Skip to main content

Donor Darah, Niat Baik, dan Pertanyaan yang Bikin Berhenti Lama


Hari ini aku ikut donor darah. Acara kantor, kerja sama dengan PMI. Sebenarnya sederhana, tapi buatku cukup bermakna. Soalnya terakhir kali aku donor itu kayaknya tujuh tahun lalu. Lama banget. Bukan karena takut jarum, bukan juga karena males, tapi karena dulu sempat ramai berita soal orang donor darah yang katanya kena HIV/AIDS. Entah valid atau enggak, tapi waktu itu cukup bikin nyali ciut. Akhirnya berhenti, dan ya… keterusan berhenti.

Tahun ini entah kenapa kepikiran buat mulai lagi. Mungkin karena umur nambah, mungkin karena badan masih relatif sehat, atau mungkin karena ada dorongan kecil di kepala, kalau bisa berguna, kenapa enggak? Jadi aku datang, daftar, duduk rapi, niatnya lurus, donor, selesai, pulang.

Sampai masuk ke tahap ngisi formulir.

Pertanyaan-pertanyaan awal masih aman. Umur, berat badan, riwayat penyakit, pernah operasi atau enggak, minum obat apa. Itu semua masih bisa dijawab sambil setengah ngelamun. Tapi begitu masuk ke bagian pertanyaan soal riwayat hubungan seksual, terutama yang menyangkut hubungan dengan lawan sejenis, aku langsung berhenti.

Beneran berhenti. Pena di tangan, mata baca ulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Pertanyaannya bukan satu, tapi banyak. Detail. Berlapis. Dan jujur aja, itu bagian yang bikin kening agak berkerut. Bukan karena aku menyembunyikan sesuatu, tapi karena nadanya terasa… serius banget. Kayak sedang diuji, bukan sekadar didata.

Aku paham sih, ini soal keamanan darah. Soal risiko medis. Soal prosedur. Secara logika, masuk akal. Tapi sebagai pengisi formulir, rasanya tetap aneh. Ada rasa kikuk yang gak bisa dijelasin. Antara ingin jujur sepenuhnya, tapi juga merasa wilayah privat itu dibuka terlalu lebar. Apalagi pertanyaannya panjang dan berulang, seolah memastikan berkali-kali.

Di situ aku baru sadar, niat baik ternyata kadang harus lewat proses yang bikin kita gak nyaman dulu. Donor darah itu mulia, iya. Tapi jalurnya tetap sistemik, kaku, dan sangat administratif. Dan mau gak mau, kita harus masuk ke dalamnya. Duduk tenang, jawab satu-satu, walau sempat mikir, ini perlu sampai sedetail ini ya?

Setelah formulir selesai, sisanya berjalan lancar. Cek tensi, cek Hb, rebahan, jarum masuk, darah ngalir. Prosesnya malah terasa lebih ringan dibanding bagian ngisi kertas tadi. Ironis juga. Yang fisik justru lebih santai daripada yang mental.

Pulang-pulang, aku mikir, mungkin ini harga dari niat baik di dunia yang serba prosedur. Kita gak cuma diminta sehat secara fisik, tapi juga “bersih” secara data. Dan ya sudah. Aku terima saja. Yang penting niatnya sampai, darahnya kepakai, dan semoga ada orang lain yang terbantu.

Tahun ini aku pengin mulai lagi. Mudah-mudahan lancar. Mudah-mudahan bisa kontinyu tiap dua bulan sekali. Dan mudah-mudahan, rasa kikuk di formulir itu gak jadi alasan buat berhenti lagi. Karena pada akhirnya, satu kantong darah mungkin lebih berarti daripada rasa gak nyamanku yang cuma sebentar.

Comments

Popular posts from this blog

Little Talks - Of Monsters & Men (Arti Lagu)

I'm back! Hari ini aku kembali dengan sebuah lagu yang gak tahu kenapa, aku menyukainya karena videonya menurutku keren banget. Selain itu, alasan kenapa aku menyukai lagu ini juga ternyata setelah didengarkan beberapa kali, ternyata liriknya enak sekali. Iramanya juga asyik, videonya juga menarik.   Menurutku, Little Talks - Of Monsters & Men ini bercerita tentang sebuah pasangan dalam percintaan. Lagu-lagu bertemakan cinta memang asyik banget untuk didengarkan, dan lagu ini juga bercerita tentang itu. Tapi sayangnya, sekali lagi lagu ini tentang hubungan yang nasibnya hidup segan, mati tak mau alias sedang dalam status rumit githu. Sang cewek menginginkan untuk mengakhiri hubungannya yang dinilai tak seindah dulu, sehingga dia mengharapkan sebuah cinta yang baru, yang memberikannya arti sebuah cinta seperti yang dia mau. Tapi masalahnya, sang cowok tidak mau melepaskan begithu saja. Dia terus berharap agar hubungannya terus berjalan seperti sedia kala.   ...

One Direction – Live While We're Young (Arti Lagu)

One Direction atau 1D sekarang lagi booming-boomingnya. Sepertinya saya gak salah jika mau sedikit menerjemahkan salah satu lagunya. Meski lagu-lagunya banyak yang digilai banyak orang, tapi sampai sekarang saya tetap tidak mengidolakannya, apalagi mengoleksi lagu-lagunya. Saya menulis tulisan ini alasannya cuma satu, biar yang berkunjung di blogku bertambah. simple, kan? Kali ini saya memilh lagunya 1D yang judulnya  Live While We're Young. Banyak yang beranggapan, lagu ini tentang sex. Ajakan untuk berbuat sex lebih tepatnya. Anggapan mereka tidaklah salah, karena liriknya jelas banget mengarahnya kesana. Kalo ada yang ngeyel dan membela diri bahwa lagu ini bukan lagu tentang ajakan sex, tanya deh pada orang tua kita,  Get some means have sex. Simple as that. Sedikit tambahan, One Direction adalah grup penyanyi pria asal Inggris-Irlandia yang terbentuk di London pada tahun 2010. Grup ini beranggotakan Niall Horan, Zayn Malik, Liam Payne, Harry Style...

Curhat

"Sungguh terlalu, kamu berhasil membuatku tergila-gila padamu. Tak ada satu menit pun berlalu tanpa aku memikirkanmu. Beib, I love you." "Love u too... Aku kuliah jam setengah 6 lagi, beib." "Alhamdulillah hsil labnya negatif. " "Morning, beib. Rajin banget kuliah jadwal jam segitu. Btw, tes apa?" "Hehe ternyata salah lihat jadwal, besok yang kuliah jam segitu. Ntar kuliah jam setengah 11 cuman tes SGOT/SGPT." "Tes apa itu?" "Gak tau juga. Itu pokoknya kalau melebihi normal berarti kenak tipes, hepatitis dkk." "Aku cuma pernah tes darah aja, waktu banyak orang yang kena DB." "Hmmm.....semalem tidur jam berapa?" "Umm... masih sore kok, beib. Kamu ketiduran, aku juga. Bangun jam 11 malem, nonton tv. tapi gak tahu tidur lagi jam berapa." "Eeemmm... " "Mau cerita apa, beib?" "Kemaren penuh emosi tok. Kemaren kan aku muntah-muntah, makan ju...