Ada pikiran-pikiran yang datang diam-diam, biasanya saat lelah sudah menumpuk dan jalan keluar terasa buntu. Pikiran tentang mengakhiri hidup, sebagai pilihan terakhir, kadang muncul bukan karena ingin mati, tapi karena ingin berhenti dari rasa sakit. Ingin jeda. Ingin sunyi. Pikiran itu tidak selalu dramatis. Ia bisa hadir tenang, hampir logis. Seperti opsi darurat yang muncul di kepala saat semua pintu terasa tertutup. Dan di momen itu, rasanya wajar jika seseorang bertanya, “kalau berhenti saja, apa semuanya akan selesai?” Tapi setelah dipikir lebih jauh, ada satu kenyataan yang sering terlewat. Hidup mungkin berhenti bagi satu orang, tapi masalah tidak ikut berhenti. Yang tertinggal justru harus memungut pecahannya. Rasa kehilangan, rasa bersalah, pertanyaan tanpa jawaban, semua itu berpindah tangan. Bebannya bergeser, bukan hilang. Kesadaran itu pelan-pelan mengubah arah pikiran. Bukan jadi tiba-tiba kuat, tapi jadi lebih jujur. Bahwa pilihan itu, sejauh apa pun tamp...
Ada fase hidup ketika kata gagal terasa makin sering mampir ke kepala. Bukan karena ada yang mengatakannya langsung, tapi karena hidup berjalan tidak seperti rencana. Target meleset, pencapaian tertunda, dan perbandingan datang dari mana-mana. Di usia dewasa, perasaan ini terasa lebih sunyi, karena seharusnya sudah “jadi”, tapi kenyataannya belum ke mana-mana. Banyak orang pernah ada di titik ini, meski jarang mengakuinya dengan jujur. Awalnya, pikiran itu datang sebentar lalu ditepis. “Ah, cuma lagi capek.” “Ini cuma fase.” Dicoba dilawan dengan afirmasi yang terdengar masuk akal, kesuksesan tiap orang beda waktunya. Hidup bukan lomba. Pelan-pelan saja. Semua kalimat itu benar, rapi, dan sering diulang. Masalahnya, otak tidak selalu mau diajak kerja sama. Semakin ditepis, pikiran itu justru terasa makin keras. Seperti ada suara kecil yang terus mengulang: ini bukan soal tertunda, tapi memang gagal. Bukan kurang waktu, tapi kurang kualitas. Dan di titik tertentu, kalimat pal...