Skip to main content

Posts

Semua Orang Pernah Berdosa, tapi Kenapa Kita Lebih Sibuk Menghakimi Dosa Orang Lain?

 Ada satu hal yang diam-diam kita sepakati bersama, meski jarang diucapkan, tidak ada manusia yang benar-benar bersih. Dari yang muda sampai yang tua, dari yang kelihatan alim sampai yang terang-terangan bandel, semua pernah, dan mungkin masih melakukan kesalahan. Dosa, dalam bentuk apa pun namanya. Tapi anehnya, kesadaran itu sering berhenti di teori. Dalam praktik sehari-hari, justru lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain. Mengomentari, menilai, bahkan membenci dosa yang tidak kita lakukan. Seolah-olah dengan menghakimi orang lain, dosa pribadi bisa mengecil, atau setidaknya tidak terlihat. Fenomena ini terasa akrab. Di obrolan santai, di media sosial, di ruang-ruang yang katanya religius. Kesalahan orang lain dibedah ramai-ramai, sementara kesalahan sendiri disimpan rapat-rapat. Bukan karena tidak tahu salah, tapi karena menghadapi diri sendiri jauh lebih tidak nyaman. Menghakimi memang memberi rasa aman sesaat. Ada ilusi posisi lebih tinggi,  aku tidak seburuk itu ....
Recent posts

Kenapa Kakek Nenek Lebih Lembut ke Cucu? Antara Penyesalan, Waktu, dan Cara Menebus Masa Lalu

  Ada pola yang sering disadari banyak orang tapi jarang dibicarakan terang-terangan. Kakek nenek yang sekarang terlihat sangat sabar dengan cucunya, dulu dikenal keras saat membesarkan anak-anaknya. Cerita seperti ini muncul di banyak keluarga. Bahkan kadang diucapkan sambil bercanda, “Dulu ayah galak sekali, sekarang sama cucu jadi malaikat.” Yang tumbuh dengan cerita itu sering menyimpan tanda tanya. Kok bisa berubah sejauh itu? Bagi anak-anaknya dulu, masa kecil mungkin terasa penuh aturan, suara tinggi, dan disiplin ketat. Lalu bertahun-tahun kemudian, orang yang sama terlihat memanjakan cucu tanpa banyak syarat. Kesalahan kecil ditertawakan. Tangisan cepat ditenangkan. Tidak ada lagi nada keras yang dulu begitu akrab. Perubahan ini bukan sekadar soal usia. Ada sesuatu yang bergeser di dalam diri manusia ketika waktu berjalan panjang. Menjadi orang tua di usia muda sering diwarnai tekanan: ekonomi belum stabil, emosi belum matang, tanggung jawab datang bertubi-tubi. Banyak...

Orang Introvert Bisa Berbaur, Tapi Baterainya Cepat Habis

 Banyak orang masih mengira introvert itu identik dengan tidak bisa bersosialisasi. Seolah-olah setiap pertemuan adalah siksaan, setiap percakapan adalah beban, dan satu-satunya zona aman adalah kamar sendiri. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Orang introvert bisa berbaur. Bahkan sering kali terlihat biasa saja di keramaian. Bisa ngobrol, bisa bercanda, bisa ikut rapat panjang, bahkan bisa tampil percaya diri kalau situasi menuntut. Dari luar, tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda sedang berjuang. Masalahnya bukan pada kemampuan berbaur. Masalahnya ada di energi. Setelah semua itu selesai, rasanya seperti baterai yang tiba-tiba drop ke nol persen. Tubuh masih duduk di tempat yang sama, tapi kepala sudah lelah duluan. Percakapan yang tadinya terasa ringan mendadak terasa berat saat diingat ulang. Dan yang paling menguras bukan topik besar, tapi hal kecil yang disebut basa-basi. Basa-basi itu unik. Tidak penting, tapi wajib. Tidak dalam, tapi panjang. Pertanyaan ya...

Pencucian Otak Berkedok Belas Kasihan

  Ada kalimat-kalimat yang terdengar lembut, bahkan terasa menenangkan. Diucapkan dengan nada peduli, dibungkus empati, dan sering diselipkan di tengah obrolan yang katanya demi kebaikan bersama. “Sudahlah, jangan terlalu tinggi standarnya.” “Kasihan, kan mereka juga manusia.” “Yang penting jalan dulu.” Sekilas, tidak ada yang salah. Masalahnya, kalimat seperti itu jarang datang sekali dua kali. Ia diulang. Terus diulang. Di ruang rapat, di percakapan santai, di keputusan-keputusan kecil yang lama-lama membentuk arah besar. Pelan-pelan, tanpa terasa, sesuatu berubah. Belas kasihan mulai menggantikan penilaian. Toleransi mulai menggeser standar. Dan yang awalnya disebut pengecualian, lama-lama jadi kebiasaan. Di titik tertentu, muncul rasa janggal. Kenapa hal yang dulu dianggap tidak layak, sekarang diterima begitu saja? Kenapa kualitas yang dulu diperjuangkan, kini dianggap terlalu idealis? Jawabannya sering sama, jangan keras-keras, jangan tinggi-tinggi, nanti menyakiti. Inil...

