Skip to main content

Posts

Cara Setiap Orang Menghadapi Masalah Itu Berbeda

Ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, banyak orang secara alami akan mencari sandaran. Entah itu teman dekat, lingkar pertemanan, atau sekadar tempat curhat yang aman. Ada yang menuliskannya di media sosial, ada yang menghubungi satu per satu orang kepercayaannya. Mereka bergerombol di dalam lingkarannya sendiri, saling menguatkan, saling membenarkan, saling memastikan bahwa mereka tidak sendirian. Pola itu sering terlihat jelas. Saat seseorang kena masalah, dukungan datang dari orang-orang yang satu sirkel. Ada yang menemani ngobrol panjang, ada yang sekadar mendengar, ada juga yang hanya hadir lewat pesan singkat. Temanku yang baru-baru ini kena masalah juga begitu. Dia punya orang-orang yang jadi tempat pulang, tempat bercerita, tempat mengeluh tanpa takut dihakimi. Dan itu sah-sah saja. Bahkan mungkin sehat. Tapi tidak semua orang bekerja dengan cara yang sama. Ada orang-orang, dan aku salah satunya, yang justru memilih diam ketika sedang jatuh. Bukan karena tidak butuh duku...
Recent posts

Sejarah Tergantung Siapa yang Bercerita: Tentang Versi, Label, dan Cara Orang Mengingat Kita

Ada satu kalimat yang makin ke sini makin terasa relevan, sejarah itu tergantung siapa yang menulis dan siapa yang menceritakan. Dulu kalimat ini terdengar seperti teori besar di buku pelajaran. Jauh, akademis, dan tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari. Tapi ketika mengalaminya sendiri, rasanya jadi sangat dekat, bahkan agak menyesakkan. Dalam satu fase hidup, ada cerita tentang diriku yang berkembang begitu bombastis. Versinya jelas, aku jadi tokoh utama yang paling bersalah. Kesalahannya dibesar-besarkan, motifnya disederhanakan, dan latar belakangnya dihilangkan. Ceritanya rapi, dramatis, dan mudah dicerna. Sayangnya, cerita itu bukan datang dariku. Di waktu yang hampir bersamaan, ada temanku yang juga mengalami hal serupa. Sama-sama “jatuh”, sama-sama disorot, tapi kasusnya berbeda. Bedanya, narasi tentang dia dibangun sebagai korban. Orang-orang bicara dengan nada empati, mencari sebab di luar dirinya, dan berusaha memahami. Dua kejadian, dua orang, dua cerita. Padahal ...

Orang-Orang yang Sefrekuensi Akan Berkumpul: Pelajaran Tentang Lingkaran, Iri, dan Cara Kita Melihat Dunia

Ada satu kalimat yang dulu sering aku dengar, tapi lama tidak benar-benar aku percayai, Tuhan akan mengumpulkan orang-orang yang sefrekuensi. Waktu itu rasanya terlalu klise, terlalu sederhana untuk menjelaskan kerumitan hidup dan relasi manusia. Masa iya, dunia yang ruwet ini bisa diringkas hanya dengan soal frekuensi? Sampai suatu hari, aku lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar cerita orang lain, memperhatikan pola-pola kecil, dan tanpa sadar mulai melihat benang merahnya. Cerita-cerita itu berbeda, orangnya juga beda-beda, tapi reaksinya mirip. Terutama saat membicarakan kesuksesan orang lain. Ada yang tulus ikut senang. Ada yang diam. Dan ada juga yang gelisah, lalu mulai mencari-cari celah. Di titik itu, kesimpulan lama yang dulu aku ragukan pelan-pelan terasa masuk akal. Orang-orang dengan penyakit hati, entah iri, dengki, atau luka yang belum selesai, ternyata memang sulit melihat keberhasilan orang lain dengan tenang. Alih-alih bertanya “bagaimana dia bisa samp...

Cemas Melihat Rambut Uban Bertambah: Antara Menerima Usia dan Rasa Percaya Diri

Ada fase dalam hidup ketika kecemasan datang bukan dari hal besar, tapi dari sesuatu yang kelihatannya sepele. Bukan soal pekerjaan, bukan soal relasi, tapi soal bayangan di cermin. Rambut yang dulu hitam, kini pelan-pelan berubah warna. Uban muncul satu dua, lalu tanpa permisi bertambah banyak. Dan anehnya, perubahan kecil ini bisa memicu anxiety yang cukup nyata. Buat sebagian orang, rambut ubanan adalah tanda kebijaksanaan. Tapi kenyataannya, tidak semua siap menerimanya begitu saja. Apalagi ketika ubannya muncul tidak merata. Di satu sisi kepala lebih banyak, di sisi lain masih hitam. Rasanya seperti tubuh bergerak lebih cepat dari kesiapan batin. Di luar terlihat baik-baik saja, tapi di dalam ada suara kecil yang bertanya,  kok cepat banget ya? Di titik itu, keinginan untuk tampil apa adanya bertabrakan dengan rasa tidak percaya diri. Ada niat untuk membiarkan semuanya alami. Tidak dicat, tidak ditutup-tutupi. Tapi niat itu goyah setiap kali bercermin. Bukan karena takut dib...

