Ada satu hal yang diam-diam kita sepakati bersama, meski jarang diucapkan, tidak ada manusia yang benar-benar bersih. Dari yang muda sampai yang tua, dari yang kelihatan alim sampai yang terang-terangan bandel, semua pernah, dan mungkin masih melakukan kesalahan. Dosa, dalam bentuk apa pun namanya. Tapi anehnya, kesadaran itu sering berhenti di teori. Dalam praktik sehari-hari, justru lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain. Mengomentari, menilai, bahkan membenci dosa yang tidak kita lakukan. Seolah-olah dengan menghakimi orang lain, dosa pribadi bisa mengecil, atau setidaknya tidak terlihat. Fenomena ini terasa akrab. Di obrolan santai, di media sosial, di ruang-ruang yang katanya religius. Kesalahan orang lain dibedah ramai-ramai, sementara kesalahan sendiri disimpan rapat-rapat. Bukan karena tidak tahu salah, tapi karena menghadapi diri sendiri jauh lebih tidak nyaman. Menghakimi memang memberi rasa aman sesaat. Ada ilusi posisi lebih tinggi, aku tidak seburuk itu ....
Ada pola yang sering disadari banyak orang tapi jarang dibicarakan terang-terangan. Kakek nenek yang sekarang terlihat sangat sabar dengan cucunya, dulu dikenal keras saat membesarkan anak-anaknya. Cerita seperti ini muncul di banyak keluarga. Bahkan kadang diucapkan sambil bercanda, “Dulu ayah galak sekali, sekarang sama cucu jadi malaikat.” Yang tumbuh dengan cerita itu sering menyimpan tanda tanya. Kok bisa berubah sejauh itu? Bagi anak-anaknya dulu, masa kecil mungkin terasa penuh aturan, suara tinggi, dan disiplin ketat. Lalu bertahun-tahun kemudian, orang yang sama terlihat memanjakan cucu tanpa banyak syarat. Kesalahan kecil ditertawakan. Tangisan cepat ditenangkan. Tidak ada lagi nada keras yang dulu begitu akrab. Perubahan ini bukan sekadar soal usia. Ada sesuatu yang bergeser di dalam diri manusia ketika waktu berjalan panjang. Menjadi orang tua di usia muda sering diwarnai tekanan: ekonomi belum stabil, emosi belum matang, tanggung jawab datang bertubi-tubi. Banyak...