Mungkin Aku Memang Introvert dengan Caraku Sendiri
Aku sering bertanya-tanya, sebenarnya aku ini introvert seperti apa? Sebab semakin ke sini, aku merasa diriku memang tidak terlalu cocok dengan keramaian. Bukan berarti aku membenci orang lain atau tidak suka bertemu dengan siapa pun. Hanya saja, setelah terlalu lama berada di tengah banyak orang, rasanya ada energi yang perlahan habis. Pulang ke rumah, masuk kamar, lalu duduk sendirian justru terasa seperti sedang mengisi ulang baterai yang seharian terkuras.
Kalau dipikir-pikir, mungkin aku termasuk social introvert. Aku masih bisa ngobrol, masih bisa tertawa, masih bisa berada di tengah beberapa orang, tetapi aku jauh lebih nyaman kalau jumlahnya tidak terlalu banyak. Obrolan berdua atau bertiga terasa lebih mudah daripada harus berada di ruangan penuh orang dan bingung harus berbicara dengan siapa. Aku tidak terlalu membutuhkan banyak teman. Entah kenapa, lingkaran yang kecil justru terasa lebih aman.
Tapi kadang aku juga merasa seperti thinking introvert. Kepalaku sering terlalu ramai. Ada saja sesuatu yang dipikirkan, diulang-ulang, dianalisis, bahkan untuk hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. Kadang aku sedang duduk diam, tetapi pikiranku seperti sedang berjalan ke mana-mana. Memikirkan percakapan yang sudah lewat, membaca kembali ekspresi orang, menebak maksud sebuah kalimat, atau membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu pernah terjadi. Dunia di dalam kepala sendiri kadang jauh lebih ramai daripada dunia di luar.
Ada kalanya aku merasa lebih dekat dengan tipe anxious introvert. Bukan karena aku tidak ingin bergaul, tetapi karena berada di sekitar orang lain terkadang membuatku terlalu sadar pada diriku sendiri. Aku bisa memikirkan apakah orang lain sedang memperhatikanku, apakah caraku bicara terdengar aneh, apakah aku salah bersikap, atau apakah keberadaanku sebenarnya mengganggu. Akhirnya, daripada terus memikirkan semuanya, aku memilih diam dan menjauh. Dari luar mungkin terlihat seperti tidak peduli. Padahal di dalam kepala, justru terlalu banyak yang kupedulikan.
Dan mungkin ada sedikit bagian dari diriku yang termasuk restrained introvert. Aku memang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman. Aku tidak bisa langsung akrab dengan seseorang hanya karena baru beberapa kali bertemu. Ada semacam proses panjang sebelum akhirnya aku bisa benar-benar terbuka. Aku lebih suka mengamati dulu, memahami suasana, mengenali orang-orangnya, baru kemudian perlahan ikut masuk ke dalam percakapan.
Mungkin selama ini aku terlalu sering menganggap sifat-sifat itu sebagai kekurangan. Aku melihat orang lain yang mudah bergaul, punya banyak teman, gampang bercanda dengan siapa saja, lalu bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa seperti mereka. Padahal mungkin memang tidak harus begitu. Barangkali caraku menjalani hubungan dengan orang lain memang berbeda.
Aku tidak harus menjadi orang yang paling ramai di ruangan. Aku juga tidak harus memaksa diri untuk selalu terlihat mudah bergaul. Kalau setelah bertemu banyak orang aku membutuhkan waktu untuk kembali sendirian, mungkin itu memang bagian dari diriku.
Aku masih belajar memahami hal itu. Tidak selalu berhasil, tentu saja. Tetapi setidaknya sekarang aku mulai mencoba berdamai dengan caraku sendiri. Mungkin menjadi introvert bukan tentang menjauh dari dunia, melainkan tentang menemukan jarak yang membuatku tetap bisa hidup nyaman di dalamnya.


Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!