Skip to main content

Posts

Terlalu Sering untuk Disebut Kebetulan

Aku harus mengakuinya, meski agak malu, aku ini tipe yang gampang berubah jadi detektif amatir kalau sudah penasaran pada seseorang. Berkali-kali meyakinkan diri bahwa aku tidak akan mencari tahu lagi tentang dia, tapi kenyataannya selalu berakhir sama, diam-diam membuka akun yang terhubung dengannya, menelusuri jejak kecil yang sebenarnya tidak pernah diminta untuk ditemukan. Sabtu kemarin jadi bukti terbaru. Dari story orang lain, aku melihat potongan kehidupannya yang tidak pernah kulihat secara langsung. Dia tertawa lepas. Benar-benar lepas. Tidak ada canggung, tidak ada jeda, tidak ada gerakan hati-hati seperti yang sering kulihat ketika dia berada di dekatku. Tawa itu terasa ringan, mengalir begitu saja seperti air yang tidak pernah mengenal batu penghalang. Dan entah kenapa, justru di situlah dadaku terasa jatuh pelan. Bukan karena cemburu. Setidaknya aku ingin percaya bukan itu. Lebih seperti perasaan aneh yang sulit diberi nama, sejenis kesimpulan sepihak yang tiba-tiba mun...
Recent posts

Mungkin Bukan Pertemuannya yang Kusukai, Melainkan Kemungkinan-Kemungkinan yang Tidak Pernah Terjadi di Dalamnya

Kemarin pertemuan itu hanya berlangsung singkat, hampir seperti adegan selingan yang muncul sebentar lalu hilang sebelum sempat dipahami. Ia datang terlambat, bukan terlambat seperti biasanya, bukan selisih beberapa menit yang masih bisa dianggap kebiasaan kecil yang lucu. Kali ini benar-benar terlambat. Sangat terlambat, sampai kehadirannya terasa seperti sesuatu yang datang setelah hampir semua orang berhenti menunggu. Dan anehnya, aku menyadari itu dengan mudah. Terlalu mudah, malah. Karena tanpa sadar aku sudah menghafal ritme kedatangannya: jam berapa biasanya muncul, langkahnya yang seperti apa ketika memasuki ruangan, bagaimana ia biasanya menaruh barang, bahkan jeda kecil sebelum ia benar-benar bergabung dengan aktivitas yang lain. Semua detail kecil itu entah kapan tersimpan di kepalaku, seperti catatan rahasia yang tidak pernah sengaja kutulis. Ketika ia akhirnya muncul kemarin, ada sesuatu yang terasa berbeda. Gerakannya tampak lebih hati-hati, lebih pelan, seolah ia sedan...

Berani di Kepala, dan Tetap Gemetar di Dunia Nyata

Ini yang biasanya kulakukan ketika di rumah sendirian. Saat kamar sunyi, lampu redup, dan tak ada siapa-siapa yang menertawakan imajinasiku. Aku membuat banyak skenario. Adegan-adegan kecil yang kurancang dengan begitu rapi, seperti sutradara yang terlalu ambisius untuk sebuah cerita yang bahkan belum dimulai. Di kepalaku, aku tahu harus berkata apa. Kalimat pembuka yang ringan, sapaan yang santai, bahkan lelucon kecil untuk mencairkan suasana. Aku membayangkan ia tersenyum, lalu membalas dengan nada yang tak kalah hangat. Percakapan mengalir, tidak canggung, tidak terbata-bata. Kami berdiri berhadapan tanpa jarak yang terlalu kaku. Bahkan dalam beberapa versi, aku bisa menatap matanya cukup lama tanpa merasa ingin melarikan diri. Semuanya terasa mungkin ketika hanya aku dan dinding kamar yang menjadi saksi. Tapi kenyataan selalu berbeda. Ketika benar-benar bertemu dengannya, semua naskah itu mendadak hilang. Seperti file yang terhapus sebelum sempat disimpan. Otakku kosong. Jantun...

