Skip to main content

Posts

Stres Pasca Tidak Menjabat

Pernah dengar istilah stres pasca tidak menjabat ? Biasanya muncul pelan-pelan, dibicarakan setengah bercanda, setengah serius. Ada yang yakin itu nyata, ada juga yang menganggapnya berlebihan. Jujur saja, tidak semua orang langsung percaya bahwa kehilangan jabatan bisa berdampak sedalam itu. Apalagi kalau dilihat dari luar. Toh, jabatan memang ada masanya. Datang lewat proses, pergi juga lewat mekanisme. Secara teori, semua sudah paham, jabatan bukan milik pribadi. Jadi kenapa harus stres berlebihan? Tapi situasinya jadi menarik ketika masuk masa transisi. Saat penjaringan pejabat baru masih berlangsung. Saat nama-nama belum diumumkan. Saat posisi masih abu-abu. Di fase ini, suasana sering berubah. Lebih senyap, lebih tegang, lebih penuh kode. Di permukaan, semua terlihat normal. Rapat tetap jalan. Senyum tetap dipasang. Obrolan masih sopan. Tapi ada energi yang berbeda. Orang-orang mulai lebih hati-hati bicara. Lebih sensitif terhadap perubahan kecil. Lebih mudah tersinggung, atau...
Recent posts

Gak Diajak, Jangan Ikut: Seni Menjaga Batasan di Kantor agar Tetap Waras

Di kantor, sering ada situasi yang bikin serba salah. Ada obrolan yang berhenti saat kita datang. Ada rapat kecil yang tahu-tahu sudah selesai tanpa undangan. Ada keputusan yang baru terdengar setelah semuanya jalan. Rasanya ingin ikut nimbrung, bertanya, atau sekadar memastikan, “ini kok aku nggak tahu?” Tapi pelan-pelan, ada satu pelajaran yang terdengar sederhana, meski tidak selalu mudah dijalani, gak diajak, jangan ikut. Gak diajak ngomong, diem aja. Gak dikasih tahu, jangan cari tahu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena menjaga diri sendiri. Di dunia kerja, batasan itu penting. Bukan semua hal perlu ditanggapi. Bukan semua urusan layak diikuti. Ada kalanya rasa ingin tahu justru membawa kita ke wilayah yang bukan tanggung jawab, dan ujung-ujungnya malah bikin capek sendiri. Awalnya niatnya baik. Pengen membantu. Pengen sigap. Pengen dianggap peduli. Tapi realitanya, ikut campur tanpa diminta sering kali disalahartikan. Bisa dianggap sok tahu, kepo, atau bahkan mengganggu al...

Penjaringan Pejabat Baru Lagi Ramai

Belakangan ini, suasana terasa akrab tapi juga melelahkan. Setiap kali ada wacana penjaringan pejabat baru, ritmenya hampir selalu sama. Mulai dari pengumuman resmi, spekulasi nama, sampai bisik-bisik yang beredar. Ramai, riuh, dan seolah penting. Katanya, jabatan baru memang dibutuhkan. Struktur harus diperkuat. Organisasi harus menyesuaikan zaman. Argumen-argumen itu terdengar masuk akal, bahkan logis di atas kertas. Dan karena itulah, proses penjaringan pejabat selalu dibungkus dengan bahasa yang rapi dan niat yang tampak serius. Tapi di luar ruang rapat dan siaran pers, respons banyak orang justru berbeda. Bukan marah, bukan juga antusias. Lebih ke arah… datar. Ada yang mengikuti sebatas tahu, ada yang mendengar sambil lalu, dan ada pula yang langsung menggulir layar tanpa membaca tuntas. Bisik-bisik tetap jalan. Si A katanya dekat siapa. Si B disebut-sebut unggulan. Si C konon sudah “dipaketkan”. Cerita semacam ini selalu punya pasar. Bukan karena orang ingin ikut campur, tapi ...

