Di kantor, sering ada situasi yang bikin serba salah. Ada obrolan yang berhenti saat kita datang. Ada rapat kecil yang tahu-tahu sudah selesai tanpa undangan. Ada keputusan yang baru terdengar setelah semuanya jalan. Rasanya ingin ikut nimbrung, bertanya, atau sekadar memastikan, “ini kok aku nggak tahu?”
Tapi pelan-pelan, ada satu pelajaran yang terdengar sederhana, meski tidak selalu mudah dijalani, gak diajak, jangan ikut. Gak diajak ngomong, diem aja. Gak dikasih tahu, jangan cari tahu. Bukan karena tidak peduli, tapi karena menjaga diri sendiri.
Di dunia kerja, batasan itu penting. Bukan semua hal perlu ditanggapi. Bukan semua urusan layak diikuti. Ada kalanya rasa ingin tahu justru membawa kita ke wilayah yang bukan tanggung jawab, dan ujung-ujungnya malah bikin capek sendiri.
Awalnya niatnya baik. Pengen membantu. Pengen sigap. Pengen dianggap peduli. Tapi realitanya, ikut campur tanpa diminta sering kali disalahartikan. Bisa dianggap sok tahu, kepo, atau bahkan mengganggu alur yang sudah ada. Di kantor, niat baik tidak selalu diterjemahkan dengan baik.
Ada juga jebakan lain, merasa tersisih. Saat tidak diajak bicara atau tidak dilibatkan, pikiran langsung ke mana-mana. Bertanya-tanya, menebak-nebak, mengisi kekosongan dengan asumsi. Padahal, bisa jadi memang bukan porsinya. Bukan karena tidak dipercaya, tapi karena tidak relevan dengan peran saat itu.
Di titik ini, memilih diam bukan berarti kalah. Justru sering kali itu pilihan paling dewasa. Diam bukan tanda pasif, tapi tanda tahu batas. Tahu kapan harus melangkah, dan kapan cukup mengamati dari jauh.
“Jangan ikut campur urusan orang lain di kantor” terdengar dingin, tapi sebenarnya realistis. Kantor bukan ruang keluarga. Setiap orang membawa target, tekanan, dan kepentingannya sendiri. Masuk terlalu jauh ke urusan orang lain bisa menyeret kita ke konflik yang sebenarnya tidak perlu.
Menjaga jarak juga membantu fokus. Energi tidak habis untuk drama kecil, gosip halus, atau informasi setengah matang. Fokus bisa kembali ke tugas sendiri, hal yang paling bisa dikendalikan. Dan anehnya, justru dari situ kepercayaan sering tumbuh, orang melihat kita konsisten, tenang, dan tidak reaktif.
Bukan berarti jadi apatis atau antisosial. Ketika diminta pendapat, berbicaralah. Saat diajak terlibat, berkontribusilah dengan maksimal. Tapi jika tidak, tidak apa-apa untuk mundur selangkah. Dunia kerja tidak menuntut kita hadir di semua ruang.
Ada ketenangan tersendiri ketika berhenti mengejar semua informasi. Ketika tidak lagi merasa harus tahu segalanya. Ketika menyadari bahwa tidak dilibatkan bukan selalu kerugian. Kadang, itu justru perlindungan.
Jadi, kalau hari ini merasa tidak diajak, tidak diberi tahu, atau tidak diminta pendapat, mungkin itu bukan masalah besar. Bisa jadi itu sinyal untuk menjaga batas, menguatkan fokus, dan merawat energi. Di kantor, bertahan bukan soal paling sibuk atau paling tahu, tapi soal tahu kapan harus melangkah, dan kapan cukup diam.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!