Aku Masih Mencarinya

 Aku melihatnya di salah satu sudut ruangan, tanpa rencana, tanpa niat. Momen itu datang begitu saja, seperti kebiasaan lama yang belum benar-benar hilang. Ia berdiri di sana, mengenakan baju yang belum pernah kulihat sebelumnya, warna coklat bata, atau mungkin ada nama lain yang lebih tepat untuk warna itu. Aku tidak begitu paham soal warna, tapi yang jelas, warna itu berbeda dari biasanya. Dan entah kenapa, perbedaan kecil itu cukup untuk membuat sudut hatiku tersenyum pelan. Sepanjang pengamatanku, yang seharusnya sudah kuhentikan, ia hampir selalu memilih warna-warna gelap. Hitam, abu-abu, biru tua. Warna-warna aman yang seperti tidak ingin menarik perhatian. Tapi hari ini, ada sesuatu yang berubah. Warna itu hangat. Hidup. Dan anehnya, cocok sekali padanya. Aku bahkan sempat berpikir, seharusnya ia lebih sering memakai warna seperti itu. Pikiran yang datang begitu spontan, begitu alami, seolah aku masih berhak memperhatikannya. Dan di situlah aku tersadar. Kenapa aku memper...

Aku Tidak Mencari, tapi Situasi Justru Menempatkan Kami dalam Lingkaran yang Sama

Sepertinya aku gagal. Kalimat itu datang pelan, hampir tanpa suara, tapi terasa jelas di dalam kepala sejak kemarin. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti mencarinya, setidaknya berhenti dengan sengaja. Aku ingin berjalan seperti biasa, bekerja seperti biasa, menaruh perasaan ini di tempat yang aman, jauh dari kebiasaan menoleh tanpa alasan. Aku ingin terlihat baik-baik saja, dan lebih dari itu, aku ingin benar-benar baik-baik saja. Tapi kenyataannya, aku tetap mencarinya setiap kali ada kesempatan. Bukan dengan cara dramatis. Tidak menunggu di sudut-sudut tertentu atau mengubah rute demi berpapasan. Tidak. Ini lebih halus, lebih memalukan, semacam kebiasaan refleks yang datang tanpa izin. Mata yang diam-diam memindai ruangan. Telinga yang tiba-tiba peka pada suara yang terasa familiar. Pikiran yang selalu punya ruang untuk satu pertanyaan sederhana, kenapa dia tidak datang? Dan pertanyaan itu berkembang biak dengan cepat. Kenapa dia menghindar? Apakah benar dia menghin...

Kalau Saja Aku Sedikit Lebih Cepat, Apakah Ceritanya Akan Berbeda?

Yang paling melelahkan dari menjauh itu bukan langkahnya, tapi berpura-pura bahwa langkah itu tidak berarti apa-apa. Aku benar-benar mencoba mengambil jarak. Entah terasa atau tidak dalam perspektifnya, aku tak tahu. Aku hanya berusaha tidak lagi mencari keberadaannya di dalam ruangan. Tidak lagi otomatis menyapu pandangan untuk memastikan ia ada di sana. Tidak lagi sengaja memilih tempat duduk yang memungkinkan garis pandangku jatuh ke arahnya. Meski, tentu saja, tak semuanya bisa kuhindari. Ada momen-momen kecil yang tak bisa dikontrol, berpapasan di lorong, berdiri dalam antrean yang sama, atau sekadar menyadari suaranya di antara keramaian. Di saat-saat seperti itu, aku harus bekerja dua kali lebih keras untuk terlihat biasa saja. Wajah datar. Gestur wajar. Tertawa pada hal-hal yang memang lucu, bukan karena ia ada di sekitar. Aku merasa seperti sedang memainkan peran sebagai diriku sendiri. Sehari-hari aku tetap beraktivitas seperti biasa. Mengobrol dengan orang lain. Menyele...

Tak Ingin Lagi Berlarut-Larut Dalam Euforia yang Hanya Hidup di Kepalaku Sendiri

Senin akhirnya datang juga, seperti biasa, tanpa peduli apa yang sedang berkecamuk di dalam dada seseorang. Matahari tetap naik, jalanan tetap ramai, dan ruangan itu tetap sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Hanya aku yang berbeda. Kali ini aku datang dengan keputusan kecil yang terasa besar, aku tidak akan lagi mencari-cari dia. Biasanya, tanpa sadar, mataku selalu tahu harus ke mana. Begitu memasuki ruangan, ada semacam radar halus yang otomatis bekerja, mendeteksi di mana dia berdiri, dengan siapa dia duduk, bagaimana ekspresinya pagi itu. Tapi hari ini aku mematikan radar itu. Setidaknya, aku mencoba. Aku sengaja menyibukkan diri. Mengatur barang, membuka laptop, membaca sesuatu yang sebenarnya tak benar-benar kubaca. Aku menundukkan wajah sedikit lebih lama dari biasanya, menatap layar seolah-olah ada hal yang sangat penting. Padahal yang sebenarnya penting justru sedang kuhindari. Beberapa kali, tanpa bisa dihindari, aku tetap melihatnya sekilas. Bukan karena sengaja menca...