Skip to main content

Posts

Halal bi Halal di Kantor

Hari Senin kemarin ada acara halal bi halal di kantor. Sejak jauh-jauh hari sebenarnya aku sudah tahu acara itu akan datang, tapi seperti kebanyakan hal yang berhubungan dengan keramaian, aku memilih pura-pura lupa sampai akhirnya tidak bisa lagi dihindari. Begitu pengumuman resmi muncul dan tanggalnya semakin dekat, perasaan yang muncul bukan antusias, melainkan semacam tegang yang pelan-pelan naik ke permukaan. Sejujurnya, acara seperti ini selalu terasa canggung bagiku. Bukan karena acaranya buruk atau orang-orangnya tidak menyenangkan, tapi lebih karena situasinya menuntutku berada di tengah keramaian yang tidak sepenuhnya akrab. Banyak wajah yang sebenarnya sering kulihat sekilas di lorong kantor, tapi tidak pernah benar-benar kukenal. Dan entah kenapa, berada di ruangan penuh orang yang “setengah dikenal” justru terasa lebih melelahkan dibanding berada di antara orang asing sepenuhnya. Di pagi hari sebelum acara dimulai, aku sempat berharap ada alasan kuat untuk tidak ikut. Mun...
Recent posts

Sakit

Sejak pulang dari mudik lebaran di rumah mertua kemarin, aku merasa tubuhku seperti berada di wilayah abu-abu yang sulit dijelaskan. Bukan sakit yang jelas sampai harus benar-benar rebahan seharian, tapi juga jauh dari kata sehat. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak cukup kuat untuk disebut sakit secara meyakinkan. Tubuh tetap bergerak, aktivitas tetap berjalan, tapi semuanya terasa lebih berat dari biasanya. Awalnya aku mengira ini hanya kelelahan biasa. Perjalanan mudik, perubahan rutinitas, jadwal tidur yang berantakan, suasana rumah yang ramai, interaksi yang tidak berhenti....s emuanya seperti menumpuk tanpa sempat diberi jeda. Saat masih di sana, tubuh mungkin terlalu sibuk untuk protes. Baru setelah pulang, ketika ritme mulai melambat, keluhan itu muncul satu per satu, pelan tapi konsisten. Badanku terasa pegal di tempat-tempat yang tidak spesifik. Kadang kepala terasa berat, kadang tenggorokan seperti tidak nyaman, kadang badan terasa hangat meski tidak ...

Seperti Zombie

Akhir-akhir ini ada satu perasaan yang sulit sekali diabaikan.... aku merasa seperti zombie. Bukan dalam arti dramatis seperti di film-film, tentu saja, tapi lebih seperti berjalan menjalani hari tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Rutinitas tetap berjalan, jam terus bergerak, pekerjaan masih dikerjakan, percakapan masih dijawab. Dari luar, mungkin semuanya terlihat normal. Tapi di dalam, rasanya seperti ada bagian yang dimatikan pelan-pelan. Aku mulai menyadarinya dari hal-hal kecil. Hal-hal yang dulu terasa menyenangkan, atau setidaknya menarik, sekarang terasa datar. Tidak ada dorongan kuat untuk memulai sesuatu, tidak ada rasa penasaran yang biasanya muncul tanpa diminta. Hari-hari terasa seperti daftar tugas yang harus dicentang satu per satu, bukan ruang hidup yang ingin dijelajahi. Aku tetap bergerak, tapi tanpa arah yang benar-benar kupilih. Dan entah kenapa, pikiranku selalu kembali pada kejadian pembunuhan karakter itu. Sejak peristiwa itu, ada sesuatu yang berubah dalam c...