Pikiran untuk Mengakhiri Hidup Pernah Muncul, tapi Kenapa Bertahan Justru Jadi Pilihan Paling Masuk Akal

 Ada pikiran-pikiran yang datang diam-diam, biasanya saat lelah sudah menumpuk dan jalan keluar terasa buntu. Pikiran tentang mengakhiri hidup, sebagai pilihan terakhir, kadang muncul bukan karena ingin mati, tapi karena ingin berhenti dari rasa sakit. Ingin jeda. Ingin sunyi. Pikiran itu tidak selalu dramatis. Ia bisa hadir tenang, hampir logis. Seperti opsi darurat yang muncul di kepala saat semua pintu terasa tertutup. Dan di momen itu, rasanya wajar jika seseorang bertanya,  “kalau berhenti saja, apa semuanya akan selesai?” Tapi setelah dipikir lebih jauh, ada satu kenyataan yang sering terlewat. Hidup mungkin berhenti bagi satu orang, tapi masalah tidak ikut berhenti. Yang tertinggal justru harus memungut pecahannya. Rasa kehilangan, rasa bersalah, pertanyaan tanpa jawaban, semua itu berpindah tangan. Bebannya bergeser, bukan hilang. Kesadaran itu pelan-pelan mengubah arah pikiran. Bukan jadi tiba-tiba kuat, tapi jadi lebih jujur. Bahwa pilihan itu, sejauh apa pun tamp...

Merasa Jadi Orang Gagal di Usia Dewasa

  Ada fase hidup ketika kata gagal terasa makin sering mampir ke kepala. Bukan karena ada yang mengatakannya langsung, tapi karena hidup berjalan tidak seperti rencana. Target meleset, pencapaian tertunda, dan perbandingan datang dari mana-mana. Di usia dewasa, perasaan ini terasa lebih sunyi, karena seharusnya sudah “jadi”, tapi kenyataannya belum ke mana-mana. Banyak orang pernah ada di titik ini, meski jarang mengakuinya dengan jujur. Awalnya, pikiran itu datang sebentar lalu ditepis. “Ah, cuma lagi capek.” “Ini cuma fase.” Dicoba dilawan dengan afirmasi yang terdengar masuk akal, kesuksesan tiap orang beda waktunya. Hidup bukan lomba. Pelan-pelan saja. Semua kalimat itu benar, rapi, dan sering diulang. Masalahnya, otak tidak selalu mau diajak kerja sama. Semakin ditepis, pikiran itu justru terasa makin keras. Seperti ada suara kecil yang terus mengulang: ini bukan soal tertunda, tapi memang gagal. Bukan kurang waktu, tapi kurang kualitas. Dan di titik tertentu, kalimat pal...

Stres Pasca Tidak Menjabat

Pernah dengar istilah stres pasca tidak menjabat ? Biasanya muncul pelan-pelan, dibicarakan setengah bercanda, setengah serius. Ada yang yakin itu nyata, ada juga yang menganggapnya berlebihan. Jujur saja, tidak semua orang langsung percaya bahwa kehilangan jabatan bisa berdampak sedalam itu. Apalagi kalau dilihat dari luar. Toh, jabatan memang ada masanya. Datang lewat proses, pergi juga lewat mekanisme. Secara teori, semua sudah paham, jabatan bukan milik pribadi. Jadi kenapa harus stres berlebihan? Tapi situasinya jadi menarik ketika masuk masa transisi. Saat penjaringan pejabat baru masih berlangsung. Saat nama-nama belum diumumkan. Saat posisi masih abu-abu. Di fase ini, suasana sering berubah. Lebih senyap, lebih tegang, lebih penuh kode. Di permukaan, semua terlihat normal. Rapat tetap jalan. Senyum tetap dipasang. Obrolan masih sopan. Tapi ada energi yang berbeda. Orang-orang mulai lebih hati-hati bicara. Lebih sensitif terhadap perubahan kecil. Lebih mudah tersinggung, atau...