Hari ini aku cukup berani untuk menatap matanya. Benar-benar menatap, bukan sekadar melihat sekilas lalu buru-buru memalingkan wajah seperti hari-hari sebelumnya. Ada keputusan kecil yang terasa seperti revolusi di dalam diri, keputusan yang mungkin bagi orang lain terlihat sepele, tapi bagiku rasanya seperti melangkah ke panggung tanpa naskah. Selama ini aku selalu memilih aman, pura-pura sibuk, pura-pura tidak sadar, pura-pura tidak ada apa-apa. Tapi pagi ini rasanya aku lelah bersembunyi di balik pura-pura. Aku sengaja melakukannya. Ada rasa capek yang mengendap cukup lama, capek karena terus menghindar, capek karena harus berpura-pura bahwa semua ini hanya kebetulan yang tidak berarti apa-apa. Padahal di dalam kepala, semua kebetulan itu terasa seperti rangkaian kode yang ingin kupahami. Dia, dengan cara yang entah sengaja atau tidak, terus mencoba menarik perhatianku. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa harus menjawab tantangan itu. Bukan dengan kata-kata, bukan denga...
Aku sering bertanya-tanya tentang hal yang sebenarnya sederhana, tapi rasanya selalu berputar menjadi labirin panjang di kepalaku, apakah dia juga merindukanku seperti aku merindukannya? Pertanyaan itu muncul pelan-pelan, seperti kabut yang datang tanpa suara, lalu menetap terlalu lama. Tidak ada momen dramatis yang memicunya. Ia hadir begitu saja, di sela percakapan singkat, di antara jeda pesan yang tak segera dibalas, atau di detik-detik hening setelah kami berpisah. Dan sejak itu, pertanyaan itu seperti memilih tinggal, menempati ruang paling sunyi di pikiranku. Aku tidak yakin. Benar-benar tidak yakin. Bahkan ketika mencoba meyakinkan diri sendiri, selalu ada suara kecil yang memotong di tengah kalimat, mengatakan bahwa mungkin semua ini hanya sepihak. Rasanya seperti déjà vu yang terlalu familiar. Perasaan mencintai ini terasa seperti pola lama yang kembali berulang, cerita yang pernah terjadi dengan tokoh berbeda tapi alur yang sama. Aku seperti seseorang yang menonton ulang f...