Terlalu Banyak Pikiran dan Rencana

Pernah ada di fase ini? Kepala penuh, catatan rencana makin panjang, ide datang silih berganti, tapi satu pun tak benar-benar jalan. Hari terasa sibuk, tapi anehnya tidak ada yang benar-benar selesai. Capek, tapi sulit menunjuk capeknya karena apa. Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak rencana. Terlalu banyak keinginan. Dan alih-alih membuat hidup lebih maju, semuanya justru terasa tidak fokus. Awalnya terlihat produktif. Mikir ini, mikir itu. Membayangkan berbagai kemungkinan, peluang, dan skenario masa depan. Ada dorongan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, mengejar hal-hal yang bahkan belum tentu jadi tanggung jawab sendiri. Rasanya seperti sedang “bertumbuh”, padahal perlahan-lahan justru menjauh dari apa yang seharusnya dikerjakan hari ini. Di titik tertentu, fokus mulai bocor ke mana-mana. Energi habis untuk hal-hal di luar tugas utama. Terlalu sibuk memikirkan rencana besar, sampai lupa merawat pekerjaan kec...

Ketika Lagu Lawas Dinyanyikan Ulang

Ada satu hal kecil yang belakangan sering muncul tanpa diminta, lagu-lagu lawas yang dinyanyikan ulang. Muncul di radio, linimasa media sosial, kafe, bahkan acara keluarga. Lagu yang dulu hidup di zamannya sendiri, kini hadir lagi dengan aransemen baru, suara baru, dan niat yang katanya untuk mengenalkan ke generasi sekarang. Masalahnya, tidak semua orang merasa nyaman. Bukan karena lagunya jelek. Justru sebaliknya. Banyak lagu lama itu sebenarnya sangat kuat, liriknya jujur, melodinya matang, dan emosinya terasa utuh. Tapi ketika dinyanyikan ulang, ada rasa ganjil yang sulit dijelaskan. Seperti mendengar cerita lama tapi dengan intonasi yang salah. Atau membaca ulang surat pribadi orang lain, lalu diberi emoji berlebihan. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Musik sekarang juga banyak yang terdengar… familiar. Terlalu familiar. Melodi jadul dipoles sedikit, progresi akor lama dibungkus beat kekinian, lalu dilepas ke pasar dengan klaim “fresh” dan “relate”.  Tidak salah, tentu....

Ekonomi Indonesia Melambat? Perasaan yang Sama-sama Kita Rasakan Belakangan Ini

Belakangan ini, banyak orang merasa ada yang berubah. Bukan karena headline media semata, tapi dari hal-hal kecil yang sehari-hari terasa di dompet dan kepala. Harga terasa makin sensitif, rencana hidup jadi lebih hati-hati, dan obrolan nongkrong pelan-pelan bergeser ke topik yang sama,  “kok ekonomi kayaknya lagi seret, ya?” Perasaan itu bukan halusinasi kolektif. Banyak pengamat ekonomi, praktisi bisnis, sampai pelaku usaha kecil menyebut hal serupa: ekonomi Indonesia sedang melambat. Angkanya ada, datanya bisa dicari. Tapi yang paling jujur justru terasa di kehidupan nyata, ketika keputusan sederhana seperti belanja, liburan, atau mulai usaha jadi penuh pertimbangan. Di titik itu, wajar kalau pikiran mulai ke mana-mana. Muncul dorongan untuk cari pegangan tambahan. Usaha sampingan, misalnya. Ide yang terdengar rasional dan dewasa. Tapi begitu dijalani di kepala, ternyata tidak sesederhana konten motivasi di media sosial. Otak kanan dipaksa kreatif: mikir bisnis, mikir peluang...

Arti Lagu “Crown” EXO: Tentang Luka, Harga Diri, dan Bertahan Tanpa Tepuk Tangan

  Ada lagu yang tidak langsung terasa megah meski judulnya terdengar besar. Crown,  kalau hanya dibaca, terkesan tentang kemenangan, kejayaan, atau pencapaian. Tapi ketika didengarkan pelan-pelan, rasanya justru sebaliknya. Lagu ini lebih seperti cerita orang yang sedang berdiri, menahan beban di kepala, sambil bertanya,  “Apakah semua ini memang layak diperjuangkan?” Di awal lagu, nuansanya tidak meledak. Ada kesan tenang tapi berat, seperti seseorang yang sudah lama memikul ekspektasi. Dan di situlah banyak pendengar langsung merasa dekat. Karena hidup sering kali memang seperti itu, tidak selalu tentang sorak sorai, tapi tentang bertahan di tengah tuntutan yang tidak berhenti. Makna lagu Crown dari EXO bisa dibaca sebagai simbol. Mahkota bukan sekadar lambang kekuasaan atau popularitas, tapi tanggung jawab. Tekanan. Beban yang tidak semua orang lihat. Lagu ini tidak sedang membanggakan posisi di atas, tapi justru memperlihatkan sisi sunyi dari berada “di sana”. Kon...