Skip to main content

Posts

Terlalu Banyak Pikiran dan Rencana

Pernah ada di fase ini? Kepala penuh, catatan rencana makin panjang, ide datang silih berganti, tapi satu pun tak benar-benar jalan. Hari terasa sibuk, tapi anehnya tidak ada yang benar-benar selesai. Capek, tapi sulit menunjuk capeknya karena apa. Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak rencana. Terlalu banyak keinginan. Dan alih-alih membuat hidup lebih maju, semuanya justru terasa tidak fokus. Awalnya terlihat produktif. Mikir ini, mikir itu. Membayangkan berbagai kemungkinan, peluang, dan skenario masa depan. Ada dorongan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, mengejar hal-hal yang bahkan belum tentu jadi tanggung jawab sendiri. Rasanya seperti sedang “bertumbuh”, padahal perlahan-lahan justru menjauh dari apa yang seharusnya dikerjakan hari ini. Di titik tertentu, fokus mulai bocor ke mana-mana. Energi habis untuk hal-hal di luar tugas utama. Terlalu sibuk memikirkan rencana besar, sampai lupa merawat pekerjaan kec...
Recent posts

Ketika Lagu Lawas Dinyanyikan Ulang

Ada satu hal kecil yang belakangan sering muncul tanpa diminta, lagu-lagu lawas yang dinyanyikan ulang. Muncul di radio, linimasa media sosial, kafe, bahkan acara keluarga. Lagu yang dulu hidup di zamannya sendiri, kini hadir lagi dengan aransemen baru, suara baru, dan niat yang katanya untuk mengenalkan ke generasi sekarang. Masalahnya, tidak semua orang merasa nyaman. Bukan karena lagunya jelek. Justru sebaliknya. Banyak lagu lama itu sebenarnya sangat kuat, liriknya jujur, melodinya matang, dan emosinya terasa utuh. Tapi ketika dinyanyikan ulang, ada rasa ganjil yang sulit dijelaskan. Seperti mendengar cerita lama tapi dengan intonasi yang salah. Atau membaca ulang surat pribadi orang lain, lalu diberi emoji berlebihan. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Musik sekarang juga banyak yang terdengar… familiar. Terlalu familiar. Melodi jadul dipoles sedikit, progresi akor lama dibungkus beat kekinian, lalu dilepas ke pasar dengan klaim “fresh” dan “relate”.  Tidak salah, tentu....

Ekonomi Indonesia Melambat? Perasaan yang Sama-sama Kita Rasakan Belakangan Ini

Belakangan ini, banyak orang merasa ada yang berubah. Bukan karena headline media semata, tapi dari hal-hal kecil yang sehari-hari terasa di dompet dan kepala. Harga terasa makin sensitif, rencana hidup jadi lebih hati-hati, dan obrolan nongkrong pelan-pelan bergeser ke topik yang sama,  “kok ekonomi kayaknya lagi seret, ya?” Perasaan itu bukan halusinasi kolektif. Banyak pengamat ekonomi, praktisi bisnis, sampai pelaku usaha kecil menyebut hal serupa: ekonomi Indonesia sedang melambat. Angkanya ada, datanya bisa dicari. Tapi yang paling jujur justru terasa di kehidupan nyata, ketika keputusan sederhana seperti belanja, liburan, atau mulai usaha jadi penuh pertimbangan. Di titik itu, wajar kalau pikiran mulai ke mana-mana. Muncul dorongan untuk cari pegangan tambahan. Usaha sampingan, misalnya. Ide yang terdengar rasional dan dewasa. Tapi begitu dijalani di kepala, ternyata tidak sesederhana konten motivasi di media sosial. Otak kanan dipaksa kreatif: mikir bisnis, mikir peluang...

Arti Lagu “Crown” EXO: Tentang Luka, Harga Diri, dan Bertahan Tanpa Tepuk Tangan

  Ada lagu yang tidak langsung terasa megah meski judulnya terdengar besar. Crown,  kalau hanya dibaca, terkesan tentang kemenangan, kejayaan, atau pencapaian. Tapi ketika didengarkan pelan-pelan, rasanya justru sebaliknya. Lagu ini lebih seperti cerita orang yang sedang berdiri, menahan beban di kepala, sambil bertanya,  “Apakah semua ini memang layak diperjuangkan?” Di awal lagu, nuansanya tidak meledak. Ada kesan tenang tapi berat, seperti seseorang yang sudah lama memikul ekspektasi. Dan di situlah banyak pendengar langsung merasa dekat. Karena hidup sering kali memang seperti itu, tidak selalu tentang sorak sorai, tapi tentang bertahan di tengah tuntutan yang tidak berhenti. Makna lagu Crown dari EXO bisa dibaca sebagai simbol. Mahkota bukan sekadar lambang kekuasaan atau popularitas, tapi tanggung jawab. Tekanan. Beban yang tidak semua orang lihat. Lagu ini tidak sedang membanggakan posisi di atas, tapi justru memperlihatkan sisi sunyi dari berada “di sana”. Kon...

