Entah sejak kapan hari Minggu berubah menjadi hari yang paling tidak kusukai. Dulu rasanya biasa saja, hari untuk beristirahat, menunda alarm, dan membiarkan waktu berjalan tanpa target. Tapi sekarang, Minggu terasa seperti ruang kosong yang terlalu luas. Sunyi yang tidak punya jeda. Seolah waktu berjalan lebih lambat hanya untuk mengingatkanku bahwa ada satu rutinitas kecil yang hilang. Rutinitas itu sederhana.... melihatnya. Lucunya, kalau dipikir-pikir, kami bahkan tidak benar-benar berbicara. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada tawa bersama, tidak ada cerita yang dibagi seperti orang-orang pada umumnya. Namun entah kenapa, hanya dengan mengetahui bahwa ia ada di tempat yang sama, berada dalam jarak pandang yang bisa kugapai dengan mata, rasanya sudah cukup membuat hari terasa penuh. Senin sampai Sabtu terasa lebih ringan karena kemungkinan itu selalu ada. Ada kemungkinan bertemu. Ada kemungkinan berpapasan. Ada kemungkinan saling menyadari keberadaan satu sama lain tanpa har...
Setiap Kali Ia Berlalu, Aku Selalu Merasa Telah Memenangkan Sesuatu. Tapi di Saat yang Sama, Aku Juga Merasa Kalah
Ada momen-momen kecil yang terasa begitu besar hanya karena terjadi berulang. Ia berjalan melintas di depanku, sekilas, singkat, seperti adegan yang tidak pernah benar-benar dimulai tapi selalu berhasil meninggalkan jejak. Setiap kali itu terjadi, ada dorongan aneh yang muncul tanpa diminta. Sebuah keinginan yang tiba-tiba saja berdiri di ambang kesadaran.... ingin memeluknya. Bukan pelukan yang panjang atau dramatis, hanya keinginan sederhana untuk berhenti sejenak dan menghapus jarak yang selama ini terasa terlalu jauh. Dan setiap kali keinginan itu datang, aku langsung membencinya. Bukan karena keinginan itu salah, tapi karena aku tahu aku tidak akan pernah menuruti dorongan itu. Aku menahannya sekuat mungkin, seperti seseorang yang menggenggam sesuatu yang terlalu panas tapi tidak berani melepaskannya. Ada batas yang tak terlihat, ada aturan tak tertulis yang terus mengingatkanku untuk tetap di tempatku. Maka aku memilih diam. Selalu diam. Lucunya, semakin aku menahan diri, sema...