Beberapa kali pikiran itu datang, dan anehnya tidak pernah benar-benar sekali lalu selesai. Ia muncul lagi, lalu pergi, lalu kembali di waktu yang tidak terduga. Tentang umur. Tentang waktu yang terus berkurang. Tentang kenyataan bahwa aku tidak lagi berada di titik awal perjalanan. Kadang datang saat sendiri, kadang muncul di sela aktivitas yang sebenarnya biasa saja. Tidak mengganggu secara keras, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak dan berpikir. Aku tidak sepenuhnya tenggelam dalam pikiran itu. Justru di sisi lain, ada bagian dari diriku yang menolak. Menolak untuk merasa tua. Menolak untuk diperlambat oleh angka. Seolah-olah ada suara dalam diri yang berkata, “belum, belum sekarang.” Dan suara itu cukup kuat. Ia membuatku tetap bergerak, tetap merasa bahwa banyak hal masih bisa dikejar. Mungkin itu juga yang membuatku tetap pergi ke gym, bahkan setelah tarawih. Kadang orang lain memilih istirahat setelah ibadah malam, tapi aku justru mengganti baju dan berangkat. Bukan s...
Kadang yang paling mencuri waktu bukan hal besar, tapi hal kecil yang dibiarkan berulang. Satu swipe, lalu satu lagi, lalu tanpa sadar waktu sudah habis, dan yang tersisa hanya perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Di bulan yang seharusnya mengajak untuk mendekat pada makna, aku justru sering terjebak dalam gerakan jari yang tidak ada ujungnya, scroll tanpa henti. Awalnya sederhana. Niatnya cuma ingin “sebentar saja”. Membuka ponsel setelah sahur, atau sebelum tidur, atau di sela-sela menunggu waktu berbuka. Tapi seperti yang sering terjadi, “sebentar” itu selalu punya cara untuk memanjang. Satu video berlanjut ke video lain, satu informasi berpindah ke yang berikutnya, dan tiba-tiba aku sudah terlalu jauh untuk berhenti. Lucunya, aku sadar sedang melakukannya. Tapi tetap saja diteruskan.