Ada hal-hal yang terlihat sepele bagi orang lain, tapi bisa terasa seperti alarm bahaya bagi seseorang yang pernah terluka. Sebuah nada notifikasi. Nama tertentu muncul di layar. Atau pesan singkat yang isinya hanya beberapa kata. “Mohon menghadap pimpinan.” Kalimat yang biasa saja. bahkan mungkin bagian dari rutinitas kerja. Tapi bagi sebagian orang, itu cukup untuk membuat dada sesak tanpa alasan yang bisa dijelaskan dengan cepat. Dan di situlah trauma bekerja. Diam-diam, tapi nyata. Banyak orang mengira waktu otomatis menyembuhkan segalanya. Seolah semakin lama sebuah kejadian berlalu, semakin kecil pula dampaknya. Kenyataannya tidak selalu begitu. Trauma sering tidak benar-benar hilang. Ia hanya tertidur. Sampai suatu hari, sesuatu yang kecil membangunkannya. Tubuh bereaksi lebih dulu sebelum logika sempat menenangkan. Tangan mulai dingin. Napas terasa pendek. Pikiran mendadak berlari ke kemungkinan terburuk, dimarahi, disalahkan, dipermalukan, atau dihadapkan pada situasi ...
Belakangan ini, timeline terasa lebih padat dari biasanya. Buka Facebook, ada. Geser Twitter/X, muncul lagi. Nama yang sama berulang-ulang, Jeffrey Epstein. Banyak yang membaca sepintas, lalu mengernyit. Ini kasus lama atau baru? Kok seperti belum selesai? Wajar kalau akhirnya muncul satu perasaan yang sama: semakin dibaca, semakin sulit dipahami. Siapa Sebenarnya Jeffrey Epstein? Jeffrey Epstein adalah seorang financier asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai miliarder dengan lingkaran pertemanan berisi orang-orang sangat berpengaruh, mulai dari politisi, selebritas, sampai bangsawan. Namun di balik citra sukses itu, ia dituduh menjalankan jaringan perdagangan seksual terhadap perempuan dan anak di bawah umur. Kasusnya mulai mencuat pada 2005 setelah laporan bahwa seorang remaja mengalami pelecehan. Jumlah korban kemudian terus bertambah hingga puluhan orang. Tahun 2008, ia membuat kesepakatan hukum yang membuatnya hanya menjalani sekitar 13 bulan penjara, bahkan dengan izin be...