Hari ini aku cukup berani untuk menatap matanya. Benar-benar menatap, bukan sekadar melihat sekilas lalu buru-buru memalingkan wajah seperti hari-hari sebelumnya. Ada keputusan kecil yang terasa seperti revolusi di dalam diri, keputusan yang mungkin bagi orang lain terlihat sepele, tapi bagiku rasanya seperti melangkah ke panggung tanpa naskah. Selama ini aku selalu memilih aman, pura-pura sibuk, pura-pura tidak sadar, pura-pura tidak ada apa-apa. Tapi pagi ini rasanya aku lelah bersembunyi di balik pura-pura.
Aku sengaja melakukannya. Ada rasa capek yang mengendap cukup lama, capek karena terus menghindar, capek karena harus berpura-pura bahwa semua ini hanya kebetulan yang tidak berarti apa-apa. Padahal di dalam kepala, semua kebetulan itu terasa seperti rangkaian kode yang ingin kupahami. Dia, dengan cara yang entah sengaja atau tidak, terus mencoba menarik perhatianku. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa harus menjawab tantangan itu. Bukan dengan kata-kata, bukan dengan tindakan besar. Cukup dengan satu hal sederhana, menatap balik.
Dia datang lebih awal hari ini. Itu sudah cukup aneh untuk membuatku berhenti sejenak di ambang pintu. Biasanya dia datang terlambat, sementara aku yang lebih sering tiba duluan. Kemarin aku tidak hadir karena ada urusan mendadak, dan entah kenapa fakta itu terasa penting hari ini, seolah absensiku kemarin meninggalkan ruang kosong yang kini ingin diisi kembali. Ketika melihatnya berdiri di dekat pintu, aku tidak benar-benar tahu apakah dia menunggu seseorang, atau hanya kebetulan berdiri di sana. Tapi firasatku mengatakan ia sedang menunggu. Dan firasat, seperti biasa, tidak pernah memberikan bukti, hanya keyakinan samar yang sulit dijelaskan.
Saat aku datang, ia mulai melakukan hal-hal kecil yang terlalu mencolok untuk disebut kebetulan. Gerakan yang sedikit dilebihkan, langkah yang seolah diatur agar melintas di jalur pandangku, keberadaan yang terasa ingin terlihat. Awalnya aku masih memegang teguh rencanaku, tidak peduli, tetap tenang, tetap menghindar. Aku mencoba bersikap seperti biasanya, seolah semua ini tidak ada hubungannya denganku. Tapi semakin lama, semakin terasa bahwa ia begitu gigih untuk hadir di depan mataku, seolah ingin memastikan aku melihatnya, atau mungkin memastikan aku tidak bisa lagi pura-pura tidak melihat.
Dan di titik itu, aku menyerah. Bukan menyerah pada perasaan, tapi menyerah pada permainan menghindar yang melelahkan. Aku mengangkat wajahku, pelan, hampir ragu, lalu menatapnya. Tepat ke matanya. Ada jeda kecil yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Detik yang memanjang seperti karet. Dunia di sekeliling terasa meredup, menyisakan hanya dua pasang mata yang tiba-tiba saling menyadari keberadaan satu sama lain.
Aku tidak menang sepenuhnya. Beberapa kali aku kalah oleh detak jantungku sendiri yang mendadak berisik. Tatapan itu seringkali berakhir terlalu cepat karena aku lebih dulu memalingkan wajah, seolah butuh jeda untuk bernapas. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang berubah hari ini. Aku tidak lagi bersembunyi sepenuhnya. Aku tidak lagi sepenuhnya lari.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!