Belakangan ini, banyak orang merasa ada yang berubah. Bukan karena headline media semata, tapi dari hal-hal kecil yang sehari-hari terasa di dompet dan kepala. Harga terasa makin sensitif, rencana hidup jadi lebih hati-hati, dan obrolan nongkrong pelan-pelan bergeser ke topik yang sama, “kok ekonomi kayaknya lagi seret, ya?”
Perasaan itu bukan halusinasi kolektif. Banyak pengamat ekonomi, praktisi bisnis, sampai pelaku usaha kecil menyebut hal serupa: ekonomi Indonesia sedang melambat. Angkanya ada, datanya bisa dicari. Tapi yang paling jujur justru terasa di kehidupan nyata, ketika keputusan sederhana seperti belanja, liburan, atau mulai usaha jadi penuh pertimbangan.
Di titik itu, wajar kalau pikiran mulai ke mana-mana. Muncul dorongan untuk cari pegangan tambahan. Usaha sampingan, misalnya. Ide yang terdengar rasional dan dewasa. Tapi begitu dijalani di kepala, ternyata tidak sesederhana konten motivasi di media sosial.
Otak kanan dipaksa kreatif: mikir bisnis, mikir peluang, mikir tren. Otak kiri ikut kerja lembur, hitung modal, risiko, waktu, tenaga. Ujung-ujungnya mentok. Bukan karena malas, tapi karena bingung harus mulai dari mana. Terlalu banyak pilihan, terlalu sedikit kejelasan.
Di saat yang sama, opsi “main aman” juga dicoba. Kirim lamaran ke beberapa instansi. Rapikan CV. Tulis surat lamaran sebaik mungkin. Klik kirim. Lalu menunggu. Hari berganti minggu, notifikasi yang ditunggu tak kunjung datang. Nol respons. Sunyi.
Dan di situ rasanya campur aduk. Bukan cuma soal ekonomi yang melambat, tapi kepercayaan diri yang ikut terseret. Ada rasa bertanya ke diri sendiri: apa memang pasarnya yang sempit, atau kita yang kurang layak?
Padahal sering kali jawabannya bukan hitam-putih. Ekonomi yang melambat memang membuat peluang menyempit. Perusahaan menahan rekrutmen. Usaha lebih berhitung sebelum ekspansi. Semua orang sedang bertahan, bukan berlari.
Yang jarang dibicarakan adalah dampak mentalnya. Rasa capek yang tidak kelihatan. Rasa gagal yang belum tentu salah kita. Tekanan untuk “harus produktif” di tengah situasi yang tidak ramah.
Mungkin fase ini bukan tentang langsung menemukan solusi besar. Bukan juga tentang siapa yang paling cepat bangkit. Bisa jadi ini fase bertanya, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi dengan cara yang lebih pelan. Lebih realistis.
Ekonomi bisa melambat, peluang bisa seret, lamaran bisa tak dibalas. Tapi kegelisahan yang dirasakan banyak orang hari ini adalah tanda bahwa kita masih peduli pada hidup sendiri. Dan itu, meski melelahkan, bukan hal yang sia-sia.
Kalau kamu sedang ada di fase ini, kemungkinan besar kamu tidak sendirian. Dan kadang, menyadari itu saja sudah sedikit meringankan.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!