Kemarin aku sempat merasa lebih berani dari biasanya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, keberanian itu ternyata bukan benar-benar milikku. Ada orang lain di dekatku waktu itu, seseorang yang mengajakku berbincang, dan tanpa sadar kehadirannya menjadi semacam tameng. Aku punya alasan untuk berdiri di sana, untuk terlihat santai, untuk menggerakkan kepala dan arah pandang seolah-olah hanya mengikuti alur percakapan. Padahal diam-diam, di sela kalimat yang keluar dari mulutku, mataku berkali-kali mencari sosoknya. Menatapnya terasa lebih mungkin ketika ada seseorang di sampingku, seolah keberanian bisa dipinjam dari situasi yang kebetulan mendukung.
Hari ini, ketika kami bertemu lagi, tameng itu tidak ada. Tidak ada percakapan yang bisa kugunakan sebagai alasan untuk berdiri lebih lama atau mengalihkan gugupku. Dan seperti yang bisa ditebak, keberanian itu pun ikut menghilang. Aku kembali menjadi versi diriku yang lama, yang terbiasa memalingkan wajah beberapa detik terlalu cepat, yang sibuk mencari hal-hal lain untuk dilihat, yang pura-pura tenggelam dalam aktivitas sekecil apa pun agar tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa dia sedang berada di dekatku.
Beberapa kali dia mencoba mendekat, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku tidak pernah benar-benar tahu mana yang nyata dan mana yang hanya tafsiranku. Yang jelas, setiap kali jarak kami mengecil, aku justru mundur dalam diam. Pandanganku beralih ke arah lain, langkahku mencari alasan untuk bergerak menjauh. Anehnya, semakin aku berusaha terlihat biasa, semakin jelas aku merasa betapa pengecutnya diriku sendiri.
Momen paling canggung terjadi saat pulang. Dia duduk di dekat pintu gerbang, tempat yang tidak mungkin kulewati tanpa berhadapan dengannya. Aku sempat berharap dia tidak melihatku. Aku bahkan berusaha meyakinkan diri bahwa jika aku berjalan cukup cepat, cukup fokus ke depan, mungkin semuanya akan berlalu tanpa tatapan. Tapi kenyataan tidak pernah sesederhana itu.
Saat aku mendongak sekilas, dia sedang melihat ke arahku. Dan dalam satu detik yang terasa terlalu panjang, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Tidak ada alasan untuk menghindar. Kami benar-benar saling bertatap muka. Bukan karena direncanakan, bukan karena diinginkan, tapi karena situasi memaksa kami berada tepat di garis yang sama.
Lalu dia menunduk lebih dulu.
Dan aku, seperti refleks yang sudah terlalu sering kulatih, langsung berpura-pura terburu-buru. Langkahku dipercepat, pintu mobil kubuka dengan gerakan yang mungkin sedikit terlalu cepat, lalu aku masuk tanpa menoleh lagi. Di dalam mobil, di ruang sempit yang tiba-tiba terasa aman, aku mengumpat pelan pada diriku sendiri. Mau sampai kapan seperti ini?
Ada bagian dari diriku yang merasa semua ini sebenarnya sudah selesai bahkan sebelum sempat dimulai. Pesanku yang tidak pernah dibalas itu seperti jawaban yang tidak diucapkan, tapi cukup jelas untuk dimengerti. Sejak saat itu, setiap keberanian terasa seperti melawan sesuatu yang sudah kalah lebih dulu. Bagaimana mungkin aku melangkah maju jika dalam pikiranku, aku sudah berdiri di titik penolakan?
Dan mungkin itulah yang membuat semuanya terasa begitu buntu. Aku tidak benar-benar bergerak maju, tapi juga tidak sepenuhnya mundur. Aku hanya berdiri di tempat yang sama, menatap kemungkinan yang semakin lama semakin kabur, sambil bertanya pada diri sendiri, berapa lama lagi aku akan membiarkan cerita ini berjalan tanpa arah?
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!