Skip to main content

Posts

Pikiran untuk Mengakhiri Hidup Pernah Muncul, tapi Kenapa Bertahan Justru Jadi Pilihan Paling Masuk Akal

 Ada pikiran-pikiran yang datang diam-diam, biasanya saat lelah sudah menumpuk dan jalan keluar terasa buntu. Pikiran tentang mengakhiri hidup, sebagai pilihan terakhir, kadang muncul bukan karena ingin mati, tapi karena ingin berhenti dari rasa sakit. Ingin jeda. Ingin sunyi. Pikiran itu tidak selalu dramatis. Ia bisa hadir tenang, hampir logis. Seperti opsi darurat yang muncul di kepala saat semua pintu terasa tertutup. Dan di momen itu, rasanya wajar jika seseorang bertanya,  “kalau berhenti saja, apa semuanya akan selesai?” Tapi setelah dipikir lebih jauh, ada satu kenyataan yang sering terlewat. Hidup mungkin berhenti bagi satu orang, tapi masalah tidak ikut berhenti. Yang tertinggal justru harus memungut pecahannya. Rasa kehilangan, rasa bersalah, pertanyaan tanpa jawaban, semua itu berpindah tangan. Bebannya bergeser, bukan hilang. Kesadaran itu pelan-pelan mengubah arah pikiran. Bukan jadi tiba-tiba kuat, tapi jadi lebih jujur. Bahwa pilihan itu, sejauh apa pun tamp...
Recent posts

Merasa Jadi Orang Gagal di Usia Dewasa

  Ada fase hidup ketika kata gagal terasa makin sering mampir ke kepala. Bukan karena ada yang mengatakannya langsung, tapi karena hidup berjalan tidak seperti rencana. Target meleset, pencapaian tertunda, dan perbandingan datang dari mana-mana. Di usia dewasa, perasaan ini terasa lebih sunyi, karena seharusnya sudah “jadi”, tapi kenyataannya belum ke mana-mana. Banyak orang pernah ada di titik ini, meski jarang mengakuinya dengan jujur. Awalnya, pikiran itu datang sebentar lalu ditepis. “Ah, cuma lagi capek.” “Ini cuma fase.” Dicoba dilawan dengan afirmasi yang terdengar masuk akal, kesuksesan tiap orang beda waktunya. Hidup bukan lomba. Pelan-pelan saja. Semua kalimat itu benar, rapi, dan sering diulang. Masalahnya, otak tidak selalu mau diajak kerja sama. Semakin ditepis, pikiran itu justru terasa makin keras. Seperti ada suara kecil yang terus mengulang: ini bukan soal tertunda, tapi memang gagal. Bukan kurang waktu, tapi kurang kualitas. Dan di titik tertentu, kalimat pal...

Stres Pasca Tidak Menjabat

Pernah dengar istilah stres pasca tidak menjabat ? Biasanya muncul pelan-pelan, dibicarakan setengah bercanda, setengah serius. Ada yang yakin itu nyata, ada juga yang menganggapnya berlebihan. Jujur saja, tidak semua orang langsung percaya bahwa kehilangan jabatan bisa berdampak sedalam itu. Apalagi kalau dilihat dari luar. Toh, jabatan memang ada masanya. Datang lewat proses, pergi juga lewat mekanisme. Secara teori, semua sudah paham, jabatan bukan milik pribadi. Jadi kenapa harus stres berlebihan? Tapi situasinya jadi menarik ketika masuk masa transisi. Saat penjaringan pejabat baru masih berlangsung. Saat nama-nama belum diumumkan. Saat posisi masih abu-abu. Di fase ini, suasana sering berubah. Lebih senyap, lebih tegang, lebih penuh kode. Di permukaan, semua terlihat normal. Rapat tetap jalan. Senyum tetap dipasang. Obrolan masih sopan. Tapi ada energi yang berbeda. Orang-orang mulai lebih hati-hati bicara. Lebih sensitif terhadap perubahan kecil. Lebih mudah tersinggung, atau...

