Ada momen ketika badan capeknya bukan yang dramatis, tapi menetap. Pegal di pundak, punggung terasa berat, dan kepala seperti minta ditaruh sebentar. Di titik itu, pilihan paling masuk akal sering kali bukan obat atau keluhan panjang, cukup satu hal sederhana, pijat. Dan entah kenapa, yang terlintas justru satu nama lama. Tukang pijat langganan keluarga. Orang tua. Tenang. Familiar. Tidak banyak yang tahu tentang hidupnya. Bahkan alamat rumahnya pun tidak pernah benar-benar diketahui. Yang ada hanya ingatan lama: dulu, ibu sering memanggil orang ini saat capek-capek menumpuk di rumah. Tidak pakai aplikasi. Tidak pakai rating. Cukup telepon, lalu menunggu. Sederhana, tapi terasa aman. Saat akhirnya dipanggil lagi, ada perasaan aneh yang muncul. Bukan cuma berharap badan enakan, tapi juga rasa pulang. Seperti membuka laci ingatan yang jarang disentuh. Cara bicaranya yang pelan, geraknya yang tidak tergesa, dan kebiasaannya bertanya seperlunya, semua terasa tidak asing. Padahal wa...
Kadang tubuh itu jujurnya keterlaluan. Tidak pakai metafora, tidak pakai basa-basi. Langsung ngomel lewat cara yang paling sederhana dan paling merepotkan. Salah satunya lewat perut. Bukan sakit yang dramatis, bukan yang bikin terkapar. Lebih ke… ya sudah, tubuh cuma minta berhenti sebentar. Rasanya memang sakit. Tapi bukan sakit yang bikin panik. Lebih tepatnya, tidak enak. Lemah. Kosong. Kepala agak ringan, badan rasanya nggak sinkron. Dan kalau ditarik ke belakang, penyebabnya juga sebenarnya nggak rumit. Terlalu banyak konsumsi sesuatu yang kelihatannya sepele, buah. Rambutan. Banyak banget. Tiga kilo, habis sendiri. Di titik itu, konflik batin muncul dengan cara yang agak konyol. Antara menertawakan diri sendiri dan sedikit nyesel. Kok bisa sih? Kok nggak mikir panjang? Padahal tahu perut bukan tempat uji coba keserakahan musiman. Tapi ya begitulah, kadang yang terasa segar dan manis bikin lupa batas. Yang menarik, tubuh tidak langsung “menghukum”. Ia memberi jeda. Satu m...