Kenapa Aku Lebih Memilih Diam di Grup Chat: Antara Canggung, Lelah, dan Perasaan yang Sulit Dijelaskan

Di hampir setiap grup chat, selalu ada satu pola yang berulang. Ada yang berbagi kabar duka lalu meminta doa. Ada yang mengabarkan kelulusan, kenaikan jabatan, atau pencapaian kecil yang ingin dirayakan. Ada juga yang sekadar melempar hal-hal remeh, stiker, candaan receh, atau komentar pendek yang entah kenapa tetap ramai ditanggapi. Semuanya terlihat wajar. Normal. Bahkan hangat, kalau dilihat sepintas. Tapi entah kenapa, ada perasaan aneh ketika melihatnya. Bukan sinis, bukan juga iri. Lebih ke rasa canggung yang sulit dijelaskan. Jari rasanya berat untuk ikut nimbrung. Bukan karena tidak peduli, tapi karena bingung harus merespons dengan nada seperti apa. Mengucapkan doa terasa klise. Mengucapkan selamat kadang terasa formal. Dan menanggapi hal-hal remeh justru terasa melelahkan. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi diam di grup chat sering kali bukan soal malas atau cuek. Ada konflik kecil di dalam kepala. Ingin terlihat hadir, tapi juga tidak ingin terasa palsu. Ingin ikut ber...

Merasa Tetap Muda di Usia 40-an: Ketika Badan Menua, Tapi Perasaan Masih Anak-Anak

Pernah nggak sih merasa tubuh terus berjalan maju, tapi perasaan tertinggal di satu titik yang sama? Usia di KTP bertambah, angka di kepala depan berubah jadi empat, tapi di dalam kepala rasanya masih seperti dulu. Masih gampang tertawa, masih merasa canggung disebut “orang tua”, dan kadang bingung sendiri,  kok bisa ya aku sudah di umur segini? Fenomena merasa tetap muda di usia 40-an ini ternyata cukup sering dialami banyak orang, meski jarang diomongin. Di luar sana, orang-orang seumuran tampak sudah mapan, tenang, dan mantap dengan hidupnya. Sementara di sini, ada perasaan seperti anak-anak yang kebetulan punya tanggung jawab besar. Punya keluarga, kerjaan, dan kewajiban, tapi batinnya belum sepenuhnya “dewasa” seperti definisi umum. Aku sendiri sering mengalaminya. Ada hari-hari ketika bercermin dan terkejut melihat wajah yang pelan-pelan berubah, sementara isi kepala masih sama. Masih merasa kikuk saat harus jadi panutan, masih ragu mengambil keputusan besar, dan kadang mas...

Donor Darah, Niat Baik, dan Pertanyaan yang Bikin Berhenti Lama

Hari ini aku ikut donor darah. Acara kantor, kerja sama dengan PMI. Sebenarnya sederhana, tapi buatku cukup bermakna. Soalnya terakhir kali aku donor itu kayaknya tujuh tahun lalu. Lama banget. Bukan karena takut jarum, bukan juga karena males, tapi karena dulu sempat ramai berita soal orang donor darah yang katanya kena HIV/AIDS. Entah valid atau enggak, tapi waktu itu cukup bikin nyali ciut. Akhirnya berhenti, dan ya… keterusan berhenti. Tahun ini entah kenapa kepikiran buat mulai lagi. Mungkin karena umur nambah, mungkin karena badan masih relatif sehat, atau mungkin karena ada dorongan kecil di kepala,  kalau bisa berguna, kenapa enggak? Jadi aku datang, daftar, duduk rapi, niatnya lurus, donor, selesai, pulang. Sampai masuk ke tahap ngisi formulir. Pertanyaan-pertanyaan awal masih aman. Umur, berat badan, riwayat penyakit, pernah operasi atau enggak, minum obat apa. Itu semua masih bisa dijawab sambil setengah ngelamun. Tapi begitu masuk ke bagian pertanyaan soal riwayat h...