Gak Diajak, Jangan Ikut: Seni Menjaga Batasan di Kantor agar Tetap Waras

Di kantor, sering ada situasi yang bikin serba salah. Ada obrolan yang berhenti saat kita datang. Ada rapat kecil yang tahu-tahu sudah selesai tanpa undangan. Ada keputusan yang baru terdengar setelah semuanya jalan. Rasanya ingin ikut nimbrung, bertanya, atau sekadar memastikan, “ini kok aku nggak tahu?” Tapi pelan-pelan, ada satu pelajaran yang terdengar sederhana, meski tidak selalu mudah dijalani, gak diajak, jangan ikut. Gak diajak ngomong, diem aja. Gak dikasih tahu, jangan cari tahu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena menjaga diri sendiri. Di dunia kerja, batasan itu penting. Bukan semua hal perlu ditanggapi. Bukan semua urusan layak diikuti. Ada kalanya rasa ingin tahu justru membawa kita ke wilayah yang bukan tanggung jawab, dan ujung-ujungnya malah bikin capek sendiri. Awalnya niatnya baik. Pengen membantu. Pengen sigap. Pengen dianggap peduli. Tapi realitanya, ikut campur tanpa diminta sering kali disalahartikan. Bisa dianggap sok tahu, kepo, atau bahkan mengganggu al...

Penjaringan Pejabat Baru Lagi Ramai

Belakangan ini, suasana terasa akrab tapi juga melelahkan. Setiap kali ada wacana penjaringan pejabat baru, ritmenya hampir selalu sama. Mulai dari pengumuman resmi, spekulasi nama, sampai bisik-bisik yang beredar. Ramai, riuh, dan seolah penting. Katanya, jabatan baru memang dibutuhkan. Struktur harus diperkuat. Organisasi harus menyesuaikan zaman. Argumen-argumen itu terdengar masuk akal, bahkan logis di atas kertas. Dan karena itulah, proses penjaringan pejabat selalu dibungkus dengan bahasa yang rapi dan niat yang tampak serius. Tapi di luar ruang rapat dan siaran pers, respons banyak orang justru berbeda. Bukan marah, bukan juga antusias. Lebih ke arah… datar. Ada yang mengikuti sebatas tahu, ada yang mendengar sambil lalu, dan ada pula yang langsung menggulir layar tanpa membaca tuntas. Bisik-bisik tetap jalan. Si A katanya dekat siapa. Si B disebut-sebut unggulan. Si C konon sudah “dipaketkan”. Cerita semacam ini selalu punya pasar. Bukan karena orang ingin ikut campur, tapi ...

Terlalu Banyak Pikiran dan Rencana

Pernah ada di fase ini? Kepala penuh, catatan rencana makin panjang, ide datang silih berganti, tapi satu pun tak benar-benar jalan. Hari terasa sibuk, tapi anehnya tidak ada yang benar-benar selesai. Capek, tapi sulit menunjuk capeknya karena apa. Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak rencana. Terlalu banyak keinginan. Dan alih-alih membuat hidup lebih maju, semuanya justru terasa tidak fokus. Awalnya terlihat produktif. Mikir ini, mikir itu. Membayangkan berbagai kemungkinan, peluang, dan skenario masa depan. Ada dorongan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, mengejar hal-hal yang bahkan belum tentu jadi tanggung jawab sendiri. Rasanya seperti sedang “bertumbuh”, padahal perlahan-lahan justru menjauh dari apa yang seharusnya dikerjakan hari ini. Di titik tertentu, fokus mulai bocor ke mana-mana. Energi habis untuk hal-hal di luar tugas utama. Terlalu sibuk memikirkan rencana besar, sampai lupa merawat pekerjaan kec...

Ketika Lagu Lawas Dinyanyikan Ulang

Ada satu hal kecil yang belakangan sering muncul tanpa diminta, lagu-lagu lawas yang dinyanyikan ulang. Muncul di radio, linimasa media sosial, kafe, bahkan acara keluarga. Lagu yang dulu hidup di zamannya sendiri, kini hadir lagi dengan aransemen baru, suara baru, dan niat yang katanya untuk mengenalkan ke generasi sekarang. Masalahnya, tidak semua orang merasa nyaman. Bukan karena lagunya jelek. Justru sebaliknya. Banyak lagu lama itu sebenarnya sangat kuat, liriknya jujur, melodinya matang, dan emosinya terasa utuh. Tapi ketika dinyanyikan ulang, ada rasa ganjil yang sulit dijelaskan. Seperti mendengar cerita lama tapi dengan intonasi yang salah. Atau membaca ulang surat pribadi orang lain, lalu diberi emoji berlebihan. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Musik sekarang juga banyak yang terdengar… familiar. Terlalu familiar. Melodi jadul dipoles sedikit, progresi akor lama dibungkus beat kekinian, lalu dilepas ke pasar dengan klaim “fresh” dan “relate”.  Tidak salah, tentu....