Kidlin’s Law

Aku baru saja menemukan satu kalimat yang rasanya menempel cukup lama di kepala......   jika kamu menuliskan masalahmu dengan jelas dan spesifik, kamu telah menyelesaikan setengah dari masalahmu. Sederhana, tapi terasa seperti menyentil sesuatu yang diam-diam sudah kulakukan belakangan ini. Tiba-tiba aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri..... jadi semua tulisan curhat yang selama ini keluar dari kepalaku… itu apa? Apakah ini bentuk keberanian menghadapi masalah, atau hanya cara halus untuk membenarkan perasaanku sendiri? Pertanyaan itu muncul pelan, seperti bisikan yang tidak ingin mengganggu tapi juga tidak mau pergi. Karena jujur saja, beberapa waktu terakhir aku memang menulis banyak hal yang sebelumnya hanya berputar di kepala. Tentang lebaran yang tidak pernah kusukai, tentang hubungan yang terasa jauh, tentang perasaan yang sulit dijelaskan, tentang kejadian-kejadian yang membuatku merasa kecil dan tidak berdaya. Semuanya seperti keluar satu per satu, seo...

Murphy’s Law

Murphy’s Law sering terdengar seperti kutukan kecil yang diam-diam mengintai pikiran....  semakin kamu takut sesuatu akan terjadi, semakin besar kemungkinan hal itu akan terjadi. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa sangat relevan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah apa yang kemarin terjadi padaku, rasanya seperti ketakutan yang dulu hanya berbisik pelan, tiba-tiba menjelma nyata di depan mata. Aku jadi ingat, sebelum semua kekacauan itu benar-benar terjadi, sebenarnya sudah ada rasa cemas yang sering muncul tanpa diundang. Pikiran-pikiran kecil yang berputar sendiri di kepala. Bagaimana kalau mereka mulai menjauh? Bagaimana kalau ceritaku dipelintir? Bagaimana kalau suatu hari aku dibuat terlihat buruk di mata orang lain? Awalnya hanya bayangan, tapi lama-lama bayangan itu terasa seperti bayangan panjang yang mengikuti ke mana pun aku pergi. Dan ketika akhirnya benar-benar terjadi... ketika pembunuhan karakter itu terasa nyata, aku sempat terpak...

Pembunuhan Karakter

Oke, mumpung ingatan itu masih hangat dan belum sempat menguap lagi, aku ingin menuliskannya sekarang.  Ini bukan cerita yang ringan, dan mungkin bukan juga cerita yang mudah ditata rapi, tapi rasanya terlalu sayang kalau kembali hilang seperti beberapa ide yang sebelumnya datang lalu pergi tanpa sempat ditangkap.  Semua ini berawal dari kejadian kemarin....... tentang sesuatu yang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sekadar konflik biasa....... pembunuhan karakter. Aku tidak tahu kapan tepatnya semuanya dimulai. Yang jelas, kesadaranku muncul ketika situasinya sudah terasa terlalu nyata untuk diabaikan. Bukan lagi sekadar perasaan tidak nyaman, bukan lagi kecurigaan samar, tapi sesuatu yang perlahan membentuk pola. Kata-kata yang terdengar sama, sikap yang berubah serempak, jarak yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan. Dari situ, aku mulai menyadari bahwa ini bukan kebetulan yang berdiri sendiri. Yang paling membuatku goyah adalah kenyataan bahwa ini tidak dilakukan ole...

Aku Tidak Suka Lebaran

Sudah berkali-kali aku bilang, bahkan mungkin terlalu sering sampai terdengar seperti pengulangan yang melelahkan.... aku tidak suka lebaran. Bukan sekadar tidak antusias, tapi benar-benar tidak suka. Perasaan itu bukan datang tiba-tiba, bukan juga karena satu kejadian tertentu yang bisa dengan mudah ditunjuk sebagai penyebabnya. Ia tumbuh pelan-pelan, menumpuk dari tahun ke tahun, sampai akhirnya jadi sesuatu yang sulit diurai. Beberapa tahun terakhir, aku bahkan sudah berhenti pulang ke rumah bapakku saat hari raya. Awalnya mungkin terasa janggal, melihat orang lain sibuk bersiap mudik, membicarakan rencana berkumpul, sementara aku justru memilih diam di tempat. Tapi lama-lama, keputusan itu terasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa bersalah yang dulu sempat muncul di awal-awal. Justru yang ada, semacam perasaan datar… atau mungkin lebih tepatnya, tidak merasa perlu. Aneh memang, kalau dipikir-pikir. Aku sendiri bahkan tidak sepenuhnya ingat, kapan tepatnya semuanya mulai berubah. Apa...