memang kebetulan. Semuanya bisa kutafsirkan ke arah yang kuinginkan, tetapi semuanya juga bisa dijelaskan dengan cara yang berbeda.
Seperti hari ini, misalnya. Kami justru berada cukup dekat. Jarak yang biasanya membuatku bisa melihat banyak tanda darinya terasa tidak terlalu berarti ketika kami sudah sedekat itu. Aku tidak melihat banyak hal seperti biasanya. Tidak terlalu banyak curi-curi pandang. Tidak ada gerakan yang begitu kentara untuk membuatku berpikir, nah, itu pasti untukku. Hari ini justru terasa biasa saja. Dan anehnya, keadaan seperti itu malah membuatku semakin bingung. Apakah memang tidak ada apa-apa? Ataukah justru karena kami sudah cukup dekat sehingga dia merasa tidak perlu lagi melakukan apa pun untuk mendapatkan perhatianku?
Mungkin begitu.
Mungkin ketika seseorang sudah berada cukup dekat, dia tidak lagi perlu membuat dirinya terlihat. Aku toh sudah bisa melihatnya. Tidak perlu sengaja berjalan melintas. Tidak perlu mencari posisi agar masuk ke dalam pandanganku. Tidak perlu mencuri-curi tatapan dari kejauhan karena keberadaannya memang sudah berada dalam jangkauan mataku. Barangkali justru jaraklah yang membuat semua tingkah itu muncul.
Karena aku memang lebih sering melihatnya seperti itu ketika kami berjauhan.
Dia berada di ujung ruangan, tetapi seperti berusaha membuat dirinya masuk ke dalam perhatianku. Dia berada di tempat lain, tetapi masih dalam lokasi yang sama, dan entah bagaimana selalu ada saja gerakan yang membuatku sadar bahwa dia ada. Dari jauh, seolah-olah dia membutuhkan alasan agar aku melihatnya. Tetapi ketika kami sudah berada cukup dekat, semuanya mendadak tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Dan aku kembali bertanya-tanya.
Apakah ini sebenarnya tanda bahwa dia menyukaiku?
Atau justru tanda bahwa selama ini aku terlalu banyak membaca sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dikirimkan kepadaku?
Aku tidak tahu.
Yang paling melelahkan dari perasaan seperti ini ternyata bukan rindunya, bukan debarannya, bahkan bukan keinginanku untuk bertemu. Yang paling melelahkan adalah ketidakpastian. Karena setiap kejadian bisa menjadi bukti sekaligus sanggahan dalam waktu yang bersamaan.
Hari ini dia tidak melakukan apa-apa, lalu aku mulai meragukan semuanya.
Besok dia kembali mencari perhatianku, lalu keyakinanku tumbuh lagi.
Begitu terus.
Mungkin memang bukan dia yang membuatku bingung.
Mungkin aku sendiri yang terlalu lama berdiri di antara dua kemungkinan, ingin percaya bahwa dia merasakan sesuatu, tetapi terlalu takut untuk menemukan bahwa ternyata semua itu hanya hidup di kepalaku.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!