Aku harus mengakuinya, meski agak malu, aku ini tipe yang gampang berubah jadi detektif amatir kalau sudah penasaran pada seseorang. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa aku tidak akan mencari tahu lagi tentang dia, tapi kenyataannya selalu berakhir sama, diam-diam membuka akun yang terhubung dengannya, menelusuri jejak kecil yang sebenarnya tidak pernah diminta untuk ditemukan. Sabtu kemarin jadi bukti terbaru. Dari story orang lain, aku melihat potongan kehidupannya yang tidak pernah kulihat secara langsung. Dia tertawa lepas. Benar-benar lepas. Tidak ada canggung, tidak ada jeda, tidak ada gerakan hati-hati seperti yang sering kulihat ketika dia berada di dekatku. Tawa itu terasa ringan, mengalir begitu saja seperti air yang tidak pernah mengenal batu penghalang. Dan entah kenapa, justru di situlah dadaku terasa jatuh pelan. Bukan karena cemburu. Setidaknya aku ingin percaya bukan itu. Lebih seperti perasaan aneh yang sulit diberi nama, sejenis kesimpulan sepihak yang tiba-tiba mun...
Mungkin Bukan Pertemuannya yang Kusukai, Melainkan Kemungkinan-Kemungkinan yang Tidak Pernah Terjadi di Dalamnya
Kemarin pertemuan itu hanya berlangsung singkat, hampir seperti adegan selingan yang muncul sebentar lalu hilang sebelum sempat dipahami. Ia datang terlambat, bukan terlambat seperti biasanya, bukan selisih beberapa menit yang masih bisa dianggap kebiasaan kecil yang lucu. Kali ini benar-benar terlambat. Sangat terlambat, sampai kehadirannya terasa seperti sesuatu yang datang setelah hampir semua orang berhenti menunggu. Dan anehnya, aku menyadari itu dengan mudah. Terlalu mudah, malah. Karena tanpa sadar aku sudah menghafal ritme kedatangannya: jam berapa biasanya muncul, langkahnya yang seperti apa ketika memasuki ruangan, bagaimana ia biasanya menaruh barang, bahkan jeda kecil sebelum ia benar-benar bergabung dengan aktivitas yang lain. Semua detail kecil itu entah kapan tersimpan di kepalaku, seperti catatan rahasia yang tidak pernah sengaja kutulis. Ketika ia akhirnya muncul kemarin, ada sesuatu yang terasa berbeda. Gerakannya tampak lebih hati-hati, lebih pelan, seolah ia sedan...