Memanggil Tukang Pijat Langganan

  Ada momen ketika badan capeknya bukan yang dramatis, tapi menetap. Pegal di pundak, punggung terasa berat, dan kepala seperti minta ditaruh sebentar. Di titik itu, pilihan paling masuk akal sering kali bukan obat atau keluhan panjang, cukup satu hal sederhana, pijat. Dan entah kenapa, yang terlintas justru satu nama lama. Tukang pijat langganan keluarga. Orang tua. Tenang. Familiar. Tidak banyak yang tahu tentang hidupnya. Bahkan alamat rumahnya pun tidak pernah benar-benar diketahui. Yang ada hanya ingatan lama: dulu, ibu sering memanggil orang ini saat capek-capek menumpuk di rumah. Tidak pakai aplikasi. Tidak pakai rating. Cukup telepon, lalu menunggu. Sederhana, tapi terasa aman. Saat akhirnya dipanggil lagi, ada perasaan aneh yang muncul. Bukan cuma berharap badan enakan, tapi juga rasa pulang. Seperti membuka laci ingatan yang jarang disentuh. Cara bicaranya yang pelan, geraknya yang tidak tergesa, dan kebiasaannya bertanya seperlunya, semua terasa tidak asing. Padahal wa...

Badan Ngasih Alarm untuk Istirahat

  Kadang tubuh itu jujurnya keterlaluan. Tidak pakai metafora, tidak pakai basa-basi. Langsung ngomel lewat cara yang paling sederhana dan paling merepotkan. Salah satunya lewat perut. Bukan sakit yang dramatis, bukan yang bikin terkapar. Lebih ke… ya sudah, tubuh cuma minta berhenti sebentar. Rasanya memang sakit. Tapi bukan sakit yang bikin panik. Lebih tepatnya, tidak enak. Lemah. Kosong. Kepala agak ringan, badan rasanya nggak sinkron. Dan kalau ditarik ke belakang, penyebabnya juga sebenarnya nggak rumit. Terlalu banyak konsumsi sesuatu yang kelihatannya sepele, buah. Rambutan. Banyak banget. Tiga kilo, habis sendiri. Di titik itu, konflik batin muncul dengan cara yang agak konyol. Antara menertawakan diri sendiri dan sedikit nyesel. Kok bisa sih? Kok nggak mikir panjang? Padahal tahu perut bukan tempat uji coba keserakahan musiman. Tapi ya begitulah, kadang yang terasa segar dan manis bikin lupa batas. Yang menarik, tubuh tidak langsung “menghukum”. Ia memberi jeda. Satu m...

Trauma Itu Tidak Hilang Sekali Sembuh

Banyak orang mengira trauma itu seperti luka fisik. Setelah waktu berlalu, setelah “diselesaikan”, setelah merasa lebih baik, ya sudah, selesai. Hidup lanjut. Kepala dingin. Dada lega. Tapi kenyataannya, trauma sering bekerja dengan cara yang jauh lebih diam-diam dan licik. Kadang, hidup terasa baik-baik saja. Hari berjalan normal. Pikiran relatif tenang. Bahkan sempat muncul keyakinan kecil: mungkin ini sudah lewat. Mungkin semua sudah rapi. Sampai suatu hari, satu kata terdengar. Satu kalimat. Satu nada suara. Dan tubuh langsung kembali ke setelan lama, tanpa izin, tanpa aba-aba. Dada mengencang. Tangan gemetar. Nafas pendek. Logika tertinggal jauh di belakang. Di situlah konflik batin muncul. Ada rasa kesal pada diri sendiri. “Kok masih begini?” “Bukannya ini sudah selesai?” Padahal secara rasional, situasinya aman. Tidak ada ancaman nyata. Tapi tubuh tidak peduli pada penjelasan logis. Ia hanya mengenali pola. Dan begitu polanya mirip, alarm langsung berbunyi. Trauma memang tid...