Belakangan ini, suasana terasa akrab tapi juga melelahkan. Setiap kali ada wacana penjaringan pejabat baru, ritmenya hampir selalu sama. Mulai dari pengumuman resmi, spekulasi nama, sampai bisik-bisik yang beredar. Ramai, riuh, dan seolah penting. Katanya, jabatan baru memang dibutuhkan. Struktur harus diperkuat. Organisasi harus menyesuaikan zaman. Argumen-argumen itu terdengar masuk akal, bahkan logis di atas kertas. Dan karena itulah, proses penjaringan pejabat selalu dibungkus dengan bahasa yang rapi dan niat yang tampak serius. Tapi di luar ruang rapat dan siaran pers, respons banyak orang justru berbeda. Bukan marah, bukan juga antusias. Lebih ke arah… datar. Ada yang mengikuti sebatas tahu, ada yang mendengar sambil lalu, dan ada pula yang langsung menggulir layar tanpa membaca tuntas. Bisik-bisik tetap jalan. Si A katanya dekat siapa. Si B disebut-sebut unggulan. Si C konon sudah “dipaketkan”. Cerita semacam ini selalu punya pasar. Bukan karena orang ingin ikut campur, tapi ...
Pernah ada di fase ini? Kepala penuh, catatan rencana makin panjang, ide datang silih berganti, tapi satu pun tak benar-benar jalan. Hari terasa sibuk, tapi anehnya tidak ada yang benar-benar selesai. Capek, tapi sulit menunjuk capeknya karena apa. Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak rencana. Terlalu banyak keinginan. Dan alih-alih membuat hidup lebih maju, semuanya justru terasa tidak fokus. Awalnya terlihat produktif. Mikir ini, mikir itu. Membayangkan berbagai kemungkinan, peluang, dan skenario masa depan. Ada dorongan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, mengejar hal-hal yang bahkan belum tentu jadi tanggung jawab sendiri. Rasanya seperti sedang “bertumbuh”, padahal perlahan-lahan justru menjauh dari apa yang seharusnya dikerjakan hari ini. Di titik tertentu, fokus mulai bocor ke mana-mana. Energi habis untuk hal-hal di luar tugas utama. Terlalu sibuk memikirkan rencana besar, sampai lupa merawat pekerjaan kec...