Ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, banyak orang secara alami akan mencari sandaran. Entah itu teman dekat, lingkar pertemanan, atau sekadar tempat curhat yang aman. Ada yang menuliskannya di media sosial, ada yang menghubungi satu per satu orang kepercayaannya. Mereka bergerombol di dalam lingkarannya sendiri, saling menguatkan, saling membenarkan, saling memastikan bahwa mereka tidak sendirian. Pola itu sering terlihat jelas. Saat seseorang kena masalah, dukungan datang dari orang-orang yang satu sirkel. Ada yang menemani ngobrol panjang, ada yang sekadar mendengar, ada juga yang hanya hadir lewat pesan singkat. Temanku yang baru-baru ini kena masalah juga begitu. Dia punya orang-orang yang jadi tempat pulang, tempat bercerita, tempat mengeluh tanpa takut dihakimi. Dan itu sah-sah saja. Bahkan mungkin sehat. Tapi tidak semua orang bekerja dengan cara yang sama. Ada orang-orang, dan aku salah satunya, yang justru memilih diam ketika sedang jatuh. Bukan karena tidak butuh duku...
Ada satu kalimat yang makin ke sini makin terasa relevan, sejarah itu tergantung siapa yang menulis dan siapa yang menceritakan. Dulu kalimat ini terdengar seperti teori besar di buku pelajaran. Jauh, akademis, dan tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari. Tapi ketika mengalaminya sendiri, rasanya jadi sangat dekat, bahkan agak menyesakkan. Dalam satu fase hidup, ada cerita tentang diriku yang berkembang begitu bombastis. Versinya jelas, aku jadi tokoh utama yang paling bersalah. Kesalahannya dibesar-besarkan, motifnya disederhanakan, dan latar belakangnya dihilangkan. Ceritanya rapi, dramatis, dan mudah dicerna. Sayangnya, cerita itu bukan datang dariku. Di waktu yang hampir bersamaan, ada temanku yang juga mengalami hal serupa. Sama-sama “jatuh”, sama-sama disorot, tapi kasusnya berbeda. Bedanya, narasi tentang dia dibangun sebagai korban. Orang-orang bicara dengan nada empati, mencari sebab di luar dirinya, dan berusaha memahami. Dua kejadian, dua orang, dua cerita. Padahal ...