Ada satu pemandangan yang hampir selalu sama di tempat gym. Orang-orang datang, pasang earphone, pemanasan sebentar, lalu tenggelam dalam dunia masing-masing. Kalau ada yang ngobrol, biasanya karena mereka satu tim latihan, sepasang, atau memang sudah saling kenal sejak lama. Selebihnya? Sunyi yang ramai. Ramai alat, ramai gerak, tapi minim interaksi.
Buat sebagian orang, ini biasa saja. Bahkan ideal. Gym adalah tempat fokus ke badan sendiri, bukan tempat cari teman. Tapi buat yang datang dengan harapan kecil, sekadar merasa “nggak sendirian”, situasinya bisa terasa canggung. Terutama ketika belum kenal siapa-siapa, dan belum cukup berani untuk menyapa lebih dulu.
Di fase awal latihan, keberadaan instruktur terasa seperti jembatan sosial. Ada yang diajak bicara. Ada yang bisa ditanya. Ada manusia yang membuat ruangan penuh besi itu terasa lebih hidup. Obrolannya memang soal teknik, repetisi, atau napas yang salah, tapi itu cukup. Setidaknya ada interaksi. Setidaknya tidak sepenuhnya sendiri.
Masalahnya muncul ketika fase itu selesai. Instruktur tidak lagi mendampingi. Program sudah di tangan. Dan tiba-tiba, gym kembali menjadi ruang asing. Datang, latihan, pulang. Di sela-sela set, pandangan sempat melirik kanan-kiri. Ada yang latihan berdua, ada yang saling bercanda sebentar, ada juga yang benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri. Rasanya seperti masuk ke sebuah komunitas, tapi berdiri di pinggir, tidak tahu pintu masuknya di mana.
Buat pribadi yang cenderung introvert, menyapa orang baru di lingkungan baru bukan perkara sepele. Ada dialog panjang di kepala sebelum satu kata keluar. “Kalau ganggu gimana?” “Kalau dibilang sok kenal?” “Kalau mereka nggak nyaman?” Akhirnya, pilihan paling aman adalah diam. Fokus latihan. Pura-pura tidak peduli, padahal sebenarnya memperhatikan.
Di titik itu, gym bukan cuma soal angkat beban, tapi juga soal mengangkat rasa canggung sendiri. Belajar menerima bahwa tidak semua tempat harus langsung terasa hangat. Bahwa wajar merasa asing. Dan bahwa kesendirian di ruang publik adalah pengalaman banyak orang, meski jarang dibicarakan.
Pelan-pelan, ada penerimaan kecil. Tidak semua latihan harus ditemani obrolan. Tidak semua koneksi harus terjadi sekarang. Kadang, hadir rutin di jam yang sama saja sudah cukup. Wajah mulai terasa familiar. Anggukan kecil, senyum singkat, itu pun sudah bentuk sapaan versi introvert. Tidak heboh, tapi nyata.
Akhirnya, gym tetaplah tempat latihan. Tapi di balik repetisi dan keringat, ada proses lain yang berjalan, berdamai dengan diri sendiri. Dengan sifat yang tidak mudah membuka percakapan. Dengan rasa ingin terhubung, tapi juga kebutuhan untuk menjaga jarak. Dan mungkin, itu tidak apa-apa. Tidak semua orang datang ke gym untuk jadi sosial. Sebagian hanya ingin bertahan, satu set demi satu set, secara fisik, dan juga mental.
Comments
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya. Happy blogwalking!