Kemarin aku sempat merasa lebih berani dari biasanya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, keberanian itu ternyata bukan benar-benar milikku. Ada orang lain di dekatku waktu itu, seseorang yang mengajakku berbincang, dan tanpa sadar kehadirannya menjadi semacam tameng. Aku punya alasan untuk berdiri di sana, untuk terlihat santai, untuk menggerakkan kepala dan arah pandang seolah-olah hanya mengikuti alur percakapan. Padahal diam-diam, di sela kalimat yang keluar dari mulutku, mataku berkali-kali mencari sosoknya. Menatapnya terasa lebih mungkin ketika ada seseorang di sampingku, seolah keberanian bisa dipinjam dari situasi yang kebetulan mendukung. Hari ini, ketika kami bertemu lagi, tameng itu tidak ada. Tidak ada percakapan yang bisa kugunakan sebagai alasan untuk berdiri lebih lama atau mengalihkan gugupku. Dan seperti yang bisa ditebak, keberanian itu pun ikut menghilang. Aku kembali menjadi versi diriku yang lama, yang terbiasa memalingkan wajah beberapa detik terlalu cepat, yang si...
Kadang aku membayangkan bagaimana rasanya jika semua ini diucapkan dengan jujur. Kalimat-kalimat sederhana yang selama ini hanya berputar di kepala, disusun rapi lalu diserahkan begitu saja kepadanya, tanpa sandi, tanpa isyarat. Rasanya seperti berdiri di tepi kolam yang airnya dingin, tahu bahwa melompat mungkin akan menyegarkan, tapi juga takut pada benturan pertama yang mengejutkan tubuh. Ada dorongan kecil yang terus muncul, mengajak untuk berterus terang tentang perasaan ini, tentang isi hati yang semakin hari semakin sulit disembunyikan dari diri sendiri. Namun setiap kali keberanian itu mulai tumbuh, bayangan lain ikut muncul bersamanya, kemungkinan ditolak. Kemungkinan bahwa semua yang selama ini terasa begitu besar di dalam diri, ternyata tidak memiliki tempat di hatinya. Dan bayangan itu terasa jauh lebih nyata daripada harapan yang ingin kupegang. Aku bisa membayangkan dengan sangat jelas rasa malu yang akan mengikuti, malu yang mungkin akan bertahan lama, yang akan membuat...