Hari Senin ini dimulai dengan kebiasaan yang bahkan tak lagi ingin kuakui sebagai kebiasaan. Berkali-kali aku melongok ke arah pintu masuk. Tidak terang-terangan, tentu saja. Hanya sekilas, seolah sedang mencari sesuatu yang lain. Seolah-olah mataku kebetulan saja terseret ke sana. Padahal aku tahu persis apa yang kutunggu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu hitungannya hilang. Menjadi refleks. Seperti napas yang tidak lagi dihitung.
Setiap kali pintu terbuka, jantungku sedikit naik, lalu kembali turun ketika yang muncul bukan dia. Ada orang lain, lalu orang lain lagi. Wajah-wajah yang familiar tapi tidak sedang kucari. Aku mencoba menertawakan diriku sendiri dalam hati. Betapa konyolnya berharap pada sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan.
Jam berjalan pelan hari itu. Terlalu pelan.
Sampai waktu istirahat datang, dan kursinya masih kosong.
Di situlah pikiranku mulai bekerja terlalu jauh. Apakah dia sakit? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah dia sengaja tidak datang? Apakah ini kebetulan, atau keputusan? Pertanyaan-pertanyaan kecil mulai bermunculan, lalu beranak pinak tanpa izin. Aku mencoba menepisnya, tapi semakin disangkal, semakin keras suaranya di kepala.
Aku tidak ingin peduli, tapi nyatanya aku peduli.
Sepanjang siang, aku mencoba sibuk dengan hal-hal yang bisa kupakai sebagai alasan. Pekerjaan. Ponsel. Obrolan seperlunya. Apa saja yang bisa membuatku terlihat normal. Tapi di sela-sela itu, mataku tetap sesekali mencari pintu. Seperti kebiasaan yang sudah tertanam terlalu dalam untuk dihentikan begitu saja.
Sampai sore datang.
Dan dia tetap tidak muncul.
Perasaan yang aneh mulai merayap. Bukan sedih, bukan kecewa. Lebih seperti hampa yang tipis. Hari ini ternyata akan berlalu tanpa adegan apa pun. Tanpa absurditas kecil yang biasanya bisa kuceritakan ulang dalam kepalaku sebelum tidur.
Aku mulai berkemas lebih cepat dari biasanya. Tidak ada alasan untuk menunda pulang. Tidak ada sesuatu yang perlu kutunggu. Hari ini sudah selesai, kataku pada diri sendiri, mencoba menerima kesimpulan yang terasa terlalu datar.
Tas sudah di pundak. Kursi sudah didorong masuk. Aku berdiri, siap meninggalkan ruangan dengan hari yang terasa kosong.
Lalu seseorang lewat di belakangku.
Aku tidak tahu kenapa, tapi tubuhku langsung sadar sebelum pikiranku sempat mengejar. Ada rasa familiar yang sulit dijelaskan, seperti intuisi yang bekerja tanpa diminta. Refleks, aku mendongak.
Dan di sana dia.
Benar-benar dia.
Seolah muncul dari celah waktu yang salah. Datang tepat ketika hari hampir habis, ketika aku sudah tidak menunggu lagi, atau setidaknya berpura-pura tidak menunggu.
Aku sempat membeku sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut momen, terlalu lama untuk disebut kebetulan biasa. Tapi semuanya terjadi begitu cepat. Posisku sudah berdiri. Sudah siap pulang. Tidak ada ruang untuk adegan panjang. Tidak ada kesempatan untuk memperlambat waktu seperti biasanya kulakukan dalam bayangan.
Kami hanya saling berada dalam satu ruang yang sama, sebentar saja.
Aku tidak berhenti. Tidak menunda langkah. Tidak mencoba menciptakan kesempatan baru. Ada kelelahan yang aneh di dalam diriku hari itu. Kelelahan menunggu, mungkin. Atau kelelahan berharap pada sesuatu yang selalu datang di waktu yang tidak tepat.
Jadi aku tetap berjalan keluar.
Dan begitulah Senin itu berakhir. Tanpa cerita panjang. Tanpa adegan absurd. Tanpa tatapan yang bisa kupungut dan kusimpan. Hanya sebuah kemunculan singkat di ujung hari, seperti catatan kaki yang terlambat ditambahkan pada halaman yang sudah ditutup.
Ironisnya, justru karena singkat itulah, aku tahu aku akan mengingatnya lebih lama dari yang seharusnya.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!