Pernah ada di fase ini? Kepala penuh, catatan rencana makin panjang, ide datang silih berganti, tapi satu pun tak benar-benar jalan. Hari terasa sibuk, tapi anehnya tidak ada yang benar-benar selesai. Capek, tapi sulit menunjuk capeknya karena apa. Banyak orang mengalaminya, meski jarang dibicarakan dengan jujur. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak rencana. Terlalu banyak keinginan. Dan alih-alih membuat hidup lebih maju, semuanya justru terasa tidak fokus. Awalnya terlihat produktif. Mikir ini, mikir itu. Membayangkan berbagai kemungkinan, peluang, dan skenario masa depan. Ada dorongan untuk melakukan lebih, menjadi lebih, mengejar hal-hal yang bahkan belum tentu jadi tanggung jawab sendiri. Rasanya seperti sedang “bertumbuh”, padahal perlahan-lahan justru menjauh dari apa yang seharusnya dikerjakan hari ini. Di titik tertentu, fokus mulai bocor ke mana-mana. Energi habis untuk hal-hal di luar tugas utama. Terlalu sibuk memikirkan rencana besar, sampai lupa merawat pekerjaan kec...
Ada satu hal kecil yang belakangan sering muncul tanpa diminta, lagu-lagu lawas yang dinyanyikan ulang. Muncul di radio, linimasa media sosial, kafe, bahkan acara keluarga. Lagu yang dulu hidup di zamannya sendiri, kini hadir lagi dengan aransemen baru, suara baru, dan niat yang katanya untuk mengenalkan ke generasi sekarang. Masalahnya, tidak semua orang merasa nyaman. Bukan karena lagunya jelek. Justru sebaliknya. Banyak lagu lama itu sebenarnya sangat kuat, liriknya jujur, melodinya matang, dan emosinya terasa utuh. Tapi ketika dinyanyikan ulang, ada rasa ganjil yang sulit dijelaskan. Seperti mendengar cerita lama tapi dengan intonasi yang salah. Atau membaca ulang surat pribadi orang lain, lalu diberi emoji berlebihan. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Musik sekarang juga banyak yang terdengar… familiar. Terlalu familiar. Melodi jadul dipoles sedikit, progresi akor lama dibungkus beat kekinian, lalu dilepas ke pasar dengan klaim “fresh” dan “relate”. Tidak salah, tentu....