Hari Senin kemarin ada acara halal bi halal di kantor. Sejak jauh-jauh hari sebenarnya aku sudah tahu acara itu akan datang, tapi seperti kebanyakan hal yang berhubungan dengan keramaian, aku memilih pura-pura lupa sampai akhirnya tidak bisa lagi dihindari. Begitu pengumuman resmi muncul dan tanggalnya semakin dekat, perasaan yang muncul bukan antusias, melainkan semacam tegang yang pelan-pelan naik ke permukaan. Sejujurnya, acara seperti ini selalu terasa canggung bagiku. Bukan karena acaranya buruk atau orang-orangnya tidak menyenangkan, tapi lebih karena situasinya menuntutku berada di tengah keramaian yang tidak sepenuhnya akrab. Banyak wajah yang sebenarnya sering kulihat sekilas di lorong kantor, tapi tidak pernah benar-benar kukenal. Dan entah kenapa, berada di ruangan penuh orang yang “setengah dikenal” justru terasa lebih melelahkan dibanding berada di antara orang asing sepenuhnya. Di pagi hari sebelum acara dimulai, aku sempat berharap ada alasan kuat untuk tidak ikut. Mun...
Sejak pulang dari mudik lebaran di rumah mertua kemarin, aku merasa tubuhku seperti berada di wilayah abu-abu yang sulit dijelaskan. Bukan sakit yang jelas sampai harus benar-benar rebahan seharian, tapi juga jauh dari kata sehat. Rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beres, namun tidak cukup kuat untuk disebut sakit secara meyakinkan. Tubuh tetap bergerak, aktivitas tetap berjalan, tapi semuanya terasa lebih berat dari biasanya. Awalnya aku mengira ini hanya kelelahan biasa. Perjalanan mudik, perubahan rutinitas, jadwal tidur yang berantakan, suasana rumah yang ramai, interaksi yang tidak berhenti....s emuanya seperti menumpuk tanpa sempat diberi jeda. Saat masih di sana, tubuh mungkin terlalu sibuk untuk protes. Baru setelah pulang, ketika ritme mulai melambat, keluhan itu muncul satu per satu, pelan tapi konsisten. Badanku terasa pegal di tempat-tempat yang tidak spesifik. Kadang kepala terasa berat, kadang tenggorokan seperti tidak nyaman, kadang badan terasa hangat meski tidak ...