Aku dan Air Mata Rintik hujan makin lama makin lebat. Angin, petir dan kilat tak henti-hentinya terdengar di luar. Air hujan yang terterpa angin menempel pada satu sisi kaca, menciptakan mahakarya lukisan alam yang tiapa duanya. Jari telunjukku tergerak untuk melukiskan sebuah gambar hati di satu sisinya lagi. Senyum simpul tercipta dari bibirku begitu lukisan itu tercipta. Melihat manisnya senyum yang mengembang dari bibirku, aku yakin, tak ada orang yang tahu bahwa pemilik senyum ini sedang merasa hampa. Dasar aktor, saat hampa pun masih sempat-sempatnya aku berpura-pura bahagia. Mungkin karena tuntutan, sebagai publik figur harus selalu terlihat bahagia meski yang sebenarnya terjadi aku sedang terluka. Ah, apa hakku? saat ini aku tak lagi punya hak untuk tubuhku. Semua jiwa ragaku tlah jadi milik mereka, apa yang mereka minta, aku hanya bisa menurutinya. Tubuh ini bukan lagi milikku. Dalam kekosongan yang aku rasakan, aku masih terus bertahan. Hidup memang kejam, ta...