Skip to main content

Keberanian Itu Ternyata Bukan Benar-Benar Milikku


Kemarin aku sempat merasa lebih berani dari biasanya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, keberanian itu ternyata bukan benar-benar milikku. Ada orang lain di dekatku waktu itu, seseorang yang mengajakku berbincang, dan tanpa sadar kehadirannya menjadi semacam tameng. Aku punya alasan untuk berdiri di sana, untuk terlihat santai, untuk menggerakkan kepala dan arah pandang seolah-olah hanya mengikuti alur percakapan. Padahal diam-diam, di sela kalimat yang keluar dari mulutku, mataku berkali-kali mencari sosoknya. Menatapnya terasa lebih mungkin ketika ada seseorang di sampingku, seolah keberanian bisa dipinjam dari situasi yang kebetulan mendukung.

Hari ini, ketika kami bertemu lagi, tameng itu tidak ada. Tidak ada percakapan yang bisa kugunakan sebagai alasan untuk berdiri lebih lama atau mengalihkan gugupku. Dan seperti yang bisa ditebak, keberanian itu pun ikut menghilang. Aku kembali menjadi versi diriku yang lama, yang terbiasa memalingkan wajah beberapa detik terlalu cepat, yang sibuk mencari hal-hal lain untuk dilihat, yang pura-pura tenggelam dalam aktivitas sekecil apa pun agar tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa dia sedang berada di dekatku.

Beberapa kali dia mencoba mendekat, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku tidak pernah benar-benar tahu mana yang nyata dan mana yang hanya tafsiranku. Yang jelas, setiap kali jarak kami mengecil, aku justru mundur dalam diam. Pandanganku beralih ke arah lain, langkahku mencari alasan untuk bergerak menjauh. Anehnya, semakin aku berusaha terlihat biasa, semakin jelas aku merasa betapa pengecutnya diriku sendiri.

Momen paling canggung terjadi saat pulang. Dia duduk di dekat pintu gerbang, tempat yang tidak mungkin kulewati tanpa berhadapan dengannya. Aku sempat berharap dia tidak melihatku. Aku bahkan berusaha meyakinkan diri bahwa jika aku berjalan cukup cepat, cukup fokus ke depan, mungkin semuanya akan berlalu tanpa tatapan. Tapi kenyataan tidak pernah sesederhana itu.

Saat aku mendongak sekilas, dia sedang melihat ke arahku. Dan dalam satu detik yang terasa terlalu panjang, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Tidak ada alasan untuk menghindar. Kami benar-benar saling bertatap muka. Bukan karena direncanakan, bukan karena diinginkan, tapi karena situasi memaksa kami berada tepat di garis yang sama.

Lalu dia menunduk lebih dulu.

Dan aku, seperti refleks yang sudah terlalu sering kulatih, langsung berpura-pura terburu-buru. Langkahku dipercepat, pintu mobil kubuka dengan gerakan yang mungkin sedikit terlalu cepat, lalu aku masuk tanpa menoleh lagi. Di dalam mobil, di ruang sempit yang tiba-tiba terasa aman, aku mengumpat pelan pada diriku sendiri. Mau sampai kapan seperti ini?

Ada bagian dari diriku yang merasa semua ini sebenarnya sudah selesai bahkan sebelum sempat dimulai. Pesanku yang tidak pernah dibalas itu seperti jawaban yang tidak diucapkan, tapi cukup jelas untuk dimengerti. Sejak saat itu, setiap keberanian terasa seperti melawan sesuatu yang sudah kalah lebih dulu. Bagaimana mungkin aku melangkah maju jika dalam pikiranku, aku sudah berdiri di titik penolakan?

Dan mungkin itulah yang membuat semuanya terasa begitu buntu. Aku tidak benar-benar bergerak maju, tapi juga tidak sepenuhnya mundur. Aku hanya berdiri di tempat yang sama, menatap kemungkinan yang semakin lama semakin kabur, sambil bertanya pada diri sendiri, berapa lama lagi aku akan membiarkan cerita ini berjalan tanpa arah?

Comments

Popular posts from this blog

Pemilik Akun Asli @poconggg Terbongkar

Kemarin Twitter heboh banget dengan terbongkarnya pemilk akun @poconggg. Siapa sih yang gak kenal poconggg, dia adalah hantu yang tidak biasa, hantu yang seharusnya bertugas menghantui orang, menakut-nakutin orang, ternyata malah paling sering dipermainkan orang. Followernya mencapai ribuan, padahal tidak following siapa pun. Beberapa kali berhasil bikin TT di twitter karena ulanhnya, dan masih banyak lagi.  Malang bener nasib dia. Meski nasibnya sesial itu, sekarang ini dia malah lebih sial lagi karena akun Twitternya terbongkar. Iya, kemaren ada orang yang sakit hati ama @poconggg dan ngebongkar siapa dia sebenarnya. Dulu sih memang pengen tahu yang sebenarnya, siapakah pemilik akun @poconggg. Melihat tweetnya yang lucu-lucu dan menggemaskan, banyak yang ngira kalo pemiliknya adalah penulis buku, Raditya Dika. Tapi secara tegas dia ngebantah, kalo dia adalah pemilik akun @poconggg. Tapi semalem, nggak tau gimana mulainya, ada akun yang ngebongkar siapa @poconggg sebe...

Lorde - Team (Arti Lagu)

Belum lama ini saya sudah memposting sebuah arti lagu yang sangat fenomenal, Lorde – Royal. Dan sampai sekarang saya masih belum percaya, ada banyak alas an kenapa Lorde sekarang jadi perbincangan di barat sana. Saya tak perrlu membahas tentang alas an itu, karena saya bukan blogger yang memperbincangkan berita-berita artis yang di media online sudah pernah dibahas. Buang-buang waktu saja sebenarnya menulis hal yang sudah dimuat dalam berita online besar.   Karena saya tak ingin menjadi blogger seperti itu. Berangkat dari banyaknya view dari postingan sebelumnya, maka kali ini saya ingin menulis tentang single terbaru dari Lorde. Mungkin ada beberapa orang yang tak menyukai tipe lagu yang dibawakan oleh Lorde. Saya pada awlnya jugga begitu, tapi setelah beberapa kali mendengarkan, dan beberapa kali untuk menerjemahkan lagunya, sekarang saya menjadi saah satu penyuka musiknya. Sumpah, keren banget lagu-lagunya. Kali ini adalah single terbaru Lorde-Team . Lagu yang m...

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...