Pernah dengar istilah stres pasca tidak menjabat ? Biasanya muncul pelan-pelan, dibicarakan setengah bercanda, setengah serius. Ada yang yakin itu nyata, ada juga yang menganggapnya berlebihan. Jujur saja, tidak semua orang langsung percaya bahwa kehilangan jabatan bisa berdampak sedalam itu. Apalagi kalau dilihat dari luar. Toh, jabatan memang ada masanya. Datang lewat proses, pergi juga lewat mekanisme. Secara teori, semua sudah paham, jabatan bukan milik pribadi. Jadi kenapa harus stres berlebihan? Tapi situasinya jadi menarik ketika masuk masa transisi. Saat penjaringan pejabat baru masih berlangsung. Saat nama-nama belum diumumkan. Saat posisi masih abu-abu. Di fase ini, suasana sering berubah. Lebih senyap, lebih tegang, lebih penuh kode. Di permukaan, semua terlihat normal. Rapat tetap jalan. Senyum tetap dipasang. Obrolan masih sopan. Tapi ada energi yang berbeda. Orang-orang mulai lebih hati-hati bicara. Lebih sensitif terhadap perubahan kecil. Lebih mudah tersinggung, atau...
Di kantor, sering ada situasi yang bikin serba salah. Ada obrolan yang berhenti saat kita datang. Ada rapat kecil yang tahu-tahu sudah selesai tanpa undangan. Ada keputusan yang baru terdengar setelah semuanya jalan. Rasanya ingin ikut nimbrung, bertanya, atau sekadar memastikan, “ini kok aku nggak tahu?” Tapi pelan-pelan, ada satu pelajaran yang terdengar sederhana, meski tidak selalu mudah dijalani, gak diajak, jangan ikut. Gak diajak ngomong, diem aja. Gak dikasih tahu, jangan cari tahu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena menjaga diri sendiri. Di dunia kerja, batasan itu penting. Bukan semua hal perlu ditanggapi. Bukan semua urusan layak diikuti. Ada kalanya rasa ingin tahu justru membawa kita ke wilayah yang bukan tanggung jawab, dan ujung-ujungnya malah bikin capek sendiri. Awalnya niatnya baik. Pengen membantu. Pengen sigap. Pengen dianggap peduli. Tapi realitanya, ikut campur tanpa diminta sering kali disalahartikan. Bisa dianggap sok tahu, kepo, atau bahkan mengganggu al...